Vocaloid © Yamaha
I'm Yours, Idiot!
© khiikikurohoshi
Chapter 13
Revenge
―
[ UNKNOWN P o V ]
"Demi Tuhan," ucapku dengan emosi yang dengan susah payah kutahan. Aku mendengus, kemudian memindahkan ponselku pada telinga kanan, "kau cukup memantau saja. Lalu laporkan segala-galanya padaku. Hah? Apa?" kupingku serasa mendidih karena terus mendapat respon menjengkelkan dari orang yang sedang kutelpon sekarang ini.
Aku tidak mau. Kau selalu meminta bantuanku dan, uh! Hutangmu padaku, bodoh!—itu yang dikatakan orang yang kutelpon. Ah. Pantas saja saat mendengar suaraku sejak awal, dia langsung ngelunjak dengan balas menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan. "Kalau soal hutang itu mudah! Selesaikan dulu tugasmu ini lalu kubayar semuanya! Cash!" aku menekankan kata paling akhir karena sudah muak berdebat dengannya. Ya ampun… sejak kapan aku jadi emosian begini?
Kau berbohong—sialan, kau. Malah bilang begitu lagi! "Sudahlah! Aku jadi malas berbicara denganmu! Hutangku tidak akan kubayar sebelum kau melakukan tugasmu yang ini. Titik." Lagi-lagi aku menekankan kata paling akhir yang kuucapkan. Oh. Dengarlah, sekarang dia bungkam. Aku jadi ingin melihat wajah bodohnya sekarang.
Kudengar dia menghela napas dengan perasaan nelangsa. Oh… aku benar-benar sudah membuatnya bertama tua. Sudahlah, dia masih seumuran denganku.
Setelah menunggu lama, jawaban yang kutunggu-tunggu akhirnya diucapkan olehnya.
Oke—begitu katanya. Sekarang apa?
Aku menyeringai puas.
[ Kagamine Len P o V ]
Ya… Tuhan!
Kenapa gadis-gadis ini terasa sangat… mengganggu?
"Oh, Len! Bisa kami meminta nomor ponselmu?"
"Tukaran e-mail dong, Len!"
"Len… aku mau pesan…"
"Len! Tolong aku!"
"Len! Kemari sebentar…"
"Len!"
"Len!"
"Len!"
Cih… C U K U P ! ! (kau bisa mendengar kata yang dicetak tebal itu menggema)
Aku juga punya kesabaran, ladies! Oh? Dengar aku! Aku menyebut gadis-gadis itu dengan sebutan ladies! Kurasa aku mulai mabuk. Baru aku ingin membuka mulut untuk mengatakan, 'maaf, permisi. Ada tugas lain yang menantiku', tapi kurasa aku sudah keduluan. Oleh…
"Maaf, anda ingin pesan apa?" tanya Rin dengan suara yang dibuat setenang dan sedewasa mungkin. Tapi aku tahu dia mencekat suaranya kuat-kuat. O-oh… dia marah…
Dia berdiri di depanku, hingga sedikit menghalangi diriku pada gadis-gadis yang duduk di satu meja sambil menopang dagu mereka, menatapku dengan warna mata mereka yang berbeda-beda, dan menyudutkanku dengan pertanyaan konyol mereka. Dan… setelah melihat Rin sengaja menghalangiku pada gadis-gadis itu, mereka, maksudku, gadis-gadis itu, menatap Rin dengan tatapan garang dan sebagiannya mencibir kesal.
Tapi Rin tidak goyah. Ya. Aku tahu. Sifat yandere-nya masih nempel. Sedikit. Kutegaskan. S e d i k i t.
Oh, lihat. Rin tetap tersenyum lebar dengan mata terpejam ke atas. Tapi semua gadis itu tahu bahwa Rin menyimpan aura kelam dibalik senyum lebarnya yang mempesona. Hah? Aku mengatai Rin mempesona. Itu pujian, hei.
