DISCLAIMER: Saya tidak punya Ojamajo Doremi. Saya suka acara ini, jadi saya memutuskan untuk menulis cerita ini. Ojamajo Doremi adalah acara yang dibuat oleh Toei Animation pada tahun 1999-2004.

Catatan Author: Akhirnya... kita sampai di chapter 11!

Bisa dibilang, chapter ini adalah sidestory dari apa yang saya tulis di fic saya yang judulnya 'Yatte Minakya Wakaranai', tapi tentu saja, akhir dari chapter ini akan sedikit menyambung dari apa yang saya tulis di 'Momoko's Life' chapter 7. Just see it, and you'll know what did I write in this chapter. *malah nyasar pake bahasa Inggris*


Doremi's Life

.

Chapter 11 – Me & Piano


'Hah, senangnya. Akhirnya aku bisa mendapatkan apa yang kuinginkan selama ini...'

Sejak senja itu, Doremi memang akhirnya mendapatkan sesuatu yang selama ini diinginkannya: keberanian mengungkapkan perasaan kepada seseorang yang dicintainya.

Awalnya, ia tidak menyangka bahwa ia bisa melakukannya: memberikan surat itu kepada Kotake dan membiarkannya membacanya sampai akhirnya pemuda itu juga mengakui bahwa ia merasakan perasaan yang sama, tapi pada akhirnya ia tahu kalau ia bisa.

'Mulai sekarang, semuanya akan jadi lebih baik dari sebelumnya,' pikirnya sambil tersenyum, 'Semoga hubunganku dengan Kotake bisa bertahan lama, sampai kami selesai sekolah, kuliah, bekerja, dan...'

Ia tertawa kecil sebelum akhirnya meneruskan apa yang dipikirkannya, 'menikah.'

Ia terus tersenyum membayangkan akan jadi keluarga seperti apa ia dan Kotake nantinya kalau benar mereka akan menikah nantinya di masa depan. Mungkin saja mereka akan menjadi seperti kedua orangtua Doremi yang tetap harmonis walaupun sering bertengkar.

Tapi kemudian, Doremi teringat sesuatu yang membuat dirinya berhenti tersenyum: di masa depan nanti, ia akan bekerja sebagai apa?

Keempat sahabatnya bahkan sudah punya rencana akan jadi apa mereka nantinya.

'Hmm... Hazuki-chan bercita-cita menjadi violinist. Kalau Ai-chan... mungkin saja dia akan jadi atlet nasional atau... buka kedai Takoyaki mungkin?' pikirnya, 'Onpu-chan pasti akan berusaha keras untuk menjadi aktris profesional, dan Momo-chan... pasti akan terus berusaha untuk mewujudkan impiannya membuka toko kue demi mengenang Majomonroe... tapi... bagaimana denganku?'

Tapi dengan cepat ia berpikir, 'Ah, kenapa sekarang aku memikirkan ini? Masih ada banyak waktu untuk memikirkannya. Kalaupun aku masih belum tahu, itu karena memang masih belum ada satupun lapangan pekerjaan yang membuatku tertarik. Aku masih punya banyak waktu... Lagipula sekarang, aku masih SMP. Yah... paling tidak, aku akan berusaha memperbaiki nilai-nilaiku di sekolah dulu, baru kemudian memikirkan masa depan. Biarlah semuanya mengalir begitu saja...'

Setelah hari itu, Doremi menjalani kehidupannya seperti biasa. Mungkin yang berbeda hanyalah usahanya menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya. Ia mencoba untuk tidak sering bangun terlambat lagi di pagi hari, dan kalau bisa, ia juga akan membantu ibunya menyiapkan sarapan untuk keluarga mereka. Ia juga berusaha untuk lebih fokus pada pelajaran yang diterimanya di sekolah.

Baginya, sekarang adalah saat-saat yang menyenangkan. Ia selalu melakukan semuanya dengan senang hati dan tanpa mengeluh sedikitpun. Bahkan, sekarang ia tidak pernah membiarkan satu waktupun kosong begitu saja tanpa ada kegiatan apapun yang dilakukannya (tentu saja dalam hal ini, ia sudah mengerjakan tugas sekolahnya).

Setidaknya, kalaupun ada waktu kosong, ia lebih memilih untuk mengisinya dengan bermain piano daripada bersantai di ruang keluarga untuk menonton TV sambil mengemil ataupun membaca komik di kamarnya.

Iya. Bermain piano. Itulah kegiatan yang dipilihnya untuk mengisi waktu senggang. Kalaupun ternyata Pop sedang memainkan piano saat Doremi ingin memainkannya, ia tetap akan sabar menunggu sampai Pop selesai memainkan piano itu.

Tapi tetap saja, seperti sebelumnya, ia masih meragukan bakatnya bermain piano tersebut. Sampai pada akhirnya, seseorang mendatangi rumahnya dan mengatakan bahwa permainan pianonya sangat bagus. Seseorang yang dulu sempat menolongnya untuk mengambil keputusan saat ia harus memilih untuk menjadi penyihir atau berhenti. Mirai.

