Rasa panas menjalar di seluruh mukaku, apalagi ketika tangannya bergerak mendorongku untuk lebih mendekat ke arahnya dan tangannya langsung memelukku dengan erat.

Ukh… posisi yang…

"Oi… okiru!" perintahku malu dan gugup. "Oi Toushiro, Oki –"

Tok.. tok… tok….

Suara ketukan pintu itu membuat Toushiro (sepertinya) menggeliat dan membuka matanya. ketika dia melihat kepalaku yang menempel di dadanya…

"WAH!" dia berteriak dengan keras sembari terduduk dengan wajah yang… merah?

Melihat itu sebenarnya aku ingin tertawa, tapi berhubung wajahku juga sudah memerah, aku tidak bisa menertawakannya kan?

Tok… tok…tok…

Ketukan pintu itu membuat kami terlonjak, kemudian Toushiro mengambil wignya dan memasangkannya ke kepala.

"Biar kubuka," ucapnya kaku. Aku hanya bisa mengangguk dengan kaku dan membiarkan Toushiro beranjak menuju pintu, dan ketika pintu terbuka….

DOR!

Aku terlonjak kaget dan langsung berlari menghampiri Toushiro,

"Toushiro ada ap –"

Dan aku langsung menutup mulutku.

BOKUTACHI NO LABYRINTH

.

.

Disclaimer

Bleach © Tite Kubo

Kira's labyrinth © Obayashi Miyuki

Bokutachi no labyrinth © Fuyu-yuki-shiro

.

.

Warning:

OOC, Abal, Gaje, perusakan karakter dan bentuk tubuh mereka, misteri, dll

.

.

Thanks to:

Nenk rukiakate

Yowarul

FuckAlterEgo

Amai Yuki

.

Don't like

Please, don't read!

Happy Reading…

Toushiro menatap ke moncong pistol dengan tatapan kaget bercampur Syok. Aku menatap Toushiro dan orang yang mengacungkan pistol kepadanya dengan tatapan tidak percaya.

Sedetik….

Dua detik…

Tiga detik ….

"Pft… Hahahahahhahha," tawa kemudian terdengar dari belakang pelatuk pistol. Suara seorang perempuan berambut blonde yang tengah tertawa terbahak-bahak. Melihat itu tubuh Toushiro gemetar dengan muka yang amat merah dan empat buah siku berukuran besar yang ada di belakang kepalanya.

"MATSUMOTO!"

"Ahahaha… gomenne taichou~"

Bokutachi Labyrinth by me :D

"Berhentilah tertawa!" Toushiro mencak-mencak di depan Rangiku-sensei yang masih tertawa terbahak-bahak. Lagi-lagi aku hanya bisa menatap ulah mereka berdua dengan sweatdrop. Tingkah mereka persis seperti kakak yang menjahili adiknya ketimbang hubungan atasan dan bawahan.

"Go- gomenne taichou... hum… tapi… wajah taichou tadi benar-benar… huf…."

Kini muka Matsumoto benar-benar merah karena mati-matian menahan tawa. Toushiro BT berat.

"Kalau tidak ada yang mau kau bicarakan, lebih baik kau pergi dari sini!" usirnya dan itu membuat Rangiku-sensei mulai dapat bisa menahan tawanya. Aku menghela nafas. Aku tahu kalau Rangiku-sensei itu jahilnya tingkat tinggi. Beliau adalah guru Bahasa Inggris dan beliau memiliki cara mengajar yang aneh, menurutku. Kau tahu kann? Memanfaatkan keseksiannya, ya... seperti itulah.

"Ok… Ok saya hanya mau membantu anda," ucapnya . Dia mengibaskan rambut blondenya sebelum kembali berbicara. "Saya tahu orang yang mengenal kakak anda dengan baik, dan mungkin orang itu tahu penyebab kematian kakak anda."

Aku bertaruh wajah Toushiro kini mendadak tegang. Aku melihat kedua tangannya terkepal erat.

"Siapa?" tanyanya setelah keheningan yang cukup lama. Rangiku-sensei terdiam. Aku merasa wanita itu sedikit enggan memberitahu taichou-nya. "Ada empat orang yang berhubungan dekat dengan Hinamori Momo-san dua tahun yang lalu," ucapnya. "Dan anda mengenal dua diantaranya…."

