Konnichiwa Minna-san... Fuyumi disini...

Baiklah... Bokutachi no labyrinth akhirnya Update.. penasaran? penasaran?

Ok deh... kita bales reviewnya dulu..

Shiroku Youichi : hehehe makasih... makasih... udah di review... penasaran? ayo tebak...aku kasih hint yang banyak deh di chapter ini... *evil smile* nih dah update

Yachiru Kuroi : hehehe.. no comment... silakan baca lanjutannya ya... hehe

Divinne Oxalyth : Hm... gimana ya? hehe nih dah update... ^^

dan makasih ya, buat para readers yang follow bahkan jadiin ini favorite story.. Love you...

Ok deh...

Happy reading... ^v^


BOKUTACHI NO LABYRINTH

.

.

Disclaimer : Bleach is Tite Kubo'mine

Kira's Labyrinth by Obayashi Miyuki

.

.

Pairing : Karin x hitsu

.

.

Warning : OOC, gaje , perusakan karakter dan bentuk tubuh mereka, Karin POV, misteri gak kerasa dll

Don't like? Don't read!

(ngikut para senpai akhirnya deh… hehe)


Normal POV

Ruang santai…

"Apa?"

Teriak Yuzu kaget. Mulutnya yang menganga (untungnya) dibekap oleh tangannya sendiri. Matanya terbelalak tak percaya. Benarkah apa yang didengarnya dari mulut Karin?

"Kau tidak sedang bercanda kan?" selidik Tatsuki. Karin menggeleng. Wajahnya pucat pasi, tangannya gemetar, nafasnya tersengal karena habis berlari. Perlu waktu tiga menit untuknya sampai ke ruang santai yang berada di lantai satu dari lantai dua.

Orihime Inoue memegang lengan Tatsuki erat. Lima orang di belakang mereka saling berbisik gaduh.

"Kita kesana," ucap Tatsuki akhirnya.

OOOoooOOO

Lantai dua TKP….

Setiba di lantai dua, Karin tersentak ketika mendapati teman sekamarnya terbaring di lorong depan kamar dia melihat mayat senpainya itu. Kemudian dia, bserta enam orang yang tadi ditemuinya di ruang santai segera berlari mendekati Hitsugaya yang terbaring di pangkuan Yachiru yang menundukkan kepalanya menatap Hitsugaya dengan tatapan cemas.

"Yachiru!"

Panggilan itu membuat Yachiru menatap ke arah mereka berenam dengan wajah luar biasa cemas.

"Karin-chan… aku tak tahu apa yang terjadi tetapi ketika aku ke sini fuyumi-chan sudah…" kedua mata darkpink miliknya mulai berkaca-kaca karena orang yang ada di pangkuannya tidak juga sadar. Karin diam membisu. Ketegangannya melumpuhkan semua yang ada di dirinya. Rasa bersalah menjalar begitu cepat memenuhi hatinya.

Ukh…

Tiba-tiba suara erangan terdengar. Membuat semua mata menatap ke arah terdengarnya erangan dengan mata penuh harap….

End of Normal POV

OOOoooOOO

Hitsugaya POV

Kepalaku terasa berat dan kepala belakangku terasa sakit. Aku membuka mata emeraldku. Kabur yang pertama kali kulihat namun perlahan pandanganku semakin jelas dan fokus. Ku paksakan diriku untuk bangun.

"Hitsugaya, Kau baik-baik saja?" sebuah suara disusul wajah Karin-san ada tepat di depanku. Wajahnya menampakkan kekhawatiran.

"Ya, aku tak apa," ucapku singkat kemudian pandanganku beralih ke lorong.

Lorong?

Seingatku, aku dipukul dari belakang itu di kamar tempat aku menemukan mayat Kuchiki-senpai. Tapi kenapa aku ada di lorong? Hal yang aneh… siapa yang memindahkannya?

Meski agak sakit, aku langsung bangkit dan segera membuka pintu kamar Kuchiki-senpai dan Yachiru-senpai dan aku terkejut melihat pemandangan lain yang ada di kamar itu….

Ruangan itu telah kosong…

End of Hitsugaya POV

OOOoooOOO

Aku tak percaya pada apa yang kulihat. Ruangan itu kosong?

