What's Wrong With My Pretty BOSS ?
.
.
Rated : M
.
.
Disclaimer
Naruto : Masashi Kishimoto
HighSchoolDxD : Ichie Ishibumi
Warning : Typo bertebaran
.
.
Di sebuah bandara internasional tampak seorang wanita cantik berambut merah sedang berjalan menuju pintu keluar, ia baru saja mendarat dengan pesawat tujuan Amerika-Jepang.
Bola matanya yang terhalang oleh sebuah kacamata hitam tampak melirik dan mencoba mencari keberadaan orang yang akan menjemputnya, tak butuh waktu lama baginya mencari keberadaan orang tersebut karena rupanya sosok yang menjemputnya sudah berada sekitar sepuluh meter dari tempat ia berada.
Langkah kaki wanita tersebut makin cepat, rupanya orang yang menjemputnya juga melihat keberadaan si wanita sehingga membuatnya melemparkan senyum namun tak.
"Riaaaaasssss... akhirnya kau sampai juga" pria tersebut merentangkan tangan seolah ingin memeluk wanita yang ia sebut Rias.
"Hentikan, perlakuanmu itu sangat menjijikkan dan membuat kita dilihat banyak orang" Rias menolak pelukan yang ingin dilakukan oleh si pria yang tak lain merupakan kakaknya sendiri.
"Lebih baik bawakan saja koperku dan simpan di mobil, ayo !" dengan seenak jidat Rias menyerahkan koper berwarna silver miliknya ke genggaman tangan sang kakak, kemudian wanita tersebut lanjut pergi ke arah mobil kakaknya itu. Padahal dia tidak tahu apakah itu memang kendaraan yang dikemudikan oleh kakaknya atau bukan.
"Tahan dirimu Sirzechs Gremory... adikmu sifatnya memang seperti itu" pria itu menenangkan dirinya sebelum kemudian meletakkan koper tadi ke dalam bagasi mobil dan lanjut menaiki mobil yang lebih dulu sudah di isi oleh adiknya tadi.
Di perjalanan Sirzechs sama sekali tidak bisa mengobrol dengan wanita berambut merah itu, pasalnya ketika memulai percakapan pun dia hanya menjawab singkat seolah tak tertarik dan lebih memilih melihat keluar jendela mobil.
"Rias, kata tou-sama kau masuk kerjanya lusa saja. Dia ingin kau beristirahat sebentar" Sirzechs kembali mencoba adiknya berbicara.
"Aku tahu", dan lagi-lagi jawaban Rias yang sekenanya membuat Sirzechs gemas sendiri.
.
.
Suasana malam hari di kota yang terletak di negara maju memang tak ubahnya seperti sebuah surga dunia, dengan berbagai club malam ataupun tempat hiburan lainnya tersedia di sana untuk menemanimu semalaman suntuk bahkan sampai pagi menjelang. Walaupun hanya dengan minum-minum dan berdansa sembari mendengarkan alunan musik sudah menjadikan hiburan tersendiri bagi kaula muda.
Disana kau bisa melupakan rasa penat dan stres walaupun hanya sesaat sebelum keesokan paginya kembali menjalani kehidupan yang monoton dan menyebalkan.
Tampak di salah datu meja terdapat empat orang pria dewasa tengah menikmati gemerlapnya lampu serta alunan musik mengalun, keempat pria itu bisa dibilang memiliki paras rupawan dengan dua orang berambut hitam, satu berambut coklat dan yang terakhir berambut pirang.
.
"Kau serius datang ke pernikahan mantan pacarmu tadi siang ?" si pria berambut coklat menatap tak percaya pada pria pirang yang bercerita.
"Tentu saja, memangnya apa alasanku sampai tidak datang ?" si pirang yang bernama Naruto itu menimpali sambil meneguk gelas yang berisi minuman di depannya.
"Kalau jadi kau, aku tidak akan datang sama sekali. Dia berpacaran denganmu lebih dari setahun dan lebih memilih menikahi pria yang baru dia kenal cuma sebulan. Ini gila kawan" si rambut coklat menggelengkan kepala tak percaya sembari meminum minumannya juga.