Bokutachi no Labyrinth by me :D

"Toushiro?" Aku memanggilnya yang tengah menatap lama buku tebalnya yang lain. heran. Dia punya berapa banyak buku tebal sih? "Kau baik-baik saja?" tanyaku khawatir. Toushiro menatapku datar kemudian mengangguk dengan kaku. "Kau yakin?" tanyaku lagi. dia tidak menjawab. Dia malah berjalan keluar kamar dan menutup pintu dengan sangat tidak sopan. Aku terpaku untuk beberapa saat sampai akhirnya aku sadar bahwa aku harus mengejarnya.

Normal POV

Pemuda itu berjalan pelan. Pikirannya melayang kepada informasi yang diberikan oleh letnannya tersebut. Tinggal selangkah lagi untuk mengetahui apa yang terjadi dua tahun yang lalu itu. tinggal selangkah lagi untuk keluar dari labirin masa lalu yang sering mengganggunya dengan intens. Toushiro terdiam. Perasaan ragu, takut dan… entahlah apa namanya. Dia tidak mengerti perasaan yang kini ada di hatinya.

"Oi… Tou – ukh… Hitsugaya!" panggilan itu membuat Toushiro tersentak kaget.

Are?

Ada di mana dia sekarang? Toushiro menatap sekelilingnya. Secara ajaib, pemuda itu sudah ada di taman asrama.

"Kau mau ke mana sih bodoh?" umpat Karin di belakang Toushiro. Toushiro menatap Karin dengan linglung kemudian hanya bergumam tidak jelas. Karin mendengus.

"Sudahlah, ayo kita siap-siap ke sekolah," ucap Karin kemudian menarik Toushiro. Tanpa sadar gadis itu menggenggam erat tangan Toushiro yang dingin, berbeda dengan Toushiro yang sedari tadi menatap tangannya dan tangan Karin yang saling bertautan. Diam-diam perasaannya menghangat. Untuk alasan yang tidak jelas, pemuda itu merasa nyaman dengan genggaman tangan Karin yang menurutnya hangat itu.

"Hei, anti cowokmu sudah sembuh?" tanya Toushiro membuat Karin menoleh ke belakang dengan bingung. "Kau sudah tidak membenci cowok lagi?" Tanya Toushiro datar sambil melirik tangan Karin yang menggenggam tangannya. Karin yang melihat arah lirikan Toushiro langsung blushing berat.

"U… UWAAA!" teriaknya langsung melepas genggaman tangannya. Melihat tingkah Karin yang menurutnya berlebihan, Toushiro mendecih dan kecewa bersamaan….

Seharusnya dia tidak usah bicara yang macam-macam tadi...

Bokutachi no Labyrinth by me :D

"Yuzu… mana?" ragu-ragu gadis berambut hitam itu bertanya kepada Yachiru yang juga merupakan teman sekamar Yuzu setelah kasus pembunuhan Rukia itu. Yachiru menatap Karin dengan bingung.

"Memangnya Yuzu-chan tidak bilang?" tanyanya. Dengan kaku Karin mengangguk, mengundang kepala Yachiru untuk miring sedikit, posenya dalam berfikir. "Kupikir dia mengatakan alasannya kepadamu, mengingat kalian satu tingkat," ucap Yachiru lagi. Karin terdiam, gadis itu menunduk ketika mendengar ucapan Yachiru. Dulu, Yuzu selalu mengatakan apapun yang ada di kepalanya, tapi sejak kejadian kemarin, masihkah dia berharap Yuzu akan bersikap seperti biasa kepadanya?

"Kalian sedang bertengkar ya?" itu suara Orihime ketika melihat wajah Karin yang terlihat merana.

"Sepertinya begitu," ucap Tatsuki heran.

"Ah, daripada itu, apa Yuzu-chan sakit? mengingat kemarin dia flu, apa sakitnya parah?" Toushiro mencoba mengalihkan pembicaraan sembari tersenyum. Diliriknya Karin yang masih diam menunduk. Sedikit banyak, Toushiro merasa bersalah karena dialah yang menyebabkan Karin dan Yuzu seperti ini.