Ya… ruangan itu kosong melompong…

Maksudku, di kamar itu tidak dihiasi oleh bunga lagi…

Tak ada lagi cahaya biru yang entah berasal dari mana….

Bahkan mayat Rukia-senpai tak ada…

Yang ada di kamar itu hanyalah satu meja kotatsu yang disimpan di tengah ruangan dan sebuah lemari penyimpanan futon dan lemari pakaian.

Hening menyergap kami. Hitsugaya terpaku di depan kami. Kemudian…

"Ya ampun, kita tertipu," ucap Yuzu dengan tertawa membuat semua yang ada di sana ikutan tertawa.

"Akting kalian beneran T.O.P deh…" sahut Orihime-senpai merasa tertipu.

Yachiru yang tidak tahu ada kejadian apa langsung bertanya pada Tatsuki, setelah dijelaskan secara singkat, Yachiru langsung mengembungkan pipi tembemnya, ngambek.

"Ma… ini bukan april mop tahu! Kalian sungguh keterlaluan!" omel Yachiru tidak terima karena kamar asramanya di jadikan 'korban' dari 'keisengan' kami. Itu kalau kami memang iseng…

Tapi, tidak kan? Aku jelas tidak sedang mengisengi Yachiru.

"Ta…Tapi…" aku tergagap. Kejadian tadi terasa nyata. Ketakutan tadi juga masih bisa kurasakan. Masa sih yang tadi itu khayalan 'berjamaah' kami? Tapi… apakah mungkin bunga yang bertebaran, manusia yang terbujur kaku karena kehilangan nyawanya dan cahaya biru itu bisa hilang hanya dalam waktu enam menit?

"Terutama Kau Fuyumi-chan! Kau membuatku cemas tahu!" omel Yachiru lagi. Namun cewek … akh, maksudku, sosok berambut silver itu tidak menjawab, tidak berkata apapun. Dia malah dengan sangat 'sopan'nya mulai masuk ke kamar Yachiru, memeriksa setiap sudut ruangan di kamar itu, bahkan Hitsugaya membuka Lemari penyimpanan dan lemari pakaian. Membuat kami protes keras padanya namun tidak didengarkan.

"Ada apa ini? Kenapa kalian berkumpul dan ribut-ribut di kamar kusajishi?" tanya sebuah suara. Membuat kami segera menoleh dan menghentikan kegiatan menggeledah seorang Hitsugaya Fuyumi.

"Ano.. Chizuru-senpai…," yuzu kemudian menceritakan mengenai penemuan kami kepada senpai sekaligus ketua asrama di asrama ini. Chizuru yang membawa termos di tangan kanannya hanya mengangguk-anggukan kepala. Dia tampak berfikir keras.

"Begini saja…" ucapnya "Sekarang kita tunggu saja Kuchiki-san pulang. Mungkin dia sedang ada urusan. Nah sudah hampir jam sembilan malam, lebih baik kalian kembali ke kamar sebelum Matsumoto Rangiku-sensei mengecek kamar kalian satu persatu." Ucap Chizuru-senpai tegas membuat kami (meski tidak rela) membubarkan diri dari barisan(?) sambil berkasak-kusuk hingga hanya tersisa aku, Hitsugaya, Yachiru dan Chizuru-senpai.

"Akh, Fuyumi-chan, gomen, bisa kita bicarakan mengenai kakakmu nanti?" ucap Chizuru-senpai padanya. Hitsugaya hanya mengangguk. Kemudian membiarkan Chizuru-senpai pergi.

OOOoooOOO

"Jadi, saat kau tiba, kau sudah menemukanku bersama Yachiru-senpai di luar kamar Yachiru-senpai?" tanya Hitsugaya sembari memakai piyama biru bermotif snow flakenya. Aku mengangguk sembari menatapnya. Sampai detik ini, aku masih tak percaya bahwa orang berwajah cantik berambut silver panjang itu adalah seorang cowok! Rambut panjangnya itu adalah wig. Aku menghela nafas berat.

"Aneh," ucap Hitsugaya menarik minatku.

