Disclaimer : Masashi Kishimoto

This fic is belong to : Tiffany90

Genre : Romance/Drama/Friendship

Warning : fic pertama, banyak kekurangan.

Character : Sakura Haruno

Sasuke Uchiha

Sasori Akasuna

Ino Yamanaka

dll

Semua orang bahkan Sakura sendiri lama-lama bisa berpikir kalau dia bisa saja JATUH CINTA pada Sasori.

Tapi, ternyata tidak, kawan-kawan.

Sakura Haruno masih menyukai Sasuke Uchiha, Ice Prince dari KHS, yang bisa membuat cewek manapun meleleh hanya dengan satu kerlingan mata.

Ha? Masa' sih?

.

.

Pada suatu sore, ketika bel pulang sekolah baru saja berbunyi,..

"Sakura, pinjam catatan Bahasa Perancis, donk! Aku fotokopi sebentar, ya!" pinta Sasori. Besok ada ulangan Bahasa Perancis dan Sasori yang murid baru, tentu catatannya tidak selengkap Sakura.

"Oh, iya.. Ini" kata Sakura memberikan catatan Bahasa Perancis-nya asal saja, kemudian melanjutkan aktivitas membereskan tasnya, namun terhenti melihat Sasori mengerinyit. Namun, yang jadi perhatian Sakura adalah bukan sebab kenapa Sasori mengerinyit, tetapi bagaimana mungkin seseorang bisa begitu IMUT hanya dengan mengerinyit? Sakura berjanji akan berlatih mengerinyit di depan cermin nanti, dia juga ingin seimut Sasori.

"Kau yakin ini bukunya?" Tanya Sasori memecah lamunan Sakura. Sakura terpekik melihat buku yang dipegang Sasori. itu adalah buku yang penuh dengan grafiti nama Sasuke, ternyata dia salah memberikan buku. Kemudian, Sakura langsung merebutnya dari Sasori, dan menggantinya dengan buku catatan Bahasa Perancis yang sebenarnya. Wajah Sakura memerah, lebih merah dari rambutnya sendiri. Sekilas, Sasori memandangnya dengan ekspresi yang sulit diartikan, meski masih seimut boneka. Halo, ekspresi apa itu? Sedih? Kecewa? Sakura mengerjapkan matanya dan melihat lagi pada Sasori, ekspresi Sasori biasa-biasa saja sekarang. 'Mungkin aku terlalu banyak perasaan. Menulis nama Sasuke kan tidak melanggar hukum.' bela inner Sakura.

"Sakura-chan,…" panggil Sasori. Sakura merasa wajahnya memanas.

"…"

"…"

".. Sakura-chan, kau menyukai Uchiha Sasuke?" tanya Sasori tidak percaya, akhirnya.

"…"

Sakura tidak mengangguk ataupun menjawab, segala ekspresi dan bahasa tubuhnya sudah cukup berbicara sangat lantang bahwa dia menyukai Sasuke Uchiha . Sasori juga tidak berbicara, menunggu. Setelah hening beberapa lama, Sakura menjelaskan pada Sasori bahwa dia sudah menyukai Sasuke semenjak SMP.

"Lalu, kenapa kau tidak datang saja padanya dan mengungkapkan perasaanmu? " saran Sasori, ekspresi nya masih imut seperti biasa, tapi nada suaranya agak getir.

"Dia itu… berbeda, Saso-kun. Dia agak dingin dan susah dekat sama orang lain, terutama anak perempuan. Mungkin karena dia terlalu jengah karena dia terkenal dan terlalu banyak anak perempuan yang berusaha mendekati dia. " Tak lupa, Sakura menceritakan kejadian waktu dia menyatakan perasaan kepada Sasuke dalam perjalanan mereka pulang.

"Aaah,.. aku bingung, Saso-kun. Bagaimana caranya agar dia bisa menerima perasaanku?" kata Sakura lemas di akhir curhatan panjangnya.

"Yasudah, kau harus percaya diri dan dekati dia! Buat dia terkesan dan akhirnya menyukaimu!"

"..Dia tak suka didekati..."

"Maksudku, kau kan bisa melakukannya secara implisit. "

"Lho, Bagaimana?"

.

.

Keesokan harinya, pada jam istirahat..

.

.

Jam istirahat telah tiba. Namun, Sakura tidak bersama Ino ataupun Sasori. Ino sedang bersama Sai, si muka pucat itu. Sedangkan Sasori harus menghadiri pertemuan ekskul seni. Sakura sedang melangkahkan kakinya ke ruangan ekskul sepakbola. Sakura agak gugup dan bergetar, teringat dengan rencana yang disusunnya bersama Sasori kemaren sore.

Flashback On

"Kau harus melakukannya secara implisit."saran Sasori.

"Lho? Bagaimana?"

