Disclaimer : Eyeshield 21-Riichiro Inagaki & Yusuke Murata. Kalo fict ini sih punyanya Shiroku^^
Pairing : HiruMamo
Rating : T for Tolol *plakplakplak*
Genre : Romance/Drama
WARNING : fict ini mengandung OOC, AU ah gelap (?), semi canon *maybe? –plak-*, typo(s), gaje, abal, de es beh…
Chapter 2
"Ng…?", aku bergumam saat handphoneku berdering. Sial! Kukira Hiruma meneleponku, tapi alarmlah yang membangunkanku.
Aku mengutak-atik handphoneku dan mencari pesan atau apa saja yang berkaitan dengan Hiruma. Tapi, tak ada satupun pesan masuk dari Hiruma. Aku mengusap kedua mataku dengan punggung tanganku agar aku bisa melihat dengan jelas kenyataan ini. Tapi, memang benar. Aku sedang tidak bermimpi. Hiruma tidak mengirimkan pesan atau menghubungiku. Ini aneh! Tidak biasanya iblis itu mengabaikanku seperti ini. Apa dia benar-benar marah karena kejadian semalam? Tapi apa salahku sih? Dia benar-benar membuatku gila!
"Kruyuk…."
Ah, sial! Perutku sepertinya sudah protes kepadaku karena semalam aku tidak mengisinya. Yah, aku hanya memakan permen karet sialan ditambah dengan cup cake yang ukurannya kecil pula. Aku hanya mendengus kesal dan mulai berjalan menuju dapur. Sesampainya di dapur apartemenku, aku tidak melihat bahan baku untuk memasak ataupun snack yang bisa kumakan. Ah! Menyebalkan! Aku harus membeli makanan sekarang juga. Akhirnya aku bersiap-siap untuk membeli makanan.
Sekitar 15 menit kemudian, aku segera menuju restoran cepat saji ataupun supermarket yang bisa aku kunjungi. Saat kepalaku sedang waspada melihat kiri kanan untuk mencari restoran, handphoneku tiba-tiba berdering.
"Halo?"
"Hei, pacar sialan! Kau kemana? Cepat ke markas!", kata seseorang yang menghubungiku.
"Chotto mattekure! Aku sedang mencari makanan! Aku belum sarapan. Toh ini kan masih pagi sekali", jawabku.
"Kau harus ke markas SEKARANG JUGA!"
"Tapi kan…"
"Nanti kita mencari sarapan bersama!"
Belum sempat aku menjawabnya, sambungannya terputus. Aku masih mencerna kalimat yang dikatakan orang tadi. Sarapan bersama? Hiruma mengajakku? Bersama? Aku tidak percaya ini! Tampak sebuah senyuman melengkung indah di wajahku. Aku tidak memikirkan lagi tentang apa tujuan Hiruma menyuruhku ke markas! Aku tidak peduli. Aku hanya peduli dengan sarapan bersama kami yang pertama! Apakah ini bisa dibilang kencan pertama kami? Entahlah. Aku sungguh tak peduli. Aku segera bergegas menuju markas Deimon Devil Bats, sambil terus memegangi perutku karena kelaparan.
Sesampainya di markas Deimon Devil Bats, aku segera mencari sosok pria yang sangat aku butuhkan sekarang. Tak berapa lama kemudian, aku menemukannya sedang menggunakan seragam rugby-nya.
"Hiru…"
"Tidak usah memanggilku! Aku sudah tahu kedatanganmu, pacar sialan", sapaanku terpotong oleh kata-kata pedasnya.
"Hah… Untuk apa kau menyuruhku kemari?", aku hanya pasrah dengan sikapnya itu.
"He? Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kau sudah amnesia? Tentu saja kau harus bekerja mencatat daftar kegiatan kami!", pemuda berambut jabrik itu tidak memandangku.
"Tapi… Kapan makannya?", aku memelas.
"Nanti! Setelah timku selesai latihan", dia beranjak pergi dari hadapanku.
APA? Setelah selesai latihan aku baru boleh makan? Ini penyiksaan! Bayangkan saja, tim Deimon Devil Bats kalau latihan sampai 2 jam atau lebih. Aku hanya memegang perutku dan menampangkan wajah konyolku untuk menahan rasa laparku. Aku hanya mematung di ambang pintu masuk markas.
