DISCLAIMER: Saya tidak punya Ojamajo Doremi. Saya suka acara ini, jadi saya memutuskan untuk menulis cerita ini. Ojamajo Doremi adalah acara yang dibuat oleh Toei Animation pada tahun 1999-2004.

Catatan Author: Masuk di chapter 4!

Baiklah, lupakan saja kesedihan yang ada di chapter 3 kemarin. Kali ini, kita masuk ke cerita inti, saat untuk pertama kalinya Doremi bertemu dengan Majorika dan menjadi majominarai. ^^

Nggak hanya itu aja sih, yang akan diceritakan disini. Baca saja ya?


Doremi's Life

.

Chapter 4 – Majominarai! (or Ojamajo?)


Waktu pun berlalu...

Doremi sudah kembali menjadi anak yang ceria (tentu saja, setelah 'perkenalannya' dengan steak dan juga, setelah kedua orangtuanya menjual piano yang berada di rumahnya dengan alasan untuk membayar uang muka pembelian mobil mereka).

Selain kedua orangtuanya, para penonton dan dirinya sendiri, tidak ada yang tahu tentang resital yang kacau itu. Bahkan, Doremi tidak pernah sekalipun memberitahu Hazuki yang notabene sahabat terdekatnya sendiri. Ia menutupi kejadian itu sebagai rahasia.

Ia menutupi semua itu dengan senyumnya yang masih saja membuatnya terlihat ceria, bersikap seperti biasa, dan tetap ramah kepada semua orang.

Tapi entah kenapa, ia juga sedikit merasa kosong dihatinya.

Suatu hari, Hazuki bertanya padanya tentang alasannya berhenti belajar piano dari ibunya.

"Anou, soalnya kan... piano di rumahku dijual untuk beli mobil, jadi... aku nggak bisa latihan dirumah lagi," katanya berbohong.

"Kamu kan masih bisa berlatih di sekolah," ujar Hazuki.

"I-iya juga sih tapi... okasan sudah nggak punya waktu lagi untuk mengajariku. Okasan... sibuk mengurusi Poppu, adikku."

"Oh iya ya, sekarang Doremi-chan sudah punya adik," seru Hazuki sambil tersenyum, "Aku jadi ingin melihat adikmu. Dia pasti bayi yang lucu. Kapan-kapan... boleh nggak aku mampir ke rumahmu?"

"Sebaiknya jangan, Hazuki-chan," kata Doremi, "Poppu memang masih bayi, tapi dia itu berisik kalau sedang menangis. Aku takut kalau nanti... kau malah merasa terganggu."

"Terserah kaulah."

"Tidak apa-apa kan?" sahut Doremi, "Daripada ke rumahku, lebih baik kita ke rumahmu saja. Rumahku kan kecil, sedangkan rumahmu besar sekali."

Ia menghela nafas, "Kalau saja aku tidak sakit waktu kau merayakan pesta ulangtahunmu disana. Aku dengar dari Yada-kun dan Nanako-chan kalau saat itu, pembantumu yang bernama Baaya membuat sushi yang bentuknya lucu-lucu..."

"Aku ngerti kok, kalau waktu itu kamu benar-benar tidak bisa datang."

Dan akhirnya, mereka membicarakan tentang hal yang lain lagi.

'Hazuki-chan, gomen ne,' pikir Doremi, 'Aku tak ingin membuatmu khawatir. Biar saja itu menjadi rahasia, dimana hanya aku saja yang mengetahuinya. Kau sendiri juga pasti punya rahasia kan?'

Terlepas dari 'rahasia kelam' itu, semuanya berjalan dengan lancar. Pada tahun keduanya belajar di TK, saat ulangtahun Hazuki yang juga bertepatan dengan hari valentine, Doremi memergoki Hazuki yang memberikan coklat kepada Yada Masaru.

"Cie cie, Hazuki-chan," ujar Doremi sambil menghampiri Hazuki dan tersenyum, "Lama-lama kamu naksir Yada-kun kan? Buktinya, tadi kamu ngasih coklat ke dia."

"M-memangnya kenapa?" sahut Hazuki gugup. Pipinya memerah, "Aku memberinya coklat karena... karena dia sahabat terbaikku."

"Yang benar?"

"Mou, Doremi-chan... jangan membuatku malu begini..."