"Kau masuk ke dalam dunianya, menjalani aktivitas yang sama dengannya. Meski sedikit, yang penting itu adalah menjalin interaksi terlebih dahulu. Buat dia nyaman dengan kehadiranmu, semakin lama tingkatkan interaksinya, jaga agar dia tetap merasa nyaman, terus, sampai dia akhirnya pelan-pelan menyukaimu.."Sakura mengerinyit mendengar saran Sasori. Sakura merasa agak hopeless, hal seperti itu kan seperti yang umumnya akan dilakukan FG Sasuke mana saja.

"Lalu? Sepertinya semua FG Sasuke akan berusaha melakukan seperti pasti tahu dari gelagatnya, dan menjauhi mereka, termasuk aku.."

"... makanya, lakukan secara implisit. Kau mungkin tidak akan behasil berburu burung dengan langsung muncul dihadapannya dengan mengacung-acungkan senapan angin, si burung pasti akan terbang terpontang-panting. Jadi, kau harus bersembunyi di semak-semak dan memancingnya dengan remah-remah roti, kemudian menjaringnya dengan perangkap.." lanjut Sasori sok bijak. Sakura yang sudah mengerinyit, semakin mengerinyit. Memangnya Sasuke itu burung? Sakura tak yakin Sasuke bisa dipancing dengan remah-remah roti, sementara dirinya menunggu dibalik semak-semak dengan perangkap, jaring mungkin.

"Singkat-singkat aja deh, Saso-kun. Aku harus bagaimana?" Sakura memotong ceramah Sasori.

"Aktivitas apa yang suka dilakukan Sasuke?"

"Dia suka sepakbola."

"Nah, itu dia. Masuklah ekskul sepakbola, jalin interaksi disana, dan hati-hati.."

"Penerimaan anggota ekskul kan tiap awal tahun ajaran. Kalaupun aku bisa masuk, itu tak akan efektif. Semua FG Sasuke pasti mencoba cara ini, dan Sasuke membenci itu semua."

"...Makanya, jangan lakukan terang-terangan seperti mereka. Kau kan bilang kalau kau cukup temenan waktu SMP, berawal dari pertemanan dulu saja..." Sakura masih mengerinyit.

"Setelah semua yang aku lakukan untuk bisa berinteraksi dan dekat dengannya, bagaimana kalau dia masih tak menyukaiku?"protes Sakura. Sasori terdiam sejenak.

"Setidaknya, kau sudah berusaha kan? itu kan lebih konkret daripada kau cuma bengong sambil menulisi nama Sasuke di buku tulis." Kata Sasori.

"Lagipula, ada desas desus kalau manajer tim sepakbola kita, Rin-senpai, mengikuti studi banding ke Eropa sementara waktu, kalau cuma magang, pasti dibolehin.." tambah Sasori.

Flashback off

.

Saat ini, Sakura sudah berada di dalam ruangan ekskul sepakbola, berhadapan dengan Shion, wakil ketua ekskul sepakbola.

"Aku sungguh hanya ingin membantu. Aku akan melakukan yang terbaik selama Rin-senpai tidak ada," kata Sakura sungguh-sungguh pada Shion.

"Kenapa kau tiba-tiba ingin membantu? Yakin, tidak ada tujuan khusus? Bagaimana mungkin kau bisa melakukan tugas-tugasnya? Kau belum berpengalaman sama sekali, nanti kau hanya akan menyusahkan. Kau kan bukan member klub ini."sahut Shion galak, tapi masuk akal.

"Aku,…"

"Tidak apa-apa, Shion…" Sahut sebuah suara dalam yang tiba-tiba masuk ruangan. Sasuke. Sakura mencelos, berusaha memandang apa saja selain Sasuke, tong sampah dekat pintu jauh lebih menarik.

"Tapi,.." sahut Shion,

"Dia bagus kok. Dulu waktu SMP dia sekretaris umum klub badminton. Lagipula, membantu saja tidak apa-apa. Kita kan memang butuh tenaga bantuan, terutama untuk persiapan kompetisi Konoha Cup dua minggu lagi." Sasuke tumben berkata agak banyak. Sakura jadi punya alasan untuk mengalihkan pandangannya dari tong sampah jelek itu dan memandang Sasuke sambil memberikan senyuman terimakasih. Sasuke balas memandangnya sekilas dan tersenyum samar, sebelum mengambil bola sepak dari lemari penyimpanan dan keluar dari ruangan sambil bermain-main dengan bola sepak itu, membuat Sakura sumringah dan tentu saja blushing tidak terlihat berpikir sebentar.

"Sebenarnya aku tidak terlalu percaya padamu, tapi karena Sasuke memujimu, aku akan menerima tawaranmu. Aku akan mengurus surat-suratnya. Kau kuanggap saja magang di klub ini, setidaknya itu sedikit memastikan keterikatanmu sehingga kau akan punya tanggung jawab sendiri diklub." kata Shion akhirnya.

"Terimakasih."

"Oh, dan jangan lupa, nanti sepulang sekolah ada rapat perencanaan untuk persiapan Konoha Cup. Datang ya!" kata Shion sambil lalu sambil mengambil sebuah map dari rak, dan membolak-baliknya.