"Minggir kau, perempuan! Kami ingin dilayani, Len!" gertak salah satu gadis yang memakai dandanan menor yang… yang… uh. Aku jijik melihatnya. Sumpah!
Rin tersenyum pada gadis menor itu, "maaf." Kata Rin dengan halus. "Tapi." Rin kemudian membuka matanya, memberi sorot mata tajam setajam falcon, dan sepertinya… senyuman yang tadinya tertempel di wajahnya sudah hilang seutuhnya. "Len masih mempunyai tugas yang banyak, nona-nona. Mohon perhatian anda. Kalau anda memang menyukai Len," Rin berhenti sejenak, kemudian melirikku melalui sudut matanya. "Pahamilah dia, biarkan dia bekerja dengan tenang."
Rin mengakhiri ucapannya—atau lebih baik kukatakan pidato singkat—lalu kembali memasang tampang pertamanya. Gadis-gadis itu bungkam. Betul-betul bungkam. Ah. Knock out, ya…? Rin memang hebat. Akhirnya aku memegang kedua pundak Rin lalu menatap gadis-gadis yang duduk disatu meja hadapan Rin dan aku.
"Maaf ya, Rin. Aku dipanggil ketua."
Aku tahu Rin tahu maksudku. Itu hanya tipuan. Supaya aku bisa keluar dan mengambil angin sejenak, kemudian kembali melayani lagi setelah aku merasa ingin. Dengan samar kulihat Rin menganggukkan kepalanya, tangannya yang tersimpan di balik pundak juga terkibas-kibas dengan kode 'pergilah. Cepat.'
Setelah aku pergi, aku tahu Rin berkacak pinggang sambil berkata seperti ibu-ibu pada gadis-gadis itu: "Tuh, lihat. Gara-gara kalian, Len dicurigai menggoda gadis dan akhirnya dipanggil ketua. Siap-siap saja dia dihukum."
Ya ampun… aku ingin tertawa sekarang. Ups, aku memang sudah tertawa sekarang.
[Kagamine Rin P o V]
Setelah Len pergi, aku segera menatap gadis-gadis centil dihadapanku sambil memasang tampang segarang-garang mungkin.
Sambil berkacak pinggang, aku, "tuh, lihat. Gara-gara kalian, Len dicurigai menggoda gadis dan akhirnya dipanggil ketua. Siap-siap saja dia dihukum." Aku berkata begitu. Uh… kurasa aku persis seperti ibu-ibu sekarang. Biar saja.
"Nah, saya permisi." Kataku sambil lalu. Aku menoleh ke arah pintu kelas yang terbuka. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Len. Dia sudah pergi. Entah kemana, yang pasti aku harus mencarinya.
―
Aku berjalan santai untuk mencari Len, sekalian melihat suasana sekolah yang kelihatan ramai dan sibuk karena festival sekolah.
BRUGH!
Tak sengaja punggungku terantuk oleh sesuatu. Entah apa… atau siapa…
"Kau tidak apa-apa?" itu suara seseorang yang asing di indra pendengaranku. Jika memang begitu, bukan apa. Tapi siapa. Siapa yang menabrak… atau siapa yang kutabrak? Aku menoleh dan… karena kelihatannya orang yang menabrak (atau yang kutabrak) lebih tinggi dariku, aku terpaksa menengadahkan kepalaku untuk melihat wajahnya.
Sekilas, kutegaskan, sekilas aku terpana melihatnya. Yah… gimana, ya? Meski dia tidak lebih tampan dari… eehh… eh… ukh! Baik! Baik! Tidak lebih tampan dari… uhuk. Len… tapi dia (maksudku, orang yang menabrak—atau kutabrak itu) termasuk cukup tampan juga.
Uh, dia punya rambut merah dengan warna mata senada. Dia tinggi, dan terlihat ramping. Kulitnya cerah dan garis-garis matanya tegas. Oh, Tuhan… sekarang aku bingung harus bilang—atau bertingkah seperti apa.
