Vocaloid's Fan Fiction
Vocaloid © Yamaha
© khiikikurohoshi
I'm Yours, Idiot!
"Fight! Fight! Fight!"
I'm Yours, Idiot!
Chapter 8
LET'S FIGHT! [2]
Sudah hampir dua jam perang besar terjadi. Namun untuk sementara ini, posisi kubu kawan unggul. Agaknya, lautan hitam dari gakuran itu sudah mulai reda. Cukup banyak musuh yang menyerah dan mundur. Ternyata, pasukan-pasukan Len sangat hebat!
Mikuo terengah-engah. Di sampingnya ada beberapa temannya. Namun dia tidak bisa melihat—bahkan merasakan—keberadaan Len. Namun dia yakin—sangat dan saaangat yakin—kalau Len pasti bisa menuntaskan lawannya dengan sangat cepat.
Lalu sekarang—yang dikhawatirkannya adalah Rin.
Lagi, dia tidak tahu dimana gadis itu berada.
"Mikuo! Awas belakangmu!" seru Meiko yang ternyata sudah ada di dekat Mikuo. Gadis berambut pendek ini langsung melompat ke belakang Mikuo dan menahan serangan balok kayu dari lawan.
BUAAAAGHH!
Kepala Meiko terhantam dengan kencang. Darah mulai bercucuran dari dahinya. Meiko merasa agak terhuyung. Namun dengan cepat, dia mengembalikan ke-stabilannya. Dia menatap ganas orang yang memukulnya dan membalas dengan tinjuan bertubi-tubi.
Mikuo menahan punggung Meiko dan langsung menendang orang yang tadi melukai kepala Meiko. "Kau tidak apa-apa?" tanya Mikuo setelah orang yang melukai Meiko pingsan. Meiko memegang kepalanya yang terasa sangat sakit—dengan senyutan yang terus meradang.
"Kurang lebih, iya. Kita tidak boleh lengah, meski pasukan mereka sudah menipis, tetap saja… kita harus fokus!" kata Meiko. Mikuo mengangguk setuju, ada rasa bersalah karena membiarkan Meiko melindunginya. Meski Meiko itu kakak kelas, tapi setua apa pun Meiko, gadis tetaplah gadis.
"Jangan khawatirkan aku. Aku masih bisa bertahan." Ujar Meiko sambil tersenyum singkat. "Soal festival… itu gampang." Meiko langsung meninggalkan Mikuo, gadis itu pergi menuju depan sekolah. Di mana musuh bergerombol ingin menyeruak masuk.
Mikuo tersengal. Di genggamannya ada ponsel hitamnya yang sudah agak retak dan rusak. Pip! Mikuo menghubungi Len, namun pria itu tidak mendapat respon. "Ck!" dia mendecak, ingin dicarinya Len, namun musuh menghadangnya.
"JANGAN SENTUH AKU!" seru Rin sambil menendang pria besar yang menjadi musuhnya. Dengan gerakan cepat, Rin berlari kebelakang pria itu, lalu menendangnya ke depan, kemudian Rin mengambil ancang-ancang untuk melompat tinggi.
Hup!
Rin melompat, lalu memanjangkan satu kakinya ke bawah. Hingga saat dia mendarat, kakinya itu menghantam kepala musuhnya.
BUGH! Knock Out!
Rin menginjak punggung musuhnya yang jatuh terjerembap itu. Dia kemudian menatap Len yang masih bertarung sengit dengan lawannya. Rin mendecak, dihampirinya Len lalu ikut bergabung. "Aku bantu!" seru Rin. Len menoleh sebentar sambil menangkis tinjuan musuhnya dengan punggung lengannya.
"Yah… ayo aja." Kata Len sambil tersenyum penuh arti.
Rin menangkap senyuman itu. Len menendang musuhnya dengan sasaran pundak. Gubrak! Musuhnya jatuh ke samping. Rin langsung menarik tangan pria besar itu lalu membanting tubuhnya ke depan.
Judo!, pekik Len dalam hati.
Sialnya, dua orang besar itu masih bisa berdiri. Bahkan salah satunya mencengkeram leher Rin. Dheg! Len terhenyak, apalagi pria besar itu mengancam, "Kalau kau banyak bergerak, leher anak ini akan putus." Katanya.
