Vocaloid © Yamaha


I'm Yours, Idiot!

© khiikikurohoshi

Chapter 9


Another Festival?

"Hah! Festival ulang tahun sekolah batal? Tapi diganti festival kebudayaan?"

Miku dan Luka mengangguk-ngangguk semangat. Mereka baru saja pulang dari ruang kepala sekolah karena dipanggil. Dan… begitulah. Kepala sekolah yang maniak festival itu tidak bisa membatalkan festival ultah sekolah begitu saja, maka, atas saran Miku dan Luka, festival kebudayaan siap diluncurkan dalam waktu dekat!

"Apa anak-anak dari kelas lain sudah tahu?" tanya Rin.

"Nnn… sepertinya akan diumumkan dalam waktu tiga detik lagi." Jawab Miki sambil melirik jam tangan yang melekat di pergelangan tangannya.

"Tiga detik?"

"Perhatian, kepada seluruh siswa dan siswi, pemberitahuan dari kepala sekolah bahwa festival ulang tahun sekolah dibatalkan, namun festival kebudayaan akan diselenggarakan segera. Maka dari itu, diharapkan tiap kelas memutuskan untuk membuka apa disaat festival kebudayaan. Sekali lagi—"

Semuanya sweatdropped. "Ehem." Kaito berdehem sejenak. "Jadi… rapat dadakan di kelas masing-masing pasti akan digelar. Bubar yuk." Ajak Kaito pada teman-teman satu klubnya. Meiko yang tadi duduk tenang di sofa langsung bangkit.

"Ah, benar juga. Kalau aku tidak ada… voting pasti tidak diluncurkan. Ayo, Kaito!" Meiko menyeret seragam pria berambut biru itu keluar dari ruangan. Maklumlah, Meiko itu ketua kelas di kelasnya dan harus selalu siap ditempat jika ada yang seperti ini.

"Kami juga pergi. Dadah…" pamit Len, diikuti dengan Rin. Kedua Kagamine itu bangkit dari duduk mereka lalu meninggalkan ruangan.

Blam.

Selama berjalan, Rin—maupun Len, tidak ada yang bersuara. Bukannya ill feel atau bingung harus membicarakan apa, tapi memang, tidak ada topik asyik sekarang ini. Kecuali…

"Ah! Dua hari lagi!" seru Rin kemudian. Dia menepuk telapak tangannya dengan satu kepalan tangan.

Len mengangkat alisnya, mengingat ada apa dua hari lagi. Tak lama, pria berambut blond itu tersenyum, "Iya, ya. Tidak terasa banget kalau ibumu… dan ayahku… akan menikah dalam kurun waktu seminggu ini." Tambah Len.

"Hehehe, iya. Semakin dekat dengan acara pernikahan, ibuku semakin gugup lho. Dia selalu bertanya-tanya, 'apa aku bisa melangsungkan acara pernikahan dengan sukses, ya?'. Melihatnya yang selalu mondar-mandir sambil bergerumbel begitu… lucu lho! Hahaha." Rin tertawa mengingat tingkah ibunya selama lima hari terakhir ini.

"Ayahku juga sama. Kadang kalau aku lagi asyik nonton TV, dia datang dan mengguncang pundakku sambil berkata, 'Len… Len… do'akan ayah ya! Harus ya! Atau aku tidak memberikanmu uang jajan lagi, lho!'. Begitulah… dia masih menganggapku bocah." Ujar Len sambil geleng-geleng kepala. Rin tertawa mendengarnya.

Tak sadar keduanya merasa 'cocok' satu sama lain. Sepertinya… kontak batin antar saudara mulai tumbuh diantara mereka.

"Nee… Len." Panggil Rin sambil berlari-lari kecil karena langkah Len terlalu cepat. Len menoleh.

"Hm?" Len menoleh dan… tersenyum dengan sangat lembut. Rin terperangah melihatnya.

DHEG! Rin mengerjapkan matanya lalu spontan memegang dadanya. Ada yang aneh—pikirnya. "Kenapa aku berdebar ya?" gumam Rin yang langsung diam di tempat. Len jadi curiga melihat Rin yang tiba-tiba berhenti. Dia mendekati gadis itu.

"Ada apa, Rin? Kenapa tiba-tiba berhenti sih?" tanya Len sambil sedikit membungkukkan badannya—agar bisa melihat wajah Rin… yang… merona? "Kau demam?" tanya Len lagi.

Rin tersentak, "Aaah! Tidak kok! Tidak! Eenn… anu… tidak kok! Langkahmu terlalu cepat sih!" ujar Rin dengan gelagapan. Namun wajah gadis itu tetap merona, ditambah… dadanya bergemuruh entah karena apa.

