Vocaloid © Yamaha


I'm Yours, Idiot!

© khiikikurohoshi

Chapter 12

Anorexia

"Itu… ka… re… na… aku… suka… kamu… Len…"

"Hah?"

[ Kagamine Rin P o V ]

Apa… yang… kukatakan!

Tapi… percuma kalau aku ingin menarik ucapanku itu sekarang. Walau ingin kukatakan 'Ah. Maaf, aku hanya bercanda.' Tapi di sisi lain, aku justru berharap dia menganggap serius ucapanku. Duuuh! Sial! Sial! Kenapa bisa-bisanya aku nekad berkata begitu sih!

Aku mengacak-ngacak rambutku sendiri. Merasa geram dan gusar. Juga takut. Takut? Yah… biasanya ada orang yang ill feel setelah menerima pernyataan cinta dari orang yang nggak disukainya, bukan? Tapi, ah. Baik. Mungkin aku terlalu berharap. Tapi… Len belum tentu tidak menyukaiku, 'kan?

Baiklah. Aku harus tegar. Len menolak—atau menerimaku, itu keputusan nanti!

"Err—tapi… aku tidak memaksamu menjawabnya sekarang. Tolong lain kali sa—" ucapanku terhenti. Bukan karena aku melihat sesuatu yang buruk sebab sekarang mataku membelak, dan juga keringat dingin mengucur dari dahiku. Tapi karena lagi-lagi perutku merasa seperti ditusuk benda tajam dan aku merasakan mual luar biasa. Kepalaku juga pusing. Sial! Kenapa harus di saat begini… aku…

Aku spontan menutup mulutku dengan salah satu telapak tangan. Aku mengeluarkan suara seolah-olah aku mau muntah, tapi itu hanya suaraku saja. Buktinya aku hanya seperti 'bersendawa', tapi aku merasa pahit di lidah dan tentu saja, sangat tidak nyaman.

Kucengkeram pergelangan tangan Len yang samar-samar kulihat wajahnya cemas dan sayup-sayup kudengar dia memanggil namaku dengan panik. Sial. Semakin ingin kudengar panggilan namaku dari bibir Len, aku merasa telingaku seperti ditutup oleh sesuatu. Semakin ingin kutatap wajah cemas Len padaku, aku merasa pandanganku semakin mengabur dan akhirnya semua gelap. Tanpa penerangan. Kecuali… kurasakan tubuhku yang ringan diangkat. Entah kemana, entah oleh siapa, dan entah untuk apa…

Kepalaku… terlalu perih untuk dikuras sekarang.

[ NORMAL P o V ]

"Apa yang terjadi dengan Rin?" tanya Len. Seperti meminta tuntutan atas penculikan seorang kekasihnya. Dia jelas khawatir. Karena selama dia berada di taksi (Len pulang sambil membawa Rin dengan taksi), Rin tidak berhenti memegangi perutnya, kadang berganti memijat dahinya, dan yang membuat Len tidak tenang adalah… menangis.

Ya. Rin menangis.

Berarti… Rin betul-betul merasa kesakitan, 'kan?

Sekali lagi Len bertanya. Tapi sambil menggebrak meja makan, "Apa yang terjadi dengan Rin?" suaranya semakin meninggi. Ayah dan Ibu (mulai sekarang kita memanggilnya begitu) duduk bersampingan sambil menatap putranya yang duduk dihadapan mereka. Seperti menginterogasi tersangka, dia meminta penjelasan yang berarti, yang jelas, yang logis, dan yang membuat—setidaknya—kecemasan yang dirasakannya surut, meski Cuma sedikit.

Akhirnya, ibu menghela napas berat. "Rin bilang… aku tidak punya hak untuk menceritakan ini padamu." Len membolakkan mata. Baru dia ingin menyanggah perkataan itu, ibunya sudah menambahi, "Rin juga punya privasi, Len… privasinya itu hanya dibagikan padaku dan ayahmu. Sepertinya dia masih khawatir jikalau memberitahukannya padamu. Sebaiknya kau tanya dia…"

"Mungkin saja Rin bisa membagi privasinya itu juga denganmu sekarang. Kalian akrab, bukan?" timpal ayah dengan wajah teduh. Len menatap kedua orang tuanya dengan pandangan memelas, ingin diberitahu. Tapi sepertinya, pandangannya itu tidak ditorehkan sekarang. Sambil mendecak, Len beranjak dari kursi meja makan.

