Moonlight Shadow

Disclaimer: Harry Potter belongs to J.K Rowling.

Summary: Ditinggal di sebuah gang gelap pada umur empat tahun, Harry Potter ditemukan oleh Pemimpin tertinggi Mafia di Eropa dan diadopsi sebagai satu-satunya pewaris. Dibesarkan dengan cara yang tidak diprediksikan oleh Albus Dumbledore, Harry kembali ke Dunia Sihir untuk memulai petualangannya di Hogwarts, dan ia tidak akan membiarkan seorang kepala sekolah mengatur hidupnya.

Eventually Blaise/Harry, tapi sepertinya untuk pair itu masih sangaaat lama ._.v

A/N: Manipulative!Dumbledore, eventually SLASH, AU, OC, OOC, kalau tak suka Dumbledore yang tidak se-'putih' di buku silahkan tekan tombol 'back', dan sebagainya. Terinspirasi dari fict Blood Prince dan sequel-sequelnya oleh ShadeDancer. Berminat untuk membaca? Lihat di list fave-storiesku :D

Sayang banget di cerita itu, Fem!Blaise, tapi di sini Blaise-nya cowok kok kan fict Slash :p Yaaah, karena fict Blaise dikiiit banget di HPE apalagi di HPI dan saya tidak berminat baca fict dengan bahasa selain dua bahasa itu, saya berkesperimen dengan pair iniii, semoga suka!

Enjoy!


Book I Chapter 1 – The Difference.

.

.

Capiano Mansion

Friday, 31st of October 1987

Harry Potter menghela nafas dan mengerjapkan matanya lelah.

Menggerutu mengenai betapa kejamnya ayah dan 'paman'nya dalam melatihnya, Harry kembali duduk dan meraih handuk yang tergantung di lemari-nya. Berjalan lesu ke arah pintu lain yang berada di kamarnya, ia menutupnya tapi tidak menguncinya; pengalaman yang mengajarkannya. Lagi pula, siapa yang bisa menjamin kalau rumah mereka tidak akan diserang saat ia sedang mandi?

Menggumamkan lagu 'Ignorance'-nya Paramore, Harry menyalakan keran dan mandi dengan air hangat. Pas untuk menyegarkan tubuhnya setelah ia benar-benar di'habisi' oleh Al, yang empat tahun ini sudah ia pikir sebagai pamannya sendiri, tapi paman yang benar-benar beda dari Vernon.

Mengingat hal itu, entah mengapa Harry menggigil.

'Tidak,' ia bergumam, menyenderkan kepalanya di dinding dan membiarkan air membasuhi tubuh munglinya. 'Kau sudah jauh dari mereka. Kau sudah aman dari mereka. Kau punya Makarov sebagai ayah yang benar-benar menyayangimu, Al sebagai pamanmu yang galak tapi tetap menyenangkan, dan seluruh anggota Klan Capiano sebagai keluargamu.'

Ia mengulang-ulang pikirannya, membuatnya mantra agar terlepas dari flashback masa lalunya. Tapi tetap saja… andaikan malam itu Makarov tidak memutuskan untuk membawanya pulang dan mengadopsinya, entah apa yang akan terjadi pada Harry.

Mengingat itu, Harry tersenyum. Setelah menemukannya, ayahnya membawanya pulang, dan langsung merawatnya dengan dokter keluarga yang sudah sangat dipercaya oleh ketua Mafia Eropa itu. Seminggu penuh ia koma, atau lebih tepatnya ia tertidur untuk membiarkan sihirnya 'membetulkan' tubuhnya. Biasanya, ketika ia mendapat hukuman dari paman dan bibinya, ia hanya punya waktu sedikit untuk beristirahat dan membiarkan sihirnya merawat dan membetulkan setiap tulang yang patah, menghilangkan setiap lebam di tubuhnya. Dan pada waktu itu, pada akhirnya ia mendapat kesempatan untuk beristirahat, sihirnya bekerja. Tapi walau begitu, hanya ayahnya yang tahu tenang 'keanehannya', walau Makarov memaksa bahwa itu bukan keanehan, tapi sebuah 'gift'.

Ia ingat setiap percakapan kedua paman dan bibinya, mengenai mengapa selama ini ia disebut 'freak' atau 'boy'. Mungkin mereka tidak akan percaya, atau mungkin mereka merasa aman karena tidak mungkin bocah berusia empat tahun mengerti mengenai apapun yang sedang mereka bicarakan. Tapi tidak, Harry mempunyai ingatan fotografis, yang berarti sejak ia bisa mengerti hal-hal yang ada di sekelilingnya, ia akan mengingatnya.

Setelahnya, ia tahu kedua orangtuanya tidak meninggal karena kecelakaan mobil karena mabuk seperti apa yang bibinya selalu bicarakan, tapi karena dibunuh. Walau alasannya tidak pernah ia ketahui. Ia tahu ia selamat, dan hanya mendapatkan bekas luka sambaran kilat di dahinya. Ia tahu, karena ia selalu memimpikan hal itu, walau frekuensi mimpi buruknya berkurang sejak ia tinggal di Capiano Manor.