"Entahlah, saat aku bangun, Yuzu-chan sudah tidak ada," gumam Yachiru sambil mengambil nasinya. "Tapi dia menulis notes bahwa dia mendadak harus pergi karena ada telepon dari kediaman Unohana," ucap Yachiru lagi. "Sepertinya masalahnya serius."

"Eh? Masalah serius apa? Kenapa Retsu-chan tidak dipanggil ke rumahnya?" Tanya Orihime bingung.

Deg!

Toushiro membeku di tempat. Pemuda itu langsung meletakan sumpit dan mangkuk nasi yang baru dihabiskannya setengah.

"Ano… Orihime-san," panggil Toushiro. Orihime yang sedang menyeruput sup misonya hanya bergumam pelan. "Apa anda mengenal Hinamori Momo-san?"

Tiba-tiba saja Orihime tersedak. Tatsuki, meski tadi ikut terkejut dengan sigap memberikan air minum kepada Orihime sembari mengusap-ngusap punggung gadis berambut coklat tersebut.

"Kenapa kau menanyakan itu?" selidik Tatsuki dengan mata disipitkan. "Memangnya kau siapanya Momo?" Tanya tatsuki lagi.

"Aku adiknya," ucap Toushiro pelan. Mendengar itu Toushiro bersumpah melihat mata kedua senpainya itu membulat.

"Oh, begitu?" itu reaksi dari Orihime yang sepertinya sudah bisa mengendalikan rasa terkejutnya. "Uhm… semua anak kelas tiga mengenalnya, benar kan Tatsuki-chan?"

Tatsuki mengangguk. Toushiro mengangkat sebelah alisnya, sepertinya nama kakaknya merupakan hal yang tabu untuk dibicarakan.

"Apa kalian kenal… maksudku akrab dengan kakakku?" Tanya Toushiro.

"Dibilang akrabpun…," Dengan gugup Orihime menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. "Aku dan Momo-chan adalah teman satu klub. Kami ikut dalam klub drama sekolah," ucap Orihime lagi. "Tapi hanya begitu saja, karena dia akrab dengan trio mabudachi( best friends) di sekolah kita," ucap Orihime lagi.

"Trio Mabudachi?" Tanya Toushiro bingung. Dia belum mendengar berita ini dari Rangiku.

"Itu julukan kami," jawaban itu terdengar dari samping Toushiro, membuat yang lainnya terlonjak kaget. Dua orang perempuan dengan nampan makanan yang sudah kosong ada di sana. Seorang perempuan berambut hitam yang di kepangnya ke depan tersenyum lembut kepada Toushiro.

"Isane-senpai, Retsu-senpai," panggil Yachiru sumringah. Mendengar nama yang dipanggil Yachiru membuat tubuh Toushiro dan Karin menegang.

"Karena kesibukanku, aku baru bisa memberi salam kepadamu hari ini, maafkan aku, Hitsugaya Fuyumi-san," ucap perempuan bernama Unohana Retsu dengan senyumnya.

"Apa maksud senpai?" Tanya Toushiro tegang.

"Aku tahu tentangmu dari Chizuru."

Perkataan itu membuat semua orang yang ada di meja itu langsung terdiam, wajah Toushiro menegang.

"Tenang saja," seolah bisa membaca pikiran Toushiro, Isane membuka suara, menatap Toushiro tajam kemudian tersenyum menantang. "Kami tidak menyalahkanmu karena kejadian Chizuru tersebut," lanjutnya membuat Toushiro kemudian tersenyum sinis.

"Terima kasih kalau kalian mengerti," ucapnya.

"Kami bisa memberitahukan mengenai kakakmu, dengan satu syarat, Fuyumi-san," katanya kemudian gadis itu sedikit membungkuk kemudian berbisik. "Bermainlah dengan kami."

"Eh?"

Bokutachi no Labyrinth by me :D

"Aku akan membunuhmu!" perkataan itu terlontar dari perempuan itu. Dengan senyum manis yang terkembang. Gadis itu menatap gadis berambut silver panjang dihadapannya.

"Membunuhku?" Tanya si gadis berambut silver dengan nada sinis kebanggaannya. Terdengar tidak peduli dan tidak terpengaruh dengan ancaman si gadis berambut hitam.

