DISCLAIMER: Saya tidak punya Ojamajo Doremi. Saya suka acara ini, jadi saya memutuskan untuk menulis cerita ini. Ojamajo Doremi adalah acara yang dibuat oleh Toei Animation pada tahun 1999-2004.

Catatan Author: Sampai di chapter 3!

Kalau ada yang pernah nonton movienya Ojamajo Doremi Sharp (atau minimal pernah nonton Ojamajo Doremi Sharp episode 40), pasti tahu apa yang akan diceritakan di chapter ini. Yups, chapter ini akan menceritakan tentang resital piano pertamanya Doremi yang... umm... kacau (tapi khusus yang pernah nonton movienya Ojamajo Doremi Sharp pasti ngerti kenapa saya juga mencantumkan kata 'lucu' waktu saya kasih sedikit 'bocoran' cerita chapter ini di chapter 2 kemarin).

Oke, selamat membaca!


Doremi's Life

.

Chapter 3 – Trauma & Steak


'Aku takut sekali...'

Itulah yang dipikirkan Doremi saat menunggu gilirannya dalam resital piano saat itu. Tangannya gemetar. Ia merasa sangat gugup.

Gadis berumur lima tahun itu tak henti-hentinya menghela nafas. Ia gugup setengah mati menunggu saat itu, saat ia harus naik keatas panggung dan memainkan lagu yang selama ini ia mainkan saat berlatih.

'Bagaimana ini? Aku nggak boleh bikin okasan malu disini. Aku harus tampil dengan baik,' pikirnya, 'Tapi... aku...'

Ia menatap ke kursi penonton dari tempatnya menunggu, di balik panggung. Dari sana, ia dapat melihat dengan jelas sosok ayah, ibu dan juga adik perempuannya yang masih bayi, sedang duduk disana, menyaksikan seorang peserta resital lainnya yang sedang bermain piano diatas panggung.

Ia memang bertekad untuk tidak membuat ibunya merasa malu, karena ia tahu bahwa ibunya pernah menjadi pianis yang lumayan berbakat, dan ia yakin bahwa semua orang disana mengenal ibunya. Hanya sebuah kecelakaan kecil yang menyebabkan ibunya mengalami cidera tangan yang serius dan membuatnya harus berhenti menjadi pianis.

Ia teringat kata-kata ibunya yang sering diucapkan ketika mengajarinya main piano...

"Okasan ingin kau mewujudkan cita-cita lama okasan. Okasan ingin sekali melihatmu menjadi pianis profesional. Okasan berharap banyak padamu, Doremi..."

Ia tahu, tidak salah jika ibunya berpikir seperti itu, tapi disisi lain, ia juga merasa tertekan akan hal itu.

'Penonton diluar banyak sekali. Bagaimana ini?' pikirnya gugup, 'Aku nggak bisa konsentrasi...'

Situasi menjadi semakin buruk saat tiba gilirannya untuk tampil. Doremi berjalan dengan kaku menuju panggung. Ia juga menyalami penonton dengan gugup, lalu berjalan menuju ke kursi yang berada dibalik piano dan duduk disana.

Rasa gugup itu makin menguasai dirinya. Ia bahkan sampai lupa, lagu apa yang harus dimainkannya, dan bagaimana nada pertamanya.

'Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?' pikirnya panik, 'Nada pertamanya... bagaimana nada pertamanya? Tuts yang mana yang harus kutekan? Apakah...'

Tanpa sadar, ia mencoba menekan beberapa tuts yang ada, tapi kemudian ia tahu kalau ia telah melakukan kesalahan. Bukan itu nada pertamanya.

'Ah, aku telah melakukan kesalahan,' pikirnya. Seketika, air matanya mulai menetes dari mata magentanya. Ia merasa sangat malu.

Ia merasa kesal pada dirinya sendiri, dan kemudian menekan beberapa tuts piano dengan keras. Untuk pertama kalinya, saat itu ia merasa kesal, sedih dan sakit...

Kesal karena akhirnya ia malah melakukan sesuatu yang memalukan. Bukan hanya untuk dirinya, tapi juga, untuk ibunya.

Sedih karena saat itu ia merasa bahwa ia tidak memiliki bakat bermain piano yang selama ini ia anggap ada. Karena sejujurnya, ia juga ingin sekali menjadi pianis.

Dan semua itu sangat menyakitkan baginya. Bagi anak berusia lima tahun sepertinya, itu merupakan pukulan yang sangat berat.

Ia tak tahan lagi merasakan semua itu. Tanpa disadarinya, ia lalu berhenti menekan tuts-tuts piano itu lalu berdiri disebelahnya, sambil mengeluarkan emosinya yang sedari tadi ia tahan. Ia menangis dengan keras.