"Itu karena Naruto lebih gentle daripada kau, Kiba" kali ini giliran si pria berambut hitam berpotongan seperti nanas yang berbicara.
"Masalahnya si pirang sahabat kita ini bukan pertama kali ditinggal menikah, Shikamaru" Kiba si rambut coklat menunjuk ke arah pria pirang di sampingnya.
Ketika teman-temannya yang lain saling berbicara namun pria yang satunya hanya diam saja dari tadi dan lebih memilih untuk menyimak saja dan tidak terlibat dalam obrolan.
"Mungkin dia mencari pria yang bisa memberikan kepastian atau yang bisa selalu ada untuknya. Bahkan untuk berpacaran saja aku tidak punya waktu kecuali di akhir pekan" Naruto menghela nafas.
"Kalau itu yang terjadi bagaimana kalau kau coba tinggal bersama dengan pacarmu ?, kau tahu kan Sasuke juga melakukan itu dan bahkan orang seperti Shikamaru saja menumpang hidup di apartemen Temari" kiba merangkul Naruto dan menjelaskan idenya sambil mengisi gelasnya dan Naruto yang kosong dengan menuangkan minuman beralkohol.
"Siapa yang kau maksud dengan menumpang hidup sialan ?, dan jika ingin memberi ide setidaknya kau harus pernah mengalaminya dulu" si rambut nanas tampak tak terima sudah disebut menumpang hidup.
"Tapi kau memang menumpang hidup kan ?" seru Kiba tak mau kalah.
Sesudah itu obrolan mereka tentang apa yang harus dilakukan Naruto kian berlanjut walaupun justru dari yang tadinya membahas kisah asmara si pirang sudah beralih menjadi acara saling hina dan menistakan hidup mereka.
.
.
Waktu berlalu kini terlihat Kiba sudah mulai mabuk, dengan wajah yang memerah ditambah mata yang sudah susah diajak melek membuatnya agak sempoyongan ketika duduk. Namun berbeda dengan Kiba justru ketiga pria lainnya masih tampak cukup bugar.
Shikamaru sudah menyalakan rokoknya untuk bisa sedikit menghilangkan rasa mabuk, sementara Sasuke masih sesekali menyesap gelas yang berisi miras nya sama seperti Naruto.
"Kapan kau akan berhenti bekerja ?" sebuah perkataan dari Sasuke sukses membuat Naruto melihat padanya, dalam diam pria itu sedikit menyeringai setelah dari tadi lebih banyak diam dan hanya menanggapi seperlunya kini berani membuka topik pembicaraan lebih dulu.
"Kenapa kau sering menanyakan itu akhir-akhir ini padaku ?" Naruto bersidekap dada dan menegakkan posisi duduknya.
"Dua bulan lalu kau bilang akan berhenti bekerja bukan ?, jika sudah berhenti maka aku akan merekrut mu untuk menjadi asistenku" Sasuke meletakkan kedua sikutnya di atas meja sedangkan tangannya berada di dagu.
Sebelum menjawab Naruto mengambil sebatang rokok milik Shikamaru dan pemantiknya yang tergeletak di atas meja, dia menyalakan rokok tersebut dan langsung dihisap dengan pelan untuk merasakan zat di dalamnya hingga asap memenuhi paru-parunya kemudian dihembuskan perlahan.
"Aku memang punya niatan berhenti hanya saja aku tak akan bekerja dengan tirani sepertimu, Sasuke. Lebih baik aku membuka bar atau restoran bahkan mungkin saja aku melanjutkan usaha perkebunan milik orang tuaku" Naruto sedikit menerawang ke arah atas sebelum kemudian dia mematikan rokok yang baru dia hisap beberapa kali tersebut.
Pria pirang itu mengenakan jaket yang sebelumnya ia taruh di tempat duduk dan segera berdiri, "Aku pulang dulu, dan untuk kalian berdua nanti bawa Kiba pulang ke apartemennya".
Naruto melihat ke arah Kiba yang sudah teler di tempatnya, mungkin pria penyuka anjing itu sufah kehilangan kesadaran. "Bawa dia pulang, jika besok aku melihat berita tentang seseorang yang dibuang di sungai maka itu pasti ulah kalian berdua".
