BOKUTACHI NO LABYRINTH

.

.

Disclaimer : Bleach is Tite Kubo'mine

Kira's Labyrinth by Obayashi Miyuki

.

.

Pairing : Karin x hitsu

.

.

Warning : OOC, gaje , perusakan karakter dan bentuk tubuh mereka, Karin POV, misteri gak kerasa dll

Don't like? Don't read!

(ngikut para senpai akhirnya deh… hehe)


Eh?

Benarkah? Benarkah dia yang membunuh Kuchiki-senpai?

Jangankan aku, sepuluh orang yang ada di tempat ini langsung menyerukan tanda protes dan tidak percaya. Orihime-senpai hanya menutup mulutnya yang terbuka, Tatsuki-senpai merangkul Orihime-senpai, Yuzu hanya menatap kejadian itu dengan pandangan yang tak bisa ku mengerti.

Sosok yang ditatap Hitsugaya menyeringai. Mata ungunya yang dibingkai kaca mata berbingkai merah menatap tajam Hitsugaya, menentangnya.

"Kau kan yang membunuh Kuchiki-senpai, Chizuru-senpai!"

Pernyataan itu langsung menambah suara protes anak-anak. Yachiru yang ada di sebelah Chizuru-senpai menghela nafas. Dikiranya dia yang dituduh sebagai pelakunya. Chizuru-senpai, tersenyum meremehkan. Dia membenarkan kacamatanya kemudian menyibakkan rambut merah sebahunya dengan anggun.

"Menarik, katakan padaku bagaimana caranya aku membunuh Kuchiki-san," tantangnya. Membuat kedua ujung bibir Hitsugaya tertarik ke atas membentuk sebuah senyum kemenangan.

"Baiklah," ucapnya dengan yakin.


OOOoooOOO


Normal POV

Kyouraku bersiul kecil, partnernya menautkan kedua alisnya. Suasana dingin dan tegang terasa dari kedua gadis berambut berlawan arah itu. Yang satu berambut putih dan yang satu berambut merah.

"Oi, Ukitake, menurutmu analisanya benar?" Tanya Kyouraku sambil memegang topi lebarnya. Ukitake hanya mengedikkan bahu. Untuk saat ini lebih baik mendengar tebakan dari gadis yang sok jadi detective itu.

"Bisa saya mulai penjelasan saya?" Tanya Hitsugaya Fuyumi mendapati suasana yang masih riuh di sekelilingnya.

"Silahkan," ucap Chizuru sambil melipat kedua tangannya. Yang lain langsung diam dan mendengarkan.

"Baiklah… Pertama, kau merencanakan pembunuhan terhadap Kuchiki-senpai saat kau mendengar bahwa kemarin pagi Kuchiki-senpai dan Yachiru-senpai bertengkar hebat di kantin. Menurut perkiraanku, dari kekakuan mayatnya, kau membunuh Kuchiki-senpai…" Hitsugaya tampak berfikir. "Kemarin siang, benarkan?"

Tepat! Batin kedua polisi itu sembari melihat catatan kepolisiannya.

"Kemudian kau menyembunyikan mayat Kuchiki-senpai, menghias kamar dengan flower art dan sinar biru dari cellphonemu agar aku yang kau undang ke kamarmu tertarik dan melihat ke tempat mayat itu kan?"

"Tapi Fuyumi-chan, kalau benar Chizuru-senpai yang membunuh Rukia, bagaimana caranya dia memindahkan mayat dan menghias kamarku dengan flower art sementara aku selama seharian ini ada di kamarku dan baru keluar ketika malam saat ada film di ruang santai," ungkap Yachiru.

"Tapi lain ceritanya kalau Kusajishi-senpai yang membunuh Kuchiki-senpai," celetuk salah seorang siswi, membuat muka Yachiru memerah menahan kesal. Hitsugaya berdehem, membuat semua orang menatapnya.

"Justru itu, mayat yang kami liat bukan berada di kamar Yachiru-senpai,"

"Eh?"

"Tapi, Hitsugaya, kita jelas-jelas melihat mayat itu di kamar Yachiru," ucap Karin. Hitsugaya menatapnya sekilas.

"Karin, apa ciri kamar Chizuru-senpai?" Tanya Hitsugaya membuat Karin ber 'eh' ria dan berfikir.

"Ciri kamar Yachiru-senpai adalah kamar yang ada papan di pintunya,"

Ah! Seketika Kyouraku dan Ukitake tersadar. Benar, jika melakukan trik itu pelakunya memang Honsou Chizuru.

