Hoaaaaaa! I'm baaaaaaack! #digampar
Akhirnya bisa update juga. Thanks buat yang udah review dan nungguin cerita ini : nanana-i, Kya Meda, sessho ryu, ImoLoveItachi-Kun, Assassin Cross, mimiko x as sakura, dan semua yang udah baca tapi gak review (itu juga kalo ada, wahahhaa #shot)
Jadi saudara-saudara, ini chapter terakhir. Tadinya mau dibikin 3-shot tapi akhirnya dipadetin jadi 2-shot ajah. Jangan tanya kenapa, karena author juga lupa apa sebabnya *dilempar bata* Yang pasti, kalo kalian udah baca, jangan lupa repiw. Oceh? XD
Disclaimer : Liat chapter 1
Maafkan author karena lama update yah. So, HERE WE GO! LET'S PARTY!
Pertarungan antara Sasuke melawan Fuuma berlangsung sengit. Seluruh mansion Date dibuat hancur oleh mereka. Serangan cepat Fuuma yang mematikan dapat disigapi dengan baik oleh Sasuke yang membalas dengan mengeluarkan jurus pengendali kegelapannya. Duel maut kedua ninja luar biasa ini membuat pasukan Date yang berjaga disitu tidak berani mendekat.
Fuuma, bukannya semakin lelah, justru semakin berbahaya. Sebaliknya, Sasuke mulai lengah dan tidak dapat menghindari berbagai serangan yang dilemparkan padanya. Bajunya robek-robek akibat tebasan pedang Fuuma dan perutnya dihajar telak. Badan Sasuke terjatuh menabrak pohon kokoh yang ada disitu. Belum sempat Sasuke sadar, Fuuma datang menyerang ke arah kepalanya.
Begitu pedang Fuuma nyaris menyentuh kepala Sasuke, ninja berambut cokelat itu tiba-tiba langsung menghilang begitu saja bagai ditelan bumi. Lalu, muncul 2 bayangan manusia yang menyerupai Sasuke menyerang Fuuma dari kedua arah. Dengan naluri ninjanya, Fuuma berhasil mematahkan jurus itu, namun ia tidak sadar sesuatu. Sasuke—yang asli—menyerang dari belakang. Shuriken-nya berbenturan dengan kedua pedang Fuuma.
"HEAAAAA!" Sasuke berhasil mendorong Fuuma hingga menyudutkannya di pohon. Tidak lupa ia juga menghajarnya tepat di ulu hati hingga Fuuma mengeluarkan darah dari mulutnya dan langsung terkapar.
"Itu untuk hutangku tempo hari." Katanya dingin. Ia pun segera menghajar kepala Fuuma hingga tidak sadarkan diri."Dan itu, untuk Sanada-danna."
Ketua 10 Ninja Sanada itu menyentuh hidungnya dengan telunjuknya, seraya berbalik dan tersenyum puas, "Cih, akhirnya aku bisa mengalahkan Kotarou Fuuma seorang diri. Kasuga pasti jadi suka padaku."
Sasuke pun menghilang dari medan pertempuran, menyisakan semburat-semburat kegelapan dan dedaunan yang berterbangan tertiup angin.
.
.
Sementara itu, pasukan Takeda-Date berhasil menggempur mundur pasukan Matsunaga keluar Oushuu dengan sukses. Sebagian besar, tentu saja berkat Masamune yang mengamuk.
Namun, Matsunaga Hisahide tidak ada dimanapun.
"Kurang ajar, kemana dia?" rutuk Kojuurou. Sementara Shingen, terlihat memikirkan suatu hal. "Shingen-kou, bagaimana menurut Anda?"
"Matsunaga jelas tidak ada disini. Tapi jika kita mencarinya, pasukan musuh akan kembali untuk mengambil alih Oushuu lagi. Sebentar lagi pasukan bantuan mereka datang dengan perlengkapan lebih." Jawab Shingen seraya melihat ke sekelilingnya. Ia tentu dapat memperkirakan apa yang akan terjadi, ia tidak dijuluki 'Harimau dari Kai' tanpa alasan.
