Fuwaaa…. Minna-san! Boku kangen kalian! Sudah berapa lama boku hiatus, ya? *ngitung jempol kaki*. Maafkan boku, minna-san. Boku udah lama gak update, gak ada kabarnya *kirain udah ko'id*. Ya, boku sedang sibuk menjadi anak SMK *baru tau rasanya jadi anak remaja* ditambah lagi tempat tinggal boku di kosan. HUWAAAA! GAK ENAK \(TTATT)/

Dan….

PR ANAK SMK BANYAK BANGET! Bzzzzzzzz sekolah ini benar-benar ingin membunuhku =,="

Arigatou buat minna-san yang udah doa'in boku untuk masuk diterima di sekolah yang diinginkan. Doa'nya manjur loh! ARIGATOU~NEE! ^.^

Oh iya, boku juga mohon maaf karena update yang lama banget, karena faktor laptop hamba yang dijajah oleh nyokap. Yeah, akhirnya boku cuman cengo melihat review-an minna-san yang minta update kilat. Boku juga udah janji bakalan tuntasin nih fict walaupun gak ada yang review. It's ok, tapi boku udah kadung janji seh….-,-

OKEH! LET'S START!

Disclaimer: Riichiro Inagaki & Yusuke Murata ~Eyeshield 21~

WARNING: OOC dikit *maybe*. And then… Gaje itu biasa, norak itu udah biasa, lebay gak masalah, tapi bagus? ITU MASALAH! *bletak!*

*~Apple And Cinnamon~*

Chapter 6

"Lama tak berjumpa ya, Agon Kongo?", kata seseorang yang mengagetkan kami berdua. Tapi wajahnya tidak seperti orang Jepang.

"He? Sedang apa kau disini?" tanya Agon, atau lebih tepatnya membentak.

"Kebetulan timku sedang berkunjung ke Jepang untuk sekedar melihat latihan tim all star di Jepang. Tapi yang aku dapat malah Agon Kongo dari Shinryuuji Naga sedang bertingkah mesum kepada gadis manis seperti itu," pria misterius itu melirik ke arahku.

"Cih… Pergilah! Kau menggangguku saja," bentak Agon.

"Sombong sekali kau, ya?" pria misterius itu mendekati kami.

"Apa yang akan kau lakukan, ha? Menjuhlah!" Agon kembali memanas.

"…" si pria misterius itu tidak mendengarkan apa kata Agon, dia terus berjalan mendekati kami.

Tiba-tiba pria misterius itu berjongkok ke arahku. Menatap wajahku yang pucat dan dibasahi oleh peluh. Dia menatap tajam mataku, tatapannya sama seperti…

'HIRUMA-KUN!'

Kembali nama itu membayangkan kepalaku. Aku menutup mataku dan memalingkan wajahku dari pria misterius itu. Sebenarnya dia siapa?

"Hei, hei, hei! Apa yang kau lakukan? Gadis ini milikku! Enyahlah!" Agon berusaha menjauhkan pria misterius itu dariku, tapi dengan mudah tangan Agon ditepis oleh pria itu.

"Santailah, Agon Kongo. Aku tak akan mengambil gadis ini. Dia bukan seleraku," pria itu beranjak dan menatap Agon.

"Lebih baik kau lepaskan saja gadis ini. Sepertinya dia tidak menyukaimu. Fuh…" sambung pria itu.

"Cih… Apa kau tidak punya kerjaan lain selain menggangguku? HA?" Agon menaikkan volume suaranya.

"Oke, oke, oke. Aku tidak akan mengganggumu setelah kau melepaskan gadis ini," pria itu terus meladeni Agon dengan stay cool.

"BRENGSEK KAU! Baiklah! Kau boleh pergi sekarang, Mamori sayang," kata Agon dengan nada yang menggoda dan sukses membuatku muak.

Aku beranjak dari posisiku yang terduduk. Sambil terus mengumpulkan tenaga untuk berdiri tegak. Aku terus memegangi tanganku yang sepertinya patah ini dan melesat meninggalkan Agon dan pria misterius itu.

Entah apa yang akan terjadi diantara Agon dan pria misterius itu. Aku tidak peduli. Aku hanya ingin selamat.

'NYUUUTTTT….!'

"Akh!" aku tersontak saat tangan kiriku tiba-tiba seolah menusuk nadiku. Sakit.

"Hah… Hah… Hah…" aku terus melanjutkan perjalanan menuju apartemenku. Aku tidak peduli dengan rasa sakit yang terus menjalar di tangan kiriku.

'Mamori…'

Suara itu. Kenangan itu. Wajah itu. Kembali menghantui pikiranku. Lebih dalam lagi sehingga aku mampu kalut di dalamnya.

'Kau brengsek, Hiruma…'

Hinaan yang aku lontarkan padanya seperti menusuk dan merobek jantungku sendiri.

'Mamori…'

"Akh!" aku tersungkur di tanah dengan tidak berdaya sambil terus memegangi tangan kiriku.