"Hei, kau kenapa?" dia bersuara lagi. Oh… shit. Aku pasti sudah ngiler sekarang. Tapi kuharap tidak.
"Uh. Ah. Tidak apa-apa. Maaf aku… menabrakmu." Baiklah. Aku tidak tahu siapa yang menabrak dan siapa yang ditabrak, tapi biarlah. Aku tidak keberatan untuk mengalah pada hal-hal seperti ini.
"Hei, justru harusnya aku yang minta maaf. Aku yang menabrakmu." Dia berucap begitu sambil menunjukkan pesonanya yang… aw-sungguh-tampan-kamu-nak!
Mungkin beberapa orang akan menjerit, atau memeluk, atau menciummu dan lain-lainnya jikalau kau menunjukkan pesona seperti itu sekarang, yah, terlebih gadis menor yang menggoda Len tadi, ah. Lupakan! Tapi aku tidak begitu. Dan aku tidak akan pernah begitu. Hentikan.
"Eeeh… baiklah… kalau begitu." Ujarku canggung. Sangat canggung. Oh, yeah. Aku benci bertemu orang baru, to be honest. Mendadak sesuatu yang penting merambat masuk ke otakku. Ah, benar juga. Aku baru ingat kalau aku harus mencari Len sekarang. "Hmm… anu… maaf, aku buru-buru. Aku harus mencari temanku."
Teman…
Itu kata-kata yang buruk, Rin.
Sekilas kulihat dia tertegun. Entah atas dasar apa. Tapi kemudian dia menganggukan kepalanya, intinya, aku boleh memutar badanku dan berbalik kepada tujuan utamaku. Baru saja aku ingin melangkah lagi, seseorang (atau mungkin orang yang menabrakku tadi) menarik tanganku hingga aku terhuyung dan… strike! Aku masuk ke dalam pelukannya! Hah? Pelukan! Dengar, aku masuk ke dalam pelukannya! Ha ha ha… lucu… sekali!
Dia membalik badanku hingga aku dan dia saling berpandangan.
"Hei… apa yang kau…"
OH, DEMI TUHAN!
[ NORMAL P o V ]
Len bersiul-siul ringan sambil berjalan kembali ke kelasnya. Well… dia sudah berjam-jam mencari angin segar dan sekarang siap untuk bekerja kembali. Tapi di tengah jalan, dia merasakan suatu perasaan buruk yang... yang teramat sangat bergidik!
Oh. Sontak Len menghentikan langkahnya, memicu dirinya untuk tetap tenang, lalu tetap siaga, meski tampang luarnya terlihat santai-santai saja. Poker face…
Kembali Len melangkah ringan, namun waspada. Khawatir kalau-kalau ada yang berani menikamnya dari belakang, atau memukulnya dengan benda tajam atau… uh, Len terlalu banyak menonton film horror, maupun action. Tapi tidak. Sebenarnya ada yang Len lebih khawatirkan daripada tikaman, atau pukulan, atau lain-lainnya.
Oke, beberapa langkah Len berjalan, semua terasa aman. T e t a p i . . .
Len merasakannya sekarang! Ada yang mendekat!
"BEDEBAH!" umpatnya sambil menendang orang yang menghampirinya dari arah kiri. Datang juga, apa yang ditakuti Len.
"Hahahaha. Hai."
Len menggeram, "Mikuo… bisakah… kau menjauh dariku?" tanya Len dengan suara lembut nan manis, tapi sejujurnya, dia menahan dirinya untuk menghajar anak buahnya itu. Bukannya menjauhi Len, Mikuo malah semakin dempet dengan pria blond itu. Dia merangkul pundak Len dengan bersahabat.
"Len," ujar Mikuo dengan suara dramatis. "Aku tahu kau lagi senang karena ini berhubungan tentang Rin. Tapi maaf saja, aku cemburu."
