"Paman Al?"
Al tersenyum mendengar ia dipanggil 'paman'. "Ya?"
"Siapa sepupumu? Mengapa kau keluar dari dunia sihir?"
Al tersenyum lebar, tapi terlihat sedih. "Itu, kawanku, adalah cerita untuk hari yang lain."
Moonlight Shadow
Disclaimer: Harry Potter belongs to J.K Rowling.
Summary: Ditinggal di sebuah gang gelap pada umur empat tahun, Harry Potter ditemukan oleh Pemimpin tertinggi Mafia di Eropa dan diadopsi sebagai satu-satunya pewaris. Dibesarkan dengan cara yang tidak diprediksikan oleh Albus Dumbledore, Harry kembali ke Dunia Sihir untuk memulai petualangannya di Hogwarts, dan ia tidak akan membiarkan seorang kepala sekolah mengatur hidupnya.
Eventually Blaise/Harry, tapi sepertinya untuk pair itu masih sangaaat lama ._.v untuk pair lain masih belum diputuskan, mari kita lihat sesuai jalan cerita :D
A/N: Manipulative!Dumbledore, eventually SLASH, AU, OC, OOC, kalau tak suka Dumbledore yang tidak se-'putih' di buku silahkan tekan tombol 'back', dan sebagainya. Terinspirasi dari fict Blood Prince dan sequel-sequelnya oleh ShadeDancer. Berminat untuk membaca? Lihat di list fave-storiesku :D
Sayang banget di cerita itu, Fem!Blaise, tapi di sini Blaise-nya cowok kok kan fict Slash :p Yaaah, karena fict Blaise dikiiit banget di HPE apalagi di HPI dan saya tidak berminat baca fict dengan bahasa selain dua bahasa itu, saya berkesperimen dengan pair iniii, semoga suka!
Enjoy!
Chapter 2 – Truth behind Lies
.
Capiano Mansion
Wednesday, 24th of July 1991
"Harry?"
Memutarkan tubuhnya, Harry menghadap ke arah pintu, tepat di mana Al sedang berdiri dan menyender ke pintu.
"Ya, Al?"
"Ada yang ingin kubicarakan."
Harry menatap Al lama, lalu mengangguk dan mengikutinya keluar. "Oke."
Sudah hampir tiga tahun waktu berlalu sejak Harry mengetahui tentang jati dirinya, dan sudah selama itu Al membimbing dan melatihnya, memberikan semua ilmu yang ia punya mengenai dunia sihir.
Pertama-tama, mereka selalu belajar teori. Sejarah dunia sihir, sejarah Hogwarts, sejarah perang pertama, perang goblin, dan semua sejarah yang bisa diajarkan kepadanya. Untungnya, dengan otaknya yang bisa mengingat semua hal dengan sekali baca atau lihat, Harry dengan gampangnya 'melahap' buku-buku yang diberikan oleh Al.
Lalu kedua, Defense. Bukan hanya Defense Against the Dark Arts, tapi semua Defense. Di sini Harry belajar bahwa tidak ada yang namanya sihir hitam dan putih. Pada dasarnya, semua sihir sama. Yang membedakan hanya cara penggunaannya, dan untuk siapa sihir itu digunakan.
Harry juga mempelajari mengenai prejudice di dunia sihir, dan langsung berteriak "Bullshit!", membuatnya terekna hukuman. Tapi walau begitu, Harry tahu ayahnya juga Al berfikiran sama mengenai prejudice dunia sihir mengenai makhluk sihir seperti werewolf, vampire, elf, dan sebagainya.
Dan sekarang, empat hari sebelum ulang tahunnya, Al memanggilnya. Penasaran, ia mengikuti pamannya itu dan menemukan dirinya diseret ke ruang duduk dengan ayahnya duduk. Déjà vu.
Harry duduk di sebelah ayahnya, menyenderkan tubuhnya ke sisi ayahnya. Sementara Al, duduk di sofa di seberang mereka, mukanya tegang.
"Al?"
Harry bisa melihat Al menarik nafas dan menutup matanya, lalu mengeluarkan nafasnya berlahan sambil membuka mata.
"Emm… kau tahu kan empat hari lagi kau akan berulang-tahun yang ke sebelas?"
Harry mengangguk, dan bisa ia rasakan di sebelahnya Makarov menegang. Sejak diberitahu oleh Al mengenai takdir dan kewajibannya untuk pergi ke sebuah tempat yang tidak diketahui oleh Makarov, pria berambut hitam kemerahan itu selalu over-protective kepada anaknya.
"Lalu?"
"Kau ingat waktu itu aku memberitahumu bahwa pada saat kau berumur sebelas tahun, Griggonts akan memintamu untuk datang dan mereka akan membacakan Surat Wasiat kedua orangtuamu?"
Harry mengangguk.
"Sebenarnya, surat Griggonts datang lebih awal. Bukan maksudku untuk mengambil surat milikmu!" Al mengangkat tangannya defensif, menatap kedua ayah-anak yang memberikan death glare mereka. "Aku mengecek apakah ada mantra yang bisa menyebabkan kau terluka! Akhir-akhir ini sering ada mail iseng, yang tertuliskan berasal dari orang atau perusahaan yang kita kenal, tapi sebenarnya berasal dari musuh dan pada saat mereka membukanya, boom! Mati! Kau tidak ingin itu terjadi, bukan?" Al menatap Harry mengancam, walau tidak terlalu serius.
Harry menggeleng cepat. Walau ia tahu Al tidak terlalu serius, tapi tetap saja mimik mukanya… seram.
"Nah, aku juga memeriksa apakah mereka memasang mantra pelacak. Karena, kalau mereka sampai mengetahui bahwa Harry Potter dan Harry Capiano adalah orang yang sama… mereka yang bekerja sebagai mafia atau assassins di dua dunia, muggle dan sihir, akan mengambil kesempatan ini untuk menyerang keluarga Capiano. Dan hasilnya, surat itu positif dari Griggonts."
Makarov mengangguk. Al memang kadang bertindak tanpa memberitahu atau berkonsultasi dengan mereka terlebih dahulu… tapi Makarov tahu bahwa apapun yang ia lakukan adalah untuk melindungi mereka.
"Isi suratnya?"
