Kita memang harus bangkit dari masa lalu
Meninggalkannya untuk terus maju
Tapi….
Kita tidak boleh lari dan lupa akan masa lalu
Karena masa lalu adalah bagian dari diri kita sendiri
Fuyu no Asyafujisaki present
~Memories From The Past~
Naruto © Masashi Kishimoto
Warning : AU, OOC (maybe), typo, plotless dan teman-temannya
Rated : T
Don't like don't read and please be easy on me
Douzo
Chapitre 2 : Unintended situation
"Hinata.." sebuah suara mengalun pelan memecah kesunyian yang sedari tadi menggantung, sedikit mengagetkan seorang gadis bermata lavender yang merasa namanya dipanggil. Gadis itu, gadis yang bernama Hinata itu menolehkan wajahnya ke samping, memandang seorang pemuda bermata onyx yang tadi menariknya ke alam kesadaraannya kembali. Gadis itu sedikit mengurutkan dahi ketika sang pemuda hanya menatapnya dalam diam, menggantungkan kalimatnya.
"Ada ap…"
"Kiba, ada apa dengannya?" Hinata mencoba berucap, tapi perkataannya terpotong oleh pertanyaan lain dari pemuda di sampingnya.
"E..ee..eh?" balas Hinata gugup.
"Tidak biasanya Kiba bersikap seperti itu," sang pemuda berhenti sejenak, kemudian melanjutkan, "Apa yang terjadi?"
Hinata menatap Sasuke dengan kening sedikit mengkerut kemudian bertanya,
"Sasuke~kun?" walau wajah sang pemuda, yang diketahui bernama Sasuke itu nampak tenang, tapi Hinata tetap dapat merasakan perasaan cemas dan, er.. sedikit takut melekat di suara yang dikeluarkan oleh sang pemuda. Hinata kemudian menatap Sasuke dengan pandangan lembut yang menenangkan kemudian berkata, "daijobu, Sasuke~kun! Daijobu..!"
Hening sejenak menyapa, Sasuke kembali diam seribu bahasa tidak mampu melihat wajah Hinata yang sedang tersenyum lembut. Tak lama kemudian Hinata berdiri dari posisinya yang sejak tadi terduduk kemudian menarik tangan Sasuke pelan seraya berucap, "Ayo Sasuke~kun, busnya sudah datang…!"
Sasuke memandangi Hinata lama, sedikit tertegun, kemudian dengan satu langkah pasti mendahului Hinata melangkah masuk ke dalam bus, guna merubah posisinya dari yang ditarik menjadi yang menarik. Hinata yang melihatnya hanya bisa tersenyum, awalnya sebuah senyum manis seraya tersipu malu dengan rona merah di wajahnya yang sudah mencapai tingkat akut, tapi kemudian senyum itu perlahan memudar, digantikan dengan sebuah senyuman miris.
.
.
.
Di dalam bus, Hinata dan Sasuke memilih tempat duduk yang agak ke belakang. Suasana bus yang agak sunyi karena hanya diisi lima orang penumpang lain selain mereka berdua membuat pikiran Hinata mau tidak mau kembali melayang-layang. Mata lavendernya memandang kosong pemandangan yang terpampang di jendela bus. Tangan kirinya ia pakai untuk menopang bobot kepalanya yang sekarang tengah memandang ke arah kiri, ke arah jendela besar yang menawarkan pemandangan aktivitas manusia sehari-hari. Sasuke yang melihatnya hanya memandang Hinata dalam diam. Ia percaya dan yakin, pasti ada sesuatu yang terjadi tadi. Ia tahu Hinata memang bukanlah tipe wanita yang cerewet, ia bahkan lebih condong ke tipe pemalu, tapi diamnya Hinata kali ini berbeda. Ia lebih banyak melamun sekarang. Tapi kalau Sasuke bertanya tentang masalah tadi, Hinata pasti langsung berkata 'semuanya baik-baik saja' kemudian tersenyum lembut menenangkan. Nah hal inilah yang ia takutkan, kalau Hinata sudah mengeluarkan senyuman itu, Sasuke yakin, ia pasti akan tak berdaya. Dan kalau boleh jujur, ia takut akan berbuat yang 'tidak-tidak'.
