DISCLAIMER: Saya tidak punya Ojamajo Doremi. Saya suka acara ini, jadi saya memutuskan untuk menulis cerita ini. Ojamajo Doremi adalah acara yang dibuat oleh Toei Animation pada tahun 1999-2004.

Catatan Author: Sudah di chapter 7! *nyiapin tisu berol-rol*

Yups, chapter ini akan menceritakan tentang ending 'bittersweet' part 2 di anime ini (eh, tapi bener kan, kalau endingnya dua season pertama Ojamajo Doremi sama-sama 'bittersweet'? – sama-sama menceritakan tentang penyelamatan yang harus diiringi dengan pengorbanan yang bikin endingnya jadi sedih T_T).

Saya sengaja mengurangi percakapan disini (paling tidak percakapan yang saya tulis sebagian bukan percakapan yang diperlihatkan di animenya alias hidden scene). Yang pasti, chapter ini diilhami dari dua episode terakhir Ojamajo Doremi Sharp.


Doremi's Life

.

Chapter 7 – Love Supreme no Hana


Tes kesehatan Hana-chan ditunda...

Itulah yang akhirnya membuat Doremi, Hazuki, Aiko, Onpu dan Hana-chan (juga Pop yang menyusul mereka) pulang kembali dari Majokai dengan membawa buku pertumbuhan Hana-chan yang halaman terakhirnya masih belum diberi stempel. Setelah semua kekacauan yang terjadi saat itu, Majoheart memutuskan untuk menunda tes kesehatan bayi penyihir berumur satu tahun bagi bayi penyihir yang masih belum dinyatakan lulus.

Kekacauan malam itu membuat mereka sangat lelah. Karena itulah, setelah menidurkan Hana-chan di tempat tidurnya, pohon Life Wood, Doremi, Pop, Hazuki, Aiko dan Onpu pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat.

Setibanya di rumah, Doremi dan Pop memasuki kamar mereka masing-masing. Setelah mengganti bajunya dengan piyama, Doremi beranjak ke tempat tidur.

"Aku lelah sekali..." katanya pada diri sendiri, "Pagi akan datang sebentar lagi, tapi tetap saja tak masalah buatku kalau aku tidur sekarang..."

Ia menguap sebentar lalu dalam sekejap tertidur pulas. Memang tidak masalah jika ia tidur, karena hari itu ia tidak perlu pergi ke sekolah. Sudah waktunya libur.

Namun tak lama kemudian, ia tahu kalau saat itu bukan saat yang tepat untuk tidur.

Beberapa jam setelah ia sampai dirumah, Lala mendatangi rumahnya dan mengetuk kaca jendela yang berada tepat diatas tempat tidurnya, tapi Doremi tidak mendengarnya. Ia masih saja berada dalam alam mimpinya.

Merasa kesal, Lala kemudian menggores kaca jendela yang tadi diketuknya dengan menggunakan kuku tangannya, menyebabkan suara yang membuat Doremi merasa ngilu dan akhirnya terbangun.

"Ada apa ini?" katanya saat ia terbangun. Ia lalu menengok ke arah jendela tempat Lala berada, "Ah, Lala."

Ia membuka jendela itu dan membiarkannya memasuki kamar, "Belum lama aku pulang dari Maho-dou tadi, sekarang kamu datang kemari. Ada apa?"

"Gawat Doremi. Hana-chan tiba-tiba demam tinggi, dan... kali ini, bukan demam biasa."

"Apa!" seru Doremi, "Maksudmu, Hana-chan..."

"Begitulah. Tadi Majorika sudah mencoba memberinya ekstrak chamomile kesukaannya, tapi Hana-chan tetap tidak mau meminumnya."

Doremi bergegas mengganti bajunya, "Kau sudah mengompresnya?"

"Aku sudah mengompresnya dengan beberapa buah balok es, tapi... es-es itu malah mencair semua hanya dalam waktu beberapa detik."

"Itu namanya serius." Doremi membuka pintu kamarnya, "Aku akan menelepon yang lain dulu, setelah itu baru kita ke Maho-dou."

Lala mengangguk setuju.

Doremi lalu berlari menuju ke telepon rumahnya yang berada di lantai dasar. Dengan cepat ia menelepon Hazuki, Aiko dan Onpu, memberitahukan kepada mereka tentang sakitnya Hana-chan.

Pop menghampiri kakaknya yang baru saja selesai menelepon Onpu, "Doushita no, Doremi? Kita kan belum lama pulang dari Maho-dou. Kupikir kau masih tidur."

