Hai, minna, lama tak jumpa….
Maaf lama ya… saking sibuknya saya… hehe
Spesial Thanks to :
Shirouta Tsuki
Yowarul
nenk rukiakate
Nyanyu-chan
and all silent readers...
BOKUTACHI NO LABYRINTH
.
.
Disclaimer
Bleach © Tite Kubo
Kira's labyrinth © Obayashi Miyuki
Bokutachi no labyrinth © Fuyu-yuki-shiro
.
.
Warning:
OOC, Abal, Gaje, perusakan karakter dan bentuk tubuh mereka, misteri, dll
.
.
Don't like
Please, don't read!
Happy Reading…
Seminggu telah berlalu sejak kejadian-kejadian sial yang menimpaku. Dan selama seminggu itu aku benar-benar dijaga ketat olehnya.
Siapa lagi kan kalau bukan bocah detective itu? Bayangkan! Seminggu aku seperti memiliki bodyguard. Dia benar-benar tak melepaskan pandangannya dariku. Dia menemaniku menemui guru, pergi ke perpustakaan, saat aku mengambil makanan di kantin, bahkan saat aku ke toilet!
Frustasi?
Tentu saja aku frutasi. Aku SANGAT frustasi.
Karena akibat perbuatannya, aku jadi digosipkan pacaran dengannya (dan otomatis mereka menganggapku TIDAK NORMAL!), dan setiap saat selalu mendapatkan tatapan maut dari para penggemarnya.
"Oi, Toushiro," panggilku saat kami hanya… ekhem… berduaan di kamar. Dia melepas wignya dan sedang membaca buku dengan gaya yang kuyakin membuat para penggemarnya nosebleed .
"Jangan panggil aku Toushiro! Cukup Hitsugaya saja, Karin!" ucapnya dingin. Mata hijau-tealnya masih terfokus kepada buku yang sedang dibacanya. Buku yang aku tak tahu berapa halaman dan berapa usia dari buku tersebut!
"Ok.. ok… Hitsugaya-san!" ucapku menekankan panggilanku padanya. Toushiro mendelik sebentar kemudian lagi-lagi terbenam dalam buku tebalnya itu. "Hei, Hitsugaya."
"Apa?"
"Sudahlah, hentikan mengikutiku kemana-mana seolah-olah kau ini adalah seorang stalker," ucapku santai. Kulihat raut wajahnya menegang. Namun hanya sepersekian detik sampai akhirnya bocah jenius itu menampilkan raut wajah dinginnya dan memilih untuk tidak mempedulikan perkataanku. Aku mendengus sebal. "Kau tidak perlu menjagaku kan? Aku ini kuat! Aku pasti bisa menjaga diriku sendiri!" ucapku emosi dan…
BRAK!
Toushiro menutup buku tebal itu dengan emosi dan menatapku tajam. Aku tercekat dengan ekspresi yang ditujukannya kali ini. ekspresi marah sekaligus… sedih?
"Sekuat apapun kau, kau tetaplah perempuan tahu!" desisnya kemudian beranjak pergi dan menutup pintu kamar kami dengan keras. Aku hanya melongo dengan tindakannya.
"Kenapa dia harus marah sih?" tanyaku tak mengerti.
Tapi…
Jauh di dalam lubuk hatiku, aku merasakan rasa hangat yang menyenangkan….
OOOoooOOO
Normal POV
Toushiro menyandarkan tubuhnya ke tembok dekat pintu kamarnya. Kepalanya berdenyut-denyut. Dia melirik tangan kanannya. Untunglah saat emosinya tak terkendali dia masih memikirkan untuk mengambil wignya. Bisa runyam kan kalau dia bertemu dengan penghuni asrama yang lain saat dia tidak mengenakan wignya?
Toushiro mengenakan wignya dan melanjutkan acara berfikirnya.
Aneh!
Seminggu sudah berlalu sejak dia menemukan kartu-kartu itu. Kartu berupa ancaman dan Toushiro yakin ancaman itu bukan sekedar kata-kata belaka.
Tapi… tidak terjadi apa-apa pada Karin! Mungkinkah pelaku menunggunya lengah? Tapi ….
