Disclaimer : Masashi Kishimoto
This fic is belong to : Tiffany90
Genre : Romance/Drama/Friendship
Warning : fic pertama, banyak kekurangan. Hinata sangat OOC.
Pairng : sudah ketebak, belum? ^^
Character : Sakura Haruno
Sasuke Uchiha
Sasori Akasuna
Ino Yamanaka
dll
CHAPTER 5
Keesokkan harinya,..
Hari minggu di musim panas merupakan hari yang sempurna untuk keluar rumah dan berjalan-jalan menikmati hangatnya sinar mentari. Itulah yang dilakukan oleh sebagian besar penduduk Konoha, apalagi di kalangan anak muda.
Sakura mengecek kembali penampilannya di meja rias untuk yang entah kesekian kalinya. Blus merah hati simpel dipadu dengan skinny jeans, membuatnya tampak santai namun tetap gaya, cocok untuk jalan-jalan ke festival yang ramai. Make-up naturalnya tampak perfect, rambut pinknya yang sepinggang dikuncir satu dengan pita merah marun yang senada dengan baju dan rambutnya, sedikit anak-anak rambut dibiarkan tergerai alami di sisi wajahnya. Tas salempang putih yang berukuran mini bergelantungan anggun di pinggulnya, serasi dengan sepatu sandal putih yang simpel namun tetap manis. Sakura menatap bayangannya di meja rias. Satu kata untuknya. Sempurna. Well, tidak. Ada yang kurang. Semenjak bangun tidur pagi ini, Sakura merasa melupakan sesuatu. Sesuatu yang juga harus dilaksanakannya hari ini, selain bertemu Sasuke. Apa ya? Sakura tidak bisa mengingatnya. Dia mengerutkan keningnya, mencoba mengingat-ingat, tapi sia-sia. Dia memang belum membuat tugas Biologi, tapi Sakura yakin bukan itu yang dia lupakan, lagipula tugas biologi kan untuk minggu depan. 'Apapun itu, bisa menunggu setelah hari ini' gumamnya dalam hati, kemudian segera bangkit dari meja riasnya.
.
.
Sementara itu,..
Disalah satu sudut taman kota Konoha yang ramai, seorang pemuda flamboyan berambut merah sedang duduk menunggu kencannya. Setiap gadis yang melewatinya menoleh, baik yang jalan sendiri, bersama teman-teman perempuannya, bahkan gadis yang sedang berjalan dengan pacarnya sekalipun. Sebab, pemuda flamboyan berambut merah ini memiliki kulit putih mulus bak porselen , mata hazel yang bulat besar serta indah, serta garis-garis tulang muka yang halus sehingga menciptakan perpaduan wajah yang sempurna. Tampan. Imut. Manis. Begitulah celetukan setiap gadis yang melewatinya. Meski mereka berbeda pendapat tentang istilah mana yang lebih cocok yaitu tampan, manis, atau imut, satu hal yang para gadis itu sependapat adalah, pemuda itu merupakan salah satu representasi dari karya seni teragung yang pernah ada.
Pemuda itu tak terganggu dengan setiap pasang mata yang menoleh padanya, dia duduk dengan santai, menikmati cahaya pagi musim panas, sambil sesekali melirik hp-nya yang menunjukkan pukul 08.45, lima belas menit sebelum waktu perjanjian. Alasan pemuda itu datang lebih awal bukan karena dia senang menunggu; baginya menunggu merupakan hal yang tidak menyenangkan, sama tidak menyenangkannya seperti membiarkan orang lain menunggu. Namun, gadis yang ditunggunya saat ini adalah gadis yang berharga untuknya, yaitu gadis yang telah mengisi ruang hatinya lebih dari separuh usianya, karena itu dia tak bisa membiarkan gadis itu mengalami hal yang tidak menyenangkan seperti menunggu, cukup dia saja yang mengalaminya. Dengan pertimbangan itu, sang pemuda bisa menunggu dengan lebih tenang.
.
.
Sakura janji untuk bertemu Sasuke di depan gerbang festival. Dan, itu dia! Sasuke Uchiha, Pangeran Es dari KHS. Sasuke hanya berpakaian santai, layaknya yang dipakai setiap orang pada cuaca sepanas ini, yaitu kaos oblong dan jeans, tapi bagaimana mungkin dia terlihat begitu tampan hanya dengan kaos dan jeans? Begitulah pesona seorang Uchiha. Sakura berjalan sumringah ke arah Sasuke.
"Kau terlambat.."
"Maaf.." Ujar Sakura pelan. Dia menyesalkan dirinya yang berulangkali bolak-balik halaman-kamar-halaman, mengecek penampilannya dan bawaannya yang takut ketinggalan. 'Ah, apa-apan sih aku ini?Bodoh!' rutuknya dalam hati.
.
.
Sementara itu,..
Pemuda itu masih disana, di sebuah bangku taman kota Konoha yang ramai, menunggu kencannya yang sudah terlambat beberapa menit.
Tak lama kemudian, dia mendengar suara seorang gadis yang tak asing baginya. Namun, bukan suara yang dia nantikan.
"Hei, Saso-kun! Apa yang kau lakukan disini?" Sapa seorang gadis berambut pirang panjang yang berjalan menghampirinya, bergandengan dengan seorang pemuda tampan berkulit pucat. Ino dan Sai.
