Minna-san...
Ogenki? hehe
maaf saya ngaret satu hari dari yg saya janjikan karena... ekhem... biasalah...
Nah, selamat menikmati fict Gaje nan abal ini ya...
ah ya, fict ini terinspirasi dari komik karangan seorang mangaka yg judulnya Kira's Labyrinth..
tapi hanya terinspirasi saja ya...
Ok minna
Happy reading... ^^
BOKUTACHI NO LABYRINTH
Pairing : Karin x hitsu
Warning : OOC, gaje , perusakan karakter dan bentuk tubuh mereka, Karin POV, misteri gak kerasa dll
Don't like? Don't read!
(ngikut para senpai akhirnya deh… hehe)
Semua terpana…
Semua langsung blushing pas liat dia, malah semua langsung ternganga karena terpesona pada orang ini…
Ternyata feromon orang ini ampuh banget!
Efek cowok yang seneng pake baju yang bernama Hitsugaya Fuyumi ini!
Aku mengeluh dalam hati melihat orang – orang pada meributkan teman sekamarku ini. Terlebih teman – temanku yang semeja denganku plus dirinya yang masih ternganga melihat 'kecantikan' teman sekamar yang baru ku ketahui adalah seorang cowok ini!
Keh… bahkan di asrama pun aku harus berurusan dengan cowok? Oh NO!
"Kirei…" puji Yuzu dengan pipi merona merah. Taruhan sekarang Yuzu akan jadi salah satu fans anak ini. Hitsugaya hanya tersenyum simpul dan menggumamkan terima kasih. Orang – orang yang ada di sekitar kami langsung ber'kya' ria melihat senyum palsunya.
Ya! Senyum palsu!
Karena aku tahu sifat aslinya! Dan juga jenis kelaminnya! Ukh… aku makin menggeram dalam hati, frustasi.
"Karin-chan, tidak mau memperkenalkannya kepada kami?" tanya Yachiru padaku. Ngapain aku kenalin? Omelku dalam hati tapi aku tetap melakukannya.
"Teman – teman, kenalkan, namanya Hitsugaya Fuyumi-san. Dia pindahan dari SMA GOTEI 13 di Soul society," ucapku memperkenalkan diri, sementara, si cowok banci ini menundukkan kepala sopan. Menambah poin plus di mata teman-temanku ini.
"Dan Hitsugaya-san," aku menekankan kata Hitsugaya-san disini, menahan kesal. "Mereka adalah teman-temanku," ucapku kemudian ke empat orang yang ada di hadapanku dan hitsugaya mengenalkan dirinya masing-masing.
"Unohana Yuzu desu. Yoroshiku," ucap Yuzu, cewek berambut coklat dan bermata coklat itu menundukan kepalanya yang dibalas oleh Hitsugaya juga.
"Kusajishi Yachiru desu," ucap cewek yang berambut soft pink dan yang paling pendek di antara kami, dia terkesan seperti anak- anak, padahal dia kelas dua, masih seniorku.
"Tatsuki Arisawa," ucap seorang cewek berambut hitam dengan gaya tomboinya.
"Dan aku adalah Inoue Orihime, Yoroshiku Fuyumi-chan," ucap Orhime-senpai, gadis berambut coklat dan berdada 'cihui' itu menundukkan kepala. Fuyumi ikut menundukan kepalanya juga.
"Yoroshiku onegaishimasu," ucapnya sopan, sangat sopan malah. Membuatku ingin mencekiknya. Kalian bertanya kenapa?
Itu Karena kesopanan yang ditunjukkannya palsu!
Singkat cerita, si cowok banci itu sudah mulai akrab dengan teman-temanku. Aku hanya mendengarkan percakapan mereka dengan malas.
"Akh, enaknya ya, Karin-chan punya teman sekamar yang cantik dan baik ini," keluh Yachiru. Enak? Enak apanya? Huh, aku tersiksa tahu! Ah… andai saja dia tak mengancamku semalam, sudah pasti akan kukatakan kepada semua orang bahwa dia itu adalah cowok!
"Memangnya, kenapa dengan teman sekamarmu?" tanya Hitsugaya sok perhatian. Yachiru hanya mendesah.
