Disclaimer : Masashi Kishimoto
This fic is belong to : Tiffany90
Genre : Romance/Drama/Friendship
Warning : fic pertama, banyak kekurangan. Hinata sangat OOC.
Pairng : sudah ketebak, belum? ^^
Character : Sakura Haruno
Sasuke Uchiha
Sasori Akasuna
Ino Yamanaka
dll
CHAPTER 4
"Ah, Sakura. Kau ini kelamaan.. aku sudah menemukan turunan rumusnya. Ternyata In itu..."ucapan Sasori terhenti karena melihat ekspresi Sakura yang mematung. Sasori menaikkan alisnya, dan Sakura hanya tertawa gugup dan melanjutkan menyelesaikan tugas fisikanya, tapi tak bisa berkonsentrasi.
Sakura POV
Perasaanku tidak enak. Kenapa sih aku harus tidak sengaja bertatapan dengannya? Dan, kenapa dia harus memalingkan mukanya, dan aku melihat leher dan telinganya memerah. Yang sedang kubicarakan ini adalah Sasuke Uchiha, lho. Seumur-umur tak ada yang pernah melihatnya blushing karena apapun. Karena itu demi apapun, tak boleh kah aku merasa ge-er? Sangat susah kalau kau menyukai seorang cowok, hal terkecil yang dilakukannya pun akan membuat kau merasa seperti melayang dan menimbulkan spekulasi macam-macam. Salahkah aku, Tuhan?
.
.
Normal POV
Bel istirahat telah berbunyi. Namun, para siswa XI IPA1 masih berkutat mengerjakan soal super duper Fisika itu- kecuali Shikamaru, tentu saja-. Ketika semua anak berhasil menyelesaikan tugas fisika, bel berbunyi lagi, kali ini menandakan istirahat telah usai. Namun, bukannya masuk kelas, para siswa XI IPA1 justru berhamburan ke kantin mengisi perut mereka yang keroncongan, sementara siswa-siswa kelas lain mengosongkan kantin dan pergi ke kelas mereka masing-masing. Tak ada yang bisa menyalahkan para siswa XI IPA1 mengisi perut dan tenaganya yang sudah terkuras habis akibat tugas super guru mereka yang maniak itu, apalagi pelajaran berikutnya, Matematika, diajar oleh Kakashi-sensei yang baru akan datang paling cepat tiga puluh menit lagi.
Kantin KHS hanya diisi dengan anak-anak XI IPA1, bahkan diantaranya terdapat Sasuke Uchiha, sebuah pemandangan langka, barangkali karena kantin agak sepi, karena Sasuke tak suka keramaian atau perhatian dari orang-orang banyak. Dia satu meja dengan Naruto, sementara di meja di depan mereka ada Sakura, Sasori, dan Ino. Mereka tak menyadari kalau Sasuke ada di belakang meja mereka.
Sakura menyeruput habis jus strawberry-nya. Ramen yang dipesannya memang agak pedas. Kemudian, sesosok berambut indigo datang menghampiri mereka.
"Boleh aku duduk disini?" sapanya ramah.
"Ya, silahkan.."
" Hyuuga-san, selamat datang di KHS.. Atau, boleh kah aku memanggilmu Hinata-chan?" sapa Ino ramah pada Hinata yang duduk di hadapannya. Hinata mengangguk. Kemudian Sakura, Ino, dan Sasori memperkenalkan diri.
"Salam kenal, Haruno-san, Yamanaka-san, Akasuna-san.." kata Hinata sopan.
"Hinata-chan, Kau tak perlu memanggil kami dengan nama belakang atau dengan embel-embel san. Cukup nama depan dan akhiran CHAN, ya! Ino-chan, dan Sakura-chan,.. oke?..." kata Ino, namun dipotong Sakura
"... Bukan begitu panggilan Ino, Hinata-chan. Dia biasa dipanggil Ino-PIG-chan..." celetuk Sakura, lalu dahinya disentil Ino. Sasori yang sedang menikmati kue tart karamel nya tertawa melihat ekspresi Sakura yang cemberut memegangi dahinya.
"Diam kau Baka-Forehead!..." kata Ino kesal, berusaha membalas, namun perhatiannya teralih pada Sasori yang sedang geleng-geleng menyaksikan pertengkaran-tiap hari mereka.
"... dan kau, Sasori-kun, sampai kapan kau akan mengekori si Jidat ini kemana saja, ha? Biarkan saja dia sendirian, kau tak usah terlalu baik padanya,... " sembur Ino kejam. Sakura kesal berusaha menyentil Ino. Sasori hanya stay cool saja, walaupun pipinya memerah. Dia melirik jus strawberry Sakura yang sudah habis. Hinata tak berkedip memperhatikan Sasori.
"Kuambilkan jus yang baru untukmu." Kata Sasori lembut, kemudian bangkit ke counter jus.
"Trims, Saso-kun..." kata Sakura sambil lalu. Hinata masih memperhatikan punggung Sasori yang berbalik ke counter jus, sampai kepalanya yang cantik menoleh ke belakang. Akhirnya, pandangannya jatuh pada sesosok cowok berambut raven dan bermata onyx tepat dibelakangnya, Hinata langsung membalikkan badannya.
"Sasori-san. Dia sangat tampan, ya. Baik sekali dia, mengambilkan jus yang baru untukmu..." kata Hinata, agak keras. Dahi Sakura berkerut mendengarkan omongan Hinata. Oke, Hyuuga Hinata memang sangat cantik, baik, kalem, dan berasal dari keluarga Hyuuga yang bangsawan. Tapi, FG Sasori yang ganas-ganas membuat Sakura tanpa sadar jadi agak paranoid kepada siapapun yang mempunyai gelagat menyukai Sasori.