"Kau punya akses kapan saja untuk keluar-masuk kamar kok, Len. Toh, itu 'kan kamarmu. Jadi Rin tidak akan curiga." Tambah ibu sebelum Len benar-benar menghilang dari ruang makan. Tanpa menolehkan wajah, ibu tahu Len sedang tertegun, mencerna perkataannya barusan. Setelah itu, Len betul-betul melesat ke lantai atas.

Sepeninggalan Len, ayah langsung menoleh pada ibu. "Sejak kapan… Rin mengalami itu?" tanyanya.

"Sudah lama sampai aku tidak mengingatnya lagi. Entah atas dasar apa dia berlaku demikian. Mungkin karena… kegiatannya yang selalu sibuk. Kau tahu, 'kan kalau Rin itu ikut banyak jenis bela diri yang diikuti beberapa sekaligus, dulunya?" jawab ibu dengan wajah tenang. Ayah mengangguk, masih ingat. "Dia bersikeras ingin menjadi kuat. Tapi… sekuat-kuatnya Rin, dia juga masih memiliki titik lemah yang terang."

Ucapan terakhir ibu diiyakan dengan semangat oleh ayah.

[ Kagamine Len P o V ]

Aku melangkah hati-hati pada tiap anak tangga yang berderet memanjang, membentuk barisan vertikal. Sungguh demi Tuhan! Aku benar-benar cemas dengan keadaan Rin sejak ucapan terakhirnya itu. Saat dia berkata… 'suka' padaku…

Sial. Lagi-lagi wajahku memerah mengingat ucapannya. Sebenarnya aku tidak yakin dia menyukaiku dalam konteks 'seorang lelaki'. Maka untuk sementara—supaya aku tidak gugup dekatnya—kuanggap saja dia 'suka' padaku dalam konteks 'teman'. Atau… 'sahabat'. Atau lebih baik… 'saudara'. Ya. Lebih baik begitu. Jangan sampai aku gugup dan menimbulkan salah paham jikalau Rin menyentuhku. Walau ujung jari sekali pun!

Banyak terjadi, 'kan?

Seperti di Shoujo Manga yang biasanya kubaca… Eh? Bukan! Mikuo sering memaksaku untuk membacanya! Ugh, lupakan soal Manga. Lihat, aku sudah berada di depan pintu kamarku.

Aneh.

Biasanya aku asal melabrak saja tanpa beban saat membuka pintu. Tapi kali ini tidak. Mungkin alasannya karena…

Pertama, mulai sekarang (atau kemarin) aku sudah tidak tidur sendirian di kamar. Mulai sekarang (atau kemarin) aku akan berbagi kamar dengan Rin, dan buktinya, ibu dan ayah sudah memutuskan untuk mengganti kasurku dengan tempat tidur dua susun. Oh… tidak penting.

Kedua, aku merasa… sedikit lebih kaku setelah mendengar kata 'suka' dari Rin. Meski sebelumnya sudah kukatakan, mungkin dia sekedar menyukaiku sebagai 'saudara'… tapi aku takut tidak bisa menahan perasaanku saat di depannya. Eh? Perasaanku? Maksudku… aku… ah. Cukup. Itu sangat tidak penting untuk dibahas sekarang!

Ketiga, sebaiknya aku jujur saja. Perasaanku itu. Aku menyukainya! Me-nyu-ka-i-nya! Entah sejak kapan, aku lupa, kurasa sejak awal, tapi kurasa juga bukan. Terserah. Yang pasti aku selalu takut kehilangan senyumnya yang damai dan lepas itu. Padahal first impression-ku terhadapnya adalah: dia itu menyebalkan. Yandere. Kalian masih ingat, awal pertemuan kami, 'kan? Dia menginjak pundakku! Berkuasa dengan ancaman kosong, dan bodohnya, aku memercayainya!

Oh, baiklah. Sebaiknya aku masuk sekarang karena aku sudah 10 menit berdiri dengan tampang bodohku.

Klak.

