Disclaimer : Masashi Kishimoto

This fic is belong to : Tiffany90

Genre : Romance/Drama/Friendship

Warning : fic pertama, banyak kekurangan. T_T

Character : Sakura Haruno

Sasuke Uchiha

Sasori Akasuna

Ino Yamanaka

dll


CHAPTER 2

MY TRUE PRINCE

.

.

.

"Kukuruyuuuuuuuukkkk….."

Secercah sinar matahari pagi menembus jendela kamar Sakura. Sayup-sayup Sakura mendengar kokok ayam jantan, menandakan fajar sudah menyingsing, persis saat ketika tangannya mengklik tombol print pada laptop-nya.'Ahhhh,…Selesai juga tugas-tugas mengerikan ini…' Sakura menguap. Dia kaget melirik jam meja belajarnya, sudah pukul lima pagi. Sakura merenggangkan punggungnya yang penat, berharap bisa memejamkan matanya lima menit oh tidak lima belas menit saja. 'Terlambat sedikit tidak apa-apa ,.. Kakashi-sensei ini..' uap Sakura, Namun gempa tektonik sembilan skala richter (lebay) membuat jantungnya seakan melompat dari sangkar nya.

.

GEDUBRAAAKK!

.

"Sakura-neeee, banguuuuunn! Nanti terlambat!" teriak Konohamaru mendobrak pintu kamar Sakura tanpa perasaan . Sakura pucat seketika, memegangi jantungnya.

"Konohamaru-Baka! Kau mau aku sakit jantung? Ha?" Sakura tidak tahan menjitak kepala adik laki-laki semata wayangnya itu. Konohamaru mengelak sambil tergelak-gelak.

"Aaah, Nee-chan udah bangun, ya?. Tumben banget! Biasanya masih tidur.. Ayoo, Nee-chan, cepetan mandi dan buatkan aku sarapan! Aku tidak mau terlambat, pagi ini ada ulangan! O,ya Hari ini aku pulang sore karena latihan basket, karena itu buatkan aku bento juga, ya! Aku tunggu dibawah, Nee-chan!" kata Konohamaru seraya berbalik keluar pintu kamar..'Seenaknya saja main perintah-perintah, Dasar bocah!'

"Lho, Kaa-san mana?" Tanya Sakura bingung. Konohamaru menongolkan kepalanya.

"Nee-chan gimana, sih? Semalam, Kaa-san dan Tou-san , kan pamit mau menengok dan membantu Shizune-nee yang melahirkan! Geez, Nee-chan pelupa banget" rungut Konohamaru dan segera pergi dari kamar Sakura.

"…."

"Ah, iyaaa, aku lupa!" Sakura menepuk jidatnya sendiri. Hancur sudah harapan tidur-lima belas menit-nya. Begitu banyak kejadian dimulai dari nilai ulangan jelek, perkataan Sasuke,hingga tugas segunung menyita pikirannya semalaman suntuk sehingga Sakura lupa bahwa orangtuanya ga dirumah dan dia yang harus menyiapkan sarapan dan bento menggantikan Kaa-san. Perfecto! No sleep for today.. Congratz!

.

.

.

.

.

XI IPA1, Konoha High School,…

.

Suasana kelas masih ribut, karena memang bel masuk kelas belum berbunyi. Sakura merasa kepalanya agak puyeng karena ga tidur semalaman suntuk. 'Kakashi-sensei biasanya terlambat.. Aku masih bisa tidur sebentar,' . Sakura baru akan membaringkan kepalanya di meja ketika,

.

DEG!

"Foreheeeeaaaaaaaaaaadddddd!" teriak Ino yg mendatanginya dari pintu kelas, membuat Sakura nyaris terjungkal dari kursinya. Ino langsung memeluk Sakura yg gelagapan,..

'Tuhaaaaaaaannnnn,…. Kenapa tak ada yang membiarkan aku tidur sebentaaaar saja? Dan, kenapa tak ada yang peduli pada kesehatan jantungku?'rintih inner Sakura pilu.

"Ahh, .. Ino-pig! Berisiiiik banget, sih! Kaget, tauk! Kau mau aku mati mendadak? Ihh,.. Sebel! Ngantuk! ^$#$#%$^$%#$%#$%!"

