Vocaloid © Yamaha


I'm Yours, Idiot!

© khiikikurohoshi

Chapter 14

The Last Hope

Three Days After That Day…

Sudah tiga hari berlalu setelah hari itu. Tidak ada yang berubah. Kalau pun ada, itu adalah hubungan Rin dan Len. Terakhir kali Rin mengobrol dengan Len adalah saat di atap. Begitu pula dengan Len. Sejak itu, keduanya saling menghindar. Untuk Rin, bukannya dia malu dan gengsi setelah mengatakan 'itu' pada Len di atap. Justru, dia memang sengaja menjauhi Len. Alasannya? Karena Len menjauhinya pula.

"Hei, Len-kun kenapa?" tanya Luka yang sedang mendenting-dentingkan piano. Di sampingnya ada Gumi yang sedang membaca suatu kertas bersama Miki.

"Hah?" Rin menoleh ketika nama adiknya disebut. Dia yang tadinya sibuk meniup recorder (sejenis suling)jadi berhenti melakukannya.

"Uh," Luka menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Kubilang, Len-kun kenapa? Apa dia baik-baik saja? Soalnya dia banyak diam akhir-akhir ini." Luka melanjutkan. Pertanyaan Luka membuat Gumi, tak juga Miki. Melainkan juga Miku, Meiko, dan Kaito melongokkan kepala mereka kepada Luka. Sepertinya mereka semua juga penasaran dengan kondisi Len.

Rin menghela napas malas, "jangan tanya aku. Dia tidak ada hubungannya denganku." Tutur Rin dengan wajah mengerut.

Dia tak ada hubungannya denganku. Oh, Rin. Kau kejam sekali, Rin mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Sesal membelenggu dirinya yang tanpa sengaja mencerocos demikian.

Miku mengangkat kedua alisnya lalu menoleh pada Luka, gantian juga melihat pada Kaito dan Meiko. "Kupikir… kalian sudah jadian." Sahut Miku dengan hati-hati.

Rin tersenyum samar, sudut bibirnya terangkat sedikit. "Dia sudah membenciku sekarang." Gumam Rin. Jujur saja, kata-kata itu tidak sengaja terlontar dari bibirnya.

Semua bungkam. Rin terlihat setengah hidup sekarang. Walau terlihat tenang dan santai, tapi semua (Gumi, Miki, Luka, Miku, Kaito, dan Meiko) tahu kalau Rin tengah galau, gusar dan bimbang. Rin pandai bermain poker face. Tapi tidak sesempurna kelihatannya.

"Ohh…" Miki berkomentar. Rin tersenyum kecut pada Miki. "Apa salahku?" tanya Miki yang merasa dipandang oleh Rin. Sontak si penatap alias Rin menggelengkan kepalanya. Malas.

"Sebenarnya…" gantian Meiko yang angkat suara. Semua mata secara refleks menatapnya. "Ada yang ingin kutanyakan padamu, Rin." Meiko menyelesaikan ucapannya sambil memeluk sikunya.

"Apa itu?" tanya Rin. Tidak begitu penasaran, sejujurnya. Meski dia heran pada Meiko yang biasanya blak-blakan mendadak bersikap sangat formal.

Meiko tampak gusar sejenak. Matanya meliuk-liuk menatap Miku, gantian melihat Gumi, lalu Miki, kemudian Luka, terakhir, Kaito. Matanya berhenti pada Kaito, lalu dengan berat hati, akhirnya Meiko menghela napas panjang.

"Mingkin ini… agak sedikit memaksa," Meiko mulai bersuara. Tapi sedetik kemudian, ada kebimbangan yang terselip di wajah tegasnya. Sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, Meiko melanjutkan dengan pelan-pelan. "Apa kau… sudah menyatakan cintamu pada Len?"

Bukannya melongo, Rin justru tertawa. Dalam hatinya. "Oh, maaf." Rin tersenyum sambil menyipitkan matanya sedikit. Tanda dia merasa geli. "Aku baru sadar kalau pertanyaan Miku-san dan Meiko-san memiliki arti yang berbeda."

"Sudahlah, Rin. To the point sajalah." Suruh Gumi kemudian. Dia terlihat benar-benar tidak sabar.

Rin tersenyum lagi. "Soal menyatakan cinta… ya, sudah. Sudah sangat lama kukatakan pada Len. Jadi… bukan itu… alasan kenapa Len jadi… pendiam."

Semua memandangnya dengan tatapan 'oh-apakah-kau-baik-baik-saja?' dan hal itu membuat Rin menjadi canggung.

"Jadi… karena apa?" Luka mengerutkan keningnya.

"Ada yang disembunyikan oleh Len," kata Kaito akhirnya. "Pada kita semua."

Rin menatap Kaito agak lama, tersenyum sambil menutup mata, kemudian mengangguk sekali. Menyetujui ucapan Kaito.

"Aku pulang." Ucap Rin ketika dia sudah menginjakkan kaki di dalam rumah. Di hadapannya, sambil menyilangkan tangan di depan dada, ayah dan ibu seperti sengaja menunggunya di depan pintu rumah. Rin mendengus. Tidak merasa takut. Karena dia yakin dia tidak melakukan hal yang salah. "Ada apa ini?" tanya Rin setelah badannya tertegak kembali. Dia berpijak dengan beralaskan kaos kaki putih yang panjang sampai lutut.

"Kita harus bicara, Rin." Nada suara ayah melunak. Rin tahu ayahnya tidak marah. Lantas… apa? Pikirannya mengatakan: "Kenapa hari ini semua orang bersikap formal?"