Kubuka pintu, dan yang kulihat adalah… Rin tidur sambil menggulung tubuhnya seperti bola! Belum selesai. Rin tidur sambil menggulung tubuhnya seperti bola… jatuh di bawah tempat tidur!

Segera aku berlari ke arahnya. Melihat wajahnya yang masih kesakitan penuh derita (aku serius), dan keringat dingin yang mengucur deras di dahinya. Napasnya tersengal dan sepertinya… dia tidak bisa berbicara karena kesakitan. Nah, apa yang harus kulakukan sekarang?

"Kau tidak apa-apa, Rin?"

Bodoh, Len. Itu pertanyaan terbodoh yang pernah kudengar! Jelas-jelas kau melihat wajah Rin yang sangat mengeluh kesakitan begini, tapi kau malah bertanya pertanyaan yang-seharusnya-tidak-kau-tanya-karena-kau-sudah-tahu-jawabannya!

Kutepis pertanyaanku barusan. Aku mengangkat tubuhnya naik ke atas kasur, menarik selimut hingga dagunya. Kemudian…

Mataku menangkap semangkuk bubur yang tadi ibu buat untuk Rin.

Belum disentuhnya. Bahkan, sendok tidak bergerak dari tempatnya. Cuma air minum yang ditenggaknya sampai habis, juga obat.

"Kau… tidak makan?" tanyaku, sedikitnya, curiga.

Kulihat Rin menggeleng-geleng dengan wajah yang ditekuk. Dia benar-benar tidak ingin makan. "Tapi kau harus makan!" suruhku. Aku menyambar mangkuk keramik lalu menyendoki bubur ke arah bibir Rin. Tapi sepertinya, Rin tidak memiliki tanda-tanda untuk membuka mulut, memberi celah untuk melakukan sistem pencernaan.

Sekali lagi aku meminta padanya untuk memakan bubur ini. Meski Cuma satu sendok. Tapi dia menolaknya dengan sekuat tenaga, masih dengan tangisan dan ronta-ronta yang tidak kupahami. Untuk pertama kalinya, aku menilai, Rin itu manja! Cih…

"Kau harus makan, Rin! Apa kau mau mati konyol, heh! Jangan bodoh!" gertakku dengan marah.

"Tidak…" bisik Rin disela-sela tangis dan rintihannya. Aku tertegun. "Sakit… Len… kalau aku… makan jadi… sakit…" ringis Rin.

"Tapi kalau kau tidak makan, kau juga akan sakit!" nah, serba salah deh. Aku menghela napas berat. Mengelus dahinya dengan lembut. "Ceritakan padaku. Kau sakit apa?" tanyaku, melunakkan intonasi suaraku.

Rin mengambil napas dengan berat, hingga akhirnya dia menjawab, itu juga dengan susah payah. "Aku… a… ano… anorexia… Len…"

Anorexia.

Aku tahu. Itu adalah penyakit, dimana seseorang mengurangi porsi makanan secara berlebihan, kadang, hati juga pikirannya tidak mau menerima makanan. Biasanya karena diet, atau karena tidak memiliki selera makan. Orang yang terkena penyakit ini, cenderung makan satu kali sehari, dalam porsi minim. Kalau terus dibiarkan, anorexia bisa menimbulkan kematian.

Aku mendecak.

Biasanya tenggorokan akan tercekat kalau menerima makanan. Makanya penderita anorexia langsung menelan makanan mereka bulat-bulat, tanpa mengunyah terlebih dahulu.

Ternyata… Rin mengalami ini…

Aku menyentuh pundak Rin, mengangkat tubuhnya hingga duduk di tempat tidur. Dia menatapku dengan mata yang basah, masih menangis. Aku menghela napas, meninggalkannya sebentar untuk mengambil segelas air mineral, lalu aku kembali dan menyendokinya bubur.

Kulihat Rin menatapku dengan pandangan tidak percaya. Dia menutup mulutnya, membuat suatu pertahanan. Tapi aku tahu kalau sekarang Rin tidak berdaya. Kusingkirkan tangan Rin dengan lembut, lalu dengan sedikit terpaksa, kuangkat bibir atasnya menggunakan ibu jariku dan kusisir pipinya lembut dengan beberapa jemariku.

"Makan."