"Aku nggak bermaksud membuatmu malu," kata Doremi, "Baiklah, aku tidak akan mengungkit-ungkit lagi soal... coklat valentinemu."

Dalam hati ia berkata, 'Aku jadi iri padamu, Hazuki-chan. Kapan ya, aku bisa memberikan coklat valentine kepada seseorang seperti apa yang kauberikan kepada Yada-kun?'


Waktu terus berganti. Tahunpun berlalu.

Setelah lulus dari TK Sonatine, Doremi, juga beberapa orang temannya disana (termasuk Hazuki) melanjutkan sekolahnya di SD Misora. Saat itulah, ia bertemu lagi dengan wanita muda berkacamata yang dulu ditemuinya di taman Misora, Yuki-sensei.

Doremi tidak menyadari hal itu, tapi lain halnya dengan Yuki-sensei. Ia masih mengingat saat ia bertemu dengan Doremi untuk pertama kalinya.

'Dugaanku benar,' pikir wanita itu, 'Setelah ini, aku pasti akan sering bertemu dengannya.'

Saat masuk kelas, Doremi dan Hazuki terlihat senang sekali.

"Aku nggak nyangka kita bisa sekelas, Hazuki-chan," kata Doremi.

"Aku juga, Doremi-chan. Bahkan kursi kita bersebelahan," sahut Hazuki, "Aku senang sekali."


Beberapa minggu sebelum kenaikan mereka dari kelas 2, saat Doremi ingin pulang bersama Hazuki, mereka melihat sesuatu yang terjadi di lapangan bola SD Misora.

"Kelihatannya hari ini ada pertandingan sepak bola," ujar Hazuki.

"Sepak bola?" sahut Doremi, "Kedengarannya menarik."

Hazuki mengangguk, "Kalau tidak salah, hari ini pertandingan final antara tim sekolah kita melawan tim sepakbola sekolah lain dari kota tetangga."

Ia lalu bertanya, "Doremi-chan, kau mau menontonnya?"

"Boleh saja," jawab Doremi sambil berjalan ke tempat penonton, "Ayo kita lihat."

Saat itulah ia bertemu dengannya: seorang anak lelaki yang sebentar lagi naik dari kelas 5 dengan rambut agak gondrong berwarna biru gelap bernama Igarashii.

"Ney ney, Hazuki-chan, coba lihat itu," ujar Doremi sambil menunjuk sosok kakak kelas yang dilihatnya itu, "Dia keren sekali."

"Oh, senpai yang itu..." Hazuki memegang kacamatanya, "Kalau tidak salah, namanya Igarashii, tapi aku tidak tahu nama lengkapnya. Dia itu kapten tim sekolah kita."

"Hontou?" mata Doremi berbinar, "Kakkoii..."

Sejak saat itu, Doremi merasa jatuh cinta kepada Igarashii, dan sejak saat itu pula ia berusaha untuk mendapatkan cintanya.

Tapi entah kenapa, usahanya selalu tidak berhasil...


Sehari sebelum hari pertamanya di kelas 3, Doremi menulis surat cinta untuk Igarashii, kemudian ia memikirkan cara untuk memberikan surat itu.

'Tapi... gimana kalau aku nggak berhasil memberikan ini kepadanya? Seperti sebelumnya? Apa yang harus kulakukan?'

Tanpa sengaja, ia kemudian menatap sebuah buku yang berada di raknya. Sebuah buku tentang penyihir...

'Mungkin aku harus membacanya,' pikirnya, 'Siapa tahu, ada solusi dari permasalahanku disana.'

Ia lalu mengambil buku itu dan membacanya. Saat ia merasa sudah menemukan solusi yang ia cari, gadis berambut merah itu menaruh buku yang dibacanya ke dalam tas sekolahnya kemudian pergi tidur.

Keesokan harinya, ia bangun pagi-pagi sekali. Tidak seperti biasanya dimana ia jarang sekali bangun pagi. Bahkan, biasanya ia sering terlambat pergi ke sekolah.

Setelah mengucapkan sebuah mantra yang ia dapat dari buku yang dibacanya kemarin, Doremi lalu bergegas keluar kamar, bersiap pergi ke sekolah.

Sebelum menuruni tangga, ia menguping didepan pintu kamar adiknya, Pop, memastikan bahwa adiknya itu masih tidur.

