DISCLAIMER: Saya tidak punya Ojamajo Doremi. Saya suka acara ini, jadi saya memutuskan untuk menulis cerita ini. Ojamajo Doremi adalah acara yang dibuat oleh Toei Animation pada tahun 1999-2004.
Catatan Author: Chapter 6 wa koko ni iru *dinyanyikan pake nada 'Ojamajo wa Koko ni Iru'*
Yak, untuk chapter ini, ceritanya diambil dari 'Ojamajo Doremi Sharp', waktu Jou-sama menyuruh Doremi menjadi 'mama' dari Hana-chan. Disini juga diceritakan bagaimana caranya sampai akhirnya trauma Doremi tentang piano bisa hilang, dan akhirnya membuatnya ingin belajar piano dari ibunya lagi bersama Pop. Baca terus ya?
Doremi's Life
.
Chapter 6 – My Better Personality
Suatu pagi, di kota Misora.
"Ittekimasu!" seru Doremi sambil berjalan keluar dari rumahnya. Hari ini adalah hari terakhirnya duduk di kelas tiga di sekolahnya, SD Misora. Lebih tepatnya, hari ini adalah hari pembagian rapor kenaikan kelas.
'Kira-kira nilai raporku bagus tidak ya?' tanyanya dalam hati, 'Jangan-jangan tetap tidak ada perkembangan seperti biasa...'
Doremi menghela nafas. Ia memang bukan murid yang pintar seperti Hazuki. Ia tidak yakin kalau rapor yang akan ia terima hari ini akan menunjukkan kemajuan. Apalagi, selama setahun ini nilai ulangannya selalu jelek.
'Semoga saja ada kemajuan, walau hanya sedikit,' harapnya.
Ia lalu teringat sesuatu yang akan terjadi malam ini: kepulangan Majorika dan Lala kembali ke Majokai. Ia merasa sedikit menyesal karena pada akhirnya ia tidak bisa melaksanakan tanggung jawabnya kepada Majorika untuk mengembalikan wujudnya menjadi seperti semula.
'Mau bagaimana lagi?' pikirnya, 'Kalau tidak begini, aku dan yang lain tidak bisa menyelamatkan Onpu-chan, dan kalau itu sampai terjadi, kami akan lebih merasa bersalah. Persahabatan kami lebih penting dari apapun.'
Sesampainya di kelas, Doremi lalu berbincang-bincang sebentar dengan Hazuki, Aiko dan Onpu, sampai akhirnya Seki-sensei selaku wali kelas mereka memasuki kelas dengan membawa beberapa lembar rapor murid-muridnya.
Semua murid kelas 3-2 duduk di tempatnya masing-masing sementara Seki-sensei memanggil nama mereka satu persatu untuk mengambil rapor masing-masing. Mereka belum boleh membuka rapor mereka sampai semuanya mendapatkan rapor masing-masing.
Setelah semua murid mendapatkan rapor mereka, baru mereka dipersilakan membuka rapor itu.
Secara perlahan, Doremi membuka rapornya, dan memang ia telah menduga sesuatu yang akan ia dapatkan disana...
Semua nilai yang diperolehnya dikomentari dengan kata Ganbarimasho. (ganbarimasho: lebih semangat belajar)
"Oh, tidak..." bisiknya.
Doremi lalu dikagetkan oleh suara dua orang yang berada di belakangnya, Aiko dan Onpu, yang ikut-ikutan menatap nilai-nilai yang tertulis di rapornya.
"Nilaimu semuanya dibawah rata-rata," komentar Aiko.
"Tulisan ganbarimasho-nya bahkan lebih banyak dari aku," tambah Onpu.
"Mou, jangan lihat raporku!" Doremi menutupi nilai-nilai di rapornya dengan kedua tangannya.
Tiba-tiba Hazuki berteriak dan membuat mereka terkejut, "Sou na!"
"Eh?"
"Kekeke..."
"Kekeke?"
