DISCLAIMER: Saya tidak punya Ojamajo Doremi. Saya suka acara ini, jadi saya memutuskan untuk menulis cerita ini. Ojamajo Doremi adalah acara yang dibuat oleh Toei Animation pada tahun 1999-2004.

Catatan Author: Tiba di chapter 10!

Mungkin cerita di chapter 10 ini hampir mirip dengan apa yang saya tulis di fic berbahasa Inggris saya yang berjudul 'Arigatou, for the Love: a Later Story from Misora', hanya saja, saya menulis beberapa perbedaan disini (selain tentu saja, perbedaan bahasa yang digunakan).

Jangan tanya lagi ke saya apa yang akan saya tulis kali ini, karena para reader bisa dengan mudah mengetahuinya hanya dengan melirik judul chapter dibawah. Selamat membaca saja ya? ^^


Doremi's Life

.

Chapter 10 – Aishiteru, Kotake!


"Ittekimasu!"

Seorang gadis berseragam SMP Misora berlari keluar dari rumahnya dengan menenteng tas sekolahnya. Ia tidak ingin datang terlambat ke sekolahnya hari ini, dihari pertamanya bersekolah disana, SMP Misora.

Di tengah perjalanannya, ia bertemu dengan seorang anak laki-laki seusianya, yang juga murid kelas 7 SMP Misora. Seorang anak laki-laki dengan rambut jabriknya yang berwarna biru gelap yang juga teman sekelasnya di SD Misora: Kotake Tetsuya.

"Ah, Kotake," sapa Doremi, "Ternyata kau juga murid SMP Misora? Kupikir kau masuk ke SMP..."

"Nakata?" Kotake menebak apa yang akan dikatakan Doremi, "Susah sekali masuk kesana. Aku... tidak lulus ujian masuk kesana."

"Yang benar?"

Kotake mengangguk, "Padahal aku ingin sekali masuk kesana."

"Aku tahu itu. Lagipula, disana kau bisa mengasah kemampuan bermain sepak bolamu kan?"

"Memang itu yang kuinginkan," jawab Kotake, "Yah, sudahlah. Karena kita sudah bertemu disini, bagaimana kalau kita berangkat sekolah sama-sama?"

"Kaupikir apa yang kita lakukan sekarang?" Doremi bertolak pinggang sambil terus berjalan, "Kita berbicara sambil berjalan ke sekolah. Secara tidak langsung, kita berangkat sekolah sama-sama."

"Benar juga ya?"

Situasi sempat hening sejenak, tapi mereka tetap berjalan bersama menuju sekolah mereka.

Sampai pada akhirnya, Doremi membuka pembicaraan baru, "Kotake."

"Ya?"

"Apa kamu yakin, kalau... apa yang kaukatakan saat itu benar adanya?"

"Yang kukatakan... kapan?"

"Itu lho, maksudku... yang kaukatakan sebelum upacara kelulusan kita dari SD Misora beberapa hari yang lalu. Kamu bilang... semua orang menyukaiku."

"Tentu saja!" sahut Kotake cepat, "Maksudku, siapa sih, yang tidak menyukai orang yang baik dan suka menolong siapa saja sepertimu? Hanya orang bodoh yang bisa melakukannya."

"Sungguh?"

"Iya."

"Tapi... soal kecerobohanku..."

"Kurasa semua orang bisa melakukan kecerobohan," Kotake kembali menyahut, "Hanya saja, kau sering melakukannya, tapi kurasa itu tidak mempengaruhi rasa kepedulianmu kepada orang lain."

"Begitu ya?"

Kotake mengangguk, "Dan itulah yang selama ini kusuka darimu."

"Eh? Kotake, tadi kamu bilang apa?"

"Ah, maksudku, rasa kepedulianmu itu yang selama ini disukai oleh semua orang," ujar Kotake, agak gugup.

"Oh..." sahut Doremi. Mereka kemudian tidak berbicara sepatah katapun lagi.