"Teman sekamarku itu ya…"
Belum sempat Yachiru menjelaskan, tiba-tiba dari arah beberapa meja di belakang kami terdengar suara keributan. Seorang cewek berambut hitam dan bermata violet tengah mengomel tak jelas kepada seseorang yang tengah memegang pipi kanannya yang memerah. Sepertinya cewek itu habis di tampar oleh cewek berambut hitam itu.
"Ya dia itu, Tukang cari ribut," lanjut Yachiru, sengaja dikeraskan sehingga cewek berambut hitam yang habis menampar cewek berambut pirang itu langsung mendelik dan mendekati meja kami. Aku mendesah. Alamat perang dunia ketiga kalau begini.
"Kau membicarakan aku, Kusajishi-san?" tanyanya dengan penuh penekanan. Yachiru hanya bertingkah malas.
"Kau merasa sebagai tukang cari ribut?" tanya Yachiru malas. Membuat Cewek berambut hitam yang bernama Kuchiki Rukia itu mengepalkan tangannya, menahan kesal. Lalu dia melipat kedua tangannya di atas dadanya.
"Tidak, tapi aku merasa kau membicarakanku, simpanan om-om!" ledeknya membuat Yachiru menggebrak mejanya. Mata dark pinknya berkilat marah.
"Siapa yang simpanan om-om?" tanyanya tajam. "Ken-chan dan aku hanya terpaut lima tahun dan itu masih wajar," ucapnya membela diri. Ya, Yachiru mempunyai pacar yang terlihat lebih tua sepuluh sampai dua puluh tahun darinya. Cowok dengan banyak luka di wajahnya yang merupakan ketua yakuza di daerah sini. Fuh… cewek yang sekilas lemah ini ternyata punya selera yang aneh.
"Kalau begitu bagaimana kalau Nyonya yakuza?" tanya Rukia dengan nada yang menyebalkan. Membuatku ingin sekali menonjoknya. Muka yachiru langsung merah padam.
"KAU!" baru saja Yachiru hendak menampar Rukia, tiba-tiba tangannya di cekal oleh dia.
Oleh orang yang paling kubenci saat ini.
Siapa lagi kalau bukan si Hitsugaya Fuyumi.
"Cukup Yachiru-senpai," ucapnya kemudian dia menatap Rukia tajam dan mendekatinya. Berbisik di telinganya yang membuat wajah rukia memucat.
"Bagaimana, Ru-ki-a-sen-pai?" ucap Hitsugaya sambil tersenyum menakutkan.
"Kau…." Belum sempat Rukia menjelaskan, wajahnya langsung memucat ketika melihat wajah dingin Hitsugaya yang menakutkan.
"Ayo teman-teman, sudah waktunya untuk berangkat ke sekolah," ucapnya sambil tersenyum….
OOOoooOOO
"Apa yang kau katakan pada Rukia-senpai?" tanyaku langsung sembari berjalan pulang ke asrama. Ukh, aku kesal, ternyata dia sekelas denganku, ditambah, dia duduk sebangku denganku! Kalau belum tahu dia adalah seorang lelaki, mungkin aku akan senang, tetapi, mengetahui kenyataan bahwa dia adalah lelaki, ditambah perlakuan dan ancamannya kepadaku membuatku dengan sangat sadar membencinya!
"Himitsu dayo!" ucapnya mendelik. Aku menggerutu.
"Ngomong – ngomong karin-san,"
"Hm?"
"Kau tahu siapa yang bunuh diri di taman belakang asrama?" tanyanya. Aku mendelik.
"Memang kenapa?" tanyaku.
"Sudahlah kau jawab saja pertanyaanku, atau…."
Kulihat tangan Hitsugaya mulai mengarah kepadaku, membuatku bergidik.
"Baiklah.. baiklah!" seruku mengetahui apa yang akan dia lakukan kepadaku. Wajahnya menunjukkan senyum kemenangan, membuatku sebal. Ukh….
"Yang ku tahu, perempuan. Tapi rumor itu tidak sekitar setahun yang lalu, waktu aku blum masuk sekolah ini, jadi ya aku tak tahu. Kenapa kau tidak menanyakan kepada Yachiru saja?" tanyaku. Hitsugaya hanya terdiam.
"Yachiru-senpai tidak tahu, bukankah kau bilang bahwa Yachiru-senpai itu pindahan?" tanyanya.
"Eh? Memang sih. Kalau begitu bagaimana kalau kita tanyakan kepada Orihime-senpai atau Tatsuki-senpai saja?" tanyaku. Tunggu. Kenapa aku jadi seperti membantunya sih?kita? aku terus merutuk dalam hati.