Ino melepas pelukannya.

"Ahh,.. Gomen, Jidat!..Kau pasti marah karena aku tinggal kemaren, ya…" Ino terkikik. Sakura mengerucutkan bibirnya..

"Aku sedang sibuk menyadarkanmu yg melamun kemarin, ketika Sai-kun memanggilku di depan pintu kelas. Aku mendatanginya di pintu kelas, dan…. Dan Sai-kun mengajakku pulang BARENG! Aku tak sadar, kakiku patuh-patuh saja berjalan dengannya,.. karena kau tau kan? Ada angin apa coba, dia mengajakku pulang BARENG!.. Kau tahu, Jidat? dia mengajakku jalan-jalan dan makan di resto Ichiraku dan,… MENEMBAKKU! Yayayayay, impianku terkabul! Aku jadian dengan Sai, Ohh.. Senangnyaaa!" Ino tanpa ampun berceloteh panjang lebar, menenggelamkan bunyi bel tanda masuk kelas.

Sakura masih cemberut. 'Beruntung sekali,si Ino-pig-chan. Dia bisa mengerjakan ulangan kemarin, mendapatkan nilai lebih tinggi dari aku, dan bahkan jadian sama cowok incarannya. Oh, seenggaknya dia tak mungkin bisa menyelesaikan tugas super duper kemarin kalau dia pergi ngedate,' batin inner Sakura kejam. Sakura dan Ino memang bersahabat, tapi mereka juga rival –dalam hal yang baik- tentu.

"Kalau kau punya waktu luang untuk ngedate, kenapa kau tak buat saja tugas-tugas mengerikan itu?" Sakura sok angkuh mereplay perkataan Sasuke yang menyakitkan kemarin dengan sedikit perubahan.

Ino melongo. "Cih! Petuah busuk busuk macam itu? …" semburnya. Sakura sweatdrop. 'Petuah busuk? Petuah busuk? Dia mengatakan kata-kata Sasuke yang langka dan berharga itu Petuah Busuk?'

"… Teman cantikmu jadian, dan ini tanggapanmu? Tentu saja aku membuat tugas-tugas bodoh itu, Baka-Forehead! Ermmm,… Sai membantuku mencarikan data tugas Biologi. Dia merasa bersalah mengetahui aku mempunyai tugas yang sangat banyak. Kau tahu, begitu banyak yang terjadi kemarin. Ulangan gila-gilaan, tugas seabrek, jadian ama Sai, dsb jadi waktu tidur cantikku terusik. Aku Cuma tidur tiga jam semalam. Kalau kulit dan mata cantikku bisa bicara, mereka pasti sudah meraung-raung karena kurang tidur…" cerewet Ino curhat, sepertinya menderita banget karena cuma tidur 'tiga jam'

..

"..."

'Tiga jam?'

'Tiga jam?'

.

'Aku bahkan tak punya kesempatan menutup kelopak mataku semenit,pun! Dan DIA berhasil dalam ulangan, dan JADIAN, serta membuat tugas dengan selamat dan tidur TIGA JAM! Tidak adil!' jerit inner-Sakuram. Sakura sendiri mengambil buku tulis dan memulai kebiasaannya menulis-nulis grafiti nama Sasuke, seakan-akan menulisi nama Sasuke bisa menciptakan perdamaian dunia (oh, perdamaian hatinya, mungkin)..

.

.

Tiba-tiba, suasana kelas yang ricuh berubah diam karena suara kedatangan langkah kaki.

.

"Selamat pagi, anak-anak!" Kakashi-sensei datang dengan seorang.. rrrr…murid baru? Seorang anak laki-laki berambut merah yang sangat cute mengikuti Kakashi masuk kedalam kelas. Mempunyai bola mata sewarna hazel, rambut merah yang agak acak-acakan –tapi sangat keren-, kulit putih bersih bening semulus bayi dan senyum yang –WOW- membuat semua siswi menahan napas dan nosebleed seketika, kecuali satu-satunya makhluk pink yang tidak memperhatikan dan sibuk menulis-nulis entah apa.