Len menatap Rin, masih dengan pandangan curiga. "Nggak bohong?" tanya Len. KLUK! KLUK! KLUK! Rin menggeleng-geleng dengan kencang sebanyak tiga kali. Len mendengus, dia mengelus kepala Rin lalu membalikkan badannya. "Ayo." Ajak Len. Rin menatap punggung Len agak lama, kemudian dia menyipitkan matanya menahan malu.

"Ba—baik…"

GRAAAAK! Len menggeser pintu kelasnya. Sontak semuanya menatap pria itu. Suasana kelas mendadak hening. Tak lama…

"Kagamine-kun! Rin-chan! Sini! Sini! Kami mengadakan voting nih!" ajak ketua kelas sambil mengibaskan tangannya ke dalam, dengan tanda 'kemari-kemari'. Len mengerjapkan matanya.

"Kagamine-kun! Kumohon pilihlah stand takoyaki!" pinta salah satu cowok yang duduk dibangku paling depan.

"Jangan! Dating Café saja, Kagamine-kun!" tolak seorang gadis yang duduk di sebelahnya.

"Jangan! Pokoknya jangan kedua dari itu! Onsen saja, Kagamine-kun!"

"Aah! Kamu norak! Jangan onsen, bodoh!"

"Benar! Harusnya… perpustakaan!"

"Gyaa! Tidak mau! Harusnya—"

HUAAH! GYAAA! KYA! HENTIKAN! TIDAK! HARUSNYA…! BAGH! BUGH! PRAANG! PLAK!

Len, Rin, juga ketua kelas yang berada di atas podium kelas langsung sweatdrop saat kelas menjadi rusuh seperti kandang ayam.

"Ada apa sih?" tanya Len sambil berjalan di atas podium.

"Hihihihi. Sejak tadi mereka begini kok, Kagamine-kun." Jawab ketua kelas dengan santainya. Len mendengus. Dia merampas kapur papan dari tangan ketua kelas dan menghentak-hentakkan meja.

"Semua duduk di bangku masing-masing!" seru Len dengan suara lantang. Rin yang tadi berdiri di depan pintu langsung menurut. "Eit, Rin! Sini bantu aku!" suruh Len sambil menyuruh calon kakaknya kemari. Wajah Rin langsung berbinar. Dia maju ke depan kelas.

GLEK! Suasana kelas menjadi hening karena seruan Len barusan. Memang, Len tidak lagi ditakuti oleh seluruh siswa-siswi di sini, tapi tetap saja, setiap mendengar Len menyeru, masih terasa menyeramkan untuk mereka-mereka.

"Begini saja. Di banding kalian ribut mengucapkan keegoisan kalian, aku minta, ketua kelas!" seru Len sambil menatap ketua kelas yang bengong di atas podium.

"Eh, ah, hah? Aku?"

Len menghela napas pendek, "Menurutmu, kelas kita membuka apa saat festival?" tanya Len sambil siap-siap menulis di papan.

Ketua kelas mengerjapkan matanya, kemudian dia berpikir, "Nnn… keinginanku sih… Cake Café." Jawab ketua kelas sambil memilin rambut yang dia ikat kesamping, malu-malu. Semua mata tertuju padanya.

"Baiklah." Len menulis pilihan ketua kelas di papan tulis. "Selanjutnya… Rin." Ujar Len sambil melirik gadis berparas sama sepertinya.

"Aaa… aku sama seperti ketua kelas deh." Jawab Rin sambil menggaruk punggung kepalanya.

"Alasanmu?" tanya Len.

Rin tersentak, "Umm… habis… aku ingin terampil membuat kue-kue. Kurasa… seru sekali kalau bisa memasak bersama di dapur. Atau… berbelanja bahan kue bersama-sama, menyiapkan resep, mendekorasi kue, dan lain-lain…"

Hening.

"Hah!" Rin langsung tersadar, wajahnya mendadak merona karena malu sudah mengucapkan hal yang… memalukan—baginya. "Eee… maksudku, anuu—itu lho…"

GRATAK! "Aku juga mau bikin kue bareng yang lain!" celetuk seorang gadis sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Len manggut-manggut, dia menarik kapur di atas papan tulis membentuk tiga garis vertikal pendek di samping tulisan 'Cake Café'.

"Aku mau. Tapi aku nggak ahli bikin kue…" ujar seorang gadis yang lain.

"Tidak masalah! Aku juga kok! Makanya kita sekalian belajar bareng!" gadis yang mengangkat tangannya tadi itu langsung menambahi dengan semangat. Len tersenyum samar melihat semangat yang dipancarkan beberapa siswi di deretan meja belakang.