"Hai!" balasnya, namun tak menjawab pertanyaan Ino. Namun, gadis didepannya kelihatan sudah tahu jawaban pertanyaannya sendiri. Hei, apakah tertulis di dahinya?
"Aaaaahhhh,... Aku tahu! Kau berkencan dengan Sakura, kan? Ck, kenapa sih kalian selalu menyangkalnya? Tapi, sekarang udah ketahuan!" goda Ino.
"Sasori dan Sakura?"Sahut Sai, bingung.
" Kau tak tahu? Kalau kau sekelas dengannya, kau akan tahu betapa mesranya mereka.." goda Ino lagi. Wajah Sasori memerah.
"Kalau begitu, kami duluan. Tolong jaga Sakura-chan ya, Jaa-ne!" pamit Ino dan Sai, sambil berlalu. Sasori hanya menatap punggung mereka yang menjauh, kemudian melirik handphone-nya lagi. Dia tercenung sewatu menyadari bahwa sekarang sudah pukul 09.15, tidak biasanya Sakura terlambat. Kemudian, handphone-nya berbunyi, menandakan ada panggilan masuk.
"Halo.."
"Semuanya telah siap, tuan Sasori.." ujar seseorang diujung telepon.
"Terimakasih.." Ya, Sasori berencana untuk mengungkapkan perasaannya pada Sakura. Dia bahkan menyewa sebuah restoran mewah yang sangat mahal di lantai teratas Konoha Central Mall, agak berlebihan untuk seorang anak SMA. Tapi, Sasori yang bermodalkan kartu kredit ayahnya sama sekali tak keberatan melakukannya untuk orang yang berharga baginya. Soal ayahnya yang mencak-mencak, itu urusan nanti, ayahnya pasti tak akan marah begitu tahu Sasori baru saja memenangkan lomba desain tingkat universitas. Namun, dia heran sekali karena tak ada lagi suara yang terdengar di handphonenya. Sasori menurunkan dan mengamati handphone-nya. Mati total. 'Aaaaaaahhh, kenapa harus disaat-saat seperti ini?' sesalnya. Sasori menahan keinginannya untuk berjalan ke box telepon umum yang ada di pertokoan. Bagaimana kalau nanti Sakura datang dan mendapati bahwa dia tak ada? Sakura takkan bisa menghubunginya karena handphone-nya mati, kan? Dan, Sasori memutuskan untuk menunggu Sakura dengan sabar, sebentar lagi dia pasti datang.
.
.
Festival musim panas adalah festival yang ditunggu-tunggu oleh penduduk Konoha. Kalau bukan karena Sasuke, Sakura pasti sudah lupa akan festival ini. Ada banyak games berhadiah, pertunjukan musik jalanan yang memukau, serta bazaar-bazaar yang menjual beraneka macam barang. Sasuke tak banyak bicara seperti biasa, namun membuatnya mendapatkan sebuah teddy bear yang sekarang dibiarkannya bertengger di lehernya. Sakura sangat senang bisa pergi ke festival ini, dia tak bisa berhenti berbicara ini dan itu. Sasuke hanya mendengarkan dengan baik, sambil sesekali menimpali dengan "Hn". Tak ada yang bisa membuat Sakura berbahagia lebih dari ini.
.
.
Sakura sedang merapikan rambutnya yang basah karena tersemprot air, hukuman karena mereka kalah dalam bermain game menembak bebek. Sangat konyol memang, Sakura agak takut memperhatikan ekspresi Sasuke yang ada siku segitiga di sudut keningnya. Ekspresinya seperti mengatakan 'Apa yang aku lakukan disini, di tempat ramai yang konyol, bermain permainan konyol dengan gadis konyol..' dan sama seperti Sakura, sebagian rambutnya basah.. Pasti dia sangat malu karena kalah dalam bermain game menembak bebek. Sakuralah yang memaksa mereka ikut games itu, berniat mendapatkan teddybear lainnya. Tapi, kadang kau tak selalu menang kan? Sakura menatap Sasuke yang merengut, namun sangat manis dilihat. Lebih manis lagi ekspresi Sasuke sewaktu dia disemprot air, gumam Sakura senyum-senyum sendiri,.. Dan hei, lihat itu!
Diseberangnya, terdapat sebuah stand yang gemerlapan bewarna pink, penuh dengan aksesori khas cewek. Matanya langsung tertuju pada sebuah jepitan rambut yang sangat cantik, dengan hiasan bintang yang berkilauan. Belum sempat dia melangkahkan kaki ke stand itu,Sakura merasakan rintik-rintik air menjatuhi badannya. Hujan? Ini kan musim panas!
"Ayo, Sakura! Kita mencari tempat berteduh!" Seru Sasuke, menarik tangannya dan berlari ke kafe terdekat.
.
.
Sakura POV
Saat ini, aku dan Sasuke berada dalam sebuah kafe yang teduh. Sambil menunggu hujan reda, kami memesan makan siang. Kulihat arloji putihku, pantas saja aku kelaparan, ternyata sudah jam 2 siang. Tak terasa waktu cepat sekali berlalu. Kusantap salad buahku sekenanya, pandanganku terpatri pada Sasuke yang sudah menyantap habis yakiniku iris tomatnya, sekarang dia sibuk menyeruput jus tomatnya dan sesekali melihat keluar jendela.