Len mendecak kesal. Sedang gadis yang tengah dalam posisi mematikan itu, sedang menunjukkan senyum penuh niatnya pada Len. Len menangkap senyuman itu, lalu dia kembali merenggangkan otot-otot tangan dan kakinya.
Salah satu pria besar yang nganggur itu heran melihat tingkah Len. Hingga akhirnya pria itu menahan kedua tangan Len. Namun, dua Kagamine yang tengah dalam posisi mematikan itu, masih menampakkan wajah penuh ketenangan. Hingga dua pria besar itu jengkel, keduanya bercakap—memikirkan untuk diapakan dua Kagamine itu.
Saat mereka lengah, GRAUP!
Rin menggigit lengan pria yang menahannya dengan sangat kencang. Pria besar itu meringis sambil memegang lengannya. Ada bekas gigitan Rin di sana. Tanpa menunggu pria besar itu mereda, Rin langsung menendang wajah pria besar yang menahan kedua tangan Len.
BRUGH!
Pria yang ditendang Rin jatuh ke belakang. Len bebas. Lalu kemudian, cowok itu berlari mendekati pria besar yang dari tadi sibuk meringis. "Jangan lengah!" seru Len sambil menendang dagu pria besar itu, lalu meninju perutnya, melakukan tendangan berputar, lalu terakhir, di sambut Rin. Gadis itu menendang belakang kepala pria besar itu hingga jatuh ke depan.
K.O!
Rin menepuk-nepuk telapak tangannya. Pandangannya beralih pada dua orang pengecut di sana. Dua orang itu tengah mematung sambil gemetaran.
"Yosh…" sahut Len. "Ayo kita main!"
4 minutes later…
Dua pengecut itu sudah menyerah di hadapan Len dan Rin. Hanya berlangsung 4 menit. Dua orang itu langsung K.O. Rin tersenyum penuh kepuasan. Len langsung menghubungi Mikuo. Ada nada penuh kelegaan yang terdengar dari suara pria berambut hijau tosca itu.
"Kita kembali." Ajak Len sambil menyimpan ponselnya ke dalam saku.
Rin melepas pita putihnya hingga rambut blond Rin polos tanpa aksesoris. Len langsung menghampiri Rin dan mengambil pitanya. Dengan keadaan hening—dan dengan gerakan lembut, Len memasangkan pita Rin dengan rapi seperti sedia kala.
"Yak." Kata Len. Dia memelintir ujung poni Rin. "Kau tidak apa-apa? Banyak darah dan lecet di tubuhmu."
Rin tersenyum samar, "Kau juga. Tenang saja. Luka-luka ini mudah diatasi." Ujar Rin dengan tenang.
"Ibumu tidak marah?" tanya Len lagi. Rin tertawa hambar.
"Mungkin iya… tapi mungkin juga tidak?"
Len terdiam mendengar ocehan kecil Rin. Tanpa berkata apa-apa lagi, pria yang akan menjadi adik Rin ini menarik pergelangan tangan kakaknya dengan perlahan. Keduanya berjalan meninggalkan lokasi itu, menuju sekolah—dimana gerombolan mereka sudah berkumpul di sana.
Lapangan sudah bersih. Hanya tersisa batu-batu kerikil, juga, bercak-cercak darah di sana-sini. Benar-benar seperti terjadi perang besar di sini. Toh, memang kenyataan kan?
Mikuo berdiri di tengah lapangan sambil melambaikan tangannya. "Hei, bos. Kelihatannya sukses besar ya?" tanya Mikuo sambil mengedipkan sebelah matanya. Len hanya mengedikkan bahu sambil tersenyum simpul. Di sebelahnya, Rin, juga ikutan tersenyum.
Sebenarnya Mikuo ingin bertanya banyak hal pada Rin. Dari mana dia? Kenapa bajunya ikut rongsok? Tapi… ketika melihat senyum gadis itu, semua pertanyaan yang ada di benaknya memudar dan hilang. Dia sudah tahu jawabannya.
"Yang lain gimana?" tanya Len.
