Disclaimer : Riichiro Inagaki & Yusuke Murata

Pairing : HiruMamo

Rating : T for taboked *di tabok beneran*

Warning : No comment! Boku tau kalo fict ini emang gajeness~! Puas? Puas? Tak sobek-sobek celanamu *diusir minna-san*

Oh iya, mau bales ripiunya minna-san yang udah rela menodai tangannya dengan meripiu fict boku yang super duper melebihi batas ambang standar internasional of gajeness *apaan sih*

fraughost: mm,,, Hola fraughost! Salam kenal, ya~! Sebenarnya tebakanmu salah, Hiruma gak bakal terluka parah waktu ngelawan Shinryuuji Naga *karena boku gak tega ngebuat Hiruma full of blood #haiah*. Tapi gpp kok, tebakannya sudah masuk dalam kategori the best of guest *dibogem*. I like it ^^b

Y0uNii D3ViLL: wah… kayaknya ada yang ngebet banget nih~! Sabar, ya? Ntar rahasianya bakal dibongkar di chapt ini *maybe? #gaploked*

Cyrix Uzuhika: makasih atas ripiu-nya! Nih udah update~

clekatakan HiSa Hyuu'Uchi: yak~! Salam kenal juga *bales salamannya*. Wah… Gomen-ne atas typo(s) nya!*nunduk*. Maklum, boku ngetiknya pake kaki *bletak*. Jawabannya mangga atuh untuk dilihat di chapter ini~ Arigatou ripiu-nya ^^

Chapter 3

*Boku langsung skip 2 hari selanjutnya*

Hari ini adalah pertandingan antara tim Deimon Devil Bats melawan Shinryuuji Naga. Aku dan seluruh anggota tim Deimon Devil Bats segera menuju ke tempat yang telah diberitahukan oleh Hiruma. Sesampainya disana…

"Wah… Rupanya yang menonton pertandingan kita banyak juga, ya?" celetuk Kurita.

"Mukyaaaa~! Aku jadi gugup!" teriak Monta

"Hiiiiiiii….. Benar juga," Sena ikut-ikutan gugup.

Saat anggota tim Deimon Devil Bats asik berkasak-kusuk, aku menoleh ke kanan kiri depan belakang serong kanan kiri muter 36 derajat dan… *STOP! Jangan lanjutkan* untuk menacari sosok seorang Hiruma Yoichi *bacanya dibalik juga boleh*. Ah! Ketemu! Rupanya dia sedang menaruh peralatan tandingnya aka Ak-47, Bazooka, flamethrowers, automatic riffles, dan… *set dah! Ntu anak bawanya gimana yak? #plakk*. Aku menghampirinya.

"Yho, Hiruma-kun," aku melambaikan tanganku dan berlari ke arahnya.

Hiruma hanya ber "hn" ria saat ku sapa.

"Ng… Ano… Hiruma-kun. Kenapa hari ini kau tegang sekali?" tanyaku.

"Apa maksudmu?" kata Hiruma.

"Yah, maksudku kau tidak seperti biasanya. Tegang saat pertandingan melawan Shinryuu….." kata-kataku terhenti ketika ada seseorang yang pernah aku jumpai dengan rambut dreadnya menyapaku.

"Hoi, gadis manis~! Malam ini aku kesepian, kau mau menemaniku kan?" katanya dengan nada hambarnya.

Aku hanya menatapnya dengan muak *aka najis* dan memalingkan wajahku yang tidak sengaja menatap pria itu.

"Huwahh… Sepertinya ada si sampah Hiruma yang bakalan kehilangan sesuatu nih~!" sambung pria berambut dread sialan itu.

"Apa maksudmu, he? Dasar rambut dread sialan! Tentu saja kau yang akan kehilangan harga dirimu! Kekekekekeke" balas Hiruma.

"Oh, begitu ya? Bagaimana jika aku yang menang? Kau pasti akan menangis di kamarmu! Dasar sampah sialan!" pria berambut dread itu pergi meninggalkan Hiruma dengan menebarkan smirk-nya kepada kami berdua.