"Kalau aku bilang mereka pacaran, kau percaya kan, Hina-chan?" kata Ino. Hinata mengangguk.
" Tuh, kan.. Baka Forehead! Semua orang yang punya mata juga tahu kalau kalian punya gaya tarik menarik satu sama lain.."sambung Ino lagi.
"Jangan bahas Fisika disini, Pig! Tak cukup kah soal-soal tadi, semuanya? Sudah kubilang berkali-kali Baka, aku dan Sasori tak seperti itu.." ujar Sakura ketus.
"Benarkah? Kalau kubilang aku menyukai Sasori-san, bagaimana?" tanya Hinata. Beberapa gadis yang duduk dekat mereka memandang garang pada Hinata. Sakura merasa kesal, mungkin karena Hinata kini ikut-ikutan meledeknya.
"Ya sudah, terserah. Semua orang menyukainya. Bukan berita hebat.." kata Sakura tak acuh. Ino terkikik.
"Tuuuhhhh,... dia maraaaaaahhhhh..."ledek Ino kemudian dia tertawa diikuti Hinata. Hinata menoleh ke belakang, Sasuke masih memperhatikan mereka berdua.
.
.
Di belakang meja mereka, Sasuke Uchiha sedang mengaduk-aduk jus tomatnya tanpa minat. Matanya menatap lurus ke meja didepannya, yang beranggotakan tiga orang gadis, salah satunya gadis berambut pink, yang lainnya berambut pirang pucat dan indigo. Tak lama kemudian, seorang cowok berambut merah datang menghampiri meja ketiga gadis itu. Sasuke mendengus, melayangkan pandangan tak suka. Naruto, memandangnya heran, mengikuti arah pandangan Sasuke.
"Hei, Teme! Kenapa Kau? Kau tak berhenti memperhatikan Sakura, Ino, dan anak baru itu. Tumben sekali, biasanya kau tak peduli pada cewek manapun.."
"Mereka berisik." jawab Sasuke singkat. Naruto melongo. 'Sok cool,' pikirnya. Padahal, Sasuke memang cool.
" Ayo Dobe, kita sebaiknya kembali ke kelas.." kata Sasuke angkuh, semakin mempertegas garis-garis kesempurnaan wajahnya.
"Hei, kenapa mood-mu jelek sekali? Ha, aku tahu! Kau membenci si rambut merah itu, kan, karena sebagian FG-mu berpaling padanya.." sebut Naruto asal. Sasuke bangkit dari kursinya, Naruto mengikutinya dengan malas.
"Tch! Kau berisik, Dobe. Kau tahu aku tak peduli dengan yang seperti itu." kata Sasuke tak acuh, sambil berjalan meninggalkan kantin, namun sudut matanya masih mengerling ke meja Sakura dan yang lainnya. 'Apa-apaan sih, cewek itu?' gumamnya ketus. Seluruh percakapan mereka terngiang-ngiang di kepala Sasuke.
.
Sepeninggal Sasuke,..
Hinata pamit ke perpustakaan. Sakura memandang Sasori penuh arti, Sasori hanya tersenyum.
"Aku memang makhluk yang sangat ge-eran, Saso-kun..." kata Sakura. Sasori mengangkat bahu.
"Dia memang tak berkedip sedikitpun memandang kearahmu,..." kata Sasori datar. Padahal hatinya perih sekali. Tapi, tak ada yang tahu.
"Jadi, bagaimana sekarang?"
"Tunggu saja, biarkan saja dia yang mulai duluan..." kata Sasori bijaksana. Ino menatap mereka berdua berganti-gantian seperti menonton orang main pingpong, lalu menggebrak meja. Ternyata, Sakura dan Sasori lupa kalau Ino masih bersama mereka.
"Hei,...Hei, apa-apaan ini! Ada yang aku tak tahu?" tanyanya sebal. Ino sangat benci bila tak diikutsertakan dalam gosip apapun. Jadi, Sakura menceritakan tentang misi mendekati Sasuke yang sudah dia lakukan sebulan ini dengan detail, dari magang di klub sepakbola, membawakan bento, sampai sms-sms yang dia kirim untuk Sasuke. Ino memandangnya tidak percaya, semakin lama, matanya semakin membulat mendengar penjelasan Sakura.
"... dan sekarang, aku menghentikan semua perhatianku padanya. Aku menunggu reaksi baliknya..." kata Sakura diakhir penjelasan panjang lebarnya. Ino masih memandangnya tak percaya.
"Sakura-chan, kenapa kau merahasiakan ini semua dariku? Bagaimana mungkin aku tidak tahu apa-apa selama sebulan? .." kata Ino melipat tangannya, ngambek.
"... Dan, kenapa kau tak menyerah saja soal Sasuke, itu? Kau tak bisa melihat ada yang lebih baik, tepat di depan hidungmu?" lanjutnya lagi.
"Hei, siapa yang berahasia, Ha? Bukannya kau yang terlalu sibuk dengan pacarmu, dan selalu meninggalkan aku?" suara Sakura meninggi, marah karena Ino ngambek dan menuduh dia berahasia-rahasiaan, padahal seharusnya dia yang marah karena selalu ditinggalkan Ino demi Sai. Tapi, yang paling membuatnya marah adalah karena disuruh menyerah soal Sasuke, padahal dia sudah susah-suah. Hening sejenak, suasananya sangat tidak enak. Sasori diam saja, tidak tahu apa yang harus dilakukan kalau ada anak perempuan yang bertengkar.
"... Dan, tumben sekali kau bersamaku ke kantin, mana si muka pucat itu?"