"Di raporku ada tulisan ganbarimasho."
"Eh?" Doremi, Aiko dan Onpu menghampiri Hazuki dan menatap nilai-nilai di rapornya, "A..."
"Hanya satu kata ganbarimasho. Nilai di pelajaran lain bagus semua," komentar Doremi.
"Berlebihan..." sahut Aiko.
"Tapi ini pertama kalinya aku dapat ganbarimasho. Ganbarimasho yo." Hazuki terus saja berteriak sampai ia dan yang lain menyadari kalau Seki-sensei mendekati mereka.
"Hari ini hari terakhir di tahun ajaran ini. Apa kalian mau merayakannya dengan lari bersama di lapangan?" tanyanya ketus.
"T-tentu saja tidak, sensei," jawab Doremi, yang lain mengangguk tanda setuju.
Malam harinya, di rumah keluarga Harukaze...
Doremi mengetuk pintu kamar Pop, memberitahukan kepada adiknya itu bahwa mereka harus pergi ke Maho-dou sekarang juga untuk mengucapkan salam perpisahan kepada Majorika dan Lala yang akan pulang ke Majokai malam ini.
"Poppu," panggil Doremi sambil terus mengetuk pintu, "Kamu ingin mengucapkan salam perpisahan kepada Majorika kan? Ayo kita pergi ke Maho-dou sekarang."
"..."
"Poppu?"
"Ngg..." terdengar suara lirih dari dalam kamar, "Bunyu-chan, jangan pergi..."
"Poppu..." Doremi membuka pintu kamar Pop yang ternyata tidak dikunci. Ditatapnya sang adik yang sedang tidur disana. Tangannya memegang bantal erat-erat. Air matanya mengalir dari kedua matanya yang tertutup. Terlihat bahwa Pop menangis sebelum akhirnya tertidur disana.
"Bunyu-chan, aku nggak mau kalau kamu pergi. Jangan tinggalkan aku disini... Bunyu-chan..."
Doremi menghela nafas, "Ternyata Poppu sudah tidur. Kalau sudah begini, mana mungkin aku membangunkannya. Lebih baik aku ke Maho-dou sendiri saja."
Ia lalu bergegas keluar dari kamar Pop menuju ke pintu depan rumahnya.
"Doremi, kau mau kemana?" tanya ibunya, "Ini kan sudah malam."
"Ah, nenek Makihatayama Rika mengundang aku dan yang lainnya ke Maho-dou malam ini. Ada... hal yang ingin disampaikannya."
"Poppu tidak ikut?"
"Poppu sudah tidur. Aku tidak mungkin membangunkannya."
"Baiklah," kata Ny. Haruka, "Tapi jangan pulang terlalu malam ya."
"Iya, okasan," Doremi keluar dari pintu depan, "Aku nggak akan lama kok. Sore jaa, ittekuru ne?"
"Ittereshai."
Sesampainya di Maho-dou, ia tidak langsung masuk ke dalam. Ia duduk di salah satu anak tangga yang berada di depan Maho-dou, sambil menunggu ketiga sahabatnya yang masih belum tiba disana.
Tidak lama kemudian, merekapun datang.
"Baiklah, sekarang sudah malam..." kata Aiko.
"Poppu-chan wa?" tanya Hazuki (terjemahan: Poppu-chan mana?)
"Dia terus-terusan menangis di rumah, sampai dia tertidur. Dia tak ingin 'Bunyu-chan'nya pergi," jawab Doremi, "Yah, tapi kalian tahu sendiri kan, aku tidak bisa membangunkannya kalau dia sudah tidur."
"Kawaiso..." ujar Hazuki sambil menitikan air matanya, "Poppu-chan, kawaiso..."
"Dame da yo, Hazuki-chan," sahut Onpu, "Bukankah kita sudah berjanji kepada Majorika dan Lala kalau malam ini kita tidak akan menangis?"
"Sou da ne," tambah Doremi, "Kita harus mengiringi kepergian mereka dengan senyuman."