Putri bungsu dari keluarga Harukaze itu mengetahui semua kegagalan yang dialami Doremi saat ingin mendekati Igarashii. Karena itulah, Doremi tidak ingin adiknya itu mengungkit-ungkit lagi kegagalan yang ia dapat sebelumnya itu.

Tapi ternyata, Pop sudah bangun. Ia membuka pintu kamarnya saat Doremi berjalan menuruni tangga.

"Doremi!" panggil gadis kecil berambut merah muda itu yang kemudian mengagetkan kakaknya.

"Mou, jangan mengagetkanku begitu!"

"Doremi bangun pagi... pasti urusan cowok lagi..."

"Chi-chi-chi-chi-chigau yo. Aku memang harus masuk lebih pagi hari ini."

"Aku tahu itu bohong."

Doremi yang kesal lalu berbalik, kembali menuruni tangga sambil berkata, "Itu juga bukan urusanmu."

"Kau sudah berkali-kali gagal dan masih terus mau mencoba? Percuma saja."

Perkataan Pop tadi membuat Doremi merasa makin kesal. Ia berbalik lagi lalu menjulurkan lidah kepada adiknya itu.

Tiba-tiba, pintu kamar orangtua mereka terbuka. Seperti biasa, ayah dan ibu mereka bertengkar lagi.

Pop kembali masuk ke kamarnya, sementara Doremi bergegas keluar dari rumahnya itu, pergi menuju sekolahnya, SD Misora.

Ia mencoba memberikan surat cintanya yang semalam ia tulis, dengan tak lupa menyebutkan mantra yang tadi diucapkannya di kamar.

Tapi ia tetap saja gagal...

Di dalam kelas, ia terus saja memikirkan kegagalannya itu, sampai-sampai ia membuat masalah disana. Ia membaca buku yang salah saat gurunya, Seki-sensei, menyuruhnya untuk membaca buku bahasa. Sebelum pulang sekolah pun, ia membawa tas sekolahnya terbalik. Membuat buku-bukunya jatuh berserakan di lantai.

Pada awalnya, rencananya ia ingin menonton pertandingan sepak bola antar sekolah bersama Hazuki sebelum pulang, tapi karena kegagalannya tadi pagi, ia jadi malas menonton pertandingan itu, dan meminta Hazuki untuk menontonnya sendiri.

Saat berjalan pulang, Doremi tidak menyadari kalau ia melewati jalan yang salah. Bukan jalan yang biasa ia lewati untuk sampai ke rumahnya, sampai akhirnya ia tiba di depan sebuah toko yang misterius.

Ia menatap sebuah papan nama yang dipajang di depan toko tersebut dan membacanya.

"Makihataya... Marika no Maho-dou..." katanya, "Kedengarannya sedikit menyeramkan..."

Ia kemudian memberanikan diri untuk mendatangi toko tersebut. Dengan hati-hati ia menuruni tangga yang berada di depan toko, lalu berjalan mendekati pintu.

Perlahan-lahan, ia membuka pintu itu, dan melihat seorang wanita berbaju hitam sedang duduk diatas sebuah kursi goyang dengan seekor kucing putih di pangkuannya.

"Irasshai..." wanita itu menyambut kedatangan Doremi.

"Konnichiwa," sahut Doremi cepat. Ia memberanikan diri untuk masuk sementara wanita itu terus saja berbicara tentang tokonya.

Doremi memperhatikan penampilan wanita itu, yang ternyata sangat cocok dengan ciri-ciri penyihir yang ia baca di bukunya tadi. Mata yang merah... Hidung yang panjang... Kemungkinan, membenci anak-anak...

"Jangan-jangan, dia itu..." bisiknya pada dirinya sendiri. Ia lalu memperhatikan beberapa buah kalung dengan liontin batu berwarna hijau yang dipajang disebuah meja.

"Itu adalah benda yang dapat mengabulkan keinginanmu. Itu adalah jimat sihir..."

"Sihir?" kata Doremi pada dirinya sendiri setelah ia mendengar apa yang dikatakan wanita itu.

Wanita itu terus saja bicara, "dan saat permintaanmu itu terkabul..."

"Anou..." tiba-tiba Doremi memotong perkataan wanita itu.

"Ada apa? Aku masih belum selesai bicara."

