A/N: Hola…..Nova di sini. Udah berbulan-bulan sejak updet terakhir, ya. Dikarenakan birokrasi kampus dan kuliah yang menjadi-jadi maka baru sekarang deh punya waktu. Maaf ya ;p
Tanpa banyak basa-basi lagi, ini dia chapter 3
Disclaimer : Bukan punya saya.
Warning : Mulut 'cantik' Reno dan Tifa yang ga boleh dibaca anak2, situasi yang menyesakkan dada(cieeeeee...)
Hal pertama yang dilihatnya saat sadar kembali lagi-lagi adalah ruangan putih, dan kali ini sebelum ia sempat panik sebuah suara berkata:
"Lu tadi ngapain, sih loncat dari jendela? Mau bunuh diri apa kabur?"
Ia pun mengangkat kepalanya dan menoleh ke asal suara tersebut. Seorang pria tinggi kurus berambut merah sedang bersandar di samping jendela. Pria yang sama yang bertarung dengannya di Midgar saat itu.
Si kerempeng rambut monyet itu berjalan mendekati ranjangnya. Ia dapat mencium bau tubuhnya yang terdiri dari tembakau dan bau lain yang tidak ia ketahui. Tubuhnya menegang mengambil ancang-ancang, lalu saat laki-laki itu sudah di tepi tempat tidur dengan tiba-tiba ia meludahi matanya.
"Fuck! Brengsek loe! Anjritt!"
Sementara monyet merah itu sedang kaget dan mengusap matanya sambil memaki-maki, dengan cepat ia merenggut gantungan infusnya sambil berharap ia masih cukup cepat untuk berlari keluar dan menggunakannya sebagai senjata. Tetapi, dewa sepertinya punya keinginan lain atas kenekatannya karena ketika sedetik saja jaraknya dengan kenop pintu, pandangannya tiba-tiba kabur dan ruangan terasa berputar hebat dan membuatnya sempoyongan. Sementara itu, si rambut merah telah mendekat dan dengan liar dan putus asa ia mengibaskan gantungan infusnya. Jarumnya lepas dan lagi-lagi darah berwarna hijau berceceran. Ia kalap, ia ingin keluar dari sini dan tak kembali selamanya. Serangannya meleset dan monyet merah itu, yang secara mengejutkan punya kekuatan besar untuk seseorang bertubuh kurus, berhasil merenggut gantungan infus tersebut dan tangannya yang berdarah, lalu melepas benda itu untuk merenggut tangan yang satunya. Ia menolak untuk menyerah, dan dengan sisa-sisa kekuatannya ia meronta-ronta seperti orang gila. Apa saja asal bisa keluar dari tempat terkutuk ini.
"Brenti. Tolong dengerin gue dulu"
Ia tak mau mendengar apapun. Masih saja berusaha lepas, dan cengkraman pria itu semakin erat.
"Damn it! Kalo loe terus ngelawan begini loe bakal nyakitin diri loe sendiri, tahu!"
"Apa pedulimu? Untuk apa aku dibawa ke sini kalau bukan untuk disakiti?" Oh, Jenova, suaranya terdengar menyedihkan.
"Kalau emang kami mau nyakitin lu ya udah dari kemaren-kemaren aja kami lakuin. Ga perlu kami sampai masukin lu ke rumah sakit segala!"
Ia berhenti meronta dan histeris. Tidak ada suara selain napas mereka berdua yang terengah-engah.
"Rumah sakit? Jadi, ini bukan laboratorium Hojo?", katanya dengan suara kecil. Pipinya terasa hangat, malu karena rasa telah terlalu cepat paranoid. Ia mengira tempat ini adalah laboratorium tempat ia menjalani hidup yang buruk dua tahun yang lalu.