Hening kembali menggantung, suasana kala itu begitu menyejukkan karena terik sang mentari sudah mulai memudar, walau cahayanya masih tetap menerangi. Sasuke yang merasa lelah karena menuggu Hinata kembali dari alam bawah sadarnya hanya bisa menghela napas. Ia menyunggingkan senyuman tipis, yang lebih mirip seringaian ke arah Hinata yang tengah memandang ke luar jendela.
"Tuk"
Kemudian dengan sekali gerakan Sasuke meletakkan kepalanya di bahu mungil sang gadis yang tengah melamun tersebut. Membiarkan bobot kepalanya ditopang oleh bahu mungil nan rapuh milik sang gadis. Hinata, sang gadis, awalnya hanya tersentak kaget karena merasakan ada sesuatu yang menyentunya lembut dan hal itu dengan sukses menariknya kembali dari alam bawah sadarnya. Ia menolehkan wajahnya ke samping, tepatnya ke arah bahu kirinya yang kini tengah mendapatkan sebuah beban ekstra. Awalnya ekspresi Hinata biasa-biasa saja, tapi sejurus kemudian, ketika ia mendapati 'sesuatu yang menyentuh pundaknya' itu, rona merah kembali merayap dengan cepat di wajah putihnya.
"Sa..Sas..Sasuke~kun!" Hinata berkata tergagap kepada Sasuke seraya bergerak-gerak panik, berusaha menjauhkan pundaknya. Ia terlalu kaget dan panik dengan posisi Sasuke. Sasuke yang mendengar perkataan Hinata yang terbata-bata dan gelagat tubuhnya yang panik membuat bibir Sasuke mau tidak mau sedikit tertarik naik, membentuk seringaian jahil. Matanya ia tutup, menyembunyikan sepasang onyx yang sebenarnya sudah tidak tahan ingin melihat ekspresi panik Hinata dan rona merah yang menghiasi wajah manisnya, kemudian berkata dengan nada mengantuk,
"Berhentilah bergerak-gerak Hinata. Aku lelah dan juga mengantuk jadi biarkan aku tidur sebentar."
Hinata yang mendengarnya hanya menggigit bibir bawahnya, berusaha menenangkan diri dan mengurangi kadar rona merah di wajahnya yang sudah memanas. Tapi sepertinya usaha Hinata tidaklah membuahkan hasil, tatkala kepala Sasuke, yang tengah berada di pundaknya, bergerak-gerak. Membuat helaian rambut ravennya bersentuhan dengan kulit wajah Hinata yang kini tambah memerah. Hinata kembali bergerak-gerak gelisah, entah kenapa ia malu sekali dan gugup selalu menyertainya. Hal inilah yang membuat Sasuke menegakkan kepalanya kembali seraya berucap,
"Berhentilah bergerak Hinata atau kucium"
Walaupun Sasuke mengatakannya dengan nada datar, tapi Hinata dapat menangkap seringai jahil terpampang di wajah Sasuke ketika ia menyelesaikan kalimatnya. Ia, Hinata, hanya bisa bengong dengan ekspresi kosong, sepertinya otak Hinata masih membutuhkan waktu agak lama untuk memproses setiap untaian kata yang dilontarkan Sasuke tadi.
'Berhentilah bergerak Hinata atau…
"atau? atau apa? Kucium?"
…..
…..
"APA DICIUM"
"EEEEeeeeehhh?" Hinata terpekik agak keras setelah selesai memproses setiap untaian kata yang tadi diucapkan pemuda Uchiha itu. Ia memandang Sasuke dengan ekspresi ngeri, tapi sepertinya orang yang ia pandangi hanya menampilkan ekspresi mengantuk. Sasuke yang merasa dirinya dipandangi Hinata, menolehkan kepalanya ke arah Hinata. Memepertemukan onyxnya yang mengantuk dengan lavender Hinata yang membulat ngeri. Hinata yang merasa malu karena berpandangan dengan Sasuke hanya bisa menundukkan wajahnya, berusaha menyembunyikan rona merah yang sedari tadi menempel di wajahnya.
Sasuke yang melihatnya hanya bisa terkekeh pelan, kemudian kembali meletakkan bobot kepalanya di pundak Hinata, memejamkan matanya seraya berkata dengan nada yang dibuat kecewa,
"Yah, akhirnya kamu diam juga Hinata. Padahal tadi aku sempat berharap kamu tetap akan bergerak-gerak lagi."
.
Kemudian menghela napas lelah seraya berkata,
"Tolong perhatikan jalanya yah, jangan sampai kelewatan!"