"Apanya?" tanyaku penasaran. "Tentang kau yang ada di luar ya?" tanyaku memastikan. Hitsugaya hanya mengangguk.

"Kau benar tidak membawaku keluar dulu?" tanyanya memastikan.

"Kau pikir dalam keadaan panik tersbut aku masih bisa membawamu keluar?" tanyaku balik. Hitsugaya hanya menghela nafas berat.

"Ini hal yang aneh. Pertama, kenapa saat dia berhasil memukulku, pelaku malah pergi kabur dan membiarkanmu pergi. Kedua, kenapa pelaku yang sudah kabur, harus susah payah menarikku keluar dari tempat mayat yang menghilang itu?" tanyanya, tapi bukan padaku, lebih tepatnya pada dirinya sendiri. Aku hanya menggeleng tak mengerti, tetapi otakku ikut memikirkan kata-kata Hitsugaya. Benar juga ya? Biasanya seorang pelaku tidak akan membiarkan seorang pun yang melihat dia masih di TKP untuk kabur. Lazimnya, mereka akan memukul kita sampai mati mungkin? Benar kan? Ya… kecuali jika….

"Ukh"

Suara erangan dari Hitsugaya membuyarkan segala pemikiran dan dugaanku menghilang. Kulihat Hitsugaya memegang bagian belakang kepalanya.

"Kau tak apa?" tanyaku khawatir melihat wajahnya yang meringis. Hitsugaya hanya ber "hn" dan meringis saja. Aku segera beranjak dari futonku untuk mengambil kotak obat di lemari.

"Lepas wigmu, bahaya jika kepala belakangmu yang kena!" perintahku. Hitsugaya melepas wignya kemudian dengan inisiatif sendiri aku menempatkan diriku di belakangnya, mengobati belakang kepalanya yang agak memar.

Hening….

"Karin-san!" panggil Hitsugaya.

"Hm…?"

"Kau…."

"Ya?"

"Apa anti cowokmu sudah sembuh?"

"…."

Badanku seketika menolak untuk bergerak. Mukaku terasa panas.

"EEEHHH?"

Dan dengan kecepatan sepersekian detik aku langsung menjauhinya sampai ke pojok ruangan. Melihat hal itu Hitsugaya hanya bisa sweatdrop lalu mendecih. Diambilnya kapas yang sudah ditetesi alkohol kemudian dia mengambil cermin kecil dan mulai mengobati sendiri belakang kepalanya meski dengan susah payah…

OOOoooOOO

Hitsugaya POV

Aku membuka mataku ketika menyadari pergerakan dari teman sekamarku yang beringsut menjauhiku dan keluar dari kamar. Aku Cuma bisa sweatdrop. Ya ampun… sepertinya penyakit anti cowoknya parah. Ditambah terlepas dari aku yang cowok apa bukan, sepertinya dia membenciku karena perbuatan yang aku lakukan kemarin malam saat dia tidak sengaja memergokiku di kamar mandi.

Kemarin malam ….

Pesh!

Mukaku pasti sudah sangat merah sekarang karena memoriku langsung menampilkan kejadian memalukan itu. Sumpah! Entah kenapa aku melakukan itu padanya, itu terjadi begitu saja dan aku tak tahu kalau aku melakukan hal nekat itu!

Akh… Aku hanya bisa teriak Frustasi.

Cklek! (?)

Pintu terbuka kemudian menutup kembali. Kudengar suara langkah yang mendekatiku. Dia sudah kembali. Aku segera menutup mataku.

"Ano… Hitsugaya, aku membawakan es untuk mengompres lukamu."

Jeda beberapa saat.

"I…itu saja! Oyasumi!" ucapnya lagi. Aku membuka kembali mataku dan segera bangkit dari tidurku dan menoleh ke arah samping tempat dia tidur. Dia tidur membelakangiku. Di sebelah wig silverku, kudapati sekantong es disana. Aku mengambilnya kemudian tersenyum lembut.

"Arigatou…," ucapku lembut….

End of Hitsugaya POV

OOOoooOOO

"Arigatou…."

