Vocaloid © Yamaha
I'm Yours, Idiot!
© khiikikurohoshi
Chapter 10
Kiss in the Dark Night
―
"Umm…"
"Rin-chan? Etto…"
BOOOOONG… Rin terus saja bengong meski namanya dipanggil-panggil oleh Miku, atau Meiko, atau juga Luka. Gadis itu tampak sibuk dengan pikirannya sendiri. Ya. Memang. Itu semua… karena Rin terus menyesali perbuatannya di kelas, ketika dia tidak menatap mata Len saat bicara. Dia sungguh, sungguh-sungguh sangat menyesal!
Meiko melirik Miku dengan pandangan prihatin pada Rin. "Rin? Hello… Rin?" Meiko mengibas-ngibaskan telapak tangannya di wajah Rin.
HAH! Rin langsung tersentak dan mengerjap-ngerjapkan matanya kaget.
"Aaaah! Kok disadarin sih, Meiko-san! Lagi asyik nih dengan cake pesanan Rin-chan!" gerutu Gumi yang sibuk melahap cake arbei yang dipesan Rin. Di samping Gumi, Miki juga tengah menyantap cake pesanan Rin yang lain.
Luka hanya sweatdrop melihat tingkah dua orang yang selalu kompak itu.
"Nnn… a—ada apa, Meiko-senpai?" tanya Rin, jadi sungkan karena merasa merepotkan. Meiko, Miku dan Luka menghela napas lega. Ketiganya saling pandang dan mengangguk bersamaan.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Miku dengan khawatir.
"Ada yang mengganggumu? Babat habis saja seperti biasa!" seru Meiko sambil mengepalkan tinjunya.
"Kalau ada masalah, sering-sering saja cerita denganku…" tawar Luka sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Jangan bengong terus. Miki bakalan sambet kamu loh." Ujar Gumi—masih mengunyah cake pesanan Rin. Miki hanya melahap cake—yang kali ini miliknya.
Rin menatap kelima orang yang duduk di sekelilingnya. Dirasakannya pelupuk mata miliknya panas dan basah. "Aaah… tidak apa-apa kok." Jawab Rin—seratus persen bohong. Tapi, Miku tahu kalau Rin berbohong.
"Ada masalah dengan Len-kun?" tebak Miku.
DHEG! Rin tersentak. Melihat respon Rin yang kaget begitu, semua jadi tahu. Ada sesuatu diantara Rin dan Len. Rin meneguk ludahnya, dia tidak bisa lari dari tatapan ingin tahu dari 5 orang yang mengelilinginya.
Rin menundukkan kepalanya sejenak, lalu mengangkatnya kembali. "Umm… be—begini…"
―
Rin tersengal, "Begitu… lah…" ujar Rin—menyelesaikan ceritanya. Jujur saja, dia bercerita tanpa koma, titik, maupun spasi. Sehingga, kelima temannya itu hanya mampu menatapnya sambil sesekali mengerjapkan mata.
"Sebelum itu… boleh aku bertanya, Rin-chan?" tanya Miku. Rin mengangguk satu kali. "Kau… suka Len-kun?"
Rin terbelalak mendengar pertanyaan Miku—yang diikuti oleh Meiko.
"Eeekh? Ti—tidak kok!" erang Rin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat.
Luka menyesap kopi manis yang dipesannya, "Ngg… tapi kalau dekatan dengan Len-kun… kau berdebar, tidak?" tanya Luka sambil menyandarkan punggungnya di kursi, menyesap kopinya. Rin menatap Luka agak lama, berpikir-pikir kembali.
Ada benarnya. Setelah tawuran berakhir, Len terlihat agak… bersinar karena sudah tidak ditatap keji oleh orang-orang. Dia tambah baik dan ramah. Jujur saja, setiap kali Rin menatap cowok itu—meski hanya punggungnya—jantungnya akan berdegup tidak karuan. Nah, apa maksudnya itu?
"Hee… mikirin siapa sih?" tanya Gumi ketika melihat Rin malah bengong (lagi).
Rin tersentak, "Uugh! Tidak! Aku tidak—" "Sudahlah. Kau gelagapan begitu. Berarti benar, kan?" potong Gumi yang mendadak jadi serius.