"Hi… Hiruma…" aku menyebut namanya. Ya! Aku menyebutnya!

"A-aku… Membutuhkanmu, Hiruma-kun…" tak terasa air mataku menetes membasahi tanah. Perlahan, pandanganku mulai redup seakan cahaya menjauh dariku. Gelap.

Hiruma POV

"MAMORI!" aku terbangun dan berteriak menyebut nama seorang wanita yang membenciku. Tubuhku basah oleh keringat. Pandangan mataku tidak menentu. Tanganku terus menggenggam selimut yang sedang meliliti tubuku.

"BRAKKK!" aku menghantam keras sebuah meja kecil di samping tempat tidurnya.

"SIALAN!" umpatku.

"Apa peduliku terhadap wanita yang sudah menghinaku di depan umum, ha?" kesalku.

"Menyebalkan," aku bangkit dari tempat tidurku dan menuju jendela berukuran besar yang terletak di kamarku.

Aku memandangi keadaan lingkungan di luar sana. Begitu tenang. Tapi tak setenang hatiku yang sedang dihantui rasa gelisah. Perasaan gelisah yang liar dan sangat kuat.

'Mamori, apa kau baik-baik saja?'

Flashback On

"Hah…" seorang gadis membawa setumpukan dokumen dan berjalan menyusuri lorong markas tim Deimon Devil Bats.

"Sialan! Aku ditinggal sendiri dan disuruh mengurusi setumpukan dokumen merepotkan ini! Huh!" gadis itu terus mengomel sambil terus berjalan menyusuri lorong.

"Che! Hiruma-kun memang kejam meninggalkanku sendiri dan menyuruhku mengurusi dokumen sialan ini!" dengan terus mengomel, gadis itu membuka (baca: menggeser) sebuah pintu dengan kakinya.

"Coba saja kalau ada Hiruma-kun di dekatku, pasti akan ku…" tiba-tiba omelan gadis itu terhenti karena matanya telah menangkap sesosok pria yang sedang dia bicarakan tadi.

"Apa yang akan kau lakukan jika aku di dekatmu, ha?"pria itu berkata tanpa memandang gadis itu.

"Hi… Hiruma-kun? Kenapa kau masih disini?" tanya gadis itu gelagapan.

"Kau bertanya kenapa, hah? Kenapa? Kenapa kau bisa bertanya seperti itu?" pria itu terus saja membelakangi gadis itu.

"Hi… Hiruma-kun, a…aku benar-benar tidak tahu maksudmu,"

"BRAKK!" pria itu a.k.a Hiruma memukul dengan lumayan keras meja yang ada tepat di sampingnya dan berdiri membelakangi gadis itu.

"Hei, manager sialan!" panggil Hiruma.

"Eh?"

Hiruma membalikkan tubuhnya dan menatap tajam ke arah gadis itu. Gadis itu sampai bergidik ngeri melihat tatapan Hiruma.

"Ap… Apa yang akan kau lakukan, Hiruma-kun?"

Hiruma berjalan mendekati gadis itu.

"Me… Menjauhlah!" gadis itu terus ketakutan.

"Jangan bergerak!" gadi itu melemparkan tumpukan dokumen yang dia bawa tadi ke arah Hiruma.

"Mamori…" Hiruma menyebut nama gadis itu.

"Hah?" gadis itu terkejut karena Hiruma sudah memegang pundaknya dengan erat.

"Aku benar-benar tidak sanggup menahan perasaan ini…" Hiruma menundukkan kepalanya.

"…"

"Ai shiteru, Mamori," Hiruma mengecup lembut bibir Mamori.

"Ai shiteru, Hiruma-kun…" Mamori menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Hiruma.

"Aku janji, aku akan selalu menjagamu dan tidak akan menyakitimu, Mamori…"

End of Flashback

Mamori POV

"Engh…?" aku mengerjapkan mataku. Dan sedikit bingung dengan kondisiku yang sekarang.

Kepalaku berat dan pening. Aku menyentuh kepalaku dan terdapat perban yang melilit di kepalaku.

"Eh? Dimana aku?" aku melihat di sekilingku. Aku melihat di samping kananku. Infus.

"Ini? Rumah sakit?" aku mulai berasumsi bahwa aku sedang berada di rumah sakit. Tapi, yang menjadi pertanyaanku adalah, siapa yang membawa aku kemari?

"CKLEK…" sebuah suara pintu terbuka terdengar di telingaku.

"Rupanya kau sudah sadar, ya?" sebuah suara sukses membuatku terkejut setengah mati.

"Kau…? Apa yang terjadi denganku?" kataku terkejut.

"Aku menemukanmu pingsan. Dan aku yang membawamu kemari. Apakah tangan kirimu masih sakit?" tanya orang itu yang rupanya pria misterius yang aku lihat di taman saat sedang bersama si brengsek Agon.