Rin mengangguk mengiyakan. Sambil menenteng tas, dia mengikuti langkah ayah dan ibunya yang menuju ruang makan. Keduanya duduk bersampingan, tepat di depan Rin. Melihat kondisinya, Rin seperti seorang tersangka yang diinterogasi oleh dua polisi professional.

"Kenapa? Ada apa?" Rin bertanya dua pertanyaan sekaligus. Namun bisa dijawab dengan satu jawaban yang sama.

"Ini soal… Len." Ibu mengangkat suara. Mendengar nama Len, alis Rin terangkat tinggi-tinggi. Antara mau-dan tidak mau mendengar lanjutannya. "Dia pulang lebih awal dari sekolah, kemudian dia ganti baju dan keluar rumah tanpa mengatakan apa pun pada ibu."

Rin mengerutkan kening. Berniat mendengar.

"Ketika kutelpon, dia me-nonaktifkan ponselnya. Aku tahu karena berapa kali kuhubungi, dia tidak mengangkat ponselnya. Bukan Cuma itu, dia seperti sudah… membuang ponselnya jauh-jauh. Entah benar atau tidak." Ibu melanjutkan. Sekarang Rin merasakan sesuatu yang buruk.

"Apa kau tahu dia ada dimana, Rin?" tanya ayah.

"Tidak," Rin langsung menjawab. Matanya sayu, terlihat lelah. "Sudah tiga hari… kami saling menghidar." Aku Rin. Ada kesedihat yang tersirat dari sudut matanya.

"Menghindar?" ayah membeo, jujur saja, heran.

Rin menganggukkan kepalanya. "Aku menyukai Len. Lebih dari seorang kakak-adik." Kembali Rin mengakui. Sebenarnya, dia mengakui itu di saat yang salah.

"A… pa?" ibu tampak shock. Sangat. Shock.

Rin mengangguk tegas. "Tapi bukan itu intinya. Maksudku, ya. Memang aku suka Len, aku sudah pernah mengakui soal itu padanya. Lama. Lama sekali. Saat pernikahan ayah dan ibu." Sekilas, ayah membelalakkan mata. "Dia menghindariku bukan karena canggung padaku. Tapi ada hal lain." Rin melanjutkan. Matanya menatap lurus-lurus ke depan. "Hal lain yang dirahasiakannya padaku."

Setelah begitu, ayah dan ibu saling pandang. Keheningan melanda. Mencanggungkan suasana. Akhirnya ayah berdehem.

"Ehem. Apa perlu kita tanya teman-temannya? Ini sudah mulai larut."

Rin tercenung. "Jangan." Ujar Rin. "Biar aku yang menghubungi. Ayah dan ibu sebaiknya istirahat. Kalian pasti capek." Setelah berkata begitu, Rin melesat pergi ke lantai dua.

"Padahal," ibu berbicara. "Yang capek bukan kita. Melainkan Rin."

Ayah menganggukkan kepalanya setuju.

Pukul 7 malam.

Rin menutup matanya. Meditasi. Atau lebih gampangnya, dia sedang berpikir. Apakah baik bertanya pada teman Len, atau tidak. Berapa kali Rin mengurungkan niatnya untuk menelpon teman Len. Dan berapa kali pula Rin mencoba untuk menelpon teman Len.

Ada firasat buruk yang mengikat tubuhnya.

"Len dalam bahaya. Aku tahu." Gumam Rin. Setelah menimbang-nimbang lagi, Rin meraih ponselnya dan mencari nama teman Len di contact list miliknya.

[ Kagamine Len P o V ]

Ya tuhan…

Butuh berapa tahun aku menunggu?

Dia membuat janji, dia yang melanggar. Oh, sial. Sial… siaaaal sekali…

Jujur saja. Aku sudah berada di sini dari jam… tunggu, biarkan aku melihat jam. Oh! Aku sudah berada di sini sejak jam 3 sore! Dan lihat, sekarang jam berapa? Jam setengah 8 malam! Ya ampun… aku bisa mati kebosanan.

Dia menyuruhku menunggu di Taman ini. Taman yang konon, angker. Makanya sudah sangat sedikit orang yang ingin menginjakkan kaki di taman ini. Sepi. Yah, jujur, aku ngeri. Aura disekeliling taman ini sangat pengap dan… agak lembap. Entahlah, padahal belum ada hujan selama seminggu ini.

Srrk…

Ada yang datang.

"Kupikir kau akan kabur, nak." Honne Dell datang dan tersenyum padaku. Ada sepuntung rokok yang terjepit diantara kedua bibirnya. Aku mendengus. Sudah membuatku menunggu, kau juga sudah membuatku ingin muntah. Kata 'nak' itu membuatmu lebih tua dari kelihatannya.

"Jangan basa-basi. Untuk sekarang, aku ingin to the point." Kataku. Melawannya.

Honne Dell tertawa. Kurasa dia sendirian ke taman ini. Tapi… tunggu dulu.

"Kalau kau memang ingin to the point, maka aku akan mengabulkannya."

Setelah berkata begitu, aku membolakkan mata. Melihat lima… tidak… sepuluh… ah, bukan… dua… tiga puluh! Tiga puluh lelaki yang menyeringai. Tidak ada yang bertangan kosong. Beberapa diantara mereka memegang batu berukuran kepalan tangan, beberapa diantara mereka memegang balok kayu besar yang bisa meremukkan tulang, dan beberapa diantara mereka membawa pisau kecil yang muat di dalam saku. Tapi aku tahu, masih banyak senjata-senjata lain yang siap menghancurkan tubuhku.