"Itu benar. Tapi, kita juga tidak bisa diam disini untuk bertahan saja." Kojuurou mencoba untuk berfikir, namun ia tidak dapat memikirkan strategi sambil melihat tuannya seperti itu. Masamune benar-benar kesal dan tidak bisa didekati saat ini. Ia terus mengutuki nama Matsunaga Hisahide dalam bahasa asing yang Kojuurou sendiri pun tidak mengerti.
Di tengah kebingungan itu, muncul Sasuke yang terbang bersama seekor burung hitam. Ia melompat dan mendarat dengan mulus tepat di hadapan Kojuurou.
"Tenang saja. Aku sudah tahu dimana Sanada-danna ditahan. Disitu juga ada Matsunaga—"
"DIMANA!" Masamune menyerbu Sasuke begitu dengar itu. "Tunjukkan padaku, shinobi!"
"Ups, tenang dulu, Dokuganryuu. Kita tidak bisa bertindak gegabah!"
"Just shut the hell up! Aku harus temukan Yukimura sekarang juga!"
Tiba-tiba Sasuke justru tertawa kecil,"Kau tahu? Sifatmu yang gegabah begini mirip sekali dengan Sanada-danna."
Masamune langsung terdiam hingga Sasuke bicara lagi,"Apa kau mau membiarkan Sanada-danna dalam kondisi semakin sulit karena sikap cerobohmu?"
Benar juga. Masamune berpikir dalam hati. Apa yang kulakukan? Yukimura harus ditolong, namun tidak bisa seenaknya begini. Si brengsek Matsunaga pasti sudah memasang perangkap! Setelah pikirannya mulai tenang, Masamune bicara dengan kepala dingin,"Sorry. Aku hanya…panik. Aku tidak terima dia disakiti siapa pun…"
"Lantas kenapa kau menyakiti hatinya?" pertanyaan Sasuke terdengar sangat tajam menusuk Masamune.
"Aku tidak punya pilihan…karena itu, shinobi…bantu aku menemui dia untuk membayarnya!"
Kojuurou dan Shingen hanya diam menonton. Sementara Sasuke tersenyum tipis dan berkacak pinggang,"Huh. Padahal waktu itu aku berniat langsung membunuhmu, lho. Tapi kuurungi setelah aku mencium bau tidak sedap antara kau dan Matsunaga. Aku mulai curiga padanya, dan kecurigaanku terbukti setelah ia menculik danna."
"Sasuke," panggil Shingen,"bagaimana pasukan bantuan kita? Kelihatannya pasukan bantuan musuh sudah datang."
"Beres Oyakata-sama, mereka akan segera datang." Jawab Sasuke dengan sikap easy going-nya. "Kalau begitu aku pergi dulu."
"Kuserahkan padamu, Sasuke. Bawa pulang si bodoh Yukimura, biar bisa kuberi 'pukulan mesra' lagi! Dia masih perlu kuajari banyak hal."
Sasuke sweatdrop, tapi lalu langsung memimpin jalan bagi Masamune dan Kojuurou menuju markas tersembunyi Matsunaga.
.
.
Yukimura bingung. Begitu ia sadar, rasa sakit langsung menjalar ke seluruh tubuhnya dan ia berada di tempat yang asing. Yang ia ingat, ia didatangi oleh Matsunaga dan tanpa sempat mengelak, diserang oleh ninja berambut merah yang ia tidak tahu namanya.
Ia pun bangkit, dan setelah mengumpulkan kembali kesadarannya, ia mencoba mendobrak trails besi yang mengurungnya. Gagal. Percobaan kedua, ia mengeluarkan kekuatan apinya dan berhasil keluar.
"Matsunaga…Hisahide…kenapa dia menyerangku?" Yuki berjalan penuh tanda tanya. Ia masih memakai yukata yang biasa ia pakai di waktu santai. Hakama putih dan kebawahan warna merah. Kalung 6 koinnya masih menggantung di lehernya. Tapi ikatan rambutnya hilang entah kemana. Rambutnya yang autumn panjang tergantung cantik di punggung dan kedua sisi badannya.
Ia terus berjalan. Tanpa sadar ia mengingat kembali apa yang membuatnya resah begini. Pertama, memang keberadaannya sekarang. Kedua, adalah dia.
Date Masamune.