"Kalau gitu aku juga pilih itu!"

"Aku juga!"

"Ya! Ya! Ya! Aku ahli buat kue tart lho!"

"Aku jago mendekorasi kue, serahkan padaku deh! Aku ikut!"

Kelas Len mendadak menjadi kompak kembali. Semua setuju saran ketua kelas mereka untuk membuka Cake Café di kelas mereka saat festival kebudayaan nanti. Len melirik Rin. Gadis yang ditatap tersenyum sambil mengangkat jempolnya. Len terdiam sebentar, kemudian menoleh pada cowok-cowok di kelas mereka yang kebanyakan diam.

"Baiklah. Kalau para siswi setuju membuat kafe, kita yang cowok-cowok, juga harus bergerak." Ujar Len bagaikan jendral yang tengah memberi pengarahan pada prajuritnya. "Jadi…" Len terdiam sejenak.

"Yang tidak setuju dengan cake café pilihan ketua kelas, angkat tangan." Ujar Len dengan tegas. Matanya lurus menatap deretan bangku cowok-cowok. Hening. Sepertinya tidak ada yang keberatan dengan pilihan ketua kelas—atau, tidak berani untuk buka mulut.

Len mendesah, "Aku juga malas melakukan ini sih, tapi… tidak ada pilihan lain selain menjadi waiter." Ujar Len, kelihatannya tidak begitu suka.

"Tidak juga kok." Potong Rin dengan senyum penuh arti. "Ada yang membuat menu makanan kita, lalu yang membeli bahan-bahan makanan yang berat, dan… lainnya." Ujar Rin.

Len mengangguk setuju. "Untuk waiter, kurasa cukup 10 orang. 5 cewek dan 5 cowok. Menurutmu gimana?" tanya Len pada dua gadis dibelakangnya.

"Itu sudah sangat cukup." Jawab ketua kelas.

"Kalau begitu… penentuan siapa waiter dan waitress-nya saja, kan?" Len membalikkan badannya, ingin menulis di papan tulis. Rin melirik punggung Len, tanpa sadar, wajah gadis ini merona.

Kenapa… Len terlihat bersinar sih? Tiba-tiba pula…, pikir Rin sambil menggembungkan sebelah pipinya.

Rin menghela napas panjang. Sejak di kelas tadi, perasaannya terasa kacau. Dia merasa sesak kalau berada di dekat Len. Dan juga, wajahnya terasa panas, padahal dia tidak demam. Rin merasa aneh dengan perubahan pada dirinya itu.

"Aku kenapa ya?" gumam Rin sambil memegang kedua pipinya.

RRRRR! Rin terbelalak saat ponselnya mendadak berdering. Segera dia merogoh ponsel flap yang dia simpan di saku rok dan melihat layar ponsel. Dari Miku. Rin menaikkan sebelah alisnya, namun kemudian dia menempelkan ponsel di telinganya setelah menekan tombol OK.

"Halo? Ada apa Miku-senpai?" tanya Rin ketika keduanya terhubung.

"Rin-chan, kami mau mengajakmu untuk makan bersama sebentar. Yahh… sekedar refreshing. Semua anak cewek dari klub kita mau ikut kok. Sisa kamu nih, Rin-chan. Ikutan yah?" pinta Miku dari seberang.

Rin mencerna kata-kata Miku sebentar, kemudian dia menjawab, "Baiklah. Aku tidak masalah. Tapi kapan?" tanya Rin lagi.

"Pulang sekolah kami jemput di gerbang depan!" jawab Miku dengan semangat.

"Oke. Aku akan segera datang." Ucap Rin dengan yakin.

"Baiklaaah! Sampai ketemu nanti!"

PIP. Rin mematikan ponselnya lalu memasukkannya kembali ke dalam saku. Gadis ini kembali menghela napas panjang sambil menerawang langit. Tak lama, dia mendengar kasak-kusuk dari arah belakangnya.

"Neru… kelasmu mau buka apa kalau festival?"

Rin terdiam. Neru? Akita Neru? Ketua kelas?, pikir Rin sambil menajamkan pendengarannya.

"Kelasku ingin membuka Cake Café! Kalau bisa… kau mampir ya!" ajak Neru pada temannya. Rin tahu kalau ada tiga orang dibelakang sana. Tapi Rin tidak tahu kedua teman Neru—ketua kelasnya. Mungkin tidak baik mencuri dengar, tapi dia agak penasaran.

"Eeeh? Bukankah teman-temanmu tidak mau?" tanya salah satu teman Neru. Agaknya Rin tahu pemilik suara itu, kalau tidak salah… Yokune Ruko—siswi kelas sebelah.