Sakura yang sudah lupa sama sekali akan kantuknya, masih sibuk mengutuki kesialannya dan tak mendengarkan kedatangan Kakashi-sensei dan si cowok merah. Kali ini dia sibuk menambahkan sisipan 'petuah busuk' dalam lingkaran love kecil-kecil dibawah nama Sasuke pada grafitinya. Dia tak mempedulikan cekikikan para siswi di kelasnya yang memekakkan telinga, diiringi desah bersemangat dan suit-suitan, sebelum…

"… Saya Akasuna Sasori, pindahan dari Suna. Mohon bimbingannya…" Cowok baby face yang ternyata bernama Sasori membungkuk memperkenalkan dirinya.

"Kyaaaaaaaaaa! Sasori-kun! Cute banget!" jejerit siswi XI IPA1 KHS.

Suara itu berhasil mengalihkan Sakura dari grafitinya. Sontak bola matanya melebar melihat sosok berambut merah itu?

'Sasori?'

'Sasori-kun? Benarkah?Ah, tidak mungkin! Itu benar-benar Sasori-kun!' Otak Sakura memutar memori teman kecilnya sewaktu SD. Ya, Sasori adalah sahabat kecilnya sebelum pindah ke Suna.

"..Nah, Sasori, kau bisa duduk di samping …mmm.. Kiba. Kiba, angkat tanganmu!" perintah Kakashi-sensei. Kiba segera mengacungkan tangannya. Ada dua bangku kosong di kelas Sakura. Yaitu bangku Sakura dan Kiba yang duduk didepannya. Mata Sakura mengikuti langkah Sasori, namun Sakura heran sendiri ketika Sasori justru terus berjalan melewati meja Kiba dan duduk di bangku kosong disebelah kanannya.

"Sensei, saya mau duduk disini sama Sakura. Boleh, ya?" pinta Sasori.

"Oh, kalian sudahsaling kenal? Baguslah. Sakura, tolong bantu Sasori, ya!" kata Kakashi-sensei sambil membolak-balik bahan ajarnya. Semua siswi lain berdecak dan memberikan deathglare mematikan pada Sakura. Bagaimana mungkin Sakura sudah kenal Sasori? Ino terkikik dan menyikut-nyikut Sakura.

"Hai, Sakura-chan! Apa kabar?" sapa Sasori pelan sambil tersenyum. Senyumannya tidak berbeda dengan waktu mereka masih SD dahulu. Sangat imut dan menawan. Tampan sekali.

"Sasori-kun!" pekik Sakura agak keras. DEG! Sakura bisa merasakan aura membunuh berpasang-pasang mata, sebelum mengatupkan mulutnya dengan kedua tangannya. Namun, tak ada yang bisa menyalahkan Sakura yang kaget karena tiba-tiba bertemu dengan teman kecilnya.

"Sungguh kejutan! Kenapa kau tak memberi kabar terlebih dahulu? Bagaimana Ibumu, sehat? Kau tinggal dimana sekarang? Bagaimana kau bisa pindah kemari?" cerocos Sakura, namun dengan suara yang lebih pelan. Sasori tertawa renyah, menambah pesona ketampanannya. Sakura blushing. Sakura tahu bahwa Sasori sudah banyak digilai teman-teman perempuannya bahkan semenjak mereka TK, namun dia tak ingat kalau Sasori pernah setampan ini, seimut ini.

"Aku sudah sms kemarin sore, tapi kau tak membalas. Yasudah, toh aku bisa bertemu denganmu hari ini. Ibu sehat. Kami beruntung mendapatkan rumah satu kompeks denganmu, jadi kita bisa berangkat dan pulang sekolah bareng."jawab Sasori, lagi-lagi tersenyum. Mau tak mau Sakura mengembangkan senyum manisnya, senyum pertama semenjak tragedy ulangan kemarin.

"Benarkah?"Sakura mengecek iphone-nya dan menepuk jidatnya melihat beberapa sms tanggal kemarin yang belum terbaca. Begitu banyak hal yang terjadi kemaren, sehingga Sakura sama sekali melupakan HP-nya.