"Hei! Apa yang kau lakukan? Ayo kerja!", pemuda berambut jabrik itu mengagetkanku dari belakang dan sukses membuat jantungku nyaris lepas.
"Baiklah… Baiklah… Aduh… Aduh…", aku berjalan terhuyung-huyung saat mendekati dokumen laporan kegiatan tim Deimon Devil Bats yang tergeletak di meja depanku.
Pemuda err... Kekasihku tidak memberikan respon apapun. Dia hanya menungguku dengan senjata kesayangannya yang digantung di pundak kanannya. Aku mengambil dokumen itu dan segera menyusul Hiruma yang menungguku.
Hiruma berjalan membelakangiku. Sepertinya dia tidak memiliki rasa kasihan kepadaku yang sedang kelaparan ini. Apa dia tidak memiliki hati? Apa dia benar-benar anak iblis? Harrrgggg! Begitu banyak pertanyaan konyol tentangnya. Akhirnya, kami sampai di lapangan tempat tim Deimon Devil Bats latihan.
"Ayo siap-siap!", Hiruma sang kapten mulai berteriak memberikan komando ke seluruh anggota timnya. Serentak mereka semua memposisikan diri mereka sesuai dengan strategi yang diberika oleh sang kapten.
Aku hanya memandangi mereka dengan tatapan malas dan tentu saja…. Lapar. Itu yang utama. Aku terus menggosok-gosokkan perutku berharap dia berhenti berdemo. Kegelisahanku kian meningkat ketika aku merasakan lambungku terasa sakit dan keringat dingin mulai bercucuran.
"Mamo-nee? Kau kenapa?", rupanya Suzuna memperhatikan gerak-gerikku.
"Ah, tidak apa-apa kok", aku mengakkan posisi dudukku yang sedari tadi membungkuk.
"Kau yakin, Mamo-nee?", Suzuna mendekatiku.
"Astaga, Mamo-nee! Kau pucat sekali!", tampak wajah energik Suzuna memudar karena kepanikannya.
"Aku tidak apa-apa", aku mencoba tersenyum tipis dengan bibirku yang semakin mengering ini.
"Mamo-nee sudah sarapan?"
"Sudah kok. Sudah. Tenanglah… Tidak usah mengkhawatirkanku", aku mencoba menutupi rasa perih di perutku ini dengan senyuman konyol.
"Tapi wajah Mamo-nee pucat sekali"
"Tidak. Mungkin aku hanya kelelahan. Tunggu sebentar, ya? Aku mau ke toilet dulu", aku mencoba menghindar dari pertanyaan Suzuna yang semakin membuat perutku kelaparan dan perih.
Aku segera menuju toilet yang jaraknya tidak begitu jauh dari lapangan itu. Sesampainya di toilet, aku hanya memandangi wajah konyolku di depan cermin toilet. Betapa konyolnya wajahku jika sedang kelaparan. Begitu pucat seperti mayat yang sedang diawetkan. Aku benar-benar lapar. Haruskah aku kabur dari sini dan mencari restoran cepat saji? Ah, tidak! Jika aku melakukan itu, Hiruma akan membunuhku.
"Ukh….", aku bergumam kesakitan saat perutku kembali perih dan terus protes untuk segera diisi dengan okonomiyaki atau apa saja bisa aku makan. Tapi, aku harus bagaimana? Kabur?
"Kruyukkk….~",
CUKUP! Aku sudah muak dengan ini! Aku akan kabur dan makan sepuasnya! Persetan dengan celotehan Hiruma yang membuat telingaku sakit. Aku segera melangkah keluar toilet dan mengendap-endap pergi dari lapangan neraka ini. Ya, sejauh ini aksi kaburku tidak diketahui siapa pun. Aku mempercepat langkahku dan…
"MAMO-NEE! Kau mau kemana?"
Sial! Anak itu memergokkiku! Aku hanya mendengus kesal dan pura-pura tidak mendengar teriakkannya.