"Ternyata memang," Aku berhenti sejenak, menatap Dell dengan wajah yang... mungkin aneh. Lalu aku menghela napas, "battle begin, ya, 'kan?" ucapku.

[ NORMAL P o V ]

"Tidak, dia tidak ada di sini. Aku yakin."

Rin mendengus. Meski sebenarnya dia tahu, Mikuo orang yang bisa dipercaya, tapi lagi-lagi dia bertanya dengan ragu, "apa kau yakin?"

Mikuo menghela napas ringan di ujung telepon. "Hei. Dengar ya, Rin-chan. Kau sudah menanyakan 'apa kau yakin' ditambah 'apa Len ada di sana' sebanyak 9 kali. Dan aku juga selalu menjawab 'tidak, dia tidak ada di sini. Aku yakin' sebanyak 9 kali. Oh, ayolah… kenapa kau tidak percaya padaku?" terdengar nada kesal yang samar dari nada bicara Mikuo.

Rin menggigit bawahnya, geram, campur gusar. "Len tidak ada sejak siang—maksudku, sore tadi. Dia pulang lebih awal dari sekolah. Kata ibu, Len mengganti baju lalu keluar rumah lagi. Sebenarnya Len kemana…?" nada bicara Rin suram dan hampa. Mikuo jadi iba padanya.

"Kalau begitu aku akan mencarinya." Ujar Mikuo.

"Tapi… bahaya…" Rin terlonjak. Dia tidak menduga kata-kata itu keluar dari bibirnya sendiri.

"Hah?" Mikuo terdengar bingung. "Darimana kau tahu 'bahaya' itu, Rin-chan? Hm?"

Rin menggigit bibir bawahnya lagi, mengerutkan kening. "Entahlah… aku hanya… punya perasaan seperti itu. Seperti… Len jatuh ke dalam jurang yang lebih dalam. Maksudku, itu hanya gambaran." Rin menjelaskan dengan tertatih-tatih. Berharap Mikuo memahami maksudnya.

"Aku mengerti. Kalau begitu… kita bertemu di depan supermarket dekat rumah Gakupo-sensei. Sekarang. Bisa?" tanya Mikuo.

Rin terkesiap. Dia refleks menganggukkan kepalanya. "Bisa. Aku akan segera ke sana."

Rin mematikan sambungan telepon. Dengan gerakan cepat, dia mengambil jaketnya yang terkait di belakang pintu kamar lalu berlari keluar sambil memakai jaketnya. Jam 8 malam. Meski tahu sekarang adalah jam malamnya (Rin memang tidak begitu suka keluar malam, maka jam malamnya pun jadi jam 8 malam), tapi karena ini berhubungan dengan Len, adik kesayangannya, maka dia tidak bisa tinggal diam, menangis dan meraung-raung di dalam kamar.

Hanya butuh waktu singkat bagi Rin untuk sampai di depan supermarket yang Mikuo bilang. Sesampai disana, Mikuo sudah ada. Dia berdiri menyandar di salah satu sisi tiang listrik yang tinggi menjulang. Dia memasukkan kedua telapaknya di dalam saku celana jins panjang. Jaket berbahan seperti jins menyelimuti kaos bajunya yang berwarna hijau. Sepatu boot kulit terpasang pada kedua kakinya. Dan satu kakinya tertekuk, menempel pada tiang listrik.

Menyadari keberadaan seseorang, Mikuo menoleh. Wajahnya langsung cerah ketika melihat Rin sudah datang.

"Tidak ada waktu. Sebaiknya kita lekas mencarinya." Begitu kata Mikuo. "Aku juga mempunyai firasat buruk soal Len saat aku meninggalkan rumah."

Rin mengangguk. "Aku tahu tapi…" Rin memegang dagunya. "Dari mana kita mencarinya?" tanya Rin.

Mikuo terdiam sebentar. Ada benarnya. Tokyo itu luas. Dan tidak ada sedikit pun clue untuk menemukan Len. "Kuharap Len tidak sampai naik kereta ke Shibuya, atau Ginza, atau lainnya. Kalau memang tidak begitu, kita keliling Tokyo. Mula-mula ke…" Mikuo berhenti sejenak, berpikir. "Ah." Mikuo agak terbelak.

"Jadi, apa? Kemana?" tanya Rin. Dia mulai tidak sabar.

"Kita ke sana." Mikuo menarik tangan Rin lalu menuntunnya jalan. Rin tidak mengerti kata ke sana. Masalahnya, ke sana itu kemana? Oh, lebih baik Rin membiarkan Mikuo menuntun jalan.

BUGH!

Len terjungkal. Ada darah yang mengalir dari sudut bibirnya.

"Shit," Len mengumpat sambil berusaha berdiri. Tapi denyutan di mata kakinya membuatnya merasa sakit, terhuyung, kemudian jatuh lagi. Erangan singkat melintas ketika dia terjatuh. Selain menahan rasa sakit karena jatuh, dia juga menahan rasa sakit karena kakinya memang terasa sakit. Sepertinya patah.

Honne Dell berdiri tidak jauh dari Len. Sangat dekat dengan Len, malah. Dia memain-mainkan rokoknya di sela jemari sambil bersiul pendek. "Menyenangkan." Katanya. "Aku senang dengan erangan manismu itu, Kagamine Len."