Aku menatap Hiruma yang ekspresinya menjadi menegang.

"Hi… Hiruma-kun?" aku memanggilnya.

"Hn…?"

"Apa maksudnya dengan 'kehilangan sesuatu'?

"Itu tidak penting," Hiruma menyerangku dengan deathglare-nya.

Aku hanya menegang dan tak berkutik. Hiruma berjalan membelakangiku.

"Hei, pacar sialan!" panggilnya tanpa menoleh ke arahku.

"I.. Iya?" aku menjawabnya.

"Aku punya 1 pertanyaan yang harus kau jawab dengan cepat,"

"He?"

"Apakah kau akan membenciku jika aku merelakanmu dengan orang lain?" pertanyaan yang terlontarkan dari bibir Hiruma sukses membuatku terdiam seribu kata. Aku kembali mencerna perkataannya.

"Apa maksudmu, Hiruma-kun?" tanyaku.

"Aku mau jawaban yang cepat!"

"Eh… Aku…"

"Cepat jawab!"

Aku harus menjawab apa?

"AKU AKAN MEMBENCIMU SEUMUR HIDUPKU!" seketika perkataan itu terlontar secara spontan dari mulutku dengan nada yang tinggi pula.

Hiruma menatapku dengan tatapan puas dan pergi menuju field bersama anggota lainnya. Tunggu sebentar! Apa maksud dari ini semua? Aku benar-benar bingung.

Normal POV

"Yak! Sekarang adalah hari dimana pertandingan tim Deimon Devil Bats melawan Shinryuuji Naga!" terdengar teriakan dari komentator yang berambut seperti baling-baling milik Doraemon itu aka Kumabakuro *he?*.

"Dan diseberang sana kita bisa melihat sang kapten dari tim Deimon Devil Bats sedang berbincang-bincang dengan Agon Kongo dari tim Shinryuuji Naga!" sambungnya.

"Kau akan kehilangan dia! Dasar sampah!" Agon meledek Hiruma.

"Oh, begitu, ya? Mungkin kau yang akan kehilangan harga dirimu! Dasar rambut dread sialan!" balas Hiruma.

"Oh ya? Bagaimana kalau aku menang? Apa kau rela, he? Hahahaha"

"Apa maksudmu, hah? Tentu saja timku yang akan menang! Ekekekekeke,"

"Kita lihat saja nanti," Agon melemparkan deathglarenya, tapi Hiruma tak mau kalah. Dia pun membalasnya dengan deathglare super mematikannya.

"Ya…! Pertandingan akan dimulai 5 menit lagi," terdapat seorang wasit yang memberikan pengarahan *anggap saja begitu*.

Hiruma pergi meninggalkan Agon dengan muka stay cool-nya. Tapi, tahukah kalian apa yang sebenarnya ada di dalam hatinya?

Mamori POV

'Aku cemas'

Seketika perkataan itu melintasi pikiranku. Aku segera duduk di bangku pemain. Astaga! Kenapa perkataan Hiruma membuat perasaanku jadi tidak enak? Ukh! Kau ini kenapa sih, Hiruma?

5 menit kemudian…

"Baiklah! Pertandingan antar tim Deimon Devil Bats melawan Shinryuuji Naga akan segera dimulai!" terdengar suara Kumabakuro yang berteriak dengan rambutnya yang seperti kincir angin *tutuked*.

"Yaaaaa~! Semangat, ya! Go, go, go Deimon Devil Bats~! Yeah~~" Suzuna tak mau kalah. Dia juga menyemangati tim Deimon Devil Bats.

"Semangat semuanya!" aku juga menyemangati tim Deimon Devil Bats.

"PRRRIIIITTTT…~!" peluit sudah dibunyikan. Tanda pertandingan telah dimulai.

Tim Deimon Devil Bats bertarung sengit melawan Shinryuuji Naga.

*Langsung skip, ya? Author males nyeritain pertandingannya*

"Apa? Ini tidak mungkin kan?" aku terbelalak kaget setelah melihat hasil skor sementara yang diperoleh timku.