"Lho? Hei, MAMO-NEE!", anak itu kembali memanggilku dan sekarang aku bisa merasakan bahwa dia sedang mengejarku dengan rollerbladenya itu. Aku segera berlari pelan dan akhirnya aku berlari sekuat tenaga.
"MAMO-NEE! Tunggu!"
Aku terus berlari tanpa memeperhatikan tenaga yang sudah tinggal sedikit lagi. Kakiku terasa berat, kepalaku pusing, mataku tidak melihat apa-apa selain keburaman. Dan 1…2…3...
"BRUUKKK….~!"
"MAMO-NEE!", Suzuna terus berteriak.
"Tolong! Siapa saja! Tolong Mamo-nee!", dia terus berteriak meminta tolong. Sedangkan aku? Aku hanya tidak berdaya mencium tanah tempatku berbaring sekarang.
"Hoi! Kau tidak apa-apa?", itu adalah suara yang aku dengar pertama kali.
Kepalaku terasa berat sekali dan pening. Mataku terus saja berkunang-kunang tidak karuan. Dan akhirnya, mataku menangkap sebuah pria yang berambut kuning jabrik yang sudah familiar bagiku, Hiruma. Yah, benar. Dia Hiruma. Aku menatap wajahnya yang sedikit panik itu. Aku merasakan sesuatu yang lembut di kepala bagian belakangku. Begitu nyaman dan… He? Lembut?
"HIYAHHH~!", aku segera bangun dan menarik selimut yang ada di kakiku.
Hiruma hanya menatapku dengan tatapan khasnya. Tatapan yang penuh dengan teka-teki yang tidak bisa aku pecahkan.
"Di… Dimana ini? Aku kenapa?", aku meraba kepalaku yang sepertinya terdapat perban terlilit disana.
"Kau dirumahku. Tepatnya di kamarku", jawab Hiruma dengan tenang.
"APAAA? Rumahmu? Kamarmu?", aku menutupi badanku dengan selimut dan bergidik ngeri.
"Tenanglah, pacar sialan! Aku tidak akan macam-macam padamu!", Hiruma pergi meninggalkanku.
"Hei… Hei! Kau mau kemana?"
"Mengambil makanan"
"He? Untuk apa?"
"Tentu saja untuk dimakan! Memangnya untuk apa lagi? Untuk menggantikan bole rugby, he?"
"Terserah kau saja lah", aku bangkit dari tempat tidur Hiruma yang king size itu.
"Kau mau kemana?"
"Pulang", aku sudah tidak betah di tempat ini.
"Hei! Kau mau pingsan di tengah jalan lagi? Lebih baik kau makan dulu disini! "
"Ah, tidak usah. Aku akan beli makanan saja", aku sweatdrop.
"Aku tahu maksudmu! Tenang saja, makana yang akan kuberikan padamu tak akan beri racun!"
"He? Racun? Bukan…bukan! Aku tidak berpikiran seperti itu"
"Lalu apa? Takut masakanku tidak enak, he?"
"Bukan! Aku tidak lap…."
"Kruyuk….", belum sempat aku melanjutkan kata-kataku, perutku sudah memotongnya dengan nada yang memuakkan.
"Tidak lapar, ya? Kekekekekekeke! Baka! Lebih baik kau tidur saja daripada kau berlari-lari mencari makanan! Aduh… Konyolnya", Hiruma meninggalkanku dengan hadiah sebuah ejekan yang membuatku sukses kesal dengannya. Tapi… Apa Hiruma bisa masak, ya? Aku mulai khawatir.
Aku duduk di sisi tempat tidur Hiruma dan mataku menjelajahi seluk beluk kamar ini. Dindingnya didominasi warna dark blue yang membuat kamar ini menjadi gelap. Aneh! Apa Hiruma tidak suka warna cerah? Seperti pink? Aku terkikik geli saat membayangkan Hiruma menggunakan kostum balerina yang didominasi warna pink cerah dengan wajah Hiruma yang merona. Ahahaha… *SUMPAH! Authornya ikut ketawa waktu nulis ini*.
"Aduh… Manisnya…", aku terus saja membayangkan Hiruma.