"Kau tidak perlu menjagaku kan? Aku ini kuat! Aku pasti bisa menjaga diriku sendiri!"
Kata-kata Karin membuat Toushiro mengepalkan kedua tangannya. Dia memejamkan matanya. membuat otaknya secara langsung mengingat ke kejadian yang tidak ingin diingatnya.
"Kau tak perlu menjagaku Shiro-chan! Buat apa? Kau …"
Toushiro memukul tembok dibelakangnya untuk menghentikan proses otaknya mengingat kata-kata yang melukai hatinya itu. Dia mengumpat dalam hati dan membentur-benturkan belakang kepalanya ke tembok yang tepat di belakangnya.
"Taichou, daijobu?" Tanya seseorang tepat di sampingnya. Tak perlu membuka mata untuk tahu siapa yang seenaknya menegurnya saat dia sedang tidak ingin diganggu.
"Tinggalkan aku!" perintahnya dingin pada letnannya , Matsumoto Rangiku yang menatapnya iba. Hanya satu hal saja yang dapat membuat bocah jenius itu frustasi dan Rangiku tahu hal apa itu.
"Taichou… jangan memaksakan dirimu. Secerdas apapun taichou, taichou tetaplah anak kecil berusia tiga belas tahun! tolong jangan memaksakan dirimu, taichou…," ucap Rangiku sedikit memohon. Sungguh dia tak tega melihat ekspresi taichounya yang tertekan setiap dia mengingat masa lalunya bersama kakak perempuannya itu.
"Aku harus secepatnya keluar dari labirin masa lalu ini, Matsumoto," ucap Toushiro tegas namun terdengar sekali kerapuhan dari ketegasannya itu. "Aku harus keluar dari labirin yang dibuat oleh kakakku itu… Harus…."
"Tap – "
"Jangan ucapkan apapun lagi Matsumoto. Kau cukup mendukungku…."
"Hai, taichou…," ucap Rangiku dengan berat….
OOOoooOOO
"Huaciuh!"
"Sroot!"
"Ugh… menjijikan!"
Karin dan Yuzu langsung mendelik kea rah Yachiru yang mengatakan "Menjijikan". Kemudian mereka saling pandang dan terkikik.
"Kalian… sepertinya senang dengan sakit kalian?" Tanya Toushiro bingung.
"Tentu saja senang, karena mereka selalu kompak dalam kesehatan mereka," cerita Yachiru membuat Toushiro menautkan alis tanda tak mengerti.
"Selalu?" ulangnya sedikit tak yakin dan… er… curiga?
"Ya… SELALU!" tekan Tatsuki. "Lebih dari lima bulan aku mengenal mereka berdua, mereka berdua memang selalu sakit di waktu yang sama dan anehnya lagi, dengan penyakit yang sama," jelas Tatsuki sambil menyeruput mienya.
"Eh? Benarkah?" Toushiro tak percaya sekaligus takjub. Sementara Karin dan Yuzu mengangguk-anggukkan kepalanya tanda semangat.
"Itu tandanya kami kompak!" ucap Yuzu bangga. Karin, meski dengan tampang kalem menyetujui ucapan Yuzu itu.
"Lalu, kali ini, kenapa kalian bisa kena flu?"
"Aku kelamaan mandi!" serempak mereka menjawab. Karin dan Yuzu kembali saling pandang dan Yuzu tertawa ketika melihat Karin tersenyum. Tanpa menyadari bahwa Toushiro menatap mereka dengan pandangan curiga….
OOOoooOOO
"Sudah kubilang jangan mengikutiku kemana-mana!" ucap Karin kesal setengah mati ketika Toushiro tetap mengikutinya bahkan sampai ke depan toilet. "Aku risih kalau kau menjagaku TEPAT di depan bilik toiletku!" ucap Karin lagi frustasi ketika Toushiro tetap diam membelakanginya di depan pintu bilik salah satu toilet di kamar mandi tersebut. Tapi Toushiro tetap diam tak mendengarkan.
"Karin," panggil Toushiro di luar bilik.
"Apa?" jawab Karin judes.