BRRRR! Sekelebat, Len jadi merinding. Secara refleks kakinya terayun untuk wajah Mikuo yang tampan itu. Oh, yes. Mikuo bisa menghindar dengan mudah.
"Ha ha ha ha! Kau memang manis sekali, Len!" puji Mikuo. Tapi tentu, ditelinga Len, itu justru terdengar seperti ledekan yang paling tabu.
Seketika Mikuo menegang. Membuat Len penasaran. "Ada apa sih?" tanya Len. Pria blond itu kemudian melangkah di depan Mikuo.
"Jangan lihat!" seru Mikuo sambil menutup kedua mata Len. Tapi terlambat. Dia sudah melihat semuanya. Semuanya. Semuanya!
[ Hatsune Mikuo P o V ]
Aku terkekeh geli saat melihat wajah Len merona ketika kukatai manis. Aku menoleh dan oh... kurasakan tubuhku menegang.
Melihat tingkahku, Len penasaran. Dia bertanya, "ada apa sih?" kemudian dia berjalan ke depanku. Kuusahakan secepat mungkin menutup matanya. Tapi kurasa aku sudah…
"Jangan lihat!" seruku sambil menutup kedua mata aquamarine-nya dengan satu telapak tanganku. Yah. Aku terlambat. Kurasakan Len membatu. Aku tahu artinya. Dia sudah melihat apa yang ada di hadapannya sekarang.
Apa yang ada di hadapannya sekarang?
Ketahuilah, sobat. Itu sama sekali bukan pemandangan yang menyenangkan.
Manis sekali. Dalam keadaan lorong sepi, Rin dipeluk seseorang berambut merah dan bibir kedua orang itu saling menempel. Aku tahu satu hal yang tidak Len ketahui. Mata Rin terbelalak ketika dicium. Intinya, bukan Rin. Rin sama sekali tidak berniat untuk dicium, terlebih, mencium orang asing itu.
Tapi… tetap saja ini gawat.
Akhirnya kedua bibir itu saling lepas. Dan Rin langsung mendorong tubuh orang asing berambut merah dihadapannya itu. Dia terlihat ingin protes, tapi mendadak tenggorokannya tercekat saat melihat aku dan Len. Entah sejak kapan—aku juga kaget—kalau aku sudah menurunkan telapak tanganku dari mata Len.
"Mikuo… senpai… Le, Len…" bisik Rin dengan lirih.
Ini gawat. Rin.
Kulihat pria berambut merah itu tersenyum padaku. Oh… jangan-jangan…
Rin mendekati kami, dia sepertinya mengucapkan sesuatu pada kami. Tapi aku tidak mendengarnya. Kurasa Len juga begitu. Tapi akhirnya aku bisa menguasai diri untuk menjalankan indra pendengaranku dan… mendengar Len merespon penjelasan Rin.
"… jangan… sentuh aku, sialan!"
Begitu katanya. Setelah menggertak begitu, Len berlari meninggalkanku dan Rin. Sudah kuduga, ini gawat.
Kulihat Rin mematung sambil menundukkan kepalanya. Kedua tangannya mengepal dengan erat hingga membuat buku-buku tangannya memutih. Tidak hanya itu, kedua tangan Rin yang terkepal bergetar hebat dan meneteskan darah.
"Rin, kau tidak apa-apa? Aku tahu kau tidak salah…" ucapku. Kupegang kedua bahu Rin dan… kaku. Bahu Rin mengeras kaku.
"Aku tidak apa-apa, Mikuo-senpai." Kata Rin. Wajahnya tidak terlihat olehku. Entah menangis, atau malah menatap kosong dengan niat bunuh diri. Tolong… jangan memasang wajah penuh luka. Tolong... jangan menangis. Dan tolong... jangan gentar!
"Rin…" aku memanggil namanya dengan lembut.