Nadanya yang lembut saat mengatakan itu membuat hatiku entah kenapa berdebar-debar. Ada rasa baru yang langsung mengisi hatiku. Aku tersenyum tanpa sadar. Wajahku panas. Kupastikan wajahku kini semerah buah tomat. Ya Tuhan… aku hanya berharap dia tidak mendengar debaran jantungku….

OOOoooOOO

Aku mengerjap-ngerjapkan mataku, kemudian aku terbangun sembari meregangkan tubuhku dan menguap. Aku melirik ke arah sampingku. Hitsugaya tengah tertidur lelap di sampingku tanpa wignya. Aku memperhatikannya. Meski dengan rambutnya yang terkesan melawan gravitasi itu, wajahnya terlalu manis untuk seorang wajah. Apalagi kalau dia menggunakan wig panjangnya. Perpaduan manis dan cantik ada di wajah itu. Di tambah kesan murah senyum (palsu) dan terkadang sifatnya yang agak cool. Suaranya juga masih tinggi. Sepertinya dia belum mengalami perubahan suara.

Eh? Memangnya usianya berapa saat ini?

Ya sudahlah… yang jelas aku harus memanfaatkan kesempatan ini untuk berganti pakaian. Selagi dia tidur.

"Ukh… aku berharap dia bangun kesiangan dan terlambat pergi ke sekolah dan dia akan dihukum piket… lumayan jadi hiburan untukku," ucapku pelan sembari membuka kancing pada piyama putih bermotif bulatan-bulatan merah.

"Jahat sekali kau ya… padahal aku sudah berpura-pura belum bangun untuk memberimu kesempatan berganti pakaian," ucap sebuah suara di belakangku, membuat wajahku pucat. Kugerakkan perlahan kepalaku dan mendapati dia dengan senyum imut yang amat menyebalkan menatapku dengan kedua tangan menyangga dagunya.

"Kau… Lihat?" tanyaku gugup. Senyumnya makin melebar.

"Menurutmu?" tanyanya membuat satu urat kemarahan muncul di pelipisku. "Ya…" kemudian senyum imut yang amat memuakkan itu berganti dengan cepat menjadi wajah aslinya, datar dan dingin. "Aku tidak berminat pada dada rata dan dalaman yang tidak seksi," ucapnya sedatar wajahnya sekarang.

Jleb!

Tuit!

Beraninya dia ….

"Lagipula…"dia menoleh ke arah ku dan Wajahnya langsung menatapku horror. Karena saat ini, entah kekuatan dari mana asalnya, dengan mata membara dan tangan terangkat membawa sesuatu yang siap di banting ke arah cowok kurang ajar yang di malam pertamanya disini berani melakukan hal itu padaku….

"I…itu… kotatsu…." Belum sempat dia berkata kata terakhirnya di dunia ini (lebay mode) aku sudah terlanjur membanting sesuatu yang ada di tanganku dengan kekuatan penuhku dengan kata terakhir,

"MATI KAU!"

OOOoooOOO

"Barbar!" umpatnya saat kami tengah berjalan beriringan menuju ke kantin. Aku pura-pura tak mendengar. Kulirik dia yang kini dalam penampilan favoritenya, baju cewek.

Hm… Kalau dipikir-pikir hanya dalam waktu lima menit, dia bisa berubah menjadi secantik ini… pertama, dia menggunakan bra dengan busa, kemudian menggunakan wignya, memakai bedak kemudian menggunakan sedikit lipglos dan.. pow! Si pangeran dingin langsung chara change menjadi sesosok bak putri murah senyum.

Huh!

"Karin-chan… Fuyumi-chan…," panggil seseorang berambut coklat panjang dengan berlari tergesa-gesa. "Hah… Ma… mayat Rukia-chan sudah ditemukan…" ucapan itu membuat aku dan Hitsugaya membelalakan mata.

"Di mana?" tanyaku.

"Di… di… taman belakang…,"

OOOoooOOO

Police line terbentang di sekeliling taman. Suara blitz kamera terdengar. Kemudian sebuah gambar yang dilukis dengan kapur putih menandakan bahwa korban ditemukan di tempat itu.

Kemudian di salah satu di tempat itu aku sedang berhadapan dengan dua orang inspektur kepolisian. Yang satu berambut hitam yang satu lagi berambut putih panjang. Kyosaku-san dan Ukitake-san.