"Hujannya sangat lebat ya, Sasuke-kun. Padahal saat ini musim panas." celetukku.
"Iya. Meskipun hujan lebat, cuacanya terasa sangat kering. Hujan lebat di musim panas..., bumi kita benar-benar telah kehilangan kestabilan iklim. Ingat banjir dan longsor di Cina akibat hujan musim panas minggu kemarin?" Jelas Sasuke panjang lebar.
Aku pergi bersama Sasuke tidak untuk mendengar ceramah tentang ketidakstabilan iklim.
.
Tapi, aku akan mengingatnya, mungkin berguna untuk tugas biologi yang dikumpul minggu depan.
.
Tidaaak! Apa yang kulakukan? Bukankah aku pergi bersamanya karena ada yang mau dibicarakan? Sasuke-kun tak kelihatan ingin mengajakku bicara tentang apapun, padahal aku kan menunggunya.
"Ngg,… Sasuke-kun, …" cicitku.
"Hn?"
"Kenapa kau mengajakku kesini?" tanyaku. Aku pikir aku bisa menjadi aktris terhebat karena bisa menyembunyikan kegugupanku dengan sempurna.
"Kenapa? Kau tidak suka?"
"Bu-bukan begitu. A-aku.. suka tempat ini…" jawabku cepat-cepat.
"… Tapi, Sasuke-kun kan tidak suka tempat yang banyak orang…" tambahku lagi. Aku memang bertanya-tanya, kenapa dia tiba-tiba saja mengajakku ke festival yang ramai?
"Hampir selalu…" jawabnya, sedingin jus strawberry yang ada dihadapanku. Jawabannya membingungkan dan tak menjelaskan apapun padaku. Hening diantara kami, aku sibuk memikirkan topic yang cocok untuk dibicarakan. Mungkin Sasuke tidak suka aku bertanya tentang alasannya mengajakku?
"Kau kelihatan berhubungan baik dengan Akasuna, ya.."ucap Sasuke akhirnya, tanpa menoleh padaku sama sekali. Aku tersedak jus strawberry-ku sendiri. Berhubungan 'baik'? Tentu saja, Aku kan sahabatnya!
"Kau tak apa-apa, Sakura?"
"Eh, iyaa... Aku tak apa-apa.. Aku dan Sasori-kun sahabat masa kecil sebelum dia pindah ke Suna.." jelasku. Kenapa dia tiba-tiba membicarakan Sasori?
"Menurutmu dia tampan?"
"Eeeeh?" Aku sangat kaget dengan pertanyaan Sasuke. Tentu saja, Sasori sangat tampan! Apa maksudnya?
"Tidak akan pernah ada yang bilang tidak.." jawabku acuh sambil mengangkat bahu. Aku agak sedikit kecewa, kenapa Sasuke repot-repot mengajakku pergi hanya untuk berbicara tentang Sasori. Tunggu, mungkinkah Sasuke.. rrr... cemburu? Aku tak bisa menepuk jidatku tanpa alasan didepan Sasuke, jadi aku menggantinya dengan mencubit keras pahaku, sebagai hukuman karena merasa ge-er. Tapi, tetap saja aku merasa ge-er. Sasuke cemburu karena aku dekat dengan Sasori ? Tambahan lagi, aku belakangan ini menjauhinya, bukan? Hebat! Sama sekali tak terpikir olehku.
"Tch! Dia tak lebih baik dariku,si merah itu.." Sahut Sasuke datar.
"Sudah, lupakan. Apa yang telah kulakukan?" Sasuke kelihatan frustasi sambil mengacak-acak rambutnya. Jantungku berdegup keras menghentak-hentak. Menyaksikan Sasuke Uchiha yang terlihat galau sambil mengacak-acak rambutnya merupakan pemandangan yang luar biasa, apalagi ditambah dengan kenyataan bahwa kegalauannya disebabkan dia cemburu UNTUKMU. Aku merasa seperti berada di taman langit yang penuh dengan bunga sebelum suara lengkingan seseorang mengagetkanku.
"Kyaaaaaaaaaaaaa! Itu Sasuke-kun! Tidak mungkin! Dia bersama...si Haruno?" Segerombolan gadis masuk kafe tersebut dan menunjuk-nunjuk kearah mereka, diikuti semua pasang mata yang ada di kafe. Norak sekali memang. Mukaku merasa terbakar.
"Tck. Berisik. Ayo, kita pergi!" kata Sasuke, kemudian menarik tanganku keluar dari kafe, untungnya hujan sudah reda. Segerombolan gadis itu mengikuti dan mengejar kami dalam diam, aku tak tahan untuk menengok ke belakang sepuluh langkah sekali. Yang kudapati adalah deathglare mematikan dan gertakan tanpa suara. Aku menelan ludahku sendiri yang rasanya tiba-tiba berubah pahit.