Rin mengepalkan tangannya, "Tapi… aku…"
Luka melihat Rin yang kelihatannya sangat asing dalam masalah begini. "Rin-chan." Panggil Luka. Rin menoleh pada wanita muda itu. "Jatuh cinta itu tidaklah asing untuk manusia. Justru, rasa cinta—atau rasa suka itu adalah perasaan istimewa yang harus diperlakukan secara baik-baik. Sebab, sedikit saja keterlambatanmu dalam menyadari perasaan itu, maka, penyesalanlah yang akan kau dapatkan." Jelas Luka sambil sesekali menyesap kopi manis.
Rin terdiam, mencerna kata-kata Luka.
"Jangan menyembunyikan perasaan istimewa itu, Rin-chan. Jatuh cinta pada seseorang itu tidak ada salahnya sama sekali. Sama sepertiku kok." Ujar Miku dengan riang.
"Seperti… senpai?" ulang Rin bingung.
Miku mengangguk sambil memilin rambutnya. "Aku… sudah lama menyukai Kaito-senpai…" gumam Miku pelan. Rin terbelalak. Luka tersenyum polos. Meiko tertawa hambar. Gumi dan Miki... tidak juga berhenti mengunyah.
"Eeekh! Se—serius? Kaito-senpai yang itu?" tanya Rin—agaknya, dia shock.
Miku mengangguk, "Tapi… akhir dari perasaanku itu adalah kegagalan. Yah… tidak juga sih. Hngg… Kaito-senpai sudah punya pacar." Jawab Miku sambil menjitak dahinya sendiri dan menjulurkan lidahnya pendek-pendek. Kali ini Rin tidak bisa berkata-kata lagi.
"Kalau… Len punya pacar gimana? Nggak mau…" bisik Rin sambil memeluk dirinya sendiri.
"Kau belum tahu kan?" tanya Miki yang tengah memainkan jemari-jemarinya. Rin menoleh pada gadis itu. Miki mendengus. "Kita semua tidak tahu apakah Len punya pacar atau tidak. Bagaimana kau tanyakan saja?"
Rin menunduk, agaknya takut. "Itu…"
"Kau kenapa sih? Kayak bukan Rin saja." Potong Meiko. "Biasanya, dalam bertindak, kau akan langsung melakukannya meski berakhir melukaimu. Kenapa? Kenapa kali ini kau takut terluka? Terluka karena cinta… atau terluka karena sakit… bagiku semua sama. Sama-sama sakit. Tapi, ketika kita cuek dan menghadapi hari-hari seperti sedia kala, rasa sakit itu akan musnah." Kali ini Meiko yang berceramah panjang lebar.
Rin terdiam, kemudian menundukkan kepalanya. "Kalian… akan mendukungku, tidak?" tanya Rin—agaknya berharap. Meiko, Miku, Luka, Gumi, dan Miki menatap Rin tanpa berkedip. Rin menutup matanya erat, menahan… malu.
"Kenapa tidak?" tanya Meiko.
"Tentu saja kami dukung." Ujar Luka dengan tenang.
"Jangan khawatir." Ucap Miku sambil tersenyum lebar.
"Aku dan Miki ahlinya mendukung orang lho!" gurau Gumi sambil mengangkat tangan Miki tinggi-tinggi.
Rin mengangkat wajahnya, lalu tersenyum. "Terimakasih banyak…"
―
The Next Day…
Rin membuka pintu kelas dan ajaibnya, baru Len seorang yang berada di kelas. Sepertinya Len tidak menyadari keberadaan Rink arena terlalu sibuk berkutat dengan kertas dihadapannya. Rin menyimpan tasnya di bangkunya kemudian duduk. Dia berjuang keras untuk melenyapkan rasa gugupnya.
"Se—selamat pagi, Len." Sapa Rin dengan sedikit tersendat.
Len menoleh, "Oh? Hei. Selamat pagi, Rin. Maaf aku tidak sadar." Ujar Len. Rin terdiam, meneguk ludahnya, lalu menggeleng sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa kok. Aku juga tidak berani ganggu. Kau sibuk sih. Hmm… itu apaan?" tanya Rin sambil melirik kertas yang sejak tadi mencuri perhatian Len.
Len memijit pelipisnya pelan-pelan. "Ini bahan-bahan yang kita butuhkan saat festival nanti." Jawab Len dengan lemas. Rin bisa menebak kalau pria ini bekerja terlalu keras semalaman.