"Hasilnya seri?" Suzuna sampai menghentikan aksi cheers-nya.

"Wah… Wah… Sepertinya tim Deimon Devil Bats dan Shinryuuji Naga adalah tim yang sama-sama kuat ya?" kata sang komentator.

"Dan sisa waktunya tinggal 1 menit lagi~!" aku tercengang ketika melihat sisa waktu pertandingan.

"Yaaaaaaa! Bagaimana ini, Mamo-nee?" Suzuna sudah mulai cemas.

"Aku tidak tahu! Tapi…."

"Tapi apa?"

"Tapi… Hiruma-kun tahu"

"Eh?"

"Kita hanya bisa mempercayainya. Ya! Hanya dia yang bisa. BERJUANGLAH HIRUMA-KUN~!" aku berteriak dari bangku pemain.

Hiruma melirik ke arahku dari field. Dia tersenyum meremehkan dan seakan ingin berkata 'Tenang saja, pacar sialan!'. Tapi aku tahu. Dia masih cemas. Aku tahu juga, bahwa dia tidak bisa mengendalikan ini semua. Tapi aku percaya padamu, Hiruma-kun!

"Ya! Sekarang adalah babak penentuan! Salah satu tim harus mencetak touch down," kata sang komentator.

Pertandingan kembali dimulai. Aku hanya bisa menyaksikan pertandingan dengan harap harap cemas *H2C! Fufufufuh!*. Aku terus memandangi gerakan Hiruma.

'Ayo, Hiruma-kun! Kau pasti bisa!' hanya itu yang ada di pikiranku.

"Yaaaa~! Waktunya tinggal 1 menit lagi!" perkataan Suzuna tidak aku dengarkan. Aku terus berdoa di dalam hati semoga tim Deimon Devil Bats menang.

"Huwaaa…. Mamo-nee! Tinggal 30 detik lagi!" Suzuna terus mengamati sisa waktu pertandingan.

Aku terus berdoa. Berdoa dan berdoa. Memohon kepada kami-sama semoga tim kami menang. Tiba-tiba…

"TOUCH DOWN!" terdengar suara wasit.

"Ap… Apa? To… Touch down?" aku terbelalak kaget ketika mendengar hasil keputusan sang wasit.

"Ma… Mamo-nee? Ini…?" Suzuna ikut tidak percaya dengan hasil.

"PRRRIIIITTTT~!" terdengar suara peluit.

"GAME SET!" wasit segera menyelesaikan pertandingan karena waktu juga telah habis.

"Mukyaaaa~ Ini tidak mungkin kan, Sena?" Monta berteriak.

"I… I… Iya. Ini pasti salah!" kata Sena.

"Kita kalah…" kata Musashi.

Seluruh anggota tim Deimon Devil Bats mendekati aku dan Suzuna di bangku pemain, tak terkecuali Hiruma.

"Eng… Tidak usah kecewa, ya? Ini kan belum pertandingan Christmas Bowl," aku berusaha menyemangati timku.

"Yaaa~! Pertandingan kalian tadi bagus kok! Jadi tidak usah kecewa! Mungkin suatu saat kita bisa menang!" Suzuna juga ikut menyemangati anggota tim Deimon Devil Bats yang sudah kelihatan lesu itu.

Aku melirik ke arah Hiruma yang tetap diam itu. Dia seperti tidak ingin melihatku. Dia memalingakan wajahnya. Apa dia malu atas kekalahannya?

"Gyahahaha! Wah… Rupanya si sampah Hiruma sudah tidak memiliki reputasi lagi, ya?" terdengar suara seorang pria yang menyebalkan itu. Seluruh anggota tim Deimon Devil Bats melirik ke arahnya dengan tatapan benci.

"Bagaimana? Kalian menikmati kekalahan ini? Hahahaha! Dasar sampah busuk!" si rambut dread itu terus mengolok-olok kami.

"Cih…" Hiruma hanya berdecak.

"Oh, iya! Bagaimana dengan perjanjian kita, sampah Hiruma?"