Mirai mendatangi rumah Doremi saat ia sedang bermain piano sendiri di rumahnya. Ayahnya sedang bekerja, ibunya sedang belanja, dan Pop sedang mengerjakan tugas sekolah di rumah salah seorang temannya.

Doremi terus saja membiarkan jari-jari tangannya menari-nari diatas tuts-tuts piano yang dimainkannya, membiarkan dirinya terhanyut dalam lagu yang dimainkannya, sampai-sampai ia tidak mendengar suara ketukan pintu Mirai.

Dari luar, Mirai mendengar suara denting piano yang terus saja dimainkan oleh Doremi. Ia memutuskan untuk menunggu disana sampai pada akhirnya Doremi selesai bermain piano.

Setelah ia mendengar lagu itu berhenti, Mirai kembali mengetuk pintu depan rumah keluarga Harukaze.

'Eh? Ada yang datang?' pikir Doremi, ia menyahut, "Ha~i!"

Ia menghampiri pintu depan lalu membukanya, "Ah, Mirai. Kau kembali ke Misora?"

"Iya, tapi aku hanya seminggu berada di kota ini," jawab Mirai sambil tersenyum saat ia memasuki rumah itu, "Mana keluargamu?"

"Mereka sedang keluar rumah."

"Sou ka. Jadi... kau yang memainkan piano tadi."

"Ah... iya," sahut Doremi malu-malu, "Pasti permainanku jelek ya?"

"Tidak juga. Permainanmu bagus," puji Mirai, "Mendengar permainanmu tadi, aku bahkan tidak percaya kalau dulu kau sempat bilang kalau permainan pianomu jelek."

"Masa sih?" tanya Doremi tidak mengerti, "Padahal dulu aku pernah gagal dalam sebuah resital..."

"Kau pasti tidak melakukannya dengan senang hati."

"Eh?"

"Iya. Tidak seperti saat kau membuat gelas di tempatku dulu. Kau membuat gelas itu dengan serius, tapi juga tetap mempertahankan perasaan senang dihatimu. Kau pasti tidak merasa senang saat resital itu kan?"

"K-kau benar. Aku bahkan merasa tertekan," ujar Doremi yang kemudian menghela nafas.

"Sudah kuduga," ujar Mirai yang tetap tersenyum, "Permainanmu barusan pasti kaulakukan dengan senang hati kan?"

Doremi mengangguk.

"Yah, sebenarnya aku kemari untuk mengajakmu membuat gelas lagi, tapi... rasanya kau punya sesuatu yang lebih baik untuk mengisi waktu luangmu."

Doremi tidak terkejut saat Mirai berkata begitu, karena ia tahu apa yang menyebabkan Mirai mengetahui ia sedang punya waktu luang saat itu: karena Mirai juga seorang mantan penyihir seperti dirinya. Tidak. Tidak tepat seperti dirinya. Meskipun Mirai sudah tidak menggunakan kemampuan sihirnya lagi, setidaknya sebelum ini, ia memang terlahir sebagai seorang penyihir. Hanya saja, ia memutuskan untuk tidak lagi menggunakan sihirnya sejak lama. Sama seperti para penyihir yang dulu melepaskan kekuatan sihir mereka dan kemudian membangun El Dorado dengan kemampuan fisik mereka sendiri.

"Mirai..."

"Kau hanya perlu waktu untuk memikirkan itu baik-baik," kata Mirai sambil berjalan ke pintu depan, "Jangan pergi ke rumahku yang dulu, karena sekarang aku tidak tinggal disana."

"Tapi Mirai, apa aku boleh tahu alamat rumahmu yang sekarang?"

"Tidak perlu. Aku kan hanya seminggu disini."

"Tapi..."

"Kau hanya perlu memikirkan perkataanku tadi, dan juga..." Mirai sempat berhenti bicara sampai akhirnya ia meneruskan kata-katanya, "melakukan semua yang harus kaulakukan seperti biasa. Jangan sampai ada seorangpun yang merasa kecewa karenamu."

"Baiklah, Mirai. Kalau menurutmu itu yang terbaik untukku, aku akan memikirkannya," sahut Doremi sambil tersenyum, "Terima kasih telah datang ke rumahku hari ini, dan juga, atas saran yang kauberikan padaku hari ini."

"Sama-sama."

Selama bertahun-tahun, Doremi memikirkan saran Mirai tersebut, sampai pada akhirnya, ingatannya tertuju kepada cita-cita masa lalunya yang sempat kandas di tengah jalan: menjadi pianis.

Karena itulah, akhirnya ia berusaha keras untuk menggapai cita-cita lamanya itu, dan kali ini, ia melakukannya atas kemauannya sendiri.

Dan pada akhirnya, ia berhasil...