"Oh, diamlah." Hardik Len dengan wajah tenang. Namun dia merasa sakit di kaki dan di kepalanya. "Seharusnya aku sudah tahu dari awal. Niatmu untuk balas dendam. Fuh." Len meludah. Kena telak pada sepatu Dell yang mengkilap menyilaukan. Ada warna merah pada air liur Len.

Dell menggeram. "Tutup mulutmu, nak." Dengan gerakan cepat, Dell mengarahkan sudut puntung rokoknya yang terbakar pada wajah Len.

Panas yang pahit dan menyesakkan menjelajari pori pipi Len. Ada rasa ingin mengerang saat itu juga. Dan ya, lagi-lagi Len mengerang seperti kucing yang menderita.

"Bagaimana? Ena—" perkataan Dell terputus karena Len langsung mencekik leher pemuda itu. Semua (anak buah Dell) langsung membolakkan mata dan bersiap untuk menerkam Len. Tapi melihat Len yang semakin kuat mencengkram leher Dell dan Dell yang tidak mampu melawan, semua jadi siaga. Antara ingin-dan tidak ingin menerkam secara langsung. Merasa ada celah, Len mengangkat tubuhnya yang tadi dalam posisi telentang dengan gerakan cepat, lalu… BUGH!

Dia menghentak wajah Dell. Berterimakasihlah Dell, Len sudah membiarkanmu mencium.

Mencium tanah airmu.

Melihat Len yang sudah berdiri tegak, semua kembali siaga. Tapi tetap ada perasaan antara ingin-dan tidak ingin menerkam secara langsung. Lima pria besar yang berdiri di barisan terdepan merenggangkan otot-otot mereka. Sepertinya adrenalin sudah mengalir di pembuluh darah mereka.

Len menghapus noda terbakar di pipinya menggunakan punggung tangan. Menatap nanar ketiga puluh pria yang balik menatapnya dengan sangar.

"Se… serang dia!" diantara rasa sakitnya, Dell menggeram, menyuruh lima pria besar untuk menghajar Len secara langsung.

Len sudah siaga. Dia langsung menyiapkan defense-nya. Sementara menyiapkan perlindungan, terlintas perkataan Rin dibenaknya.

"Kau lihat? Setidaknya gunakan otakmu untuk bekerja. Gunakan instingmu, jangan hanya membabi buta."

Sudut bibir Len tertekuk ke atas. Sekarang dia paham cara kerja Rin dalam bertarung.

Len terdiam, sebab kelima pria besar itu juga diam. Len sadar, ternyata kelima pria besar itu sedang berdiri, membuat perisai yang melingkari Len. Bukan untuk melindungi, melainkan agar membuat gaya gerak Len menyempit. Dan Len tahu cara lolos dari perisai besar ini.

Tiga detik kemudian, dua dari lima pria besar langsung menyerbu.

Rin menguap lebar. Entah sudah berapa jam dia berjalan bersama Mikuo.

"Sekarang kita kemana?" tanya Rin sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.

Sejenak Mikuo tidak menjawab karena dia sedang menelpon seseorang. Entah siapa itu, Rin tidak peduli. "Seperti kata paman Luki, Len pergi ke sebelah sana." Mikuo menjawab setelah dia selesai menelpon seseorang. Tangannya menunjuk pada arah kanan tempatnya berpijak. Rin mendecak kesal.

"Dari tadi kau berkata ke sana dan ke sana. Sekarang, seperti katamu, kita berhenti di toko ramen, mengobrol dengan kenalanmu. Dia berkata kalau Len sempat mengunjungi tokonya, lalu keluar dengan langkah malas-malasan. Lalu… ke sana yang satunya itu ke mana? Tolong, beri aku penjelasan lebih rinci, Mikuo-senpai." Rin berkacak pinggang, wajahnya mengerut menatap kakak kelasnya itu.

Mikuo hanya tersenyum dalam hati. "Dibanding penjelasan, mendingan praktek. Ayo, ke sana. Tempatnya tidak terlalu jauh kok." Mikuo mulai melangkah. Dengan malas, Rin mengikuti. "Sekarang jam berapa?" Mikuo bertanya.

Rin menatap jam tangannya sebentar, "jam setengah 9 malam. Tak kusangka sudah selarut ini."

Mikuo hanya diam. Berjalan dengan pandangan mata lurus ke depan.

[ Kagamine Len P o V ]

Aku tersenyum ketika merasakan tanah yang kupijak bergetar. Dua pria besar yang membuat perisai langsung menyerbu padaku. Mereka meluncurkan tinju dengan penuh adrenalin. Tapi aku tidak akan kalah dengan mereka.

Maka, selagi sempat, aku menyiapkan tinjuku, kemudian menimpuk wajah salah satu pria besar dengan punggung tanganku. Kuharap itu cukup keras untuk membungkamnya. Belum merasa cukup, aku menyiapkan tinju tanganku yang lain. Kedaratkan tinjuku dengan kekuatan penuh pada pria besar yang satunya. Ada darah yang muncrat dari hidungnya. Hmph. Dua pria besar lain ikut menyerangku. Di sinilah aku mengambil kesempatan. Aku menekuk pergelangan kakiku ke atas, membiarkan diriku meluncur ke bawah melalui sela-sela kaki pria besar itu. Aku lolos dari perisai.

Ha. Mereka tidak sadar aku sudah keluar.