Dan pada akhirnya jatuh tertidur.
.
Hinata yang melihat wajah tertidur Sasuke hanya bisa tersenyum kecil dengan rona merah yang terus saja menggantung di wajah putihnya. Tapi semenit kemudian, senyuman kecil itu memudar, berganti dengan senyuman pahit.
.
.
.
"Kiba…! Hei?" seorang wanita berambut panjang berwarna coklat tua berdiri bersedekap dengan wajah menampilkan ekspresi kesal. Ia sedari tadi berdiri di depan sebuah pintu kayu seraya memanggil-mangil nama adik laki-laki kesayangannya.
"Nani?" ucap Kiba malas.
"Ada Hina~chan di luar, turunlah!"
"Ha~h, aku sedang sibuk mau belajar. Jadi tolong jangan menganggu!"
"Eh, kamu ini kenapa sih? Hina~chan datang!"
"Lah, terus?" ucap Kiba masih dengan nada tanpa emosi, datar.
"Aah… sudahlah, aku suruh Hina~chan naik sajalah!" putus sang wanita kemudian beranjak turun menuju ruang tamu.
Kiba yang mendengarnya hanya menaikkan sebelah alisnya dan mengangkat kedua bahunya, pertanda kalau ia tidak peduli.
.
.
Tok..Tok..Tok
Suara pintu diketuk halus menyapa indera pendengaran Kiba yang sedari tadi berkutat dengan beberapa buku yang terhampar di atas meja di depannya. Ia menghentikan gerak tangannya, yang sedari tadi ia gunakan untuk menggoreskan pulpennya ke kertas buku, berusaha menahan erangan kekesalan yang hampir saja ia keluarkan.
"Kiba~kun ini aku, Hinata. Boleh aku masuk?" sebuah suara lembut mengalun pelan dari balik pintu kayu tersebut.
"Huh.." Kiba mendengus kesal. 'Aku tahu itu kau Hinata, tanpa perlu kau mengatakannya' Kiba berkata kesal dalam hati. Hening menyapa, tidak ada suara apapun yang terdengar dihasilkan oleh kedua orang manusia yang di batasi oleh dinding bercat coklat dan pintu berbahan kayu tersebut. Jujur saja, suasana hening seperti ini sangat menyakitkan buat gadis berambut indigo yang kini tengah berdiri diam di balik sebuah pintu berbahan kayu seraya menggengam sebuah bungkusan. Selama ia mengenal Kiba dan berkunjung ke sini, suasana hening seperti ini hampir tidak pernah menyapanya. Gadis berambut indigo itu terus menggigit bibirnya, berusaha menahan air matanya yang hampir tumpah.
'aku harus kuat, Kiba~kun tidak suka aku menangis' Hinata terus membatin seperti itu agar air matanya mau menurut padanya. Setelah merasa cukup tenang dengan air mata yang terkontrol, sang gadis bermata lavender itu kembali berusaha memanggil keberadaan yang berada di balik pintu kayu itu.
"Nande?" akhirnya Kiba mengeluarkan suaranya juga setelah sekian lama diam membisu. Hinata yang mendengarnya menghembuskan napas lega dan tersenyum kecil sebelum akhirnya menjawab,
"Ada yang mau kubicarakan, boleh aku masuk?"
"Apa Hana~nee tidak mengatakan padamu kalau aku lagi sibuk, mau belajar?" Kiba membalas dengan nada sedikit membentak.
Hinata yang mendengar bentakan Kiba hanya bisa menghela napas sekali lagi, berusaha untuk tenang. Setelah berhasil mendapatkan ketegaran dirinya kembali, sang indigo kembali berucap dengan nada yang dibuat sedikit bersemangat
"Belajar untuk ujian susulan besok ya? Mau ku bantu?"
"Ya dan tidak." Jawab Kiba datar.
"Eh?" kedua alis Hinata bertaut, bingung.
"Ya, aku belajar untuk ujian susulan besok. Tidak, untuk bantuan mu!"
"Tapi, aku bisa mem…."
"Tidak Hinata, apa kamu tidak dengar?" Kiba berkata dengan nada meninggi, menandakan bahwa sang empunya sedang kesal. Hening menyakitkan kembali menyapa Hinata. Tapi suasana ini tidaklah bertahan lama karena tiba-tiba terdengar sebuah suara berat mengalun dingin menusuk sistem pendengaran Hinata.