"Ikou," ajak Aiko, "Mereka sudah menunggu."
Tapi tiba-tiba, Aiko terkejut mendapati bahwa papan nama Maho-dou yang tahun lalu dibuatnya bersama Doremi dan Hazuki menghilang.
Mereka berempat lalu bergegas masuk ke dalam Maho-dou, hanya untuk mendapati bahwa bangunan itu telah kosong. Majorika dan Lala telah pergi ke Majokai dengan membawa peri mereka.
Onpu mencoba membuka pintu menuju Majokai, tapi ia tetap tak berhasil membuka pintu itu, seolah-olah pintu itu telah dikunci dari dalam. Dari Majokai.
"Kenapa pintu ini tidak bisa terbuka?" kata Onpu yang terus mencoba membuka pintu itu, walau pada akhirnya ia tidak bisa membukanya.
"Minna!" seru Doremi memanggil ketiga sahabatnya yang kemudian menghampirinya yang sedang berada di dekat meja kasir, tempat ia menemukan selembar amplop bertulisan 'Untuk: para ojamajo', surat dari Majorika yang ditulisnya sebelum ia pergi.
"Surat?" tanya Onpu.
Doremi mengambil surat itu, "Biar aku yang membacanya."
Yang lain mengangguk tanda setuju, kemudian Doremi membaca surat itu.
Dalam surat itu, Majorika meminta maaf karena ia dan Lala pergi begitu saja tanpa berpamitan dengan Doremi dan yang lainnya, karena mereka tidak tega kalau harus berpamitan dulu. Mereka takut kalau itu membuat mereka tidak rela untuk pergi. Dalam suratnya, Majorika juga menulis agar Doremi dan yang lainnya tidak perlu mengkhawatirkan keadaan peri-peri mereka, karena ia dan Majoruka akan menjaga peri-peri itu.
Setelah membaca surat itu, Doremi meremasnya, "Hitoi yo!"
"Mereka pergi tanpa pamit..." ujar Hazuki pelan.
"Egois sekali mereka!" sahut Aiko.
Mereka berempat mulai menangis. Hati mereka seperti tersayat pisau saat mengetahui bahwa perpisahan itu akan berakhir seperti ini: tanpa ada kata pamit yang langsung diucapkan oleh mereka sendiri. Bagaimana mungkin Majorika bisa melakukan hal itu.
Mungkin Majorika berpikir bahwa itu yang terbaik untuknya, tapi tidak bagi Doremi juga ketiga sahabatnya yang lain. Mereka tidak ingin berpisah begitu saja.
Mereka terus menangis sampai akhirnya Onpu mendengar sesuatu terjatuh di belakangnya. Sebuah hair dryer bertuliskan Maho-dou.
Onpu berhenti menangis lalu mengambil hair dryer itu, kemudian bertanya kepada Doremi, Hazuki dan Aiko, "Ini hair dryer siapa?"
"Nani nani?" mereka lalu mendekati Onpu untuk melihat hair dryer itu, kemudian mereka menyadari bahwa itu milik Majorika.
"Yossha!" seru Aiko.
"He?" sahut Doremi bingung.
"Kita bisa menjadikan itu sebagai alasan untuk menyusul mereka. Ayo kita ke Majokai."
"Tidak mungkin kita bisa kesana," ujar Onpu.
"Nande?"
"Pintu ke Majokai nggak bisa dibuka."
"Hontou?" Doremi menghampiri pintu yang dimaksud oleh Onpu tersebut dan mendapati sebuah kunci tergantung di lubang kunci pintu itu, "Ne ne... pintu ini ada kuncinya."
Yang lain terkejut, "Eh?"
"Terkadang Majorika juga suka lupa kan?" tambah Doremi yang lalu memutar kunci itu, sampai akhirnya pintu itu dapat terbuka untuk mereka, "Yatta! Ikou, minna."
"Kalau tidak salah, tadi kunci itu tidak ada..."