"Hahahaha…"

Ups. Tanpa sengaja aku tertawa. Kelima pria besar itu langsung menoleh padaku, terkejut, dan menampakkan wajah marah mereka. Ini manis. Emosi takkan bisa membuat dirimu menang dalam pertarungan.

Salah satu pria menyerbuku sambil mengepalkan tinjunya. Aku agak menunduk, lalu ketika merasa jarakku dan jaraknya pas, aku cepat berdiri sambil mengangkat tangannya yang terkepal. Satu tanganku yang bebas, kulayangkan pada perutnya. Keras. Sangat keras. Sampai-sampai pria itu terlempar ke belakang. Membuat semua terkejut.

Aku mendengus sambil menampakkan sebuah seringai. "Sudah ciut, hm?" aku memancing mereka.

Pria lain menghampiriku. Dia berteriak sambil berlari, mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri. Saat mataku fokus pada pria itu, aku tetap menyadari ada seseorang yang menghampiriku dari belakang. Aku tersenyum lagi.

Aku menanti waktu yang tepat. Beberapa detik kemudian, aku berjongkok dan BUAGH!

Kedua pria yang menghampiriku dari arah berlawanan saling memukuli wajah mereka satu sama lain. Dengan satu pukulan besar dan kuat, keduanya tumbang. Hidung mereka mengeluarkan darah yang sangat banyak.

"SIALAN KAAAAU!"

Aku menoleh pada asal suara. Oh, si pria besar terakhir. Aku melompat dengan kecepatan tinggi, lalu mendarat di belakangnya. Dia terlihat celingukan seperti baru pertamakali melihat sulap. Hahaha… lucu juga. Aku menoleh sedikit ke samping, lalu tersenyum senang.

Aku memasukkan ibu jari dan jari telunjukku dalam mulut, meniup dan menghasilkan suara peluit. Si pria besar terakhir menoleh padaku dengan marah, tapi… PRAAK!

Bersoraklah untuk kaleng minuman!

Dengan begini, aku selesai melawan lima pria besar yang menjadi tameng.

Tapi masih sangat banyak… yang akan menjadi lawanku selanjutnya.

[ NORMAL P o V ]

"Maaf, bu. Tapi aku tidak bisa tinggal diam." Rin terdiam sebentar. "Hah? Polisi? Terserah ibu sih, tapi aku bertekad untuk mencari Len sekarang sampai dapat. Titik." Rin menekankan kata terakhirnya dengan wajah serius. Walau ibu tak melihat wajah Rin sekarang, tapi nada penekanan Rin yang kuat sempat menggoyahkan niatnya untuk menyuruh Rin pulang. Ibu mengoceh lagi di seberang telepon. "Aku bersama teman kok. Siapa? Oh, dia teman baik Len. Tenang saja…" Rin menjawab.

Mikuo melirik Rin sejenak. Tapi yang dilirik tidak menyadari.

"Ibu…" Rin mendesah. "Aku sudah bukan anak kecil lagi. Tolonglah…" Rin menggigit bibir bawahnya. Mikuo seperti merasa tidak enak pada ibu Rin.

"Rin-chan…" Mikuo berbisik.

"Tidak." Rin berkata. Membuat Mikuo terperanjat. Mungkin ibu Rin yang berada di seberang telepon juga terperanjat seperti dirinya. "Apa pun yang ibu katakan sekarang, jawabanku cuma satu. Aku. Akan. Mencari. Len. Hingga. Dapat. Titik."

Mikuo membolakkan mata. Bersamaan dengan itu, Rin menghela napas lega lalu tersenyum dan memutuskan sambungan telepon.

"Apa kita sudah sampai?" tanya Rin sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.

"Hampir." Jawab Mikuo. Dia sudah kembali fokus pada jalannya.

Mungkin memang benar kata Mikuo. Sebab sayup-sayup, Rin bisa mendengar suara orang yang mengerang, suara debuman, suara pukulan dan lain-lainnya. Dan semakin bergerak, Rin semakin merasakan firasat buruknya yang sejak tadi mendenyut.

"Mikuo-senpai…" Rin berbisik.

"Ya. Mungkin di sana…"

GUSRAK!

Len menjatuhkan seorang pria yang nyaris memukul kepalanya dengan balok kayu. Baru saja Len ingin bernapas, ada tiga orang yang masing-masing menyerang dari arah berlawanan mendekati Len. Dengan cepat, Len mamungut balok kayu yang tercecer.

Sambil berputar, diayunkannya balok kayu dalam kadaan rendah. Menyenggol kaki-kaki tiga orang yang berusaha menyerangnya, dan membuat ketiganya jatuh.

Len tersengal. Dia sudah merasa capek. Tapi lawan-lawannya masih bertumpuk. Dengan berat, dia membalikkan badannya, membolak. Sebuah batu besar yang lebih besar dari kepalan tangan sudah nyaris mendarat dan menumbuk dahinya dengan kencang. Len menyilangkan kedua tangannya di atas kepalanya, menutup mata. Pasrah.

BUGH!

Len membuka matanya, membolak lagi. Tapi kemudian senyum terlukis di wajahnya yang sudah babak belur.

"Hpmh… aku tidak menyangka kau datang dengan timing yang tepat seperti di komik-komik." Bisik Len.

Mikuo mendengus, melempar balik batu yang dia tangkap. "Berterimakasihlah pada Rin, idiot."

Len terperangah ketika melihat Rin yang ternyata juga ada. Gadis itu tengah berlari menembus kerumunan. Pita putih yang tersemat di atas kepalanya sangat mencolok kala ini. "Len!" dia memanggil nama Len. Dan hal itu membuat tubuh Len menghangat.