Satu kata itu membuat air mata Rin meleleh lagi. Tapi dia menurutiku. Aku menyuapinya satu kali. Tapi kemudian dia batuk-batuk, memintaku untuk memberinya air minum. Ditenggaknya air minum hingga tuntas, kemudian dia menangis lagi. Ahh… Rin memang cengeng. Tapi aku tetap suka dengan hal itu. Mungkin itu adalah salah satu pesonanya.

"Khh… sakit… Len…"

DHEG!

Aduh, gawat. Aku berdegup karena dia terlihat seperti kucing-yang-meminta-pertolongan-di-tengah-hujan-badai. Spontan aku mencubit pipinya dengan gemas. Tapi kemudian kusuapinya lagi dengan sedikit lembut dibanding yang sebelumnya. Dia menurut lagi. Sungguh! Dia manis sekali...!

"Sudah merasa nyaman?" tanyaku dengan lembut. Dia menelan bubur yang kusuap dengan hati-hati.

"Ngg…" hanya itu responannya. Tapi kuanggap saja sebagai kata 'iya'. Soalnya, dia sudah tidak meronta-ronta seperti tadi. Juga, air matanya tidak meleleh lagi. Ingin rasanya kurengkuh dia dalam pelukanku, memanjakannnya sebagai seorang kekasih. Tapi…

Aku terlalu payah dalam hal begituan.

"Len," panggil Rin.

"Hm?" aku menyendokkan bubur terakhir padanya.

"Terimakasih…" bisiknya. Dia mencengkeram erat kaosku. Aku terhenyak dengan kalimatnya yang mengiringi akhir dari suap-menyuap semangkuk bubur itu. Entah kenapa aku merasa sangat lega saat dia masih menyentuhku. Setidaknya, bajuku.

Aku mengangguk sambil menepuk kepalanya, dibalas dengan dia yang memelukku kuat-kuat. Haaa… dia menangis lagi… sungguh!

[ NORMAL P o V ]

Blam.

Len menutup pintu. Sebuah nampan dengan mangkuk besar dan segelas air berada dipegangannya. Dengan langkah pelan dia menuruni tangga. Saat bersamaan dia menghabiskan seluruh anak tangga, matanya bertemu dengan tampang ayahnya yang kurang lebih seperti ini (AwA).

Che… dia mau menggangguku lagi, keluh Len.

"Dia sudah menceritakannya?" tanya ayah, persis seperti dugaannya.

"Iya. Sudah. Sekarang dia sedang istirahat. Tolong jangan bingin ribut di dekatnya, ayah." Jawab Len dengan acuh-tak-acuh. Dia melangkah ke dapur dan menyuci mangkuk beserta gelas itu. Kembali berputar ingatannya saat berada di kamar tadi. Berduaan saja dengan Rin.

Dia merasa 'plong' setelah berhasil mengetahui apa masalah kakaknya itu. Anorexia… nama penyakit itu terus berputar di kepalanya. Merasa gusar karena tidak menyadari penyakit yang selalu menemani Rin sebelumnya.

Awal pertama Rin masuk kelas, saat ada penyerangan, dan beberapa waktu lain, Rin sering terlihat lunglai dengan memegangi sisi perutnya. Ternyata karena itu…

"Len?"

Len menoleh, mendapati ibunya yang sedang duduk di sofa ruang tamu. Tangannya memegang sebuah tabloid. Ada secangkir teh di depannya.

"Eh? Ah? Ya…?" oh. Ternyata karena melamun, Len tidak sadar arah jalannya. Ibu terkikik, tapi tangannya terkibas-kibas, memanggil Len untuk duduk di sampingnya. Len menurut.

Direbahkannya tubuh di atas sofa lembut bermotif bunga bakung, sambil merentangkan kedua tangan di sisi atas sofa tersebut. Len menghela napas penuh kelegaan.

"Heh," ibu meletakkan tabloidnya. "Sudah merasa senang sekarang, hmm?" tanya ibu dengan nada menyelidik. Len mendesah malas.

Tidak ayah, tidak ibu. Semuanya hobi menggoda dan menyelidiki… gerutu Len dalam hati.

"Entahlah," sungut Len kemudian. Dia melayangkan pandangannya pada tiap lekuk barang yang ada di ruang TV. "entah senang atau lega. Aku tidak tahu." Ucapnya. "Yang pasti aku… merasa bersyukur."

