Vocaloid © Yamaha
I'm Yours, Idiot!
© khiikikurohoshi
Chapter 11
Love Confession
―
Gimana nih!
Rin menutup mulutnya. Sedang Len menatapnya dengan warna wajah yang sama. Putih. Namun ada warna merah di sana.
"Ee… eee…" Rin mencoba menjelaskan sesuatu, tapi rasa-rasanya tenggorokannya tercekat.
"Maaf…" gumam Len lirih, masih bersinggah rona merah di wajahnya.
"Eh?"
"Nnn… kupikirnya kau tidak takut gelap…" kata Len dengan nada penuh penyesalan. Rin tertegun.
"Ngg… kau tidak menyahut… karena sengaja, ya?" tanya Rin hati-hati. Len mengangguk satu kali. "Aku memang tidak takut gelap. Kalau ada orang di sampingku…"
Len mengangkat wajahnya, menatap mata azure milik Rin. Kemudian dia menundukkan kembali kepalanya, mengangguk perlahan. "Maaf… aku betul-betul iseng tadi…" ringis Len dengan kaku. Rin sudah bisa menguasai rasa malunya.
"Umm… ngomong-ngomong…" Rin menghentikan perkataannya, ragu-ragu untuk melanjutkan.
"Eh?"
"… tadi itu… ciu… ciuman pertamaku… lho…" bisik Rin dengan terbata. Sontak Len kembali merona. Rin juga begitu. Keduanya jadi canggung dan duduk berhadapan satu sama lain di atas futon dengan wajah merah padam. Rin menelan ludahnya.
"Aku… ju… ga… kok…" balas Len sambil memalingkan wajahnya, menahan malu. Kalau saja dia tidak menahan malu sekarang, besok akan ada berita pengebom-an di dalam rumahnya.
Rin tertegun. Masih dengan wajah merona, dia menatap Len yang sedang memalingkan wajahnya menahan malu. Ada sedikit getaran yang terlihat di wajahnya. "Pfff…" Rin menutup mulutnya. "Ahahahaha! Wajahmu…! Astaga! Wajahmu…! Merah banget! Kayak tomat!" Rin tertawa terbahak sambil sesekali memukul futon yang diinjaknya.
"Aaargh! Berisik, ah!" gertak Len dengan malu. Dia ingin sekali membungkam mulut Rin karena kebanyakan tertawa.
"Pffft…! Ahaha! Ha—habis…! Pfft…! Huahahahaha!" karena sepertinya tidak ada tanda-tanda dari akhir tawa Rin, Len langsung mencubit kedua pipi Rin. Sontak Rin menghentikan tawanya, berganti dengan raungan kesakitan.
"Aaauuww! Sakit! Sakit! Sakit, Len! Huweee…!"
Len melepaskan cubitannya, merasa berlebihan, dia langsung meminta maaf, "Arrgh! Maaf Rin! Maaf! Sakit ya?" Len langsung memegang kedua pipi Rin.
DHEG! Keduanya membeku satu sama lain.
Auch… sial…, keluh Len.
"Ck!" Len menarik tangannya sendiri. "Maaf… tadi aku keterlaluan…" keluh Len sambil mengacak-ngacak rambutnya.
"Nnn…" Rin hanya menganggukan kepalanya dengan canggung. Tak sengaja matanya menatap jam dinding yang terletak di atas kepala Len. "Sudah jam setengah 12. Aku… tidur dulu ya." Rin berdiri dari tempatnya, saat ingin naik ke atas tempat tidur, Len langsung menarik tangan gadis itu hingga dia jatuh. Ke… dalam pelukan Len.
Rin membelalakkan matanya kaget. "Len?"
Len mempererat dekapannya, "Tidur di sini saja. Nanti kamu jatuh dari atas lagi… merepotkan, 'kan?"
Rin menelan ludahnya.
Tapi… mana bisa aku tidur dalam keadaan begini?, keluh Rin dalam hati.
Krrr… krrr…
Rin menoleh, melihat Len yang sudah terlelap dengan manisnya. Karena rasa kantuk yang sudah menumpuk sejak tadi, tanpa ada niat memberontak, Rin juga ikut terlelap dalam dekapan seorang pangeran.
―
Pukul 3 subuh…
Klak.
Pintu tengah kediaman Kagamine terbuka. Dengan hati-hati, sesosok wanita muda berusia kurang lebih 32 tahun melangkah masuk ke dalam rumah itu.