"Benar. Tapi bagaimana jika papan itu dipindahkan ke kamar yang lain?" Tanya Hitsugaya membuat semua langsung be "Ah" ria. Kemudian Hitsugaya melanjutkan, "Benar, Chizuru-senpai memindahkan papannya ke kamar sebelahnya, jadi ruangan yang sebenarnya kita lihat adalah kamar Chizuru-senpai, bukan kamar Yachiru-senpai," ucap Hitsugaya.

"Kau membunuh Kuchiki-senpai di kamarmu, kemudian kau menghias kamarmu dengan Flower art untuk menutupi detail-detail kamar sehingga kami menganggap mayat yang kami temukan ada di kamar Yachiru-senpai. Kemudian, kau membuka sedikit kamarmu dan menyalakan lampu dari cellphone untuk menarik perhatian kami, ah maksudku perhatianku. Karena yang kau harapkan datang adalah aku sendiri bukannya berdua kan?" Tanya Hitsugaya menyeringai. Chizuru menggigit bibirnya, peluh sedikit terlihat dari pelipisnya namun dia masih bersikap tenang.

"Kenapa harus sendiri?" Tanya Karin tak mengerti.

"Karena jika berdua, maka akan ada pembagian tugas kan? Seorang akan menjaga mayat dan seorang lagi akan memanggil bantuan. Dan trikmu akan langsung ketahuan," ucap Hitsugaya menjelaskan. "Maka, kau harus membuat salah satu dari mereka pingsan untuk mengusir yang seorang lagi. Kemudian kau menarikku keluar dari kamar. Menempatkan papan putih itu ke tempat asalnya dan kau pergi ke dapur dari tangga yang lain, benarkan?"

Hening. Tak ada yang bersuara. Mereka masih mencerna setiap penjelasan yang diucapkan oleh Hitsugaya Fuyumi. Chizuru tampak kehabisan akal untuk mengelak. Terbukti dari badannya yang gemetar dan kuku ibu jari yang digigit-gigit kecil olehnya.

"Bu-buktinya?" Tanya Chizuru pada Hitsugaya.

"Buktinya tertinggal jelas di kamarmu kan?" Tanya Ukitake akhirnya buka suara. "Jika Kau membunuhnya di kamarmu, maka pasti ada bercak darah yang tertinggal. Dan asal kau tahu, bercak darah itu tak akan hilang sampai setahun ke depan," ucap Ukitake sambil menatap tajam Chizuru. Chizuru terdiam beberapa saat kemudian dia terkekeh putus asa.

"Hah… benar, aku yang membunuh Kuchiki Rukia itu, aku yang membunuhnya." Ucap Chizuru terdengar putus asa.

"Kenapa kau lakukan itu Chizuru-chan?" Tanya Orihime hampir menangis. Chizuru hanya tersenyum sinis.

"Aku punya pacar,"

"Eh?"

"Ya… Aku punya pacar di kota sebelah. Tapi karena kami jarang bertemu, hubungan kami jadi tak pasti. Aku kira aku dan Keigo sudah putus. Tapi akhir desember lalu, Keigo datang ke asrama ini dengan menggunakan kereta jam terakhir…" wajah Chizuru melembut.

"Dia bilang meski hubungan kami merupakan hubungan jarak jauh, tapi dia tetap ingin bersamaku. Aku tersentuh. Lalu karena tak tega, aku melanggar peraturan asrama dan memasukkan dia ke kamarku. Saat itu, aku bersyukur Karena sebagai kepala asrama, aku mendapatkan kamar sendiri sehingga aku bisa membawa masuk Keigo tanpa ketahuan siapapun…" ucapnya. Kemudian wajah Chizuru mengeras. "Tapi Kuchiki Rukia mengetahuinya…"

Suasana langsung hening. Wajah mengeras Chizuru membuat semua orang ketakutan.

"Ya… dengan rahasia itu aku di peras olehnya. Awalnya sih sepele, dari menggantikan dia piket di asrama, kemudian semakin ke sini permintaannya semakin membuatku seperti budaknya. Bahkan dia berani memerasku…"

Suara penuh kebencian itu melemah. Badannya bergetar hebat.

"Menurut kalian, apa yang harus kulakukan saat itu? Apa aku harus membiarkan Keigo kedinginan? Apa saat itu aku harus tega membiarkannya tinggal di luar dalam keadaan dinginnya bulan desember?" tanyanya sambil menangis terisak-isak. Membuat sebagian orang berkasak-kusuk.