"Gawat Poppu, gawat! Hana-chan sakit keras!"

"Apa! Tapi tadi, kelihatannya..."

"Iya, tapi barusan Lala memberitahuku tentang hal itu. Sekarang dia menungguku di dalam kamar. Kami akan segera ke Maho-dou."

"Doremi."

"Ada apa?"

"Boleh aku ikut ke sana? Aku khawatir."

"Tentu boleh, Poppu. Ayo kita pergi."

Di depan gerbang Maho-dou, mereka bertemu dengan yang lainnya: Hazuki, Aiko dan Onpu. Mereka lalu bersama-sama masuk ke dalam Maho-dou, menghampiri Majorika yang masih sibuk mengurusi Hana-chan yang tiba-tiba terkena demam tinggi.

Mereka bekerja sama merawat Hana-chan, tapi demam tingginya masih belum turun juga.

Dalam kebimbangan, akhirnya mereka memutuskan akan membawa Hana-chan ke Majokai malam itu juga untuk berobat pada Majoheart.

Mereka menunggu sampai bulan tersenyum muncul dilangit, yang membuat mereka dapat pergi ke Majokai.

Mereka terkejut saat mendapati jumlah air yang mengalir di air terjun kecil yang menjadi gerbang ke Majokai berkurang.

"Pasti sedang ada masalah di Majokai," kata Majorika.

Walaupun begitu, mereka tetap bertekad membawa Hana-chan ke Majokai, ke klinik penyihir milik Majoheart.

Setibanya di sana, mereka bertemu dengan Majopi dan Majopon.

"Anata-tachi, doushita no?" tanya Majopi, "Hari ini tidak ada tes kesehatan."

"Tolong panggilkan Majoheart-sensei," jawab Doremi, "Hana-chan sakit keras."

"Eh!" seru Majopi dan Majopon bersamaan.

"Bagaimana ini? Dokter Majoheart sedang menemui Jou-sama di istana," ujar Majopi.

"Baiklah. Aku akan memberitahu Dokter Majoheart tentang kondisi Hana-chan," sahut Majopon yang langsung berlari keluar klinik tersebut.

Tak berapa lama kemudian, Majopon kembali bersama Majoheart. Dokter penyihir itu lalu memeriksa kondisi Hana-chan yang semakin melemah.

Majoheart menyuruh Majopon untuk menyelimuti Hana-chan dengan lapisan kapas dari pohon Life Wood. Doremi dan yang lainnya menanyakan kondisi Hana-chan kepada Majoheart.

"Kalau ini terus berlanjut, Hana-chan bisa..." ia tidak meneruskan kata-katanya, karena ia tahu bahwa mereka bisa menebak dengan mudah apa lanjutannya. Hana-chan bisa meninggal...

Tanpa berpikir panjang, Doremi lalu mengeluarkan picotto poronnya. Hampir saja ia menggunakan sihir terlarang untuk menyembuhkan Hana-chan kalau saja Majorika tidak melompat kearahnya dan mencegah hal itu terjadi.

Tapi kemudian, Hazuki, Aiko dan Onpu juga mengeluarkan picotto poron mereka, juga berpikir untuk menyembuhkan Hana-chan dengan menggunakan sihir.

"BAKAMONO!" teriak Majoheart, "Kalian tidak boleh melakukan hal itu!"

Tapi mereka tetap bersikeras bahwa keselamatan Hana-chan lebih penting dari segalanya. Mereka tidak takut, walau harus mempertaruhkan nyawa mereka sekalipun. Itu lebih baik daripada mereka harus melihat kondisi Hana-chan yang semakin lemah seperti sekarang ini.

Tiba-tiba Jou-sama menghampiri mereka, dan memberitahukan kepada mereka bahwa hanya ada satu cara untuk menyembuhkan Hana-chan: mereka harus mengambil bunga berwarna merah bernama Love Supreme yang dapat mengabulkan permohonan. Bunga itu terdapat didalam sebuah hutan yang menyeramkan bernama Noroi no Mori (hutan kutukan).

Tapi untuk masuk kesana, mereka menghadapi resiko yang besar.

Selama ini, sudah banyak penyihir yang mencoba masuk ke sana dan tidak keluar dengan selamat. Salah satu dari mereka memang ada yang berhasil keluar dengan selamat, tetapi ia terkena kutukan untuk tidur selama seribu tahun.