"Fiuuhh… safe! Sepertinya anak-anak tidak terbangun karena kehadiranku…" bisik ibu Rin dengan napas kelegaan.
"Kata siapa? Aku yang terbangun..."
Pundak ibu Rin menegang ketika mendengar suara gentle dari seorang pria yang tak lain adalah calon suaminya.
"Khhh… maaf…" ringis ibu Rin.
Ayah Len tersenyum ramah. "Tidak masalah. Sebaiknya kau istirahat. Meeting-mu lancar?" tanya ayah Len. Ibu Rin hanya tersenyum sumringah.
"Sangat lancar. Bahkan dia mau datang ke acara pernikahan kita sebentar." Jawab ibu Rin. Ayah Len mengangguk-nganggukkan kepalanya dengan lega.
Tap! Tap! Tap! Tap!
Terdengar langkah kaki dari lantai dua. Muncul Len yang tengah menggosok rambutnya dengan selembar handuk.
"Oh? Ayah dan ibu sudah pulang. Selamat datang." Sapa Len dengan santainya. Dia langsung melesat menuju dapur dan mengambil sebotol air mineral. Sambil meminumnya, dia melangkah ke ruang tamu dan duduk di salah satu sofa. "Hari ini… wajah kalian berseri-seri banget."
Ayah Len tersenyum sambil menghela napas.
GYUUUUT! Tanpa aba-aba, dia langsung memeluk tubuh Len erat-erat. "Oooohh! Len anakku tersayang! Kenapa kau selalu bisa membaca wajah ayah dan ibumu!"
Len tersedak saat mendapat serangan mendadak ayahnya. "AYAH! Stop! Jangan menjerit begitu deh! Rin masih tidur di kamar!" bisik Rin dengan nada tertohok. Ayah Len langsung buru-buru menutup mulutnya. Ibu Rin langsung tertawa kecil melihat tingkah dua Kagamine laki-laki dihadapannya.
"Hari ini kau bisa datang?" tanya Ayah Len.
"Ngg… kuusahakan deh. Soalnya… aku juga sibuk sebagai panitia festival." Jawab Len sambil menggaruk tengkuknya.
"Kapan festivalmu, Len?" tanya ibu Rin yang tengah berjalan ke dalam dapur.
"Ngg… terhitung 3 hari termasuk hari ini." Jawab Len.
"Boleh kami mampir, Len?" tanya ayah Len. Len hanya mengangguk mengiyakan. "Baiklah… kalau gitu sudah ditetapkan!"
Len tertegun. Entah kenapa dia teringat saat ibu lamanya masih hidup. Dulu… Len tidaklah seberandal seperti sekarang. Pengaruh perubahan sikap teman SD-nya sudah mengubah diri Len yang polos menjadi berandal. Ketika ibunya meninggal, teman SD-nya selalu mencemooh dan menindas Len, sambil berseru 'anak tak ber-ibu. Anak tak ber-ibu!' hal itu membuat Len muak. Jujur saja.
"Len? Kau mau sarapan apa?" tanya ibu Rin dengan lembut. Len tersentak.
"Nnn… tunggu Rin bangun saja deh." Jawab Len. Ibu Rin mengangguk lalu membelai puncak rambut Len.
"Kalau gitu… biar ibu yang membangunkan Rin." Ucap ibu Rin lalu melesat naik ke lantai dua. Len menatap punggung ibunya yang semakin menjauh.
Plok!
Tiba-tiba pundaknya di sentuh sang ayah. "Hm? Kau teringat ibu lamamu?" tanya ayah Len, menebak. Len tersenyum lalu mengangguk.
"Tapi… semua itu tidak masalah sekarang…" kata Len sambil tersenyum hangat.
―
"Huaaaaaaaaaahm!" Rin menguap lebar di tengah-tengah sarapan.
"Hoeee… nona kecil masih mengantuk?" tanya Ayah Len sambil tersenyum. Rin langsung menutup mulutnya.
"Ng… hehe. Begitulah…" ringis Rin sambil menyendokkan sereal ke dalam mulutnya lagi.
"Hari ini Rin…" "BISA! BISA! AKU AKAN DATANG!" potong Rin sebelum ibunya menyelesaikan pertanyaannya. Ibu Rin hanya bisa tertawa.
Len tertegun.