"Aman. Sekolah tidak tersentuh sedikit pun. Defense yang dibangun di depan pintu sekolah bukanlah isapan jempol belaka." Jawab Mikuo dengan lega. Len menghela napas penuh kelegaan.
Perang berakhir.
Miku—juga semua yang mengungsi di dalam menghembuskan napas penuh kelegaan mereka kuat-kuat. Namun kemudian, Gumi, Miku, Luka dan Miki, yang sempat melihat guru-guru keluar dari ruangan masing-masing, spontan menahan napas mereka.
PLAAAAAK!
Semua bisa mendengar tamparan maut yang ditujukan pada Kagamine Len itu. Suaranya terlalu keras, dan pasti, sangat menyakitkan.
Gumi menahan napasnya, dia mulai takut. Beberapa siswa-siswi yang ada di atas sana langsung melihat keluar jendela. Beberapa di antara mereka hanya ternganga, atau mendecak-decak, ada juga yang bersorak kecil.
"Len…" bisiknya dengan suara parau. Di sebelahnya, Luka, Miki dan Miku, juga lemas tanpa perlawanan.
PLAAAAAK!
Len hanya pasrah ketika menerima tamparan maut itu. Tamparan ini adalah bukti dari para guru kalau mereka sudah tidak tahan menahan amarah mereka. "Kelewatan!" kata guru yang menampar Len. Entah atas dasar apa, Rin tidak mampu melindungi Len saat itu.
"Kau, Kagamine Len! Berkali-kali kami menegurmu, berkali-kali kami memberi sangsi untukmu, berkali-kali kami membentak, memukul, dan menahan sabar untukmu, namun apa? Apa yang kau berikan untuk kami! Perang, Len! PERANG!" seru guru yang emosinya sudah meluap itu.
Rin terhenyak ketika melihat satu pipi Len memerah dan… berdarah.
"Ini sudah sangat kelewatan, Len." Kata seorang guru laki-laki. "Kalau begini caranya, kau harus dike—" "STOOOP!" potong Rin dengan cepat.
Gadis itu langsung berdiri di depan Len. Yang melihat tindakan Rin itu langsung ternganga kaget. Mereka baru sadar kalau Rin tidak mengungsi di sekolah. Gadis itu rongsok. Entah karena terkena serangan—atau karena ikut bertarung.
"Kalian… kalian tidak mengerti!" seru Rin dengan volume suara yang tinggi. Hening. Semua yang mendengar seruan gadis berambut blond itu hanya diam beribu bahasa. "Len… waktu itu… Len hanya menolongku dari mereka yang berniat mencelakaiku! Lalu kemudian… timbul dendam tersendiri! Jadi salahkan aku! Bukan Len!"
"Jangan membela orang yang salah, Kagamine Rin!" gertak seorang guru lain.
Rin menautkan alisnya, "Jangan hanya karena Len sering melakukan kesalahan, sekarang kalian pun menyalahkannya! Kali ini dia tidak salah, tapi aku! Aku yang sudah—" Len membungkam mulut Rin dari belakang. Rin terbelalak.
"Tidak. Sejak awal ini memang salahku. Dia mencariku. Aku sampai harus melibatkan banyak orang. Itu sudah bukti bahwa aku yang bersalah." Elak Len—masih membungkam mulut Rin.
Tap. Tap. Tap. Tap.
Kaito dan Miki mendekati gerombolan di tengah lapangan itu. "Hentikan." Kata Miki dengan suara tenang. "Kalau guru-guru sekalian ingin sekali membunuh Len saat ini, silahkan. Semuanya terlihat jelas kalau anda semua membenci Len. Namun, kalau hanya sekedar mengancam, atau menceramahinya, lakukan saja lain kali. Mereka harus diobati dahulu." Kata Miki sambil menarik lengan Len dan Rin.
"Soal festival, ini kesalahan klub menyanyi. Pasti kalian berpikir demikian, kan? Karena di klub menyanyi ada Len. Lalu, kenapa kalau ada Len? Tidak selamanya tindakan orang yang di luar dan di dalam itu sama." Lanjut Kaito sambil mengajak kawan-kawan Len ikut dengannya. "Kami permisi." Kata Kaito lalu meninggalkan (kurang lebih) 5 guru yang ada di tengah lapangan itu.