"Baik." kata Sakura, kemudian pamit meninggalkan ruangan. Ketika berjalan dikoridor, Sakura berjalan lambat-lambat sambil mengatupkan tangannya pada mulut. Setelah agak jauh, Sakura berlari, mata emeraldnya kesana kemari mencari sosok boneka hidup berambut merah, sahabatnya.

.

Sementara itu,..

Di halaman belakang sekolah, Sasori yang sudah menyelesaikan pertemuannya dengan klub seni, terlihat sedang duduk santai dibangku taman dibawah pohon yang rindang. Diatas meja, ada beberapa kertas HVS kosong, disampingnya ada sebuah binder dan beberapa kertas yang berisi coretan dan gambar-gambar. Sasori yang ditugaskan sebagai penanggung jawab konsep dan dekorasi pensi tingkat nasional yang akan diadakan KHS bulan depan terlihat sedang menerawang, lalu menggambarkan semacam sketsa pada kertas kosong dihadapannya. Beberapa kelompok anak perempuan yang melintas didepannya berbisik-bisik, menunjuk-nunjuk ke arah Sasori, terkikik, dan berjalan cepat-cepat sambil saling goda satu sama lain. Sasori menunduk memandang sketsanya. Dia baru akan menambahkan sesuatu, namun tidak jadi, ketika sesuatu mengganggu konsentrasinya. Seorang gadis cantik menari-nari dalam pikirannya. Sasori meletakkan pensil, meraih bindernya dan mengeluarkan kertas putih jadwal pelajarannya pada lembaran plastik yang terdapat pada lipatan kulit binder. Dibalik kertas jadwal tersebut, terdapat beberapa foto seorang gadis cantik berambut pink yang tersusun rapi. Foto-foto tersebut tersusun seakan-akan menceritakan transformasi gadis itu dari usia TK sampai SMA. Beberapa foto tersebut, yaitu yang seusia TK dan SD memang sudah ada dan disimpan Sasori semenjak dulu, sementara yang lainnya diambil dari situs jejaring sosial dan diprint sendiri. Pandangan Sasori melembut memperhatikan susunan foto-foto tersebut begitu rupa, sehingga seakan-akan Sasori berbicara dengan foto itu.

Benar, Sasori Akasuna ternyata diam-diam jatuh hati pada sahabat kecilnya, Sakura Haruno, tanpa ada seorang pun yang tahu.

Sasori menengadahkan kepalanya, menatap langit, kebiasaan yang selalu dia lakukan kalau hatinya sedang dilanda kegalauan. Siapa yang tidak galau begitu mengetahui orang yang dicintai ternyata mencintai orang lain? Sasori yang sedang asyik bersendu-sendu ria dengan langit biru tak menyadari bahwa ada angin topan berwarna pink sedang melaju dengan kecepatan tinggi dari arah yang merupakan sudut mati penglihatannya.

"Kyaaaaaaaaaa, Sasooooo-kun!" teriak Sakura histeris, meluapkan kegembiraannya, menarik tegak Sasori, dan memeluknya sambil melompat-lompat. Yang dipeluk bukan main kagetnya, terbelalak kaget, sangat pucat pasi, dan gelagapan berusaha melepas pelukan Sakura. Sasori sangat bersyukur, mengetahui bindernya telah tertutup secara tak sengaja oleh angin kedatangan Sakura. Beberapa anak perempuan mendecih sangat keras, tapi Sakura tak peduli.

"Ups, maaf Saso-kun!" kata Sakura, melepas pelukannya agak tersipu. Tapi, Sakura tak memberi waktu Sasori untuk bernapas dan langsung menceritakan semuanya dengan berbinar-binar.

"... dan akhirnya, justru berkat Sasuke-kun aku bisa magang di ekskul sepakbola! Ah, aku tak menyangka dia tak menganggapku pengganggu atau mencurigaiku! Dia bahkan tersenyum padaku, Saso-kun! TERSENYUM! Aku sangat senang Saso-kun! ... Ah, maaf!" Sakura sudah akan memeluk Sasori lagi, namun Sasori menjauhkan badannya, tak ingin Sakura mendengar suara jantungnya yang masih berdentum-dentum keras akibat pelukan pertama mereka tadi.

"Ah,.. aku ikut senang, Sakura-chan!" kata Sasori tersenyum tulus sambil memegang lengan Sakura dan mengguncangnya sedikit, lalu mengacak-acak rambut pinknya, kemudian membereskan binder dan kertas-kertas, bersiap menuju kelas Biologi karena jam istirahat sudah hampir berakhir. Sakura berjalan disampingnya.

"Sasori, aku sangat beruntung bisa bersahabat denganmu. Sebenarnya aku merasa agak aneh, karena bercerita dengan teman lelaki, biasanya kan anak perempuan saling cerita pada anak perempuan. Tapi, coba kau lihat Ino? Dia sibuk dengan pacarnya sendiri, tak membantuku sama sekali, malah selalu menggodaku.."kata Sakura panjang lebar.

"... kalau saatnya nanti, kau yang menyukai seorang anak perempuan, aku pasti akan membantumu, Saso-kun.." sambungnya lagi.