Waktu pertama kali bertemu dengan Rin… sifatnya tidak begini. Berubah banget…, pikirnya.
"Ada apa, Len? Kok bengong?" tanya Rin.
Len langsung tersentak, "Err… tidak. Hanya kepikiran. Waktu pertama kali bertemu denganmu… kau seperti membenciku." Jawab Len. Rin mengerjapkan matanya.
"Oh. Sifat yang kau sebut yandere itu ya? Hehehe… akting yang manis, kan?" Len hanya mendecak. "Ngg… mungkin itu kebiasaanku kalau ketemu orang baru yang kelihatan 'garang'." Saat mengatakan 'garang', Rin mengangkat kedua tangannya dan mengedikkan dua jarinya seperti 'tanda kutip'.
Len hanya mengangguk-ngangguk, kemudian merasa ada yang ganjal, "Jadi maksudmu… aku ini garang?" tanya Len. Rin mengangguk sambil meminum jus jeruknya.
"Gosip mengatakan kau itu menyeramkan. Tapi… tidak juga tuh. Kau biasa saja, malah, tsundere…" komentar Rin dengan santainya.
"Ya, ya, maaf deh…"
TRRRR! Mendadak ponsel Len berbunyi. Segera Len membukanya. Ada raut aneh di wajahnya ketika mendapat e-mail asing. Tapi kemudian dia mengangguk-ngangguk.
"Dari siapa, Len?" tanya Rin penasaran.
"Akita Neru. Ketua kelas. Dia minta panitia untuk segera datang. Kalau gitu… aku berangkat duluan, ya! Ibu, ayah, aku berangkat!" seru Len sambil berlari keluar rumah. Rin mengerutkan keningnya, sedikitnya, curiga.
"Wah, wah, wah… Len semangat sekali." Puji Ayah Len dengan bangga. Ibu Rin melirik putrinya yang terlihat bengong menatap pintu keluar.
"Ehem, Rin." Panggil sang ibu. Rin langsung menoleh. "Hati-hati ya…" ucapnya. Wajah Rin langsung berbinar. Dia melompat mengambil tasnya dan berlari keluar rumah.
"Aku berangkaaat!" seru Rin sambil lalu.
Blam.
Pintu tengah tertutup. Ayah Len dan ibu Rin saling pandang dan menggeleng bersamaan. "Anak-anak memang selalu bersemangat…" ringis keduanya bersamaan.
―
Rin membuka pintu kelasnya. Di sana, dia langsung di sambut beberapa teman sekelasnya.
"Pagi semua! Kelihatannya masih sibuk, nih. Err… kubantu deh?" Rin menawarkan diri. Sebenarnya dia ingin sesegera mungkin mengejar Len, tapi dia tidak ingin bersikap gegabah dan malah… membuat hubungannya dan Len merenggang. Meski sekarang ini dia juga tengah penasaran dengan apa yang akan dilakukan Neru dan Len.
CTIK! Rin tiba-tiba teringat sesuatu.
Panitia untuk segera datang…
Rin menoleh, melihat salah satu teman sekelasnya, Rinto, yang juga merupakan panitia masih bebenah di kelas. "Hei, Rinto-kun! Kau di hubungi ketua kelas tidak, pagi tadi?" tanya Rin.
Rinto terlihat berpikir, lalu kemudian menggeleng pelan. Rin mengernyitkan dahinya. "Lalu… Len kemana?" gumam Rin, mulai khawatir.
"Len? Dia belum ke kelas sejak pagi tuh…" jawab Rinto yang mendengar gumaman Rin. Rin mengangkat wajahnya, tidak bisa menyembunyikan wajah kagetnya sekarang ini. "Memangnya ada apa?" tanya Rinto ketika melihat air muka Rin berubah. Rin langsung menggeleng cepat.
"Tidak apa-apa kok…"
Rinto hanya mengangkat bahunya dan melanjutkan pekerjaannya. Rin mengepalkan kesepuluh jarinya. Dengan segera dia meninggalkan kelas dengan niat mencari Len. Sebenarnya… dia sudah mulai khawatir sejak Neru mengirimkan e-mail pada Len. Pasti… ada sesuatu di baliknya!
Terlebih… Neru juga… menyukai Len, 'kan?
