Disclaimer : Eyeshield 21 by Riichiro Inagaki & Yusuke Murata.

Rating: T for Tepar duluan *hiyahhhh*

Pairing: HirumaxAku *digampar Hiruma FC*. Maksud boku HiruMamo.

Genre: Um… Apa, ya? Bisa tebak ndiri? *tutuked*

Warning: back to the chapter 1 until 4, and you will know the warning *halah, bahasa tegal*. Gomen, kalo update-nya lama! Soalnya lagi sibuk nyari sekolah *curcol*.

Oya, mau bales ripiunya minna-san terhadap fict boku yang gajeness. Asal anda tahu saja, authornya sedang ajeb-ajeb di grogol sambil makan permen mint se-truck.

Hyouma Schieffer: wadooh… jangan nangis dong! Ntar rumahmu banjir *bletak*. Okeh! Update~

arumru-tyasoang: hadehhh… Mamori udah sabar kok. Kemarin boku yang nenangin dia #plakk. Update~

Devasya Youichi-kun Uchiha: situ penasaran? SAMA! Otak saya lagi mentok di WC! Maka dari itu, di chapter 5 ini akan tambah gaje dan anda akan mengalami mual-mual, pusing-pusing, mengenaskan… *dibakar*. Update~ ^u^"

fuyu-yuki-shiro: permen mint tuh pedes minta ampyun tau! *plakk! Digampar fuyumi-nee*. Um… Adegan romantis diterima! Tapi masuk ke dalam list dulu, ye? *halah…. Dibakar*. Okeh, update~

Cyrix Uzuhika: ah, iya! Maap! Lap pel boku jadiin pemenangnya karena ada something yang akan membuat kamu 'screaming' *ngaco tingkat tinggi*. Tenang-tenang! Pairingnya gak jadi agonmamo kok! Boku gak sudi agon jadi do'inya mamo-nee! Cuihhh *dibantai habis-habisan ama Agon*. Update~

Y0uNii D3ViLL: Hahaha… Boku kelebet update cepet sih, jadinya ya cepet! *apaan sih?* Saran diterima! Masuk ke list! Adegan romantisnya, serahkan kepada saya! *

clekatakan HiSa Hyuu'Uchi: okeh deh! Update~

luminous: oh gitu, ya? Jadi komentator yang kayak kitiran itu bukan Kumabakuro, ya? Wah…. Salah ngambil nama nih! Gomen-ne! Update~

BongEbong: Uwee... Boku punya 9 nyawa! jadi gak takut kalo dicabut ama Hiruma *ditodong bazooka*. Update~

:: LANJUTKAN! *SBY cover*

Chapter 5

Mamori POV

Hari ini aku tidak bangun pagi. Kau tahu kenapa? Karena sekarang aku sudah tidak menyandang gelar 'manager' di tim Deimon Devil Bats. Aku sudah muak berurusan dengan kaptennya. Aku akan mual jika menyebutkan nama kapten itu. Kapten yang penuh aura jahat dan memiliki hati yang busuk!

Tiba-tiba, handphoneku berdering.

'5 message received'

Sial! Gara-gara aku tidur sampai siang, aku jadi tidak mendengar handphoneku yang mulai cerewet ini. Aku mulai membaca pesan satu persatu.

From: Suzuna-chan

Subject: Mamo-nee dimana?

'MAMO-NEE! Kau ada dimana? Kok tidak datang ke markas sih?'

Aku hanya tersenyum miring ketika membaca pesan dari Suzuna. Aku membuka pesan yang selanjutnya.

From: Sena

Subject: No Subject

'Mamo-nee ada dimana sekarang? Kok tidak ke markas? Kami semua menunggumu disini =)'

Aku kembali tersenyum miring membaca pesan dari Sena. Aku membuka pesan selanjutnya, dan semua inti pesan yang aku terima adalah memohon kepadaku untuk pergi ke markas Deimon Devil Bats. Ck… Apa kalian bodoh, he? Aku sudah tidak bersama kalian lagi. Aku sudah pergi dari kehidupan kalian. Sekarang apakah kalian tahu betapa sakitnya menerima kenyataan bahwa aku sekarang bekerja sebagai manager Shinryuuji Naga? Tapi sekalipun aku tidak akan sudi bekerja sama dengan tim yang penuh oleh manusia-manusia bejat. Ya, contohnya saja Agon yang menjadi musuhnya… Err… Kau tau kan siapa maksudku?