"Bagaimana kalau bertanya kepadaku?" tanya sebuah suara mengagetkan kami membuatku berbalik ke belakang dan terkejut. Hitsugaya langsung berbalik juga dan menampakkan wajah terkejut karena orang yang mengejutkan kami langsung memegang dahunya.
"Chizuru-senpai?" pekikku ketika mendapati seorang cewek berambut merah yang hendak menyerang Hitsugaya.
"Yo, Karin-chan, Fuyumi-chan," ucapnya kemudian pandangannya menatap telak ke arah mata Hitsugaya Fuyumi.
"Ku dengar kau bertanya tentang kasus bunuh diri kan?" tanyanya serius.
"Benar!" tegas Hitsugaya sembari menepis tangan Chizuru-senpai dari dagunya. Menatap tajam Chizuru-senpai yang menatapnya tak kalah tajam. Aku merinding.
"Kenapa kau menanyakannya?" ucap Chizuru-senpai, dingin. Belum pernah aku mendengar suara dingin dari Chizuru-senpai.
"Kakakku, meninggal setahun yang lalu, namanya Hinamori Momo," ucapnya membuat wajah Chizuru-senpai menegang. "Apa anda mengenalnya, Chizuru-senpai?" tanya Hitsugaya sopan namun mengerikan.
"Aku mengenalnya…"
Kali ini kulihat wajah hitsugaya yang menegang. "Kalau kau ingin tahu tentang kakakmu di sekolah dan asrama ini, malam ini, jam delapan malam. Temui aku sendirian, kau bisa tanya di mana kamarku kepada Karin-chan…." Ucapnya dingin. Hitsugaya Fuyumi memicingkan matanya. Curiga.
"Kenapa harus sendiri?" tanyanya dingin. Kulihat Chizuru-senpai menghembuskan nafasnya kemudian tersenyum dan kembali meraih dagu Hitsugaya yang memang lebih pendek darinya untuk menatap wajahnya…
"Siapa tahu setelah bercerita mengenai kakakmu kita bisa bersenang-senang kan?" ucapnya dengan nada menggoda sambil mengedipkan sebelah mata membuat Hitsugaya Fuyumi bergidik dan aku blushing.
"Jaa… Matane, Fu-yu-mi-chan…," ucapnya kemudian pergi dengan nada genit. Membuat aku dan Hitsugaya sweat drop.
"Apa dia memang begitu?" tanyanya padaku.
"Ya… beredar rumor bahwa Chizuru-senpai memang menyukai Orihime-senpai si…" ucapku membuat tubuh Hitsugaya menegang. "Tapi sayangnya Orihime-senpai lebih memilih Tatsuki-senpai," kataku lagi. Aku melirik wajahnya yang memucat membuatku tersenyum penuh kemenangan. Kemudian dengan nada yang dibuat-buat aku mendesah.
"Hah.. selamat bersenang-senang ya nanti malam, Hitsugaya-san…" ucapku kemudian melegang pergi. Tapi aku mengurungkan niatku ketika tas tanganku dipegang seseorang.
"Tolong… temani aku nanti malam…" ucapnya dengan nada memohon dan ketakutan. Huh! Rasakan!
"Ekhem… Baiklah, tapi kau berhutang padaku ya!" ucapku penuh kemenangan.
OOOoooOOO
Normal POV
Gadis berambut Hitam itu berjalan sembari menggigit kuku ibu jarinya. Kesal! Dia amat kesal dengan kejadian tadi pagi yang mempermalukannya. Kemudian, anak berambut silver itu telah mengetahui rahasianya. Apa yang harus dia lakukan?
Tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan ada mail yang masuk, dengan kesal, gadis berambut hitam dan bermata violet itu membuka ponselnya. Dan matanya membulat senang membaca mail itu.
"Hm…" gumamnya senang. Baguslah.
Kemudian dia segera bergegas pergi ke tempat si pengirim Mail….
OOOoooOOO
Skip time…
Tepat pukul delapan kurang lima belas malam aku dan Hitsugaya sedang berjalan di lorong yang menghubungkan kamar asramaku dan kamar asrama Chizuru-senpai yang ada di lantai dua. Sepi. Tentu saja, karena seluruh penghuni asrama sedang berada di ruang santai. Semua, mereka sedang menonton drama yang sudah menjadi seperti tontonan wajib mereka.