Rin menghentikan langkahnya. Dia melihat Mikuo yang berdiri jauh di depannya. Tapi karena merasa 'harus'... maka, dengan kecepatan maximum, dia mengejar Mikuo yang syukurlah, belum beranjak dari tempatnya.
Tapi…
GABRUK! Keduanya bertabrakan karena Rin lupa untuk me-rem larinya.
"Aduuuh!"
"Auuww!"
Keduanya meringis satu sama lain. Setelah merasa baikan, Mikuo langsung menepuk puncak kepala Rin. "Kamu nyari Len sampai begininya, ya… ugh…" ringis Mikuo sambil memperbaiki posisi jatuhnya tadi. Rin hanya meleletkan lidahnya pendek-pendek, menahan malu juga.
"Maaf, Mikuo-senpai… yang ini darurat sih…"
Mikuo mendengus. "Iya, deh. Tapi paling tidak perhatikan diri sendiri, dong. Sikumu luka tuh…" ucap Mikuo sambil menunjuk siku Rin yang berdarah. Sepertinya sempat terantuk tanah. Rin melirik lukanya.
"Ini tidak masalah. Jauh lebih penting mencari… Len sekarang…" ucap Rin dengan lirih. Sekarang ini dia benar-benar merasa takut kalau nanti Len pulang sambil menggandeng lengan Neru. Sungguh! Dia sangat tidak ingin melihat pemandangan naas seperti itu!
"Kamu… sebegitu sukanya sama Len, ya?" tanya Mikuo.
Heh?
Rin terbelalak. Wajahnya langsung memerah padam. "Kok… kok… kok tahu siiiih!" seru Rin dengan tampang 'super shock'.
"Habis… kau mudah ditebak sih." Balas Mikuo sambil tersenyum ramah. Dia memegang lengan Rin dan membantu gadis itu untuk berdiri.
"Ukh… tolong… rahasiakan… ya?" pinta Rin dengan malu-malu.
Kyuuun… jujur saja, Mikuo ingin sekali memeluk tubuh Rin yang berwajah malu-malu begitu. Tapi ditepisnya perkiraan gilanya itu. Salah-salah dia malah dibunuh oleh ketua sendiri…
"Huuuhh… iya, iya. Duh! Kamu manis sekali sih, Rin-chan…" Mikuo mencubit pipi Rin dengan gemas. "Jujur saja ya, Rin-chan. Sejak tadi… aku belum melihat Len, tuh." Kata Mikuo akhirnya. Rin membolakkan mata.
"KALAU GITU NGAPAIN AKU BUANG-BUANG WAKTU DI SINI!" seru Rin yang sekarang sudah menyalakan api kemarahan. Mikuo langsung menenangkan gadis itu.
"Woa! Woa! Sabar sedikit, Rin-chan! Aku yakin dia masih ada di sekolah, kok!"
Rin menggeretakkan giginya, "Tapi… ck! Sudahlah! Aku pergi!" Rin membalikkan badannya dan kembali mencari Len. Mikuo justru menatap punggung gadis itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah. Baru diketahuinya kalau Rin marah itu menyeramkan…
―
[ Kagamine Len P o V ]
Aku tertegun ketika mendengar apa yang diucapkan ketua kelas padaku.
"Hah? Kencan? Buat apa?" tanyaku beruntun. Kulihat wajah ketua kelas memerah padam. Terlintas di pikiranku kalau ketua kelas sedang demam sekarang. Kenapa dia memaksakan diri begini sih?
"Ngg… ha—habis… aku… ingin mengenalmu… lebih dekat…" jawabnya. Kelihatan sangat canggung dan gugup. Aku menaikkan sebelah alisku. Hah? Apa katanya?
"Maksudmu?"
Kulihat ketua kelas menelan ludahnya. Ada apa sih? Tidak biasanya dia segugup ini kalau berbicara dengan orang lain. Bahkan… dia tidak menatap mata lawan bicaranya! Sungguh tidak sopan!
Aku mendengus. Sepertinya bakal ruwet nih.
"Tolong deh, ketua kelas. Sudah 30 menit lebih kita berdiri di sini dan kau membuang semua itu dengan sia-sia. Tahu begini aku tidak memotong sarapanku dan berangkat sekolah lebih lama. Toh, aku sampai meninggalkan Rin." Keluh Len sambil menggaruk tengkuknya.
Kulihat ketua kelas memasang tampang aneh padaku. "Kalian… sering berangkat sama-sama ke sekolah?" tanyanya dengan mendesis.