"Awalnya sih iya." Jawab ketua kelas. "Tapi Kagamine Len-kun membantuku!" lanjutnya dengan nada suara yang terdengar bahagia.

"Eh! Kagamine… Len! Kagamine Len yang itu? Waaaww… ternyata dia baik!" komentar teman Neru yang lainnya. Rin tersentak, mendengar Len dipuji seperti itu… membuat perasaannya tidak enak.

Neru tertawa kecil, "Hehehe. Iya, kan? Dia baik sekali loh… dan lagi… kayaknya… aku suka deh sama dia." Ujar Neru pelan-pelan tapi tetap to-the-point. Hening seketika. Rin juga tidak mampu berkata-kata setelah mendengar ucapan ketua kelasnya yang sangat jujur.

"Wuaaa! Jujur sekali kamu, Neru! Tapi tenang! Akan kita dukung kok!" ujar Ruko sambil menepuk-nepuk kepala Neru.

"Benar! Benar! Kau pasti bisa mendapatkan hati Kagamine-kun!" tambah teman Neru yang lainnya.

"Eehe… makasih ya, Ruko. Teto." Ucap Neru dengan senang. Rin merengut, dia spontan memegang dadanya yang berdenyut berkali-kali. Tanpa pikir panjang, Rin meninggalkan tempatnya dan berlari sembarang arah.

Tapi, langkahnya terhenti ketika dia menginjakkan kaki di perpustakaan. "Auch." Rin mengerang ketika merasakan mata kakinya sakit. Gadis ini langsung duduk di lantai sambil memegang mata kakinya. "Auw! Aduuh… kayaknya terkilir deh. Kok bisa-bisanya aku lari sampai begini?" keluh Rin sambil menyesali perbuatannya sendiri.

Rin terdiam sambil memijit-mijit mata kakinya pelan-pelan. "Kurasa masih bisa dipakai jalan. Oke." Rin mencoba berdiri, lalu membalikkan badannya dan keluar dari perpustakaan.

Len memainkan pena di sela-sela jemarinya. Dia tengah berpikir biaya untuk festival kebudayaan nanti. Dan juga… dia harus menjadi salah satu waiter untuk café nanti. Agaknya dia bingung harus bersikap seperti apa saat menjadi waiter nanti. Tapi karena teman-teman mendesaknya untuk menjadi waiter, (alasannya karena Len cukup tampan) Len pun terpaksa menyanggupi.

"Ughh… sial." Keluh Len sambil merenggangkan beberapa otot-otot badannya yang kaku. "Ck! Sudah jam pulang… tapi kok… saku sibuk begini yah? Kayak bukan aku saja…" gumam Len—cenderung pada dirinya sendiri.

Len terdiam sambil menatap kertas dihadapannya. Tak lama dia tersenyum simpul. "Fuuh… begini lebih baik." Len menuliskan sesuatu di atas kertas itu sambil mengingat permintaan teman-teman sekelasnya untuk menghitung iuran dana pengeluaran untuk nanti. Sudah lama… dia ingin diminta kepercayaan seperti itu.
GRAAAK! Len menoleh pada pintu kelas. Dia melihat Rin membuka pintu. "Hee… Rin? Kukira kau sudah pulang." Ucap Len basa-basi.

Rin tersenyum samar, "Tidak. Belum. Aku baru mau pulang." Jawab Rin dengan cepat.

Len mengerutkan keningnya. "Kau mau kemana? Buru-buru begitu…" tanya Len sambil menopang dagunya. Rin meneguk ludah.

"Aku ada janji dengan Miku-senpai. Hmm… daagh!" Rin menenteng tasnya dipunggung lalu berlari secepat mungkin meninggalkan Len di kelas, sendirian…

Len menatap punggung Rin tajam, dia kemudian menghela napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mendecak. "Sial…"

Rin melangkahkan kakinya dengan berat. Dia merasa aneh sekarang. Sejak tadi, saat dia mengobrol pendek dengan Len, dia tidak mampu menatap mata pria itu.

"Gimana ini…? Len pasti membenciku…" gumam Rin sambil menutup mulutnya.


T O B E C O N T I N U E D


A/N: Minnaaa! Maaf telat apdet m(==)m, alasan utamanya adalah karena saya lagi Writers Block. Sumpah, Ga ada ide sama sekali! Ini aja kupaksakan! Oke, chapter ini masih basa-basi (lagi). Moga-moga chapter berikutnya festival berlangsung lancaaar! Tidak ada gangguan2 lagi! ;; hohohooo… maaf atas ketidak puasannya terhadap chapter ini m(==)m

Well…? Ciao! xD