" Jangan sebut dia begitu, Sakura! Tentu saja aku tak bersama dia, ini kan jam pelajaran! Salah aku ke kantin dengan sahabatku? ..dan,...Kami bertengkar..." kata Ino, ada guratan kesedihan dalam wajah cantiknya. Tapi, Sakura tak peduli. Dia benar-benar sakit hati karena merasa Ino tak mengerti dirinya. Bagaimana mungkin dia disuruh menyerah soal Sasuke? Seakan-akan dia itu sangat memalukan dan tak pantas untuk Sasuke.
"..Oh, jadi karena kau bertengkar dengannya, sekarang kau baru ingat dan merangkak-rangkak padaku?" tuduh Sakura kejam. Ino terbelalak, bukan main tersinggungnya. Dia memukul meja, Sasori berdiri dan berusaha menjadi penengah mereka berdua, namun yang bisa dilakukannya hanya merentangkan tangan, menjaga jarak Ino dan Sakura sejauh mungkin dan berkata "Sudah, Hentikan!" Tapi, tak ada yang mendengarkan.
".. Kasar sekali! Asal kau tahu saja, semua yang kau lakukan itu sia-sia dan salah besar!" bentak Ino, mengayunkan rambut panjangnya dengan angkuh kemudian pergi meninggalkan Sakura dan Sasori.
"Kenapa dengan dia?" Tanya Sakura geram. Sasori memilih tidak berkomentar. Dia sendiri tak terlalu mengerti. Sasori tak mengerti bagaimana Sakura dan Ino bisa bertengkar dan adu teriak, padahal lima menit yang lalu mereka baik-baik saja, bahkan masih sempat sentil-sentilan dahi. Jawaban terbaik yang bisa dipikirkan Sasori adalah kemungkinan mereka berdua sedang mengalami PMS.
.
.
.
Semenjak hari itu, Sakura tak bertegur sapa dengan Ino. Sebenarnya Sakura agak menyesal, kenapa dia kemarin itu sensitif sekali ya? Penyesalannya lama-lama semakin bertambah, karena Sasori sekarang sangat sibuk dengan lomba desain interior yang diadakan Universitas Tokyo, sehingga hampir selalu tak bersamanya pada jam istirahat. Sasori bahkan beberapa kali terpaksa bolos pada beberapa jam pelajaran demi lomba desain itu. Sakura merasa kesepian, karena dia nyaris tak punya teman selain Ino dan Sasori. Sakura tak punya teman perempuan lain karena kebanyakan anak-anak perempuan lain tak suka dia terlalu dekat dengan Sasori, dan Sakura tak cukup bijaksana karena tak segan-segan bersitegang dengan FG Sasori tersebut. Untung saja ada Hinata, si anak baru yang ternyata tak begitu peduli dengan cowok-cowok, meski selalu bersama Hinata bukan merupakan pilihan yang menyenangkan. Kenapa? Oh, ternyata Hinata itu ternyata setipe dengan Hermione Granger yang irit bicara kecuali soal pelajaran dan selalu menghabiskan waktu istirahat di perpustakaan, entah itu mengerjakan tugas untuk bulan depan, mencari referensi tambahan, atau mencari bacaan 'ringan' ala Hinata, seperti kisah-kisah dan proses penemuan teknologi dunia atau biografi politisi-politisi, ilmuwan-ilmuwan, dan pebisnis-pebisnis termasyhur dunia. Halo, seakan-akan tekanan pelajaran dan tugas-tugas (terutama dari Kabuto-sensei) belum cukup saja. Diam-diam, Sakura menyesal karena tak bertegur sapa dengan Ino. Dia merindukan jam (oke, bukan jam istirahat dimana Ino biasanya pergi bersama Sai) pergantian pelajaran, atau kapan pun dia bercanda tawa dengan Ino, sentilan Ino di dahinya, ledekan Ino, dan bergosip setiap ada kesempatan, bukannya di perpustakaan, berusaha mempelajari Integral Trigonometri yang sebenarnya baru akan dipelajari saat kelas TIGA. 'Beuh, Hinata harusnya dijodohkan dengan Kabuto-sensei..' pikir Sakura dalam hati. Semua perkiraannya tentang Hinata adalah murid perempuan yang kalem, baik, ramah, pemalu, dan sebagainya ternyata salah besar. Ino? Ino sendiri ternyata hanya bertengkar temporer dengan Sai, sehari setelah insiden adu teriak dengan Sakura, Ino sudah menemui Sai, dan selalu bersama Sai seperti biasa.
Misi mendekati Sasuke? Sakura tak terlalu berminat lagi, setelah dia tak bertegur sapa dengan Ino. Meskipun sikap Ino yang tak mendukungnya mendapatkan cinta Sasuke adalah keterlaluan-menurut Sakura-, tapi walau bagaimanapun, Ino adalah sahabat Sakura. Merupakan hal yang aneh dalam persahabatan, dimana kau tanpa sadar tak mau melakukan hal yang tak didukung atau dilarang sahabatmu, meski kau sangat menyukainya.