Aku menggeleng, "Tidak. Mulai hari ini… setidaknya… aku harus pergi sekolah barengan dengan dia." Jawab Len dengan halus.
Ketua kelas mengernyitkan dahinya, "Kalian… ada hubungan apa sih? Kok… romantis begitu…"
Oke, baik. Sepertinya aku benci kelakuannya yang tidak blak-blakan. Dia kenapa sih?
"Ketua kelas… kau kenapa? Kau sakit? Kenapa kau berbelit-belit begini sih? Katakan saja secara blak-blakan seperti biasanya…" ucapku tanpa mempedulikan pertanyaan ketua kelas barusan. Mendengar perkataanku, kulihat ketua kelas menatapku dengan tatapan… aneh? Lagi?
"Baiklah…" kata ketua kelas akhirnya. "Akan kukatakan dengan jelas dan tegas. Juga… blak-blakan!"
Aku merasakan firasat buruk sekarang. Sungguh.
"Aku… menyukaimu… Kagamine-kun!"
Aku terbelalak. Apa? Mustahil...
BRUGH!
Aku dan ketua kelas langsung menoleh ke arah suara. Mataku membolak lebar ketika melihat… Rin… jatuh terduduk dengan wajah shock yang tergambar jelas di wajahnya. Tidak… ini benar-benar buruk! Sialan!
[ Kagamine Rin P o V ]
"Baiklah…"
"Akan kukatakan dengan jelas dan tegas. Juga… blak-blakan!"
Tubuhku menegang ketika mendengar seruan Neru-san. Tidak salah lagi… dia sedang berbincang dengan Len!
"Aku… menyukaimu… Kagamine-kun!"
BRUGH!
Tanda sadar tubuhku melemas dan aku jatuh terduduk. Mendengar suara jatuh, kedua orang itu langsung menoleh bersamaan dan melihatku yang memasang wajah kaget.
Gawat!
Aku menundukkan kepalaku, berpikir harus mengucapkan apa saat begini. Kemudian, aku mengangkat kepalaku sambil menggaruk punggung kepalaku, "Aahaha… ha… ha… maafkan aku… aku tidak bermaksud—" aku menahan suaraku. Tidak ada gunanya berbicara seperti itu sekarang!
Dengan sulit, aku mengangkat tubuhku sendiri.
Aku tersenyum, "Hm. Selamat ya, Len. Kakak senang ada orang yang akhirnya menyukaimu." Kataku. Kulihat wajah Len terbelalak kaget. Sedang Neru-san terlihat heran.
"Kakak? Jangan-jangan… kalian…"
Che… ada nada kelegaan yang terselip di ucapanmu itu lho, Neru-san…
Aku tersenyum… agak terpaksa sekarang. "Iyap!" aku mengangguk. "Aku dan Len… akan menjadi saudara. Jadi… jangan khawatirkan aku."
Saat mengatakan 'aku' diakhir-akhir, jujur saja, kutekankan kata itu sambil menatap mata Len. Kuharap mataku tergambar perih saat Len melihatnya.
"Oooh…" Neru -san ber-'oh' ria dengan penuh kelegaan. Aku menggenggam erat semua jariku. Tak sadar kepalan tanganku bergetar dan menetes darah dari sana. Sebenarnya aku bisa saja menyeruak dengan berkata 'hentikan! Jangan seenaknya merebut Len!', tapi… aku tidak bisa bersikap seegois itu…
… tidak bisa…
Aku membalikkan badanku, "Hehehe… berbahagialah ya, Len. Daagh! Aku mau ke acara pernikahan ayah dan ibu."
Langkahku semakin menjauh. Semakin jauh… raung tangisku semakin menyeruak. Sial! Sial! Sial! Padahal Len belum tentu mengatakan 'ya' pada Neru-san. Tapi aku… terlalu takut untuk mendengar jawaban Len. Aku memang lemah. Pengecut… dan… penakut!
Kenapa aku kalah langkah dengan Neru-san!
"Kenapa aku lari, ya? Padahal belum tentu Len menyukai Neru-san…" gumamku sambil menghapus air mataku. "Tapi… Neru-san serius menyukai Len… Ck!"
Aku menggelengkan kepalaku. Aku harus pergi ke gereja tempat ayah dan ibuku menikah! Sekarang!