"Kalau kau mau membantu, sebaiknya kau beranjak dari sini…" berhenti sejenak, kemudian,
"Kau menggangu Hinata"
Tepat ketika sillabel terakhir dari mulut Kiba termuntahkan, hati Hinata terasa sesak. Ia merasa kata-kata tersebut mampu menghimpit dadanya, menghambat kerja paru-parunya. Ujung matanya kini memanas, ia sudah tak sanggup menahannya lagi. Maka dari itu, Hinata akhirnya memutuskan untuk melangkahkan kakinya menjauh dari pintu berukiran kayu itu. Ia membungkukkan badan sebentar seraya bergumam, 'gomennasai', dan berlalu turun seraya tetap berusaha menahan tangis yang sebentar lagi pecah.
Di bawah, seorang wanita yang dipanggil Hana~nee oleh Kiba hanya bisa tertegun melihat Hinata yang turun seorang diri dengan muka memerah layaknya orang yang menahan tangis. Matanya ia gunakan untuk mengawasi Hinata dalam diam ketika sang gadis indigo meletakkan bungkusan yang tadi dibawanya dan tersenyum tipis untuk pamit pulang. Hana benar-benar bingung dengan Kiba.
'Tidak biasanya anak itu membuat Hinata seperti ini' Hana membatin. Memberikan senyuman menenangkan kepada Hinata, ketika sang gadis akan beranjak meninggalkan pintu depan rumahnya, seraya berkata,
"Kiba pasti sedang ada masalah. Perkataannya jangan dimasukkan ke dalam hati. Sebentar lagi dia pasti akan menyesal. Jadi tenanglah."
Hinata hanya bisa tersenyum kecil mendengar penuturan kakak perempuan Kiba, yang juga sudah dia anggap sebagai kakaknya sendiri itu. Mengganguk pelan sebagai jawaban dan mengucapkan terimakasih seraya membungkukkan badan sebagai penutup sebelum akhirnya ia melangkahkan kaki-kaki mungilnya menjauh, menuju kediamannya.
Setelah kepergian Hinata, Hana yang masih berdiri di depan pintu rumahnya menghela napas lelah. Ia bingung dengan sikap Kiba hari ini dan beberapa hari belakangan. Akhirnya setelah menghembuskan napas sekali lagi, ia memutuskan untuk naik dan berbicara kepada Kiba.
'aku harus tahu jawabannya.' Tetap Hana dalam hati.
.
.
Di kamar, Kiba mengerang kesal. Ia terus saja memaki-maki dirinya dalam hati. Raut wajahnya begitu tampak menderita, perasaan bersalah begitu menghantuinya tepat beberapa menit ketika ia selesai memuntahkan beberapa kalimat yang sangat tajam. Ia juga tidak tahu kenapa ia bisa begitu tega mengalamatkan kalimat-kalimat itu kepada Hinata.
'aarrggh…' Geram Kiba dalam hati.
"Tok…Tok..Tok.."
Bunyi ketukan pintu menginterupsi inner Kiba yang terus saja memaki dirinya sendiri. Kiba terdiam, berusaha mendengarkan siapa yang lagi-lagi mengetuk pintu kamarnya.
"Ini aku Hana, bisa buka pintunya."
Mendengar suara Hana, Kiba langsung mengangkat tubuhnya dari kursi tempatnya berdiam tadi. Memutar kenop pintu kemudian melangkah kembali ke tempat duduknya, di balik meja berwarna merah marun. Sedetik kemudian, pintu kayu itu mengalun terbuka. Menampakkan seorang wanita berusia duapuluhan yang sedang bersedekap dengan ekspresi wajah serius. Ia membawa langkah kakinya menuju kamar yang didominasi warna dan coklat itu seraya berkata,
"Bisa ceritakan padaku, ada apa?"
"Eh?" Kiba yang mendengarkan untaian kata pertama yang mengalun dari mulut Hana setibanya di dalam kamar hanya mengerutkan dahi, tanda tidak mengerti.
"Apa maksud…"
"Apa ini semua ada hubungannya dengan Uchiha?" perkataan Hana yang memotong ucapan Kiba ini sukses membuat tubuh Kiba tersentak kaget. Ia mendecih pelan kemudian melanjutkan,
"Baiklah, tapi sesudah ini kau harus membantuku belajar." Ucap Kiba cuek kemudian membalikkan badannya menghadap Hana yang masih berdiri diam di depan pintu.