"Benarkah?"

"Pasti. Aku akan melakukan yang terbaik. Aku berjanji."

Sasori hanya tersenyum. 'Apa yang akan kau lakukan untuk membantuku, Sakura, kalau orang yang kusukai adalah kamu?'katanya dalam hati. Miris.

.

.

Minggu-minggu berikutnya, Sakura disibukkan dengan aktivitas ekskul sepakbola. Ternyata, mengikuti ekskul sepakbola sangat melelahkan, terutama dalam pengaturan jadwal pertandingan. KHS adalah sekolah ternama di Konoha, dan memiliki jam pelajaran serta tugas yang lebih banyak dari sekolah lainnya. Jadi, pengaturan jadwal agar bisa cocok dengan kompetisi Konoha Cup, sangat krusial,rumit, dan butuh perjuangan yang panjang. Belum lagi, penjadwalan latihan, akomodasi, dan sebagainya. Meskipun lelah, Sakura sangat senang karena bertemu lebih sering dengan Sasuke diluar jam pelajaran. Setiap bertanding, Sakura membawakan bento untuk Sasuke. Semuanya ide Sasori. Responnya?

.

Pada suatu sore, sehabis latihan,…

"Sasuke-kun, aku membawakan bento untukmu.." kata Sakura sambil mati-matian menjaga warna mukanya. Sasuke menaikkan alisnya.'Bento? Lagi?' Seakan-akan itu arti tatapan Sasuke.

"Hn. Terimakasih.." jawab Sasuke, lalu mengambil kotak bento itu dari tangan Sakura. Sakura sangat senang, biasanya Sasuke hanya menjawab dengan "Hn,". 'Sasuke mengucapkan TERIMAKASIH!Oh, Tuhaan!' jerit batin Sakura kegirangan, dia sudah tak sabar ingin memberitahukan Sasori. Orang yang sedang jatuh cinta memang suka aneh-aneh. Bahkan hanya sebuah kata "TERIMA KASIH" bisa membuat seseorang yang sedang jatuh cinta melambung hingga langit ketujuh. Ckckckckkc k.

.

Keesokan paginya,..

.

Sakura menceritakan tentang Sasuke dan ucapan terimakasih yang langka yang keluar dari mulutnya dengan berbinar-binar.

"... Lalu, bagaimana menurutmu, Saso-kun? Remah-remah rotinya manjur, kan? Apa aku boleh menebarkan jaring sekarang? Tenang saja, aku tetap akan bersembunyi dibalik semak-semak" tanya Sakura polos. Sasori mengerinyit.

"Sepertinya tidak apa-apa kalau aku mencoba sms dia. Terlalu kah, kalau aku hanya ingin mengucapkan selamat pagi?" sambung Sakura. Sasori berfikir sebentar.

"Tidak.."

Sakura mengetik dengan iphone-nya.

To : Sasuke-kun

Selamat Pagi, Sasuke-kun. Semoga menjalani hari yang indah.

Kemudian, Sakura menekan tombol send. Sasori kini sedang sibuk dengan sketsanya. Sakura masih menunggu dengan cemas.

"Dia tak membalas, Saso-kun!" kata Sakura panik, lalu mengguncang-guncang Sasori.

"Apa sms ku berlebihan?" Sasori melihat iphone Sakura, lalu menggeleng. 'Apa yang salah dengan "Selamat Pagi", dan "Semoga menjalani hari yang indah"? 'Sasori tidak mengerti.

"Mungkin dia sedang di jalan atau apa.." kata Sasori asal, lalu melanjutkan sketsanya.

Lima belas menit kemudian, Sakura mendengar iphone-nya berbunyi. Ada satu pesan masuk.

From : Sasuke-kun

Hn

Sasori yang ikutan membaca sms itu nyaris terjungkal dengan tidak elitnya. 'Halo, apa-apaan cowok itu? Kenapa hanya "Hn"? Apakah akan menghancurkan dunia kalau dia membalas "Selamat Pagi, juga." Atau "Terimakasih" atau "Ada apa, Sakura?" Apakah itu tidak sesuai dengan kode etik Uchiha?'

Sasori menoleh. Sakura sedang tersenyum-senyum sendiri dan blushing. Sasori geleng-geleng. Bahkan hanya dua konsonan "Hn" mampu membuat Sakura tersenyum begitu cantik. 'Sebegitu bahagianyakah mendapatkan sms darinya, Sakura?' kata Sasori dalam hati, tersenyum senang melihat Sakura bahagia, meski sesuatu dalam dadanya terasa menggeliat-geliat sakit.

.

.