Jadi, apakah Sakura benar-benar menyerah soal Sasuke? Sebenarnya tidak. Sakura hanya tidak tahu apa yang harus dilakukan setelah tahap "mengacuhkan dan menunggu feedback" ala Sasori itu. Pesan Sasori adalah "tunggu" dan Sakura memilih mematuhinya. Sakura tak punya kesempatan untuk membicarakan soal Sasuke pada Sasori yang sangat sibuk, kalaupun ada, Sakura tak tega karena Sasori sibuk mengejar ketertinggalan pelajaran mereka. Sakura juga punya firasat entah mengapa dia seharusnya tak membicarakan soal Sasuke juga pada Hinata, seakan itu bisa mengganggu kestabilan dunia atau apa. Sakura sendiri tak terlalu percaya diri dan tak mau gegabah mengambil tindakan setelah penolakan Sasuke tempo hari, serta beberapa halaman sms puisinya yang direspon dengan "Berisik" dan "Kau menyebalkan " itu. Padahal, ada banyak hal yang ingin Sakura bicarakan dengan Sasori terkait Sasuke, misalnya, bagaimana Sasuke juga belakangan sering 'terlihat' dimana saja Sakura berada. Awalnya, Sakura merasa kalau dia berhalusinasi karena sering berpapasan dengan Sasuke di koridor, kantin, bahkan perpustakaan. Sangat aneh karena, Sasuke biasanya menghabiskan waktu istirahat bermain sepakbola kan? Oke, wajar saja kalau Sasuke yang jenius ke perpustakaan, tapi ke perpustakaan bersama Naruto? Tak masuk akal, karena Naruto bukan tipe murid yang tahan dalam keheningan perpustakaan. Naruto itu ultra hiperaktif. Tapi, Sakura berpikir positif bahwa pelajaran mereka memang sangat susah serta banyak, sehingga tak ada yang bisa menyalahkan perpustakaan yang agak ramai akhir-akhir ini. Itu lebih baik daripada memikirkan bahwa Sasuke mungkin memperhatikannya. Hati Sakura menggeliat-geliat memikirkan kemungkinan itu.
.
.
Well, seperti hari ini. Sakura sedang menghabiskan jam istirahat di perpustakaan bersama Hinata yang asyik membaca buku teori Fisika modern yang sangat tebal, sedangkan Sakura hanya bermain-main dengan ipad-nya, memanjakan matanya dengan produk-produk fashion terbaru yang dijual online jauh lebih menarik.( Dia tak berminat membaca 'bacaan ringan'apa pun sekarang) 'Ukh, seandainya saja ada Ino' gumam Sakura sedih, namun semuanya menguap seketika ketika melihat sosok yang berjalan kearahnya dan Hinata. Sasori datang menghampiri mereka dengan beberapa buku di tangan, masih sama imutnya seperti biasa, namun agak pucat dan kurus,dan ada bayang-bayang kantung mata di bawah mata hazelnya. Tapi, sama sekali tak menghentikan decak kagum dari cewek-cewek disekitarnya, bahkan di perpustakaan sekalipun.
"Hai,.. " sapanya. Kemudian Sasori duduk di depan Sakura. Hinata yang sedang membaca, hanya menoleh sekilas.
"Bagaimana?" tanya Sakura. Apa lagi kalau bukan tentang lomba desain Sasori?
"Sudah hampir 90%. Tinggal finishing dan persiapan persentasi untuk besok.." ujar Sasori tenang. Namun, Sakura melihat bagaimana Sasori berjuang menjaga agar matanya tetap melek, dan bagaimana mungkin Sakura tidak cemas? Seakan membaca kekhawatiran Sakura, Sasori tersenyum seperti mengatakan kalau dia baik-baik saja. Dan, Sakura juga tersenyum. Sakura tak menyadari kalau dia tukang senyum sekarang, apalagi terhadap Sasori. Hei, bagaimana mungkin ada yang tidak membalas senyum Sasori? 'Sasori sangat manis dan imut, apalagi kalau tersenyum' batin Sakura. Senyumnya memudar seketika, karena Hinata tiba-tiba berdehem dan menutup buku serta membantingnya agak keras, mungkin merasa seperti kacang. Akibatnya? Penjaga perpustakaan melotot ke arah mereka, disertai berpasang-pasang mata yang menoleh karena merasa terganggu. Yang membuat Sakura tercenung, diantaranya berpasang-pasang mata itu ada sepasang mata onyx dan aquamarine.
Bunyi gemerisik kertas-kertas yang dibalik Sasori, menyadarkan Sakura yang tercenung. Tak peduli lagi pada Ipad-nya dan berusaha menepis bunyi dentum-dentum di dadanya, Sakura memperhatikan Sasori lekat-lekat, yang sedang membuat latihan Fisika dan Matematika yang seharusnya dikumpul kemaren. Mata hazel itu kelihatan sangat lelah.
"Sudahlah, jangan memaksakan diri. Pulang saja dan tidur. Kurenai-sensei pasti mengizinkan.." saran Sakura, tak bisa menyembunyikan nada cemasnya.
"Tidak bisa, Sakura. Aku sudah banyak ketinggalan. Selain presentasi lomba, Aku juga harus menyelesaikan laporan praktikum Fisika dan belajar untuk ulangan Kimia susulan besok." Sakura berpikir sebentar.
"Sudah, biar aku yang buatkan. Sebaiknya izin pulang sekarang dan tidur. Fokus pada presentasi dan ulangan susulan aja. Kau sudah sejauh ini, jadi harus menang Saso-kun!" kata Sakura mantap, padahal laporan praktikumnya masih terbengkalai. Sasori terdiam, ragu-ragu. Tugas yang dibuatkan itu terkesan kurang bertanggung jawab, walaupun agak mustahil juga dia menyelesaikan semuanya malam ini. Hinata mendengus, namun tetap fokus pada bukunya.
"Tapi, aku..."
"Sudahlah. Cepat pulang dan tidur. Nanti, aku fotokopikan semua catatanmu yang belum lengkap." Kata Sakura, agak memaksa. Sasori masih diam tanda tak setuju.
"Saso-kun! Kau kan sudah banyak membantuku dulu! Sudah, pulang saja! Sekarang giliranku.. "kata Sakura, menutup dan merapikan buku Sasori. Sasori masih tak bergeming. Bagaimana mungkin dia membiarkan orang yang disukainya membuatkan tugasnya? Memalukan.