Pandangan mata dan cengkraman si rambut merah melembut setelah melihat ekspresinya. Dengan keadaan ini ia terlihat seperti dirinya yang sebenarnya. Anak tidak berdosa yang telah diracuni dan dirusak manusia lain dan terpaksa untuk mengejar suatu ilusi yang ia anggap kenyataan. Dasar binatang si Hojo itu.
"Bukan. Ini rumah sakit. Sekarang kenapa lo ga balik ke tempat tidur trus gue panggilin suster? Badan loe masih lemah"
Lima belas menit kemudian ia sudah kembali berbaring di tempat tidur dengan gaun rumah sakit dan infus yang baru, dan topeng dinginnya pun ia pasang kembali. Pikirannya melantur ke sana kemari sementara monyet kerempeng itu duduk di kursi di tepi ranjangnya. Badan bersandar dengan santai dan tangan dilipat di dada.
"So, lo ga mau bilang sesuatu kayak 'maaf' ato 'terima kasih'gitu? Itu ga sopan, lho"
Ia berpura-pura tidak dengar yang barusan. Sedang malas berurusan dengan orang ini lebih jauh.
"Lo ga asik ah"
Terserah. Ia di sini bukan buat jadi orang yang asik 'kok.
Ia terkejut karena si monyet itu tiba-tiba menyodorkan tangan kanannya untuk bersalaman dan bilang, "Kita ga sempat kenalan secara baik dan benar karena sibuk jotos-jotosan kemaren. Gue Reno"
Tangan itu tidak disentuhnya. Iya hanya menatap mata biru itu dengan muka kaku dan tanpa ekspresi, sampai akhirnya Reno menurunkan tangannya dengan muka masam dan menggerutu.
Keheningan yang kikuk menyelimuti ruangan itu sampai ia berkata:
"Yazoo"
Reno yang sudah terkantuk-kantuk itu pun mengangkat wajahnya dan berkata, "lu bilang apa barusan?"
"Namaku Yazoo"
Si rambut merah itu nyengir dan menjawab, "Met kenal, ya Yazoo"
o0o
Tifa sedang mencuci piring dan gelas saat telepon dari kamar Cloud berdering sore itu. Sambil menghela napas ia naiki tangga ke lantai dua di mana kamar itu berada.
"Jasa Pengiriman Barang Strife. Ada yang bisa saya bantu?"
"Yooo, tolong kirimkan satu bra Anda kepada saya supaya bisa saya diskusikan ukurannya dengan partner saya" suara di seberang itu menjawab.
"Reno, aku bisa datang langsung dan menendang bijimu sampai lepas kalau aku mau. Sekarang serius. Ada apa? Jangan bilang kamu nelepon sambil mabuk lagi "
"Galak amat, sih? Aku 'kan cuma bercanda. Gini 'lho sebenernya..."
Cloud memarkir Fenrir di garasi belakang bar sekaligus rumah mereka. Hari ini pendapatannya lumayan banyak, bisa untuk beli daging sapi besok. Sudah lama mereka tidak makan besar. Sembari memikirkan itu dia masuk rumah, menaiki tangga di kamarnya, dan di situ Tifa sedang berdiri melamun, telepon masih digenggamannya. Dahi Cloud berkerut. Ada apa lagi ini?
"Tifa?" Ia bertanya "Ada apa?"
Gadis berambut hitam panjang itu mengangkat wajahnya. Ekspresinya sulit ditebak.
"Mereka menemukan satu yang masih hidup", katanya.
to be continued...
JENG JENG (soundtrack tegang ala sinetron)
:D Yak, itu tadi chapter 3. Chapter terpanjang yang aku bikin sejauh ini. Sorry klo di sini Yazoo rada OOC ya, tapi itu perlu buat cerita ini. Di chap sebelumnya aku bilang mau nulis adegan action, tapi ternyata ga gampang lho, jadi ala kadarnya aja untuk sekarang ya...hehehe ;D
Seperti biasa, karena aku penulis baru, mohon reviewnya ya...