'Kalau saja kamu tahu, kalau aku menyukaimu lebih dari mereka... tidak. Aku tidak menyukaimu. Aku mencintaimu,' pikir Kotake, 'Kalau saja aku berani berterus terang tentang hal ini saat itu, kau pasti akan tahu perasaanku yang sebenarnya. Sayangnya... sampai saat ini, aku masih malu untuk mengungkapkannya...'

"Ah, Doremi," kali ini Kotake yang memulai pembicaraan.

"Hng?"

"Maafkan aku kalau selama ini, aku sering meledekmu..."

"Bukankah waktu itu kau pernah menitipkan maafmu untukku kepada Hana-chan?" potong Doremi. Ia teringat saat mereka mengikuti study tour di Kyoto saat mereka duduk di kelas 6 SD, saat Kotake berbicara dengannya yang saat itu sedang menyamar menjadi Hana-chan dan menitipkan permohonan maafnya.

"Ah ya, benar juga. Maksudku... permohonan maafku atas semua yang terjadi setelah aku menitipkan maafku kepada Makihatayama. Kau tahu... yang terjadi di acara api unggun saat perkemahan musim panas itu..."

"Sudah kumaafkan," sahut Doremi sambil tersenyum, "Aku sudah memaafkanmu saat kau menolongku waktu kita tersesat di hutan saat itu."

"Oh ya?"

Doremi mengangguk, "Pertolonganmu saat itu sangat berarti buatku. Arigatou, Kotake."

"Bukannya waktu itu kau sudah bilang 'arigatou' padaku dalam hal itu?"

"Anggap saja aku belum mengatakannya."

Tanpa terasa, mereka sudah sampai di sekolah baru mereka, SMP Misora.

'Andai saja Hazuki-chan bisa bersekolah disini juga,' pikir Doremi, 'Tapi tak apalah. Daripada dia terpaksa bersekolah disini hanya demi aku, lebih baik dia bersekolah di Karen seperti apa yang ia inginkan selama ini. Aku kan juga ingin melihatnya mengambil keputusan sendiri. Ini yang terbaik untuk semua.'

Mereka bersama-sama menuju ke papan pengumuman untuk mengetahui di kelas mana mereka akan belajar.

"Ya ampun. Ternyata kita sekelas lagi," keluh Doremi, "Kotake, kita sama-sama di kelas 7-1."

"Tidak jadi masalah," sahut Kotake, "Aku tak merasa bosan."

"Eh?"

"Setidaknya aku bisa meledekmu lagi," ujar Kotake sambil tersenyum usil.

"Apa kaubilang? Jadi kau masih ingin meledekku juga disini?"

"Yah... tergantung. Kali ini kau sudah bisa mengendalikan kecerobohanmu atau belum... Dojimi."

"Hei, jangan memanggilku seperti itu lagi!" teriak Doremi yang kemudian mengejar Kotake sampai ke kelas mereka, kelas 7-1, "Ko-ta-ke!"

Di dalam kelas, mereka berhenti berlari, lalu Kotake tertawa dan akhirnya membuat Doremi juga ikut tertawa.

"Rasanya sudah lama sekali kau tidak mengejarku dan meneriakkan namaku seperti itu," kata Kotake sambil terus tertawa.

"Mou, Kotake, kau ini... selalu saja usil padaku," sahut Doremi sambil berjalan menuju ke kursi yang akan ia duduki di kelas itu, "Kau memang pantas meminta maaf padaku berulang-ulang."

"Terserah kaulah," Kotake juga berjalan ke kursinya lalu duduk disana. Letak kursi Doremi dan Kotake ternyata bersebelahan.

Mereka kemudian berhenti tertawa dan menghela nafas. Rasanya mereka sudah lama sekali tidak kejar-kejaran seperti tadi.