Suatu hari, seorang tukang pos mendatangi rumah keluarga Harukaze untuk mengantarkan sepucuk surat dari Momoko di Amerika untuk Doremi. Karena saat itu Doremi sedang tidak berada di rumah, Poplah yang akhirnya menerima surat itu. Ia baru menyerahkan surat itu kepada Doremi saat kakaknya itu baru pulang dari Tokyo untuk tampil di sebuah resital.

"Bagaimana, onee-chan? Apa resitalnya lancar?" tanya Pop.

"Semua berjalan dengan baik. Aku sendiri bahkan tidak pernah menyangka akan semulus itu," jawab Doremi sambil tersenyum. Ia lalu mengambil surat dari Momoko yang diberikan oleh Pop, "Jadi... Momo-chan mengirimkan surat ini padaku?"

"Iya."

"Baiklah. Aku akan membacanya."

Doremi lalu bergegas ke kamarnya dengan membawa barang-barangnya, juga sepucuk surat dari Momoko tersebut. Di dalam kamarnya, ia membaca surat itu...

Doremi-chan, bagaimana kabarmu sekarang? Aku disini baik-baik saja.

Sejak setahun yang lalu, aku berhasil membuka toko kue impianku. Toko kue yang aku dedikasikan untuk mendiang Majomonroe, dan itu membuatku sangat senang. Kau pasti masih ingat kan, kalau hal itu sudah kuidam-idamkan sejak dulu. Aku sangat ingin sekali mewujudkan hal itu, dan sekarang, aku telah berhasil.

Hari ini aku teringat denganmu, juga Hazuki-chan, Ai-chan dan Onpu-chan. Karena itulah, aku sekarang mengirimkan surat ini untuk kalian. Aku ingin sekali tahu keadaan kalian sekarang. Apa sekarang kalian baik-baik saja? Dan... apa yang kalian kerjakan sekarang?

Jujur saja, aku sangat merindukan kalian. Awalnya aku ingin sekali berkunjung sebentar ke Misora untuk bertemu denganmu, tapi banyaknya pelanggan di toko kueku membuatku tidak bisa kemana-mana sekarang. Padahal, aku ingin sekali mengetahui apa yang kaukerjakan sekarang? Kau pasti sudah bekerja kan?

Tolong kaubalas suratku ini ya? Karena aku memang ingin sekali mengetahui keadaanmu, karena kau adalah sahabat terdekatku disana, di Jepang, dan aku akan selalu menganggapmu sebagai sahabat terbaikku.

Sincerely yours,

Asuka Momoko

"Momo-chan... aku juga merindukanmu disini," ujar Doremi setelah membaca surat itu, "Aku pasti akan membalas suratmu, walau kau tidak memintanya sekalipun."

Ia lalu menulis surat balasan untuk Momoko. Setelah itu, saat ia ingin menaruh surat Momoko dan surat balasan yang baru saja ia tulis di dalam laci mejanya, ia berpikir, 'Bagaimana keadaan yang lain ya? Kalau Hazuki-chan sih aku sudah tahu, tapi kalau Ai-chan dan Onpu-chan kan aku belum tahu. Aku terlalu sibuk latihan untuk resital selama ini, sampai-sampai aku tidak bisa menghubungi mereka...'

Kemudian ia tersenyum dan berkata, "Besok aku akan menelepon mereka."

.

The End

.


Catatan Author: Yey! Akhirnya fic ini selesai juga. ^^

Bagi yang nggak tahu, Mirai itu adalah seorang mantan penyihir yang pernah ditemui Doremi di Ojamajo Doremi Dokkan episode 40. Saat itu, ia sempat mengajari Doremi membuat gelas (tapi nggak mungkin kan, kalau saya bikin Doremi jadi pembuat gelas. Menurut saya dia lebih cocok jadi pianis ^^).

Nah, kira-kira... siapa ya, yang kehidupannya akan saya tulis berikutnya? Para reader pasti penasaran kan?

Tapi, sebelum saya kasih tahu tentang hal itu, saya mau mengingatkan lagi kalau mulai tanggal 1 Oktober kemarin, Indonesian Fanfiction Awards 2011 sudah memasuki bulan nominasi lho. Kalau para reader mau menominasikan fic atau author (tentunya yang berbahasa Indonesia untuk ficnya dan authornya juga dari Indonesia) yang menurut readers layak untuk menang tahun ini, jangan lupa untuk mampir ke profil saya, karena disana ada formulir nominasinya. Jangan lupa diisi ya? Yang punya facebook & twitter juga jangan lupa join di grup resmi IFA di FB juga follow IFA di twitter ya? Ditunggu lho partisipasinya.

Dan juga, kalau ada (garis bawahi kata 'kalau') dari para reader yang mau menominasikan Doremi's Life di IFA 2011, tak lupa juga saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Semua dukungan yang para reader berikan untuk fic ini sangat berharga sekali bagi saya untuk terus berkarya kedepannya.

Baik. Kali ini saya sudahi dulu sampai disini. Kritik dan saran tetap ditunggu di kotak review saya (yang masih kosong =_="). Ja ne!