"Sakura, abaikan saja mereka.." ucap Sasuke acuh, kemudian menggenggam tanganku. Tiba-tiba aku merasa kikuk. Sesuatu yang tidak kasat mata mengalir dari tanganku, dari bagian yang disentuh Sasuke, masuk dalam pembuluh darahku dan tersebar ke otak hingga diseluruh tubuhku. Sesuatu itu, rasanya sangat nyaman dan menenangkan. Aku tersenyum, tak peduli lagi pada gerombolan gadis bodoh yang membuntuti dan berbisik-bisik dibelakang kami, kehadiran mereka bagaikan deburan ombak di seberang pulau, hanya terdengar sayup-sayup bagaikan musik latar belakang sebuah drama yang pemeran utamanya adalah aku dan Sasuke. Aku juga tak peduli lagi pada apapun yang seharusnya dibicarakan Sasuke padaku, genggaman tangannya pada tanganku sudah lebih dari yang bisa kuharapkan.
.
.
Normal POV
Malam itu, hujan turun dengan sangat deras. Sakura Haruno menggeliat ke kiri dan ke kanan, matanya menolak untuk terpejam, menolak untuk mengucapkan selamat tinggal pada sang bulan, menginginkan agar waktu terhenti dan hari tak berganti. Sakura ingin agar semua hari yang dia lalui bisa seindah hari ini, karena itu dia tak ingin hari ini berlalu, cemas andaikan hari esok tak seindah hari ini, atau semua yang dia alami tadi hanya sekedar mimpi. Detik demi detik berlalu, Sakura masih menggeliat-geliat ke kiri dan ke kanan, senyum tak pernah lepas dari wajahnya dan matanya tak mau terlelap, sampai sang bulan berkhianat pergi digantikan mentari sama berkhianatnya dengan sepasang mata emeraldnya yang semakin lama terasa semakin berat.
.
.
Esoknya,...
Sakura merasakan secercah sinar lembut merembes melalui jendelanya. Tapi, dia belum mau terjaga. Hari kemaren merupakan hari yang terlalu indah, membuainya sampai ke alam mimpi. Sakura masih tidur-tiduran di atas tempat tidur, mengenang saat-saat dia ke festival bersama Sasuke,ketika lagi-lagi gempa 9 skala Richter menghantam kamarnya.
Gubraaaaaakk!
"Nee-chan! Mau tidur sampai kapan? Kau pikir sekarang jam berapa?" Sakura terlonjak dari tempat , Konohamaru-Baka!
"Apa yang kau... " omelan Sakura terhenti melihat angka yang ditodong oleh jarum jam meja minnie mouse-nya. Setengah TUJUH! Gawat!
"...AAAAAAAAAAAA... Aku kesiangan!" pekik Sakura kemudian dengan sekali sentakan langsung berdiri dan berlari ke kamar mandi, menghiraukan rasa pusing akibat berdiri tiba-tiba maupun kekesalannya terhadap Konohamaru yang tanpa rasa sopan sedikitpun menggedor-gedor kamarnya, menyeretnya paksa dari alam mimpi yang indah menuju alam nyata yang kejam.
"Sasori sudah datang ya?" teriak Sakura tanpa menoleh pada Konohamaru, bergegas ke kamar mandi.
"Eh? Belum .. "
Sakura agak heran dan melanjutkan mandinya dengan kilat. Selama sepuluh menit mandi-ganti baju-menyiapkan tas-nya, Sakura melaksanakannya secepat mungkin, dia takut Sasori tiba-tiba datang mejemput dan dia belum siap sama sekali, padahal ini sudah lewat setegah tujuh. Namun, setelah dia sarapan, Sasori masih belum datang, padahal mereka biasanya sudah sampai di sekolah pukul setengah tujuh pas. Apa dia juga terlambat? Mana mungkin, Sasori belum pernah terlambat, dia benci semua hal tentang menunggu dan ditunggu orang. Mungkin dia harus datang lebih awal karena urusan lombanya itu? Tidak,lombanya kan sudah selesai. Selain itu, Sasori tak pernah absen memberitahunya seandainya dia berangkat duluan. Setelah gigitan kedua, roti panggang jatah sarapannya ditinggal begitu saja di atas piring dan Sakura bergegas mengambil tas ranselnya dengan tangan kiri dan menyambar iphone nya yang ada diatas meja dengan tangan kanan, sedetik kemudian Sakura sudah berada di jok belakang motor Konohamaru yang sudah akan berangkat dalam waktu 30 detik.
"Konohamaru! Aku pergi denganmu, ya! Antar aku dulu!" teriak Sakura seenak jidat-lebarnya. Konohamaru langsung mendelik, namun tetap mematuhi Nee-channya meskipun tak henti-hentinya menggerutu. Sakura mengabaikannya, dia sibuk menelepon Sasori untuk memastikan Sasori sudah berangkat atau belum. Bagaimana kalau mereka berselisih jalan? Tapi, handphone Sasori tidak bisa dihubungi sama sekali. Kemana sih, dia?
Setibanya di sekolah,..