"Apa aku tak bisa diandalkan untuk menjagamu?"
"Tidak, karena kau lebih muda dua tahun dariku, meski kau laki-laki tapi kau masih bocah!" ucap Karin asal.
BRAK!
Suara itu membuat Karin terkaget-kaget. Itu pasti perbuatan Toushiro. Seenaknya saja dia?
"Kalau begitu, aku tak perlu menjagamu lagi!" ucapnya dan kemudian Karin merasakan dia pergi meninggalkan Karin. Membuat Karin langsung membuka bilik toiletnya dan mencelos ketika Karin melihat tak ada siapapun di depannya. Jangan-jangan dia salah bicara lagi?
OOOoooOOO
Seseorang menyeringai ketika melihat sesosok gadis berambut silver panjang keluar dari toilet dengan wajah kesal dan marah. Orang itu menyeringai kemudian dia melangkah menuju toilet dan sengaja berdiri di depan Karin.
"Oh, Kau…," Karin menyapa orang itu tanpa curiga, orang itu tersenyum. Senyum yang mengerikan.
"Boleh bicara sebentar?" ucap orang itu dengan wajah yang dibuat semerana mungkin. Karin menatap gadis itu bingung.
"Um.. baiklah," ucap Karin setuju meski agak aneh. Bantuan apa? Orang itu tersenyum kemudian mengajak Karin keluar dari toilet dan menyuruh Karin untuk mengikutinya….
Atap sekolah…
"Lalu, ngapain kita kemari?" Tanya Karin bingung. Apa yang harus dibantunya kalau di sini. Orang itu tersenyum. Kedua tangannya diletakkan di belakang tubuhnya. Karin yang ada di depannya menatap senyum orang itu dengan….
Ganjil?
Entah kenapa perasaannya menyuruhnya untuk menjauhi orang yang kini ada di depannya.
"Aku –"
Orang itu melangkah mendekati Karin. Tanpa diketahui oleh Karin, orang itu mengeluarkan mata pisau dari cutter yang dipegangnya di belakang punggungnya itu, senyum orang itu semakin lebar ketika langkahnya hanya tinggal beberapa langkah dari Karin namun…
"Cukup sampai disitu kau mendekati Karin!" ucap seseorang di belakang orang itu. membuat orang itu membelalak lebar.
"Hitsugaya!" panggil Karin antara kaget dan bingung. Hitsugaya Fuyumi, 'gadis' itu menatap tajam ke orang yang ada tepat membelakanginya.
"Bisakah kau memberikanku, cutter itu, Uno – maksudku, Kurosaki Yuzu-san?"
Klotak.
Cutter itu jatuh dari tangannya, membuat Karin kaget ketika ada cutter yang terjatuh dari tangan Yuzu, sahabatnya sendiri.
Dan…
Apa maksud Hitsugaya tentang Kurosaki Yuzu?
OOOoooOOO
Karin POV
Kurosaki Yuzu?
Apa yang dikatakan si bodoh Toushiro itu? Kurosaki? Bukannya marga dari Yuzu adalah Unohana? Dan… kenapa Yuzu menjatuhkan sebuah cutter?
Yuzu, apa jangan-jangan dia …
"Aku tahu, kau lah yang mengerjai Karin waktu itu kan?" Tanya Toushiro bersikap tenang. Dia melangkah pelan namun pasti kearah kami berdua. Aku tercekat mendengar ucapannya, apa? Yuzu yang mengerjaiku?
"Dan kau menunggu aku lengah untuk dapat membunuhnya, bukan?" Tanya Toushiro lagi. kini dia berada tepat di belakang Yuzu, pemuda berambut silver itu menunduk mengambil cutter yang ada di bawah Yuzu kemudian melangkah mendekatiku dan berhenti selangkah di depanku. Dia menatapku sekilas kemudian berbalik menatap Yuzu.
"Apa maksudmu membunuh Karin-chan Fuyumi-chan? Dan kenapa kau berpikiran aku yang mengerjainya? Dan tentang Kurosaki, apa aku tak bilang kalau margaku adalah Unohana?" Tanya Yuzu gugup. Mata coklatnya bergerak kea rah manapun, mencoba untuk tidak menatap wajah Toushiro yang menatapnya tajam.