Makarov selalu bertanya, apakah ia ingin menutup atau menghilangkan luka di dahinya dengan operasi plastik, tapi Harry selalu menolak. Entah mengapa, ia selalu merasa bahwa bekas luka itu akan membuatnya istimewa atau kutukan, tergantung dari sisi mana ia melihatnya. Tapi ia sering menutupi bekas luka yang mungkin suatu saat akan menjadi ciri khasnya, karena saat dalam keadaan menyamar, kadang menutupi bekas luka lebih efisien daripada mengganti model rambut; banyak orang yang mempunyai luka tersendiri yang menjadi ciri khas... makin sedikir orang yang mengetahui tentang lukanya makin sedikit orang yang mengenalnya.

Menghela nafas, Harry meraih shampo dan mulai membasuh rambutnya yang sekarang panjang sebahu. Ternyata, apabila rambutnya dipanjangkan, tidak akan seberantakan yang biasanya. Harry tersenyum mengingat ayahnya selalu berusaha merapihkan rambutnya saat mereka akan pergi meeting dengan beberapa orang penting.

Ngomong-ngomong tentang meeting…

Harry melirik bekas luka panjang di lengan kirinya. Ia menghela nafas, mengingat dari mana ia mendapat bekas luka ini. Tahun lalu, pada saat ia, ayahnya dan Al pergi makan-makan di sebuah restoran, tepat pada saat mereka akan pulang, lima orang menyerang mereka.

Makarov langsung menyembunyikan Harry di belakang punggungnya, mengeluarkan pistolnya sementara Al membelakangi Harry, pistol siaga. Harry sendiri mengeluarkan dagger-nya, bersiap. Ia mungkin memang belum lihai menggunakan pistol, tapi entah mengapa dengan pisau ia alami. Matanya siaga, karena ini memang bukan penyerangan pertama. Tapi dulu ada dua penjaga di dekat mereka dan mobil mereka langsung datang dan Harry langsung 'dilempar' ke dalam mobil, memperhatikan ayahnya melawan para penyerang mereka. Setelah itu, Harry langsung menghadap ayahnya dan meminta agar pelajarannya tentang hand-in-hand combat, knife dan dagger juga pistol diperbanyak.

Pada saat itu, hanya mereka bertiga. Lima orang langsung menyerang mereka, dan entah bagaimana caranya Harry terpisah sedikit dari mereka dan satu orang maju, meraih lengannya. Harry langsung menyerang orang itu, melayangkan pukulan ke wajah dan memutar pisaunya, melukai lengan yang menyeretnya. Tapi sayangnya, ia tidak melihat orang tersebut mengeluarkan pisaunya dan luka di lengannya sekarang adalah hasil dari kecerobohannya waktu itu.

Ayahnya, yang melihat dengan wajah horror anaknya terkena sayatan panjang dan dalam di lengannya, langsung menembak orang yang melukai anaknya tepat di kepala, dan langsung berlari ke arahnya, musuh lain sabodo. Al, yang membereskan sisa dari penyerang mereka, langsung meraih walkie talkie-nya dan meminta bala bantuan juga mobil untuk mengangkut mereka.

Harry, yang berusaha untuk menenangkan ayahnya yang sudah histeris melihat darah mengucur deras dari lengannya, langsung memeluknya dan membiarkannya dibawa ke dalam mobil dan langsung menghentikan darahnya.

Makarov langsung melarang Harry keluar rumah selama sebulan penuh, atau kalaupun ia ingin keluar minimal ada satu penjaga Moon atau malahan Shadow menemaninya. Harry, yang masih lemah karena kekurangan darah, hanya mengangguk. Setelahnya, latihannya dalam menjaga diri langsung bertambah dua kali lipat. Bukannya Harry protes atau apa, tapi ia mengerti mengapa ayahnya melakukan hal itu. Ia tidak ingin mengadakan pemakaman untuk anaknya dua kali… cukuplah untuk anak pertamanya.

Mengingat hal itu, Harry tersenyum sedih. Kematian Andre mirip dengan kecelakaan yang ia dapatkan waktu itu. Mereka diserang ketika penjaga sedang lengah. Tapi, pada saat itu, Andre masih belum bisa menggunakan senjata dengan efektif dan penyerang mereka lebih banyak.

Seharusnya tidak ada orang tua yang mengubur anaknya sendiri. Tapi Makarov iya, dan lagi kematian anaknya terjadi di depan matanya sendiri. Sebanyak apapun pengalaman Makarov di lapangan, sebanyak apapun ia melihat kematian, melihat kematian anaknya sendiri tentu saja sudah lebih dari cukup.

Membasuh sisa-sisa sabun dari tubuhnya, Harry mematikan keran air dan meraih handuk, mengeringkan tubuhnya lalu melilitkan handuk di tubuhnya. Dengan cepat ia meraih bajunya, tepat ketika seseorang mendobrak pintunya.