Ibu mengangkat sebelah alisnya dengan tampang heran, "What's for? Atas dasar apa?" tanya ibu lagi. Len tersenyum simpul.

"Itu… hanya aku yang tahu." Ucap Len dengan minat ber-rahasia. Ibu memukul pundak Len dengan gemas lalu meninggalkannya sendirian di ruang TV untuk memasak makan malam. Len sendiri sedang menikmati masa-masa penuh 'bersyukur'-nya sambil mendengar satu-dua lagu dari ponselnya.

Entah senang atau lega.

Aku tidak tahu.

Yang pasti…

Aku bersyukur.

Rin merasakan dirinya merosok di sebuah sisi tembok yang menyembunyikanya dari ruang TV. Meski begitu, dia bisa mendengar jelas percakapan ibu dan Len tadi. Dia memang tidak mengerti kata-kata Len yang itu, tapi entah kenapa… dia merasa ada sebuah keteduhan yang terselip di ucapan itu. Entah bagian mana, yang jelas, Rin juga bersyukur, karena sudah menyukai Len…

The Next Day…

"Selamat pagi!"

Tak terasa, hari ini adalah hari festival. Oh, ya ampun! Semua sudah bersiap-siap dengan kios-kios mereka, kostum mereka, pelayanan terbaik mereka, dan semuanya! Rin juga sudah mengenakan baju seperti maid—karena tugasnya adalah seorang waitress dan Len mengenakan baju seperti butler—karena tugasnya adalah seorang waiter. Sedikit memodifikasi penampilan, Len mengikat rambutnya seperti biasa, tapi poninya disisir kebelakang hingga semua orang bisa terpesona berat saat melihatnya. (Jujur, dia seperti kapten angkatan laut Inggris)

"Hee… kau tampan sekali, Len-kun." Puji Neru yang juga mengenakan baju maid. Rambutnya yang biasa diikat menyamping, kini dia gerai tapi digulungnya beberapa helai rambut disatu sisi hingga membentuk bola. Jepitan perak berbentuk bunga juga menghiasi rambutnya yang tertata manis sekali.

"Terimakasih!" hanya itu ucapan Len.

Rin merasa agak malu dengan penampilannya sekarang ini. Mengenakan baju ala maid, digulungnya kedua rambut honey-nya seperti bola (seperti orang Cina/Pucca) dan pita putih menghiasi salah satu gulungan rambutnya. Walau Rin minder dengan penampilannya, sejujurnya dia tampak menggemaskan dengan pipinya yang bulat yang agak chubby.

"Rin-chan. Seragam belakangmu agak melenceng nih." Ucap salah satu teman sekelas Rin sambil merapikan seragam maid bagian belakang milik Rin.

"Ups, maafkan aku, Lenka-chan." Ucap Rin dengan tersipu.

"Jangan khawatir. Selama festival, aku bagian tata rias, lho. Ngg… nah! Sudah beres! Make-up? Bagus. Lipstik? Bagus. Lalu… sedikit perona wajah? Bagus. Seragam? Bagus. Rambut? Bagus. Punggungmu harus tegak, Rin-chan." Pinta Lenka dengan ramah.

Rin memperbaiki gaya berdirinya.

"Bagus." Ucap Lenka dengan lega. "Kalau kau lupa cara berdiri tegak, berdirilah menyandar di dinding lalu jalan sesuai dengan gaya seperti itu. Supaya terlihat angkuh, tapi anggun. Juga percaya diri dan tidak minder!"

Seperti biasa, Rin selalu dikejutkan dengan Lenka yang sangat suka mengoceh dalam penampilan. Tapi dia memang ratu dalam bidang tata rias! Dari ujung rambut sampai ujung kaki, dia memperhatikan semua fashion style orang. Tidak lupa dengan sikap dan perilaku yang menurutnya adalah kunci dari semua pesona. Itulah mengapa dia bisa pacaran dengan orang yang juga populer di sekolah ini, setidaknya… di suatu klub di sekolah ini, tapi tidak penting untuk membicarakannya sekarang.

"Terimakasih banyak, Lenka-chan." Ucap Rin dengan sedikit tersipu. Dia merasa minder karena sesame cewek, dia (Rin) tidak begitu memperhatikan gaya berdiri dan cara berjalannya.