Tiba-tiba terdengar suara bel masuk berbunyi, dan terlihat seorang guru memasuki ruangan kelas 7-1. Semua murid kelas 7-1 lainnya juga memasuki kelas dan duduk di tempatnya masing-masing.

Secara diam-diam, Doremi menatap Kotake yang duduk disampingnya. Ia berpikir, 'Aku tak menyangka bahwa aku bisa merasa sesenang ini ketika tahu bahwa ia sekelas denganku lagi... Eh, tapi... kenapa aku bisa merasa senang seperti ini? Apa mungkin... aku...'

Seketika pipinya memerah, dan akhirnya ia mengalihkan pandangannya kembali ke depan kelas, dimana seorang murid lain sedang memperkenalkan dirinya.

Entah apa yang dirasakannya sekarang. Sebuah perasaan yang membuat jantungnya berdebar kencang, dan juga, membuat dirinya merasa terlindungi.

Perasaan apa ini? Apa ini yang namanya cinta?

Doremi pernah bahkan sering jatuh cinta kepada beberapa orang anak laki-laki sebelumnya. Mulai dari Igarashii-senpai sampai Akatsuki, sang pangeran Mahotsukai yang juga ketua dari FLAT 4. Saat itu, ia juga merasakan bahwa detak jantungnya menjadi lebih cepat, saat melihat ketampanan wajah orang-orang itu.

Tapi kenapa saat ini ia juga merasakannya... dengan Kotake? Dengan seseorang yang selama ini dianggapnya biasa-biasa saja. Tidak tampan, juga tidak rupawan. Kotake hanyalah orang yang berpenampilan biasa-biasa saja, dan selama ini, ia tetap seperti itu. Ia tetap orang yang berpenampilan apa adanya.

Dan satu hal lagi yang membuat Doremi tidak mengerti apa yang dirasakannya sekarang. Sebuah perasaan lain yang belum pernah ia rasakan saat ia merasa sedang jatuh cinta: sekarang ia merasa terlindungi.

Ia bahkan mulai merasakannya saat ia dan Kotake tersesat di hutan saat mereka mengikuti perkemahan musim panas tahun lalu. Saat Kotake membalut kakinya yang sakit, menggendongnya, juga memberikan permen terakhirnya kepadanya.

'Apa ini yang namanya cinta sejati?'

Sementara itu, Kotake juga sedang memikirkan sesuatu di benaknya, 'Doremi, andai saja kau mengetahui perasaanku yang sebenarnya...'


Seminggu kemudian...

Kotake jatuh sakit dan itu membuatnya tidak bisa masuk sekolah selama dua minggu. Selama itu pula, Doremi merasa kesepian di kelasnya. Ia merasa ada sesuatu yang hilang saat Kotake tidak masuk sekolah. Ia bahkan merindukan panggilan Kotake yang digunakan untuk meledeknya: Dojimi.

'Kotake, sebenarnya, sekarang kau sedang sakit apa? Sampai kau tidak bisa datang ke sekolah? Aku takut kalau kau... tidak bisa masuk ke sekolah lagi...' pikir Doremi, 'Semoga penyakitmu tidak parah ya...'

Doremi ingin sekali menjenguk Kotake di rumahnya, tapi ia malu dan takut kalau-kalau ada diantara sahabat Kotake seperti Kimura atau Itou yang juga datang menjenguk saat ia datang kesana. Karena itu, ia mengurungkan niatnya.

Sementara itu, Kotake juga memikirkan Doremi di rumahnya.

'Kenapa ia tidak datang juga untuk menjengukku?' pikirnya, 'Apa dia tidak peduli dengan keadaanku?'

'Ah ya, tentu saja. Jangan bermimpi, Kotake Tetsuya. Doremi tidak mungkin pernah bisa mencintaimu. Kau bukanlah seseorang yang tampan seperti... siapa itu? Akatsuki?'

Mereka terus berpikir seperti itu sampai pada akhirnya Kotake sembuh dan dapat masuk sekolah lagi. Tanpa berpikir panjang, Doremi memeluk Kotake saat ia melihat pemuda bermata biru itu berada di kelas mereka.