"Ayolah, jangan pikirkan hal itu," ujar Aiko memotong perkataan Onpu.
"Iya. Ayo kita pergi," sahut Hazuki.
"Tunggu kami, Majorika!" seru Doremi.
Mereka lalu berlari memasuki pintu itu, tapi kemudian secara perlahan mereka memperlambat laju berlari sampai akhirnya mereka hanya berjalan disana.
"Tapi ngomong-ngomong, kota kodok sihir itu dimana ya?" tanya Aiko.
Mereka lalu sampai di depan sebuah peta besar yang tertulis diatas sebuah batu besar. Peta itu ditulis dalam bahasa yang sangat unik dan asing bagi mereka yang lebih terbiasa membaca huruf hiragana, katakana atau kanji.
"Rumit sekali peta ini..." keluh Hazuki.
"Kita tidak bisa membaca tulisannya," sahut Aiko.
Onpu yang bersikap tenang lalu berkata, "Kota itu berada di belakang taman kerajaan."
"Eh?" tanya Doremi, "Onpu-chan bisa membacanya?"
"Saat aku menjadi majominarai, Majoruka sempat mengajariku beberapa huruf sihir yang mudah."
"Sugoi!" seru Doremi dan Hazuki.
"Tapi, kita masih harus berjalan jauh ke kota itu ya..." keluh Aiko.
"Bukannya ada jalan pintas?" sahut Doremi, "Kita bisa lewat taman kerajaan."
Tapi kemudian ia menarik kata-katanya. Gerbang taman itu dijaga dengan sangat ketat.
"Bagaimana caranya kita bisa masuk kesana?" tanya Aiko ketus. Doremi hanya mengeluh.
Mereka lalu melewati jalan yang berada disebelah kiri taman kerajaan itu, dimana Doremi berjalan paling belakang diantara yang lainnya.
Tiba-tiba Doremi menghentikan langkahnya, menatap kesebelah kanan dimana terdapat sebuah lubang menuju ke dalam taman kerajaan. Ia lalu memanggil ketiga sahabatnya, "Ne, minna."
"Ngg?"
"Kita bisa masuk ke taman lewat lubang ini!" seru Doremi yang kemudian memasuki lubang itu, "Jalan pintas. Jalan pintas."
"Oh, lucky!" sahut Aiko.
"Ayo masuk," ajak Hazuki kepada Onpu yang terlihat makin kebingungan.
"Rasanya tadi tidak ada lubang disana..." kata Onpu heran. Tapi kemudian, ia lalu mengikuti yang lain memasuki lubang itu.
Setelah sekian lama berjalan, akhirnya mereka sampai ke dalam taman kerajaan. Mereka mengagumi keindahan bunga-bunga yang ditanam disana.
Mereka lalu sampai di depan sebuah terowongan yang dibuat dari tanaman mawar.
"Terowongan mawar ini hebat!" seru Doremi yang kemudian berlari memasuki terowongan itu.
Sementara itu, Hazuki, Aiko dan Onpu membicarakan tentang banyaknya tanaman mawar yang ditanam disana.
"Tapi, aku dengar-dengar bunga mawar berwarna biru jarang sekali ditemukan," kata Hazuki.
"Nande?" tanya Aiko.
"Kelihatannya susah untuk membiakkannya."
"He?" Onpu memandang tanaman mawar yang tumbuh disekitarnya, yang menghiasi taman itu dengan cantiknya.
"Hazuki-chan, katamu bunga mawar biru itu langka," sahut Doremi.
"Iya."
"Tapi kok disini banyak ya?"
"Eh?" Hazuki terkejut. Ia, bersama Aiko dan Onpu dengan cepat menyusul Doremi yang sudah berada di depan sebuah tanaman mawar dengan beberapa bunga berwarna biru yang indah.