Aku dan Hitsugaya menaiki tangga dan kami langsung diberikan pandangan pintu kamar putih yang berjejer dan agak gelap karena hanya diterangi cahaya bulan yang masuk dari jendela beberapa meter dari pintu putih yang tingginya sama dengan tinggi pintu itu.
"Nah, kamar Chizuru-senpai yang ada papan putih itu," ucapku menunjuk kamar dengan papan putih yang menggantung di pintu.
"Dan kamar sebelum kamar Chizuru-senpai adalah Kamar Yachiru dan Rukia-senpai," jelasku, Hitsugaya hanya mengangguk mengerti. Sebelum kami mengetuk kamar chizuru-senpai, kami merasa tertarik dengan kamar Yachiru dan Rukia-senpai yang sedikit terbuka dan dari dalam aku melihat sinar lampu berwarna biru.
"Yachiru atau Rukia-senpai, sembarangan sekali, kenapa mereka tidak menutup pintu mereka sih?" protesku kemudian aku hendak menutup pintu ketika tiba-tiba pintu di dorong paksa oleh Hitsugaya yang langsung melesak masuk.
"Hei ap-" belum sempat aku protes mulutku sudah dibekap oleh tanganku sendiri, karena aku melihatnya…
Ya… aku melihatnya…
Ditengah-tengah ruangan yang penuh dengan bunga mawar, aku melihat wajah pucat Rukia-senpai yang tengah terbaring dengan kedua tangan yang diletakkan di perutnya. Tampak damai juga kesakitan…
Karena di keningnya ada noda darah yang sudah mengering.
"KYAA!"
Aku tak mampu untuk tidak berteriak…
OOOoooOOO
Normal POV
"Sssttt…" ucap Hitsugaya membuat Karin kembali membekap mulutnya sendiri agar dia tidak berteriak. Hitsugaya Fuyumi kemudian mendekati mayat senpai yang tadi sempat bikin keributan itu kemudian tangannya memegang denyut nadi salah satu tangan dari Rukia.
"Tak ada denyut nadi dan ketika melihat keadaanya sepertinya Rukia-senpai meninggal sekitar 3 jam yang lalu," tanya Hitsugaya membuat Karin bingung dan mendekatinya.
"Darimana kau…"
Belum sempat Karin mengucapkan kalimatnya, tiba-tiba Hitsugaya memeluknya dari belakang dan BUK!
Suara orang yang dipukul dan seseorang yang bertopi yang pergi dari kamar tersebut. Otak Karin langsung Blank. Terlebih ketika melihat Hitsugaya roboh di sampingnya. Membuat Karin segera mengguncang-guncang tubuhnya.
"Hitsugaya… Hitsugaya… Hei… bangun…!" ucap Karin sambil mengguncang-guncang tubuh teman sekamarnya yang meringis kesakitan. "Hei… jangan menakutiku…" ucapnya kalut. Samar-samar Hitsugaya berucap,
"Ce…pat…ca…ri…ban…tu…an.." ucapnya terpatah-patah kemudian tak bergerak. Membuat Karin makin panik. Dengan gemetar, dia segera melangkah keluar kamar.
"Tu…tunggu aku," ucapnya kemudian berlari meninggalkan Hitsugaya menuju ruang santai.
"Harus cepat… harus cari bantuan…." Ucapnya berulang kali dalam hati sambil mempercepat langkahnya, tanpa menyadari bahwa sang pelaku pembunuhan Rukia, tengah mengintainya, setelah Karin tidak terlihat lagi, pelaku itu tersenyum, kemudian mendekati sesosok gadi berambut putih yang tengah terbaring di dekat korbannya dengan senyum yang mengerikan…
TBC
Aih…. Apa-apaan fict GaJe ini?
Akh… Garing! Garing!
Maafkan saya minna-san.. udah ngaret dan sepertinya tidak menarik…
Hah… semoga chapter ini gak terlalu mengecewakan, chapter selanjutnya aku usahakan lebih seru, maaf ya,… aku belum pengalaman bikin fict misteri… hehe
Apakah para readers tahu siapa si pelaku itu? Akan saya beri pelukan selamat jika ada yang tahu siapa pelakunya…
Penasaran?
Silahkan review?