Setelah itu Naruto segera pergi dari tempat tersebut menuju ke kediamannya yang tak terlalu jauh dari tempat itu.
.
.
Butuh sekitar 10 menit sampai Naruto tiba di kediamannya, sebuah apartemen sederhana dengan satu kamar tidur, satu kamar mandi, ruang tengah yang bersebelahan dengan dapur serta sebuah balkon yang langsung menghadap ke arah sungai.
Pria tampan tersebut berjalan mendekati lemari pendingin dan mengambil sebotol air minum yang langsung ia teguk sampai sisa setengahnya, dengan sambil menenteng botol dia pergi ke arah balkon dan duduk di kursi yang terletak di sana.
Dengan menikmati semilir angin serta melihat gemerlap lampu dari kapal ataupun perahu yang melewati sungai dia memejamkan matanya sejenak, otaknya berkelana kesana dan kemari. Merasa cukup bosan dia membuka ponselnya dan menjelajahi media sosial yang dia miliki.
Jari jemarinya terus menggeser beranda dan kemudian berhenti kala melihat sebuah foto yang di posting seseorang, tampak di foto tersebut ada seorang wanita cantik tengah menggendong bayi yang sangat lucu namun hal lain yang membuat Naruto mengeryitkan dahi adalah caption dari postingan tersebut.
"Bisa-bisanya dia menyindirku, tapi ngomong-ngomong aku sudah lama tidak menghubunginya..." usai berselancar di medsos Naruto segera mencari nomor dari orang yang ia maksud
Begitu tersambung dia tak bisa menyembunyikan wajah senang kala mendengar suara dari orang yang ia hubungi, obrolan mereka terus berlanjut cukup lama hingga akhirnya harus diakhiri karena si pirang harus bekerja besok.
.
.
Pagi hari pun menyapa mengganti malam yang baru saja terlewat, Uzumaki Naruto kini sudah berpakaian rapi dengan setelah jas dan celana panjangnya serta sepatu pantofel. Dia bersama orang-orang lainnya tampak menunggu di stasiun pemberhentian bus.
Bukan hanya orang-orang dewasa saja yang menunggu di sana tetapi ada juga siswa/siswi yang menggunakan bus untuk mereka gunakan pergi ke sekolah.
Sembari menunggu datangnya bus dia memutar lagu di sebuah aplikasi streaming dengan earphone wireless sebagai perantaranya. Kakinya sesekali menghentak mengikuti alunan nada sampai kemudian bus yang ditunggu-tunggu pun datang
Orang-orang dengan tertib segera memasuki bus dan mencari tempat duduk yang kosong begitupun dengan si pirang, namun ketika sampai di dalam dia tidak melihat ada satupun tempat duduk yang tersedia karena sudah diisi oleh orang lain. Dengan terpaksa dia harus berdiri bersama beberapa orang lainnya yang nasibnya sama seperti dia.
Usai melewati beberapa stasiun bus akhirnya Naruto tiba di tempatnya bekerja, sebuah kantor perusahaan yang terletak di sebuah gedung pencakar langit, dirinya melewati pintu masuk dan segera menuju lift. Begitu tiba di lantai 10 dia segera keluar dari lift dan lanjut berjalan ke departemen tempatnya bertugas namun sebelum masuk dia harus menempelkan id card miliknya supaya pintu dapat terbuka sekaligus tanda kehadiran.
Di dalam sana dia melihat sudah ada beberapa karyawan lainnya, ada sekitar enam orang dengan dua pria dan empat wanita. Ketika mereka melihat Naruto semuanya langsung menyapa sekaligus sedikit membungkuk pada si pirang.
Naruto kini duduk di kursinya yang terletak di samping ruangan karyawan lainnya, tempat duduknya terpisah oleh sebuah tembok kaca dan memiliki meja yang lebih panjang serta di atasnya terdapat tiga buah monitor komputer berbeda dengan yang lain, di meja mereka hanya terdapat satu monitor saja.
Pekerjaan hari itu akhirnya dimulai, para pekerja sibuk dengan job desk masing-masing. Sampai ketika jam menunjukkan pukul 09:30 Naruto bangkit dari tempat duduknya dan membawa beberapa kertas yang sudah di susun dan segera meninggalkan tempat tersebut.