Aku menuju kamar mandi untuk membersihkan diriku. Setelah itu, aku segera memakan sus kariya sisa kemarin malam. Aku memakannya tanpa semangat. Tidak biasanya, ya? Sial! Aku melirik ke arah jam dinding di apartemenku. Waktu menunjukkan pukul 10.00 a.m. Keh… Biasanya jam segini aku sudah berada diantara anggota tim Deimon Devil Bats. Tertawa dan menangis kami rasakan bersama. Tapi sekarang semuanya…

Kandas…

Itu gara-gara dia! Setan brengsek yang dengan mudahnya menjual diriku layaknya hewan yang hina dan bisa dijual oleh majikan baru dengan cuma-cuma. Arrghh! Aku tidak ingin mengingatnya. Aku sudah menghapus memoriku dengannya. Untuk apa aku kembali mengingat si setan brengsek itu? Benar-benar tidak ada gunanya.

*********T^T*********

Normal POV

Semilir angin berhembus menerpa rambut spiky seorang kapten tim Deimon Devil Bats. Ya, dialah Hiruma Yoichi. Sang iblis sedang asik melakukan latihan bersama timnya.

"Mukyaaa~! Saatnya Hiruma-san pass, max!" terdengar suara teriakan dari receiver*eh? Bener ya?* tim Deimon Devil Bats yaitu Monta aka MonMon *plak!*.

Hiruma segera melemparkan bola 'Amefuto'nya.

Tapi….

'BRUAGH….!'

"Hiyaaaahhh!" terdengar pekikan dari seseorang.

"Astaga, Sena!" teriak Suzuna.

"Mukyaaa! Se… Sena? Kau tidak apa-apa?" tanya Monta.

"Aduh… Tidak apa-apa kok," Sena bangkit yang sedari tadi terjatuh terkena pass Hiruma.

"Hei, Hiruma! Kau ini kenapa? Sena itu runner, bukan receiver! Kau mau mengganti posisi Sena, he?" Musashi angkat bicara.

"Mukyaaa, Hiruma-san! Seharusnya kau melemparkan ke arahku, max!" Monta melambai-lambaikan kedua tangannya.

"…" yang melakukannya hanya diam dan pergi meninggalkan anggota tim Deimon Devil Bats.

"Huwa… Hiruma! Kau mau kemana?" panggil Kurita.

"Itu tidak penting," Hiruma terus berjalan meninggalkan lapangan.

"Lalu? Latihannya bagaimana?" sambung Kurita.

"Lanjutkan sendiri tanpa aku,"

"He?" serentak anggota tim Deimon Devil Bats.

"Ada apa sih dengan Hiruma-san?" Monta dan Sena berkasak-kusuk diikuti dengan Suzuna.

Hiruma POV

Keh… Hari ini aku sedang tidak semangat latihan. Jadi, wajar saja kalau pass ku tadi meleset. Kenapa aku jadi tidak semangat, ya? Cih… Sebenarnya ada apa sih denganku? Kenapa wajah manager sialan itu selalu menghantuiku, he?

'Hiruma-kun!'

Wajahnya, senyumannya… Apa itu yang membuatku menjadi seperti ini? Kenapa aku merindukannya? Kenapa aku selalu gelisah jika tidak bertemu dengannya? Bukankah aku sudah tidak pantas merindukannya? Ataupun mencintainya? Keh… Apa yang aku ketahui dari cinta, he? Asal mulanya saja aku tidak tahu. Tapi aku benar-benar merindukan anak itu… Kumohon, kembalilah Ma…

"Hei, Hiruma!" tiba-tiba ada yang menepuk pundakku.

"Manager sialan?" spontan aku membalikkan badanku.

"He? Manager sialan? Oh… Maksudmu, Mamori, he? Kenapa kau menyebut namanya? Jangan-jangan….." rupanya yang menyentuh pundakku adalah si kakek sialan aka Musashi.

"Jangan-jangan apa, he?"

"Kau pacaran dengannya, ya?"

"Memang. Kenapa? Kau mau protes?"