Al mengeluarkan surat beramplop dari sakunya, lalu memberikannya kepada Harry. Harry, yang mengambilnya, menaikan kedua alisnya dan menatap Al bertanya saat melihat seal amplop itu masih ada.
"Kau tidak membacanya?"
Al menggelengkan kepalanya. "Tidak, amplop itu hanya terbuka saat mengenali sihirmu sebagai pewaris keluarga Potter."
Mengangguk, Harry memegang amplop tersebut lama, lalu perlahan-lahan membukanya. Ia membaca sekilas, lalu akhirnya memutuskan untuk membacanya keras-keras.
"Dear Mr. Harry James Potter,
Kami, Goblin Griggonts memberitahukan kepada anda bahwa Surat Wasiat Almarhum James Charlus Potter dan Lily Isabelle Potter akan dibacakan pada hari Sabtu, tanggal 27 Juli 1991. Anda diharapkan datang pukul sepuluh pagi untuk membacakannya secara pribadi sesuai dengan permintaan Almarhum Lord Potter, dan juga sehubungan dengan adanya beberapa hal yang harus dibicarakan.
Kami mohon anda membalas surat ini segera setelah anda mendapatkannya untuk mengkonfirmasi pertemuan ini.
Kepala Griggonts Inggris,
Bloodbuck."
Harry terdiam, lalu perlahan mengulangnya tiga kali. Lalu menatap Al putus asa.
"Paman?"
Al terlihat berfikir, lalu mengangguk. "Kalau kau bisa, kita bisa datang hari Sabtu itu. Kita bertiga. Kalau mereka meminta kita datang sebelum waktu yang seharusnya, mungkin ada hal yang benar-benar penting yang harus dibicarakan oleh para Goblin sehingga kita harus datang dan masuk ke ruang khusus."
"Kau pernah ke sana?" tanya Makarov, perlahan membaca kembali surat itu dari bahu anaknya.
Al menyerngit sedikit, lalu mengangguk.
"Untuk?"
Sekali lagi Al mencari cara untuk berkelit dari pertanyaan-pertanyaan yang datang kepadanya, tentang masa lalunya di Dunia Sihir. Mengapa ia pergi, apa yang ia lakukan sebelumnya, dan sebagainya. Tapi ia selalu menghindar, berkelit dengan alasan bahwa itu tidaklah penting. Tapi sekarang, saat sekali lagi mereka berdua menemukan waktu yang tepat untuk mengangkat topik itu…
'Dasar ayah dan anak sama saja, sama-sama licik', batin Al hopeless.
"Aku pergi mengambil tabungan dan memindahkan seluruhnya ke dalam uang muggle," jawab Al simpel, walau alasan sebenarnya mengapa ia pergi ke sana lebih rumit.
Makarov memicingkan matanya, tahu bahwa bukan hanya itu alasan Al pergi ke Griggonts dan berbicara secara privat. Al melihat ekspresi ini, dan menyerngit lagi di bawah tatapan Makarov yang terkenal bisa membuka mulut para tawanan yang paling keras kepala sekalipun.
Menghela nafas, Al memijat dahinya. "Keluarga Greengrass selalu berada dalam sisi neutral, kau tahu?"
"…ya, aku tahu sejak kau pertama kali bercerita," jawab Makarov lambat-lambat, tapi ia masih tidak menangkap maksud sahabatnya itu. "Lalu?"
Al menghela nafas. "Dark Lord melihat aku mempunyai potensi. Dark Lord punya kekuatan. Dan aku baru lulus Hogwarts. Got it?"
Al tahu bahwa Makarov jenius; dalam hal menganalisa, mengobservasi, merinci sebuah rencana, dan sebagainya. He can put two and two together.
Harry, yang selama percakapan berlangsung, menghela nafas keras-keras. "Jadi?" tanyanya kesal, karena diabaikan.
"Hush," jawab Makarov, mengacak rambut Harry yang memang sudah berantakan sejak awal. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke sahabatnya yang entah sejak kapan memandang ke luar jendela. "Jadi, Dark Lord ini melihat potensimu, memaksamu untuk ikut dengan mengancam keluargamu? Tapi yang ku tahu keluargamu masih ada dan kau tidak memakai cap di tangan itu."
Al menghela nafas –lagi, akhir-akhir ini ia sering melakukannya, entah mengapa- dan tanpa sadar memijat lengannya, yang seharusnya ada cap Dark Mark-nya. Tapi tidak ada.
"Aku pergi ke Griggonts untuk mengambil seluruh tabunganku. Keesokan harinya, seluruh keluarga Greengrass mengetahui kalau di dalam sebuah penyerangan aku terjebak dan mati." Jawabnya tanpa emosi, pikirannya mengelana ke dalam ingatan enam belas tahun yang lalu…
Ia menggeleng kepalanya. Sudah, ia sudah bertekad untuk memulai hidup baru saat ia memutuskan untuk memalsukan kematiannya. Sekarang, ia memutuskan untuk membantu sahabatnya, yang sudah memberikan rumah, tempat untuk pulang, dan tempat di mana ia benar-benar memulai hidup baru, dan anaknya, Harry Potter-Capiano yagn sudah ia anggap anak sendiri, menghadapi dunia yang ia tinggalkan.
"Kau memalsukan kematianmu." Itu bukan pertanyaan, tapi sebuah pernyataan yang keluar dari mulut Harry, yang rupanya mendengar dan mengikuti percakapan mereka selama ini.
Al mengangguk, tapi tidak menawarkan penjelasan lebih lanjut. Duo Capiano itu mengerti, terutama sang senior Capiano, karena ia-lah yang membawa Al dari jalanan, memberikannya sesuatu –alasan- untuk bertahan hidup.
"Jadi?"
"Jadi apa, kiddo?"
Harry menyeringai mendengar nama panggilannya diucap oleh pamannya. "Tentang surat? Griggonts? Hellooo, are that ring any bells?"
Dua orang Mafia yang namanya terkenal bahkan sampai ke Russia itu menyeringai lebar. "Kau tidak apa bangun lebih pagi di hari Sabtu?"
Harry cemberut, menyilangkan kedua lengannya di depan dada. "Bukannya itu yang kulakukan setiap pagi selama bertahun-tahun ini, eh, Al?"
Seringai kedua orang dewasa itu makin lebar, meski Harry masih tetap cemberut. "Then we will go, kiddo."