Sret!
Miku selesai memerban lengan Len. Selama di UKS, meski banyak orang, namun yang melanda hanyalah kesunyian. Len dan Rin tidak banyak mengoceh seperti biasanya. Gumi yang kalau di klub cerewet, sekarang lebih—atau sengaja—diam.
Dahi Rin dan Meiko diperban oleh Luka. Yang menerima perban lebih banyak adalah Len dan Rin. Mengapa tidak? Bisa dibilang… mereka adalah pahlawan dalam perang ini.
Rin mendapat perban di dahinya, dada, leher, pundak sampai lengan, juga lutut. Di wajahnya ada 2 lembar plester luka. Len, mata kirinya terpaksa diperban akibat menerima belasan kerikil yang mengenai matanya itu, dahinya, dada, seluruh tangan kirinya, dan mata kakinya, harus diperban pula. Lalu pipi Len yang habis ditampar itu, juga sudah diplester.
"Hmmhh…" Mikuo menghela napas panjang. "Ternyata… seperti ini hasilnya." Kata Mikuo dengan suara berdesis. Luka tersenyum miris mendengarnya.
"Ini salahku." Keluh Len sambil menutup wajahnya dengan satu telapak tangannya. Badannya berguncang sedih. Rin yang ada di sampingnya langsung menenangkan pria itu dengan mengelus punggungnya.
Rin menatap semua orang yang ada di hadapannya dengan wajah kelam, "Tolong… biarkan dia sendiri." Bisik Rin pada orang terdekat—Mikuo, sehalus mungkin, supaya Len tidak mendengarnya. Mikuo mengangguk lalu memohon pada yang lain untuk meninggalkan Len.
Blam.
Pintu tertutup dari luar.
"Ini tidak bisa dibiarkan." Kata Miku akhirnya. "Mereka semua tidak tahu seperti apa Len sebenarnya. Len itu… anak yang sangat baik…"
Kaito mendengus, "Memangnya akan ada yang percaya?" tanya Kaito. Miku menutup wajahnya lalu menggeleng sambil mengangkat bahu, tidak tahu…
"Aku mau pergi." Ujar Miki sambil membalikkan badannya.
"Ke mana?" tanya Gumi dan Luka bersamaan.
Miki menoleh sebentar, "Kita tidak bisa hanya tidak diam, kan? Kepala sekolah tidak boleh hanya mengetahui satu sifat dari muridnya saja." Jawab Miki. Yang lain tidak mengerti, hingga Miki mengendus lalu meninggalkan mereka semua.
"Tunggu, Miki!" cegah Mikuo. "Kami ikut!" katanya. Miki hanya tersenyum simpul lalu mengedikkan alisnya, mempersilahkan.
Oh, Tuhan… kenapa penyesalan selalu datang belakangan?
Pundak Len mengendur, tanda dia sudah menyerah, ada air mata penyesalan yang keluar dari pelupuknya. Rin hanya diam tanpa melakukan perlakuan khusus pada adiknya itu. Sejujurnya dia tidak tahu harus melakukan apa. Dia tidak terbiasa untuk dimanjakan, apalagi memanjakan orang…
Rin mendengus pasrah. Kemudian, tak sengaja, dia menyanyikan sebaris lagu festival mereka, Adolescence. Artinya… remaja.
"Futari de zutto odoru yakusoku…"
Begitu liriknya. Len pun juga hapal. Segera, tubuh cowok itu kembali tegak, meski masih agak lemah. Rin melirik sedikit perubahan Len. Dia langsung menyanyikan bagiannya.
"Futari de zutto odoru yakusoku, fukuramu mune ga uso ni suru, amairo no kami kagami utsushite, junban tagai ni suite yuku…"
Rin berhenti, kemudian menatap Len yang masih menutup wajahnya. "Nyanyikan, Len! Lagu festival kita! Kita sudah latihan berhari-haridengan semangat! Ayolah! Masa' mau kau buang saja hasil latihan kita begitu saja? Sia-sia dong!" ajak Rin yang sekarang sudah berdiri di depan Len.