Sakura sudah sangat terbiasa dengan ulah FG Sasori yang memuakkan dan bersitegang dengan mereka tiga kali dalam sehari, hanya karena dia bersahabat dengan Sasori. Tapi, dia belum pernah bersitegang dengan FG Sasuke, karena dia memang tidak begitu dekat dengan Sasuke semenjak SMA. Fakta bahwa dia baru saja pergi ke festival musim panas hanya berdua dengan Sasuke, dan ketahuan (Sakura yakin sekelompok perempuan kemarin adalah anak sekolahnya) Sakura sadar bahwa dia baru saja menambah jumlah musuh sebanyak dua kali lipat atau lebih. Namun, Sakura tak mengira kalau reaksinya datang secepat ini, tepat sedetik setelah dia baru saja sampai di sekolah. Ya ampun! Ini kan masih pagi! Tiba-tiba Sakura merasa bersyukur dia sampai di sekolah tepat sebelum bel berbunyi. Apa yang terjadi?
Flashback On
Konohamaru baru saja menurunkan Sakura didepan gerbang sekolahnya.
"Hei, Itu dia! Si kepala pink HARUNO!" teriak seorang murid perempuan yang bercepol dua. Tanpa komando, semua makhluk berkromosom xx disana langsung membentuk barikade mengepung Sakura, sekaligus memblokir jalannya masuk gerbang sekolahnya sendiri. Sakura merasa sangat ngeri, jumlah mereka sekitar dua puluhan orang dan bertambah banyak, bahkan beberapa anak perempuan lain bergabung dengan barikade tersebut dari dalam sekolah.
"Hei, apa yang kalian lakukan! Biarkan aku lewat!" teriaknya lantang dan menggeleggar, padahal sebenarnya dia sendiri sangat panik. Satu lawan dua puluh? Yang benar saja!
"Eeeehhh,... tunggu dulu! Kami ingin mengobrol sedikit denganmu.." kata gadis bercepol itu sinis
"Kau!.. Pertama-tama, kau selalu bergelayut Sasori-kun kemana sajaa..Dan,.. kami sangat membenci ITU, tentu saja!.." kata si gadis dengan penuh penekanan pada setiap kata-katanya..
.
"... Namun, kami biarkan saja, kau tahu kenapa? Karena Saso-kun kami sepertinya senang denganmu... Dia memperlakukanmu dengan berbeda dan kami bisa menduga kalau dia menyukaimu" lanjutnya lagi. Sakura menahan diri untuk tidak memutar bola matanya (mengingat dua lusin lawan di depan mata). Lagi-lagi persoalan dia dekat dengan Sasori.
"Dan, kemaren, kau memutuskan untuk mencampakkan Saso-kun kami, dan pergi bersenang-senang dengan Sasuke-kun kami? Ha? KAU PIKIR KAU SIAPA? " teriaknya lantang, membakar kemarahan massa yang berjalan horror semakin mendekat kearahnya dengan tatapan membunuh. Sakura merasakan bahaya, tak punya pilihan lain, dia berteriak nyaring.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...!" selagi kepungan itu bingung karena takut suara lengkingan Sakura terdengar sampai ke ruagan guru, Sakura menerobos kepungan dan berlari sekuat kakinya bisa membawanya.
"HHEEEEEEEEEEEEEEEEEIIIII! LARI KEMANA KAU!"
Flashback Off
Dan disinilah dia, berjalan ngos-ngosan masuk kedalam kelas, persis di belakang Kabuto-sensei, sehingga teman-teman sekelasnya tak ada yang punya kesempatan membully-nya seperti tadi, kecuali hanya menatap dengan pandangan horror. Dia segera berjalan ke bangkunya dibelakang dan mencari-cari tatapan hazel menenangkan sahabatnya, Sasori, dia sudah tak sabar menggadu ini dan itu, yang kemudian tak dijumpainya. Bangkunya kosong. Sasori tidak hadir hari itu. Kemana dia?
.
.
Sakura, sama seperti semua anak di KHS, tidak pernah bisa berhenti membenci Kabuto-sensei yang selalu memberikan pelajaran yang tingkat kesulitannya dua tingkat diatas seharusnya, ditambah tugas dan latihan yang bergunung-gunung. Karena itu, tak heran apabila semua orang ingin pelajaran Fisika Kabuto-sensei cepat berakhir -kecuali Hinata, sepertinya-. Anehnya, kalau kau ingin sesuatu berlalu dengan cepat, sesuatu itu, entah bagaimana justru berjalan semakin lambat. Begitulah yang dirasakan semua siswa XI IPA1 (minus Hinata), termasuk Sakura. Bahkan, keinginan Sakura agar pelajaran dengan Kabuto-sensei ini lebih cepat berakhir, jauh lebih besar dari setiap orang di kelas. Kenapa? Mengerjakan soal-soal ini saja sudah sungguh sangat menyiksa batin dan membuat uring-uringan, apalagi kalau kau harus mengerjakannya sendirian tanpa teman berdiskusi, atau sekedar mencuri canda tawa. Sasori tak ada, Ino masih tak menyapa-nya, dan Hinata secara ajaib tak menjawab panggilannya berkali-kali, meski Sakura lebih curiga kalau itu dikarenakan kesukaan Hinata pada Fisika yang tak bisa diinterupsi siapapun. Sakura tak berani melirik, apalagi menyapa Sasuke setelah semua yang terjadi pagi ini. Dan, disinilah dia, Sakura Haruno, berjuang mengerjakan soal-soal Fisika selama dua jam pelajaran penuh yang serasa seharian sambil mencuri kesempatan menggunakan iphone-nya, menelepon Sasori agar cepat-cepat datang. Namun, tak peduli berapa kali pun Sakura mencoba, handphone Sasori tetap tak bisa dihubungi. Sakura pun dengan putus asa berkali-kali mencoba menelepon kerumahnya, namun tetap saja tak ada jawaban. Sakura mulai cemas, perasaannya tidak enak. Kemana perginya bocah satu itu?