.
.
Saturday, 27th of July 1991
"Kami tidak perlu dikawal."
"Tapi-"
"V," potong Harry, mengikat tali sepatunya cepat. "Ada dad dan Paman Al di sini. Lagi pula, kami akan pergi ke Diagon Alley, bukan ke Irlandia. Kau selalu bisa menyusul ke sana."
Pemuda dengan rambut wavy honey blond sebahu itu hanya menghela nafas, mata cokelat tuanya menghilang di balik kelopak matanya dan sedetik kemudian ia berbalik, menatap partnernya, Kim, dan memohon dalam diam. Tapi Kim hanya tersenyum –menyeringai, tepatnya- dan menggeleng kepalanya.
"Oh tidak, Vane-y, kita tahu dengan baik kalau ketiga orang itu bisa menjaga diri mereka dengan baik tanpa bantuan kita, belum lagi mereka akan pergi ke Griggonts, bank dan tempat paling aman di penjuru Inggris."
Vane mengeluh, tapi akhirnya mengangguk juga.
Harry menatap 'kakak perempuan'nya dengan pandangan berterima kasih, lalu melompat dari tempat duduknya. "Sip! Ayo!"
Mendengar nada ceria dari 'adik'nya, Kim tertawa. "Oh kiddo, hiperaktif sekali kau hari ini."
Harry hanya tersenyum, berjalan menjauh. "Oh Kimmy, kau tahu lah mengapa."
Dua anggota Shadow, partner sejak mereka masuk ke dalam anggota mafia terkenal di Eropa itu, hanya melambaikan tangan sementara Al masuk ke mobil, mengklaim tempat di belakang kemudi, sementara Makarov duduk di sebelahnya dan Harry di belakang.
"Bye, kiddo!"
"Have fun!"
"Jangan khawatir mengenai hal itu!" seru Harry, tersenyum lebar sementara dua orang dewasa di depannya mengeluh keras-keras.
Tapi Harry hanya menatap mereka berdua polos, atau lebih tepatnya pura-pura polos. "Ya, dad, paman?"
Mereka berdua hanya menggeleng kepala, manik hitam Makarov menatap lekat anaknya. "Jangan membuat keributan."
"Daad, aku bukan anak kecil lagi!"
"Selama kau berjarak sekian tahun dariku, kau tetap menjadi anak kecil."
"Huff," Harry hanya menghela nafas, mengetahui kalau berdebat dengan ayahnya hanya akan membuatnya capek, karena tidak akan ada habisnya.
Al, yang menatap semua ini dari kaca spion, hanya tersenyum. Tiga tahun... tiga tahun ia, Kim, dan Vane melatih Harry. Ia membawa seluruh pengetahuannya dari Hogwarts, Kim mengajarkan semua hal yang khas Amerika, sementara Vane mengenalkan Harry tentang Durmstrang. Harry, seorang prodigy, melahap semua yang mereka kasih dan bahkan mulai meneliti sendiri. Al yakin kalau Harry bukan seorang 'Mafia Prince', ia akan menjadi seorang Unspeakable yang sukses. Memang tidak ada orang yang tahu pasti mengenai pekerjaan seorang Unspeakable, tapi yang pasti tentang research, dan dengan keingintahuan, kemauan dan otak seperti Harry, ia pasti akan berhasil.
Perhatian Al kembali ke pada jalan yang dilalui oleh mobil mereka. Jalanan kota London di hari Sabtu pagi lumayan penuh, tetapi tidak cukup untuk membuat macet. Akhirnya, setelah beberapa saat, mereka memarkirkan mobil di sebuah gedung khusus dan berjalan menuju jalanan kota, mencari bar dengan nama khusus. Tapi, sebelum keluar, Al memakai glamour di sekitar wajahnya, mengubah warna mata dan rambut, dan sebagai tambahan memakai mantel dengan tudung yang menutupi sebagian wajahnya. Tidak akan ada orang yang mengenalnya, terkecuali kalau mereka melihat dengan seksama. Tapi Al meragukan hal itu akan terjadi.
Tapi yeah, lebih baik bersiap daripada menyesal nantinya.
Mereka bertiga berjalan beriringan, dengan Harry di tengah. Mata mereka yang sudah terlatih mencari tanda-tanda pub penyihir itu. Al, yang sudah pernah dan sudah hafal mengenai letak Leaky Cauldron segera berjalan ke arah sana, Harry dan Makarov mengikuti di belakangnya.
"Ah!"
Al berbalik dan melihat bahwa Harry berhasil melihat bar itu... dan yang kagetnya begitu juga Makarov.
"Makarov? Kau bisa melihatnya?"
Makarov hanya memiringkan kepalanya dan mengangguk. "Yup, sudah sejak lama sebenarnya."
Kedua penyihir itu saling bertatapan. Mereka sudah mengecek, tapi Makarov bukan seorang penyihir. Tapi tunggu...
"Tes yang kita pakai hanya untuk mencari tahu apakah seseorang adalah penyihir atau tidak..."
"...berarti mungkin dad bukan penyihir, tapi juga bukan seorang muggle,"
"Yang berarti ia seorang squib." Al menyelesaikan hipotesa mereka, saling bertatapan dan mengangguk.
"Mungkin kalau kedua orangtua dad bukan penyihir, keluarga Capiano adalah garis keturunan squib, dan kalau orangtua dad juga seorang squib, berarti garis keturunan mereka cukup kuat untuk menghasilkan squib terus menerus, tapi tidak cukup untuk menjadi seorang penyihir. Itu berarti, dad bisa melihat hal-hal yang bisa dilihat penyihir, walau tidak bisa melakukan sihir itu sendiri."
Makarov, yang melihat perturakan ide itu, hanya tersenyum bangga. Anaknya, yang baru berusia sebelas tahun, seorang prodigy, benar-benar sebuah kebanggaan. Hanya saja, ia sangat susah bersosialisasi dengan anak-anak seusianya, mengingat ia mempunyai pikiran dan perilaku yang diatas rata-rata anak seusianya. Membuatnya susah mengerti mengenai pikiran bocah biasa berumur sebelas tahun.
Maka dari itu, Makarov berharap dengan bersekolah di boarding school membuatnya mempunyai teman dekat yang seusianya.
Mereka bertiga akhirnya memasuki bar itu, yang untungnya tidak terlalu penuh.