Dengan cepat Harry meraih dagger-nya, tapi langsung rileks setelah ia mendengar suara khas ayahnya.

"Harry!"

Dengan cepat meraih kaos berwarna hitam dan memakainya, Harry meraih celananya tepat ketika Makarov membuka pintu kamar mandi.

"Dad!" Harry berteriak kesal, dengan cepat meraih resleting celananya. "Kalau ada orang di kamar mandi, ketuk dulu!"

Tapi ayahnya hanya menyeringai. Terlepas dari reputasinya sebagai ketua Mafia Eropa yang ditakuti dan dihormati, Harry berhasil melihat sosok lain Makarov. Dan Harry merasa senang menjadi orang yang bisa melihatnya.

"Oh Harry, jangan malu!" balas ayahnya, menghindar pisau yang melayang ke arahnya dan menancap ke dinding di belakangnya. "Jangan lempar-lempar pisau di kamar mandi!" teriaknya, berkacak pinggang menatap anaknya gusar.

Harry hanya menggerutu dan meraih pisotlnya, menaruhnya di tempat tersembunyi. Ia lalu meraih dua pisanya dan ditaruh di sepatu bootnya, masing-masing satu. Lalu satu pisau panjang ia taruh di punggung, dan ia meraih handuk dan mengeringkan rambutnya. "Dad sendiri sembarangan masuk kamar mandi," balasnya gusar, tapi ia berbalik juga. "Jadi-?"

"Ayo, nanti kita telat!" jawab Makarov, menyender di dinding melihat anaknya menggantung handuk di balik pintu. Tersenyum melihat muka anaknya yang masih cemberut, Makarov mengulurkan tangannya dan mengelus rambutnya lembut. "Come on, son. Masih ada hal yang harus kita lakukan sebelum berangkat."

Harry tersenyum cerah. Setiap mendengar ayahnya memanggilnya son, Harry benar-benar merasa bahwa ia adalah anak dari Makarov Capiano. Walaupun ia mempunyai nama Harry Potter, nama Harry Capiano terkenal di penjuru Eropa sebagai anak dan pewaris dari 'King Mafia' itu sendiri, membuatnya menjadi 'Mafia Prince'. Tentunya terkenal di dua dunia, dunia 'depan' dan 'belakang', walau di dunia 'depan' ia terkenal karena menjadi pewaris Capiano Ink.

"I'm ready dad!"

Mencabut pisau dari dinding, Makarov mengembalikannya kepada anaknya, yang langsung menghilang di balik lengannya. Harry mengambil jaketnya dan memakainya, dan mengikuti ayahnya keluar kamar.

Di ruang keluarga, sudah menunggu Alfonso Greengrass. Pria yang berada di akhir dua puluhan itu mempunyai rambut pendek cepak berwarna hitam kecokelatan, dengan tulang pipi tinggi dan wajah khas bangsawan. Matanya yang berwarna abu gelap mencerminkan banyaknya pengalaman yang ia punya. Dengan tubuh tinggi dan ramping, ia pintar mengelak dari musuhnya pada saat pertempuran, dan mempunyai reflek yang bagus, dan lagi kekuatannya tidak diragukan. Menatap mereka berdua yang sedang memasuki ruangan, Al berdiri dan menyambut mereka, senyum di wajahnya.

Satu lagi hal yang bisa Harry lihat hampir setiap hari, tapi hal yang sangat langka muncul di publik.

"Harry! Akhirnya kau beres juga," sapa Al, menepuk pundak Harry dan menyeringai pada bos-nya. "Hey, Makarov, sepertinya kau selamat dari serangan pisau Harry lagi, eh?"

Gumaman kesal Makarov menjadi jawabannya.

Menyeringai, Al menyeret Harry ke sofa dan menyuruhnya duduk. Ia lalu melempar satu map.

"Bacalah, lalu hafalkan."

Menatap pamannya dengan pandangan bertanya, Harry membuka map tersebut. Tersenyum melihat apa yang berada di dalamnya, ia mengangguk dan membacanya dengan seksama, membiarkan otaknya menghafalkan kata per kata dan menganalisanya.

"Oke," katanya setelah membacanya sekali. Terima kasih kepada kemampuan fotografis-nya, ia bisa langsung mengingat hal dalam sekali lihat dan baca, membuat sekolahnya menjadi jauh lebih cepat.

Yang berada di map adalah rincian keamanan di gedung yang akan mereka masuki, kalau-kalau ada serangan yang terjadi, Harry setidaknya sudah mengetahui jalur keluar dari gedung dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Makarov langsung berada di samping anaknya dan membantunya berdiri, lalu memeluk pundaknya erat. Selalu, setiap kali mereka menghadiri acara resmi yang dipublikasikan ke publik, rasa takut melandanya, karena kemungkinan mereka diserang lebih besar. Tapi ia meyakinkan dirinya sendiri, karena anakya telah dilatih oleh yang terbaik, dan sudah siap membela dirinya sendiri.