"Kalau begitu, ingat saja untuk mentraktirku atau mengajakku jalan-jalan setelah semua urusan desain-mu itu selesai.." ucap Sakura sambil membereskan buku Sasori, jadi dia tak bisa melihat Sasori blushing. Sasori berpikir, sepertinya pilihan yang diberikan Sakura tak terlalu buruk.
"Terima kasih, Sakura-chan! I love you... "gumam Sasori lembut. Kata terakhir diucapkannya dengan sangat pelan, sehingga mustahil ada yang mendengarnya. Namun, siapa sangka kalau ada perkecualian? Hinata menongolkan kepala dari buku fisika yang dibacanya.
"Memangnya kau desain apa sih? Sampai bolos dan kurang tidur begtu.." tanyanya bosan.
"Desain inovatif dari interior apartemen di kawasan kota besar yang padat aktivitas. Berkonsep dan berfilosofi tertentu, namun tetap minimalis, simpel, dan modern.." jawab Sasori.
"Segitunya kah? Jejali saja dengan kursi, meja, lemari, dan tempat tidur, apa susahnya?" kata Hinata acuh.
"Bukan sekedar menjejali ruangan dengan meja, kursi, atau perabot. Desain interior adalah seni menciptakan nuansa ruangan. Untuk bisa menciptakan nuansa tertentu, kita harus mengkaji kesan apa yang ingin kita rasakan dalam suatu ruangan. Dalam menciptakan kesan, kita harus melakukan riset tentang filosofi yang bisa memunculkan kesan tersebut, baru melakukan proses perancangan dan pembuatan masing-masing elemen yang sesuai dengan konsep. Luas dan kapasitas ruangan, serta budget juga harus diperhitungkan.." ceramah Sasori panjang lebar. Seletih apapun, Sasori selalu membicarakan seni dengan semangat. Kemana semua rasa lelah tadi?
"Tak ada bedanya. Intinya tetap menyusun perabot dalam ruangan kan? Ibuku bisa melakukannya dalam 10 menit.." kata Hinata. Sasori mengernyit, tak senang ada yang tak mengapresiasi seninya.
"Kau tak mengerti seni, Hinata.." ujarnya, agak dingin.
"Seni itu nggak jelas dan buang-buang tenaga,,," balas Hinata tak berperasaan. Sakura mencium adanya perdebatan.
"...Art is something that is lasting long forever.Seni adalah sesuatu yang bertahan indah selamanya..."
"Begitukah? Menurutku, seni itu punya masa kedaluarsa. Sesuatu yang saat ini disebut sebagai seni, di masa depan hanya disebut rongsokan.."
"Salah! Justru, semakin bertambahnya waktu nilai seni akan semakin tinggi. Seni itu penanda budaya pada setiap era zaman.. bla... bla.. blaa..."
Hinata sudah akan membalas Sasori lagi, Sakura merasa harus bertindak tegas..
"STOP! Hentikan! " serunya. Teriakannya akan terdengar diseluruh penjuru perpustakaan seandainya tidak berbarengan dengan suara lain yang berfrekuensi sama .Plaaaaaak!
Sakura, Sasori, dan Hinata menoleh pada asal suara. Itu adalah bunyi kemoceng yang dipukulkan pada seonggok daging?
"Apa yang yang kalian lakukan? Ngobrol di perpustakaan? Keluarr! "teriak Kakuzu, pustakawan KHS yang galak pada dua orang anak laki-laki, berambut pirang dan.. raven? Astaga, itu Naruto dan Sasuke! Kemudian mereka berdua keluar pepustakaan, diikuti tatapan berpasang-pasang mata. Sakura, Sasori, dan Hinata bersyukur mereka tak ketahuan mengobrol.
.
.
Sementara itu,..
.
"Baka-Dobe! Ini semua karena kau terlalu berisik!" kata Sasuke yang merengut sewaktu keluar dari perpustakaan. Untung saja yang dipukul dengan kemoceng adalah Naruto, bukan dirinya. Astaga, dimana mukanya bisa diletakkan kalau Sasuke Uchiha dipukul dengan kemoceng? Dimana harga diri Uchiha? Apa kata dunia?
"Dengar, kau hanya perlu mendatanginya dan mengucapkan tiga kata, TIGA KATA, dan SELESAI..." ucap Naruto tak mempedulikan ucapan Sasuke, rupanya masih menyambung diskusi mereka tadi, tanggan kirinya masih mengelus-elus lengan kanannya yang memerah.
"Sudah kubilang kau berisik!" sebut Sasuke lagi. Wajahnya memerah mendengar perkataan Naruto.
"Astaga! Jangan bilang kalau kau TAKUT, Teme! Kau seorang Uchiha, dan PENAKUT?" Sasuke menjitak kepala Naruto.
"Aku cuma perlu suasana yang tepat.." kata Sasuke berkilah.
"Hei,Baka! Kita sekelas dengannya dan kau sudah dengan bodoh mengikutinya kemana saja! Suasana apa lagi yang kau butuhkan, ha?"
Sasuke benci sekali dibilang bodoh, apalagi oleh Naruto, namun terlalu capek meladeni ocehan Naruto. Sasuke heran sendiri. Dia jenius, berasal dari klan Uchiha, tampan dan idola sekolah. Tapi, mengakui perasaan pada seorang gadis rasanya sangat sulit, membuat semua kelebihannya menjadi terasa tidak berarti. Dia sangat iri pada cowok berambut merah yang akrab dengan gadis yang disukainya. Aaaaaaarrrghhhhhh! Si merah itu membuatnya gila! 'Apa yang dia pikir dia lakukan?' geram Sasuke dibalik muka stoic-nya.
.
.