"He? Kenapa kau tidak memberitahuku? Sudah berapa lama kalian pacaran?"

"Itu tidak penting," aku membalikkan badanku.

"Eh, Hiruma! Chotto mattekure!" kakek sialan itu menarik pundakku.

"Ada apa lagi sih, kakek sialan?"

"Kalau kau berpacaran dengannya, kenapa kau tega menjadikan Mamori sebagai taruhan melawan Agon?"

"Itu tidak penting, kakek tua sialan!"

"Kau sudah minta maaf dengannya?" kakek tua sialan itu terus menyerangku dengan berjuta-juta pertanyaan *banyak amat?*.

"Berulang kali aku meminta maaf! Tapi dia tidak memaafkanku!"

"Minta maaf lagi. Tapi dengan memohon,"

"Apa kau gila? Aku tidak sudi memohon dan bersujud di hadapannya! Kau ingin reputasiku hilang, ha? Dasar baka!"

"Hei, Hiruma. Biarku beritahu sesuatu. Cinta itu…"

"Hentikan! Aku tidak mau mendengar apapun tentang cinta!" aku memotong perkataan kakek tua sialan itu dan pergi meninggalkannya.

Aku tidak peduli mulut si kakek tua itu sedang mengomel tidak karuan. Aku terus berjalan meninggalkannya. Tapi, kemana arah tujuanku? Entahlah. Aku hanya mengikuti kakiku melangkah.

Normal POV

Sinar mentari sudah menerobos masuk ke dalam apartemen seorang mantan manager tim Deimon Devil Bats. Gadis itu sedang menata rambutnya yang kusut di depan cermin.

Mamori POV

Aku menatap wajahku di depan cermin. Bayanganku yang merefleksikan kebencian terhadap seseorang. Dan kini sudah terpampang jelas di depan cermin itu. Aku menatap wajahku lekat-lekat. Tampak menyedihkan.

"Sore wa kimi no tame ni, arawareta maboroshi, yozora no shita de, Nesoberu no mo ii darou….~" tiba-tiba handphone-ku berdering.

"Moshi-moshi?" aku mengangkat teleponku.

"Kau Mamori Anezaki, kan?" terdengar suara lelaki yang menghubungiku.

"Iya benar. Ini siapa?"

"Kau akan tahu nanti. Datanglah ke sebuah taman di jalan xxxxxxxxx"

"He? Untuk apa?"

"Datang saja! Kau akan mengetahuinya! Cepat, ya? Jangan sampai terlambat"

"Hei, kau sia…."

"Pip…pip…pip…." Belum sempat aku melanjutkan pembicaraanku, sambungan teleponnya terputus.

Keh… Siapa sih dia? Ada urusan apa dia denganku?

*********T^T*********

Aku segera bersiap menuju tempat yang diberitahukan oleh orang misterius yang meneleponku tadi. Aku mengunci pintu apartemenku dan wusss… Aku pergi meninggalkan apartemenku. Aku berjalan melewati lapangan tempat Deimon Devil Bats latihan. Aku melirik ke arah itu. Tampak sepi sekali. Biasanya jam segini, tim Deimon Devil Bats masih latihan. Tapi, kemana semua orang? Aku menghentikan langkahku dan celingak-celinguk melihat kebearadaan anggota tim Deimon Devil Bats. Tiba-tiba mataku menangkap seorang pria yang berambut kuning spiky. Aku kenal dengan orang itu. Hei, dia kan si makhluk brengsek itu? Aku segera membalikkan badanku agar aku tidak dipergoki olehnya.

"Hei, kau…" tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundakku.

"Eh?" aku tersentak kaget dan segera membalikkan tubuhku.

"Kau? Sedang apa disini?" tanya seseorang yang menepuk pundakku itu.

"Lepaskan aku!" aku menepis tangannya dan segera meninggalkannya.

"Pacar sialan!"

Aku membalikkan badanku dan menatapnya tajam.

"Gomenasai, Youichi. Kau bukanlah…. Kekasihku lagi," aku melemparkan deathglare-ku. Dia tidak memberikan respon apapun. Aku segera pergi meninggalkannya.