Segera, tanpa basa-basi, Al berjalan menuju belakang bar, diikuti oleh duo Capiano. Pria yang berada di akhir tiga puluh tahunnya itu mengeluarkan tongkat sihirnya, dan mengetuk dinding bata, sementara Harry mencoba menghafalkan letaknya. Gampang sebenarnya, dua atas tiga samping.
"Mundur,"
Dan dinding bata itu bergeser, membuka dan menampakan jalan di depannya.
"Welcome to Diagon Alley," kata Al, menyeringai ketika melihat rasa takjub yang muncul di mata kedua Capiano itu. Walau mereka berdua sangat ahli memakai topeng di atas emosi mereka sendiri, tapi melihat sekali-sekali topeng itu retak sangat menyenangkan.
"Waw," bisik Harry, takjub. Makarov hanya mengangguk. Mereka seperti kembali ke abad pertengahan, dengan jalan dari batu dan toko-toko kuno di kiri kanan. Dan di ujung jalan, yang membagi jalan besar menjadi dua jalan kecil, sebuah bangunan besar berwarna putih.
"Itu Griggonts," kata Al, menggesturkan agar mereka berdua berjalan menjauhi tempat belakang Leaky Cauldron.
Mereka bertiga menyusuri jalan. Harry, yang baru saja memotong rambutnya menjadi lebih pendek tapi rambutnya tetap bergelombang dan membingkai wajah kecilnya, membuatnya menjadi mirip dengan kaum Dark Elf di buku Magical Creaturesmiliknya, menutupi bekas lukanya, tahu bahwa kalau luka tersebut terlihat oleh orang kebanyakan, akan terjadi kehebohan di Diagon Alley, dan masalah adalah salah satu hal yang ingin ia hindari.
Walau ia tahu, kalau ia adalah sebuah magnet masalah.
Mengingat hal itu, Harry menghela nafas. Mengesalkan sekali kalau masalah selalu datang mencarinya disaat ia ingin bersantai dan menikmati hidupnya sebagai seorang anak-anak. Ada saja yang terjadi, dan selama tiga tahun ini, banyak hal buruk yang terjadi saat Halloween, mau itu pada hari-H nya, ataupun hari-hari sebelum dan setelahnya.
Mereka bertiga akhirnya sampai ke undakan pintu Griggonts, pintu berwarna cokelat tua dengan ukiran-ukiran. Harry, dengan cepat menelusuri ukiran di pintu dengan seksama, mengetahui bahwa beberapa ditulis dengan huruf kuno dan beberapa dengan huruf bahasa Goblin. Ia masih belum mengetahui apa artinya, ia juga masih belum menguasai bahasa Goblin. Walau ia dengan jelas mempunyai kemampuan unik dalam menguasai bahasa. Dalam waktu lima tahun belajar intensif oleh guru-guru terbaik yang bisa diraih Makarov, ia berhasil menguasai bahasa Italia, Spanyol, dan Prancis. Dan dalam waktu tiga tahun belajar dengan Al, ia berhasil mengetahui dan fasih berbahasa Latin, dan sedikit mengerti bahasa Mermaid, Goblin, Fae, dan Veela, walau ia masih belum bisa menguasainya dengan fasih.
Harry mendongkak, dan mendapati bahwa terdapat kata-kata yang terukir di atas pintu, dan beruntung ia bisa membacanya.
"Masuklah, orang asing, tetapi berhati-hatilah,
Terhadap dosa yang harus ditanggung orang serakah,
Karena mereka yang mengambil apa saja yang bukan haknya,
Harus membayar semahal-mahalnya,
Jadi jika kau mencari di bawah lantai kami
Harta yang tak berhak kaumiliki,
Pencuri, kau telah diperingatkan,
Bukan harta yang kau dapat, melainkan ganjaran."(1)
"Aaah," gumam Harry, dan hampir terdengar gir di otaknya bekerja menyusun rencana, ditambah lagi seringai licik muncul di wajahnya saat mereka berjalan melewati pintu besar itu.
"Jangan." Ucap Makarov, memperingatkan anaknya segera setelah ia melihat keusilan muncul di mata anaknya. Ia, yang bertahun-tahun mengenal Harry, mengetahui dengan jelas apa yang ada di balik kepala kecil tapi arogan itu.
"Tapi dad-"
"Hush, child. Jangan macam-macam terhadap apa yang kau tahu berbahaya dan tidak bisa kau kalahkan," potong Makarov, tapi kemudian ia mengulum senyum, "lebih baik kau menyusun rencana matang-matang dan mencari kelemahan terlebih dahulu."
Melihat interaksi ayah-anak ini, Al menghela nafas. Ia juga tahu apa yang ada di balik mata usil Harry; bocah itu merencanakan untuk membobol Griggonts, bukan untuk mengambil hartanya, tapi untuk memecahkan rekor sebagai satu-satunya orang yang berhasil membobol bank dengan keamanan tertinggi di dunia itu dan berhasil keluar hidup-hidup dan sukses.
Ada-ada saja, dasar anak itu.
"Ayo."
Mereka bertiga berjalan dengan tegap; mereka telah mempelajari cara berinteraksi dengan goblin tanpa goblin itu mempersulit atau memandang remeh mereka. Al sampai duluan di sebuah meja tinggi yang tidak ada antrian, dan langsung berhadapan dengan seorang goblin. Ia menurunkan tudungnya, karena ia tahu terkadang goblins tidak menyukai orang yang menutupi wajahnya.
"Greetings, Goblins."
Goblin itu, kalaupun terkejut, tidak memperlihatkannya. "Ya?"
Harry maju dan memperlihatkan suratnya. "Kami mendapat surat dari Kepala Bank Griggonts yang membutuhkan kami untuk hadir hari ini."
Goblin itu, yang bernama Buldrick, membaca surat dengan seksama dan kemudian mengangguk. "Ikuti saya."
Mereka bertiga mengikuti goblin tersebut, memasuki lorong panjang dan berbelok kiri dan kanan. Awalnya ia bisa mengikuti, tapi kemudian ia sudah tidak hafal lagi kemana mereka berjalan.
Akhirnya, mereka sampai sebuah pintu dengan nama Kepala Griggonts bertuliskan di plat berwarna emas. Buldrick mengetuk pintu tiga kali dan membukanya.