"Apanya yang manis?", tiba-tiba Hiruma sudah ada di depanku dan sukses membuatku kaget dan membuyarkan imajinasi konyol tentangnya.
"Ah… Tidak. Tidak apa-apa", aku menahan ketawaku.
"Ya sudah kalau begitu. Kau keluar sana!"
"He? Kau mengusirku?"
"Bukan, baka! Aku mau mengganti baju! Aku gerah memakai baju ini!", Hiruma menunjuk seragam Amefuto yang ia gunakan.
"Hei, hei, tunggu!", Hiruma mendorongku keluar dari kamarnya.
"Jangan mengintip, ya? Kekekekekeke"
"Apa katamu!"
"BLAM!", Hiruma menutup pintu.
Huh… Membosankan. Aku harus menunggu Hiruma untuk mengganti pakaiannya. Aku ingin makan! Hei, tunggu sebentar. Apakah saat memasak, Hiruma masih menggunakan seragam Amefutonya?
"AHAHAHAHAHAHAHA!", sungguh! Aku tidak menahan tertawaku ini. Aku melepaskannya hingga tawaku semakin meledak.
"Ada apa sih dengan dirimu?", tiba-tiba Hiruma membuka pintu kamarnya dan dia sudah mengganti bajunya dengan T-shirt putih yang kontras dengan tubuhnya. Tak lupa pula dengan celana jeans panjangnya.
"Emp! Aku tidak apa-apa kok", aku membungkam mulutku dengan kedua tanganku. Menahan tawaku agar tidak meledak lagi.
"Dasar aneh!", Hiruma menarik tanganku dengan kasar. Aku hanya mengikutinya.
Hiruma mengajakku ke ruang makannya. Saat perjalanan menuju ruang makannya, aku terus saja menjelajahi seluruh ruangan yang ada di rumah Hiruma dengan kedua bola mataku. Rumahnya begitu besar seperti manor house dalam komik yang pernah aku pinjam dari Sena. Aku baru tersadar bahwa ini adalah kunjunganku yang pertama ke rumah Hiruma. Hiruma tak pernah bercerita apapun tentang dimana dia tinggal, seperti apa rumahnya, ataupun pengalaman-pengalaman hidupnya. Dia sangat tertutup. Tak pernah dia menceritakan sedikitpun tentang dirinya kepadaku.
"Nah, sudah sampai. Makanlah sepuasnya mumpung kau ada disini", Hiruma duduk di kursi makan.
Aku hanya cengo melihat itu semua. Bayangkan saja, makanannya begitu banyak dan tertata rapi. Aku tidak percaya jika Hiruma memasak sendiri dan menata ini semua.
"Hei, pacar sialan! Kau tidak mau makan? Ya sudah. Biar aku yang habiskan semua", Hiruma menyantap makanannya sendiri.
Aku duduk di kursi makan yang sudah ia siapkan. Baiklah… Ini saatnya aku menghabiskan masa laparku! SAATNYA MAKAN DIMULAI!
Aku memakan makananku dengan lahap. Sampai-sampai sepasang bola mata Hiruma mengamatiku dan menghela nafasnya.
"Sepertinya kau benar-benar kelaparan, ya?", tanyanya padaku.
"Hn…", hanya gumaman yang aku berikan padanya.
"Tapi, tunggu sebentar", aku menghentikan acara makanku.
"Hm?"
"Apakah kau yang membuat ini semua?"
"Tentu saja! Kau tidak percaya, ha?"
"Tentu saja tidak! Bagaimana seorang Yoichi Hiruma yang seperti iblis bisa membuat makanan seenak ini?"
"Terserah kau saja! Apa kau mau melihatku masak?"
'Pik…..', mataku langsung menatapnya dengan penuh heran. Sepertinya dia bersungguh-sungguh.
"Kenapa dengan wajahmu? Tidak usah seperti itu!", Hiruma melahap makanannya lagi.
Aku hanya mengangkat bahu dan melahap makananku lagi.
"Domo arigatou atas makanannya, Hiruma-kun!"
"Hn… Oh iya, jangan lupa makan ini", Hiruma melemparkan sebuah permen karet rasa mint ke arahku.