Sasori Akasuna adalah salah satu dari sejumput orang diatas permukaan bumi yang dianugerahi bakat seni luar biasa. Karena itu, tak heran kalau dia memenangkan lomba desain bergengsi yang diadakan Universitas Tokyo, padahal dia satu-satunya kontestan yang masih SMA! Sasori menerima banyak pujian dari juri lomba, pesaingnya, apalagi dari sekolah KHS sendiri. Presentasi Sasori dilakukan di Universitas Tokyo, semua teman sekelasnya datang memberikan dukungan bersama guru-guru (tak ketinggalan FG-FG Sasori dan siapa saja yang berminat melihat). Seusai pengumuman, anak-anak merubungi Sasori untuk mengucapkan selamat. Apalagi FG Sasori, mereka datang dengan baju seragam, membawa spanduk dan bunga, serta bersorak-sorak seperti suporter sepakbola. Sakura bahkan sampai bersusah payah untuk menemukan Sasori dan menyeretnya dari segerombolan orang, akhirnya dia bisa menemui Sasori sendiri, tanpa Hinata yang pergi ke perpustakaan Universitas Tokyo, tempat yang jauh lebih berharga dan menarik baginya daripada mendengarkan presentasi tentang yang disebutnya rongsokan.
Saat ini mereka sedang duduk-duduk di taman, masih di Universitas Tokyo, menikmati bau rumput dan angin sepoi-sepoi, hadiah dari melarikan diri dari kasak kusuk FG Sasori dan keramaian lainnya.
"Kau menakjubkan, Saso-kun! Hasil desain-mu indah sekali! Kau mengalahkan para mahasiswa itu, padahal mereka jurusan seni dan arsitektur semua!" puji Sakura.
"Semua berkat dukunganmu, Sakura.." kata Sasori lembut, tersenyum lagi. Dan, seperti yang sudah-sudah, Sakura akan tersenyum apabila Sasori tersenyum. 'Ahh, Saso-kun! Demi apapun, kenapa dia begitu imut?' Hening sesaat. Sasori, sahabatnya yang tampan,imut, keren, berprestasi,baik, pintar, dan punya FG seabrek ini kira-kira suka anak perempuan yang kayak gimana ya? Blush. Sakura merasa mukanya agak panas. 'Hei, Saku-chan! Saso-kun itu Cuma TEMAN! Oke?' jerit otaknya menyadarkan batinnya. Tapi, sesuatu dalam diri Sakura sangat penasaran tentang siapa yang disukai Sasori.
"Saso-kun, kau pernah menyukai sesorang?" Sakura bisa melihat Sasori agak terkejut dengan pertanyaannya. Sasori sendiri bingung mau menjawab apa.
"Hmmm,... Bagaimana, ya?" ujarnya sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
"Eh, Saso-kun! Kau sedang menyukai seseorang? Jahaat, kenapa tak beritahu aku! Kan aku janji akan membantumu. Kau membantuku mendekati Sasuke! Sekarang giliranku membantumu!" kata Sakura semangat. Padahal, dia merasakan sesuatu dalam dirinya yang tadinya sangat penasaran tentang yang disukai Sasori berteriak pilu. Tapi, dengan segera Sakura menepis sesuatu itu keluar dari pikirannya. Sasori yang tadi kelihatan blushing, entah kenapa memasang wajah datar lagi saat mendengar nama Sasuke.
"Kau sendiri bagaimana dengan Sasuke? " tanyanya. Sakura membayangkan sikap Sasuke yang berbeda akhir-akhir ini. Sasuke yang sering melihat kepadanya, Sasuke yang seolah-olah 'terlihat' dimana saja, ..
"Entahlah, Saso-kun. Tapi, aku punya firasat baik tentang itu semua. Cinta akan datang pada mereka yang mencintai dengan sungguh-sungguh " tambah Sakura puitis sambil tersenyum lebar.
Sasori terdiam mendengarnya.
"Eh,..Jangan merubah topik! Ayo, katakan apa yang bisa aku lakukan untukmu! Dan, oh, kau masih punya hutang mentraktirku karena aku membuatkan tugasmu yang kemaren kan?" lanjut Sakura, tertawa.
"Benarkah itu, Sakura? Cinta akan datang apabila kita bersungguh-sungguh? Apakah itu juga berlaku untukku?" tanya Sasori serius, mukanya masih sangat imut, tapi ada sesuatu yang berbeda dari tatapan matanya. Apa itu? Sakura tak tahu. Munginkah sahabatnya sedang jatuh cinta?
"Tentu saja! Pasti! Apalagi karena kau seseorang yang sangat baik, Saso-kun!"
"Kalau begitu, bisakah kau membantuku dalam urusan ini, Sakura-chan?" tanya Sasori, kelihatan innocent dan imut, padahal jantungnya sudah ngos-ngosan.
"Tuh,kan! Aku tahu, Saso-kun! Kau juga pasti menyukai seseorang, kan? Ayo, apa rencanamu? Siapa dia? Cepat cerita!" pekik Sakura, melompat dan memeluk Sasori yang gelagapan. Sasori merasa jantungnya sudah merasa mau meledak, baik karena pelukan Sakura maupun karena topik pembicaraan mereka. Apakah dia harus mengakui perasaanya sekarang? Tidak, dia tak punya persiapan apa-apa. Tidak punya kata-kata, bunga, atau apapun. Tidak, tidak boleh seperti ini. Satu kenyataan lagi tentang Sasori, sebagai seorang pemuja seni, dia sangat halus dan romantis.
"Kau tahu, Sakura-chan, ada tempat yang ingin kudatangi besok. Tempat yang sangat bagus, kau pasti menyukainya. Besok kita kesana, ya! Kita bertemu jam 9 pagi di taman kota. Aku akan mentraktirmu, sesuai janji. Dan aku akan menceritakan semuanya padamu besok.." kata Sasori mantap.
"Hah? Kalau cerita saja, kenapa harus besok?" desak Sakura. Sasori berpikir sebentar. Apa yang harus dia jawab sekarang?