"Lord Potter datang menemui anda, Bloodbuck."
"Kirim mereka masuk."
Buldrick menyingkir, lalu menggesturkan agar ketiga orang itu masuk.
"Ah, Lord Potter, Mr. Greengrass, dan saya perkirakan, Mr. Capiano."
Makarov mengangguk, dan menutup pintu di belakangnya.
"Please, take a seat."
Makarov dan Harry duduk di kursi di seberang meja besar yang memisahkan mereka dengan Bloodbuck, sementara Al berdiri di antara mereka. Sang kepala Griggonts itu memperhatikan mereka, lalu kemudian mengangguk.
"Apakah anda sudah mengetahui apa yang akan kita bicarakan hari ini?"
Harry menggeleng sopan. "Tidak, sir, saya masih tidak mengetahuinya."
Bloodbuck mengangguk, lalu meraih berkas-berkas di depannya, dan mengambil sebuah amplop putih tebal. "Ini, adalah berkas-berkas mengenai rincian keuangan keluarga Potter, properti dan segala hal yang dimiliki oleh keluarga Potter. Dan ini, adalah surat wasiat kedua orangtua anda, Mr. Potter."
Tangannya bergetar, Harry tahu itu. Tapi ia tidak bisa mencegahnya, dan tangan kecilnya meraih amplop itu.
"Untuk membukanya, diperlukan setetes darah anda, untuk mengesahkan dan membuktikan bahwa anda memang pewaris keluarga Potter."
Harry mengangguk, lalu menggigit jarinya sedikit agar berdarah dan meneteskan darah yang mengalir dari luka ke titik yang ditunjuk Bloodbuck. Segera, amplop itu terbuka dan membentuk sebuah mulut.
Shock ia rasakan, dan begitu pula ayahnya, saat ia mendengar suara laki-laki keluar dari sana.
"Ehm, apakah sudah mulai? Ah, oke Lily, tenang. Emm, saya, James Charlus Potter, Lord Potter dan Lord Gryffindor, dengan sepenuh hati dan sadar dengan apa yang akan saya tulis, pada tanggal 5 Oktober 1981, menuliskan Surat Wasiat untuk anak kami satu-satunya, Harry James Potter.
"Hey prongslet, this is your dad speaking. Karena beberapa… hal yang terjadi, dan karena pikiran ayahmu yang sedikit tertutup ini sudah terbuka berkat ibumu yang bertekad untuk membuka pikiran suaminya ini, ayahmu akhirnya berhasil melihat hitam di atas putih. Son, pertama-tama, maafkan kami karena tidak bisa melihatmu tumbuh. Kalau kami memang selamat saat penyerangan Voldemort, maka surat wasiat ini akan ditulis ulang. Tapi, kalau sekarang kau mendengar surat yang ini, berarti kami tidak berhasil selamat, dan karena itu son, kami benar-benar minta maaf.
Sekarang, muncul suara seorang perempuan, yang anehnya, Harry ingat dalam beberapa mimpinya, menceritakannya cerita-cerita sebelum tidur…
"Ayahmu benar, son. Walau banyak hal yang terjadi, kami benar-benar mencintaimu, dan maafkan kami karena tidak bisa melihatmu tumbuh, dan maaf karena James tidak bisa membesarkanmu menjadi seorang yang arogan seperti dirinya. Aku hapar, dear, kau tidak menjadi seperti ayahmu saat di sekolah.
"Lily! Maaf, son, kau menjadi mendengar hal-hal seperti ini. Oke, kembali ke bisnis awal. Kalau kau menerima surat ini ketika kau akan masuk Hogwarts, maka anakku, aku tidak mengharapkan kau masuk Gryffindor, karena mungkin kau tumbuh berbeda dengan sifatku yang menurun kepadamu. Dimanapun kau masuk, son, kami tetap bangga kepadamu. Bahkan Slytherin sekalipun. Dan mendengar ini terucap dari seorang Gryffindor yang amat sangat tidak menyukai ular hijau itu- maaf Lily!-, maka kau harus yakin nak, apapun yang terjadi, kami akan bangga kepadamu.
"Hmm, dan kalau ada hal yang terjadi kepada kami, kami ingin pastikan bahwa dalam keadaan apapun Harry James Potter tidak boleh dikirimkan kepada Vernon dan Petunia Dursley. Dalam keadaan apapun! Dan kalau godfathermu yang rada-rada seperti itu tidak bisa menjagamu, maka Harry harus diasuh oleh Remus John Lupin, atau kalau Remus tidak bisa juga, pilihan terakhir jatuh kepada godmothermu, Alice Longbottom. Dan kalau, Merlin forbid, ada hal-hal yang terjadi pada Sirius, maka pada umur tiga belas tahun, kau akan menerima surat emansipasi yang akan membuatmu dewasa lebih awal. Dan sebelum kau berumur tiga belas tahun, yang akan menjadi Magical Guardian mu adalah siapapun yang sekarang berperan menjadi 'pengasuh'mu."
Harry menatap horror surat di depannya. Sudah jelas-jelas kedua orangtuanya melarang ia tinggal di keluarga Dursley, tapi-?
"Ehm, lalu, untuk Sirius Black, aku tahu kau sudah kaya raya seperti itu karena nama Black yang kau bawa, tapi kuwariskan sebuah box di dalam vault 517, dan seluruh isi vault itu menjadi milikmu. Jangan menolak, Padfoot, kau akan menyesal kalau menolaknya! Dan juga 1,000 galleons perbulan kalau Harry tinggal bersamamu, Pad, dan pakai uang itu untuk membelikannya mainan!
"Untuk Remus John Lupin, kuwariskan seluruh isi vault nomor 473, dan jangan berani menolaknya! Cobalah untuk sekali-kali menerimanya, Remmy, untuk membeli jubah baru untukmu! Dan kalau kau mengembalikannya, yang sebenarnya tidak bisa karena aku sudah mati (ha!), aku berjanji akan menghantuimu sepanjang hidupmu! Oh ya, dan kalau Sirius melakukan hal bodoh sehingga Harry harus dititipkan denganmu, 1,000 galleons perbulan untuk mengasuhnya, dan Remmy, please, jangan terlalu banyak memberikannya buku!