Tapi sebenarnya tidak begitu. Dari sikapnya yang gemetar dan wajahnya yang menegang, semua orang yang melihatnya pasti tahu bahwa gadis berambut silver dan bermata emerald itu tengah ketakutan. Tak terkecuali gadis berambut hitam di hadapannya. Senyum gadis itu semakin lebar. Saking lebarnya membuat matanya menyipit mengerikan. Gadis itu kemudian melangkah mendekati gadis yang amat dibencinya itu kemudian mendekati si gadis yang masih terpaku di tempatnya. Gadis itu menyentuhkan pisau lipat yang sedari tadi digenggamnya ke wajah manis gadis itu.

"Sayangnya, aku masih ingin bermain-main," kata gadis itu membuat mata emerald itu membelalak ketakutan.

"Yak…CUT!"

Suara itu membuat dua gadis yang berhadapan dengan jarak yang dekat langsung saling menjauh sejauh satu langkah.

"Otsukaresama," ucap gadis berambut hitam, Unohana Retsu sembari mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Hitsugaya Toushiro membalas jabat tangan itu.

"Wah.. acting yang mengagumkan, Fuyu-chan!" puji Orihime sembari bertepuk tangan senang.

"Cih, apa sih yang tidak bisa gadis ini lakukan?" Tanya Tatsuki kesal. Toushiro hanya mengumbar senyum simpul andalannya.

"Ah, kalian berdua terlalu memuji," katanya.

"Tapi aktingmu benar-benar bagus, Fuyumi-san," tiba-tiba saja Isane sudah ada di belakang Toushiro membuat Toushiro tersentak kaget. "Pantas saja jika kau mengenalkan diri sebagai adik dari orang itu."

"Apa maksud senpai?" Tanya Toushiro tajam setajam tatapannya kepada gadis itu. Isane hanya terdiam. gadis jangkung itu kemudian membelai rambut Toushiro yang panjang.

"Jangan katakan kalau kau tidak tahu sifat asli kakakmu itu," ucapnya tajam, Toushiro terdiam.

"Cukup Isane," ucap Retsu tegas kemudian dia tersenyum kepada Toushiro.

"Aku berharap dengan adanya kamu, drama tahun ini akan sukses," ucap Retsu sembari pamit pergi. Meninggalkan kesan yang lumayan mengganggu bagi Toushiro.

Bokutachi no Labyrinth by me :D

Judul drama yang akan diperankan oleh Toushiro adalah 'The Sin'. Menceritakan tentang seorang gadis bernama Mizuki yang tanpa sengaja menemukan seorang malaikat cantik bernama Rin yang tengah terkapar dengan sayap yang terlepas dari punggungnya. Mizuki menolong Rin kemudian mengajaknya tinggal bersama berhubung Mizuki yang memang tinggal sendiri. Awalnya hubungan mereka baik bagaikan adik dan kakak tapi lama kelamaan Mizuki merasakan kalau Rin terlalu bersikap posesif kepadanya. Rin akan memandang tajam orang-orang yang mendekati Mizuki. Puncak dari drama ini adalah saat Daisuke, orang yang menyukai Mizuki – begitupun sebaliknya – mengajak Mizuki pacaran. Mizuki senang karena Daisuke juga menyukainya dan hal itu memicu keanehan lain yang ditunjukan oleh Rin. Rin jadi sering marah, nyaris melukai dirinya sendiri dan tidak jarang Rin mengganggu hubungan Mizuki-Daisuke.

Mizuki yang akhirnya kehilangan kesabarannya, dengan tatapan marah bertanya dan memarahi Rin, tapi jawaban yang diterima dari Rin justru membuat Mizuki kaget.

"Karena Mizuki adalah milik Rin."

Toushiro melempar skrip naskah dengan kesal. Dia merasa dirinya bodoh karena mengikuti drama yang menurutnya aneh ini.

"Aku tidak menyangka kau akan menjadi Mizuki," suara itu membuat Toushiro mendelik. Kurosaki Karin ada di sana, dengan senyum meremehkan.

"Urusai!" bentak Toushiro murka. Sementara Karin masih mempertahankan tawa gelinya. Kemudian Karin duduk tepat di sebelah Toushiro dan menyerahkan sebotol minuman yang langsung diterimanya.