"Tidak masalah, Rin-chan!" tutur Lenka sambil nyengir, mengedipkan sebelah matanya, membentuk jari telunjuk dan ibu jarinya membentuk 'O', kemudian meninggalkan Rin—untuk memperbaiki riasan teman-temannya yang lain.

Rin menggaruk pipinya dengan telunjuknya. Semata-mata bukan karena gatal, tapi karena bingung. Masih ada kurang lebih 2 jam lalu pembukaan festival digelar.

"Nnn," Rin mengedarkan pandangannya pada tiap penjuru kelas yang sangat sibuk. Ada yang masih mencatat-catat sesuatu—yang Rin tebak adalah catatan dana—ada juga yang sibuk menata penampilan yang menjadi waiter dan waitress, seperti Lenka. Ada juga yang sibuk bolak-balik membawa kardus. Dan ada juga yang sibuk bercengkerama, salah satunya… Len dan Neru.

Rin menggembungkan sebelah pipinya sebelum mendesah. "Huh." Seseorang menyenggol pundak Rin, ternyata itu Rinto. "Ups, gomenne… Rinto-kun." Ujar Rin ketika pundaknya saling bersinggungan dengan pundak tegap milik Rinto, pria blond yang selalu menyepitkan jepitan di sela-sela poninya.

"Ah. Seharusnya aku yang minta maaf, Rin-san. Oh?" matanya tertegun ketika melihat pita Rin yang menyimpul dengan menggemaskan di salah satu gulungan rambutnya. "Wah! Agaknya kau terlihat menggemaskan kalau pitanya di simpul di sini!" pujiannya membuat pipi Rin bersemu merah. Rinto memegang gulungan rambut Rin yang dihiasi oleh pita putih.

Ugh... te, terlalu dekat, desis Rin dalam hati.

"Ng?" Rinto menyadari kalau Rin terus menundukkan kepalanya. "Waduh… wajahmu merah banget! Manis!" Segera pipi Rin disentuh dengan lembut. Rin hanya bisa menahan napasnya ketika merasakan hawa dingin yang 'hangat'—kurang lebih begitulah penggambarannya—menyisir permukaan pipinya yang semakin menampakkan rona merah.

"Ri, Rinto-kun…"

"Sssh…" Rinto berdesis. Kelas sedang sibuk dengan aktifitas masing-masing. Tidak salah kalau tidak ada yang menghentikan tingkah keduanya sekarang ini.

"Rinto… kun…"

"Kau manis, Rin ."

"Yeah. Aku tahu."

[ Kagamine Rin P o V ]

Aku merasakan hawa dingin, tapi juga hangat, membelai tiap pori-pori yang tenggelam dalam kulitku. Sial… dia—maksudku, Rinto-kun pasti tahu kalau sekarang aku tengah… merona…

"Ri, Rinto-kun…"

Dengan suara aneh, ya aku berpikir suaraku aneh sekarang. Aku memohon padanya. Kurang lebih agar dia menjauh dariku. Aku merasa sangat malu sekarang. Entahlah kenapa.

"Sssh…" Rinto-kun hanya berdesis, membelai pipiku, tanpa menjauhkan wajahnya dariku. Aku tahu kelas sedang sibuk dan sepertinya lengah, jadi mudah saja jika pencuri ingin mencuri di sini sekarang, tapi. Oh. Tidak penting.

"Rinto… kun…" aku memanggil namanya lagi dengan suara yang terputus-putus. Memalukan. Aku jadi aneh di depannya.

"Kau manis, Rin."

What! Dia memanggil namaku tanpa embel-embel seperti biasanya! Ugh, hei! Sadarlah! Kita tidak akrab dan kau… sudah punya pacar!

"Yeah. Aku tahu…"

Hah?

Itu bukan… suaraku lho. Bukan suaranya Rinto-kun juga. Tapi… Len.

Ya. Len berdiri di samping kami sambil berkacak pinggang. Dia menatap Rinto-kun dengan tajam, yang kemudian dibalas dengan cengiran yang mematikan. Yah, kalau Len adalah preman perokok atau pemabuk, aku jamin, dengan modal cengirannya itu, dia sudah berada di alam sana. Bersyukurlah, Len hanya anak tukang berkelahi. Itu juga sudah jarang dipakainya predikat itu karena sudah banyak yang takut-takut untuk menantangnya berkelahi. Ingat saat terjadi perombakan itu, 'kan?