Tiba-tiba, salah satu kuncup bunga mawar biru yang awalnya tergulung bergerak mendekati mereka. Kuncup bunga itu kemudian mekar dihadapan mereka, dan dari dalamnya, keluar sesosok bayi mungil dengan rambut kuning yang diikat oleh enam buah bola kristal kecil berwarna-warni. Tubuh bayi itu terbungkus kain putih kecil.
Hampir saja bayi itu terjatuh, tapi dengan cepat Doremi menangkap bayi itu sebelum jatuh ke tanah, "Abunai!"
Dalam dekapan Doremi, bayi itu membuka matanya, menatap wajah orang yang tadi menolongnya.
"Kawaii..." ujar Doremi saat menatap bayi itu.
Tiba-tiba bayi itu menangis. Onpu lalu memberitahu mereka kalau bayi itu adalah bayi penyihir, karena penyihir lahir dari bunga mawar.
Onpu lalu berkata, "Doremi-chan, boleh aku menggendongnya?"
"Ii yo," sahut Doremi. (ii yo: boleh)
Tapi pada akhirnya, Doremi terkejut. Bayi itu mengompol dalam gendongannya.
"Oshiko?" seru Hazuki dan Aiko bersamaan. (oshiko: ngompol)
"Yah, biar kau saja yang menggendongnya," kata Onpu yang akhirnya tidak jadi menggendong bayi itu.
"Kenapa aku selalu sial begini sih..." ratap Doremi, masih memegangi bayi itu yang kemudian menangis setelah mengompol.
Tiba-tiba keberadaan mereka diketahui oleh penyihir pengawas taman kerajaan. Mereka, juga bayi itu, lalu dibawa ke istana.
Dan sekali lagi, mereka bertemu dengan Jou-sama.
Itulah awal petualangan baru mereka, dimana Jou-sama menunjuk Doremi menjadi 'mama' dari bayi tersebut. Dibantu oleh ketiga sahabatnya, mereka harus merawat bayi itu selama setahun, dan juga, kembali menjadi majominarai. Jou-sama berjanji akan mengembalikan kristal sihir mereka jika mereka berhasil merawat bayi itu. Hal ini juga membuat Majorika, Lala, juga Dodo, Rere, Mimi dan Roro dapat kembali ke Ningenkai, membuat Majorika dapat berjualan lagi.
Agar bayi itu dapat tumbuh dengan baik, Maho-dou lalu diubah menjadi toko bunga bernama Flower Garden Maho-dou. Tak hanya itu. Doremi juga meminta kepada Jou-sama agar Pop juga bisa kembali menjadi majominarai bersama dengan mereka, yang akhirnya dikabulkan oleh Jou-sama.
Sejak saat itu, mereka menjaga bayi itu sebaik-baiknya, seperti layaknya seorang ibu kepada anaknya. Doremi menamai bayi itu Hana-chan, karena ia lahir dari bunga.
Banyak hal yang mereka pelajari saat mengurus Hana-chan, tak terkecuali Doremi. Ia belajar banyak dari semua yang terjadi saat ia dan yang lain mengurus bayi itu dengan sepenuh hati.
Suatu hari, Doremi diberitahu oleh ibunya, kalau seseorang dianggap sebagai seorang ibu bukan hanya karena melahirkan anak, melainkan juga harus mengurus anak itu dengan sebaik-baiknya. Di hari yang lain, ia juga belajar tanggung jawab jika seandainya anak tersebut sakit karena kesalahan orangtuanya: mereka harus menemani anak itu dan merawatnya sampai ia sembuh.
Kehadiran Hana-chan dalam kehidupannya membuat Doremi mengerti tentang semua yang terjadi dalam kehidupan ini. Lambat laun, kemalasannya juga makin berkurang. Ia berubah menjadi seseorang yang lebih baik (walaupun sifat cerobohnya masih ada).
Dan yang terpenting, ada satu hal yang terjadi saat itu yang akhirnya mengobati trauma lamanya akan piano: keinginan Pop agar ia juga diajari piano oleh ibunya.