"He? Tidak usah, Hiruma-kun"
"Makanlah"
"Tidak usah. Makanan tadi sudah cukup untukku"
"MAKAN!"
'Glek…', aku hanya menelan ludahku dan menatap permen rasa mint yang kubenci. Aku sudah tidak menolaknya atau membuangnya. Mata Hiruma terus mengawasiku. Akhirnya, dengan penuh terpaksa, aku memakannya.
"Huwahh… Hah… Hah….", aku memejamkan mataku karena reaksi mint ini membuat lidahku terbakar.
"Bagaimana? Enakkan? Kekekeke…", Hiruma menertawaiku.
"Puah!", aku membuang permen itu di sembarang tempat.
Aku mengipas-ngipasi mulutku dengan tanganku. Pedas, panas, dan terbakar. Itulah sensasi yang aku rasakan.
"Hih… ruma…kun! Hah… Hah… Huwahhh! Masih pedas! Gimana nih?", aku meminta Hiruma sang pakar mint menolongku.
"Mana kutahu"
"Ini… Hah… Semuah… Salahmuh!", aku terus mendesah kepedasan.
Hiruma sepertinya menikmati aksi konyolku yang lidahnya sedang terbakar ini. Sesekali Hiruma tersenyum tipis melihat tingkahku ini.
"Kumohon… Hiruma-kun…", aku memohon kepadanya untuk segera membantuku menghilangkan rasa panas di lidahku ini yang sekarang menjalar ke tenggorokanku.
"Ah, baiklah. Minum saja air putih itu"
Aku segera menyaut gelas yang penuh dengan air putih yang ada disampingku. Baru 1 tegukkan, aku sudah menghentikan meneguknya.
"Kenapa?"
"Rasanya aneh"
"Coba minum lagi"
Aku meminum lagi dan rasanya masih sama seperti awal. Begitu sejuk. Aku bisa merasakan kesejukan yang menjalar dari lidah kemudian ketenggorokanku. Aku merasa nyaman ketika perutku dimanjakan dengan rasa sejuk.
"Rasanya…."
"Hn?"
"Sejuk"
"Kekekekekekeke… Memang begitu rasanya jika kau memakan permen mint lalu meneguk air putih! Dasar baka! Kau tak pernah mencobanya, ya?"
Aku hanya menggelengkan kepalaku dan terus menatap gelas yang ada di tanganku.
"Arigatou atas makanannya, Hiruma-kun!", aku melanglah keluar dari rumahnya.
"Hn… Kau tak mau ku antar?"
"Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri kok!"
"Kau yakin?"
"Tentu sa…", aku membuka pintu keluar Hiruma dan cengo melihat kondisi jalan yang tidak aku kenal.
"Ini dimana?", aku bergumam kecil.
"Nyahaha… Sudah ku bilangkan? Lebih baik kau kuantar pulang saja!", Hiruma menarik tanganku.
Tangannya dingin. Ya, tidak seperti biasanya tangannya dingin seperti ini. Dia terus menggenggam tanganku. Begitu erat. Hei, tunggu dulu! Aku menyadari sesuatu!
"Sebentar!", aku menarik tanganku.
"Cih… Ada apa lagi sih?", Hiruma berdecak kesal.
"Apa kau tidak menyadarinya, Hiruma-kun?"
"Apa?"
"Kita sudah makan bersama dan kau mengantarkanku pulang… Apa kau tidak menyadarinya?"
"Tidak. Bukankah ini biasa! Ayo cepat pulang! Hari sudah semakin sore!", Hiruma kembali menarik tanganku.
Hih… Apa-apaan dia ini! Seharusnya dia berkata, 'Ya! Aku menyadarinya! Seharusnya kita melakukan ini dari dulu'. Tapi dia tidak menjawab seperti yang aku harapkan.
"Hiruma-kun, ini jalan apa sih? Aku kok baru tahu, ya?", aku memulai pembicaraan.
"Namanya jalan CEREWET!", dia menekankan kata 'CEREWET'.
"Ck… Ayolah, Hiruma-kun! Jangan bertingkah dingin kepadaku. Aku kan…"
"Ssssttt…. Diam!", Hiruma mendekatkan telunjuknya tepat di bibirku.
