Disclaimer: Aq kasih tau ya,sebenernya Square Enix itu engkongku yg punya,Tetsuya Nomura itu papahku, n Nobuo Uematsu itu mantan pacarku yg kuputusin karena ketuaan. Setiap karakter di Final Fantasy adalah hasil dari kecerdasan intelektualkq. Anda tak percaya?...PERCAYALAH. GYAHAHAHAHAHAHA(sintink mode:on)

Perlahan-lahan ia membuka mata, berkedip beberapa kali untuk menjernihkan pandangannya,lalu mata hijaunya yg tak alami men-scanning sekelilingnya.
Apa yang dilihatnya adalah mimpi buruk yang sering menghantui tidurnya semenjak mengecap kebebasan.
Semuanya putih,mengingatkannya pada tempat yang tak pernah ingin ia datangi lagi. Seprai putih,dinding putih,tirai putih,selimut putih,dan,demi kepala Jenova,bahkan pakaian yg sedang ia kenakan pun berwarna putih.
Sekarang ia ketakutan
Tidak mungkin aq kembali ke sini,pikirnya. Lebih baik aku mati daripada harus di sini. Aq harus kabur
Dengan panik matanya jelalatan mencari jalan keluar yang aman dan tidak menarik perhatian. Kemudian matanya terpaku pada jendela yang terbuka.
Tanpa pikir panjang lagi ia bangkit,mencabut jarum infus dan sama sekali tidak peduli pada darah hijau yang muncrat dari pergelangan tangannya. Secepat kilat ia berlari menembus jendela dan langsung menyadari ada sesuatu yang salah...
Bukannya tanah atau jalanan yang menyambutnya,melainkan udara kosong dan angin yang sangat keras menerpa. Beberapa mikrodetik kemudian ia menyadari ketololannya.
Ruangannya tadi ternyata ada di lantai atas, toh...
Wow...cara yang bagus(konyol) untuk mati.

Sementara itu di halaman tepat di bawah jendela yang dimaksud, dua orang pegawai Shinra sedang mengobrol. Salah satunya pria kurus tinggi,berambut panjang merah menyala yang dikuncir kuda,tuksedonya tidak dikancing sedangkan kemejanya tidak dimasukkan. Plus,wajah tampan khas cowok bajingan. Satunya lagi berkulit gelap,memiliki tubuh dan pembawaan yang kokoh seperti atlit tinju, setelannya licin dan rapi dan rambutnya..ehm...well,tak ada alias botak.
"Yo,Rude,menurut elo itu kloning bakal diapain ama Bos?",si rambut merah bertanya.
"Akan diapakan dia oleh ,kita tidak punya hak untuk berasumsi apa-apa. Bukan urusan kita, Reno",si botak menanggapi dengan dingin seperti biasa.
"Cuih...apanya yang bukan urusan kita? Ujung-ujungnya semua kerja busuk Bos 'kan kita-kita juga yang beresin".
"Reno!Liat atas!",Rude berteriak sambil mengacungkan telunjuknya ke udara. Reno mendongak dan melihat sosok putih yang melayang jatuh dari lantai 13.
"Holy shit! siapa tuh?"
Tanpa banyak cing-cong mereka berdua mengeluarkan net dispenser,semacam gadget yang akan mengeluarkan jaring darurat in case ada kejadian seperti in. Setelah jaring terbentang, mereka jatuh pasrah menunggu nasib,mati syukur ga mati kabur. Sedangkan dua orang pegawai Shinra menunggu orang yang jatuh itu mendarat di jaring mereka. Hidup atau mati, itu urusan belakangan.
Semuanya akan terjawab dalam beberapa saat lagi.

Bersambung

Fyuuh...ini dia episod dua. Lumayan lebih panjang dari chapter sebelumya. Btw, nama net dispenser itu aq karang sendiri coz aq ga tau namanya. Itu 'lho,alat yang dipake Tseng ama Elena nyelamatin Shinra yang jatuh dri gedung pas Kadaj ngamuk. Berikutnya...aq bakal berusaha menulis adegan action.
Anyway...ciao for now