Chapter I

Detective Conan milik Aoyama Gosho sensei. aku hanya meminjam. aku sudah menonton semua episode anime dan movie dalam satu tahun terakhir dan aku sangat senang setidaknya ini salah satu hiburan di tengah kebosanan bekerja di rumah. silahkan menikmati, semoga kalian suka :) ohya, ini fanfic pertamaku. kritik dan saran sangat aku harapkan :)


"Ayah, Conan Kun, aku pulang!" Ran membuka knop pintu, menata sepatunya dan menggantung mantelnya. Saat itu di luar hujan masih mengguyur cukup deras.

"Selamat datang Ran Neechan" Conan menyembulkan kepalanya dari dapur. Ia sedang memasak sesuatu untuk makan malam karena Ran sudah memberitahunya bahwa ia akan pulang terlambat. Sementara ayahnya sedang menonton acara TV yang dibintangi Yoko Chan sambil berteriak.

"ya ampun ayah, cobalah untuk sedikit membantu pekerjaan rumah. Conan Kun masih terlalu kecil untuk menyiapkan makan malam untuk kita" Protes Ran

"tapi dia sudah berusia 12 tahun, lagipula dia penumpang di rumah ini" gerutu Kogoro. 'Huh, orang tua itu' Conan kesal dalam hati.

"ayah, kamu tidak seharusnya…"

"tidak apa-apa Ran Neechan, aku bisa melakukannya. Paman benar, dan aku sudah besar lho." Conan datang dengan membawa panci panas ke meja makan. Lalu berdiri di depan Ran memperlihatkan tingginya yang sudah mencapai bahu Ran.

Ran tidak bisa tidak menyadari betapa cepatnya ia tumbuh selama 5 tahun. Matanya terfokus pada wajah Conan yang ia rasa mirip seseorang dari masa lalunya. Tiba-tiba ia menunduk, poninya menutupi matanya, merasa sedih.

"terimakasih Conan Kun, kurasa kau benar. Maaf masih menganggapmu anak kecil. Bagaimanapun kau sudah kuanggap seperti adikku." Ran masih menundukkan wajahnya, berjalan menuju kamarnya. "umm,, maaf aku belum lapar, kalian makanlah dulu"

"Ran Neechan, apa kau baik-baik saja?" Conan khawatir karena ia melihat wajah Ran yang pucat. Kogoro melirik ke arah Ran penasaran.

"ya, aku baik-baik saja. aku hanya lelah karena hari ini ada beberapa praktikum yang cukup rumit" Ran memaksakan senyumnya meyakinkan Conan.

"baiklah, Jika kau butuh sesuatu katakan saja padaku" Ran mengangguk

"Emm, Conan Kun, aku ragu tetapi kau terlihat berbeda. Kau tidak pakai kaca matamu?" Ran menghentikan langkahnya sekali lagi dan berbalik

Gawat! Aku lupa meletakkannya di meja dapur setelah membersihkannya dari uap. "ah itu, itu dia aku lupa. Meletakkannya di sana. Astaga haha, terimakasih sudah menyadarkanku Ran Neechan."

"Ya, sebaiknya kau tidak melupakannya lagi, kau bilang penglihatanmu bergantung padanya kan?" Conan mengangguk merasa tertusuk karena itu adalah kebohongan yang pernah ia katakan

*Di Kamar Ran

Ran meletakkan tasnya, mengganti pakaiannya yang sedikit basah dengan air hujan. Ia tidak mau sakit sekarang. Ia berbaring di tempat tidurnya, menatap langit-langit kamarnya lalu beralih ke jendela. "Shin.." belum selesai ia menyebut namanya, ia berhenti. Tidak sanggup mengucapkannya dan beberapa tetes air mata mengalir.

*flashback 3 tahun yang lalu

"Maaf Ran, aku belum bisa kembali. Kau pasti lelah menungguku, tidak apa-apa Ran, aku mengerti" kata kata yang ia dengar saat itu masih berputar dalam ingatannya.

"Bodoh, aku akan menunggumu Shinichi !" tegasnya.

"Tapi aku tidak bisa mengatakan kapan aku akan kembali. Aku tidak bisa membuatmu menunggu lagi karena tedengar egois untukmu. Aku ingin kau bahagia, Ran."

"Aku tidak peduli, aku bersungguh-sungguh akan menunggumu. selama apapun itu" Ran menekankan dengan gemetar dalam kata-katanya menahan isak tangis yang ingin tumpah.

"Ran, mengertilah. Aku tidak ingin menyakitimu lebih dari ini"

"Kau yang tidak mengerti shinichi, kau seharusnya mengerti perasaanku. Kau, aku, …" tidak sanggup lagi Ran meneruskan kata-katanya

Keheningan tercipta untuk mereka berdua

"Terserah, kau memang orang paling keras kepala yang kukenal Ran. Mungkin aku tidak bisa lagi menelponmu lagi. Sungguh melelahkan berbicara denganmu, kau tahu?" Shinichi meninggikan suaranya, terdengar kesal. Kata katanya menusuk tepat di hatinya, terasa sangat menyakitkan bagi Ran. Lebih menyakitkan dari menunggunya tanpa kepastian selama ini. Tapi sakitnya semakin bertambah ketika suara lain muncul si belakangnya.

"Hei, Kudo hati hati dengan punggungmu!" terdengar suara wanita di ujung telepon

"S..Suara siapa itu?" Ran penasaran.

"umm,, eh, emm, tidak, bukan siapa-siapa. Yang jelas aku sudah memberitahumu Ran. Selamat tinggal"

"tunggu.. shinichi.." terlambat, telepon sudah ditutup.

.

t.b.c


nah, ini dia chapter pertama, sebenarnya aku sudah menulis 5 chapter untuk fanfic pertama ini. mungkin akan aku upload chapter selanjutnya besok. apa terlalu cepat? silahkan review :)