Tentu saja, saat itu Pop masih belum bisa berlatih di rumahnya sendiri, karena di rumah keluarga Harukaze sudah tidak ada piano. Dengan menggunakan sihir, Doremi memunculkan sebuah piano di Maho-dou yang akhirnya dipakai Pop untuk berlatih, tentu saja dengan bimbingan ibunya.
Saat itulah, luka lama itu hilang.
Suatu hari, saat Pop belajar memainkan sebuah lagu dari ibunya, Doremi dan Hana-chan memandang mereka dari kejauhan. Saat Doremi lengah, Hana-chan merangkak menghampiri mereka, tertarik dengan piano yang mereka mainkan.
Ny. Haruka lalu menggendong Hana-chan agar dapat meraih tuts-tuts piano tersebut, yang kemudian ditekan oleh Hana-chan secara sembarang dan membuat Pop merasa terganggu.
Tidak lama kemudian, Hana-chan menangis. Menyadari hal tersebut, Doremi lalu meminta kepada ibunya agar Hana-chan diserahkan kembali kepadanya.
Tapi, walaupun sudah dalam gendongan Doremi, Hana-chan masih saja menangis. Hal itu kemudian membuat Ny. Haruka ingin memainkan sebuah lagu untuk menenangkan Hana-chan. Ia lalu memainkan lagu 'Lupinus no Komoriuta' dengan menggunakan piano tersebut, yang akhirnya berhasil membuat Hana-chan tenang.
Doremi lalu teringat apa yang terjadi saat ia masih belajar piano dari ibunya dulu. Saat Pop masih bayi, ia juga sempat bermain piano untuk menenangkan Pop yang menangis keras. Saat itulah ia merasa trauma dihatinya mulai menghilang, tergerus oleh kenangan manis yang ia ingat itu.
Hari itu ia memutuskan untuk berlama-lama di Maho-dou, saat ibu dan adiknya ingin pulang ke rumah. Saat itu juga, Hazuki, Aiko dan Onpu menyadari, bahwa sebelum hari itu, tak sedetikpun Doremi menyentuh piano yang ia munculkan di Maho-dou. Mereka lalu bertanya-tanya, apa yang menyebabkan Doremi bersikap seperti itu, dan saat itulah mereka baru mengetahui apa yang terjadi lima tahun yang lalu: kegagalan Doremi dalam resital pertamanya.
Beberapa hari kemudian, Tn. Harukaze Keisuke mendapatkan royalti dari artikel memancing yang ia tulis, yang rencananya akan dicetak menjadi sebuah buku. Royalti tersebut lalu dibelikan sebuah piano baru, yang akhirnya menempati ruang keluarga di rumah keluarga Harukaze.
Saat itulah Doremi mengutarakan keinginannya untuk belajar piano lagi dari ibunya, dan hal itu melengkapi kebahagiaan keluarga Harukaze di hari itu.
Walau Doremi masih merasa bahwa ia tidak memiliki bakat untuk menjadi seorang pianis...
Catatan Author: Akhirnyaaa... chapter ini selesai juga... (kombinasi antara penjelasan episode 1, 2, 4 & 40 dari Ojamajo Doremi Sharp) *ngurut-ngurut jari tangan yang pegel*
Pokoknya, setiap kali saya update fic crossover saya, fic saya yang satu ini juga saya update! Saya nggak akan pernah membiarkan satupun dari dua fic ongoing saya ini jadi hiatus (maaf ya. Kata hiatus nggak ada di kamus penulisan saya... *tepuk tangan*)
Eh, kenapa saya jadi pidato disini? Bukannya menjelaskan tentang fic. #ehm uhm
Menurut reader, chapter yang satu ini bagaimana? Jangan lupa tinggalin komentar di review ya? ^^
Chapter berikutnya akan menceritakan tentang episode terakhir Sharp. Sudah pasti, temanya jadi sedih lagi.
Pokoknya terus baca aja ya? Ja ne!