"Perjanjian? Perjanjian apa?" seluruh anggota tim Deimon Devil Bats berkasak-kusuk.

"Wah… Wah… Rupanya kalian tidak tahu, ya? Kau ini bagaimana sih, sampah Hiruma? Kau tidak memberitahu mereka semua ya? Wah… Memalukan sekali!"

"Perjanjian apa, Hiruma-kun?" dengan spontan aku langsung bertanya kepada Hiruma.

Hiruma tidak menjawabnya.

"Begini, asal kalian tahu saja, ya? Sampah Hiruma telah melakukan perjanjian denganku. Tim siapa yang kalah dari pertandingan tadi akan mendapatkan ejekan"

"Itu sih biasa aja, MAX~!" Monta berkomentar.

"Memang sih itu biasa. Tapi kalian tahu apa hadiah bagi tim yang menang?" Agon tersenyum licik.

Semua anggota tim Deimon Devil Bats menggelengkan kepalanya, kecuali Hiruma.

"Hadiah bagi tim yang menang adalah…" Agon kembali tersenyum licik.

"Gadis itu," Agon menunjuk ke arahku dengan senyuman yang menyeramkan.

"APAAA? Hadiahnya adalah MAMO-NEE!" Seluruh anggota tim Deimon Devil Bats terkejut, kecuali Hiruma.

"Apa yang akan kau lakukan dengan Mamo-nee, MAX~!" Monta mulai geram.

"Hm… Apa, ya? Mungkin gadis itu akan menjadi manager Shinryuuji Naga dan dia akan menjadi kekasihku! Hahahahahaha," kata Agon.

"HA? ITU TIDAK MUNGKIN, KAN?" anggota tim Deimon Devil Bats kembali terkejut. Tapi Hiruma tidak memberikan respon apapun.

"Hi… Hi… Hiruma-kun? Apa itu benar? Kau tidak mungkin melakukan perjanjian itu kan?" mataku mulai berkaca-kaca.

Hiruma kembali diam.

"Jawab aku!" aku mendesaknya.

"Aku memang melakukannya," jawab Hiruma.

"Lihat kan? Betapa brengseknya kapten kalian ini! Dengan teganya dia mengorbankan manager kalian! Tapi tak apa sih. Aku juga menyukai gadis itu kok. Hahahaha," Agon kembali tertawa.

"Teganya kau, Hiruma-kun!" aku menangis dan…

"PLAKK!" terdengar suara tamparan.

"Astaga! Mamo-nee! Apa yang kau lakukan!" Suzuna terkejut dengan apa yang sedang aku lakukan sekarang.

Aku menamparnya. Ya. Aku benar-benar menampar pipi Hiruma. Aku kesal dengannya. Aku benci dengannya! Aku marah!

"Aw… Itu pasti sakit, ya? Gyahahaha…" Agon kembali mengolok-olok.

"Aku… Aku… Hoh… Hoh… BENCI PADAMU, YOUICHI!" aku berlari meninggalkan mereka semua dengan air mataku yang berhamburan.

"Mamo-nee!" Suzuna berusaha mengejarku tapi di tahan oleh Musashi.

"Jangan dikejar. Mungkin dia butuh waktu untuk sendiri," kata Musashi.

"Aku khawatir dengannya,"

"Aku juga"

"Hei, sampah! Kapan aku bisa mengambil gadis itu? Aku sudah tidak sabar tahu!" Agon kembali berceramah *lu kira Agon ustad ape? #plakk*

"Terserah kau saja!" Hiruma pergi meninggalkan Agon.

"You-nii mau kemana?" tanya Suzuna.

"Itu tidak penting" jawab Hiruma singkat.

Tim Deimon Devil Bats hanya cengo melihat kejadian itu. Mereka tidak menyangka bahwa Hiruma akan sejahat itu kepadaku. Sialan!

*********T^T*********

Aku berlari terus tanpa tujuan yang pasti. Air mataku terus mengucur deras. Aku terus saja terisak-isak. Hingga akhirnya, aku sudah sampai di depan apartemenku. Aku segera berlari masuk dan mengunci pintu apartemenku. Aku menyenderkan tubuhku di belakang pintu apartemenku. Aku terus menangis sampai tubuhku melemah. Aku terduduk di dekat pintu apartemenku sambil terus menangis. Menangis terus. Hingga tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu apartemenku.