"Makihataya Marika-san..."

"Makihatayama Rika ja! Duh, anak-anak benar-benar menyebalkan!"

"Kau benci anak-anak?" tanya Doremi tidak percaya. Ia lalu bersiap mengutarakan kesimpulannya, "To yu koto wa..."

Wanita itu terlihat kaget.

"Yappari!"

Wanita itu menoleh.

"Rika-san-tte..."

Wajahnya memucat.

"Hontous-tte..."

"Masaka..." wanita itu menduga, apa yang akan dikatakan Doremi selanjutnya. Jati dirinya yang sebenarnya, yang ternyata adalah seorang...

"Majo!" teriak Doremi sambil menunjuk ke arah wanita itu. Seketika, wanita itu berubah wujud menjadi sebuah gumpalan hijau (yang kemudian lebih dikenal sebagai kodok sihir).

"Lihat apa yang kaulakukan! Kau harus tanggung jawab!" teriaknya marah.

"Apa? Apa maksudnya? Apa benar aku yang membuatmu seperti itu?" tanya Doremi ketakutan.

"Sou ne. Kalau ada seorang penyihir yang identitasnya ketahuan, dia akan berubah seperti ini. Jadi kodok sihir," sahut si kucing yang ternyata sebenarnya bukan kucing. Ia kembali ke wujud aslinya sebagai peri.

"Ayo tanggung jawab! Kembalikan wujudku menjadi seperti semula!" teriak makhluk hijau itu.

"Ya, sebenarnya aku ingin bertanggung jawab, tapi aku nggak tahu bagaimana caranya mengubahmu kembali. Aku nggak punya kemampuan sihir sepertimu, jadi maaf aku tidak bisa mengubahmu sekarang. Aku harus pulang. Sayonara!"

Doremi mencoba untuk keluar dari toko itu, namun dicegah oleh dua makhluk kecil yang dilihatnya itu.

"Hora!" teriak si makhluk hijau.

"Kau tak bisa pergi begitu saja," kata sang peri.

"Dia benar. Aku tak bisa membiarkanmu pergi sampai aku bisa membuatmu menjadi seorang penyihir."

"Sou na..." ujar Doremi. Namun ketika ia mendengar apa yang dikatakan terakhir, ia berkata, "Eh? Aku jadi penyihir?"

Mereka lalu memperkenalkan diri mereka masing-masing, dan pada akhirnya Doremi mengetahui nama asli dari penyihir itu: Majorika. Sedangkan peri yang menemaninya bernama Lala.

Sejak saat itulah, Doremi menjadi majominarai didikan Majorika.

Majorika dan Lala memperingatkan Doremi supaya ia tidak memberitahu siapa-siapa tentang 'identitas' barunya sebagai majominarai, atau nanti, ia akan bernasib sama seperti Majorika: menjadi kodok sihir.

Tapi tetap saja. Pada akhirnya, beberapa orang mengetahui hal itu. Dimulai dari Hazuki, seorang teman baru Doremi di kelasnya bernama Aiko, juga adiknya sendiri, Pop.

Majorika lalu menyarankan mereka untuk menjadi majominarai juga. Dengan begitu, rahasia Doremi sebagai majominarai akan aman.

Satu hal yang tidak disukai Majorika dari Doremi: terkadang ia bisa sangat menyusahkan. Merepotkan. Karena itulah, Majorika juga memanggilnya ojamajo.

'Ini seperti mimpi,' pikir Doremi, 'Kuharap ini dapat membantuku memperoleh apa yang kuinginkan.'


Catatan Author: Fyuh, kelihatannya saya udah kebanyakan nulis disini, jadi saya mutusin untuk meringkas tentang bergabungnya Hazuki, Aiko dan Pop jadi satu (padahal waktunya beda antara Hazuki dan Aiko sama Pop =_=").

Lengkapnya lihat di animenya aja ya? *dihajar reader*

Chapter berikutnya akan sedikit bercerita tentang Onpu, tapi lebih ditekankan ke waktu mereka ikut majominarai shiken level 1. Lihat aja nanti.

Sekedar mengingatkan juga tentang Indonesian Fanfiction Awards 2011 yang akan digelar sebentar lagi. Jangan lupa untuk berpartisipasi ya?

Sekian dulu dari saya. Jangan lupa RnR ya?