Hiruma POV

Ga… Gadis itu… Mengatakan hal yang sangat menyakitkan. Aku bisa merasakan jantungku berdegup kencang. Aku merasakan sakit sekali. Entah kenapa aku ingin pergi dari kenyataan ini. Apa yang bisa aku lakukan untuk membuatnya kembali padaku? Baiklah! Aku sudah cukup gila memikirkan hal tentang gadis itu! Aku akan berhenti memikirkannya dan aku akan bersikap tidak peduli terhadapnya!

Mamori POV

Aku terus melangkahkan kakiku menuju tempat dimana aku bisa bertemu makhluk misterius yang menghubungiku tadi. Setelah lama berjalan, akhirnya aku menemukan taman itu. Yah, kondisi lingkungan taman ini tampak biasa-biasa saja seperti taman lainnya. Hanya ada pohon-pohon dan rumput hijau yang menghiasi taman ini. Aku melirik ke arah bangku panjang yang berada di bawah pohon. Aku segera melangkahkan kakiku menuju bangku itu. Aku duduk dan memandangi kondisi taman yang sepi. Aneh, kenapa taman ini sepi? Biasanya banyak sekali orang-orang yang datang bersama keluarga dan kekasihnya. Yah, kekasihnya.

"Huh…." Aku menghela nafasku saat memikirkan kata 'kekasih'.

Sudahlah! Aku tidak ingin mengingatnya lagi. Dia hanyalah seonggok manusia brengsek yang menghancurkan hatiku. Cintaku sudah kandas dimakan oleh kebusukannya! Keh… AKU KESAL!

"Oh iya, ngomong-ngomong, kemana orang misterius itu? Bukannya dia sudah menyuruhku untuk datang kesini? Tapi, mana dia?" kataku sambil menoleh ke kanan dan kiri mencari orang misterius itu. Rupanya tidak ada orang.

Cih… Dasar orang yang tidak menghargai waktu. Dia menyuruhku untuk cepat, tapi dia sendiri terlambat! Dasar baka! Yah, baiklah. Dengan terpaksa aku menunggu orang yang dari antah berantah itu. Saat sedang asik-asiknya mengomel tentang manusia misterius itu, tiba-tiba…

"Wah… Sudah lama, ya?" terdengar suara dari arah belakangku.

'DEG…' seketika jantungku berhenti berdetak. Aku kenal suara itu. Aku tidak berani menoleh ke arah belakang dan hanya bisa berdoa semoga bukan dia.

"Wah, kau semakin cantik saja," aku bisa merasakan orang itu berjalan mendekatiku.

Oh, kami-sama! Semoga apa yang aku pikirkan tidak menjadi kenyataan.

"Hai, Ma-Mo-Ri Anezaki…" orang itu menyentuh pundakku.

"Hiyaahhhhh….!" Aku segera menjauh darinya dan beranjak dari bangku.

"Hei, jangan bertingkah seperti itu dong, manis!" orang itu mendekatiku.

"Apa maumu, Agon Kongo?"tanyaku dengan sinis sambil terus mundur menjauhinya.

"Aku hanya mau kau, Mamori," kata Agon.

"Cih… Darimana kau tahu kalau aku ada disini?"

"Um… Dari seseorang yang meneleponmu tadi,"

"Ja… Jadi.. Kau?"

"Yak, aku yang meneleponmu tadi. Khu… Khu…"

"Tapi, darimana kau tahu nomor handphoneku?"

"Apa perlu untuk aku jawab?" Agon terus mendekatiku dan seakan ingin menerkamku. Aku terus menjauh darinya.

"Te… Tentu saja perlu!"

"Oh begitu, ya? Apa kau tidak marah jika aku memberitahu siapa yang memberi nomor teleponmu?" Agon menyeringai.

"Apa maksudmu?"

"Aku tidak bermaksud apa-apa. Hanya saja yang memberitahu nomor teleponmu adalah…"

"Siapa? Cepat katakan!"

"Hiruma Youichi,"

"Apa?" tiba-tiba serasa ada petir yang menyambar jantungku. Dan saat aku terus mundur menjauhi Agon, punggungku sudah menabrak sebuah pohon. Oh, baiklah! Aku terjebak sekarang!

"Apa kau tidak dengar? Mau aku ulangi?" Agon mendekatiku dan tersenyum puas saat melihat aku sudah tidak bisa lari kemana-mana.