"Jadi… kau menemukan mayat itu di kamar yang bertabur bunga, namun setelah enam menit di tinggal tiba-tiba bunga dan mayat itu menghilang, benar?" kata inspektur berambut Putih, Ukitake-san. Aku mengangguk.

"Bunga itu adalah flower act yang baru-baru ini dicuri," ucap kyouraku-san. Ukitake-san hanya mengangguk-angguk. "Baiklah, anak manis, kau boleh pergi," ucap Kyouraku-san padaku. Aku mengangguk tapi Hitsugaya tidak. Dia terlalu fokus dalam pikirannya sendiri.

OOOoooOOO

Hitsugaya POV

Seperti di dalam sebuah labirin ketika aku berhadapan dengan kasus ini. Aku tak habis pikir bagaimana bisa mayat itu menghilang? Trik apa yang ada dalam kasus ini.

"Hitsugaya… Hitsugaya!" ucap seseorang membuatku tersentak. Aku mendapati wajah Karin yang bingung.

"Kau mau kemana? Kamar kita yang ini…." Tunjuknya kepada sebuah pintu kamar yang ada tepat di hadapannya.

"Eh? Ah maaf…" ucapku agak linglung.

"Tak apa… aku juga kalau malam sering salah. Habis, pintu ini tidak bernomor sih…" ucapnya membuatku langsung tersentak.

Tidak bernomor?

Segera saja kilasan balik itu menyapa memoriku. Dengan segera aku pergi ke lantai dua, TKP sebenarnya, kemudian saat di depan Kamar Yachiru-senpai, aku memperhatikan pintu kamar. Kemudian aku beralih ke pintu kamar Chizuru-senpai dan ke kamar sebelah kamar chizuru-senpai. Dan… Ah… ada!

Aku tersenyum.

Ya ampun… ternyata pintu keluar dari labirin kasus ini begitu mudah.

"Hah.. hah… kenapa kau tiba-tiba lari sih?" suara Karin membuatku berbalik. Kulihat dia kelelahan di belakang kamarku. Aku menatapnya tajam.

"Karin-san, tolong kau panggil semua orang yang ada di asrama ini beserta Kyouraku-san dan Ukitake-san."

"eh?"

"Aku sudah tahu siapa pelaku dan trik pembunuhan ini," ucapnya sambil tersenyum yakin.

End of Hitsugaya POV

OOOoooOOO

Suasana cukup riuh di sekitar kamar Yachiru. Aku menatap Hitsugaya yang tengah ditatap oleh dua orang inspektur polisi itu.

"Hoh… benar kau tahu siapa pembunuhnya?" tanya Kyouraku dengan nada meremehkan. Hitsugaya hanya mengangguk pasti. "Menarik, buktikan!" ucapnya menantang.

"Baiklah… tapi sebelumnya perkenalkan, namaku, Hitsugaya Fuyumi, salam kenal," ucapnya dengan mengedipkan sebelah matanya dan senyum yang mempesona membuat dua orang dari kepolisian itu langsung bersemu merah.

Tidak… bukan hanya inspektur polisi itu saja yang merona..

Tetapi sepuluh orang yang ada di sana langsung memerah wajahnya sembari ber"KYAA!" ria, malah ada yang sampai nosebleed.

"Baiklah… sebenarnya sih, aku menunggu sampai kau menyerahkan dirimu sendiri sebelum aku membongkarnya," ucapnya dingin.

Eh? Kau?

"Yang membunuh Kuchiki Rukia-senpai adalah Kau kan?" ucapnya sambil memandang dingin ke seseorang yang ada di kerumunan itu. Kami semua memandang orang itu dan terkejut.

EH?

TBC

Ayo loh... Udah tahu siapa pelakunya? aku udah kasih banyak hint dan petunjuk lho... hohohohoho

Triknya juga pasti udah tahu kan? *evil smile*

ayo review... kira-kira siapa pelaku dan Triknya ya... chap selanjutnya adalah pembahasan mengenai trik dan pelakunya! ^u^


R

E

V

I

E

W

?