"Sebenarnya aku mulai curiga padamu saat kasus tali sepatu itu. kau dengan lantang mengatakan 'Kejam, siapa yang melakukan ini? Memotong tali sepatu Karin-chan dengan cutter', dari mana kau tahu kalau sepatu Karin dipotong oleh cutter?" Tanya Toushiro memandang tajam kepada Yuzu, Yuzu gelagapan.
"A-aku hanya menebak," ucapnya mendadak gagap. Bola matanya bergerak liar tak tentu akan focus menatap ke mana. Aku menatapnya, dari tingkahnya aku tahu kalau dirinya berbohong, aku tahu itu…
Dan aku merasa hatiku sakit,
Kenapa? Kenapa Yuzu melakukannya padaku? Dan apa maksud Toushiro dengan Kurosaki Yuzu? Apa Yuzu adalah anak dari ….
Aku memejamkan mataku, wajah orang itu, wajah orang bermarga 'Kurosaki' itu membuatku seketika muak, mengingatnya membuatku langsung mengingat kepada wajah ibu yang menangis dan….
Aku tersentak kaget ketika mengingat dua orang itu, wajah ibuku dan wajah...
"Lagipula, kalau aku memang benar pelaku yang mengerjai Karin-chan, mengenai kasus bola sepak itu… aku tak mungkin melakukannya, aku kan ada di dekat Karin-chan waktu itu," bela Yuzu.
"Kasus bola sepak itu hanya kebetulan," ucap Toushiro lagi. Yuzu tersentak kaget. "Bola itu hanyalah kebetulan dan kau memanfaatkan hal itu untuk memperkuat alibimu," ucap Toushiro lagi. Yuzu terdiam. "Saat vas bunga itu, kau tidak ada di antara kami, itu menambah point kecurigaanku, kemudian saat kartu yang menempel di pintu kamar kami… kau yang menempelkannya. Karena kau adalah orang terakhir yang masuk ke kamar kami, bukan?" ucap Toushiro lagi, tajam. Yuzu terdiam. "Menyerahlah, aku tahu motifmu, Yuzu-san," ucap Toushiro lagi, kali ini Yuzu tidak membantah. Gadis itu malah tertawa.
"Sudah kuduga kau adalah pengganggu, Fuyumi-chan," ucapnya tajam. Kedua tangannya dilipat ke dada, gayanya angkuh, gaya yang belum pernah kulihat.
"Dan aku takjub kau mengetahui identitasku, fuyu-chan," ucap Yuzu lagi. aku kaget ketika mendengar itu. jadi… jadi…
Kulihat Yuzu mengalihkan pandangannya kepadaku. Mata coklatnya menatapku dengan dingin, membuatku langsung membeku. Yuzu kemudian menyunggingkan senyum yang mengerikan.
"Hai, Karin-neechan…," katanya membuatku tak bisa berkata apa-apa lagi…
OOOoooOOO
Ruangan yang mencekam, dua orang manusia dewasa tengah berhadapan, dan dua orang bocah perempuan yang mengintip di sela-sela pintu.
"Kau…," suara bergetar dari perempuan berambut coklat bergelombang itu memecah kesunyian, walaupun tidak memecah suasana mencekam yang melingkupi mereka berdua. "Yakin?" lanjut sang wanita, sekarang bukan hanya suaranya yang bergetar, tetapi tubuhnya pun ikut bergetar. Namun hal itu tidak membuat lelaki brewok dihadapannya terenyuh.
"Pergilah," ucapnya dingin dan tangis wanita itupun pecah.
"Suamiku…," isaknya pedih tapi pria itu hanya menatapnya dingin kemudian membalikkan tubuhnya.
"Kita sudah bercerai, misaki. Mengertilah," ucap pria itu masih dengan nada dinginnya membuat wanita itu hanya menggeleng tak percaya sembari menutup mulutnya yang ternganga tak percaya akan nada dingin yang dikeluarkan oleh pria yang menjadi suaminya selama sepuluh tahun lebih itu dan pernyataan dari pria itu membuat kedua bocah berusia sekitar tiga tahun yang mengintip di sela pintu itu menghambur keluar.