Sakura yang menganggap positif reaksi Sasuke tersebut mulai mengirim sms pada Sasuke setidaknya sepuluh kali sehari (Sakura menginginkan dua puluh sms awalnya, tapi tidak disetujui Sasori) dengan sms perhatian sederhana yang hanya berbunyi "Selamat Pagi", "Selamat Siang", "Selamat Malam", " "Selamat Makan", "Selamat mengerjakan PR", "Selamat Tidur", Well, hampir semuanya memakai kata awal "Selamat" kecuali "Semoga menjalani hari yang indah".. Awalnya Sakura mencak-mencak protes sama Sasori karena isi smsnya terlalu pendek, dia sangat ingin menambahkan smsnya dengan "Lagi Ngapain?","Udah Makan?", "Lagi mikirin kamu","Jalan, yuk!" dsbnya tapi, Sasori bilang jangan karena bisa merusak mood Sasuke. Hasilnya tidak terlalu mengecewakan. Tidak semua sms Sakura dibalas Sasuke. Sebagian sms Sakura dibalas dengan 'Hn' ( hanya dua huruf konsonan 'H' dan 'N', tidak kurang tidak lebih), sebagian lagi tidak dibalas, kalau lagi baik, Sasuke membalas dengan tujuh huruf saja yaitu "BERISIK". Menurut Sakura , semuanya salah Sasori karena melarang Sakura untuk mengetik sms lebih dari dua kata yang salah satu awalannya adalah "SELAMAT", sehingga dia melanggar petuah Sasori dengan mengirimkan puisi yang dibuatnya semalaman suntuk sepanjang empat halaman. Balasannya? "KAMU MENYEBALKAN, SAKURA" dan Sasuke menolak untuk membalas sms apapun dari Sakura selama beberapa hari berikutnya.

Setiap hari, Sakura tak lelah menghitung kemungkinan Sasuke akan membalas perasaannya dengan me-record seberapa banyak Sasuke membalas sms-nya, berapa banyak huruf sms-nya kalau Sasuke membalas, atau apakah ada pertanyaan balik yang diajukan Sasuke.

Hasilnya?

Dari total dua ratus sms dalam dua puluh hari, yang dibalas Sasuke hanya Sembilan puluh delapan sms, tujuh puluh lima diantaranya hanya berisi dua huruf keramat "HN", sisanya lima belas "BERISIK", tujuh sms kosong dan satu "KAMU MENYEBALKAN, SAKURA".

.

.

Sakura yang begitu konsentrasi pada Sasuke, tak merasakan berlalunya waktu sama seperti para murid KHS lainnya yang tidak menyadari telah melewatinya begitu saja, karena kesibukan mereka masing-masing. Sakura dengan misi mendekati Sasuke, juga ekskul sepakbola dan turnamen Konoha Cup-nya, Sasori dengan pensi nya, Ino dengan pacar barunya, Naruto dengan OSIS-nya, Kiba dengan anjing peliharaannya, Shikamaru dengan tidur-lima belas-jam-sehari-nya, dan lain-lain sebagainya. Dan semua itu belum termasuk pelajaran mereka yang semakin hari semakin susah.

.

Dan, siapa sangka satu bulan berlalu begitu cepat?

.

.

Pada suatu pagi,..

Seperti biasa, Sakura dan Sasori selalu datang lebih awal daripada yang lainnya.

"Jadi?" Sasori memulai. Menanyakan Sasuke, apalagi coba.

"Kemaren hari yang sangat buruk. Sasuke-kun cuma membalas dua sms yang isinya 'Hn'" Sakura menundukkan kepalanya. Sasori menghela napas panjang.

"Track Record-nya sangat buruk. Dalam sehari, dia hanya membalas paling panyak lima sms. Kemaren dia hanya membalas 2, kemaren lusa 1, kemarennya lagi 3, trus 4, 2 lagi.. Ohhh,.. Kenapa responnya semakin lama semakin jelek ya?" ujar Sakura lemas sambil menekankan jidatnya ke meja.

"Apakah aku pernah ada dihatinya? Mungkinkah aku jadian dengannya?"

"Bagi seseorang seperti Sasuke, mendapat balasan smsnya lima kali sehari, menerima bento, dan membiarkanmu membantunya, semuanya merupakan sinyal positif. Dari ceritamu, nasib FG Sasuke yang lain sangat menyedihkan. Meski dia tak membalas sms, sikapnya di ekskul tak berubah menjadi lebih dingin kan?" hibur Sasori, hanya tak ingin melihat Sakura kelihatan berputus asa.

"Hmm. Iya, sih. Benarkah? Benarkah itu, Saso-kun?" Sakura langsung berbinar-binar dan menggucang-gucangkan tangan Sasori. Tapi, Sakura sangat heran, karena Sasori diam saja dan malah menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan, meski masih seimut boneka.

"Tapi, sepertinya sudah saatnya kau mencoba cara lain." ujar Sasori pelan masih memandang Sakura dengan pandangan yang aneh. Pandangan apa itu? Sendu? Tapi, pandangan entah apa itu langsung berubah menjadi pandangan heran, ketika Sasori memperhatikan mimik Sakura.

"Kenapa?"Sasori menaikkan sebelah alisnya.

"Mmm.. Sebenarnya aku.. aku…"

"Kenapa, Sakura?" Sasori semakin curiga.

"Mmm.. Aku tak bisa menahan diri. Jadi,.. Jadi… Aku kemaren mengirimkan sms yang panjang, mungkin empat lembar. Aku membuat sebuah puisi dan mengirimkannya.." ujar Sakura sangat pelan dengan nada yang penuh rasa bersalah.