Melihat hal itu, ibunya lalu menyadari, bahwa mungkin dirinya telah memaksa putri sulungnya itu begitu keras. Wanita berambut coklat itu lalu menghampiri anaknya diatas panggung dan memeluknya dengan erat.

Ia berkata kepada anaknya, "Gomen ne, Doremi. Kelihatannya okasan sudah memaksakan impian okasan kepadamu, sampai kau merasa terluka seperti ini..."


Beberapa jam setelah semua itu terjadi...

Karena sudah masuk waktu makan siang, keluarga Harukaze memutuskan untuk makan siang disebuah restoran yang berada di hotel yang juga merupakan tempat berlangsungnya resital tadi pagi.

Doremi memang sudah berhenti menangis, tetapi ia masih saja murung. Bagaimanapun, hatinya masih terguncang karena kejadian di panggung tadi, dan kejadian itu juga membuatnya tidak nafsu makan. Ia hanya bisa menatap seporsi ebi furai dihadapannya dengan wajah muram. Tak sedikitpun ia memakan ebi furai itu.

Kedua orangtuanya ingin membujuknya makan, tapi kemudian, mereka mengurungkan niat.

'Tapi... kalau keadaannya seperti ini terus, tidak baik juga untuknya,' pikir Tn. Harukaze Keisuke, 'Ia bisa sakit kalau tidak mau makan seperti ini.'

Sambil memberikan sebotol susu kepada putri bungsunya yang masih bayi, Ny. Harukaze Haruka berbisik kepada suaminya, "Mungkin sebaiknya aku menyuapinya dan kau yang memberikan Poppu susu..."

"Biar aku saja yang menyuapi Doremi."

"Bagaimana caranya? Kelihatannya ia tidak mau makan."

Pria itu menatap sepiring steak yang berada dihadapannya, lalu berkata kepada istrinya, "Kelihatannya, kita harus membiarkannya mencicipi sesuatu yang lain, yang bisa mengembalikan nafsu makannya lagi."

"Eh?"

"Sudah berapa kali ia makan ebi furai?"

"Terserah kaulah," wanita itu menghela nafas, "Aku hanya ingin melihat Doremi kembali ceria."

Pria berkacamata itu lalu berkata kepada anak sulungnya, "Doremi, mungkin kau mau makanan otosan? Kamu pasti bosan makan ebi furai ya?"

Gadis kecil itu menggeleng pelan, "Aku nggak mau makan apa-apa."

"Doremi, makanan ini namanya steak. Ini adalah makanan yang paling enak di restoran ini. Kau harus mencobanya."

"Ayo makanlah," sahut ibunya, "Setidaknya kaucicipi sedikit juga tidak apa-apa."

Akhirnya Doremi mengangguk pelan dan mau disuapi sepotong steak oleh ayahnya. Ia membuka mulutnya, kemudian memakan sepotong steak itu.

"Bagaimana?" tanya ayahnya.

Doremi masih mencoba merasakan kelezatan makanan itu, dan ia akui bahwa apa yang dikatakan ayahnya tadi benar. Makanan itu enak.

Setelah beberapa lama mengunyah makanan itu, ia lalu menelannya dan tersenyum, kemudian berkata, setengah berteriak, "Steak itu... steak itu enak!"

Sejak saat itulah ia menyukai steak, karena ia menganggap bahwa steak bisa menghiburnya dari rasa sedih yang melandanya tadi.

'Sekarang, aku nggak mau belajar piano lagi,' pikir Doremi, 'Yang kumau sekarang hanya satu: aku hanya ingin makan steak lagi, lagi dan lagi!'


Catatan Author: Akhirnya, selesai juga chapter 3 ini... fyuh...

Yang pasti, ini semua adalah hasil pemikiran saya setelah menonton dua episode yang saya sebutkan diatas (tapi rada sedih juga waktu nulis tentang resital yang kacau itu... hiks...).

Mudah-mudahan sih, chapter yang satu ini feel-nya dapet ya? (masih nggak PD nih, nulis bagian yang sedihnya ^^)

Chapter selanjutnya akan langsung masuk ke serinya! Disana saya akan menulis semua yang terjadi di season 1 episode pertama (termasuk beberapa hal yang terjadi sebelumnya). Kalau mau tahu ceritanya, lihat saja nanti, hehehe... ^^

Tetep mau ingetin, kalau Indonesian Fanfiction Awards 2011 akan segera digelar! Jangan lupa, ikut berpartisipasi ya?

Dan sekarang, waktunya meninggalkan review ya?