"Hoi, pacar sialan!" rupanya itu Hiruma.

Aku tidak menjawabnya. Hatiku terlalu sakit.

"Hoi, pacar sialan! Aku tahu kau ada di dalam! Buka pintunya"

Aku terus tidak menjawabnya.

"Buka pintunya! Aku akan menjelaskan semuanya!"

"PERGILAH BRENGSEK!" spontan aku mengatakan itu.

"Aku tidak peduli apa katamu! Buka pintunya!"

"BRENGSEK KAU! PERGI DARI SINI! YOUICHI BRENGSEK!" aku berteriak sambil terisak.

"Buka pintunya! Baka!"

Aku kesal dengannya! Aku memberanikan diri untuk membuka pintunya. Dan aku akan memakinya habis-habisan.

"Cklek.." suara pintu terbuka.

"Gomenasai!" aku terkejut ketika Hiruma memelukku dengan tiba-tiba.

"Lepaskan aku!" aku memberontak.

"Aku tidak akan melepaskanmu"

"Kalau begitu, pergilah dari hadapanku!" aku berusaha mendorongnya.

"Tidak! Ai shi…"

"BRUAGH~!" terdengar sebuah pukulan yang melayang di pipi Hiruma. Akulah pelakunya.

"Ittai! Apa yang kau lakukan, he? Kuso!" Hiruma memegang pipinya dan melepaskan pelukannya.

"Pergilah dari sini, Youichi!" aku menjauh darinya dan menunduk.

"He?"

"Apa kau tidak dengar? Mau kuulangi?"

"Hei, pacar sialan! Apa-apaan sih kau ini?"

"Ku bilang…. PERGI!"

"Pyangg~" aku membanting vas bunga yang ada di meja sampingku.

"Kau…."

"Aku sudah muak melihatmu! Pergi dari hadapanku! Aku sudah membencimu! Aku tidak akan mengenalmu SEUMUR HIDUPKU!"

"Ma…"

"Aku bersumpah, Youichi! Aku akan MEMBENCIMU!" aku mendorong Hiruma keluar dari apartemenku dan segera mengunci pintu apartemenku.

"Hoi, pacar sialan! Aku kan sudah minta maaf! Apa itu kurang, ha?" protes Hiruma dari luar.

Aku diam saja.

"Baiklah kalau begitu! Jika kau tidak memaafkanku dan membenciku, aku akan terima itu! Itu terserah padamu saja! Yang penting aku sudah meminta maaf!"

Aku terus diam saja. Hingga detik-detik selanjutnya, aku tidak mendengar teriakan Hiruma yang protes ataupun membentakku. Aku rasa dia sudah pergi.

*********T^T*********

Malamnya, aku masih merasa sakit hati. Aku sungguh tidak bisa mengungkapkan kesedihanku dengan kata-kata. Bayangkan saja, pacarmu menjadikanmu taruhan. Apa kau tidak merasa sakit, he? Apakah hatimu tidak terasa tercabik-cabik? Itulah perasaanku sekarang. Aku sungguh menyesal telah mengenal Hiruma Yoichi. Dia memang….

Bajingan…

Aku sudah lelah menangis terus. Aku juga sudah lelah memaki-maki Hiruma. Sekarang apa yang bisa aku lakukan? Aku benar-benar bingun. Otakku seperti tidak bekerja lagi. Yang aku lihat hanya sisi gelap. Benar-benar…

Gelap…

Aku melirik ke arah sebungkus permen karet yang tergeletak di meja makanku. Aku memungutnya. Rupanya, masih ada isinya. Aku membuka bungkusnya dan melahap permen karet itu.

"Huah!" aku mendesah ketika mulaimengunyak permen karet itu.