"Baiklah." Ucap Hana seraya menutup pintu kayu di belakangnya kemudian melangkahkan kakinya ke arah kasur, mendekat ke arah Kiba.
.
.
.
"Moshi-moshi, Sasuke~kun?"
"Ada apa Hinata~hime? Kau kangen pada ku yah?"
Blush, serta merta wajah putih Hinata memerah bak kepiting rebus kala mendengar ucapan terakhir Sasuke tadi. Ia sedikit panik dan tergagap ketika menjawab,
"Ih, ap..apaan sih Sa..Sasuke~kun! Bu..bukan itu, aku mau..eh…"
"Mau apa eh? Mau ngajak kencan yah? Balas Sasuke dengan nada menggoda. Hinata dapat merasakan Sasuke di seberang sana sedang menyeringai jahil setelah menyelesaikan ucapannya.
"Bukan Sasuke~kun!" Hinata berteriak cukup keras dengan wajah tetap memerah seperti kepiting rebus. "Aku mau pergi ke museum konoha besok, untuk mencari tugas. Tapi karena tidak ada teman, makanya aku mau ngajak Sasuke~kun. Mau?" lanjut Hinata dengan nada sedikit mengharap.
"Aih, kencan di museum. Nggak asyik Hinata!" lagi-lagi Sasuke berkata jahil pada Hinata.
"Sudah kubilang bukan!" balas Hinata denagan nada tinggi. "Kalau tidak mau, yasudah aku ngajak Naruto~kun atau Sakura~chan saja deh" putus Hinata akhirnya.
"Eh, jangan. Siapa bilang aku tidak mau. Jam berapa?" jawab Sasuke cepat.
Hinata tersenyum simpul kemudian melanjutkan, "Jam 10 pagi di depan halte bis. Bagaimana?"
"Hn, baiklah"
"Sudah dulu yah Sasuke~kun. Arigatou sebelumnya. Konbanwa…!" ucap Hinata cepat kemudian memutuskan sambungan sebelum Sasuke sempat menghentikannya.
.
.
.
Beberapa jam setelah hubungan telpon tadi terputus, benda hitam itu akhirnya berbunyi lagi. Membuat sang pemilik yang sedari tadi fokus di depan layar sebuah laptop berwarna putih dengan aksen hitam mengalihkan pandangannya, menatap benda hitam itu yang terus bergerak-gerak seraya menghasilkan sebuah bunyi yang cukup berisik. Ia mengangkat benda tersebut, meletakkannya di tangan kirinya, kemudian membuka flipnya tanpa melihat nama siapa yang tertera di sana.
"Moshi-moshi Sasuke~kun?" sapa suara lembut di seberang sana.
Sasuke yang mendengarnya sedikit tersentak kaget, sejurus kemudian menjauhkan handphonenya dari telinga guna melihat nama siapa yang kini sedang menelponnya. Ia mengerang kesal dalam hati kemudian menjawab,
"Hn, ada apa?"
"Aku akan ke Konoha besok. Bisa tolong jemput aku di bandara?" jawab suara lembut tadi.
"Besok? Jam berapa?" tanya Sasuke.
"Jam setengah 10. Bisa?"
"Pagi?" ucap Sasuke setengah berteriak.
Terdengar suara tawa pelan yang mengalun, tapi tidak ada jawaban. Sasuke tahu, ia tidak butuh jawaban. Di wajahnya tercetak dengan jelas ekspresi bingung, melambangkan isi hatinya yang kini sedang bimbang.
To Be Continued
Balas review
*ichsana-hyuuga : Arigatou na untuk review.a…*bungkukin badan* Penasaran? Wah baguslah^^ itu memang tujuan saya *HOHOHOHO^.^* Baca n RnR lagi yah… Fave? Hontou ni arigatou gozaimasu…
*Ai HinataLawliet : Arigatou na untuk review.a...*bungkukin badan* masalahnya? *hem..* silakan baca chap ini. Mudah-mudahan udah mulai nonggol. Kalau di bilang selingkuh sih, bisa iya bisa juga tidak. Ya tunggu sajalah..!^^ *hehehehe* Baca n RnR lagi yah
*ulva-chan : Arigatou na untuk review.a...*bungkukin badan* masalahnya? *hem..* silakan baca chap ini. Baca n RnR lagi yah
*lonelyclover :Kiba bisikin apa ya ditelinga Hina? Silakan tanyak Kiba.a donk, jangan tanya ma saya…! *author ditabok ma reader* apa Sasuke ada fair sama cewek laen? Ya itu juga silakan tebak sendiri…!^^
*Lollytha-chan : Arigatou na untuk review.a...*bungkukin badan* Fave? Hontou ni arigatou gozaimasu. Ini udah apdet monggo di baca n jangan lupa RnR lagi ya!