"Mikuo-senpai," Rin balas menyebut namaku. Dia mengangkat wajahnya sekilas, lalu menundukkannya lagi. Aku tertegun melihat ekspresi sekilasnya tadi. "Aku. Baik-baik. Saja." Rin mengulang perkataannya dengan tegas. Sangat tegas, malah.
Ya. Aku percaya. Selama kau tidak menangis, aku percaya.
Bola aqua-mu yang mirip Len tetap menyala seperti biasanya. Meski ada air bening di sudut matamu, kau masih bisa menahan air mata bening yang berat itu. Gigimu saling bersinggungan dengan geram, itu caramu untuk menahan emosimu. Sejak kapan kau… menjadi gadis tergar seperti ini, Rin?
"Len yang mengajariku untuk tetap tegar. Aku sudah terlalu banyak menangis, dan itu tidak baik. Kali ini biar aku yang menghapus air mataku sendiri." Gumam Rin. Yah, aku tahu Rin memang gadis yang tegar. Bahkan aku hampir tidak pernah melihatnya menangis. Mungkin memang Cuma Len. Tempatnya menumpahkan semua ekspresi miliknya.
[ NORMAL P o V ]
"Jadi… gimana?" tanya seorang pria berambut silver. Dia menselonjorkan kakinya di atas coffee table dan menempatkan lengannya di atas sandaran sofa abu-abu. Ada sepuntung rokok yang terselip diantara jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya.
Pria berambut merah yang tiduran di sofa satunya menoleh ketika mendengar pertanyaan dari pria silver. "Oh, itu." Hanya itu responannya. Seperti baru teringat sesuatu yang penting, tapi dianggapnya tidak penting. "Sudah beres. Orang yang kau katakan Kagamine Len dan Kagamine Rin itu… hancur sudah. Ironis juga ya..."
Pria silver membolakkan matanya. Bukan heran, tapi takjub. Kalau ingin jujur, yaa… dia memang takjub. "Tidak salah," katanya. "Kau memang ahlinya soal 'mengadu domba' orang."
Si rambut merah mendengus, "Daripada kau buang-buang waktu untuk memujiku, lunasi dulu hutangmu yang 3000 yen itu. Cepat. Aku butuh uang itu."
Pria silver mengerang. Dia beranjak dari sofa, membuka suatu lemari di sudut ruangan dan merombak isinya. Menarik sebuah amplop tebal berwarna coklat yang rapi. Dilemparkannya amplop itu pada si rambut merah.
Hup!
Dengan sigap, si rambut merah menangkap amplop itu tanpa sedikit pun beranjak dari sofa. Dia membuka amplop tebal itu lalu menyeringai sembari menjilati sudut bibirnya. "Kadang aku heran," kata si rambut merah setelah pria silver kembali duduk di sofanya. "Kenapa kau sampai bisa pinjam uang dari orang lain. Ha ha ha…" Si rambut merah tertawa hambar.
Pria silver menyesap rokoknya, lalu mengembuskan napas, ada asap pahit yang menyesakkan keluar bersamaan dengan arus napasnya.
"Soalnya… kau itu… spesial."
Si rambut merah tersenyum miring. "Jadi… kau tidak memanggilnya juga? Selain aku, dia itu juga spesial untukmu, 'kan? Oh, ayolah. Aku tahu itu. Aku dan dia merupakan peluru untukmu, hei, pistol sialan." Si rambut merah menggoda pria silver. Dan pria silver tahu soal itu. Dia menyeringai puas.
"Tahu juga kau, peluru brengsek."
―
Rin menghampiri Len yang sedang duduk membelakangi langit. Ini atap sekolah.
"Len," panggil Rin sebelum akhirnya ia duduk di samping Len. Akhirnya, dua kakak-adik yang persis itu bersebelahan. Nyaris tidak ada perbedaan dari kondisi fisik luar mereka. Kecuali kalau keduanya menata rambut dengan model yang sama. Kagamine laki-laki tidak menyahut. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Memalingkan diri dari Kagamine perempuan. Atau malah langit.