"Kubantu deh." Tawar Rin. "Aku tulis bahan-bahan keperluan untuk buat cake, kau sisanya." Ujar Rin sambil tersenyum, menampakkan sederet gigi-gigi putihnya. Len terdiam.
DHEG! Jujur saja, Len berdegup. "Ugh…" Len memberikan selembar kertas pada Rin. "Ini deh! Kerja cepat-cepat ya!" ucap Len, agak menggertak—sebab dia salah tingkah. Rin menerima kertas itu lalu mengambil pulpennya.
"Baiklah…" Rin juga mulai mengerjakan tugas barunya.
Namun, ketika sementara mengerjakan, Len langsung berseru, "Stop! Gula jangan kebanyakan dipesan! Pakai sedikit saja! Jangan lupa pesan garam!"
"Ikkh! Sabar dong. Nn… nn… nn… begini?" tanya Rin setelah kerjaannya dikoreksi Len. Len melihat kertas Rin dengan teliti, seperti guru yang tengah menilai soal ujian muridnya.
"Yak. Benar sekali!" jawab Len dengan puas.
Rin menatap Len yang puas seperti anak-anak. Kemudian dia tertawa, "Puh! Hahaha… kau sudah biasa masak kue untuk ayahmu ya? Sampai puas banget saat lihat kerjaanku benar." Ledek Rin sambil tertawa.
AARGH! Len langsung merona saat menyadari tingkahnya sendiri. "I—itu… itu wajar kan? Memang aneh ya, kalau cowok masak kue?" tanya Len. Segera pria ini memalingkan wajahnya dari Rin.
Rin menggeleng-gelengkan kepalanya, "Tidak. Tidak. Tidak kok. Menurutku malah keren." Puji Rin sambil tersenyum lebar. Kali ini… Len tidak bisa menyembunyikan semburat merah yang semakin nampak di wajahnya—sampai ke telinganya.
"A… akhh… ma—masa bodo! Idiot!" gertak Len, malu-malu.
Rin terdiam. Dia memegang pipinya yang memerah saat melihat wajah Len juga memerah.
Aduh… sial! Dia menunjukkan sikap aslinya padaku!, pikir Rin sambil menutup wajahnya, menahan malu. Namun dia senang, bersikap seolah tak ada apa-apa pada orang yang disukai itu memang tindakan paling baik.
Lalu, tanpa sepengetahuan Len dan Rin, seorang gadis dengan kunciran di sisi kepalanya, menatap kedua Kagamine itu dengan hati yang berdenyut setiap saat. Akita Neru—ketua kelas itu tak mampu bergerak ketika melihat dua Kagamine tengah berduaan dengan wajah merona, namun tetap kelihatan akrab satu sama lain.
―
"Yak!" Rin menghapus peluh yang mengucur di dahinya. "Kardus apa lagi yang harus aku bawa?" tanya Rin pada salah satu teman sekelasnya.
"Sisa dua kardus yang ada di luar. Maaf ya, Kagamine-chan." Ujar teman sekelas Rin itu dengan sungkan. Rin tersenyum padanya.
"Tidak masalah kok. Nah, aku berangkat ya!" Rin membalikkan badannya lalu berlari untuk mengambil salah satu kardus di lorong kelasnya. "Hup!" Rin mengangkat kardus itu. Tapi kemudian… KYUT! Rin tersentak, mata kakinya yang terkilir kemarin kumat lagi. Gadis ini serasa mau ambruk, tapi ditahannya tubuhnya dengan kuat-kuat.
Rin menghela napas berat, "Tidak apa-apa deh. Yosh!" Rin berjalan sambil membawa kardus yang lumayan berat itu. Agak jauh jaraknya sekarang dengan jarak kelasnya. Sehingga Rin harus bersabar untuk membawa kardus yang terbilang berat ini.
KYUT! Lagi-lagi, mata kaki Rin berdenyut. Kali ini Rin tidak mampu menahan rasa sakitnya, hingga dia oleng dan…
"Sial!" geram Rin.
Nyaris saja Rin terantuk lantai keras yang dipijaknya, namun Len langsung menangkap gadis itu. Hingga sekarang, Rin, berada dalam pelukan Len. "Aduuh… akh! Makasih ya, Len…" ucap Rin dengan tenang, namun dia tidak bisa menyembunyikan semburat merah di wajahnya.