*Azalea Ungu : Arigatou na untuk review.a...*bungkukin badan* penasaran? Silakan cari tahu di chap ini. Baca n RnR lagi yah! Ini dah update.
*uchihyuu nagisa : Arigatou na untuk review.a...*bungkukin badan* ini udah apdet. Baca n RnR lagi yah.
*Youra : Arigatou na untuk review.a...*bungkukin badan* ini udah apdet. Baca n RnR lagi ye!
*Mimi love: Arigatou na untuk review.a...*bungkukin badan* hubungan SasuHina adalah…*dibekep* *udah lepas lagi* baca aja chap ini. Mudah2an jelas. Baca n RnR lagi yah!
*hyuuchiha prinka : Arigatou na untuk review.a...*bungkukin badan* baca n RnR lagi yah!
*OraRi HinaRa : Arigatou na untuk review.a...*bungkukin badan* ini dah apdet. Aku jga suka karakter Kiba yang seperti ini.^^ *ngasih tangan untuk tos ke Hinara~chan* *boleh manggil gini gak?* Baca n RnR lagi yah.
*Hizuka Miyuki : Arigatou na untuk review.a...*bungkukin badan* ini dah apdet. Baca n RnR lagi yah.
* semutbeenhere : Arigatou na untuk review.a...*bungkukin badan* ini dah apdet. Baca n RnR lagi yah.
*YamanakaemO : Arigatou na untuk review.a...*bungkukin badan* emang gaya bahasa Asya bagus? *blushing berat karena dipuji* hounto ni arigatou gozaimasu…! ini dah apdet. Baca n RnR lagi yah.
* Chikuma new : Arigatou na untuk review.a...*bungkukin badan* halo juga Chikuma~chan *gak papakan manggil kayak gini?*^^ moga2 chap ini dah sedikit jelas masalah.a.
Special thanks buat * numpang lewat~san. Arigatou buat review.a. Asya gak anggap ini sebagai flame kok. Jujur asya sadar chap satu mungkin rada bertele-tele karena pada chap satu itu Asya pengen nonjolin tentang rasa penasaran Hina, pertemuan rahasia teman2 mereka dan reaksi Hina yang tak terduga n2 . *aduh bahasa saya amburadul deh* Gomen kalau membosankan. Hounto ni gomennasai yo! Tapi Asya harap Numpang lewat~san mau repiu lagi n menulis apalagi kekurangan chap ini. Asya harap yang ini tidak lah terlalu bertele-tele. Mou ichido, Arigatou gozaimasu.*sambil bungkukin badan*
Dan satu lagi buat Dil~san. Bingung yah dengan cerita.a. coba deh baca chap ini. Moga2 bisa dimengerti! Emang Asya sengaja nyembunyiin konflik.a dulu. *ditaboked readers karena sok misterius* Entar deh dichap selanjut.a. Tapi disini udah mulai keliatan kok…! Mou ichido, Arigatou gozaimasu.*sambil bungkukin badan*
.
Okeh kata terakhir dari Asya, bagi yang penasaran ma apa sih konflik sebenar.a silakan baca chap ini sebagai info awal, dan silakan baca chap2 lain.a untuk lebih memperjelas masalah *itupun kalau masih ada yang mau baca* *pundung dipojokan*
*balik lagi* pertama Asya mohon maap bagi reader yang merasa bosen ma ni fic, jujur I will try my best to fix my fault if you tell me. The way is let your hand work and write down in review. Kedua, banyak dari reviewer yang nanya apakah Sasu n2 selingkuh ato kagak. Nah di sini Asya ingetin dari awal n2 masalah tergantung kalian, para readers yang menilai, it's your opinion. So feel free to say whatever in your mind…
At least, arigatou ne, xie-xie, danke schon, terimakasih, gracias, komauo~yo, thank you for read this fic..^.^
*Gomen kalau banyak bacot* *Bungkukin badan*
Jangan lupa Review yo!^^