Sudah cukup, tidak usah bernostalgia di sini.

"Hah…" Len menghela napas. "Rinto-san. Kau masih punya banyak pekerjaan sekarang. Lenka-san memanggilmu daritadi." Ucap Len. Aku tahu jelas dia menekankan kata 'banyak' barusan. Dengan anggukan ringan, Rinto-kun meninggalkan kami. Ya. Kami. Aku dan Len, hei?

Setelah dia pergi, Len menatapku dengan wajah yang… uh, baiklah. Sulit ditebak. Dia marah? Atau sedih? Cemburu?

Eh?

Lupakan poin terakhir. Dia tidak mungkin cemburu. TIDAK MUNGKIN!

"Tidak." Kata Len. Aku hanya menatapnya dengan bingung. Len menghela napas, lalu bersemu, sepertinya gundah. Kenapa ya? "Ungg… maksudku, kau… mengagum… kan." Ucap Len dengan terbata. Oh, dia memujiku? Sungguh! Jangan menampakkan wajah tsundere-mu terhadapku, Len! Dasar bodoh! Ugh…

"Ah," aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal. "terimakasih… umm… kau juga. Sangat… luar biasa."

Sudah. Sukseslah wajahku bersemu merah. Spontan aku menundukkan kepalaku. Tapi kemudian kudengar suara 'kluk' yang lainnya. Bisa kutebak, suara itu dari Len. Aww… aku berani bertaruh kalau dia juga malu berat.

Baru kemudian aku ingin berkata lagi dengan Len, Neru-san keburu menarik tanganku sambil berkata pada Len, "Maaf, Len-kun! Dia kupinjam!"

Setelah itu, tanganku ditarik dengan erat dengan Neru. Ada rasa sakit sih. Tapi tidak seberapa dibanding rasa sakit hari Neru-san.

Oh? Kenapa aku tahu? Atau malah yakin?

Aku tahu gadis macam dia itu tidak akan mudah menyerah.

BRUGH!

Tubuhku didorong dan cih. Punggungku terantuk dinding yang berada di belakangku. Sengaja sekali dia membawaku ke belakang sekolah. Penindasan, hmm?

Benar dugaanku. Kemudian Yowane Ruko dan Kasane Teto datang dari arah berlawanan. Wajah mereka garang, persis seperti tatapan Neru-san padaku. Wow. Ini seperti dalam drama Jepang yang beberapa hari lalu sempat kutonton! Pasti seru!

PLAK!

Neru-san menepak dinding yang berada di samping kepalaku. "Apa-apaan tuh? Memonopoli Len-kun, heh?" tanya Neru-san dengan geram.

Aku tertawa dalam hati. Kenapa? Kau sendiri merasa malu karena kalah dariku yang sederhana ini, hmm? Terserah kau saja. Yang pasti, aku sudah menduga, suatu saat aku akan mendapatkan hal seperti ini.

"Tidak," jawabku dengan tenang. "lalu? Kau sendiri mau memonopoli Len, hmm?" tanyaku kembali. Niatku sih untuk menantangnya.

Neru-san menggeram. Dia merengut pita putihku, menggerai sebelah gulungan rambutku. "Jangan sok penting deh kau! Ingat posisimu! Kau hanya kakaknya Len-kun! Kau tidak boleh mendekatinya! Kau tahu peraturan dunia, 'kan? Kalau kakak-adik itu tidak boleh berhubungan lebih dari kata saudara?" jelas Neru-san. Dibelakangnya, Ruko-san dan Teto-san mengangguk membenarkan. Namun tatapan mereka tetap garang seperti yankee.

Oh. Wanita yang tersakiti memang menyedihkan. Aku tidak boleh seperti ini lain kali. Tidak boleh.

"Aku memang kakaknya. Mulai dua hari yang lalu, eh? Atau kemarin?" Neru-san menampar pipiku, kemudian mengacak rambutku hingga tergerai sempurna, rusak total.