"Okaachan, otouchan," ucap mereka menangis
Ingatan belasan tahun itu entah kenapa hadir kembali. Entah kenapa ingatan itu langsung muncul ketika mata hitamku dan mata coklatnya saling beradu.
"Aku tak menyangka kalau Karin-chan akan melupakan aku," ucap Yuzu. Wajahnya tanpa ekspresi sekarang dan entah kenapa aku bisa merasakan perasaannya sekarang. "Padahal aku tidak pernah melupakanmu," ucapnya lagi.
"Yuzu, aku…."
"Padahal kita kembar kan? tapi kau melupakanku begitu saja!" nada dalam suaranya naik. Aku menatap Yuzu dengan perasaan… entahlah. Aku tak tahu bagaimana perasaanku sekarang. Kaget, sedih, menyesal dan berbagai perasaan yang saling bertolak belakang memenuhi hatiku sekarang.
Kenapa? Kenapa aku bisa sampai tidak sadar bahwa Yuzu adalah adik kembarku?
Padahal sudah setahun lamanya aku bersamanya….
"Kalian semua kejam! Bahkan… bahkan saat okaachan meninggal kalian tidak datang!" teriak Yuzu membuat petir serasa menyambar kepalaku.
"Apa kau bilang?" tanyaku tak percaya. "Okaachan meninggal?" tanyaku tak percaya. Melihat ekspresi terkejutku membuat Yuzu mendengus.
"Kau jangan pura-pura tidak tahu, Karin-chan!" tuduhnya.
"Tapi aku benar-benar tidak tahu Yuzu!" belaku jujur. Meninggal? Ibuku? Kapan? Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang kudengar hari ini. Yuzu yang berniat membunuhku selama ini, Yuzu juga adalah adik kembar yang sudah lama tak kuketahui dia ada di mana. Sekarang? Sekarang aku mendengar bahwa wanita yang melahirkanku telah meninggal?
Demi Tuhan kenapa hal ini bisa….
"Ah ya… otouchan pasti tidak akan memberitahumu, begitupun dengan Ichi-nii," ucap Yuzu getir. Aku bisa melihat mata coklatnya meredup.
"Kau tahu Karin-chan, saat okaachan meninggal, aku berjuang sendirian untuk hidup," ucap Yuzu lagi. gadis itu kemudian tertawa hambar dan mulai bercerita mengenai dirinya yang menemui pria bermarga Kurosaki itu. saat Yuzu menangis dan mengatakan bahwa ibu meninggal, namun baik ayah maupun Ichi-nii, kakak lelakiku tak mengubrisnya. Mereka berdua tidak peduli dengan Yuzu yang memohon.
"Aku kemudian diadopsi keluarga Unohana," ucap Yuzu sembari mengangkat bahu, kemudian mendekatiku dan itu membuat Toushiro siaga. "Tapi meski aku sudah punya keluarga, aku tetap membenci dirimu, kakak," ucapnya kemudian dengan sekali hentak gadis itu berlari ke arahku kemudian mendorong Toushiro yang sedikit lengah sembari menodongkan cutter yang lain ke arahku. Aku tidak bisa bergerak, pasrah menunggu hujaman mata cutter ke tubuhku sembari menutup mataku, namun….
Aku tidak merasakan sakit.
"Bukalah matamu, bodoh!" ucap suara yang kukenal , membuatku membuka mataku dan terbelalak kaget ketika darah keluar dari telapak tangan Toushiro.
Aku membelalakan mataku. Dengan refleks aku menutupi mulutku yang menganga. Toushirou… Toushiro…
"Minggir!" perintah Yuzu kalut. Matanya nyalang memandang Toushiro. Tapi Toushiro hanya tersenyum. Dia semakin menggenggam erat mata cutter itu kemudian merebutnya dan memiting Yuzu sehingga gadis itu mengaduh.
"Kalau kau mencoba sekali lagi membunuh Karin, Aku tidak akan segan-segan membawamu ke penjara," desisnya tajam kemudian mendorong Yuzu hingga gadis itu jatuh terduduk dan meringis. Toushiro melayangkan tatapan merendahkan ke arahnya.