Rin menghela napas berat. Dia sudah tahu hari ini, maksudnya, hari ketika dia dan Len bertengkar akan datang. Tapi dia tidak menyangka akan secepat ini. Dunia memang luar biasa ajaib. Tidak bisa ditebak. Seperti surprise sehari-hari.
"Aku tidak mencium pria itu." Ujar Rin. Nadanya mantap.
"Aku tahu." Tutur Len dengan tegas. Tapi dia tidak menatap Rin.
"Kau marah?" tanya Rin.
"Tidak." Jawab Len, masih tegas.
Rin memejamkan matanya kebawah. Lelah sekali rasanya…
"Len," Rin menyebut nama Len lagi. Tapi lagi-lagi Len tidak menyahut. Rin meneguk ludahnya dengan geram, atau kesal, atau malah gugup. "Aku itu milikmu." Ujar Rin sambil berdiri. Terlihat sekilas kalau tubuh Len menegang. "Dan Len." Rin kembali menyebut nama Len. Sudah tiga kali. "Kau itu milikku." Setelah berujar begitu, Rin meninggalkan atap sekolah. Bersamaan dengan wajah cengo Len yang terlihat bodoh sekali.
Tapi tepat setelah pintu atap sekolah tertutup, ponsel Len berdering. Segera Len mengangkat telepon dan menempelkan pada telinganya.
"Aah… akhirnya. Aku bisa berbicara denganmu. Berdua saja."
―
Rin menutup pintu atap lalu menyandar. Ada helaan napas yang keluar dari sela bibirnya yang ranum.
Len, aku itu milkmu.
Dan Len. Kau itu milikku.
Rin tersenyum. Entah kenapa kata-kata itu sangat disukainya. Saling memiliki itu sangat indah—begitulah pendapat Rin. Apa pun pendapat Len soal perkataannya tadi, dia tidak peduli. Semua yang ingin dikatakan Rin untuk Len sudah tersampaikan.
Aku suka kamu, Len.
Itu juga salah satunya. Oh, ya. Kau tahu? Sekali Rin menyukai seorang pria, dia tidak akan mudah melepas pria yang disukainya itu hingga akhirnya Rin tahu jikalau pria yang disukainya itu memang sudah memiliki pasangan.
"Aneh." Rin bergumam pada dirinya sendiri. "Kok aku jadi semangat begini, ya?"
―
Sementara itu, Len, dia sedang terpaku. Ponsel masih melekat di kupingnya. Suara dingin yang juga membakar telinga masih mengoceh dari seberang telepon. Sesekali Len mengumpat, menggertak, dan mendengus menjawab ocehan si suara dingin yang membakar telinga.
Pik.
Akhirnya hubungan telepon terputus dari salah satu pihak. Len menatap layar ponselnya lama-lama, kemudian menggeretakkan giginya dengan gemas.
"Masih mau juga kau balas dendam…" desisnya. "Honne… Dell…"
T O B E C O N T I N U E D
A/N(1): Maaf.
TT^TT telat update lagi. Ada banyak alasannya. Satu, aku semester dan OMG! Susah banget! Untung teman-temanku pada setia kawan semua! Dua, aku WB. Ah, ya. Kurasa aku mulai kena penyakit. Tiga, aku… takut! Ya! Takut! Kenapa? Entahlah… susah 'njelasinnya. Mungkin sih… karena takut… uhh… gini. (Maaf curhat) saking seringnya baca fic orang, mungkin secara nggak sengaja—atau secara nggak langsung, aku ngikutin cara kalian membuat fic (diksinya, atau tata bahasanya, mungkin). Dan sumpah! Bukan plagiat! Mungkin kebiasaan! Sungguh, sungguh, sungguh! Maafkan saya!
A/N(2): Oh, yes. Udah mau klimaks terakhir. Kalau bukan chapter 14, mungkin 15 tamatnya. Sekedar info nih ;D
Baiklah… see you next! ^^/