"Karena, hari ini aku lelah. Aku sama sekali belum tidur.."ujarnya. Meski tidak bohong, lelah bukan alasan utama Sasori. Sakura menatap lingkaran hitam dibawah mata sahabatnya.
"Benar, kau harus tidur. Baik, besok kalau begitu." Kata Sakura. Kemudian, ada yang melambai-lambai pada Sasori, mengisyaratkan agar Sasori mengikutinya. Iruka-sensei.
"Sakura-chan, aku pergi dulu!" pamit Sasori meninggalkan Sakura sendiri di taman. Sakura juga berjalan pelan meninggalkan taman kampus, mengikuti arah kakinya berjalan. Pikirannya sibuk berspekulasi tentang siapa perempuan beruntung yang ditaksir sahabatnya. Siapa ya?. 'Semoga saja bukan wanita jahat,' do'anya dalam hati.
.
.
Karena keasyikan berjalan sambil berpikir, Sakura tiba-tiba saja sudah berada di koridor salah satu gedung di Universitas Tokyo. Dia hanya sendiri disana, masih berjalan menelusuri gedung. Kemudian, seseorang muncul dibalik koridor didepannya. DEG! Sasuke! Kemunculan Sasuke begitu mengejutkannya, dan Sakura tak sadar langsung berbelok, menghindari Sasuke. 'Bodoh!' rutuknya dalam hati, kenapa tiba-tiba kakinya berbelok begitu saja. Sakura berjalan cepat-cepat, namun kemudian terhenti mendadak karena suatu suara.
"Hei, Sakura." Panggil suara dalam itu. Suara siapa lagi, coba? Sasuke Uchiha. Mendengar Sasuke memanggilnya, Sakura terpaksa berhenti dan menoleh. Jantungnya berdetak tak beraturan, malu karena ketahuan menghindari Sasuke.
"Hai.." katanya canggung.
"Apa yang kau lakukan sendiri disini?" tanya Sasuke datar, berjalan mendekati Sakura. Tuhan, kenapa dia begitu tampan?
"A-a-a-a-a-ku..." Sakura tergagap.
"Sudahlah. Ada yang ingin kubicarakan padamu. "kata Sasuke sambil tetap mendekat. Sakura bisa merasa seolah kakinya terpancang di tempat, dan lututnya menggigil. Bibirnya juga mendadak kelu sehingga tak bisa mengeluarkan satu kata pun.
"Kenapa kau menghindariku?" tanya Sasuke tajam.
"A-a-a-a-a-ku..." hanya itu kata-kata yang lolos dari bibir kelu-nya. 'Sakura, BODOH! Apa yang kau lakukan!' raung innernya. Bukan salahnya, kan? Sakura tak pernah menyangka kalau Sasuke akan mendatanginya dengan tiba-tiba dan bertanya hal semacam 'Kenapa kau menghindariku.'' Kalau ini mimpi, aku bersumpah tidak akan mau terjaga.' Kata innernya. Sakura bisa merasakan keringat dingin menjatuhi jidatnya. Kenapa Sasuke tidak bilang-bilang dulu kemaren kalau suatu hari dia akan bertanya seperti itu? Sakura kan bisa menyiapkan jawabannya dulu, sehingga tidak skak mat seperti ini.
"Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Maukah kau pergi bersamaku, besok?" kata Sasuke. Onyxnya menatap emerald Sakura. Sakura merasakan penglihatannya kabur, dan tiba-tiba semuanya berubah menjadi.. Gelap.
.
.
Sakura perlahan membuka matanya. Hal pertama yang dilihatnya adalah langit-langit putih. 'Dimana ini?' gumam innernya. Sakura berusaha mengingat-ingat apa yang baru saja terjadi.
'Jadi, semuanya cuma mimpi.' Gumam Sakura, kemudian menghembuskan napas panjang.
"Sudah bangun?" seru sebuah suara, nyaris membuatnya kehilangan kesadaran lagi. Jadi,dia tidak sedang bermimpi, innernya meraung senang. Semuanya kenyataan, suara itu adalah suara Sasuke.
"Aku dimana?" pertanyaan yang otomatis diajukan Sakura.
"Klinik kampus, " jawab Sasuke.
"Bagaimana kau bisa pingsan? Kau seperti melihat hantu, atau kau belum makan seharian?" tambah Sasuke berpikir. 'Penyebab aku pingsan adalah kau, Sasuke!' jerit innernya. Dia baru ingat penyebab lain dia pingsan adalah karena belum tidur (lembur ngerjain tugasnya plus tugas Sasori) ketika melihat langit senja bersinar indah dari belakang kepala Sasuke.
"Ya, ampun! Jam berapa ini?" tanyanya panik.
"Jam enam sore. Kau pingsan selama dua jam.." tambah Sasuke dengan menatap Sakura meski ekspresi mukanya masih sama stoic-nya.
" Gawat! Mana teman-teman?" tanya Sakura panik, mencari-cari iphone-nya dalam tas kecil warna pink yang ternyata ada diatas mwja disebelah Sasuke. Ada 100 missed calls, semua dari Sasori. Astaga, pasti Sasori sibuk mencarinya kemana-mana.
"Hei, kenapa kau tak bilang ada telepon? Ada 100 missed calls disini.." tanya Sakura, agak menuduh, kemudian mengutuk nada suaranya sendiri.
"Kau kan pingsan,.." sebut Sasuke, nadanya agak dingin.
"Setidaknya, kau angkat dan bilang sesuatu, siapa tahu ada yang ... penting." Suara Sakura semakin melambat melihat ekspresi Sasuke. Ya ampun, dia tidak bermaksud berkata begitu.