"Demi Tuhan!" dia menggeram ketika sudah berada di dekat Len. "Kau itu memang bego! Merahasiakan soal pertarungan begini padaku!"

Len tersenyum samar. Dia menepuk kepala Rin, "maaf. Tapi aku terpaksa."

Rin menoleh pada Mikuo dengan alis tertaut. Sedang Mikuo hanya tersenyum miring. "Aku tidak mengerti tatapanmu Rin-chan. Tapi kurasa… kukatakan saja. Aku sudah memanggil mereka." Mikuo menatap Len, keduanya (Mikuo dan Len) tersenyum.

"Thanks, bro." Begitu kata Len.

Rin menyiapkan kuda-kudanya ketika merasakan tanah yang dipijakinya bergetar. "Tidak ada waktu berbasa-basi, kalian berdua! Ayo!" seru Rin tatkala seorang pria mendekatinya dengan tangan kosong. Rin menggertakkan giginya.

"MATI KAU!" Rin bergerak cepat ke belakang pria yang mendekatinya. Dia menarik kedua tangan pria itu ke belakang, menyilangkannya dengan keras. Tidak sampai di sana, Rin mengangkat kakinya tinggi-tinggi, seperti garis vertikal yang ukurannya 180o. Lalu dia (Rin), mengayunkan kakinya turun dengan kecepat dan kekuatan yang luar biasa. Selesai sudah, tendangan cangkul!

Dugh.

Rin menginjak punggung lawan yang sudah dia jatuhkan.

Sementara itu, Mikuo, dia menyadari ada yang mendekatinya ketika mendengar suara menggeram dari seseorang. Ketika seseorang itu melayangkan tinjunya, menyasarkannya pada wajah Mikuo, pria itu bergerak cepat dengan menengadahkan kepalanya dan menggeser badannya menggunakan setengah kuda-kuda. Dan seperti sulap, Mikuo sudah berada di belakang seseorang itu.

"Hmph." Mikuo tersenyum sambil meninju kepala belakang seseorang itu dengan kekuatan dahsyat.

BRUGH!

Seseorang itu knock out dan jatuh ke depan.

"UKH!"

Mikuo menoleh dan melihat Rin yang sedang memegang lengan kirinya. Ada sesuatu yang cair mengalir dari balik tangannya. Dan Mikuo tahu itu adalah darah. Sepertinya ada seseorang yang membawa pisau dan menggores lengan kiri gadis blond itu.

"RIN!"

Mikuo bisa mendengar suara Len yang memanggil nama Rin. Sepertinya gadis itu meringis dengan suara yang cukup kencang dan menyakitkan.

T a p i . . .

Sepertinya Rin memang tidak bisa dianggap remeh.

[ Hatsune Mikuo P o V ]

Walau tahu lengannya luka, walau tahu dari luka itu mengalir darah, dan walau tahu luka berdarah itu perih dan menyakitkan, Rin tidak gentar!

Gadis itu menatap keji pada orang yang menyayatnya.

Dengan gerakan cepat, Rin menarik tangan orang itu, meraih pisau yang nyaris mengiris wajahnya. Rin lalu membuang pisau itu ke sembarang arah. Tanpa perlu berpikir, tanpa perlu mengambil ancang-ancang, Rin membanting tubuh orang itu dengan sangat keras. Sebab ada suara tulang patah bersamaan dengan terjunnya tubuh orang itu di tanah.

Judo. Aku tahu dia mengeluarkan salah satu jurus judo.

Rin menghapus peluh yang mengucur pada dahinya. Karena terlalu fokus pada Rin, aku nyaris tidak sadar ada yang menghampiriku sambil mengayunkan sebuah balok kayu besar. Tapi mepet. Aku tidak sempat mengelak hingga wajahku kena. Uff… sialan.

Aku jatuh telentang. Sambil bersiul malas, aku mencoba bangkit.

"Ah." Aku menyadari siapa yang memukul wajahku dengan balok kayu. "Kau…" Orang yang tadi memukulku dengan balok kayu menatapku balik dengan wajah bingung.

DUGH!

"Kau… terlalu lengah, Kasane Ted!" seru Len yang secara diam-diam menghantam punggung Ted menggunakan sikunya. Ted ambruk dengan mudah.

"Itu dia yang ingin kukatakan tadi." Aku tersenyum. "Dan kabar baik, Len." Aku berkata sambil mengalihkan pandangan pada arah lain.

"Apa itu?" tanya Len.

Aku menatap Len sejenak, tersenyum, kemudian menunjuk ke belakang Len menggunakan daguku. Len mengedarkan pandangan pada arah yang kutunjukkan.

"Datang." Len tersenyum.

Datang maksudnya, mereka sudah datang di sini. Mereka adalah semua orang yang merupakan anak buah seorang Len Kagamine. Tidak lama, kedudukan menjadi imbang. Semua anak buah Len memiliki musuh tersendiri.

Len terbelalak, "Mikuo!"

Aku mengangkat alis tinggi-tinggi, menoleh, kemudian menyiapkan lenganku sebagai perlindungan.

"Sekarang… cari Rin-chan! Cepat!" suruhku sambil menahan serangan orang yang nyaris melukaiku. Len menganggukkan kepalanya, melesat pergi tanpa arah. Sekarang… aku harus menyerang balik!