"Ada apa?", bisikku.
"Ayo kita cari jalan lain", tiba-tiba Hiruma menarik tanganku dan memutar arahnya.
"Lho memangnya kenapa?", aku hanya mengikutinya.
"Kau tidak perlu tahu"
Ih… Ada apa sih dengan orang ini? Menyebalkan! Kenapa dia selalu tertutup padaku, he?
"Wah… Wah… Rupanya Hiruma si sampah membawa pasangan baru, ya?", tiba-tiba ada suara seseorang yang berhasil menghentikan langkah kami berdua.
Hiruma hanya berdecak kesal saat mendengar suara orang itu. Aku ingin menoleh ke arah sumber suara itu agar mengetahui wujudnya.
"Jangan menoleh ke arahnya", Hiruma mengeratkan pegangan di tanganku sampai-sampai aku merasakan sakit di tanganku.
"Hei, Hiruma! Kenapa tidak kau perkenalkan gadis itu untukku? Jangan pelit seperti itu!", orang itu terus berceloteh.
"Cih… Sial!", aku memandang Hiruma yang wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Bukan karena malu, tapi dia marah. Genggamannya semakin dia kuatkan, sehingga aku mengaduh kesakitan.
"Huwaaa….! Ittai, baka na!", aku menarik tanganku dan mulutku dengan begitu saja melemparkan kata-kata yang menurutku tidak pantas untuk Hiruma.
Hiruma menarik bajuku dan segera melanjutkan perjalanan pulang. Tapi, orang yang berceloteh itu tiba-tiba sudah ada di depan kami berdua. Tepatnya, di depan mukaku. Begitu dekat. Aku terkejut dan bisa merasakan nafas orang itu. Menyeramkan. Aku memundurkan wajahku. Hiruma mendorong pria itu yang tertawa kegirangan melihat ekspresiku.
"Enyahlah, rambut dread sialan!", Hiruma mulai angkat bicara.
"Hei, hei, hei! Aku kan hanya ingin berkenalan dengan wanita di sampingmu itu! Janganlah pelit, sampah!", Agon mulai menyebalkan.
"Cih… Jangan ganggu kami! Awas, aku mau lewat!", Hiruma menarik tanganku dan berjalan melalui Agon.
Aku merasakan Agon memandangiku dan aku tidak berani menatap matanya.
"Kyaaaaa…..", Agon memegang tanganku dan aku berteriak dengan keras dan sukses membuat Hiruma menepis tangan Agon.
"Ck… Jangan sentuh dia dengan tangan dosamu itu!", Hiruma memandangi Agon dengan sinisnya.
"Wah… Sombong sekali kau, sampah!"
Yah… Akhirnya terjadi adu mulut antara Hiruma dan Agon. Tapi, Hiruma hanya berkata dengan stay cool. Sedangkan Agon tampak bersungut-sungut melayani Hiruma. Aku hanya mendengarkan bertengkaran itu dari balik punggung Hiruma. Aku takut.
"Cih… Baiklah, dread sialan. Aku harus pergi dulu", Hiruma menarik tanganku lagi dan melanjutkan perjalanannya.
Agon hanya mengomel dan terus meneriakki Hiruma dengan sindiran yang tidak mempan bagi seorang Hiruma.
Akhirnya, aku dan Hiruma sampai di apartemenku.
"Arigatou, Hiruma-kun", aku melepaskan genggaman tangannya.
"Hn… Ya sudah. Aku pulang dulu, pacar sialan", Hiruma meninggalkanku di depan pintu kamar apartemen.
"Hati-hati, ya!", Hiruma tidak mendengarnya.
Ya, setan sepertinya tidak akan mendengar kata-kata tadi.
"Ya, pacar sialan!", Hiruma membalasnya.
APA? Hiruma membalasnya? Huwaaaa… Aku tidak menyangka! Tapi, sekarang dengan nama panggilan 'Pacar sialan'. Tapi tak apalah, yang penting dia sudah membalasnya…
Yaaaa~! Akhirnya chapter 2 selesai! Mind to review, minna-san?