Menghela nafas, Harry membiarkan dirinya diseret oleh ayahnya ke dalam mobil, di mana ia duduk di sebelahnya dan Al di depan, menyetir. Selama perjalanan, Harry memperhatikan sekitar sampai mereka sampai di sebuah gedung.

"Siap?"

Harry mengangguk, tersenyum.

Mereka berdua keluar, dan langsung menghadapi para reporter yang berusaha mewawancarai mereka. Berjalan cepat di sebelah ayahnya, Harry memasang wajah stoic, topeng yang ia pakai di depan umum. Mereka akhirnya memasuki gedung, dan langsung naik ke lantai di mana acara akan di mulai.

Kali ini, mereka akan menghadiri pesta Halloween yang diadakan oleh perusahaan besar lainnya, dan sebagai salah satu perusahaan terkaya di Eropa –usaha yang tidak illegal, tentunya-, Makarov diundang dan kali ini ia memutuskan untuk membawa Harry dan Al, mengingat Harry sudah mencapai umur delapan tahun dan sudah bisa membela dirinya sendiri kala-kalau diserang. Belum lagi Harry sudah menghafalkan jalan aman dan jalan keluar dari gedung ini.

Meremas pundak anaknya sekali lagi, ia melepaskannya dan memasuki ruangan, membalas sapaan orang-orang di sekitarnya.

Harry tersenyum, walau senyum yang ia tampilkan adalah senyum dingin yang tentunya tidak mencapai matanya. Ia melihat dan memperhatikan ruangan dengan seksama, melihat-lihat kalaupun ada ancaman bahaya, atau orang-orang yang berperilaku membahayakan dan mencurigakan.

Memaksakan dirinya relaks, Harry berdiri di sebelah ayahnya, saat kemudian matanya menangkap sosok seusianya yang berdiri di dalam bayangan, memperhatikan sekitar, berperilaku seolah ia bukan bagian dari para tamu, melainkan seseorang yang mengawasi mereka.

Entah kenapa Harry langsung tertarik dengan anak lak-laki itu, dan ketika mata mereka bertemu, mata itu terlihat terkejut sedikit, tapi kemudian berubah jadi cerah. Kenapa-?

Harry berbalik menatap ayahnya. "Ayah, bolehkah aku, ah, mengambil minum?"

Makarov menatap anaknya curiga, tapi melihat mata emerald itu mengatakan kepadanya bahwa ia akan menceritakan hal itu nanti, dan akhirnya ia mengangguk. Harry tersenyum sedikit kepada orang-orang yang sedang berbicara dengan ayahnya, lalu berbalik dan berjalan menuju sosok anak laki-laki, yang sekarang berada di dekat meja minumam. Tersenyum, Harry mengambil minuman, dan dengan gaya kasual menyender di dinding di sebelahnya.

"Hey,"

Harry berbalik, dan menatap anak itu. Tubuhnya lebih tinggi sedikit daripada Harry, kulitnya kecokelatan tapi cocok untuknya, matanya cerah ketika menatapnya, bukan berbayang seperti yang Harry lihat sebelum mata itu menatapnya. Rambutnya pendek cepak, mengingatkannya akan Al, tapi rambut itu kecokelatan. Kedua tangannya di lipat di dada, dan ia menyender ke dinding, menatap Harry.

Harry tersenyum. "Hey," ia mengulurkan tangannya. "Harry Capiano."

Anak itu menatapnya dengan penuh perhitungan, lalu menyambut tangannya. "Blaise Zabini."

'Ah, keluarga Zabini,' batin Harry. Keluarga Zabini terkenal dengan perusahaannya di bidang Wine, dan wine mereka terkenal di seluruh Eropa, salah satu yang benar-benar berkualitas.

"Senang bertemu denganmu, Mr. Zabini." Kata Harry, menatap Blaise.

Zabini tersenyum, "The pleasure is mine, Mr. Capiano… or Mr. Potter?"

Harry membeku sejenak. What the-?

"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan," sanggah Harry, mencoba mengatur suaranya agar tidak bergetar. Yang mengetahui naam aslinya hanya ayahnya, bahkan Al pun tidak tahu. Tapi ini…

"Tenang," gumam Zabini, meraih minumnya. "Keluargaku mengenal keluarga Potter sejak lama, tentu saja aku tahu kau."

Harry menghela nafas. Nanti ia akan melakukan penelitian mengenai keluarga Zabini, mengenai mengapa mereka bisa mengenal keluarga Potter. Untuk sekarang… "Panggil saja Harry."

"If only you call me Blaise."

"Oke, Blaise." Harry tersenyum. Mereka berdua lalu berbincang-bincang mengenai keluarga mereka, atau apapun. Tapi Harry memperhatikan gerak-gerik Za- Blaise di depannya. Jelas-jelas anak laki-laki itu menahan sesuatu… tapi mereka berdua baru bertemu sekarang, dan walaupun Blaise mengetahui keluarganya, Harry tidak.