"Kotake, aku senang karena sekarang kau sudah sembuh. Maafkan aku karena aku tidak pernah menjengukmu saat kau sakit kemarin. Sebenarnya aku sangat khawatir..."

"Yah, Doremi... bisakah kau... melepaskan pelukanmu dariku?" sahut Kotake dengan susah payah, "Aku... susah bernafas kalau kau... memelukku seperti ini..."

"Ah, gomen nasai!" seru Doremi sambil melepas pelukannya. Seketika pipinya memerah, dan bersamaan dengan itu, jantungnya berdegup semakin kencang.

Dengan cepat Doremi kembali ke tempat duduknya sendiri. Ia takut kalau Kotake dapat melihat wajahnya yang memerah. Ia memang tidak bisa melihat wajahnya sendiri, tapi ia dapat merasakan hal itu. Wajahnya terasa panas.

"Doremi..."

"Syukurlah, sekarang... kau bisa masuk sekolah lagi," sahut Doremi, masih memalingkan mukanya dari Kotake yang duduk disampingnya, "Aku... aku..."

"Arigatou, Doremi. Kupikir... kau tidak peduli padaku."

"T-tentu saja aku... peduli padamu. Kau kan sahabatku."

'Ternyata kau hanya menganggapku sebagai sahabatmu. Kupikir...' Kotake lalu berkata, "Jadi... kau menganggapku... sebagai sahabatmu?"

Doremi mengangguk pelan.

"Baiklah, sekali lagi kuucapkan... terima kasih atas perhatianmu padaku."

"Sama-sama."

'Ah, selalu saja seperti ini,' keluh Doremi dalam hati, 'Walau kali ini terasa berbeda, tapi aku tetap saja malu mengungkapkannya. Ya Tuhan... tolong berikan keberanian padaku untuk mengungkapkan semuanya... Sekarang aku sadar kalau aku mencintainya.'

Disisi lain, Kotake berpikir, 'Yah, walaupun kaubilang kalau kau peduli padaku karena kau menganggapku sebagai sahabatmu, tapi... aku senang. Setidaknya kau peduli padaku, Doremi.'

Di waktu makan siang, Kotake naik ke atap sekolah.

'Bagaimana caranya agar Doremi bisa menyukaiku... ah, tidak. Maksudku, bagaimana caranya agar ia bisa jatuh cinta padaku?' pikirnya, 'Hmm... coba kupikirkan. Selama ini, Doremi selalu mencintai seseorang yang... berbadan tinggi dan berambut gondrong...'

Kotake lalu berkata pada dirinya sendiri, "Aku punya ide!"

Sejak saat itu, Kotake mulai berubah. Ia menjadi lebih giat berolahraga dari sebelumnya, agar ia dapat tumbuh lebih tinggi lagi dari sebelumnya. Ia juga tidak mau lagi memotong rambutnya tiap bulan, agar rambutnya itu dapat tumbuh lebih panjang lagi.

Dan benar saja. Hanya dalam waktu beberapa bulan saja, ia berubah menjadi pemuda berbadan tinggi dan berambut gondrong, seperti apa yang ia ketahui tentang tipe cowok yang diidamkan oleh orang yang dicintainya.

Tapi ternyata, orang yang dimaksud justru merasa kecewa dengan perubahan tersebut.

'Kenapa Kotake berubah menjadi seperti ini?' pikir Doremi, 'Padahal aku sudah mencintainya dengan gaya lamanya. Kenapa sekarang... dia mengubah gayanya?'

'Aku tahu, selama ini... aku menyukai orang yang berbadan tinggi dan bermodel rambut seperti itu, tapi... sekarang berbeda. Aku menyukai gaya rambut lama Kotake, dan juga, tidak jadi masalah buatku kalau badannya tidak tinggi. Aku mencintainya, apa adanya.'