Hening sejenak.

"Dibalas?"

"KAMU MEMANG BENAR-BENAR SANGAT MENYEBALKAN, SAKURA" jawab Sakura pelan.

Kalau bukan Sasori, pasti sudah menepuk jidatnya dengan keras dan menceramahinya. Tapi, ternyata Sasori agak OOC kali ini. Dia menyentil jidat Sakura.

"Aduh!"

"Baka. Sudah kubilang, bersabarlah sedikit. Sasuke tak suka hal yang mencolok dan norak seperti itu." ujar Sasori sambil menangkap tangan Sakura yang berusaha membalas sentilannya, sekilas mereka terlihat seperti berpegangan tangan. Tigaanak perempuan masuk dan mendelik kearah Sakura sambil menghentakkan kaki dan sengaja menghempaskan tasnya ke meja keras-keras.

"Kau bicara seperti kau mengenal Sasuke lebih dari aku. Kau saja belum dua bulan berada disini."ujar Sakura menggembungkan pipinya, melepaskan genggaman Sasori. Sasori tersenyum.

"Berarti memang sudah waktunya." Ujar Sasori sambil mengambil buku Matematika dari dalam tas.

"Apa?"

"Mengganti taktikmu."

"Bagaimana?"

"Hmm.. Hentikan saja semuanya. Berhenti mengiriminya sms, berhenti magang di ekskul sepakbola, juga membawakan bento." Ucap Sasori datar. Sakura terbelalak.

"Eeeeehhhhh?"

"Waktunya memng sudah tepat, kan? Rin-senpai baru saja pulang dari Amerika kemarin sore..."

"Eehh?Tapi, aku tetap tidak mau berhenti sms dan membawakan bento!Tidak, aku tidak mau!" Sakura mentah-mentah. "Bagaimana aku bisa jadian dengannya, kalau begitu? Tak masuk akal!" semburnya. Ekspresi Sakura melunak melihat Sasori menatapnya. Hening sejenak, sebelum dua anak perempuan masuk dengan menghempaskan pintu, membuat keduanya terlonjak kaget. Sakura melihat dua anak itu mengacung-acungkan tinju kearahnya, sementara Sasori tidak melihat dan masih menatap Sakura dengan pandangan bonekanya. 'Huh, sampai kapan mereka akan bertindak bodoh?'jerit innernya.

"Dengar, kenapa kau tidak jadian saja dengan salah satu dari mereka, agar mereka bisa kembali normal dan berhenti bersikap tidak jelas? Sebagian besar dari mereka benar-benar cantik dan pintar, dan aku bersumpah ada yang benar-benar cocok untukmu!" sungut Sakura. Dan, seperti biasa, Sasoriselalu mengabaikan topik tentang FG-nya sendiri.

"Kau kan sudah memberikan tanda-tanda perhatian, sudah agak lama juga kan? Sekarang saatnya menunggu feedback dari dia. Kalau dia memang menyukaimu, dia pasti menuntut perhatianmu lagi, Sakura. Kalau kau tiba-tiba mencuekin dia, dia pasti penasaran dan protes, minta diperhatikan lagi." Kata Sasori diplomatis. Sakura menaikkan alisnya, tidak yakin.

"Cowok terkadang tidak suka kalau anak perempuan terlalu nekat. Malahan, dia kadang menyukai anak perempuan yang membuat penasaran. Perhatikan dia beberapa lama,ketika responnya agak positif lalu cuekin pasti penasaran dan menuntut perhatian lagi." ujar Sasori lagi. Sakura melunakkan ekspresinya.

"Benarkah?"

Sasori mengangguk dan tersenyum. Sakura memperhatikannya, tak pernah tidak takjub dengan pandangan hazelnya yang polos seperti boneka, kulit semulus bayinya, rambut merahnya, benar-benar cute, mau tidak mau Sakura ikut-ikutan tersenyum. 'Sasori memang sahabatku yang terbaik.'

Kemudian, tiba-tiba,..

"Ha!" Ino muncul mengagetkan mereka berdua. Sakura terpekik, sementara Sasori blushing entah kenapa.

"Inoooooooooo-pig! " ujar Sakura kesal, mencoba menjitak Ino..

"Kalian mesra banget, selalu berdua-dua kemana-mana. Kenapa sih, kalian tidak mau mengaku? Jadian saja, kenapa sih? Bukannya kalian saling suka? Terlihat jelas lhooooooooooo… Tuuh, pada merah semua. Cieeee cieeeeeee" lengking Ino dengan suara ultrasoniknya. Sakura siap membalas dengan 'Kau yang selalu meninggalkanku, demi si muka pucat, Baka!' namun tidak jadi, karena kemunculan Sasuke yang menatap kearah mereka sekilas, kemudian duduk dibangkunya. Sakura blushing. DEG! Benarkah kata Sasori, bahwa semua respon dingin Sasuke selama ini artinya POSITIF? Sakura ingat betul bahwa bukan sekali dua kali Sasuke menoleh kearah mereka, sewaktu Ino menggoda dia dan Sasori, meski Sakura lebih curiga bahwa itu lebih dikarenakan suara lengkingan ultrasonic Ino yang memekakkan telinga. 'Tapi, toh, dia membalas smsku dan memakan bento-ku? Sasuke bahkan tahu nilai ulangan fisika ku jelek, dan menyuruhku belajar keras! Dan yang paling spektakuler, membuatku masuk ekskul sepakbola!' sahut inner Sakura tak mau kalah. Sakura tersenyum senang.