Mendadak, perasaan sedihnya berubah jadi kesal begitu bertemu 2 orang penjaga. Yukimura melumpuhkan mereka berdua seorang diri dan menyita kedua pedang mereka.
"Akan kubuktikan kalau aku masih layak menjadi rivalmu, Masamune-donoooo!"
.
.
"Yukimura…"
Sepanjang perjalanan, hanya itu saja yang ada di kepala Masamune. Ia memikirkan apa si harimau muda itu baik-baik saja. Apa yang sedang ia lakukan. Apa ia disakiti oleh Matsunaga.
Sungguh, yang terakhir itu yang paling membuatnya kesal.
"Kita sampai." Sasuke menghentikan langkah mereka. Tampak sebuah bangunan besar yang cukup tersembunyi di tengah hutan kecil. Bangunan itu cukup luas dengan gaya yang sama dengan rumah khas Jepang. Aura disitu pun suram.
Masamune, Kojuurou dan Sasuke pun segera menyerbu rumah itu.
.
.
"Matsunaga-sama." Seorang bawahan menghadap tuannya,"Ada penyusup."
"Fuuma tidak kembali?" tanya Matsunaga, dengan tatapan dingin dan wajah stoic ke arah pemandangan dari atas balkonnya.
"Belum, Matsunaga-sama. Tadi dia terlibat duel dengan ninja Takeda, Sarutobi Sasuke."
"Hmph…ketua 10 Ninja Sanada memang tidak bisa diremehkan. Bisa juga dia mengalahkan Fuuma."
"Ng, Matsunaga-sama, saya tidak bilang kalau dia—"
"Persetan dengan itu!" bentak Matsunaga,"Habisi semua tikus itu! Jangan biarkan mereka sampai kesini!"
"Ba, baik!" bawahannya yang ternyata juga ninja, segera menghilang dari hadapannya. Matsunaga mengernyitkan dahinya, kesal. Walau tidak lama ia pun menyeringai. Menemukan Sanada Yukimura sudah berada dibelakangnya dengan hawa membunuh.
"Hoo…jadi, apa yang akan kau lakukan, anak harimau?"
.
.
Sementara, di luar Sasuke dan Kojurou megikuti Masamune yang dengan ganas menghajar semua musuh yang mencoba menghalangi. Akhirnya mereka pun berhasil mendobrak masuk istana dan segera berlari menuju ruang bawah tanah. Sasuke menduga Yukimura pasti ditahan disana.
Namun nihil. Yang ada hanya beberapa prajurit yang tidak sadarkan diri dan sebuah sel yang sudah berhasil dijebol.
"Wah…" Sasuke termangu,"danna memang tidak bisa diremehkan…"
"Sial! Kemana dia! Oi, shinobi!" gertak Masamune tidak sabaran.
"Masamune-sama, biarkan Sarutobi berpikir dulu." Ujar Kojurou berusaha menenangkan tuannya dan memberikan kesempatan Sasuke untuk mencoba berpikir.
Jika tidak disini, lantas dimana? Sasuke mencoba menerka apa yang akan Yuki lakukan. Mendadak, petunjuk datang. Sebuah ledakan tercipta di lantai paling atas istana itu. Mereka bertiga, tanpa berpikir dua kali langsung tahu kalau itu Sanada.
.
.
Yukimura dan Matsunaga bertarung sengit. Mereka sama-sama lincah, sama-sama sigap dan sama-sama hebat. Mereka lalu mengadu kekuatan pedang mereka, saling menekan satu sama lain.
"Matsunaga Hisahide…apa yang kau rencanakan!" seru Yukimura marah. Kekuatan apinya keluar dengan deras.
"Aku merencanakan semuanya, Sanada." Matsunaga menyeringai, lalu mendorong Yuki keras. Ia bicara dengan lantang,"Kau pikir kenapa Date Masamune mencampakkanmu hah?"
Yukimura berusaha bangun, namun luka yang dibuat oleh Fuuma membuatnya sulit. Ia sedang dalam kondisi tidak fit untuk bertempur. Nafasnya pun mulai cepat. Dan dadanya semakin sakit saat mengingat kejadian itu.