"Untuk Frank dan Alice Longbottom, kuwariskan 5,000,000 galleons dan 10,000 galleons perbulan kalaupun, Merlin forbid, ada hal-hal yang terjadi pada kedua sahabatku. Aku tahu kalian mempunyai anak guys, Neville kalau tidak salah? Cobalah membuatnya akrab dengan Harry, mungkin ia akan bersosialisasi dengan baik. Entah mengapa, kami mendapat firasat kalau ia akan seperti Remus… anehnya.
"Untuk Harry, kau kuwariskan seluruh uang dan properti bukan hanya milik keluarga Potter, tapi juga Gryffindor mengingat keluarga Potter adalah keturunan langsung Gryffindor. Dan beruntungnya nak, sepertinya dari silsilah keluargamu, ibumu adalah keturunan squib, tapi langsung dari Slytherin dan Ravenclaw. Kau mewariskan setengah dari Slytherin, karena sebenarnya masih ada pewaris asli dari line penyihir, dan seluruh milik Ravenclaw, karena keturunan Ravenclaw mati sekitar, apa, sepuluh tahun yang lalu? Ayahmu ini tidak terlalu ingat, tapi mungkin ibumu iya.
"Harry, son, jaga dirimu baik-baik. Ingat bahwa kami berdua mencintaimu apapun yang terjadi, dan kami tetap bangga akan apapun yang terjadi kepadamu. Jalani hidupmu dengan hal yang ingin kau lakukan, cintai orang yang benar-benar ingin kau cintai, lindungi orang-orang yang berharga bagimu, dan bahagialah selama kau bisa.
"Untuk peringatan, jangan percaya dengan Dumbledore! Ia tidak mendapat apapun dari kami, tapi kami membuat surat wasiat satu lagi yang akan dibacakan di depannya, dengan isi kurang lebih sama, tetapi tentu saja ia mendapat bagian yang lebih sedikit untuk Orde of Phoenixnya. Walau orang lain berkata kami adalah pengikut Dumbledore, kami memasuki Orde of Phoenix karena hanya itu satu-satunya pilihan. Pilihan lain adalah mengikuti Voldemort dan Death Eatersnya, yang tentunya tidak mungkin kami lakukan.
"Mungkin, begitu saja? Benar-benar yang terakhir kalinya Harry, We love you. Live well, kami tidak ingin bertemu denganmu di atas sini dengan segera, atau lebih cepat dari yang kami bayangkan.
Sign,
James Charlus Potter,
Lord of Ancient and Noble House Potter,
Lord of Gryffindor."
Dan dengan itu amplop tersebut terjatuh.
Harry, menghapus air mata yang tanpa sadar jatuh dari kedua matanya. Ia benar-benar…. Tidak menyangka. Kedua orangtuanya benar-benar mencintainya… ia akhirnya berhasil mendengar suara mereka, mengingat setiap mimik kata, ekspresi yang mungkin muncul di beberapa kalimat… dan suara yang mengatakan bahwa mereka benar-benar mencintainya.
Ia pikir, orangtuanya sengaja menyuruh siapapun yang mengambilnya dari rumah yang hancur di Godric Hollows untuk memberikannya kepada keluarga Dursley, membuatnya merasakan penderitaan sampai berumur empat tahun. Tapi ternyata ia salah.
Dan kesalahan tersebut hanya bisa disalahkan kepada satu-satunya orang yang menaruhnya di tangga undakan rumah Private Drive nomor empat itu.
"Dumbledore," geram Harry marah, matanya memicing berbahaya saat kenyataan menghantam otaknya yang memang memproses segala hal lebih cepat. "Apa kau mempunyai salinan Surat Wasiat kedua yang dipubliskan di depan umum?"
Bloodbuck mengangguk, lalu memberikan dua lembar perkamen yang Harry terima dengan cepat dan membacanya dengan seksama, kedua orang dewasa yang bersamanya membaca dari balik pundaknya. Akhirnya, setelah membaca dan mencernanya dengan seksama, Harry menggeram marah.
"Bahkan di sini sudah dituliskan dengan jelas bahwa Dumbledore tidak boleh mengirimkanku kepada Dursley! Damn it!"
"Languege!"
Tapi Harry mengabaikan hal ini. Ia menatap Bloodbuck, "Ada lagi hal yang harus kulihat atau ku tanda tangani?"
Bloodbuck mengulurkan berkas-berkas yang ada di mejanya. Harry meraihnya, dan membukanya.
Perkamen pertama, mengenai statusnya sebagai Lord Potter dan Lord Gryffindor. Harry dengan cepat membacanya dan menghafal semuanya.
Perkamen kedua, mengenai kursinya di Wizegamot dan di Hogwarts. 'Hmm, bagian ini sepertinya menarik,' batin Harry, membaca instruksi tentang hal itu dua kali, untuk membuatnya yakin kalau tidak ada yang ia lupakan.
Perkamen ketiga yang lebih menarik, mengenai rincian uang yang ia punya.
Dituliskan di sana, bahwa ia memiliki 8,590,000,000 Galleons, atau sekitar 42,348,700,000 poundsterling atau sekitar 84,697,400,000 dollar Amerika(2) dan pernyataan ini membuatnya menganga. Ha? Sebanyak ini yang ia punya?
"Waw, kid," gumam ayahnya dari belakangnya, tersenyum lebar. "Kau bahkan hampir sekaya ayahmu ini, dan ini semua dari warisan!"
"Sebenarnya, Mr. Capiano, ini semua sudah termasuk pemasukan yang didapat dari beberapa perusahaan dibawah nama Marauders Ink., yang terkenal di dunia sihir karena membawahi berbagai cabang perdagangan di Eropa. Yang sekarang mengurusi, sampai sekarang, adalah Angelina Davies, sahabat Lily Potter dan orang yang dipercaya James Potter untuk mengurusi perusahaannya. Apakah anda ingin menggantinya?"
Harry menelusuri rincian dana dari perusahaan milik keluarganya itu, lalu menggeleng. "Tidak, tetap biarkan ia yang mengatur. Sampai saat ini, ia berhasil menaikkan keuntungan perusahaan dan tidak pernah ada penurunan yang drastis, tetap biarkan ia bekerja tapi mungkin Al di sini bisa membantu."