Tiba-tiba, terdapat sosok di belakangnya. Harry berbalik, dan langsung berhadapan dengan Al. Ia tersenyum, "Hey, Al."

Al mengangguk, tapi pandangannya terkunci kepada orang yang sedari tadi berbincang dengan Harry. Harry menatap mereka berdua, bingung.

Blaise kemudian seolah-olah mengerti sesuatu, lalu menaruh gelasnya di meja. "Saya permisi, Harry, Mr. Greengrass."

Harry mengangguk. "Sampai bertemu lagi," ia berkata, walau ia sendiri tidak tahu kapan mereka akan bertemu lagi.

Untuk ini, Blaise tersenyum misterius. "Sampai bertemu tiga tahun lagi, Harry Potter."

Harry merasakan Al membeku di belakangnya, dan ia merutuki mulut Blaise yang membuka rahasianya. Tapi, sebelum kedua anggota Capiano itu bersuara, Blaise sudah menghilang di kerumunan.

Al menatapnya lama, lalu meraih lengannya. "Ayo, Harry. Kita bertemu dengan ayahmu. Ada… ah, masalah di Manor."

Harry mengangguk. Mereka berdua berjalan ke arah Makarov, dan Al membisikan sesuatu kepada ayahnya sementara Harry berfikir mengenai percakapannya dengan Blaise. Apa maksudnya mereka akan bertemu tiga tahun lagi? Mengapa Al bereaksi seperti itu saat mendengar nama aslinya?

Saking seriusnya ia berfikir, ia sampai tidak menyadari kalau ayahnya sudah berada di depannya, menatapnya cemas.

Harry mendongkak, dan mengeluarkan senyumnya untuk meyakinkan ayahnya kalau ia baik-baik saja.

"Ayo, nak."

Mereka bertiga berjalan keluar ruangan dan langsung berjalan menuju tempat keluar terdekat, tergesa-gesa memasuki lift, dan ketika sudah mencapai lantai dasar Harry diseret untuk masuk mobil, dengan Al di depannya dan Makarov di belakangnya, dan penjaga di sekitar mereka.

Uh-oh, tidak bagus sama sekali.

Harry menyadari bahwa tidak mungkin ada orang yang nekat menyerang rumah mereka, dengan mereka tidak ada apalagi saat mereka masih ada. Tapi sepertinya ia salah, karena sudah dua kali rumah mereka dimasuki musuh dan sudah dua kali Harry keluar melalui lorong rahasia di rumah mereka.

Dan sekarang, dengan seseorang menyerang rumah saat mereka sedang tidak ada…

Ia menelan ludah susah payah, percakapannya dengan Blaise terkunci di belakang otaknya. Sekarang, yang paling penting adalah bagaimana cara mereka untuk melawan penyerang yang masuk rumah mereka saat mereka sedang tidak ada.

Makarov melirik anaknya yang sedari tadi duduk diam. Ia menghela nafas; entah mengapa ada saja yang terjadi di hari yang biasa. Tapi, untuk mereka yang bekerja di dunia gelap seperti Mafia, mungkin tidak ada kata 'biasa'.

Ia mengulurkan tangannya dan memeluk anaknya dari samping. Pada awalnya, ia melihat Harry sebagai pengganti Andre. Tapi, seiring berjalannya waktu, ia melihat Harry sebagai 'Harry', anak lelaki pendiam tapi observan, pemalu tapi apabila sudah diberi kesempatan akan menjadi pemimpin yang hebat, mempunyai selera humor dan pikiran yang cerdik tapi juga licik.

Ia merasakan anaknya relaks di pelukannya, dan ia berbisik di telinganya, meyakinkannya.

"Segalanya akan selesai, dan kita bisa melanjutkan pesta di rumah dengan yang lain," gumam Makarov, mengacak rambut Harry.

Akhirnya Harry tersenyum.

.

.


Harry menghempaskan tubuhnya di sofa. Malam ini benar-benar melelahkan. Penyusup mereka berjumlah lebih dari satu lusin. Mungkin dua. Atau tiga. Harry tidak menghitung dengan cermat, yang pasti semua penjaga yang sedang gilir hampir setengahnya terluka, dan ia sendiri terkena sayatan di bahunya, lagi. Walau begitu, ia berhasil mengalahkan lima orang, dan tiga diantaranya tidak terlalu beruntung.

Harry menutup matanya sementara ayahnya menginterograsi para penyusup yang masih hidup, ataupun yang terluka parah. Mungkin masih sekitar satu jam lagi ayahnya akan keluar, dan Harry menggunakan waktu yang ia punya untuk tidur.

Membuka matanya cepat pada saat ia merasakan seseorang mengguncang bahunya, Harry langsung mengeluarkan pisaunya dan hampir menebas leher orang itu, andai orang itu tidak cukup cepat untuk menghindar dan menangkap tangan Harry. Salah satu keunggulannya adalah reflek dan gerakannya yang cepat. Harry membuka mata, dan dilihatnya Al memegang tangannya, matanya mencerminkan kebanggaan.