Suatu hari, Hazuki bertamu ke rumah Doremi.

"Jadi, bagaimana, Doremi-chan?" tanya Hazuki, "Sudah berbulan-bulan kita tidak bertemu. Apa kau sudah bisa mengungkapkan perasaanmu kepada orang yang kaucintai?"

Doremi menggeleng, "Belum, Hazuki-chan. Aku belum bisa mengungkapkan perasaanku kepada Kotake..."

"Eh, jadi sekarang Doremi-chan naksir Kotake-kun?"

"I-iya," Doremi menghela nafas, "Tapi aku masih belum berani juga mengungkapkannya. Belum lagi... sekarang dia berubah. Dia meninggikan tubuhnya dan juga... memanjangkan rambutnya, padahal aku mencintainya apa adanya."

"Hmm..." tiba-tiba Hazuki memikirkan sesuatu.

"Doushita no, Hazuki-chan?" tanya Doremi.

"Katamu Kotake-kun meninggikan tubuhnya..."

"Iya."

"dan dia juga memanjangkan rambutnya?"

"Ya... itu juga benar."

"Kalau begitu... tidak salah lagi..."

"Tidak salah lagi apanya, Hazuki-chan?"

"Ya... tidak salah lagi kalau sebenarnya, selama ini Kotake-kun mencintaimu, hanya saja kau tidak tahu tentang hal itu, Doremi-chan."

"Hazuki-chan, darimana kau menarik kesimpulan kalau Kotake... mencintaiku? Apa buktinya?"

"Ada dua alasan yang membuatku yakin akan hal ini, Doremi-chan. Pertama, dia sengaja meninggikan tubuhnya, juga memanjangkan rambutnya. Itu karena dia melihat kalau selama ini, kau menyukai laki-laki yang seperti itu."

"dan... alasan keduamu?"

"Kedua, mungkin kau tidak terlalu memperhatikannya saat kita masih bersekolah di SD Misora, tapi kulihat... kelihatannya dia menaruh perhatian padamu."

"Benarkah?"

Hazuki mengangguk, "Kurasa, selama ini dia meledekmu hanya untuk mencari perhatian darimu, padahal sebenarnya ia menyukaimu. Dia hanya malu mengungkapkannya kepada semua orang."

"Hazuki-chan, aku kan sudah bilang padamu soal percakapanku dengannya di Kyoto saat aku menyamar menjadi Hana-chan," sahut Doremi, "Dia bilang, dia sering meledekku karena..."

"Itu bukan alasan yang sebenarnya, Doremi-chan," potong Hazuki, "Walaupun dia tidak tahu kalau sebenarnya kaulah yang berbicara dengannya saat itu, tetap saja dia malu untuk mengungkapkannya kepada orang lain. Apalagi... kita tahu sendiri Hana-chan orangnya seperti apa."

"Benar juga ya..."

"Sou yo," lanjut Hazuki, "Belum lagi, sebelum percakapan itu terjadi, dia terlihat sangat merasa bersalah saat ia membuatmu terjatuh secara tidak sengaja di tangga panjang yang ada di Kyoto, dan kulihat, dia juga merasa cemburu saat kau bersama Akatsuki-kun.

"Eh?"

"Buktinya dia selalu mengganggu kalian saat kalian bertemu disana. Kotake-kun juga mencintaimu, Doremi-chan," ujar Hazuki, "Puncaknya, saat ia menolongmu di perkemahan musim panas setahun yang lalu, dan juga... saat kau mengurung dirimu di Maho-dou sebelum upacara kelulusan."

"Eh? Kejadian itu juga..."

"Iya. Soal perkemahan musim panas, kurasa ia menolongmu saat itu karena ia mencintaimu, dan... soal pengakuannya di Maho-dou..." Hazuki berhenti sejenak, sampai akhirnya ia melanjutkan kata-katanya, "Masaru-kun sudah bilang padaku kalau sebenarnya, dia ingin agar Kotake-kun mengutarakan perasaannya padamu saat itu, tapi ternyata, dia malah bilang 'semua orang menyukaimu'."