"Ah? Um…. Ya, begitulah…" aku melirik ke tangan kiriku yang terlilit perban.

"Kalau begitu, istirahatlah dulu," pria misterius itu membalikkan badannya dan seakan ingin pergi meninggalkanku.

"Ah iya, tunggu!"

"Hn?"

"Kalau boleh tahu, siapa kau sebenarnya?"

"Aku Clifford D. Lewis. Panggil saja aku Clifford. Kau?"

"Mamori Anezaki. Panggil saja aku Mamori,"

"Oh, Mamori, ya? Berhati-hatilah jika bertemu dengan Agon Kongo. Dia memang gila wanita," Clifford tersenyum miring.

"Ah iya… Em… Terima kasih karena sudah menolongku, Clifford,"

"Hn… Iya. Senang membantumu. Beristirahatlah, Mamori," Clifford pergi meninggalkanku.

Aku hanya diam membisu saat dia pergi meninggalkanku. Dia begitu berkarisma dan mengerti bagaimana memperlakukan seorang wanita. Tiba-tiba aku tersenyum sendiri saat mengingat wajah Clifford.

'Hei, baka! Apa yang kau lakukan, ha?' pikirku. Lalu aku menggelengkan kepalaku dan membuyarkan lamunanku. Akhirnya aku memutuskan untuk beristirahat.

07.28 p.m…

'Mamori….'

'Hiruma… Kenapa Hiruma? Kenapa kau melakukan ini padaku?'

'Mamori, gomenasai…'

'Tidak! Aku tidak bisa, Hiruma-kun…'

'Aku mohon, Mamori. Aku tersesat sekarang. Tolong… Tolong aku…

'Onegai…'

"HAH!" aku terbangun dari tidurku. Kepalaku pusing dan nafasku tidak beraturan. Aku mencengkeram dadaku karena begitu sesak.

"Mamori?" tiba-tiba ada seseorang yang membuka pintu dan menyapaku.

"Ada apa, Mamori? Kau kenapa?" orang itu mendekatiku dengan setengah berlari.

"Ti-tidak. Aku tidak apa-apa, Clifford," kataku meyakinkan.

"Kau yakin? Kenapa nafasmu tersengal-sengal begitu?" Clifford menurunkan resleting jaketnya.

"Yakin,"

"Oh iya, aku membawakan makanan untukmu," Clifford memberikanku kantung plastik yang berisi makanan.

"Ah, maafkan aku karena sudah merepotkanmu. Dan terima kasih atas makanannya,"

"Hei, Mamori! Santai saja. Aku senang membantumu kok," terlihat Clifford tersenyum miring.

'DEG!' jantungku berhenti berdegup. Pupil mataku mengecil. Astaga, kami-sama! Sekarang apa lagi yang akan kurasakan?

"Mamori?" Clifford melambaikan tangannya di depan mataku dan itu sukses membuatku tersadar kembali.

"Eh? I-iya maaf…" aku tersenyum kecil.

"Sudahlah lupakan. Segera makan makanan itu dan istirahatlah lagi. Kemungkinan besok kau bisa kembali pulang ke rumahmu,"

"Em, iya… Oh iya, apa kau sudah makan?" tanyaku.

"Sudah. Tadi aku sudah makan duluan bersama teman-temanku," kata Clifford dan dia duduk di sampin tempat tidurku berbaring.

"Eh?" mendadak wajahku merona.

"Hn? Kau tidak keberatan kan jika aku duduk disini?" tanya Clifford.

"Ti-tidak kok…" aku segera menyantap makananku untuk mengalihkan perhatianku.

"Ngomong-ngomong, asalmu dari mana?" tanyaku.

"Amerika,"

"Uhuk…uhuk…!" aku tersedak saat mendengar daerah asalnya.

"Amerika?" kataku terkejut.

"Iya. Memangnya kenapa?"

"Itukan jauh sekali. Untuk apa kau ke Jepang?"

"Untuk bertemu dengan seseorang,"

"Seseorang? Kekasih?"

"Tidak. Seseorang. Lebih tepatnya musuhku. Aku ingin menantangnya pertanding dengan timku,"

"Em? Pertandingan seperti apa?"

"American football,"

"Eh? Kamu pemain american football?" tanyaku.

"Iya. Kenapa?"

"Tidak. Oh iya, memangnya siapa musuhmu itu? Apa dia sangat hebat?"

"Ya. Ku akui skill bermainnya sangat hebat dan segala pemikirannya sangat luar biasa,"

"Siapa dia?" tanyaku semakin penasaran.

"Dia adalah…"

"Yoichi Hiruma…"

~Tsuzuku~

Hiyaaaa…. Akhirnya chapter ini kelar juga! Kependekan ya? Sekali lagi boku minta maaf karena update yang sangat lama! *bow*. Boku harap minna-san tidak melupakan fict kuno boku ini! Maaf juga karena boku gak bisa bales reviewnya satu-satu. Kriti dan saran sangat dibutuhkan disini. Mind to review?