"Oi Toshiro," panggil Karin dan hanya dijawab 'hn' oleh Toushiro.

"Demi kakakmu, kau rela menyamar menjadi perempuan, kemudian kau rela masuk klub drama, apa kakakmu sebegitu berharganya bagimu?" tanya Karin membuat Toushiro terdiam dengan ekspresi tak bisa didefinisikan. Toushiro menggenggam botol minumannya dengan erat.

"Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?" tanya Toushiro.

"Sekedar ingin tahu saja," ucap Karin.

"Dia berharga," ucap Toushiro singkat, intonasi suaranya terdengar kaku namun serius. "Orang pertama yang membuatku tahu bagaimana rasanya dipermainkan," ucap Toushiro lagi membuat Karin langsung menoleh kepada teman sekamarnya.

Angin berhembus pelan, memainkan helai demi helai rambut keduanya, di mata Karin saat ini, terpampang wajah Toushiro yang menatap ke depan dengan ekspresi terluka.

GREP!(?)

Toushiro membelalakkan matanya ketika seorang Kurosaki Karin memeluknya. Kedua lengannya memeluk kepala Toushiro dan membawa kepala Toushiro dalam pelukannya dengan erat.

"Ka –"

"Urusai!" potong Karin dengan nada membentak, sungguh gadis itu tak mengerti kenapa tubuhnya melakukan ini. Yang jelas, saat melihat ekspresi terluka terpasang di wajah datar Toushiro membuat Karin tidak suka dan tiba-tiba saja tubuhnya bergerak untuk melakukan hal seperti ini, memeluk pemuda menyebalkan di dekatnya, berharap dengan pelukan darinya pemuda itu akan mengurangi kesedihan yang bergelayut di dalamnya.

Dan harapan Karin sepertinya dikabulkan oleh Tuhan. Di dalam pelukan Karin, pemuda berambut silver itu tersenyum, sedikit bebannya terkurangi entah karena apa, wajahnya sedikit merona menyadari bahwa Karin memeluknya. Toushiro bisa mendengar detak jantung Karin yang berdetak dengan kencang, membuatnya merasa nyaman dan jantungnya ikutan berdetak dengan tidak normal. Toushiro kemudian menggerakan kedua tangannya, hendak membalas pelukan Karin namun...

"Wah... wah..."

Dengan refleks Karin mendorong Toushiro dan menjauhkan tubuhnya beberapa meter dari Toushiro, membuat tangan Toushiro melayang tak jelas di udara.

"I-Ichimaru-sensei!" pekik Karin dengan wajah super duper merah, dihadapannya seorang lelaki berusia sekitar 20-an tengah berdiri dengan senyumnya yang lebar.

"He... sepertinya aku mengganggu," ucap Ichimaru Gin dengan nada di buat-buat. Lelaki itu kemudian mendekati Karin. "Tapi mengganggu gadis-gadis manis yang sedang bermesraan tak membuatku merasa bersalah," ucapnya lagi kemudian lelaki itu menyentuh helai rambut Karin, membuat Karin langsung tersentak dan menggigil ketakutan.

Bagaimanapun juga, Karin masih tidak suka – bahkan takut – disentuh oleh manusia berkelamin pria.

"Kalau gadis-gadis manis seperti kalian berpasangan, pasti akan banyak cowok yang langsung patah hati," lanjut Ichimaru Gin kemudian lelaki berusia 20-an itu merendahkan wajahnya, memposisikan bibirnya untuk mengecup helaian rambut yang ada di genggamannya namun...

Karin terdorong belakang, helaian rambut yang ada di genggaman Ichimaru terlepas dengan paksa. Toushiro ada di sana, berada di tengah antara Karin dan Ichimaru dengan wajah tegas. Ichimaru Gin menyeringai.

"Jangan macam-macam ero-sensei," ucap Toushiro sewot dengan tiga siku di dahinya membuat laki-laki dihadapannya semakin menyeringai lebar.

"Ah! Sang 'seme' cemburu, heh?" ledek Ichimaru membuat aura gelap keluar dari tubuh Toushiro, sementara Karin? Wajahnya sudah merona merah.

"Kita pergi!" ajak Toushiro sembari menggandeng tangan Karin dan berjalan melewati Ichimaru Gin.