[ Kagamine Len P o V ]

Agak sulit mencari Rin dalam keadaan seperti ini. Tapi kemudian, pita putihnya tertangkap oleh indra penglihatanku. Aku segera berlari ke arahnya yang terlihat sedang sibuk melawan seorang pria yang lebih tinggi darinya, tentu saja.

"RIN!" aku memanggil namanya. Sekilas Rin menoleh, tapi kemudian dia mem-fokuskan pandangannya pada orang yang tengah dilawannya. "Ck!" aku mendecak kesal, mempercepat lariku lalu meninju sisi kepala orang yang Rin lawan.

Rin terlihat lelah. Ada bayangan hitam yang tercetak di bawah matanya. "Len… kau…" dia terlihat ingin tersenyum, tapi kemudian matanya membolak dengan sangat lebar. Dia mendorong tubuhku kencang-kencang. Tubuhku ambruk dan terantuk tanah.

Aku mendengar suara tembakan pistol sebanyak dua kali. Kemudian… gantian aku yang membolakkan mata dengan sangat lebar.

BRUGH!

Tubuh Rin ambruk dengan sempurna. Aku segera bangkit dan menghampirinya. Rin tersengal, matanya setengah terpejam, dari sudut bibirnya mengalir darah yang masih segar.

"Ri… Rin…" Aku memanggil namanya dengan berat.

Rin memegang perutnya. Saat kulihat, tangannya berdarah. Entah ini perasaanku saja, atau memang… Rin…

"Kena dua kali dengan telak, nona."

Tubuhku menegang. Suara yang asing di indra pendengaranku…

Aku menoleh, dan terbelalak lagi. Bukankah… dia…

"Masih ingat aku?" suara itu menyahut lagi. Dia memperlihatkan sebuah pistol perak di tangan kirinya sambil menyeringai. Ada asap tipis yang keluar dari mulut pistol tersebut.

"Kau…"

"Benar. Kenalkan, namaku Akaito. Senang berkenalan denganmu, Kagamine Len, dan Kagamine Rin." Dia berkata begitu dengan ringan. Matanya menyiratkan persahabatan. Berkebalikan denganku, aku justru menatap si pria berambut merah dengan tatapan membunuh.

Dia… sudah menembak perut Rin sebanyak dua kali!

"Le… Len…" Rin memanggilku dengan sedikit tersengal.

"Rin!" aku sontak menoleh padanya. Rin memegang pipiku dengan satu tangan yang berbungkus darahnya. Getaran. Tangan Rin bergetar samar, tapi tetap terasa olehku.

"Khh… Len…" Ada air mata di sudut mata Rin. "Aku suka kamu." Rin berbisik begitu. "Kau… milikku."

Aku menggigit bibir bawahku. Ingin rasanya menangis sekarang.

"Dan aku… milikmu…" Rin tersenyum. Tapi kemudian dia batuk. Bukan hanya dahak, ada darah yang keluar bersamaan dengan itu.

"RIN!" kini aku tidak bisa menyimpan rasa panikku lagi. "JANGAN NGOMONG LAGI, IDIOT!" aku menggertak dengan tidak sabar.

"Len," Rin memanggil namaku lagi. "Aku suka… kamu…" Setelah itu, tangan Rin jatuh, matanya terpejam. Tapi senyum masih terlukis di wajahnya.

Saat ini aku sadar. Dan aku tahu persis apa yang terjadi.

Sirine mobil, mobil hitam putih, cahaya biru dan merah, kemudian suara derap langkah kaki.

Selain itu, ada aku dan Rin. Aku yang babak belur. Rin yang sekarat. Mikuo yang menghampiri.

Sayup-sayup kudengar Mikuo berteriak padaku:

"Bertahanlah, Len! Rin!"

Ruangan putih menghiasi pandanganku. Langit-langit polos adalah sesuatu yang kulihat pertama kali setelah kegelapan singkat. Aku menoleh, melihat Mikuo yang duduk di sebuah kursi merah di samping tempat tidurku. Dia menumpu kakinya di atas satu pahanya, tangannya bersilang di depan dada. Matanya tertutup, ada dengkuran samar yang terdengar.

Mikuo terlelap.

Aku menoleh ke sembarang arah. Mataku menangkap sebuah jam dinding yang tertempel di atas pintu. Jam dinding besar yang ber-diameter kurang lebih 35 sentimeter. Angka-angkanya berbentuk seperti angka romawi. Tiga jarum putih menempel dan berputar di permukaan jam yang berwarna hitam tersebut.

Pukul setengah tiga…

Entah dini hari atau sore. Tapi melihat keadaannya, sepertinya masih dini hari.

Dengan perlahan, aku bangkit dari tempat tidur, dengan perlahan turun dari sana. Membuka pintu dengan sangat berhati-hati. Kuharap hal itu tidak menimbulkan decitan yang mengakibatkan Mikuo membuka matanya.

Setelah berhasil, kututup pintu, lalu berjalan keluar. Kemana pun itu.

[ NORMAL P o V ]

"Anda… Kagamine Len?"

Len menoleh ketika mendengar suara seorang wanita dari belakangnya. Dia yakin yang memanggilnya adalah suster sebab memang, wanita itu mengenakan seragam yang seharusnya dipakai perawat.

"Ya. Itu aku." Len menjawab.

Suster itu menatap Len agak lama, kamudian terlihat berpikir, "Uh. Begini… dokter berpesan jikalau kau sudah sadar, kau boleh menjenguk saudaramu. Dan… oh, ya. Kenalkan, saya suster yang merawatmu dan saudaramu, Zatsune Miku."