Len masih diam, tidak bergeming. Rin mendengus lemas, "Kau… tidak salah." Kata Rin dengan suara tenang. "Kau… sudah melakukan hal yang bagus!" Puji Rin sambil mengelus puncak kepala adiknya itu.
Len mengangkat wajahnya, menunjukkan wajah… tampannya pada Rin. Dheg! Rin berdegup satu kali saat menyadari usahanya agak berhasil. "Nah, wajahmu sudah terlanjut terangkat… sekarang angkat semangatmu!" seru Rin lagi—mendorong Len agar pria rapuh itu berdiri.
Rin menarik—paksa—lengan Len hingga sekarang pria itu berdiri tegap di hadapan Rin. "Len…" panggil Rin. "Kukatakan sekali lagi, kau tidak salah. Kau sudah melakukan hal yang bagus."
Len mendecak, segera dia memeluk kepala kakaknya dengan perasaan berkecamuk. "Terimakasih." Kata Len lalu melepas pelukannya. Hanya 1 menit pelukan hangat itu menyentuh hati Rin. Agaknya Rin kaget dengan perlakuan Len tadi, namun dia merasa nyaman.
Len mendehem, lalu menyanyikan lirik selanjutnya. Rin terhenyak, kemudian, dua Kagamine itu bernyanyi bersama-sama, secara bergantian, serempak, dan tentu saja, berperasaan.
Klek.
Pintu UKS terbuka. Luka terdiam di depan pintu UKS, lalu tersenyum singkat. Kemudian dia melangkahkan kakinya keluar dan menutup pintu UKS lagi.
"Kenapa kau tutup? Kita harus mengabarkan ini pada Len dan Rin!" ucap Gumi yang sudah tidak sabar memberitahukan sesuatu pada kedua Kagamine itu.
"Sssh…" bisik Luka sambil menempelkan telunjuknya di depan bibir. Bukan hanya Gumi, kali ini semua yang ada di luar UKS terbengong. Luka menunjuk ke dalam melalui kaca kecil yang tertempel di pintu UKS.
Akhirnya semua mengerti.
Len dan Rin tengah terlelap dengan pinggir kepala yang menempel satu sama lain. Mereka paham betul kalau sampai dua orang itu terlelap kehabisan tenaga. "Ya sudah. Kita cerita saja kalau mereka sudah bangun." Ucap Meiko setelah menghela napas lega.
"Tentu saja. Aku yakin mereka akan senang mendengar berita dari kepala sekolah ini." Sahut Miki sambil memeluk buku matematika favoritnya.
"Yah… festival dibatalkan, sedih memang. Tapi klub menyanyi mendapat penghargaan tersendiri. Selamat ya!" ujar Mikuo dengan riang.
Kaito menggeleng-gelengkan kepalanya, "Ini semua berkat Len dan Rin. Dua orang itu cepat memberi pengarahan." Tolak Kaito.
Mikuo menatap Kaito. Dia kemudian mengedikkan bahunya, "Len yah… syukurlah kalian tahu sifat Len seperti apa. Pemarah dan menyeramkan. Namun penyayang dan menyenangkan." Kata Mikuo sambil menatap langit-langit sekolah.
"Iya, ya… sayang sekali dia tidak mau menunjukkan perilaku sesungguhnya pada publik." Ringis Miku sambil memelintir rambutnya.
"Uh huh. Tapi semoga saja… perilaku Len yang sesungguhnya akan ketahuan." Kata Gumi sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Semua mengangguk setuju. Mereka menuju kelas masing-masing, meninggalkan dua Kagamine yang terlelap di sisi ranjang sekolah. Biarkanlah mereka istirahat sejenak…
T O B E C O N T I N U E D
A/N : Kubuat bersamaan dengan chapter 7! Hehehe… lagi rajin sih (tapi hasil tidak meyakinkan)
x3
Lagi malas ngabacoooot… jadiii… kritik, saran, masukan, atau apa pun, kuterima dengan senang hati.
Xd Ah, gomen kalo ada miss-typo(s) ato malah typo(s) ^^-