"Hitsugaya Fuyumi-san," panggil Ichimaru Gin membuat Toushiro langsung berhenti, namun tidak berminat untuk berbalik melihat wajah laki-laki berambut silver itu. "Berhati-hatilah dengan segala tindakanmu, bocah," ucap Ichimaru lagi, setengah mengancam. Toushiro hanya menggedikkan bahu.

"Terimakasih atas perhatian tak bergunamu, sensei," ucap Toushiro sambil berjalan pergi begitu saja.

Bokutachi no Labyrinth by me :D

"Toushiro!" panggil Karin sambil menunduk. Toushiro tak menanggapi. "Oi, Toushiro!" panggilan Karin naik satu oktaf, tapi tinggi suaranya masih bisa dikategorikan sebagai sebuah bisikan. "Hei!" kali ini, bukan lagi warna merah yang menghiasi wajah Karin, tapi lebih kepada tiga siku yang menghias dahinya.

"Hn."

Beruntung kali ini, Toushiro menjawab, meski tanpa menoleh dan masih berjalan di depan Karin.

"Sampai kapan kau mau menggenggam tanganku," ucap Karin lirih.

Deg!

Langkah Toushiro terhenti,begitu juga dengan Karin. Butuh waktu beberapa detik untuk Toushiro dapat mencerna perkataan Karin.

Sedetik... dua detik...

BETS (?)

Dan dengan kecepatan cahaya, Toushiro menarik tangan yang menggenggam tangan Karin dengan wajah yang merah.

"Gomen," ucap Toushiro singkat dan lirih sambil berbalik ke arah lain, kemanapun asal jangan wajah Karin, sementara Karin? Gadis tomboy itu menunduk dengan wajah merah sembari memainkan jarinya,gugup. Entah sejak kapan gadis berambut hitam itu meniru kebiasaanHyuuga Hinata dari fandom lain.

Bokutachi no Labyrinth by me :D

Hitsugaya Toushiro berjalan pelan sambil menggerutu tak jelas. Suasana tadi benar-benar membuatnya tak enak hati, entah kenapa jantungnya berdebar kencang begitu mengingat perlakuannya tadi terhadap Karin. Entah kenapa sikapnya tadi seperti seseorang yang marah karena miliknya diganggu orang lain.

Toushiro mendadak berhenti berjalan. Otaknya kembali mengulang pemikirannya tadi. seperti seseorang yang marah karena miliknya diganggu orang lain? Jadi Karin adalah milik Toushiro?

Katts...

Muka Toushiro memerah, rasanya panas tubuhnya berkumpul di kedua pipinya dan merambat sampai ke ubun-ubun.

Toushiro menutup wajahnya dengan sebelah tangannya, menyembunyikan warna merah di wajahnya.

Apa mungkin dia menyukai... Karin?

"Fuyumi-chan," panggilan itu membuat Toushiro tersentak, pemuda itu menoleh mendapati seseorang yang tengah sibuk dengan berbagai peralatan di tangannya, entah apa saja itu. Kalau kau tidak sibuk, apa kau bisa membantuku?" tanyanya, hening sejenak sampai akhirnya Toushiro menjawab – dengan senyum palsunya,

"Tentu saja, apa?"

"Tolong ambilkan sayap yang akan digunakan olehmu saat pentas nanti, kami ingin melihat apa kau cocok dengan sayap yang kami buat atau tidak."

"Eh? Memangnya ada adegan saat aku memakai sayap?" tanya Toushiro bingung. Seingatnya gadis itu berperan sebagai manusia biasa, bukan sebagai malaikat.

"Ya, di adegan terakhir, kau akan memakai sayap, Mizuki-san," kata orang itu sembari tersenyum. Toushiro mengangguk-angguk mengerti, nanti dirinya akan membaca kembali naskahnya.

"Jadi, Kau bisa mengambilkannya di gudang?"

"Ok!" sahut Toushiro kemudian melangkah pergi menuju gudang. Pemuda itu kemudian berjalan ke arah belakang gedung, ke arah gudang sembari memainkan ponselnya.

"Disini ya?" gumamnya ketika tepat di ujung tempatnya berada, Toushiro melihat sebuah pintu bertuliskan Gudang. Lalu, pemuda itu langsung membuka pintu gudang dan...