"Sudahlah Hitsugaya," ucapku kemudian berjalan membelakangi Toushiro. Aku kemudian berjongkok, menatap wajah penuh kekesalan di sana, wajah Yuzu.
"Aku tahu alasanmu membenciku," ucapku membuat tubuhnya menegang namun wajahnya tak kunjung menengadah untuk sekedar menatap wajahku. "Tapi aku benar-benar tidak tahu kalau okaachan meninggal, aku juga tidak tahu kalau waktu itu kau mendatangi mereka berdua," ucapku pelan. Rasanya tenggorokanku sakit sekaligus kering, mataku memanas.
Tapi aku tidak boleh menangis.
"Berjanjilah kau tidak boleh menangis meski okaachan tidak bersamamu, ya, Karin,"
"Maafkan aku karena tidak mengingatmu," ucapku.
Bukan… sebenarnya hatiku mengingatnya. Perasaan senang saat bersamanya, perasaan khawatir dan tidak suka ketika Yuzu dilanda khawatir dan perasaan rindu ketika tidak melihatnya.
Hatiku sebenarnya mengingatnya.
Mataku sudah mulai berair, pandanganku sudah mengabur dan itu membuatku berdiri, berjalan sembari menarik Toushiro menjauhi Yuzu yang masih jatuh terduduk.
"Dan maafkan aku karena tidak bisa menjadi saudaramu yang baik," kataku sebelum menutup pintu atap….
OOOoooOOO
Toushiro POV
Asrama …
Dia menundukkan kepalanya. Poni hitamnya menutupi sebagian wajahnya. Tangannya sibuk mengobati lukaku. Sebisa mungkin dia bertahan untuk tidak menangis.
Aku hanya bisa memandangnya dengan datar. Aku tahu perasaannya. Aku tahu rasanya dibenci oleh saudara yang aku sayangi.
"Kenapa? Kenapa Shiro-chan? Kenapa kau…."
"Sebenarnya kau sudah tahu dari dulu kan?"
Pertanyaan itu membuat khayalanku terputus. Kini otakku focus kepada gadis yang sok kuat dihadapanku ini.
"Apanya?" tanyaku.
"Bahwa Yuzu yang menggencetku?" tanyanya lagi dengan nada yang tidak bisa kuprediksi. Aku hanya menghela nafas mendengar pertanyaan itu.
Bohong kalau aku bilang aku baru mengetahuinya sekarang. Karena nyatanya aku memang sudah tahu semenjak kartu terakhir yang kutemukan di loker sepatu saat itu.
"Ya," jawabku jujur dan itu membuat pergerakkan tangannya berhenti untuk sesaat. "Tapi aku tidak tahu apa motifnya mengerjaimu," lanjutku lagi.
"Dan dari mana kau tahu kalau Yuzu adalah…," sepertinya dia sulit untuk menyebutkannya.
"Dari seorang teman," ucapku langsung. Dan itu membuat Karin langsung ber"Oh" saja dan pembicaraan kembali terhenti. Aku menatapnya, menatap kepalanya yang semakin tertunduk, aku merasakan tubuhnya semakin panas, entah kenapa tiba-tiba saja aku merasakan rasa sakit darinya.
Apa karena kami berpegangan tangan? Atau karena aku belum pernah melihatnya seperti ini sebelumnya?
Di saat situasi seperti ini, aku berharap teman-temannya kemari dan membuat keributan di sini.
"Sudah selesai," ucapnya ketika dia sudah membebat telapak tanganku. Aku menatap telapak tanganku yang dibebat olehnya. Hm… rapi juga. Kemudian pandanganku beralih kepadanya yang sedang sibuk membereskan kotak obat kemudian dia berbalik membelakangiku.
Punggungnya terlihat menyedihkan.
"Kau tidak seharusnya bersikap sok kuat di saat seperti ini," ucapku akhirnya. Membuat pergerakannya berhenti dan terdiam.