Dia pergi ke ruangan lain yang masih terletak di lantai yang sama, di perjalanan ia berpapasan dengan seseorang berambut merah panjang.
"Wohoooo ada Uzumaki Naruto" pria berambut merah itu menyapa dengan nada yang menurut si pirang sangat menyebalkan.
"Hey Sir, sehabis rapat nanti ada yang ingin aku bicarakan di ruanganmu" bukannya membalas sapaan Naruto malah berbicara mengenai hal lain dan setelah itu langsung masuk ke dalam ruangan meninggalkan si rambut merah yang keheranan sebelum ia juga ikut masuk ke dalam.
.
.
Habis dari rapat kini Naruto dan pria bernama Sirzechs itu sudah berada di ruangan milik si rambut merah.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan kepadaku ?" Sirzechs duduk di kursinya dan menatap ke arah Naruto yang berdiri di hadapannya.
Naruto merogoh saku jas miliknya dan mengambil sebuah amplop kecil berwarna putih serta langsung meletakkannya di meja Sirzechs.
Pria berambut merah itu keheranan dengan amplop yang diletakkan si pirang, "apa maksudnya ini ?" dia mengambil amplop tersebut dan membukanya.
"Seperti yang kau lihat di sana, aku mengajukan surat pengunduran diriku" ucap Naruto dengan santai.
"Kenapa ?, apa kau sedang mabuk ?. Jangan bercanda bodoh" Sirzechs masih belum percaya apa yang dibilang oleh Naruto.
"Usiaku tahun ini akan menginjak 28 tahun, dan di usiaku sekarang kurasa sudah saatnya berfokus mencari wanita untuk dipacari dan dinikahi" jelas si pirang.
"Hanya itu alasanmu ?, kau masih tetap bisa berpacaran sewaktu bekerja bukan ?".
"Ibuku sudah sering menanyakan kapan aku menikah ditambah sepupuku juga sudah punya anak, aku bekerja padamu sudah hampir sepuluh tahun dari yang sebelumnya hanya lulusan SMA dan sekarang menjadi wakil dari divisi penjualan. Aku berterima kasih kepadamu yang sudah menerima anak remaja umur 18 tahun bekerja di sini tapi kurasa waktuku di sini sudah cukup" Naruto menjelaskan panjang lebar alasannya.
"Jika itu kemauanmu aku tidak bisa berkomentar apapun, tapi sebari menunggu surat pengunduran dirimu ini di proses aku ingin kau bertahan selama beberapa bulan lagi di sini. Mulai besok adikku akan bertugas di divisimu dan aku ingin kau membimbingnya supaya bisa bekerja dengan baik dan membantunya sebelum aku menemukan orang yang bisa menggantikan posisimu yang sangat sentral itu" Sirzechs menyimpan surat dari Naruto dan menyimpannya di dalam lemari.
"Terima kasih sebelumnya, aku undur diri dulu Sir" Naruto menunduk dan pergi keluar ruangan itu untuk kembali ke tempatnya semula.
Hari itu berjalan dengan lancar sampai dengan waktu pulang kerja, Naruto yang selesai pulang bekerja terlebih dahulu mampir di kedai pinggir jalan untuk membeli makan malam.
.
.
Rias Gremory merupakan anak bungsu dari pasangan Zeoticus Gremory dan Venelana Gremory. Seorang wanita cantik berusia 27 tahun dengan rambut merah panjangnya serta lekuk tubuh memukau, selain parasnya yang cantik dan menawan ia juga mempunyai otak yang bisa dibilang cerdas.
Dari SMP sampai SMA dia selalu masuk ke daftar jajaran murid yang memiliki nilai tertinggi walaupun semasa itu dia hanya bersekolah di sekolah khusus putri. Saat baru lulus SMA dia langsung di kirim ke Toronto untuk menempuh pendidikan di sana dan bekerja di perusahaan cabang milik keluarnya sampai barulah kemarin dia kembali pulang ke Jepang setelah bertahun-tahun di negeri orang.