"Gomen, Saso-kun! Kemarin aku sama sekali tidak mengecek HP.." sahut Sakura tertawa renyah. Semua bad-mood akibat kesialan kemaren-dan-hari-ini seakan habis tersapu ombak akibat kemunculan mendadak sahabat kecilnya. Sasori mengedikkan bahu dan mengeluarkan buku dan alat tulis, bersiap untuk focus pada pelajaran Kakashi-sensei. 'Akh, sejak kapan dia jadi setampan ini?' inner Sakura tak henti-hentinya meneriakkan perkataan itu sehingga matanya tak lepas-lepas dari Sasori. Saat menoleh kesamping kiri, tertangkap olehnya pandangan Ino yang centil dan menggoda. Sakura membelalakkan matanya, tak sudi digoda Ino , mereka tak meneruskan ngobrol atau saling deathglare lagi, karena Kakashi sudah mulai menerangkan pelajaran hari itu, yaitu Matematika. Sakura mengikuti pelajaran dengan penuh konsentrasi, grafiti Sasuke-nya terlantar begitu saja.

.

.

.

Well, yah.. Tak bertahan lama, tentu saja.

.

.

.

Matematika itu menyenangkan dan lebih mudah dari Fisika, tapi siapapun akan tepar bila dicekoki soal sebanyak itu. Sakura bisa melihat jelas bahwa kelas mereka sudah penuh dengan asap-asap hasil pemerasan otak semua anak. Namun, Sakura mengerjakan soal-soal itu diselingi beberapa obrolan dan candaan dengan Sasori , sehingga membuat dia sedikit lebih rileks. Sasori, kenapa dia bisa begitu imuut? Matanya, senyumnya, seperti boneka hidup saja. Sakura takkan heran kalau-kalau Sasori tiba-tiba mengaku kalau di sebenarnya adalah boneka.

.

.

"Kriiiiiiiiing! Kriiing!". Tak terasa, bel istirahat berbunyi. Namun, Sakura takjub sendiri melihat semua soalnya selesai, padahal sedari tadi perasaan dia hanya ngobrol doank. Benar-benar menyenangkan! Oooh, hari yang sangaaat indaah! Sakura tak henti-hentinya tersenyum, sebelum dipergoki Ino.

"Cieeeeeeeee,…. Jidaaaaaat, senyam senyum muluu.. Baru tadi pagi semrawut kayak Mak Lampir, sekarang senyaaam senyuuuuum muluu.. Apakah Sasori segitu tampannya? Hahaha…Kalian sangat mesra seperti sepasang kekasih! Hei, Jidaaat! Kenapa kau tak memberitahu, kalau kau sudah punya pacar, Ha? Kau memanggilnya Sasori-KUN, Jidaat? Waaaaahhhhh…." kikik Ino, tak menyadari Sasori blushing.

"Inooooooooo!". Suara Sakura dan Ino saking cemprengnya membuat Sasuke yang mau keluar kelas tiba-tiba menoleh dengan ekspresi datar. Kalau bukan Sasuke, pasti sudah setidaknya mengerinyit mendengar lengkingan itu. Sakura salah tingkah.

"Ah,.. I-ituu… Maaf, Sasuke-kun.. A-aku dan Sasori tidak seperti itu.. " Sakura tiba-tiba tergagap. Sasuke hanya memalingkan mukanya dan segera berlalu. 'Uuh, semua gara-gara Ino!'batin Sakura kesel, namun Ino sudah menghilang, sepertinya duluan ke kantin. Benar-benar menyebalkan.

"Ke kantin yuk, Sakura-chan!.." Sasori akhirnya bicara juga, setelah warna wajahnya kembali normal. Sakura melupakan kekesalannya pada Ino dan mereka mulai berjalan ke kantin. Selama di kantin, banyak anak perempuan yang berbisik-bisik dan menunjuk-nunjuk pada Sasori, membuat Sakura risih dan melayangkan deathglare kepada para cewek itu. Namun Sakura bukan Sasuke, para cewek bukannya terdiam dan takut akan deathglare-nya, malah membalas deathglare Sakura dg menantang. Beberapa diantara mereka, kelihatan seperti akan memakan Sasori hidup-hidup. Bahkan tidak sedikit yang mencoba berkenalan dengan Sasori di kantin. Sasori menanggapi para cewek itu dengan biasa dan sopan, membuat para cewek itu semakin excited.

.

.

xoxoxo

.