"Itu…karena…aku…"
Matsunaga kembali tertawa,"Hahaha, kau polos ya, Sanada. Biar kuberi tahu." Katanya lagi,
"Aku. Aku yang menyuruhnya. Aku, yang merencanakan penyerbuan Oushuu. Aku, yang menyuruh Fuuma menawan Katakura. Aku juga lah, yang menyuruhnya membuangmu supaya ia tidak memiliki satupun aliansi. Dan jika ia melanggar, Oushuu dan bawahannya setianya lah yang akan membayarnya."
Yukimura tidak percaya pada apa yang didengarnya. Jadi, Masamune-dono…
"Kau…benar-benar…sampah…" desis Yuki geram. Ia mengumpulkan seluruh tenaganya untuk bangkit. Ia genggam erat kedua pedang rampasannya yang menggantikan kedua Jumonji yari yang biasa ia pakai.
Namun, waktu serasa berhenti. Baru saja Yukimura akan melangkahkan kakinya, ia mendapati suatu benda tajam menembus dadanya. Ada seseorang yang menyerangnya dari belakang. Darah keluar deras dari luka di dadanya dan mulutnya.
Dan waktu pun serasa berhenti, ketika kejadian itu disaksikan langsung oleh Masamune yang baru saja sampai. Ia melihat, tubuh Yukimura yang bersimbah darah, terjatuh tak berdaya di lantai.
"YUKIMURAAAAA!"
Masamune langsung menghajar orang yang berani-beraninya melukai Yuki. Ia, yang tidak lain juga Kotarou Fuuma, langsung terjerembab akibat sabetan pedang. Belum selesai, datang Sasuke yang penuh kemarahan menyerangnya. Pertarungan kembali terjadi diantara Sasuke dan Fuuma, sementara Masamune langsung menghambur ke samping Yukimura. Lalu, Matsunaga diurus oleh Kojuurou.
Masamune menghampiri Yukimura dan segera mengangkatnya dengan pelan. Ia begitu shock saat melihat darah pemuda itu memenuhi kedua tangannya.
"Masa…mune-dono…?" ucap Yuki terbata.
"Yukimura…diamlah dulu…tetaplah bersamaku, Yuki!" seru Masamune. Panik, marah, sedih, semuanya bercampur aduk.
Yuki tersenyum, meraih wajah Date,"Syukurlah…kau baik-baik saja…"
"No, Yukimura, aku tidak…Yuki, maaf. Maafkan aku. Maaf. Aku memang bodoh. Really stupid. Tetaplah bersamaku ya? Please?"
"Tidak apa-apa…Masamune…dono. Aku…tahu…" tangan Yuki digenggam erat oleh Masamune. Seolah, tidak ingin membiarkannya pergi. "Dengar, Masamune-dono…dengar ini baik-baik. Ini semua…bukan salahmu. Jadi, jangan…salahkan dirimu…"
"Yukimura, jangan katakan itu…"
"Masamune-dono…kumohon…" potong Yuki, dengan suara yang sudah nyaris hilang,"Hiduplah. Oushuu…bergantung padamu…dan semua yang percaya padamu. Dan, hiduplah…untukku…"
Masamune begitu terpukul, tidak tahu harus bicara apa. Hatinya begitu hancur. Perasaan bersalah merayapinya seolah ingin menelannya dalam kegelapan. Ia bawa kepala Yuki mendekat wajahnya, diciumnya bibir Yuki dengan lembut. Lalu diciumnya keningnya dan ia bawa tubuhnya ke pelukannya. Ingin membagi kehangatan pada tubuh Yukimura yang sudah mulai mendingin.
"Yuki…apa yang aku katakan padamu, adalah kebalikan dari perasaanku yang sebenarnya…"
Aku ingin terus bersamamu dan aku tidak berpikir akan menemukan orang lain yang dapat menggantikanmu sebagai rivalku.
Yukimura memikirkan kalimat itu. Ah, begitu ia lega saat mengetahuinya. Air mata mengalir dari matanya. Sebuah senyuman cerah muncul di wajahnya yang memucat.
"Jadi, Masamune-dono…?"
"I love you." Bisik Masamune, namun kata-kata itu terdengar sangat manis di telinga Yuki. "Aishiteru. Dulu, sekarang dan selamanya."