Namun itu semua tidak membuat Doremi dan yang lain merasa gentar. Mereka tetap ingin pergi kesana demi menyelamatkan Hana-chan. Karena itulah, Doremi, Hazuki, Aiko dan Onpu memberanikan diri masuk ke hutan itu, dengan dibekali kristal sihir mereka yang akhirnya dikembalikan oleh Jou-sama.

"Inilah saat yang tepat bagi kalian untuk menggunakannya," kata Jou-sama.

Awalnya, Pop juga ingin ikut dengan mereka, tapi Doremi menentangnya.

"Poppu, ada kemungkinan... aku tidak akan kembali dengan selamat," ujar Doremi, "Kalau kau juga masuk ke sana, siapa yang akan menghibur otosan dan okasan nantinya?"

Pop menangis.

"Poppu-chan, kalau Hana-chan sudah sembuh nanti, tolong jaga dia demi kami ya?" tambah Hazuki.

Majominarai berbaju merah itu lalu mengangguk perlahan, masih dengan airmatanya yang terus menetes.

Majoheart berjanji kepada mereka untuk menjaga Hana-chan selama mereka berada di dalam hutan itu. Ia menjamin bahwa Hana-chan tidak akan meninggal sebelum mereka keluar dengan membawa bunga itu.

Setelah menggunakan Magical Stage untuk berubah menjadi Royal Patraine, mereka berempat berjalan masuk ke hutan yang gelap itu. Di dalam sana, mereka sempat berilusi tentang keluarga mereka masing-masing, tak terkecuali Doremi.

Ia membayangkan bahwa dirinya sedang berbaring di atas tempat tidurnya, di dalam kamarnya yang nyaman. Sayup-sayup ia mendengar suara dentingan piano mengalunkan sebuah lagu yang sederhana.

'Piano? Pasti Poppu yang memainkannya,' pikirnya.

Kemudian terdengar suara orangtuanya memanggilnya, mengatakan bahwa menu makan malam mereka hari ini adalah steak. Terdengar pula suara Pop yang mengancam bahwa jika Doremi tidak turun juga ke ruang makan, jatah steak miliknya akan dilahap oleh adiknya itu.

Doremi tersenyum. Ia berpikir bahwa selama ini, ia tinggal di keluarga yang hangat. Keluarga yang nyaman...

Tapi kemudian, ia teringat pesan ibunya saat pertama kali ia merawat Hana-chan: seseorang dianggap sebagai seorang ibu bukan hanya karena melahirkan anak, melainkan juga harus mengurus anak itu dengan sebaik-baiknya, yang akhirnya menyadarkannya pada apa yang terjadi sekarang: ia harus menyelamatkan Hana-chan, karena ia adalah 'mama' dari Hana-chan. Pemikiran itu berhasil membuatnya keluar dari ilusinya tadi, yang dibuat oleh mantan Ratu Majokai yang memerintah dua periode sebelum Jou-sama agar mereka menyerah untuk mencari bunga Love Supreme tersebut.

Ketiga sahabatnya juga demikian. Mereka juga berhasil keluar dari ilusi mereka masing-masing saat mereka ingat bahwa Hana-chan membutuhkan mereka.

Setelah beberapa lama berjalan, akhirnya mereka menemukan apa yang mereka cari: setangkai bunga merah bernama Love Supreme.

Namun saat mereka mencoba mengambil bunga tersebut, mereka dihalangi oleh sang mantan Ratu dengan adanya rintangan berupa jurang disekeliling bunga itu.

Mereka akhirnya memutuskan untuk mencoba melewati rintangan itu secara bergiliran satu persatu. Mereka tetap bertekad untuk mendapat bunga itu walaupun mereka harus terkena kutukan yang membuat mereka harus tidur selama seribu tahun.

Secara bergiliran, mereka melewati rintangan itu, lalu akhirnya jatuh tertidur, sampai akhirnya tinggal Doremi sendiri yang belum mencobanya.

Ia menatap ketiga sahabatnya yang sudah jatuh tertidur sambil menangis, "Kalian benar-benar mama yang hebat..."

Sang mantan Ratu masih saja mencoba mencegah Doremi untuk mendapatkan bunga itu, tapi tetap saja tak berhasil. Ia sudah bertekad bulat untuk mengambil bunga itu apapun yang terjadi, dan ia tidak akan terpengaruh oleh apapun yang dikatakan oleh mantan Ratu tersebut. Ia tidak akan menyerah.

Doremi melewati rintangan itu, sambil mengingat-ingat semua kenangannya bersama Hana-chan.