Harry tersenyum.

"Hey Al, kau menakutiku."

Al menurunkan tangannya dan mendengus. "Kupikir sangat sedikit hal-hal yang membuatmu takut, bocah."

Harry menyeringai, lalu menyarungkan kembali pisaunya. "Ada apa?"

"Makan malam."

Harry mendengus. "Ini baru, jam berapa sekarang? Ah, baru dua jam setelah penyerangan besar-besaran dan kau datang membangunkanku untuk makam malam." Ia menghela nafas, menggelengkan kepalanya. "Kasual sekali,"

Al mendengus, membantu Harry berdiri, mencoba sebisa mungkin tidak melukai bahunya yang terluka. "Ayo, bocah. Mungkin ini sudah malam, tapi jadual makan malam kita diusik oleh para penyerang itu, setidaknya setelah semua beres kita bisa melanjutkan makan malam, no?"

Harry tertawa mendengar selera humor Al yang… khas Al. mengangguk, mereka berdua berjalan beriringan ke arah ruang makan, di mana Makarov sedang berdiri dan berbincang dengan Vane dan Kim, dua anggota Shadow, penjaga dengan rengking tertinggi di keluarga mereka.

"Hey V, Kim!"

Mereka berdua berbalik, dan tersenyum letih. "Hey Har! Rough night, hu?"

Harry hanya bisa tersenyum, lalu meraih kursi dan duduk, mengistirahatkan kepalanya di meja makan. "Yeah, a rough one."

Kim tersenyum. Bagi Harry, Kim sudah seperti kakak perempuannya, sedangkan Vane kakak laki-lakinya. Mereka berdualah yang paling dekat dengan Harry di antara para penjaga lainnya, dan juga usia mereka berdua bisa membuat mereka benar-benar kakak Harry.

Mereka berdua duduk di kursi di seberang Harry, lalu Al duduk di sebelah Harry dan Makarov di sebelah yang lain. Lalu mereka makan dalam diam, sekali-sekali Harry melirik ke arah ayahnya. Malam ini benar-benar… melelahkan. Mereka berhasil menangkap sepuluh orang lebih, sisanya mengalami nasib tidak menyenangkan. Mayat-mayat yang ada di sekitar rumah dan beberapa yang sudah masuk sudah berhasil di singkirkan, dan seperti khas ayahnya, akan kembali dikirimkan kepada markas penyerang mereka. Sebagai pertanda untuk tidak macam-macam terhadap keluarga Capiano.

Harry menatap ayahnya, lalu menatap Kim dan Vane. Sepertinya ada yang mereka rahasiakan…

"Jadi dad, apa yang mereka incar sekarang?"

Keempat orang dewasa saling menatap, berkomunikasi dalam diam. Harry menghela nafas. Kalau tidak boleh, ya sudahlah, tidak usah.

"Kalau aku tidak boleh tahu, ya sudah." Katanya, menaikan bahunya tanda tak peduli. Sebenarnya ia peduli… tapi ia memilih untuk tidak mengusik kalau itu bukan urusannya. Mungkin ada alasan yang baik di balik itu, hm? Lagi pula, ia baru berumur delapan tahun.

Al menatap sahabatnya dan kedua orang yang ia percaya. Ada hal yang harus ia bicarakan kepada mereka berdua… dan mengingat umur Harry sudah delapan tahun, mereka tinggal mempunyai waktu tiga tahun sebelum Harry pergi ke Hogwarts dan menghadapi takdirnya. Segera, ia harus membicarakan ini. Awalnya ia curiga mengenai jati diri Harry, tapi kemunculan pewaris keluarga Zabini yang di luar dugaan dan pengenalannya dengan Harry membuatnya yakin tentang jadi diri orang yang sudah ia anggap anaknya sendiri itu, dan harus mempercepat 'pengenalan' mengenai dunia sihir dan juga mengenai status Harry sebagai 'boy-who-lived' dan satu-satunya keluarga Potter yang tersisa, membuatnya mewarisi segala kekayaan keluarga tua itu.

"Hm, ada yang ingin kubicarakan." Al berkata, membuat keempat kepala yang berada di ruangan menatapnya.

"Ya?"

Tapi ia menghela nafas. Ia melirik jam dinding, pukul sembilan. Penyerangan terjadi pukul lima tadi. Walau sekarang bisa dibilang masih belum malam, tapi sepertinya mereka sudah terlalu lelah.

"Tapi sepertinya kita masih lelah, besok saja." Al berkata, mendorong piringnya. "Karena hal yang harus kubicarakan ini cukup… mengagetkan."

Vane dan Kim saling bertatapan. Mereka berdua tahu apa yang ingin ia bicarakan, karena Vane dan Kim berdua adalah penyihir, walau mereka bersekolah di Durmstrang dan Maimer, sekolah di Amerika. Mereka berdua baru mengetahui bahwa Harry Capiano, anak yang sudah mereka anggap adik sendiri, adalah tak lain tak bukan Harry Potter, 'boy-who-lived'. Tapi, selama ini mereka memperhatikan Harry, dan sepertinya Harry mengetahui mengenai 'kekuatan'nya itu, walau mungkin ia tidak tahu ada orang lain yang sama sepertinya, atau siapa dirinya sebenarnya.