.
.
Bel berbunyi menandakan pelajaran Fisika yang mengerikan telah berakhir, Sakura dengan asal mengumpulkan buku latihannya, tahu benar bahwa dia tak mengerjakannya dengan maksimal. Sakura sedang berjalan menuju bangkunya ketika,..
"Hinata.." panggil Kabuto-sensei. Hinata yang terlebih dahulu mengumpulkan buku latihannya mengangkat tangannya dan yang duduk dibelakang Hinata dan nyaris terlambat awalnya tak memperhatikannya, dan sekarang semuanya tampak jelas, Hinata agak berbeda karena memakai kacamata hari itu (biasanya kan Hinata tidak memakai kacamata), tapi tak bisa menutupi matanya yang bengkak dan memerah serta wajahnya yang agak pucat. Sakura bertanya-tanya apa yang terjadi pada Hinata.
"Kau tidak mendapatkan nilai tugas hari ini. Kau tidak membuat latihan, buku latihanmu kosong.." kata Kabuto-sensei dingin.
"Maaf, Kabuto-sensei..." kata Hinata pelan sambil menunduk, bulir-bulir air mata tampak jatuh dari wajahnya, Sakura bisa melihat dari sela-sela jari tangannya. Seluruh kelas membeku seketika, kemudian mulai terdengar bisik-bisik antara semua anak yang semakin lama semakin keras, membicarakan Hinata Granger yang tiba-tiba tidak membuat apapun selama dua jam pelajaran. Ya ampun, apa obatnya habis? Hinata? Tidak membuat tugas? Apa dunia akan kiamat? Apakah matahari sudah terbit dari barat? Tidak ada seorangpun murid XI IPA1 yang berani mengabaikan tugas, bahkan Naruto yang paling pemalas sekalipun. Semua orang pasti menyelesaikannya, meski ada efek samping teler dan muntah-muntah.
Kemudian, Kabuto-sensei keluar dari kelas beserta sebagian besar murid, yang masih berbisik-bisik dan sesekali menoleh pada Hinata. Sakura berjalan kearah Hinata dan meletakkan tangannya pada punggung Hinata, berniat memberikan sedikit penghiburan. Toh, bagaimanapun Hinata yang selalu disampingnya ketika Sasori dan Ino tidak ada, bahkan hari ini. Tapi,..
"Plaaak".. Alangkah terkejutnya Sakura ketika Hinata menepis tangannya, keras. Biarlah, Hinata sikapnya memang jutek begitu kadang-kadang. Ingat, ketika dia menyebut seni sebagai rongsokan dan berdebat dengan Sasori di perpustakaan? Hinata dan Sasori memang kadang suka berdebat tentang seni dan pengetahuan. Tak heran, sebab Hinata punya otak kiri yang berkembang pesat sehingga ahli dalam pelajaran eksak, sama pesatnya dengan otak kanan Sasori, si jenius seni. Otak yang agak berat sebelah membuat mereka saling berdebat satu sama lain. Hinata, yang otak kirinya dominan tak mengerti segala macam seni dan tak bisa mengapresiasi seni. Sasori, meskipun jenius luar biasa dalam urusan seni, tetap pintar dalam dunia eksak, tak salah kata psikolog kalau orang yang dominan otak kanannya mempunyai kecerdasan yang seimbang disemua aspek.
Eh, tunggu dulu! Sasori tidak ada dan Hinata tiba-tiba bersikap aneh, kelihatan sangat sedih dan berduka. Apa ada sesuatu diantara mereka? Apa Sakura ketinggalan sesuatu? Sakura mengingat-ngingat dulu bukannya Hinata pernah bilang kalau dia menyukai Sasori?
Flashback On
"... dan kau, Sasori-kun, sampai kapan kau akan mengekori si Jidat ini kemana saja, ha? Biarkan saja dia sendirian, kau tak usah terlalu baik padanya,... " sembur Ino kejam. Sakura kesal berusaha menyentil Ino. Sasori hanya stay cool saja, walaupun pipinya memerah. Dia melirik jus strawberry Sakura yang sudah habis. Hinata tak berkedip memperhatikan Sasori.
"Kuambilkan jus yang baru untukmu." Kata Sasori lembut, kemudian bangkit ke counter jus.
"Trims, Saso-kun..." kata Sakura sambil lalu. Hinata masih memperhatikan punggung Sasori yang berbalik ke counter jus.
"Sasori-san. Dia sangat tampan, ya. Baik sekali dia, mengambilkan jus yang baru untukmu..." kata Hinata, agak keras. Dahi Sakura berkerut mendengarkan omongan Hinata. Oke, Hyuuga Hinata memang sangat cantik, baik, kalem, dan berasal dari keluarga Hyuuga yang bangsawan. Tapi, FG Sasori yang ganas-ganas membuat Sakura tanpa sadar jadi agak paranoid kepada siapapun yang mempunyai gelagat menyukai Sasori.