"Kau… tidak tahu apa-apa," ucapnya penuh penekanan dan sepertinya kalimat itu membuatnya semakin tidak bisa menahan tangisnya. Membuatku semakin tidak tahan melihatnya dalam keadaan menyedihkan ini. Aku berjalan mendekatinya kemudian …
"Hai Matsumoto,"
"Ya, taichou?"
"Bagaiaman caranya menghibur seorang… ekhem… gadis?"
Dan Matsumoto tertawa ketika melihat wajah taichou-nya yang memerah kemudian membisikkan sesuatu di telinga sang taichou imutnya.
GREB!
Aku, Hitsugaya Toushiro, 13 tahun, untuk pertama kalinya dalam hidupku, secara sadar, memeluk seorang gadis….
OOOoooOOO
Karin POV
"Kau tidak seharusnya bersikap sok kuat di saat seperti ini,"
Perkataannya itu membuatku langsung membatu. Aku terdiam sembari mengepalkan kedua telapak tanganku yang entah kenapa berkeringat. Kata-katanya membuat air mataku sudah tidak kuat untuk membendung air mata yang sedari tadi memaksa untuk keluar.
"Kau… tidak tahu apa-apa," ucapku penuh penekanan.
Bodoh! Tidak seharusnya aku membalasnya. Aku bisa mendengar suaraku serak, aku bisa merasakan sesuatu yang basah membasahi pipiku. Aku bisa merasakan rasa asinnya air mataku sendiri.
Sial! Kenapa ini harus terjadi kepadaku? Kenapa aku seperti ini? Kenapa Tuhan membuat Yuzu membenciku?
Dan kenapa aku bisa melupakan wajah adikku sendiri? Hanya karena marga Yuzu berubah? Hanya karena sudah lebih dari dua belas tahun aku tidak melihatnya, hanya karena….
Aku bodoh! Aku…
Aku membelalakan mata ketika ada dua tangan yang memeluk perutku. Kemudian aku dapat merasakan nafasnya, nafas Toushiro dan hangatnya tubuhnya.
"A-apa yang kau lakukan, hah?" tanyaku kepadanya, panic.
Ini pertama kalinya aku dipeluk oleh seorang lelaki.
"Berisik! Jangan banyak tanya dan menangislah!" perintahnya kesal. Aku hanya diam. Terlalu kaget dengan perlakuannya yang berbeda.
Membuat detak jantungku tidak normal.
"Menangislah sepuasmu dan jadilah kuat ketika kau berhenti menangis," ucapnya semakin mempererat pelukannya. Aku hanya bisa diam saja. "Kau boleh menangis dihadapanku, Karin," ucapnya lembut.
"Memangnya kau siapa hah?" bentakku. Ya… memangnya dia siapa? Memangnya dia siapa sehingga aku boleh menangis dihadapannya? Kalimatnya seolah mengatakan bahwa aku boleh-boleh saja terlihat lemah dihadapannya, bahwa aku boleh saja mengandalkannya. Menyebalkan!
Tapi yang lebih menyebalkannya lagi….
Kenapa aku malah menangis dihadapannya dengan keras?
OOOoooOOO
Pemuda itu membekap mulut seorang gadis berambut hitam yang tengah terbelalak sembari manatap tajam.
"Uph… uph…," ucap sang gadis sembari memukul-mukul lengan pemuda namun hal itu tidak membuat sang pemuda melepaskan telapak tangannya.
"Kalau kau berjanji tidak akan berteriak, aku akan melepaskanmu," ancam sang pemuda membuat si gadis mengangguk cepat-cepat. Setelah beberapa saat akhirnya si pemuda melepaskan si gadis, membuat si gadis langsung mengambil nafasnya cepat-cepat.
"Hitsugaya Fuyumi, kau… cowok?" Tanya si gadis yang bernama Karin itu dengan muka horror. Mendengar itu, Hitsugaya Fuyumi kemudian menyunggingkan seulas senyum.
Senyuman iblis dari neraka.
"Benar, lalu, kau mau apa?" tanyanya membuat Karin merinding.
"A-aku akan melaporkannya kepada ibu asrama dan membuatmu dikeluarkan!" ancam Karin yang langsung melompat keluar dari himpitan Hitsugaya dan dinding. Namun belum sempat dia menarik handle pintu, tangan Karin sudah ditarik duluan dan kembali berada di tengah-tengah Hitsugaya dan dinding.