"Jangan basa-basi, sialan!" gertaknya. Emosi ini… terasa sampai pembuluh nadiku. Serius! Dia memancarkan aura menyesakkan!

"Dengar dulu," kataku. "Memang Len adalah adikku dan aku kakaknya. Tapi… Len itu… milikku."

"Eh?"

Waah… mulai kehilangan indra pendengaranmu, hmm?

"Kuulangi." Aku mendehem. "Len itu milikku." Kataku sambil menekankan tiap kata yang kuucapkan. Mau tahu kenapa aku sampai nekad berkata begitu? Tidak usah tahu, karena ini rahasia.

Kurasa ketiga anak itu ingin menamparku atau melukaiku lebih jauh. Tapi kemudian kurasakan keberadaan seseorang akibat dari suara gemerisik semak-semak yang… memang samar, tapi tetap sampai di indra pendengaran.

Muncullah Mikuo-senpai.

"Wah. Penindasan yang manis, ladies!" ucap Mikuo sambil tersenyum (merendahkan) dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

Neru-san, Ruko -san, dan Teto-san tercekat ketika melihat keberadaan Mikuo. Dan dengan gaya pengecut mereka, ketiganya melarikan diri dengan terbirit-birit. Menggelikan sekali mereka bertiga. Cih!

"Kau tidak apa-apa, Rin-chan?" tanya Mikuo-senpai dengan riang.

"Tanpa kau tanya, harusnya kau tahu." Jawabku sambil nyengir.

"Iya juga, ya! Hehehe… kau memang hebat!" ucap Mikuo-senpai sambil mengacak-ngacak rambutku. Ah, saat itu aku menyadari kalau tatanan rambutku rusak. Aku memungut pita putihku yang tercecer di tanah kemudian menggenggamnya erat.

"Aku mau kembali. Karena aku pasti dimarahi Lenka-chan sebentar. Sampai nanti ya, Mikuo-senpai!" ucap Rin sambil lalu.

[ UNKNOWN P o V ]

"Aku mau kembali. Karena aku pasti dimarahi Lenka-chan sebentar. Sampai nanti ya, Mikuo-senpai!"

Kemudian, aku mendengar derap langkah Rin yang semakin menjauh. Setelah itu, kudengar Mikuo menghela napas panjang.

"Rin-chan manis sekali ya…?"

Apa katanya! Mau mati ya!

"Rasanya aku ingin sekali memeluknya, sekaliii saja…!"

Mimpimu! Enyah sana!

"Ah. Atau langsung kucuri ciumannya saja, ya?"

APA! Jangan bercanda kau, mesum!

Mikuo terdiam sebentar, kemudian terkikik. "Kau sudah bisa keluar, Len. Padahal kau bisa keluar bersamaku sejak tadi. Tak kusangka kau malah membiarkanku pasang pose keren sendirian." Ucapnya. Wajahku sontak memerah. Dengan gerakan cepat, kutendang punggungnya, tapi dia menghindar dengan gesit.

"Eit!"

"Dasar… setan mesum, bodoh, dan narsiiiis!" jeritku sambil menghambur padanya, mengeluarkan tinjuku berkali-kali padanya, tapi sial! Dia selalu mahir menghindari pukulanku! Menjengkelkan sekali!

"Hihihihi! Wajahmu merah sekali sih, Len!" ucapnya sambil berkali-kali memindah-mindahkan badannya, menghindari tinjuan mautku.

"Berisik kau, setan mesum, bodoh, narsis dan brengsek!"

Setelah itu, hanya tawa Mikuo yang kudengar. Menjengkelkan sekali dia!


T O B E C O N T I N U E D


A/N(1): m(_ _)m

Maaf telat update… ini karena saya block dalam cerita ini.

H o n t o u n i G o m e n n a s a i . . .

A/N(2): Masih basa-basi semata ;D festival akan dimulai besok! Eh, chapter selanjutnya, maksudku! xD semoga tidak ada tumpahan darah lagi ya…! Kalau bakal ada tumpahan darah lagi, intinya, festival yang diadakan di sekolah Len dan Rin adalah kutukan! *dipukul kepala sekolah* xD

A/N(3): Kuingatkan. Ini bakalan bad ending! :) bersabarlah! xDD

Begitu saja deh, sampai jumpa di chapter / cerita selanjutnya! X)