"Mana ku tahu? Lagipula, HP-nya kan ada dalam tas.." jawab Sasuke, nadanya semakin dingin. Sakura membeku, sangat menyesali sikapnya. Hening yang ada diantara mereka saat ini terasa sangat menyesakkan.
"Aku tahu, bukan aku kan yang kau harapkan ada disampingmu sekarang? Si rambut merah itu kan? " kata Sasuke datar namun agak sinis, kemudian berjalan menuju pintu, ingin beranjak pergi.
"Eh, tidak,.. bukan begitu, Sasuke-kun! Tunggu! " Buru-buru Sakura turun dari tempat tidur, meraih tas-nya dan mengejar Sasuke. Mereka berjalan bersama-sama dan Sakura merasa sangat canggung. Dia masih tak percaya akan apa yang dialaminya. Taktik Sasori berhasil, gumamnya sumringah.
"Eh, apa yang kau ingin bicarakan?" tanya Sakura, sudah bisa mengendalikan kegugupannya yang memalukan tadi. Sasuke mengeluarkan dua buah tiket, salah satunya diberikan pada Sakura.
"Ini, tiket festival musim panas besok. Temani aku besok, ya? Besok saja aku katakan. " kata Sasuke.
.
.
Senja itu juga, Sasuke mengantarkan Sakura pulang ke rumahnya. Sakura masih tak bisa mempercayai apa yang sedang dialaminya saat ini. Besok, dia akan kencan dengan Sasuke! Yaaayy! Akhirnya, impiannya akan tercapai. Sakura membayangkan bagaimana ya cara Sasuke menyatakan perasaannya? Ah, bodoh! Emang Sasuke bilang akan menyatakan perasaannya? Tapi, apalagi coba? Sebenarnya, Sakura agak heran karena Sasuke mengajaknya ke festival.' Bukannya Sasuke tak suka keramaian? Ah, bodoh! Yang penting Sasuke mengajakku kencan! Yaaayyyy! Hell yeah! Tunggu, aku pingsan. Apakah dia menggedongku dengan bridal style? Dia menungguiku selama dua jam?' jejerit inner Sakura.
Malam itu dihabiskan Sakura untuk membongkar lemari, mencari baju apa yang sesuai untuk dipakainya besok. Sakura heran, bagaimana mungkin dia tak bisa menemukan baju yang cocok dalam lemari tiga pintu yang penuh berisi baju. Akhirnya Sakura tertidur karena kelelahan. Semua pertemuannya dengan Sasuke tadi sore ditambah acara pingsan-2-jam, membuat semua pikiran Sakura hanya terfokus pada satu hal, pergi bersama Sasuke ke festival musim panas besok hari. Sakura melupakan semua hal lain diluar kencannya dengan Sasuke, termasuk janji-nya dengan Sasori pada waktu yang sama, meskipun tempatnya berbeda.
.
.
Sementara itu,
.
Di rumah keluarga Akasuna, seorang laki-laki berambut merah sedang duduk di halam belakang rumahnya yang asri. Dibawah langit bertabur bintang, dia membuka lembaran binder hitamnya. Wajahnya yang tampan tersenyum lembut melihat kumpulan foto-foto gadis pink yang disukainya semenjak kanak-kanak. Hanya pada langit dia mampu mengadu, mengutarakan perasaannya yang tak tertahankan pada gadis pink dalam fotonya itu. Besok pagi, dia akan mengutarakan perasannya. Akankah langit mengabulkan permohonannya?
Lelaki berambut merah yang sangat imut itu masih menatap langit. Dalam diam, dia berharap agar langit mampu menyampaikan rasa rindu dan sayang yang dia rasakan pada gadis pink itu melalui angin malam. Sejenak, pikirannya terusik dengan kenyataan bahwa gadis itu mungkin masih menyukai lelaki lain. Namun, langit menghilangkan risau di hatinya. Dia kemudian beralih pada binder didepannya.
Cinta akan datang pada mereka yang mencintai dengan sungguh-sungguh.
Kata-kata itu dituliskannya dibawah foto sang gadis pink. Asal dia sungguh-sungguh, tak jadi masalah. Ya kan, Sakura? gumamnya dibawah sinar bulan, semakin memperlihatkan ketampanannya.
Sangat lama waktu yang dibutuhkan si imut berambut merah itu untuk menyeret kakinya kembali ke kamar, dan tidur. Pikirannya sibuk memikirkan hari esok, hari dimana ia akan menyatakan cinta pada gadis itu. Akhirnya dia tertidur juga. Siapa saja yang melihat ekspresinya sedang tertidur setuju, bahwa dia, si rambut merah yang tampan, Sasori, sedang bermimpi indah.
.
Akankah mimpinya jadi kenyataan?
TBC
Author's Note
Fany minta maaf karena updatenya lama. Pelajaran yang Fany dapat adalah, kalau kau punya ide langsung BUAT fic-nya atau MENYESAL. Bagaimana menurut readers dengan Chapter ini? alurnya kecepetan? Semoga readers bisa terhibur dengan fic ini. Buat semua yang lagi menunggu pengumuman SNMPTN (termasuk imouto dan sepupu-ku), Fany doakan semoga lulus di tempat yang terbaik.^^
O, ya.. Fany ingin mengingatkan kalau Hinatanya OOC. Soalnya, Fany butuh yang seperti itu. kenapa harus Hinata? Karena, secara chemy, menurut Fany dia lebih cocok daripada chara lain.
Special Thanks to
Midori Kumiko, Sasori No Danna (my Imouto), Putri Luna, Anasasori29, Rizuka Hanayuuki, Hikaru Kin, Nosebleed Afa, akira, Eky-chan, ss holic, all silent readers.
Mohon, RnR ya
Pleeeeeeaaaase!