"Kalau aku bilang mereka pacaran, kau percaya kan, Hina-chan?" kata Ino. Hinata mengangguk.
" Tuh, kan.. Baka Forehead! Semua orang yang punya mata juga tahu kalau kalian punya gaya tarik menarik satu sama lain.."sambung Ino lagi.
"Jangan bahas Fisika disini, Pig! Tak cukup kah soal-soal tadi, semuanya? Sudah kubilang berkali-kali Baka, aku dan Sasori tak seperti itu.." ujar Sakura ketus.
"Benarkah? Kalau kubilang aku menyukai Sasori-san, bagaimana?" tanya Hinata. Beberapa gadis yang duduk dekat mereka memandang garang pada Hinata. Sakura merasa kesal, mungkin karena Hinata kini ikut-ikutan meledeknya.
Flashback Off
Sasori dan Hinata. Maniak seni dan kutu buku. Otak kanan dan otak kiri. Perpaduan yang sangat serasi, mereka saling melengkapi satu sama lain. Dan oh, bukannya Sasori baru-baru ini mengatakan kalau dia sepertinya menyukai seseorang? Mungkinkah itu Hinata?
Namun, entah kenapa ketika mengingat kemungkinan itu, sesuatu dalam perutnya menggeliat-geliat tak nyaman. 'Aduh, apa yang aku pikirkan? Sasori hanya sahabatku, kan? Dan, aku menyukai Sasuke.' gumam Sakura. Tapi, kenapa sesuatu dalam perutnya terasa tak nyaman begini ya?
Dan,
Oh, tunggu! Kalau memang ada sesuatu diantara mereka (perut Sakura bergejolak lagi) dan saat ini Hinata kelihatan kacau, apa mungkin ada sesuatu yang terjadi pada Sasori? Sakura menduga, dia punya firasat mengenai sesuatu ini. Firasat tidak enak. Dibunuh atau tidak oleh Hinata yang jutek, Sakura merasa perlu berbicara dengan Hinata terutama tentang keberadaan Sasori.
"Hina-chan,... kau kenapa?" tanya Sakura hati-hati. Yang ditanya hanya membatu. Apakah Hinata tahu sesuatu tentang keberadaan Sasori? Tanggapan Hinata yang dingin membuat Sakura urung untuk menanyakannya, tapi dia tak punya pilihan. Dia sangat mencemaskan Sasori saat ini.
"Ngg,.. Hina-chan,.. kau tahu dimana Sasori-kun?" tanya Sakura akhirnya, tak bisa menyembunyikan kecemasannya. Hinata membuang muka, tak menjawab. Beberapa bulir air mata menjatuhi pipinya lagi.
"Hinata-chan,..." ucap Sakura. Tiba-tiba,..
"Sakura,.." kata sebuah suara dalam persis dibelakangnya, membuat Sakura terlonjak , jantungnya nyaris mangkat dari tahtanya diantara tulang rusuknya. Suara itu,.. Sasuke. Sakura berbalik dan paru-parunya serasa kehabisan udara ketika mendapati mukanya hanya berjarak sepuluh senti dari sang Uchiha.
"Si rambut merah itu,.. Kenapa hanya dia yang kau pedulikan? Apa hebatnya dia? Apa aku lebih baik dari dia?" tanya Sasuke tanpa diduga dengan nada datar yang mengerikan, setelah memundurkan kepalanya sedikit. Sakura merasa waktu berhenti saat itu, tak bisa menjawab apa-apa, Sasuke sangat manis, namun Sakura tiba-tiba kaget karena tiba-tiba Hinata mendelik kepada mereka, menggebrak meja, dan pergi keluar kelas, masih bercucuran air mata. Pasti, ada sesuatu antara Sasori dan Hinata.
Tapi, apapun yang terjadi antara Sasori dan Hinata bisa diurus nanti. Sakura masih sangat terhenyak dengan kenyataan kalau Sasuke tiba-tiba menyapanya di siang bolong. Sasuke seperti menangkap perubahan air muka Sakura.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya lagi. Sakura baru akan menjawab ketika,...
"Sakura! Ikut aku!" seru sebuah suara yang dikenalnya, menyeretnya pergi dari hadapan Sasuke, pujaannya. Dalam sekejap, mereka sudah berada di halaman belakang sekolah. Dengan tenaga supernya, Sakura seharusnya bisa menyentak tangan cantik yang lancang itu, namun Sakura terlalu shock ketika menyadari pemilik itu. Ino Yamanaka, yang merupakan errrr... sahabatnya.
"Hei, sakit! Lepaskan!" akhirnya Sakura menyentak tangan itu , sesampainya mereka di halaman belakang sekolah yang sepi. Tak mengertikah Ino kalau dia baru saja merusak momen berharganya dengan Sasuke? Wajah Ino tak mengekspresikan apapun, namun suaranya sedingin es.
"Apa yang kau lakukan, Baka! Benarkah , kau berkencan dengan Sasuke-kun, kemaren?" tanya Ino, tak percaya. Ino kelihatannya lupa sama sekali kalau mereka sedang bertengkar.
"Kalau memang iya, kenapa?" balas Sakura dingin. Jadi, bagaimana Ino? Aku berhasil mendapatkan Sasuke kan? Ino menatap Sakura tak percaya.