Bloodbuck mengangguk dan Harry kembali melihat rincian properti yang ia miliki. Sejauh ini, ia memiliki satu mansion Potter di Irlandia Utara, sebuah rumah di pantai di Prancis (yang sudah disepakati oleh Makarov dan Al bahwa mereka akan mengunjungi rumah itu untuk liburan nanti) dan sebuah kastil milik Gryffindor di utara Scotlandia, miliknya.
"Aku memiliki sebuah kastil?"
Bloodbuck mengangguk. "Ya, hampir semua Ancient and Noble House memiliki mansion, dan semua pewaris pendiri Hogwarts memiliki kastil. Kastil Ravenclaw dikabarkan berada di Yunani, tapi hanya dokumen yang merincikan lebih detail mengenai kastil itu, dan hanya pewarisnya yang dapat masuk ke dalam vault tersebut. Sementara Kastil Slytherin berada di tangan pewaris langsung Slytherin, keluarga Gaunt."
Harry hanya mengangguk, lalu kembali membaca. Beberapa swords, daggers, dan buku-buku bisa ia ambil dari vaults milik Gryffindor dan Potter.
Perkamen terakhir, mengenai beberapa hal yang harus ia tanda tangani ketika ia di emansipasikan, yaitu dua tahun lagi. Sebelumnya, ia berada dalam tanggung jawab Magical Guardian nya, dan matanya membulat ketika membaca siapa Magical Guardian nya sekarang.
Albus Dumbledore.
"Segera ganti Magical Guardian ku!" seru Harry, melompat dari kursinya. "Ganti dengan Makarov Capiano! Segera!"
Bloodbuck menyeringai, mengetahui bahwa segera setelah Potter muda itu mengetahui siapa yang bertanggung jawab kepadanya, ia akan segera menggantinya. Maka dari itu, ia sudah mempersiapkan dokumen untuk ditanda tangani oleh kedua Capiano di depannya.
Ia mengeluarkan tiga perkamen, dan memberikannya kepada Harry yang masih marah karena Albus Dumbledore, orang yang memberikannya kepada keluarga Dursley walaupun dengan jelas kedua orangtuanya melarangnya diberikan kepada keluarga itu. Dan Dumbledore bahkan menjadi Magical Guardian nya, yang otomatis membuatnya bisa menyentuh uang keluarganya! Oh tidak, Harry akan segera menghentikan Dumbledore sebelum orang tua itu mengambil dan mencuri uangnya.
Harry menandatangani dokumen itu, begitu pula dengan Makarov. Sekarang, secara resmi ia adalah tanggung jawab ayahnya, di dunia sihir juga.
Tapi…
"Bisakah Kementrian tidak mengetahui bahwa Magical Guardian ku sudah diganti? Atau bahkan, semua orang yang menanyakannya?"
Bloodbuck mengangguk. "Ya, privasi pelanggan kami adalah yang utama. Selama dilarang, tidak akan ada orang yang tahu Magical Guardian mu."
Harry mengangguk. "Bagus. Ada lagi?"
Bloodbuck menggeleng. "Tidak ada lagi, Mr. Potter. Walau begitu, apakah anda ingin mengecek vaults anda?"
Harry menatap kedua orang dewasa yang benar-benar ia sayangi itu, dan melirik jam tangannya. Sudah pukul dua belas, mungkin ini saatnya mereka pulang. Lagi pula, ia sudah capek hari ini, mendadak. Mungkin karena ia shock dengan Surat Wasiat kedua orangtuanya, ataupun tentang betapa kayanya dirinya, atau juga mungkin karena ia sangat marah mengenai kebenaran tentang Dumbledore, atau apalah. Yang pasti ia capek sekarang.
Mungkin ia bisa mengunjungi vaults itu ketika ia kesini pada hari ulang tahunnya, ketika ia akan menerima surat Hogwarts.
Harry menggeleng, "Tidak terima kasih, sir, tapi sepertinya kami akan mengunjungi vaults ketika akan membeli perlengkapan Hogwarts."
Bloodbuck mengangguk, lalu meraih kantongnya dan mengeluarkan satu set kunci emas. "Ini adalah keseluruhan kunci vaults yang kau punya. Sebenarnya, Dumbledore meminta satu kunci untuk vaults untuk biaya sekolahmu, dan karena waktu itu ia adalah Magical Guardian resmimu, kami Goblins Griggonts tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi, karena anda sudah mengganti, maka Griggonts akan segera meminta kunci itu kembali."
Kemarahannya bertambah, tapi Harry tahu sia-sia saja kalau ia meledak sekarang. Mungkin sparring dengan Vane tidak buruk… Harry mengangguk. "Terima kasih sekali lagi, Sir Bloodbuck. May gold flows through your vein."
Kepala Griggonts itu, walaupun kaget karena ada orang yang mempelajari kebudayaan mereka, berhasil menyembunyikannya. "May your life be fulfill,"
Dengan itu, ketiga orang berdiri dan berjalan keluar, dengan Bloodbuck sendiri yang mengantar mereka. Ketika sudah hampir tiba di aula depan, Al mengecek kembali apakah glamournya masih berfungsi, dan mereka bertiga pergi dari Griggonts setelah sekali lagi memberi salute kepada Bloodbuck.
Mereka berjalan menelusuri jalan utama Diagon Alley, tudung Al sekali lagi kembali ke kepalanya. Mereka berjalan melewati Leaky Cauldron, dan berhenti sebentar untuk membeli makanan di McDonald.
Ketika mereka sampai di mobil, Makarov berbalik dan menatap anaknya, menyeringai. "Tadi seru, eh? Bagaimana perasaanmu?"
Harry hanya tersenyum tipis, tapi matanya bertekad bahwa Dumbledore akan membayar karena telah membuatnya menderita. "Aku tak sabar untuk sparring dengan Vane."
Kedua orang dewasa itu tertawa, Al mulai menyalakan mesinnya. "Poor Vane."
TBC
Bagaimanaaa?
Huh hah huh, mungkin cuma basa-basi doing, tapi sebenernya nanti bakalan jadi rumit karena Harry tuh mewariskan banyaaaaaaaaaaaaaaak banget property, dan beberapa hal di atas akan membantu untuk ke depannya, hehehehehe. Ampuni saya ._.v
Untuk chapter depan, tebak apa hayoo? Yoa kawan, Harry nerima surat dari Hogwarts! Tapi baru chapter empat kita pergi ke Hogwartsnya, hohohoho. Ampun!