"Kau ini nekad atau apa ya? Mata kakimu luka? Tunggu di sana! Biar aku yang bawa kardus ini." Kata Len dengan cepat. Dia mengambil kardus itu dan membawanya.
"Eeh! Len! Itu tugasku!" cegah Rin. Len menoleh pada gadis itu.
"Bukan. Tugasmu adalah… tunggu aku di sana. Jangan bergerak!" suruh Len dengan tegas. Rin merengut melihat tingkah cowok itu yang agaknya… sangat berlebihan.
"Luka begini tidak masalah kok!" sungut Rin. Dia mengacak-ngacak rambutnya yang sengaja diikat kebelakang (agar tidak panas). Tak lama, wajahnya kembali merona. Namun hanya tipis. "Tapi… Len tahu mata kakiku luka, padahal aku tida bilang apa-apa…" gumam Rin.
Rin menatap beberapa orang yang berlalu-lalang dihadapannya. Entah sejak kapan, koridor menuju kelasnya ini terasa agak ramai. Tapi melihat dari kondisinya, barang-barang keperluan festival memang ditaruh berderet di koridor menuju kelas Rin. Entah apa alasannya, tapi kemungkinan besar itu karena para pengangkut barang malas menyimpannya di gudang sekolah yang sangat jauh.
Tak lama, Len datang sambil membawa sekotak P3K. "Yo. Maaf lama." Sapa Len sambil berjalan mendekati Rin.
KLAK! Len membuka kotak P3K dan mengambil segulung perban dan obat merah. Dengan lihai, cowok ini menyentuh pergelangan kaki Rin dan melihat mata kaki gadis itu yang terlihat agak memar. Rin sempat kaget saat Len menyentuh kakinya dengan lembut.
"Aduh!" jerit Rin ketika tanpa sengaja Len membuat kakinya sakit. Len tersentak.
"Waduh! Maafkan aku! Masih sakit ya?" tanya Len dengan khawatir. Rin mengerutkan keningnya.
"Tidak kok. Hanya sakit sementara saja." Jawab Rin dengan tenang. Len menatap Rin sejenak lalu tersenyum.
"Yak! Sudah aman!" ujar Len kemudian. Dia sudah selesai merawat mata kaki Rin yang tadi agak bengkak. Sekarang pergelangan kakinya dibalut perban.
"Hwaa… makasih banyak, Len!" seru Rin sambil mengayunkan kakinya pelan-pelan.
DHEG!
Lagi-lagi…, pikir Len sambil memegang dadanya.
"Len? Ada apa?" tanya Rin saat melihat Len hanya bengong meski ia berterimakasih.
Dan lagi, Neru Akita—gadis itu menatap nanar dua Kagamine yang akhir-akhir ini terlihat akrab, bahkan terlihat mesra. Gadis ini mengerutkan keningnya, meremas seragamnya dengan kuat, menahan denyutan yang meradang di hatinya.
―
Rin membuka ponselnya ketika berdering menerima sms. "Ng? Ibu?"
Hontouni gomennasai, Rin-chan. Ibu ada acara malam ini. Besok, pagi-pagi sekali, ibu akan pulang. Dibanding kau sendirian di rumah, gimana kalau menginap di rumah Len-kun?
Sms itu berhenti sampai di sana. Rin menatap layar ponselnya lekat-lekat. Menginap di rumah Len? MANA BISA!, seru Rin dalam hatinya.
Len menoleh pada Rin yang duduk disebelahnya. Gadis itu sibuk sekali menatap layar ponsel lekat-lekat. "Ada sms dari ibumu yah? Ayahku juga sms, nih." Len menyodorkan ponsel flap dengan casing warna kuning miliknya.
Ara… Len! Hari ini ayah akan pulang telat! Mungkin besok subuh baru bisa pulang. Oh, iya. Ajak Rin-chan untuk nginap ya! Kalau tidak, ayah akan mengurangi uang jajanmu!
Rin tertawa kecil melihat isi sms ayah Len. "Astaga, Len… ayahmu benar-benar suka mengancam dengan uang jajan ya!" kata Rin sambil tertawa. Len menggembungkan sebelah pipinya.