.

Begitulah. Hanya beberapa jam berselang semenjak kedatangannya di KHS, Sasori sudah menjelma jadi salah satu cowok popular di KHS. Dalam beberapa hari, Sasori sudah mempunyai seabrek FG di KHS, yang jumlahnya hampir menyerupai Sasuke FG. Tidak sedikit FG Sasuke yg berpindah hati pada Sasori, ataupun mengidolakan kedua-duanya sekaligus . Sasori ternyata bukan hanya imut dan ramah, dia pintar dan aktif dalam beberapa ekskul seni, hal itulah yang membuat Sasori jadi popular. Kalau Sasuke terkenal dengan sebutan "Ice Prince", maka Sasori dikenal sebagai "Charming Prince", bahkan tidak sedikit yang menjuluki Sasori dengan gelar "Baby Prince". Kenapa lagi kalau bukan karena wajahnya yang babyface dan imut itu? Sasori, meski agak irit berbicara, selalu memberikan pandangan yang hangat dan terkesan polos,innocent dan baik, tak pernah terlihat kesal atau emosi apapun yang terjadi, sehingga merupakan kharsima tersendiri baginya, kharisma yang berbeda namun mempunyai daya tarik yang sama kuatnya dengan kharismai yang terpancar dari Sasuke yang terkesan cool, dingin, angkuh, dan sukar didekati.

.

.

Meskipun mempunyai banyak kegiatan, Sasori dan Sakura tetap bersahabat, mereka selalu bersama-sama di sekolah, di kelas, di kantin, berangkat, atau pun pulang sekolah. Sakura merasa sangat nyaman berada disamping Sasori, Sasori yang pintar dan asyik diajak berdiskusi , serta pelajaran mereka yang semakin susah membuat Sakura sudah hampir melupakan kebiasaan menuliskan grafiti nama Sasuke, atau menoleh kearah kanan belakang untuk mencuri-curi pandang pada Sasuke lima menit sekali seperti orang sakit leher. Sakura juga terlalu sibuk memutar otak bagaimana caranya mengatasi FG Sasori yang sangat menyeramkan itu. Sasori FG memang jauh lebih beringas daripada Sasuke FG. Sasuke FG tidak ada yang berani terang-terangan di depan Sasuke, semuanya ciut apabila kena deathglare sang Uchiha bungsu, belum lagi perlakuannya yang sedingin es. Sasori juga bukan cowok cerewet yang senang dengan pusat perhatian, malah agak irit bicara -kecuali pada Sakura, sahabatnya (entah kenapa)- , tapi pandangan mata dan senyumnya yang polos dan imut seperti boneka justru membuat Sasori FG semakin menggila. Sakura lama-lama terbiasa dengan perlakuan baru yang diterimanya semenjak kehadiran Sasori, yaitu cewek-cewek yang bisik-bisik, menunjuk-menunjuk, atau melotot kearahnya dan Sasori dimana saja mereka berada. Perlakuan yang diterimanya semakin bertambah-tambah karena lengkingan Ino waktu itu yang 'menuduh' Sakura dan Sasori jadian.

.

.

Semua orang bahkan Sakura sendiri lama-lama bisa berpikir kalau dia bisa saja JATUH CINTA pada Sasori, apalagi dengan ledekan Ino yang suka menggoda mereka berdua setidaknya tiga kali dalam sehari.

.

.

.

Tapi, ternyata tidak, kawan-kawan.

Sakura Haruno masih menyukai Sasuke Uchiha, Ice Prince dari KHS.

Lho, masa' sih?

TBC


Author's Note

Maunya sih, bikin fic pendek, tapi aku heran sendiri kenapa jadinya panjang ya? Hahaha. Jadi, Chapie 2 nya dibagi deh. Kira-kira Bisakah Sakura mendapatkan Sasuke? Atau dia, pada akhirnya terpilih untuk pangeran yang 'lain'? Gomen karena banyak kekurangan. Pliss, Read dan Review ya.

Special Thanks :

Midori Kumiko, Sasori No Danna (my Imouto), Putri Luna, all readers.

Terima kasih karena sudah membaca dan mereview fic jelek ini, aku jadi semangat melanjutkannya.

Happy Reading^^