Saat kristal sihirnya pecah, ia meneriakkan nama Hana-chan. Seketika bajunya berubah dan rambut odangonya juga terlepas. Untungnya, ia masih punya waktu untuk menggapai bunga itu sebelum ia jatuh tertidur bersama yang lain.

Saat ia menggapai bunga itu, bunga tersebut berubah warna dari merah menjadi putih, seolah mendengar 'permohonan' Doremi agar Hana-chan dapat sembuh dari penyakitnya. Seketika itu juga, Noroi no Mori menghilang.

Mengetahui hal tersebut, Majorika, Lala, Pop, Jou-sama, Majorin dan Majoheart mendatangi Doremi dan yang lainnya, yang telah jatuh tertidur.

Majoheart lalu memeriksa mereka berempat, "Tidak salah lagi. Mereka telah terkena kutukan itu, dan aku tidak yakin kalau mereka bisa bangun sebelum seribu tahun."

Majoheart kemudian menatap tangan kanan Doremi dan menyadari sesuatu disana: bunga Love Supreme yang telah berubah warna. Doremi berhasil mendapatkannya.

Jou-sama yang terharu kemudian berniat membangunkan keempat gadis itu dengan menggunakan sihir, namun ditentang oleh Majorin yang dengan cepat mencegah hal itu terjadi.

Situasi menjadi tegang saat Majopi dan Majopon datang membawa Hana-chan dan melapor kepada Majoheart kalau kondisi Hana-chan semakin memburuk.

Tapi tiba-tiba, bunga Love Supreme yang berada di tangan kanan Doremi bercahaya. Kelopak bunga itu lalu terbang mendekati Hana-chan, yang kemudian sembuh dan terbangun dari tidurnya.

Hana-chan lalu terbang mendekati Doremi dan ketiga sahabatnya yang terbaring disana. Ia mencoba memanggil mereka, walaupun semua orang disekitarnya tahu bahwa mereka berempat tidak akan bisa merespon panggilan itu...

Pop yang sudah tak tahan lagi menggendong Hana-chan dan berkata kepada bayi itu kalau mereka akan tidur dalam waktu yang lama. Seketika, Hana-chan mengucapkan kata pertamanya: mama, yang pada akhirnya membuat Pop terkejut.

Tak lama kemudian, sebuah keajaiban terjadi. Doremi dkk terbangun dari tidur mereka. Ternyata, perkataan Hana-chan tadi secara tidak langsung membuat mereka terlepas dari kutukan itu.

Tapi sayangnya, karena kristal sihir mereka pecah, mereka sudah tidak lagi menjadi penyihir dan harus berpisah dengan Hana-chan. Walaupun begitu, Majorika tidak ingin berpisah dengan mereka, dan memutuskan untuk tetap tinggal di Maho-dou, walau mungkin ia tidak akan pernah lagi kembali ke wujud semula.

Dan sebenarnya, ia memang tidak perlu kembali ke Majokai...


Catatan Author: Yosh, akhirnya saya berhasil menulis chapter ini, hehehe... Semoga tetap berkenan di hati para reader semuanya ya? ^^

Chapter depan akan menceritakan tentang pertemuan Doremi dkk dengan Momoko! Mungkin isinya kurang lebih akan jadi hampir sama kayak yang di Momoko's Life chapter 5 kemarin, hanya kali ini mungkin akan full ngebahas tentang episode pertamanya Motto Ojamajo Doremi.

Ah ya, saya juga mau ngasih tahu kalau mulai tanggal 1 Oktober kemarin, Indonesian Fanfiction Awards 2011 sudah memasuki bulan nominasi lho. Kalau para reader mau menominasikan fic atau author (tentunya yang berbahasa Indonesia untuk ficnya dan authornya juga dari Indonesia) yang menurut readers layak untuk menang tahun ini, jangan lupa untuk mampir ke profil saya, karena disana ada formulir nominasinya. Jangan lupa diisi ya? Yang punya facebook & twitter juga jangan lupa join di grup resmi IFA di FB juga follow IFA di twitter ya? Ditunggu lho partisipasinya.

Dan juga, kalau ada (garis bawahi kata 'kalau') dari para reader yang mau menominasikan Doremi's Life di IFA 2011, tak lupa juga saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Saya janji, saya akan meng-update fic ini sesegera mungkin, dan juga, akan membuat fic ini menjadi sebagus mungkin, untuk membuktikan bahwa fic saya pantas untuk menang. Yey!

Sekian dulu dari saya. Seperti biasa, kritik dan saran saya tunggu di review dengan tangan terbuka ya? Ja ne!