Aku bingung. Aku takut. Oh, kami-sama. Tolonglah aku. Aku tidak ingin si manusia bejat ini melakukan hal jahat kepadaku.

"Braakkkk…!" Agon menghantam batang pohon yang hanya berjarak beberapa centi dari wajahku.

"Terjebak, he?" Agon kembali meledekku.

"Biarkan aku pergi," aku mengalihkan pandanganku dan mulai berjalan ke arah samping Agon.

"Wups, jangan tergesa-gesa dong, manis," Agon mencengkeram tanganku.

"Lepaskan aku! Kumohon!"

"Aku akan melepaskanmu jika kau mau memberikanku hadiah disini," Agon menunjuk bibirnya.

"Tidak! Dasar mesum!" aku mendorong tubuhnya dan dia terkejut. Aku menemukan sedikit celah untuk kabur. Aku pun segera menggunakan kesempatan ini, aku berlari meninggalkan Agon. Tapi sayang…

"He… Mau kemana kau?" Agon sudah berada di depanku.

"Ha? Bagaimana bisa? Kau tadi kan…" kataku dengan linglung.

"Impuls kecepatan dewa, sayang," Agon memelukku.

"Hiyaahhh~" aku melayangkan tanganku ke mukanya dan bertujuan untuk menamparnya, tapi…

BETT~!

"Kau tidak akan bisa menamparku," Agon mencengkeram tanganku dengan sangat kuat.

"Ukh! Ittai!" aku berusaha melepaskan tanganku dari cengkeraman Agon yang menyakitkan.

"Aku akan melepaskanmu jika kau meminta maaf,"

"Tidak! Aku tidak sudi!"

"Oh, begitu, ya?" Agon menguatkan cengkeramannya.

"Uwaaaaaa!" aku berteriak sekencang-kencangnya.

"Bagaimana? Mau minta maaf apa tidak?"

"TIDAK!"

GYUUUTT~

Agon kembali mencengkeramku dengan sangat kuat. Bahkan ini lebih menyakitkan dari yang tadi.

"UWAAAAA~! Lepaskan! Lepaskan aku! Aku sudah tidak kuat!" Aku meronta-ronta.

"Sudah kubilang kan? Aku akan melepaskanmu jika kau meminta maaf dan memohon kepadaku," Agon menyeringai.

"Ukh…"

Aku berpikir. Berpikir bagaimana cara untuk kabur dari si manusia mesum ini. Tak terasa peluhpun bercucuran membasahi tubuhku.

"Lama sekali kau berpikir, ya?"

KRETEKK~

"UWAAAAA~!" Aku berteriak sekuat tenaga ketika merasakan pergelanganku yang patah karena dicengkeram kuat oleh Agon.

"Apa aku menyakitimu, sayang?" Agon kembali menyeringai.

"Ittai! Gomenasai! Sekarang lepaskan aku!"

"Hanya maaf? Memohonnya mana?"

"Cih… Gomenasai! Tolong lepaskan aku! Kumohon!"

KREKK~!

"UWAAAAA! Apa yang kau lakukan?" aku kembali berteriak karena Agon semakin menguatkan cengkeramannya. Lebih kuat lagi.

"Cobalah untuk berbicara yang halus, sayang~"

Sialan! Agon memang sedang mempermainkanku! Ukh… Sakit sekali.

"Ba… Baiklah. Gomenasai… Tolong lepaskan aku. Kumohon…" kataku terbata-bata.

"Nah, begitukan lebih baik!" Agon melepaskan cengkeramannya.

"Bruukkk~!"

Aku terduduk di atas rerumputan sambil terus memegangi pergelangan tanganku yang sulit digerakkan.

"Sekarang, kau harus ikut denganku," Agon mengambil posisi jongkok supaya bisa melihat wajahku yang meringis kesakitan.

"Mana mungkin aku bisa pergi dengan orang kejam sepertimu!"

"Oh… Masih tidak mau mengalah, ya?" Agon tersenyum tipis.

"Eh?" aku hanya menatapnya bingung.

"Kau yang telah memaksaku untuk melakukan itu,"

'Itu? Apa maksudnya?' batinku. Dan tiba-tiba…

"Hekkkk! Ap… Apa yang… Ukh! Kau lakukan?" Aku meringis kesakitan ketika Agon mencekikku.