"Kalau kau berani bilang kepada orang lain…," ucapnya dengan senyuman yang semakin menakutkan. "…Kau akan menyesal!" ucap Hitsugaya lagi, kali ini dengan wajah datar, tanpa senyum sama sekali.
Sungguh mengerikan.
"Ka-kau berani mengancamku? Memangnya aku takut?" Tantang Karin yang tidak pernah terima jika diancam oleh orang lain. "Aku akan melaporkan bahwa ka…."
Cup!
Karin membelalakkan matanya ketika bibirnya merasakan sesuatu yang basah yang menempel di bibirnya, menjilat area bibirnya, membuat wajah horror Karin semakin menjadi.
Karin membeku dengan semua bulu kuduknya berdiri.
"Kalau kau berani mengatakannya pada orang lain, aku akan melakukan lebih dari ini!" ancam Hitsugaya dengan tatapan mata yang mengatakan-ini-bukan-sekedar-ancaman.
"Ka-kau..."
"Nah, sekali lagi, salam kenal, Kurosaki Karin-san" ucapnya dengan senyum lembut tadi.
Karin hanya diam membatu.
Aku membuka mataku ketika sinar matahari menerpa wajahku, aku menghela nafas ketika mengingat mimpiku. Itu kan kejadian saat pertama kalinya aku mengetahui jati dirinya.
Aku menghela nafas dengan wajah merona, kemudian aku mengganti posisiku dengan menyamping dan tambah meronalah mukaku ketika aku menyadari bahwa mukaku langsung menempel di dadanya.
KATS!
Rasa panas menjalar di seluruh mukaku, apalagi ketika tangannya bergerak mendorongku untuk lebih mendekat ke arahnya dan tangannya langsung memelukku dengan erat.
Ukh… posisi yang…
"Oi… okiru!" perintahku malu dan gugup. "Oi Toushiro, Oki –"
Tok.. tok… tok….
Suara ketukan pintu itu membuat Toushiro (sepertinya) menggeliat dan membuka matanya. ketika dia melihat kepalaku yang menempel di dadanya…
"WAH!" dia berteriak dengan keras sembari terduduk dengan wajah yang… merah?
Melihat itu sebenarnya aku ingin tertawa, tapi berhubung wajahku juga sudah memerah, aku tidak bisa menertawakannya kan?
Tok… tok…tok…
Ketukan pintu itu membuat kami terlonjak, kemudian Toushiro mengambil wignya dan memasangkannya ke kepala.
"Biar kubuka," ucapnya kaku aku hanya bisa mengangguk dengan kaku dan membiarkan Toushiro beranjak menuju pintu, dan ketika pintu terbuka….
DOR!
Aku terlonjak kaget dan langsung berlari menghampiri Toushiro,
"Toushiro ada ap –"
Dan aku langsung menutup mulutku.
To be continued
Cuap-cuap:
Akhirnya update juga! *PLAK!*
Sorry, lama. Soalnya aku sibuk dan pas sibuk akunya pengen bikin fict yang lain, hahaha.
Sebagai permintaan maaf, khusus chapter ini aku panjangin dan kasih next chapternya deh… hehe
Balasan review buat yang log-in kali ini aku pm ya… hehe
Next Chapter
.
"Kau bisa mengambilkannya di gudang?"
"Ok!"
.
JLEB!
Ukh…
"Toushirou!"
.
"Aku akan tetap mengikuti dramanya!"
.
"Kalau begitu aku yang akan menjagamu."
.
Makin seru gak? Semoga aja makin seru dan di chap ini gak ada typos. Makasih buat yang masih setia mengikuti perkembangan bokutachi ini. Kalau gak ada halangan, bokutachi selesai dengan dua kasus lagi.
Dan karena aku libur sebulan, aku jadi bisa sering update fict-fict aku… n_n
Oh ya… selamat menunaikan ibadah puasa ya… ^^ bagi yang menjalankannya tentu aja…
Jadi…
R
E
V
I
E
W
?