"Kasihan ya Honsho-senpai, ini salah Kuchiki-senpai…,"

"Benar, ini salah Kuchiki-senpai. Coba jika Kuchiki-senpai tak memeras Honshou-senpai, Honshou-senpai pasti tidak akan melakukan hal ini…"

Mendengar kasak-kusuk itu, Raut wajah Hitsugaya yang memang tanpa ekspresi dari tadi, mengeras. Rahangnya mengatup rapat. Aura amarah jelas terlihat darinya.

"Tunggu…" katanya. "Sebenarnya siapa di sini yang harus di kasihani? Kuchiki-senpai memang bersalah karena dia memberi tekanan kepada Chizuru-senpai. Tapi apakah Kuchiki-senpai harus dibunuh?"

Hening. Kemudian Hitsugaya menatap Chizuru dengan tatapan mematikan, membuat Chizuru sedikit bergetar ketakutan. Pandangan Hitsugaya entah kenapa membuatnya membeku sekaligus menusuknya.

"Berhenti mengasihini dirimu sendiri dan menganggap orang lain salah! Kau piker dengan kau mengatakan hal itu kau menganggap perbuatan itu dibenarkan? Ingat dalam kasus ini kau bukan hanya membunuh Kuchiki-senpai! Kau juga membuat Yachiru-senpai dicurigai dan bahkan kau hendak melukai Karin! Meski semua orang disini memaafkan dan mungkin memaklumi perbuatanmu sebagai pelampiasan kekesalanmu karena ditindas oleh Kuchiki-senpai, tapi aku tidak!" ucap Hitsugaya tajam.

Seketika semua merasakan aura yang dingin yang berasal dari tubuh Hitsugaya Fuyumi.

End of Normal POV


OOooOO


Hitsugaya berjalan dengan cepat menuju kamar kami. Aku mengikutinya dengan susah payah. Entah kenapa dia marah sekali.

Sebenarnya aku juga marah padanya. Tak seharusnya dia memojokkan Chizuru-senpai sampai seperti itu. Aku tahu dia mungkin tipe yang membenci pembunuh, tapi bukan hal yang wajar untuk memojokkan pelaku seperti itu! Terlebih jika pelaku pembunuhan adalah temanmu sendiri.

"Hitsugaya, matte!" panggilku, tak ada Jawaban.

"Oi… Hitsugaya Fuyumi-chan!" aku mencoba memanggil nama lengkapnya. Tetap tak ada jawaban. Ya… sepertinya Fuyumi bukanlah namanya sehingga dia tak seharusnya menjawab panggilanku. Membuat urat-urat kemarahan muncul di pelipisku.

"Oi, Fuyumi-chan!"

"…."

"Hitsu-kun,"

"…"

"ugh… Oi, Shiro-chan!"

Brak!

Aku terkesiap kaget ketika Hitsugaya langsung memukul tembok tepat di belakangku. Entah bagaimana caranya sekarang aku ada di tengah-tengah Hitsugaya dan tembok. aku menelan ludah takut. Apalagi ketika melihat kelamnya mata emerald miliknya.

"Jangan sekali-kali memanggilku dengan panggilan itu atau aku akan melakukan hal seperti waktu itu, Kurosaki Karin," ancamnya dengan amarah yang terlihat. Membuatku menelan ludah dengan paksa.

Badanku sudah gemetar sekarang karena ketakutan. Aku ini anti cowok! Aku tak bisa di dekati cowok seperti ini, apalagi kalau cowok ini mengancamku akan melakukan hal itu?

"Ekhem…"

Suara batuk seseorang membuat kami menoleh ke arah suara dan Hitsugaya membebaskanku. Matanya menatap tajam ke sosok orang itu….


…To Be Continued…


Hahaha

GaJe bgt…. T3T

Sepertinya saya emang gak ada bakat untuk menulis mistery…. Karena kebanyakan yang review jawabannya bener! Wew akh… tapi saya akan berusaha di chapter selanjutnya untuk lebih bagus lagi! Hehe

Mari kita balas review….

Shirouta Tsuki : Hehe… udah tahu kan siapa pelakunya sekarang? Thanks dah review…

Divinne Oxalyth : *peluk Divinne* selamat! Jawaban kamu dari pelaku sampai triknya Tepat! Heu.. meski agak kesel juga karena kamu tahu sampai segitunya.. hehe udah update nih, review lagi ya.. hehe

Nenk rukiakate : Iya… tepat sekali…

Yowarul : He? nenek sihir siapa?

Hah… kalau fict ini lanjut lagi,, aku bakal nyari trik yg susah dan menjebak! Heu… ok deh….

Minna…

Mind to review?