"Tapi, bagaimana mungkin? Bukankah kau kemaren harusnya pergi bersama Sasori-kun? Aku bertemu dengannya kemaren di taman. Kau gila? Kau berkencan dengan dua idola sekolah kita sekaligus!" pekik Ino tak percaya. Tunggu, apanya yang pergi kencan dengan Sasori.
Hening sesaat ketika Sakura mencoba memproses kata-kata Ino.
"Eeeh? Kau bertemu Saso-kun?... Aaaaaaaaaakkkhhhhhhh!" seketika kesadaran menimpa Sakura, menohoknya tepat di jantung. Ini dia yang dia lupakan sejak kemarin! Dia kemaren lusa juga berjanji pada Sasori bahwa mereka kemaren seharusnya bertemu, kan? Dan, Sakura, lupa sama sekali, karena beberapa saat setelahnya dia bertemu dengan Sasuke dan diajak Sasuke juga! Sasori, kenapa Sakura bisa lupa janjinya sendiri?
Sakura tak tahu kenapa dia langsung berlari meninggalkan Ino yang terperangah. Sakura menerobos begitu saja sekumpulan cewek-cewek yang ingin menyudutkannya, mengambil tasnya di kelas,tanpa mengurangi kecepatannya langsung menuju gerbang depan.
"Apa yang kau lakukan? Habis ini kelas Anko-sensei!" Sakura tak sempat mengacuhkan peringatan Ino. Tanpa mengurangi kecepatannya sekalipun, Sakura berlari dan melompat pagar sekolahnya. Dia sudah lari sedemikian cepatnya, sehingga ketika penjaga sekolah, Jiraiya baru akan menoleh dan menangkap sang murid bandel, Sakura sudah menghilang di perempatan jalan.
.
.
Sakura tak mengerti kenapa dia bisa senekat itu, bolos dari sekolah. Tapi, perasaannya terasa sangat tidak enak mengenai Sasori yang absen dan tak bisa dihubungi. Dan, kemungkinan itu semua salah Sakura yang lupa pada janjinya sendiri. Mudah-mudahan Sasori baik-baik saja, tidak menunggunya seharian atau apa, kemaren cuaca sangat buruk dan Sakura tahu kalau Sasori benci menunggu. Tapi, Sasori tak menghubunginya sama sekali, bahkan tak datang ke sekolah tanpa kabar berita. Sakura merasakan firasat buruk. Tingkah Hinata entah kenapa membuatnya merasa semakin buruk.
.
.
Tempat pertama yang didatanginya adalah rumah Sasori. Sakura memperhatikan pintu pagarnya tak terkunci, kemudian masuk ke dalam pekarangan dan mengetuk pintu depan. Tak ada jawaban. Kemudian, Sakura mencoba masuk dan heran karena pintu rumah Sasori tak terkunci. Dia masuk dengan hati-hati. Ada perampok? Tapi, isi rumah Sasori baik-baik saja. Kemudian,
Bruk! Gedubrak! "Aaaaaaaaaaaaaa!" "
Sakura tersandung sesuatu, kemudian jatuh tersungkur. Ketika membuka matanya, betapa ngerinya dia ketika melihat sosok putih pucat yang tiba-tiba ada didepan matanya.
"Hantuuuuuuuuuuuuuuuuu!" lengkingnya, mundur dengan mengesot-ngesot dan,..
BRUK!
Kepala belakangnya menghantam dinding. "Aduuh!" pekiknya. Sakura mengelus-ngelus kepalanya yang berdenyut nyeri. Sakura melihat takut-takut kearah onggokan pucat itu, dan betapa terkejutnya dia, onggokan itu berambut merah,... Itu SASORI!
.
.
.
TBC
Author's Note
Uuh,.. akhirnya update juga chapter 5. Padahal Fanny tak ingin ceritanya panjang-panjang, tapi Fany selalu membuatnya sepanjang seperti ini. Semoga readers tidak bosan yaa,..
Sebelum fany dibunuh, Fany mengiyakan kalau adegan Sasori yang menyewa restoran lantai teratas itu terinspirasi Sinichi-Ran di detective conan, tapi cuma itu aja kok.
Dan, tenang saja. Tidak ada yang MATI. Sasori tidak MATI, percayalah. Dan, Fany sangat bingung, apakah Fany seharusnya memberitahu saja pairingnya atau tidak. Fany tak ingin alur ceritanya mudah ditebak, tapi sangat sulit membuat chemi diantara tokohnya disini. Tapi, bagi reders apakah chemi-nya kerasa? SasuSaku? SasoSaku? Bagaimana pendapat kalian?
Tapi, bagaimana fic ini sejauh ini? masih aneh, apa bertambah aneh dan njelimet? Bentar lagi tamat kok, janji.. mm,.. mungkin 3 chapter lagi paling banyak. heheheeh
Special Thanks to
Midori Kumiko, Sasori No Danna (my Imouto), Putri Luna, Anasasori29, Rizuka Hanayuuki, Hikaru Kin, Nosebleed Afa, akira, Eky-chan, ss holic, Yuu Yurino , jjluvever all silent readers.
Mohon, RnR ya
Pleeeeeeaaaase!
RnR sangat penting bagi kesehatan mental Fany sebagai author disini.
Trims,