"Baiklah, Sasori-kun. Mungkin mengacuhkannya adalah ide yang bagus." Sahut Sakura pada Sasori, kemudian bel berbunyi.

.

.

.

Esoknya,.. tempat yang sama, waktu yang sama..

.

.

.

"Kau benar-benar tak menghubunginya, Sakura-chan?" Tanya Sasori penasaran.

"Tidak. Lalu, aku harus bagaimana?"

"Yaa,.. tunggu saja, apakah dia akan merasa penasaran atau tidak. Kalau dia memberikan sedikit perhatian, berarti kau berhasil.." ujar Sasori tersenyum.

"Uwaaaaaaaa,… Sasoriii-kun! Kau memang sahabatku yang paling baiiiiiikkkk!" pekik Sakura sambil memeluk Sasori yang gelagapan, yang mukanya langsung memerah, semerah rambutnya. Sakura langsung mendorong Sasori begitu kepala pirang Ino muncul. Dia sedang tidak berminat mendengar suara lengkingan ultrasonic Ino. Tapi, terlambat. Ino sepersekian detik melihat adegan Saku-peluk-Saso, dan sudah mau membuka mulutnya ketika Kabuto-sensei datang, dan…

KEJUTAN!

Kabuto sensei membawa seorang anak perempuan berambut indigo sepinggang dan bermata lavender yang sangat cantik. Semua anak lelaki bersuit-suit.

"Na-nama saya Hyu-Hyuuga Hinata. Sa-salam kenal…" ujar gadis itu, sepertinya sangat gugup.

"Baik, Hinata, kamu akan duduk disamping Kiba. Kiba, ancungkan tanganmu!" kata Kabuto-sensei. Kiba yang duduk didepan Sasori langsung mengacungkan tangannya antusias. Hinata berjalan anggun menuju bangkunya yang berada persis di depan Sakura sambil diikuti semua pasang mata, takjub karena Hinata memang sangat cantik. Hinata menundukkan kepalanya, menutupi wajahnya yang memerah. 'Hm, anak yang pemalu. Aku harus membantunya.'gumam Sakura. Pelajaran Fisika dimulai.

Seluruh murid KHS punya segudang alasan untuk membenci Kabuto-sensei, si guru fisika baru yang sangat muda dan lulusan Universitas Tokyo dengan peringkat cumlaude. Meski masih muda, Kabuto-sensei tak segan memberikan pelajaran dan soal-soal latihan serta PR yang sangat banyak. Bahkan, sebagian besar pelajaran dan tugas-tugas yang diberikan merupakan bahan perguruan tinggi. Semua anak kesal, tapi tak bisa berbuat banyak. Disela-sela mengerjakan dua puluh soal latihan yang kebanyakan merupakan penguraian konsep, Sakura menyempatkan diri melirik seluruh keadaan kelas. Matanya serasa berair, lehernya sangat pegal. Sakura bisa merasakan aura mencekam di seluruh kelas karena soal yang begitu susah. Naruto sedang mengacak-acak rambut jabriknya, frustasi. Kiba sudah lupa untuk memasang muka manis pada Hinata, mengerjakan soal tersebut dengan sangat serius, bibirnya kelihatan maju beberapa senti saking seriusnya. Shikamaru, si rambut nanas, sudah tertidur pulas, tanpa ada yang peduli. Sakura sangat kesal dan penasaran, bisa-bisanya Shikamaru TIDUR, sementara semua orang tersiksa mengerjakan semua soal-soal dewa itu. Berdiri dari kursinya, Sakura maju ke meja Shikamaru dan menyambar buku latihannya. Ya Ampuuun, semuanya sudah selesai! Sakura membaca hasil pekerjaan Shikamaru, semakin lama jidat lebarnya semakin berkerut melihat jawaban-jawaban Shikamaru yang sangat panjang dan penuh dengan bagan-bagan serta rumus-rumus. Tapi, Sakura tak mengerti sama sekali karena tulisan Shikamaru sangat cakar ayam, seperti tulisan dokter, tinggal dibawa ke apotik dan ditukar dengan obat mencret.' Orang jenius memang aneh-aneh dan menyebalkan.' geram Sakura.

"Percuma saja. Aku juga sudah melihatnya tadi. Tak ada yang bisa membaca tulisan Shikamaru, aku tak mengerti sama sekali. Lebih baik kau kerjakan saja sendiri." kata Kiba seakan membaca isi jidat lebar Sakura sambil lalu,masih tak sadar memonyongkan bibirnya karena terlalu serius.