"Yah… dia memang bodoh." Ringis Len sambil menggaruk punggung kepalanya yang tidak gatal. Rin tertawa mendengar gurauan Len. "Hmm… jadi… mau nginap di rumahku?" tanya Len. DHEG! Mendadak keduanya merasa malu. Len langsung menambahi, "Arrgh… ka—kalau kau tidak mau juga tidak apa-apa sih…"
Rin terbelalak, "Eehh—ehh… tidak! A, anu… ibuku juga menyuruhku begitu…" ringis Rin dengan linglung. Len tersentak.
"Ibumu menyuruhmu nginap?" tanya Len, memastikan. KLUK! KLUK! Rin mengangguk kuat-kuat.
Ini jebakan…, keluh Len dalam hati sambil meremas tinjunya kuat-kuat. Kedua Kagamine ini tidak mampu menyimpan semburat merah yang mewarnai wajah mereka masing-masing. Len mendehem, kemudian menepuk puncak kepala Rin.
"Karena ibumu yang suruh… err—baiklah." Ucap Len dengan tenang, namun sebenarnya dia sangat gugup.
Rin tersenyum, "Ehm…!"
Keduanya tertawa bersamaan lalu berdiri untuk mengepak barang. Setelah beres, keduanya menenteng tas masing-masing lalu berjalan keluar kelas.
"Nee, Len. Aku mau pulang dulu. Ambil baju dan lain-lain. Err—jadi… aku akan menyusul." Ucap Rin ketika keduanya berada di depan gerbang sekolah. Len mengangguk mengerti, dia mempersilahkan Rin untuk pergi.
―
A Few Hours Later…
KLAK! Len membuka pintu rumahnya. Sudah ada Rin di depan pintu dengan pakaian simpel tapi berkesan manis.
"Okee… selamat datang di rumahku… dan… rumahmu." Sapa Len dengan hati-hati. Rin terkikik. Dia melangkahkan kakinya masuk lebih dalam ke rumah Len. Rumah Len tidak bisa dibilang rumah biasa, kenapa? Sebab Len tinggal di perumahan elit—yang rata-rata penghuni di perumahan tersebut adalah pejabat tinggi. Ayah Len sendiri… adalah direktur utama dari sebuah perusahaan.
Len membalikkan badannya untuk naik ke lantai atas. "Eh, tunggu sebentar—" Len terdiam di tengah tangga, lalu menoleh pada Rin yang sedang duduk di sofa ruang tamu. "Aaargh! Aku lupaa!" seru Len kemudian, dia mengacak-ngacak rambutnya sendiri dengan kasar. Rin langsung menoleh pada pria itu.
"Nn? Ada apa, Len?" tanya Rin.
"Itu lho… aku lupa. Di rumah ini, Cuma ada 2 kamar. Kamarku dan ayahku… jadi… sebentar malam…" Len memutuskan ucapannya. Sebab, dia keburu malu-malu. Tak terkecuali Rin, gadis itu juga sedang diwarnai semburat merah di pipinya, dia bisa menebak lanjutan dari ucapan Len.
Len berdehem, berusaha mencairkan suasana, "Tapi tenang! Uhh… ada futon kok. Kuambilkan sebentar deh." Ujar Len.
Rin tersenyum, "Baiklah… tidak masalah kok."
Len mengangguk-ngangguk. "Ugh… sudah sore nih. Apa kita siapkan makan malam saja?" tanya Len. Rin berpikir sejenak.
"Umm… boleh juga tuh. Aku sudah lapar." Jawab Rin sambil menggaruk pelipisnya.
"Oke. Kau ke dapur duluan. Aku mau ambil futon." Komando Len. Pria itu segera melesat ke kamar ayahnya—yang mungkin… tersimpan futon di sana. Rin terdiam, tak lama, ia mengingat komando Len yang menyuruhnya ke dapur.
TAP! TAP! TAP! Rin segera melangkahkan kakinya menuju dapur yang… yang… yang luar biasa BESAR dan bersih! Juga… mengkilap?
Rin menganga takjub. Tak ada satu pun perabotan makanan yang kotor dan berkarat di sini. Semua bersih mengkilap! Rin menerka-nerka, pakai apa Len membersihkannya? Tanpa ragu, Rin membuka pintu kulkas dan melihat isinya.