JLEB!

Mata Toushiro terbelalak lebar ketika sesuatu menembus tubuhnya. Toushiro menatap ke bawah, sebuah panah menancap di sekitar dadanya. Darah keluar dari tempat panah yang menancap ke tubuhnya itu.

"Ukh…"

Toushiro merintih, kemudian tubuhnya terjatuh dengan posisi duduk, menubruk pintu yang baru terbuka setengahnya sehingga terbuka seluruhnya. Toushiro memegang dadanya, kemudian sebelah tangannya mencoba meraih ponsel yang terjatuh di sekitar tubuhnya, namun gagal.

"Kh..."

Tiba-tiba saja pemuda berusia tiga belas itu merasakan nafasnya sesak. Tunggu, apa yang terjadi padanya? Kenapa rasanya dia tidak bisa bernafas dengan normal? Apakah karena panah yang tertancap di tubuhnya tepat mengenai titik vitalnya?

Pandangan Toushiro mengabur, mata emerald itu sedikit demi sedikit kehilangan cahaya hidupnya, yang terakhir kali yang dilihat Toushiro adalah Ponsel yang tidak bisa diraihnya dan...

"Toushirou!"

Toushiro memaksakan dirinya untuk tetap membuka mata, di hadapannya kini ada Karin, teman sekamarnya yang menatapnya dengan khawatir.

"Toushiro! Toushiro!" panggil gadis itu panik, Toushiro tersenyum lemah, dengan gemetar pemuda itu mengambil sebelah tangan Karin dan menatap wajah penuh kecemasan itu.

"Pa-panggil..." ucapnya dengan terpatah-patah. "Panggil Ichimaru Gin... Ja-jangan... kh... panggil siapapun lagi karena a-aku... ma-masih belum boleh ketahuan..."

Dan kemudian gelap yang dilihat Toushiro beserta teriakan Karin yang memanggil namanya yang semakin jauh terdengar...

Bokutachi no Labyrinth by me :D

Toushiro POV

Saat aku membuka mata, aku berada di ruangan serba putih. Aku menatap ke sekelilingku. Semuanya putih dan tak ada siapapun di sini, selain aku.

Apakah aku sudah mati?

Apakah ini yang namanya surga?

Aku menggeleng, aku tak mungkin mati hanya karena tertancap panah seperti itu. Panah itu tidak beracun dan tidak mengenai titik vitalku. Jadi aku tidak mungkin mati.

Aku berlari ke depan, tak ada jalan selain warna putih yang memusingkan mataku. Aku hampir putus asa dan meyakini bahwa kini aku berada di akhirat. Ya, mungkin saja aku telah mati kan?

"...-chan."

Deg!

Aku menegakkan tubuhku, tegang. Hei, suara itu...

"Shiro-chan."

Secepat kilat aku menoleh ke belakang, di belakangku samar-samar aku melihat sesosok tubuh seseorang. Orang yang sangat ku kenal, orang yang menjadi alasanku masuk ke asrama perempuan.

Hinamori Momo, kakak tiriku.

Aku terhenyak, tubuhku benar-benar kaku sekarang. Menatap orang dihadapanku dengan tampang horor yang kumiliki.

Dan Momo dengan wajah tanpa ekspresi mendekatiku.

"Shiro-chan," panggilnya sambil menjulurkan sebelah lengannya, hendak mengelus pipiku namun dengan refleks aku menghindar...

... dengan tubuh yang gemetaran.

"Ah... A-aku...," ucapanku terbata-bata. Sedikit menengadah aku menatapnya yang tengah memiringkan wajahnya dengan mata yang nyaris tanpa kehidupan cahaya, kemudian mulutnya membuka dan menutup menyusun serangkai kata,

"... - ... -..."

Aku hanya bisa meringis ketika menangkap perkataannya.

"Toushiro!"

Aku tersentak, membuka paksa mataku dan itu menyebabkan kepalaku pening, namun begitu aku melihat wajah Karin yang menatapku dengan khawatir, rasa peningku menghilang, begitu saja.

Ya, begitu saja...