Sakura kesal, menghempaskan buku Shikamaru tepat di puncak kepalanya. Shikamaru terlompat bangun, dan Sakura terbirit kembali ke kursinya. Namun, dalam waktu kurang dari semenit, Shikamaru sudah tertidur pulas lagi. Sakura mendengus kesal. Di sebelah kiri, Ino terlihat sangat kuyu dan terlilit rambutnya sendiri karena terlalu sering dipilin-pilin, reflex tak sengaja ketika berfikir, namun masih bisa menulis dengan gerakan tangan yang sangat cepat. Sakura melihat, Ino sudah mau menyelesaikan nomor tiga belas, sementara dia masih nomor sebelas. Tak mau ketinggalan, Sakura mengerjap-ngerjapkan matanya dan membaca soal nomor sebelas.

Terangkan dan buktikan penguraian rumus berikut ini.

Sakura mengerinyit. Dia belum pernah melihat grafik melengkung yang polanya tidak beraturan seperti itu. Dia membolak-balik bukunya, dia tak menemukan grafik seperti itu dimana-mana.

"Saso-kun, kau sudah mengerjakan nomor sebelas?"

"Aku juga lagi buat. Sepertinya, kita harus mengerti konsep "In" terlebih dahulu." Jawab Sasori, sambil menuliskan kata "In" pada lembar soal Sakura.

"Apa itu?" Sakura mengerinyit. Satu-satunya yang mirip dengan "In" yang Sakura tahu, adalah isi sms Sasuke yang isinya dua konsonan"Hn", tersimpan berpuluh-puluh dalam inbox iphone-nya. Tapi, Sakura tidak cukup gila untuk menyatakan pendapatnya tentang hubungan antara "Hn" dan "In" pada Sasori.

"Kakashi-sensei pernah menyebutkannya sekali. Penguraian "In" terdapat pada subtopic Kalkulus Lanjutan, yang seharusnya kita pelajari di Perguruan Tinggi, itu juga kalau jurusan kita Sains atau Teknik." Ujar Sasori juga mengerinyit, tapi malah membuatnya makin imut.

"Haaahh? Kupikir, kita saat ini belajar FISIKA 2 SMA?" Sakura terbelalak. Sasori mengangkat bahu.

"Aplikasi Kalkulus tentu dipakai pada setiap bidang Sains, termasuk Fisika."katanya datar tanpa ekspresi.

"Iiih, Kabuto-sensei MENYEBALKAN! Ino, lihat nomor sebelas doonk!" rungut Sakura. Ino hanya memperlihatkan jawaban nomor sebelas yang tidak ada tulisannya dengan susah payah, karena masih berusaha membuka belitan rambutnya sendiri pada lehernya. Terlalu serius mengerjakan soal ternyata bisa membuat jiwamu terancam.(?)

"Lalu, bagaimana?" Tanya Sakura putus asa.

"Bawa ipad? Coba kamu browsing dan download e-booknya." Kata Sasori tanpa menoleh, dia sedang menggambar-gambar grafik entah apa. Dengan malas dan mengerinyit, Sakura memutar badannya, memengambil ipad dari ransel pink-nya dan tiba-tiba…

DEG!

Sakura merasa ada kilatan onyx sekilas bertatapan langsung dengan emerald-nya. Jantungnya langsung berdebar-debar. Refleks, Sakura langsung menghadap ke depan. Tangannya yang masih menggenggam ipad berkeringat dingin. 'Apakah aku tak salah lihat? Tadi, Sasuke sedang memperhatikanku?' Sakura bergeming beberapa saat, kemudian memberanikan diri melihat kea rah sudut kanan belakang. Tepat di tempat duduknya, Sasuke Uchiha, the Ice Prince dari KHS sedang memalingkan wajahnya dari Sakura, mengahadap tembok kelas yang kosong dengan leher dan telinga yang … memerah?

Sasuke blushing? Demi apapun diatas dunia ini, Sasuke...blushing?

'OMG! Jadi, tadi dia memperhatikan aku?'

'Oh, Tuhaaan!'

Sakura kembali menghadap ke depan dan menoleh pada Sasori. Sakura tak percaya bahwa taktik mengacuhkan Sasuke berhasil secepat ini.

.

.

TBC

Author's Note

Well, kali ini Fany minta maaf karena fic nya sangaaaat panjang dan updatenya sangat lamaaaaa, malah kerasanya makin abal. Hiks-hiks. Fany hanya bisa berharap, semoga fic ini masih layak dibaca dan tidak membosankan. Karena itu, Fany sangat menginginkan review. Dilanjutkan kah? Bagaimana pendapat readers sekalian?.

Special Thanks :

Midori Kumiko, Sasori No Danna (my Imouto), Putri Luna,Hikaru Kin , ss holic, Eky-chan, Rizuka Hanayuuki, Anasasori29,all silent readers.

Terima kasih karena sudah membaca dan mereview fic jelek ini, aku jadi semangat melanjutkannya.

Happy Reading^^