"Waahh… makanan kelas atas ya?" gumam Rin saat melihat isi kulkas Len seolah-olah bersinar. Di dalamnya, tertata rapi berbagai minuman dingin dan makanan pokok, juga cemilan. Rin terkikik. Mengingat Len yang perilakunya tidak seperti orang-orang golongan atas.
Len itu… hebat ya…, pikir Rin—sebenarnya takjub.
"Hum? Jadi kau mau masak apa?" tanya Len—yang tahu-tahu sudah ada di belakang Rin. Rin tersentak kaget—nyaris loncat—ketika mendengar suara Len yang sudah ada di belakangnya.
"Uhm… nnn… terserah deh. Masakan keahlianmu apa?" tanya Rin dengan gugup.
"Aku ahlinya masak mie. Mau?" tanya Len balik. Rin mengangguk—tanda mengiyakan. "Kalau gitu… ambil mie instan di atas rak." Suruh Len. Pria itu memakai celemek berwarna kuning dan menaruh panci berisi air di atas kompor dan menyalakannya.
Rin membawakan dua bungkus mie instan pada Len. "Baiklah. Terimakasih ya, Rin. Hm… bisa kau potong-potongkan sayur-sayur ini?" pinta Len sambil menyodorkan beragam sayur di hadapan Rin. Rin tersenyum—tapi ini senyum yang menantang.
"Heh. Memotong-motong itu keahlianku, tahu!" seru Rin kemudian merampas pisau dan memotong-motong sayur-sayur itu dengan cepat dan rapi. Mungkin… Rin selalu berharap agar bisa memotong-motong orang yang selalu diajaknya berkelahi ya?
Len kembali pada mie yang dia rebus di dalam panci. Tak lama, setelah matang, Len memasukkannya ke dalam dua mangkuk kecil. Lalu, Len meracik mie polos itu dengan bumbu-bumbu tertentu. Setelah selesai, dia mengambil sayur-sayur yang sudah Rin 'babat' habis dan mencelupkannya ke dalam mie mangkok itu.
"Yosh…" Len mendengus lega. "Memang sederhana sih, tapi, kau takkan menyangka rasanya." Ujar Len sambil tersenyum bangga.
Rin menatap salah satu mangkok yang terlihat 'mewah' itu dengan tergiur. "Boleh kucoba?" tanya Rin sambil memegang sepasang sumpit.
"Silahkan." Suruh Len dengan enteng.
Rin tersenyum lalu… HAP! Rin melahap beberapa helai mie dengan semangat.
Tak lama, "Kok… penampilan luarnya seperti mie biasa…? Tapi ranya… LUAR BIASA ENAK SEKALIII!" Seru Rin sambil melahap-lahap mie-nya lagi dengan nikmat. Len yang melihat ekpresi Rin saat makan pun ikut senang dan tersenyum.
Baru kali ini ada yang memuji makananku sampai sebegitunya… eerr—senang sih…, pikir Len sambil tersenyum samar.
KLOTAK! Rin menyimpan mangkok-nya di atas meja lalu menoleh pada Len. "Enak banget lho! Kau pakai rahasia apa sih? Hehehe… tak kusangka… kau bakat jadi koki! Wu… ahh…! Sejuk sekali rasanya!" Rin merenggangkan badannya sambil tersenyum. Sejujurnya, dia sangat senang mencicipi masakan Len dan… ingin lagi. Tapi… tidak boleh.
Len mengepalkan tangannya. Serius, dia malu sekali dipuji begitu—juga senang. BRUK! Len jatuh terduduk sambil menutup wajahnya. "Ugghh… kau itu… memuji terlalu berlebihan!" keluh Len tanpa memperlihatkan wajahnya pada Rin.
Rin ikut duduk berjongkok di samping Len. "Umm… masa' sih? Tapi kurasa pujianku masih kurang lho. Hehehe… makasih ya, Len." Ujar Rin dengan senang.
Len mendengus. "Ngg… harusnya aku yang berterima… ka… ka… ugh! Idiot!" gertak Len sambil berlari meninggalkan dapur. Rin tertawa melihat tingkah Len yang seperti bocah.
"Wuahahaha! Astaga… wajahnya… merah banget!"
―
TIK! TIK! TIK! TIK! BRRRSSSHHHH!
Rin memandang keluar jendela, "Hujan…" gumamnya. Rin berguling di tempat tidur Len dan duduk di sisi ranjang, melihat Len yang berbaring di bawah beralaskan futon. "Eeeh… Len. Kalau kau mau tidur di atas… tidak apa-apa kok. Aku saja yang di bawah." Ucap Rin, masih sungkan dan… merasa tidak enak.