Bokutachi no Labyrinth by me :D

"Biaya kamar rumah sakit, 30.000 yen, menjahit luka 10.000 yen, dan transportasi 5000 yen," aku hanya bisa sweatdrop mendengar ocehan tentang biaya dari orang berambut perak dihadapanku. "Jadi total biaya yang harus kukeluarkan adalah 45.000 yen. Kau berhutang kepadaku, Hitsugaya-kun," lanjutnya. Aku hany amengangguk sebal.

"Segera setelah urusan ini kelar, aku akan membayar semuanya... sekaligus dengan bunganya," ucapku cepat dan itu membuat bibirnya semakin melengkung ke atas, menyeringai. "Ah, aku paling tidak ingin berhutang kepadamu, Gin," kataku.

"Sayangnya kau sudah berhutang kepadaku, Hitsugaya-taichou," ucapnya dengan nada meledek. Aku tersenyum pahit. Oh apakah takdir sedang berpihak padanya? Agar dia bisa seenaknya mencampuri urusanku ini? Ukh... "Nah, Lalu?" pertanyaan yang tak jelas dari Ichimaru membuatku menengadah menatap matanya yang selalu menyipit dengan senyum yang terlalu lebar.

"Lalu apa?"

"Apa yang akan kau lakukan? Kau jelas sedang diincar seseorangkan?" tanyanya, tapi menurutku itu lebih kepada sebuah pernyataan.

"Tidak juga," kataku. "Gudang sekolah selalu didatangi siapapun. Jika memang orang itu mengincarku, ceroboh sekali kalau dia meletakkan alat pembunuh di tempat yang kecil kemungkinannya akan kudatangi."

"Kecuali kalau pelaku yang memancingmu," potong Ichimaru Gin. Ya... memang benar sih...

"Kalau begitu, aku tidak bisa mengabaikan kemungkinan kalau aku bisa diincar oleh pelaku, kan?"

"Ya, benar, lalu?"

Diam sejenak. Mata emeraldku memandang Ichimaru Gin lekat, kemudian aku tersenyum, senyum seolah pertanyaan yang diajukan olehnya tadi adalah pertanyaan paling bodoh yang pernah kudengar.

"Aku akan tetap mengikuti dramanya!" cetusku. Mendengar itu senyum Ichimaru semakin lebar, hanya sedetik karena setelah itu, dia memasang wajah seolah-olah ini akan merepotkan baginya.

"Kalau begitu aku yang akan menjagamu, Hitsugaya-kun," katanya dengan nada yang dibuat-buat, aku memutar bola mata kesal. Yayayaya, kalau ada dia di sini, berarti dia memang harus 'menjaga'ku, pasti.

"Ekhem," suara deheman itu terdengar di sampingku. Aku dan – sepertinya – Ichimaru Gin langsung menoleh ke arah suara. Karin ada di sana, dengan wajah tertekuk dan kedua tangan yang disilangkan di depan dada, menuntut sebuah penjelasan. "Maaf mengganggu waktu berbincang kalian berdua, tapi bolehkah aku tahu ada apa?"

"Apa maksudmu 'ada apa'?" kataku.

"Well," ucapnya dengan nada kesal. "Dimulai dari, ada hubungan apa diantara kalian?"

Pertanyaannya membuat kami saling berpandangan. Aku menggedikkan bahu, dan Ichimaru Gin yang tadi sempat melepaskan senyumnya kembali tersenyum. Laki-laki itu kemudian berjalan selangkah di depanku

"Ekhem," dia berdehem dengan gaya yang memuakkan bagiku kemudian dengan gaya memperkenalkan diri bak pangeran kepada putrinya, Ichimaru Gin melanjutkan, "Namaku Ichimaru Gin, aku kapten divisi 3 dari seireitei, Nah, mohon bantuannya, Kurosaki Karin-san," dan kata-kata itu sukses membuat Karin melongo, makin tidak mengerti.

To Be Continued

A/n :

Err... Hai~! *lambai-lambai tangan, langsung ditimpuk. Huwee... maaf~

Lama banget gak update fict ini, gomenne~

Gimana sama chap ini? Pasti kurang memuaskan, huhuhu~

MAAF YA... POKOKNYa bagi yang udah baca review ya~

Hehe

Sign
Fuyu-yuki-shiro