―
[ NORMAL P o V ]
"Eeeeh? Rin-chan mau pulang? Wah… kalau begitu hati-hatilah ya!"
Rin mengangguk semangat. Dia menenteng tasnya lalu melangkahkan kakinya keluar sekolah. Dengan perasaan berat, dia mencari bus.
Len tidak bisa ikut ya…, pikir Rin dalam hati.
Sekarang dia sudah duduk di salah satu bus, yang tidak lama lagi sampai ke tujuan sebenarnya.
"Kalau Len menolak Neru-san sekarang, pasti bukan aku yang disukainya. Sebab… aku 'kan kakaknya? Lagipula… aku lari karena…" ucapan Rin terhenti.
"Aku lari karena… kenapa?"
DHEG! Sekarang Rin menyadari kesalahannya. Saking berputar-putarnya pikirannya tadi, dia asal lari dan berkata aneh seperti itu! Padahal… tidak seharusnya seperti itu!
"Aargh! Aku memang pengecut!" ringis Rin.
Rin terdiam. Saking lamanya terdiam, tak sadar, dia sudah sampai di lokasi tujuannya. Dengan segera dia turun dari bus dan berlari menuju gereja tempat pernikahan kedua orang tuanya.
―
"Wahhhh! Ibu manis sekaliii!" puji Rin ketika melihat ibunya yang tengah berdiri sementara gaunnya diperbaiki oleh stylist-nya. Memang benar kata Rin. Tubuh ibunya yang termasuk proporsional itu dibalut gaun putih dengan sedikit batu permata kecil di sekitar pinggang. Sarung tangan menutupi nyaris seluruh lengannya. Tudung putih transparan juga bertengger di atas kepalanya. SANGAT MANIS! Dan juga... anggun.
Ibu Rin tersipu. Wajahnya yang sudah diberi make up terlihat sangat manis saat tersenyum.
"Ng… Len benar-benar tidak bisa datang ya?" tanya ibunya.
Rin berpikir sejenak, "Iya… aku rasa…" jawab Rin sambil menundukkan kepalanya.
"Nnn… begitu ya… sayang sekali…" ucap ibu Rin. Agaknya kecewa. Rin menggembungkan sebelah pipinya.
"Err… aku keluar dulu ya, ibu. Habis… pernikahan ibu 'kan tidak lama lagi." Ucap Rin sambil lalu. Ibunya hanya bisa menatap punggung manis yang semakin jauh dari pandangannya itu dengan wajah penasaran. Sebab... dia melihat dua luka dalam satu tangan Rin. Tapi dia sengaja tidak bertanya soal itu.
Blam.
Rin menutup pintu dengan perlahan. Dia bersandar di pintu geser itu sambil melamun. "Kalau aku bertemu Len nanti… aku… harus tegar!"
Setelah bersugesti demikian, Rin mengangkat wajahnya, mengangguk satu kali, lalu berjalan tegak menjauhi pintu yang membatasi antara koridor dan ruang ganti baju ibunya. Rin berjalan ke luar gereja. "Sebentar lagi… tidak sampai 10 menit… hari kebahagiaan ibu dan ayah… ya? Aku juga harus bahagia, dong…" ringis Rin sambil tersenyum samar.
TRRRR! TRRRR!
Ponsel Rin berbunyi merdu. Segera diambilnya dan melihat siapa yang menelponnya saat begini. "Eh…?" mata Rin terbelalak saat melihat siapa yang menelponnya.
"Che… angkat tidak, ya?" pikir Rin sambil menempelkan layar ponsel ke bibirnya.
―
[ Kagamine Len P o V ]
Aku berlari dengan tergesa. Jujur saja, aku kerepotan tadi. Ketua kelas yang mendadak 'menembak'ku, lalu Rin yang curi dengar tadi langsung lari tanpa mendengar penjelasanku secuil pun, aku yang menolak ketua kelas, tapi gadis itu ngotot sampai bertanya siapa yang kusuka. Che! Kenapa nasibku sial banget sih hari ini?
Aku memang sibuk menjadi panitia festival, tapi aku tidak tega kalau sampai tidak menghadiri upacara pernikahan ayah dan ibuku untuk terakhir kalinya… yah… setidaknya, harapanku begitu.
Ck! Mana aku lupa nama gereja yang pernah diberitahu ayah dan ibu! Che…! Menjengkelkan! Aku memang bodoh!