Len menggeleng tegas, namun matanya belum beralih pada komik yang dibacanya. "Tidak ah. Di bawah nyaman, dingin juga…" tolak Len.
Rin tersenyum, lalu mengangguk. BRUK! Rin merebahkan dirinya di kasur Len. "Hei, Len…" panggil Rin.
"Hm?"
"Mulai besok… dan seterusnya… aku beneran tinggal di sini, lho. Setelah sekian lama, akhirnya aku punya ayah dan adik. Terlebih, kalau adikku itu Len… pasti… pasti… pasti seru sekali!" seru Rin dengan riang. Tanpa sepengetahuan Rin, sekarang ini wajah Len tengah merona.
"Apanya yang seru? Biasa aja kok kalau saudara-an denganku. Aku itu garing lho." Elak Len.
Rin mengerutkan keningnya, "Terserah deh. Yang pasti… aku tidak sabar menantikannya." Tambah Rin dengan tegas. Len mendengus, menyerah.
PHATS! "Eh?" Rin segera duduk di tempat tidur Len. Gelap.
"Mati lampu?" gumam Rin. Rin langsung memeluk bantal milik Len. Jujur saja, gadis ini takut pada kegelapan sejak kecil, di tambah, sekarang sedang hujan deras. "Len… kau masih di sana?" tanya Rin. Namun tidak ada suara. Rin meneguk ludahnya, mulau takut. "Leeeen… jangan bohong dong... kau masih di sana… kan?" ulang Rin, kali ini suaranya terdengar serak. Tapi sial, lagi-lagi tidak ada jawaban dari empunya.
GRRRT! Rin semakin mempererat pelukannya terhadap bantal milik Len. "Hegh!" Rin menutup matanya, tapi dia malah semakin takut. Dengan gelagapan, Rin berdiri di atas tempat tidur Len—dan berniat lari keluar ruangan, tapi… eits!
Kakinya tersandung hingga…
GUBRAK! Rin jatuh ke bawah.
Ng? Hangat… lembut… ini sih… futon. Berarti Len… pergi ya…?, pikir Rin—dia masih belum bisa bergerak karena takut.
PHATS! Lampu menyala kembali. Rin melirik sekitarnya. DHEG! Rin tersentak dan melompat dari tempatnya tadi. Spontan, gadis ini menutup mulutnya dan menatap… Len… dengan wajah merona.
Pria itu juga tengah merona sambil menutup mulutnya.
Futon yang disangka Rin ternyata Len! Dan rasa 'lembut' yang dirasakan Rin adalah… bibir Len!
Gimana nih!
T O B E C O N T I N U E D
A/N: Hellooooo! (Readers: kabur!)
Aneh banget ya fic-ku? Maaf… lagi WB (tapi maksa apdet *DZIIIGH!). Baiklahh… adegan romansu mulai kerasa mulai chappie ini! xD huohohohoho… Rin mencuri ciuman Len! *di bom pakai jeruk bali (?)
Idih… saya ngeri liat fic-ku chappie ini ( _ _) kenapa? Penataan kata aneh, sifat karakter udah mulai melenceng, lokasi tidak jelas, jalan cerita mulai ngelantur, etc.
Mau protes? Flame? Ooohh… tidak bissaaa! *ala paman Sule
Sudah deh, protes masih kuterima dikit-dikit… orz
Baiklahhhhhhhh! X3 sampai ketemu di chappie selanjutnya! Bye!
OH, IYA! Fic ini sudah 10 chapter lho! Nggak terasa yaaaa xDD *senang. Saya harus berterimakasih sama pembaca nih! TERIMAKASIH… BANYAAAK! Berkat dukungan kalian, fic ini terus lanjut dengan mulus. Meski si author sering kena penyakit WB, tapi sering ingin lanjut fic karena dukungan kalian-kalian! Serius lho! xD sekali lagi, ma ka sih! Oh, terakhir nih. Maaf kalau fic ini sesekali terasa membosankan (selalu), soalnya… begitu deh. Kalian semua yang calon-calon penulis pasti paham! xD kalo ga paham, buang saja author ini. Heheheh, baiklah… see you next time!