Wanita cantik tersebut tampak keluar dari kamarnya dan berjalan pelan ke arah dapur tempat dimana kedua orang tuanya berada, sesampainya di sana ia langsung duduk dan menyapa kedua orang tuanya.
Sarapan pagi di keluarga tersebut tampak biasa-biasa saja seperti keluarga pada kebanyakan dengan sesekali diselingi obrolan kecil, ketika sudah selesai sarapan Sirzechs Gremory tampak datang ke rumah tersebut dengan sudah berpakaian rapi.
"Apa kau sudah siap Rias-chan" dia menanyai adiknya yang sedang memakai sepatu namun tak ada jawaban dari wanita cantik tersebut sampai akhirnya dia selesai mengenakan sepatu langsung saja kedua kakak beradik itu berpamitan sebelum berangkat ke tempat kerja.
.
.
Di dalam mobil Sirzechs terus menjelaskan apa-apa saja mengenai lingkungan kerja sang adik nanti, dia juga memberitahukan bahwa akan ada seseorang yang membantunya namun si wanita merah seakan acuh tak acuh dengan semua yang dari tadi kakaknya itu jelaskan.
"Oh iya satu hal lagi yang harus dicatat, saat di kantor nanti jangan bersikap kasar dan menyebalkan. Setidaknya bersikaplah seperti orang normal walaupun hanya untuk satu minggu" Sirzechs mewanti-wanti Rias namun memang selayaknya angin berlalu omongan pria itu tak digubris karena Rias lebih sibuk dengan dunianya sendiri.
.
Kedua kakak beradik itu sampai di gedung perusahaan setelah sebelumnya memarkirkan mobil yang mereka gunakan. Sepanjang jalan Rias terus memperhatikan suasana dan lokasi tempat kerjanya yang baru tersebut. Beberapa kali saat dia dan kakaknya berpapasan dengan orang mereka akan membungkuk hormat sembari beberapa dari mereka memperhatikan Rias yang memang baru mereka lihat.
Keduanya segera menaiki lift hingga tibalah di lantai 10, Sirzechs segera memandu Rias untuk memasuki ruangan di mana divisi pemasaran berada.
"Selamat pagi semuanya..." sapa si pria merah dengan riang yang sukses membuat para karyawan lain menoleh padanya.
"Selamat pagi Sirzechs-sama" sapa para karyawan dengan ramah namun ada yang mencuri perhatian mereka yaitu seorang wanita muda bersurai sama seperti atasan mereka.
"Oh semuanya perkenalkan ini adalah adikku Rias Gremory, mulai hari ini dia akan menjadi ketua dari departemen kalian" Sirzechs memperkenalkan si wanita merah yang berada di sampingnya pada para bawahannya itu. Orang-orang di sana bertepuk tangan dan menyambut Rias, mereka memang tahu bahwa akan ada orang baru yang menjabat sebagai kepala divisi mereka setelah yang sebelumnya tersandung masalah.
Mendapatkan sambutan hangat dari yang lain tak serta merta membuat Rias bersuara ataupun hanya untuk tersenyum, sebaliknya dia malah memasang wajah seakan tak peduli dengan semuanya dan lebih mengamati tempat yang akan dia tempati mulai hari ini.
"Oh iya, di mana Naruto ?" Sirzechs mencari keberadaan pria berambut pirang itu karena tak melihat keberadaannya di sana.
"Ada apa kau menanyakan keberadaanku ?" suara seorang pria terdengar dari arah belakang dua kakak beradik Gremory itu.
"Ahhhh ini dia, aku mencarimu karena kau tidak keliatan" Sirzechs berbalik dan melihat pria pirang yang sedang menggenggam secangkir kopi. "Kenalkan ini Rias adikku, Naruto. Dan Rias ini adalah orang yang akan membantumu dalam beradaptasi jadi aku harap kalian akur, kalau begitu aku pergi dulu" Sirzechs tersenyum dengan misterius kala dia bilang untuk akur.
Pria Gremory itu pergi dari tempat tersebut untuk ke tempat dimana ia harusnya berada.
Naruto dan Rias saling bertatapan satu sama lain, tak ada suara yang keluar dari bibir mereka dan seakan mereka terpaku satu sama lain.
.
.
.
TBC