Segera aku mengambil ponselku dan mencari dalam contact list, nama dan nomor ponsel Rin. PIP! Aku langsung menghubungkan ponselku pada nomor Rin.
Tuuut… tuut… tuuut…
Che! Angkat, Rin! Angkat! Angkat! Kumohon!
Tuuut… tuuuut… tuuuuuut…
Ck! Kumohon… Rin!
Tut. Tut. Tut. Tut. Tut.
Ponsel terputus. Jujur saja aku kesal karena Rin tidak mengangkat ponselku. Arrgh! Dia pasti salah paham soal tadi! Tapi… aku heran, kenapa dia lari tanpa mendengar penjelasanku tadi? Padahal dia juga tahu kalau aku belum tentu menerima pernyataan cinta ketua kelas.
Ck!
Gadis-gadis itu memang merepotkan…!
Sekali lagi, aku menghubungi Rin, tapi kali ini dia mematikan ponselnya. Arrgh! Sial! Terpaksa aku harus keliling Tokyo, nih.
"Eh?" langkahku terhenti. Tak sengaja menangkap sepasang suami-istri yang mengenakan jas dan pakaian rapi melangkah menuju sebuah gereja yang… berada di depan mataku! Oww! Di gereja itu juga tertera nama lengkap ayah dan ibuku!
Ini termasuk takdir atau apa ya?
Ack! Masa bodo'! Pasti berlangsung sejak tadi! Baiklah…
Dengan buru-buru aku melesat masuk ke dalam gereja itu. Benar seperti dugaanku, ayah dan ibuku tengah berdiri bersampingan di depan altar. Membaca sumpah janji khas pernikahan.
Aku menghela napas lega. Dengan segera aku mencari tempat duduk. Namun mataku menangkap sosok Rin yang tengah menatap lurus ke depan.
―
[ NORMAL P o V ]
GRAB! Rin merasakan tangannya digenggam paksa seseorang. Sontak dia memutar kepalanya dan mengernyitkan dahi.
"Ngapain kau kemari?" desis Rin.
"Tentu saja untuk menghadiri pernikahan ayah dan ibu. Juga…" Len celingukan. Merasa tidak aman jika berbicara di sini. "Sebaiknya keluar dulu, kumohon." Pinta Len. Rin menelan ludahnya. Merasa tidak tega melihat wajah memohon Len.
"Ng… baiklah…" ucap Rin akhirnya.
Keduanya melangkah keluar gereja sambil beriringan.
Ketika sudah di luar, Len merenggangkan tubuhnya, merasa sangat lelah dengan masalah yang menyebalkan sekali.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Rin.
Len menoleh, "Dengar, Rin…." Len mencengkeram pundak Rin. "Aku menolak ketua kelas. Jadi tolong… jangan salah paham." Bisik Len.
Rin sebenarnya tidak kaget mendengar perkataan itu… Cuma… dia tidak ingin terlalu berharap. "Aku… tidak salah paham, kok. Cuma… kata-kataku yang tadi… terlontar begitu saja dari bibirku… mungkin… aku cem… buru pada Neru-san…"
DHEG! Rin menutup mulutnya.
"Cemburu…?" ulang Len dengan curiga. "Kenapa?" tanya Len.
Rin mengepalkan tangannya erat-erat. Kalau aku mengelak sekarang… tidak ada lagi kesempatan untukku, pikir Rin dalam hati.
"Itu… ka… re… na… aku… suka… kamu… Len…" jawab Rin dengan terputus-putus. Len membolakkan matanya.
"Hah?"
T O B E C O N T I N U E D
A/N: Woww… panjang amat fic ini. Berbelit-belit pula. OMG! Maafkan saya, minna-sama! Dx saya benar-benar BEGO sekarang! Sudah kena WB, telat update, memaksakan diri bikin fic gila pula! Hontouni gomennasai! Dx hiksu…
Kalau kalian bingung, silahkan marah-marah, tapi saya sudah mutar-balik otak saya buat nulis fic ini lho! Dan sungguh, saya sampai BETE ngerjain ini di hari Sabtu kemarin? Kenapa? Lebih baik nggak usah tahu. Kalau kalian tahu, kalian bakal benci saya. Yakin deh =-=y
Oh, iya. Saya malas ngebacot yang PUANJANG LEBAR, mending saya akhiri saja dengan kata 'maaf kali banyak typo' ;D