Buat nomor (1) diambil dari Harry Potter dan Batu Bertuah hal 93, dan buat nomor (2) diambil dari Bobo Special Edition Harry Potter book 1, hal 36 buat info tentang penukarannya, buat lebih rincian tentang penukarannya, thanks buat kalkulator hp gua! :p
Oh yaaaa, buat yang pengen tau rincian tentang para OMC seperti Makarov, Al, Vane, dan Kim, ga seru doong kalo di beberin semuanya di sini, jadinya kan Al udah keluar di chapter 1, chapter ini Vane, mata sama rambutnya. Makarov udah, tapi samar doang, tinggal Kim! Tunggu chapter-chapter depan yaaa kawan!
Oh ya, thanks buat para reviewer! Ini dia balesannya:
Clarissaaw: Thanks yaa sa! Thanks sekali lagi, padahal di sekolah udah huehehehehe. Thanks! Sebenernya, ini plot buatnya ngadadak sesuai keinginan hati dan otak saja #eaeaea tapi toh ngalir juga hehehehe :D Bukaaan, Al itu pamannya! Buat pertanyaan kenapa Al bisa pergi dari keluarga Greengrass, di sini keluar! Uyeeee, hahahahaha. Ravenclaw atau Slytherin ya…. Dia kan punya dua duanyaaaa hahahaha liat ntar yak pas Harry udah sampe Hogwarts :p Yoi kawan, semua OMC di sini keluarga Harry, buat Vane sama Kim bakalan banyak keluar! Harry di sini rambutnya udah pendek lagi, buat bayangannya jangan diambil dari film, bayangin Harry yang unyu dan lucuuu dan beautiful seperti Dark Elf XD Selooow sa, thanks yaa buat reviewnya!
V: Van, ini gua udah update, semoga suka -_- oh iya doong gua kan lagi jatuh cinta sama seorang Italia bernama Blaise Zabini :p buat di chapter depan mungkin dia muncul…. Draco juga nanti muncul….. tapi… thanks deh buat reviewnya! Hahahahaha
Nyasaru: Thanks ya buat reviewnya! Iyooo, Mafia!Harry, tapi dianya masih rada-rada childishwalaupun dianya sudah belajar banyak dari bokapnya. Harry bisa pake dagger itu kan karena dia anak dari orang berbahaya, banyak yang ngincar, jadi otomatis dia harus bisa jaga diri sendiri ;) ini udah update, semoga suka yaaaa!
CCloveRuki: Thanks yaaa buat reviewnya! Kenapa pilih Blaise? Pertama, karena mau percobaan bikin karakter Blaise, yang di buku cuma keluar di buku 6, itu juga cuma pas Klub Slug doang -_- Kedua, karena di HPE dan karakter itu banyak keluar, jadi kalau bikin satu fict yang dianya jadi karakter utama menantang gituuu, bagus apa kaga gitu hehehehe, dan ketiga, karena tepat ketika saya baca fict yang mengandung Blaise yang tentunya SLASH (BZHP, BZRW, BZNL ataupun BZDM) saya langsung jatuh cinta. Terutama pair Blaise/Harry! Pengen bikin mereka deket, karena dikiiit banget pair itu hehehehehe. Ini udah update, semoga suka yaaaa!
El: Thanks! Iyooo, di sini Dom!Blaise, Sub!Harry, tenang hahahahaha. Antara kedua house itu saja, semoga tidak kecewa yaaa kalau aku pilih yang mana ;) sebenarnya, ada tuh fict HPLV judulnya 'Death of Today' karya Epic Solemnity yang Harrynya jenius abis, yang segala bidang bisaaaa, dan malah menantang karena dia bisa segalanya tapi kok masih ga menang-menang main mind and politic game sama Voldie. Tapi tenang, di fict ini Harry gabakal 'sempurna' kok, dia ada kekurangannya juga ;) Sirius keluarnya…. Masih belum terpikirkan sih, hehehehehe. Tapi lihat saja nanti! Untuk Al, yaaah Al itu sekarang umurnya kira-kira 37an lah, wajar sudah punya sepupu hehehehehe. Ini udah update, semoga sukaaa ya!
hatakehanahungry: Thanks yaa reviewnya! Buat Makarov, ia bakalan keluar di chapter-chapter berikutnya (deskripsinya) hehehe. Iyaaaa, mungkin ga dark, tapi yang pasti manipulative. Buat Kim, ada di chapter depan! Buat itu… mungkin bakalan ada cerita tersendiri hehehehehe. Thanks ya! Ini udah update, semoga suka :D
Celtic Megami: Thanks ya! Aku emang udah lama pengen bikin Harry yang bisa figth, hehehehe. Iya! Al itu keluarga Greengrass, punya adik yang sekarang ayah dari Daphne sama Astoria! Ini udah update, semoga suka yaaaa!
keylacortez: Thanks yaa reviewnya! Hem hem, mungkin tidak terlalu cepat yaaa hehehe, thanks! Iyap! Al itu Greengrass! Ini udah update, semoga suka yaaaaa.
Erochimaru: Thanks yaaa! Soldier yang datang, kan ceritanya di mansion itu tinggal semua pengawal keluarga Capiano, yang tidak punya keluarga maupun yang punya, tapi hidupnya pada sendiri-sendiri. Terus ada yang lagi jaga. Jadi, pas di serang, yang jaga langsung ngehubungin yang lagi ga jaga buat minta bantuan, begituuuu. Lalu buat Harry, dia kan bareng Vane, hehehe. Sev bakalan muncul, tapi rahasia! Hehehe. Ini udah update, semoga suka yaa!
Apdian Laruku: Thanks yaa reviewnya ;) sayang sekali, chapter ini tak langsung ke Hogwarts, kesannya terlalu cepaat. Tunggu satu chapter lagi yaa! Sepupu Al? Daphne sama Astoria, tapi tenang kok, Draco bakal keluar hehehe. Trio Gryffindor pasti tak bakal ada, kenapa? Alesannya ada di beberapa chapter ke depan :D untuk Sev, bakalan ada kejutan juga nanti! Ini udah update, semoga suka!
Oke, fuih. Sudah beres kawan balasnya! Menurut kalian gimana?
REVIEW!