Rasanya masih sama, mint. Menyebalkan! Aku memang bodoh. Untuk apa aku memakan permen ini padahal aku tahu bahwa permen ini akan membuat lidahku terbakar. Tapi aku terus mengunyahya. Aku mengabaikan rasa panas yang menjalar di lidahku. Aku terus mengunyahnya. Aku tidak mendesah. Aku terus menahan rasa panas permen karet ini.

"Sore wa kimi no tame ni, arawareta maboroshi, yozora no shita d, Nesoberu no mo ii darou….~" tiba-tiba handphoneku berdering.

Aku melihatnya dan rupanya, Hiruma meneleponku. Aku mengabaikannya. Aku sudah malas berurusan dengannya. Sakit hatiku masih belum terobati. Handphoneku terus berdering. Dan akhirnya mati juga.

Handphoneku kembali berdering, dan rupanya ada pesan masuk.

'1 message received'

Aku segera membacanya.

'From: Hiruma-kun

Subject: No Subject

Kau masih marah padaku, pacar sialan?'

Dasar baka! Dungu! Tentu saja aku masih marah denganmu! Aku menutup handphoneku dan melemparkannya di tempat tidur. Aku merebahkan tubuhku di tempat tidurku. Aku kembali menangis mengingat kenangan bersamanya. Kenapa? Kenapa dia tega melakukan ini? Apa salahku? Air mataku kembali mengalir deras. Permen karet yang kukunyah, ku muntahkan ke sembarang tempat. Aku sudah tidak peduli dengannya lagi. Aku benar-benar benci padamu….

Hiruma Yoichi…

Normal POV

Seorang pemuda spiky menyenderkan badannya di dinding kamarnya. Dia menatap lurus ke arah jendela kamarnya.

Hiruma POV

Brengsek! Aku memang manusia brengsek!

Aku sudah kehilangan reputasiku sebagai kapten Deimon Devil Bats. Tapi, persetan dengan itu semua! Aku lebih mementingkan gadis itu. Ya, Mamori Anezaki. Aku adalah setan yang pertama kali menyakiti hatinya. Aku menyesal! Tapi itu terlambat. Aku sudah terlanjur membuatnya menangis.

'Aku sudah muak melihatmu! Pergi dari hadapanku! Aku sudah membencimu! Aku tidak akan mengenalmu SEUMUR HIDUPKU!'

Kata-kata itu adalah kata-kata yang terlontar dari bibir tipis gadis itu. Aku memang makhluk yang paling berdosa. Aku sudah tidak pantas untuk menyesalinya. Ini semua benar-benar sudah terlambat. Meminta maafpun akan percuma. Dia sudah tidak akan mengenalku seumur hidupnya. Aku memang arogan. Aku terlalu yakin bahwa timku akan menang. Sehingga aku menyetujui perjanjian Agon untuk mnjadikan Mamori sebagai taruhannya. Waktu itu, aku benar-benar tidak memikirkan perasaanmu. Maaf. Hanya itu yang bisa aku ucap saat bertemu denganmu. Tapi, perkataanmu dan tatapanmu yang melukiskan kebencianmu terhadapku mampu membuatku merasa…

Sedih…

~Tsuzuku~

Wuhu… Akhirnya chapter 4 kelar juga! Hahahaha… Gimana? Udah heart touching? Kalau belum, ya… Sentuh aja ndiri! Gyahahaha *dilempar sandal*. Aduh… Aduh… Boku semangat banget untuk chapter 5-nya! Huahahahahaha…. *ketawa Agon mode on*. Di chapter 5 akan boku buat adegan yang sangat soooooooooo sweeeetttttt *mringis*. Halah… Boku juga belum begitu paham dengan adegan romance yang so sweet. Kalau cuman adegan kisu sih udah biasa. Trus yang paling romantis apaan dong? Minna san mau kasih saran adegan yang romantis? *halah ngarep*. Maklum boku belum pernah pacaran! *langsung nyanyi Wali yang cari jodoh*. Stop! Jangan dengarkan bacotan boku yang gajenees ini. Yang penting adalah…..

Review? *sambil makan permen mint*. Huwehhh… PEDES! *ngambil air se-ember*