Kenapa? Kenapa harus berakhir begini? Yuki menatap air mata yang juga keluar dari satu mata Masamune. Ia hanya memberi senyum terbaiknya, sebagai tanda perpisahan.
"Masamune-dono. Aku juga…menyukaimu. Tapi, maaf…aku…pergi duluan…"
"Yukimura…"
"Hiduplah…Masamune-dono…untukku…dan semua yang bergantung padamu…susul aku jika kamu…sudah tua…dan menjadi Daimyo yang hebat."
"Yukimura!"
Dan itulah kata-kata terakhir Yukimura. Ia gugur dalam damai, di pelukan Masamune, rivalnya.
"…Rest in piece…" ucap Masamune, tidak mampu menahan air matanya untuk keluar deras, memandangi tubuh orang yang dicintainya sejak pertama kali bertemu, tidak bernyawa lagi. Ia berteriak, penuh kemarahan yang amat sangat. Ia mencabut keenam pedangnya, bertarung dengan sangat brutal dan penuh rasa putus asa…
-END-
Sometimes love is not just about possessing. But to protect someone we love until the end, with all our might, with all our live, with all our heart and soul. That is the meaning of the real love… And the real love will last forever…
~Japan, 21st century~
"Masamune, lihat tugas Bahasa Inggris-mu dong!"
Remaja bermata satu itu mendesah di hadapan remaja bermata satu lainnya, "Motochika, pernah tidak sekali saja buat tugasmu sendiri?" katanya sambil melempar buku tugasnya di meja.
"Yah, Bahasa Inggris kan kamu jagonya!" serunya dengan senyuman yang lebar, membuat Masamune jadi kesal. "Habis, Mouri tidak mau membantuku."
Yang bernama Mouri langsung menyahut, "Aku tidak punya waktu untuk mengajari orang bodoh sepertimu."
"Jahat!"
Masamune tersenyum tipis begitu pertengkaran diantara keduanya terjadi untuk kesekian kalinya. Ia berpaling, menatap ke arah langit biru dari jendela.
Beautiful. Biru memang selalu menjadi warna identitasnya. Kontras dengan merah yang menyala, biru memberi perasaan tenang.
Kontras dengan warna merah yang agresif.
Merah.
Seorang pemuda berambut cokelat panjang diikat, dengan ikat kepala merah, baju merah, dan armor merah, bertarung gagah dengan apinya yang membara-bara. Kalung 6 koin yang tergantung di lehernya yang jenjang. Wajah yang begitu manis, innocent, namun penuh keberanian dan kekuatan. Guren, teratai merah, bunga yang bersemi di medan pertempuran.
Ingatan yang penuh dengan masa lalu menyedihkan nan menyayat hati, hingga rasanya begitu menyiksa.
Lamunan Masamune harus terhenti begitu bel berbunyi, dan beberapa menit kemudian, datang guru yang dengan senyuman manis membawa sebuah berita.
"Anak-anak, kita kedatangan murid baru. Ayo, silahkan masuk."
Mata Masamune melebar. Waktu di sekelilingnya terasa terhenti. Tubuhnya membeku dan mulutnya terbuka lebar.
Seorang murid baru, pemuda yang terlihat manis dan ceria. Rambutnya panjang berwarna cokelat yang terikat cantik di belakang punggungnya. Dan, kedua matanya … terlihat ada kobaran api yang menyala dari kedua mata cokelat yang indah itu.
"Hajimemashite. Watashi wa Sanada Yukimura desu. Yoroshiku onegaishimasu."
Kedua insan yang terpisah kini bertemu untuk kedua kalinya. Mereka mengabaikan tatapan orang-orang di sekitarnya, hanya saling menatap mata satu sama lain dengan senyuman lega tersungging di bibir keduanya. Setelah terpisah selama 6 abad, akhirnya mereka bertemu kembali dengan jarak hanya beberapa meter saja.
Akhirnya. Akhirnya, aku bisa meraihmu lagi dalam dekapanku. Yukimura…
…Who knows?
Have faith. The good comes to anyone who waits for it. Reunited, be together once again, live a happy life, ever after.
-Not Really The End. But this piece of tale ends here-