Makarov menggeleng kepalanya. "Kau tahu aku pernah mendapat hal yang lebih mengagetkan, Al. Lanjutkan saja."

Harry mengangguk. "Ayolah, Al. Kalau penjelasanmu menjelaskan mengapa Blaise Zabini mengetahui nama asliku, lanjutkan."

Makarov menatap Harry shock. "Ada yang mengetahui nama aslimu?"

Harry mengangkat bahu. "Sepertinya. Tapi aku tidak tahu bagaimana. Dan dilihat dari reaksi Al saat Blaise menyebutkan nama asliku, sepertinya ia tahu."

Makarov menatap sahabatnya itu lekat-lekat. "Kau tahu?"

Al mengangkat kedua tangannya. "Aku tidak tahu kalau Harry Capiano adalah Harry Potter, tapi aku tahu Harry Potter dan keluarga Potter, mengingat aku bersekolah dengan ayah dan ibunya, walau aku berada setahun di atas mereka. Tapi James Potter dan Lily Evans terkenal di sekolah karena tingkah mereka yang… sebut saja Lily tidak melihat ayahmu sampai tahun terakhir sekolah."

Harry menatap pamannya lekat. "Kau mengenal mereka?"

Al menghela nafas. "Lebih baik aku mulai dari awal. Kau tahu siapa dirimu?"

Harry membeku, mengetahui dengan jelas maksudnya. "Maksudmu… bahwa aku bisa sihir?"

Al mengangguk. "Ya, kau penyihir. Begitu pula denganku," ia mengeluarkan tongkat sihirnya, "Walau sejak lulus dari Hogwarts aku tidak pernah menginjakkan kaki di dunia itu lagi. Tapi aku tahu mengenai perkembangan mereka, yang pada waktu itu sedang mengalami perang hebat."

Makarov berdiri dan menatap mereka semua. Kedua matanya tak terbaca. "Lebih baik kita pindah ke ruang duduk."

Kim dan Vane mengangguk dan berdiri, membiarkan ketiga anggota Capiano memasuki ruang duduk duluan, lalu mereka berdua mengikuti. Makarov dan Harry duduk di sofa panjang, Al di sofa tunggal.

Al mengeluarkan tongkat sihirnya dan menggumamkan mantra agar mereka tidak dicuri dengar, dan ia menatap sahabatnya yang mengawasi gerak-geriknya. "Tenang, itu hanya membuat agar tidak ada orang lain yang mengetahui percakapan ini ada. Aku tidak memberitahumu tentang jati diriku karena pertama, aku memang berniat tidak pernah menggunakan sihir kecuali pada saat darurat, dan kedua karena ada peraturannya. Tapi karena pada dasarnya kau adalah ayah dari Harry Potter, rules be damn."

Makarov mengangguk, kaku.

Al menghela nafas. "Begini. Mengapa begitu banyak orang yang mengetahui nama Harry Potter, karena pertama, keluarga Potter adalah salah satu keluarga tua yang kaya raya, pureblood, dan terkenal. Mungkin keluargamu sudah ada sejak seribu tahun yang lalu. Tapi yang terpenting, keluargamu terkenal. Sama seperti keluarga Capiano, orang langsung mengenal namamu."

Harry mengangguk.

"Kakek nenekmu meninggal saat perang, kurang lebih dua belas tahun yang lalu. Sementara orangtuamu…

"Mari kita mulai dari asal usul perang. Perang ini sudah berlangsung sangat lama, dua puluh tahun kurang lebih. Orang yang menyebabkannya, Lord Voldemort, sangat ditakuti. Mereka sudah mencapai puncak kemenangan, lalu pada suatu hari Voldemort melakukan hal aneh. Ia menyuruh pengikutnya untuk mencari keluarga Potter dan membawanya kepadanya. Ia sendiri bahkan turun tangan. Tujuannya satu, untuk membunuhmu."

Mendengar itu, Makarov melingkarkan lengannya di bahu anaknya, membantunya menerima fakta ini juga untuk menenangkan dirinya sendiri. Mengetahui di luar sana ada orang yang mengincar anaknya…. Ia menatap Al dan memintanya melanjutkan.

Al menarik nafas. "Pengikutnya bernama Death Eaters. Lalu, entah bagaimana caranya, pada malam ini tujuh tahun yang lalu, keluargamu berhasil ditemukan Voldemort dan ia menghabisi mereka.