"Kutawarkan sesuatu kepadamu. Tapi kau harus memilihnya," kata Agon.

"Ap… Apa?"

"Kau harus ikut denganku dan menjadi kekasihku,"

"Hekk! Ti… Tidak mungkin! Aku tidak me…nyukaimu!"

"Kalau begitu, kau harus tahu akibatnya karena menolakku,"

"Hukk! To… Tolong! Siapa saja tolong aku!" aku berteriak sekuat tenaga tapi yang dihasilkan hanya suaraku yang kecil karena tertahan oleh cekikan Agon.

"Berteriaklah sesuka hatimu! Tidak ada orang yang akan menyelamatkanmu! Hahahaha…"

"Hi… Hi… Hiruma-kun…" seketika aku menyebut namanya. Ya! Setan brengsek itu.

"Buahahahaha! Kau memanggil Hiruma si sampah? Dia tidak akan datang! Dasar baka!" Agon terus mencekikku.

"To… Tolong aku, Hi… Hiruma-kun," kataku terbata-bata.

"Kau masih mengharapkan Hiruma si sampah itu? Bukannya kau sudah menamparnya? Hahaha!"

'DEG…' kembali jantungku berhenti. Memori disaat aku menampar Hiruma karena kekesalanku. Hiruma-kun, maafkan aku! Aku benar-benar membutuhkanmu sekarang! Aku takut, Hiruma-kun! Takut sekali…

Hiruma POV

"Ng…?" aku merasakan sesuatu yang mengganjal di hatiku. Aku merasakan hal buruk sedang menimpa gadis sialan itu!

"Kenapa tiba-tiba perasaanku tidak enak, ya?" aku kembali merasakan sesuatu yang mengganggu perasaanku.

'Hi… Hi… Hiruma-kun…'

Aku merasakan gadis sialan itu memanggil namaku.

'To… Tolong aku, Hi… Hiruma-kun,'

Ha? Ada apa dengan gadis sialan itu? Kenapa dia meminta tolong? Dimana dia? Sekarang aku benar-benar khawatir dengannya. Aku segera mengambil handphoneku dan menghubunginya.

"Maaf, nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif,"

Sial! Handphonenya sedang tidak aktif! Aku kembali meneleponnya tapi hasilnya nihil. Mamori! Kau kenapa? Hei tunggu! Aku sudah tidak peduli lagi dengannya! Persetan dengannya! Toh dia juga tidak akan mengenalku. Jadi… Biarkan sajalah. Pasti dia baik-baik saja…

Mamori POV

"Masih bersikeras, sayang?" Agon kembali menakutiku dengan satu tangannya mencekikku.

"Hukk! Lepas!" aku memukul wajahnya dengan tanganku yang tidak cedera dengan sisa tenagaku, tapi tanganku dengan mudah dicengkeram oleh Agon.

"Kau mau kehilangan kedua tanganmu, ya?"

"Kumohon… Jangan!" kataku terisak. Aku… Aku menangis! Aku tidak kuat menahan rasa ketakutanku sendiri.

"Menangislah, sayang! Karena sebentar lagi kau akan kehilangan kedua tanganmu! Itulah akibat bagi orang yang menolak cintaku! Gyahahahaha!"

"Wah… Wah… Lama tak jumpa ya, Agon Kongo?" tiba-tiba ada seseorang yang mengejutkan kami berdua.

"Kau…?" tampaknya Agon tersentak kaget melihat kehadiran pria itu.

"Masih ingat denganku, Agon?"

~Tsuzuku~

Allright! Chapter 5 udah selesai! Ekhem… Setelah boku pikrikan dengan matang-matang, fict ini akan penuh dengan konflik yang mengganggu percintaan HiruMamo *bletak*. Yak, menurut minna-san, siapa pria yang tiba-tiba mengagetkan Mamori dan Agon? Khu… Khu… *smirk*. Boku rasa minna-san gak ada yang bisa nebak dan tebakannya pasti salah! *dihajar minna-san*. Aduh… Aduh… Maafkan boku yang telah membuat Mamori menjadi patah tangannya! Tapi itu gara-gara si lap pel! *dicekik Agon*. Sudah cukup ngebacotnya! Akhir kata, mind to review?