Miku… memang mirip seperti Miku-senpai, tapi dia berambut hitam dan warna matanya berbeda, pikir Len.

"Ya. Salam kenal. Maaf, boleh aku bertanya? Apa orang tuaku sudah kemari?" tanya Len.

Suster itu mengangguk, "sudah. Mereka pulang baru-baru saja. Mari kuantar kau ke UGD."

UGD?

Jujur, perasaan Len sangat tidak enak sekarang. Mendengar Rin yang dirawat sampai di UGD, hal itu membuatnya resah, tentu saja. Sementara berjalan ke UGD, Len bertanya lagi, "apa yang terjadi dengan Rin?"

"Tolong dengarkan dengan tenang, ya." Suster itu berpesan dengan lembut. Setelah menerima anggukan dari Len, suster melanjutkan. "Kagamine Rin terkena peluru sebanyak dua butir dan tertinggal di dalam perutnya. Memang sudah diangkat saat operasi tadi, tapi dia belum siuman sejak tadi dan itu membuat para dokter khawatir. Kata dokter, ada kemungkinan Kagamine Rin… tidak bisa hidup lebih lama." Sang suster menjelaskan dengan hati-hati, tapi tetap to the point. Dan hal itu membuat Len menahan napasnya, terkejut. Sangat terkejut.

"Di sini." Suster menghentikan langkahnya ketika sudah sampai di depan sebuah double door perak yang ada papan bertuliskan 'UGD'.

Len mengintip, melihat kakaknya yang terbaring dengan selimut yang menutup hingga dagunya. Mata Rin terpejam erat, ada sesuatu yang menempel menutupi mulutnya. Sesuatu itu tersambungkan pada sebuah tabung besar melalui selang yang tipis dan transparan. Banyak perban yang menutupi tubuh Rin. Terakhir, ada sebuah selang infus yang terlekat pada tubuhnya.

"Bolehkah… aku masuk?" tanya Len dengan gugup.

Suster menganggukkan kepalanya, "tapi maaf. Lima menit saja, ya?"

Len mengangguk mengerti. Membuka salah satu pintu UGD lalu menutupnya dengan erat.

"Hei, kakak." Len menyapa.

Tentu Rin tidak menjawab.

Tiik…

Suara sensor denyut nadi Rin normal, Len tidak menyadarinya.

"Padahal sebelumnya... kau sangat. Sangat dan sangat semangat. Tapi lihat sekarang. Kau terluka." Len menghentikan ucapannya, duduk di sisi ranjang Rin. "Kau terluka konyol. Uh'uh… melindungiku. Untuk apa kau melindungiku? Aku… tidak butuh… itu…"

Len menyadari dia ingin menangis. Tapi ditahannya perasaan itu.

"Demi Tuhan, aku…" Len memegang punggung tangan Rin. "Aku tidak butuh orang yang melindungiku, dan orang yang melindungiku itu berakhir terluka. Itu sama saja aku membunuhnya." Len mengerutkan kening, menahan tangis.

"Bangunlah…" pinta Len dengan suara bergetar. "Aku akan mengatakan hal ini, tapi kumohon, bangunlah…"

Setelah berkata begitu, Len meneguk ludahnya, gugup.

"Aku milikmu, Rin." Len terdiam sejenak, menahan malu. "Dan kau milikku, Rin."

Tiik…

Suara sensor denyut nadi Rin semakin melemah dibanding sebelumnya. Tapi Len belum menyadarinya.

Rin belum membuka matanya. Bergerak pun tidak.

Len menghela napas berat, juga kecewa. "Rin," Len memanggil. Tidak ada yang balas menyahut. "Bukalah matamu… aku mohon dengan sangat…"

Len menggenggam sebelah tangan Rin. Pundak Len mengendur, tandanya dia merasa sangat sedih.

Tiik…

Suara sensor denyut nada Rin semakin dan semakin melemah dibanding sebelum-sebelumnya. Sayangnya, lagi-lagi Len belum menyadari hal itu.

"Apa yang harus kulakukan…?" Len bertanya dengan suara parau. Dia merasa sangat lemah sekarang. "Jangan mati. Jangan pergi. Bukalah matamu, bodoh."

Sekarang Len benar-benar menangis. Air matanya meleleh sudah. Dia sudah tidak mampu membendungnya lagi. Menyedihkan. Melihat Rin yang terbaring kaku benar-benar membuatnya ketakutan setengah mati.

"Aku suka… padamu, Rin…"

Tiiiiiik…

Sekarang Len menyadari satu hal. Suara desingan panjang yang berasal dari sensor denyut nadi Rin.


T O B E C O N T I N U E D


A/N(1): YES!

Berhasil juga saya nulis action di sini! RINDUNYA! Sumveh!

Dan tolong: jangan meniru adegan-adegan di atas. Sungguh. JANGAN!

A/N(2): Kurasa chapter selanjutnya adalah yang terakhir.

A/N(3): Chapter ini PUANJANG banget kan? Maaf yaaaa…! Aku lagi semangat sih x9 sungguh maaf!

Dan oh, diksinya buruk dan bagian akhir agak buru-buru? Maaf… aku takut kelewat panjang dari ini dan… aku ngerjainnya malam-malam (klo malam otakku sering down dan eror) *curcol

Oh, yes. Pertanyaan de el el… kutunggu! Kritik dan sarannya pula! X) terimakasih! Bersiap-siaplah untuk adegan selanjutnya!

Baiklah… see you next! ^^/