"Inilah yang anehnya. Semua orang, yang dibunuh oleh Voldemort menggunakan mantra 'Avada Kadavra' akan langsung mati. Kematian instan. Heck, bahkan setiap orang yang dibunuh menggunakan mantra itu akan langsung mati. Tidak ada kecuali. Mantra itu berwarna hijau terang, sama seperti matamu." Al menatap Harry intens, "dan dalam sejarah, kau adalah satu-satunya orang yang berhasil selamat malam itu. Tidak tahu bagaimana caranya, tapi kau tidak mati. Satu-satunya dalam sejarah."

Harry duduk diam, mencerna semuanya. Ia lalu mengingat mimpinya… kiliatan hijau, teriakan seorang wanita…

"Berarti…" katanya lambat-lambat, mengambil seluruh perhatian orang-orang yang ada di sana, "mimpiku… nyata? Seseorang maniak yang tertawa, teriakan seorang wanita yang seolah sedang disiksa… dan kilatan hijau." Ia menutup matanya… kenyataannya terlalu berat, "itu nyata?"

Al mengangguk. "Kemungkinan besar."

Ruangan menjadi sunyi. Makarov mengeratkan pelukannya. Prospek bahwa anaknya seharusnya sudah mati tujuh tahun yang lalu…

"Lalu?" suara lemas Harry terdengar. "Apa Voldemort masih ada?"

Al mengangguk, "Tapi malam itu, Voldemort menghilang. Tubuhnya hancur, tapi sumber-sumberku mengatakan bahwa ia masih hidup dan sedang menjelajahi dunia, karena bentuknya yang sekarang seperti menjadi hantu. Transparan, lemah. Tapi ia sedang menunggu waktu, cepat atau lambat, untuk mencari cara untuk meraih tubuhnya kembali, dan menuntaskan apa yang ia mulai. Memenangkan perang, dan membunuhmu."

Harry memejamkan matanya. Jadi ia apa? Semacam pahlawan, begitu? Karena apa? Kehilangan kedua orangtua dan hidup pada saat ia seharusnya mati?

"Lalu apa yang harus kita lakukan?" ia mendengar suara ayahnya.

Ayahnya… yang sudah merawatnya selama empat tahun ini. Yang memperlakukannya seperti anak sendiri, walau sebenarnya bukan.

Ayahnya yang sebenarnya adalah orang luar di dunia sihir. Apa bisa ia membiarkan ayahnya memasuki perang-?

"Kita harus mempersiapkan Harry untuk kemungkinan terburuk, yaitu Voldemort kembali dan mengincar Harry." Al menjawab. "Karena itu, aku memberitahu kalian tiga tahun lebih awal daripada yang seharusnya. Pada umur sebelas, kau akan menerima surat mengenai penerimaanmu di almamater sekolahku dan kedua orangtuamu. Pada saat itu, kau sudah dipersiapkan dengan ilmu pengetahuan sehingga tidak ada lagi orang yang akan memainkanmu. Kau Harry Potter, orang-orang akan menghormatimu."

Harry mengangguk, lemah. "Ada lagi, Al?"

Al menatapnya lekat-lekat. "Aku kenal dengan godfather-mu. Namanya Sirius Black- iya, aku tahu ia pembunuh tiga belas orang, tapi aku meragukannya karena aku tahu seperti apa Black. Ia tidak bersalah dan yang sebenarnya menghianati orangtuamu berada di luar sana. Sirius Black langsung dimasukan ke dalam penjara tanpa pengadilan terlebih dahulu. Mungkin, setelah umurmu sepuluh tahun dan membaca Surat Wasiat orangtuamu, kau bisa mengetahui seluk beluk tentang Black."

"Sekarang?" tanya Harry. Ia ingin menuntaskan apapun itu yang harus ia lakukan. Ia ingin mengetahui segalanya mengenai kehidupannya yang ia sendiri tidak ketahui.

Al tersenyum lembut. "Sekarang, kau istirahat. Setelah kau bisa membagi waktumu, aku akan mengajarkanmu mengenai segala hal tentang dunia sihir. Dan ayahmu juga, agar ia bisa tahu kalau ada apa yang memintamu."

Makarov menatap Al. "Umur sebelas tahun ia akan-"

"Tenang, kawan. Aku mempunyai sepupu yang seumuran dengannya. Aku akan menulis surat kepadanya pada saat yang tepat dan menjelaskan mengenai statusku berada. Aku tidak mempercayai kepala sekolahnya, tapi." Ia berdiri dan melambaikan tongkatnya, mengangkat wards yang ia taruh. "Sekarang, kau tidak boleh mempercayai orang luar mengenai apa yang harus kau lakukan sampai kaku mengenal lebih jauh mengenai perang ini dan Voldemort."

Harry tersenyum, dan membiarkan dirinya didorong keluar ruangan oleh ayahnya. Tapi kemudian ia berhenti dan menatap Al.

"Paman Al?"

Al tersenyum mendengar ia dipanggil 'paman'. "Ya?"

"Siapa sepupumu? Mengapa kau keluar dari dunia sihir?"

Al tersenyum lebar, tapi kedua matanya terlihat sedih. "Itu, kawanku, adalah cerita untuk hari yang lain."

TBC


Edited: 06/01/2013