"Jadi, Yada-kun sudah tahu tentang perasaan Kotake padaku?"

"Katanya sih, begitu..."

Suasana sempat hening sejenak, sampai akhirnya Doremi bertanya, "Hazuki-chan, menurutmu... apa yang harus kulakukan sekarang?"

"Tentu saja, kau harus mengungkapkan perasaanmu padanya."

"T-tapi, Hazuki-chan... aku..."

Hazuki menepuk bahu Doremi, "Kamu ingat kan, saat ulangtahunku yang ke sebelas kemarin? Kau menyemangatiku untuk memberikan coklat valentine-ku lagi kepada Masaru-kun. Saat itu kaubilang, aku harus berani memberikannya."

"Hazuki-chan..."

"Sekarang waktu yang tepat bagimu untuk memberitahu Kotake-kun tentang perasaanmu padanya. Tulis dan berikan surat cinta untuknya. Aku yakin kau pasti bisa melakukannya."

"Terima kasih atas saranmu, Hazuki-chan. Aku akan menulisnya sekarang."

"Itu bagus," Hazuki berdiri dari sofa yang didudukinya sejak tadi, "Baiklah, sekarang aku pulang ya? Doremi-chan, ganbatte ne?"

Doremi mengangguk.

Hazuki bergegas pulang sementara Doremi menaiki tangga menuju ke kamarnya. Dengan cepat ia menulis surat cintanya untuk Kotake, yang kemudian dilipatnya dan ditaruhnya dalam sebuah amplop dengan segel berbentuk hati berwarna merah muda. Kemudian ia bergegas keluar rumah, berniat menyerahkan surat itu kepada Kotake.

'Biasanya jam segini Kotake ada dimana ya?' pikirnya sambil terus berlari, 'Ah ya. Ditempat yang sama saat aku memberikan lemon jelly padanya waktu kami kelas lima. Dia pasti ada disana.'

Doremi terus berlari sampai ke tempat yang dimaksud, dan ternyata benar. Kotake ada disana.

"Kotake, tolong terima suratku ini!"


Catatan Author: Huwah, capeknya... Cerita di chapter ini memang saya sesuaikan dengan scene terakhir yang ada di episode terakhir Ojamajo Doremi Dokkan, dimana saya membayangkan kalau cowok misterius yang ada di scene itu adalah Kotake (nggak ada yang nggak mungkin dalam sebuah fic, oke ;)).

Chapter selanjutnya akan menceritakan tentang masa depan Doremi! (siapa bilang kalau Doremi madesu? Sebenarnya ada satu hal yang bisa dilakukannya) Pokoknya pantengin terus ya? Karena chapter depan itu chapter terakhir lho...

Masih mau mengingatkan, kalau mulai tanggal 1 Oktober kemarin, Indonesian Fanfiction Awards 2011 sudah memasuki bulan nominasi lho. Kalau para reader mau menominasikan fic atau author (tentunya yang berbahasa Indonesia untuk ficnya dan authornya juga dari Indonesia) yang menurut readers layak untuk menang tahun ini, jangan lupa untuk mampir ke profil saya, karena disana ada formulir nominasinya. Jangan lupa diisi ya? Yang punya facebook & twitter juga jangan lupa join di grup resmi IFA di FB juga follow IFA di twitter ya? Ditunggu lho partisipasinya.

Dan juga, kalau ada (garis bawahi kata 'kalau') dari para reader yang mau menominasikan Doremi's Life di IFA 2011, tak lupa juga saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Pokoknya saya janji, chapter terakhir nanti akan saya bikin sebagus-bagusnya dan akan di-update secepat mungkin. Saya akan membuktikan kalau fic ini layak untuk menang!

Oke, sekian dulu dari saya. Jangan lupa review ya? Ja ne!