Ketika mereka sampai di mobil, Makarov berbalik dan menatap anaknya, menyeringai. "Tadi seru, eh? Bagaimana perasaanmu?"

Harry hanya tersenyum tipis, tapi matanya bertekad bahwa Dumbledore akan membayar karena telah membuatnya menderita. "Aku tak sabar untuk sparring dengan Vane."

Kedua orang dewasa itu tertawa, Al mulai menyalakan mesinnya. "Poor Vane."


Moonlight Shadow

Disclaimer: Harry Potter belongs to J.K Rowling.

Summary: Ditinggal di sebuah gang gelap pada umur empat tahun, Harry Potter ditemukan oleh Pemimpin tertinggi Mafia di Eropa dan diadopsi sebagai satu-satunya pewaris. Dibesarkan dengan cara yang tidak diprediksikan oleh Albus Dumbledore, Harry kembali ke Dunia Sihir untuk memulai petualangannya di Hogwarts, dan ia tidak akan membiarkan seorang kepala sekolah mengatur hidupnya.

Eventually Blaise/Harry, tapi sepertinya untuk pair itu masih sangaaat lama ._.v untuk pair lain masih belum diputuskan, mari kita lihat sesuai jalan cerita :D

A/N: Manipulative!Dumbledore, eventually SLASH, AU, OC, OOC, kalau tak suka Dumbledore yang tidak se-'putih' di buku silahkan tekan tombol 'back', dan sebagainya. Terinspirasi dari fict Blood Prince dan sequel-sequelnya oleh ShadeDancer. Berminat untuk membaca? Lihat di list fave-storiesku :D

"talk" = berbicara biasa

'talk' = berfikir

"talk" = bahasa asing/istilah

::talk:: = parseltongue

Sayang banget di cerita itu, Fem!Blaise, tapi di sini Blaise-nya cowok kok kan fict Slash :p Yaaah, karena fict Blaise dikiiit banget di HPE apalagi di HPI dan saya tidak berminat baca fict dengan bahasa selain dua bahasa itu, saya berkesperimen dengan pair iniii, semoga suka!

Enjoy!


Chapter 3 – Second Encounters

"Maaf mengganggu liburan kalian semua dan meminta kalian datang lebih awal…"

Para staff Hogwarts duduk di sekeliling meja panjang, sementara Albus Dumbledore berdiri.

"Ada apa, Albus?" sang guru Transfigurasi, Minerva McGonagall angkat bicara.

Dumbledore menghela nafas. "Seperti yang kalian tahu, Harry Potter akan memasuki Hogwarts tahun ini…"

Severus mendengus kesal. Anak dari mantan musuhnya, oh ia tidak sabar untuk mengajarnya.

"Ada apa dengan anak itu, Albus?" tanya Severus. Mengapa sang kepala sekolah meminta mereka hadir sekarang kalau hanya untuk mendengarkan fakta yang sudah jelas?

"Harry Potter tidak ada di rumah paman dan bibinya, dan walaupun suratnya sampai dan kita sudah mendapat balasannya, tetap saja keberadaan Harry Potter masih misteri."

Terdengar gumaman di mana-mana, bahkan McGonagall angkat bicara.

"Sudah kubilang agar kau tidak menitipkan Harry di sana! Mereka adalah keluarga muggle terburuk yang pernah kulihat, dan itu baru sehari!"

Dumbledore menghela nafas. "Tapi, perlindungan blood wards akan membuatnya terlindung dari Death Eaters yang masih berkeliling, dan untuk masa depan, saat Voldemort hadir kembali."

Ruangan menjadi sunyi.

"Albus," Pomona Spourt, guru Herbologi, angkat bicara. "Kau bilang kau mendapat jawabannya. Apa kau tidak bisa melacaknya dari sana?"

Sang kepala sekolah itu menggeleng sedih. "Tidak bisa, Pomona. Burung hantu tersebut menjatuhkan suratnya dan langsung pergi. Isi suratnya pun pendek, hanya mengkonfirmasikan kalau ia akan hadir tanggal 1 September nanti."

Gumaman kembali terdengar dan Severus Snape menghempaskan punggungnya ke punggung kursi, kesal.

Ah, tahun ajaran baru akan dimulai.

.

.

Capiano Mansion

31st of July 1991

"Wake up, birthday boy!"

Mendengar teriakan bersumber tepat di sebelahnya, Harry langsung melompat dari tempat tidur, kedua matanya terbuka lebar panik dan tangannya segera meraih dagger di bawah bantal, tempat terakhir ia menaruhnya semalam. Tapi sayangnya dagger kesayangannya itu telah menghilang.

"Gah!"

Gerakannya yang awalnya dikuasai oleh reflek penuh, akhirnya kembali dikuasai oleh otaknya dan matanya mengerjap, melihat siapa yang telah mengagetkannya.

Ternyata ayahnya, yang sekarang sedang berdiri di depannya dengan wajah menyeringai penuh, matanya menampakan kejahilan dan fitur wajahnya yang ceria membuatnya terlihat lebih muda. Dan itu mengatakan banyak hal, mengingat sebagai salah seorang yang bekerja di dua dunia, dunia depan dan belakang, membuatnya harus ekstra hati-hati agar tidak ketahuan dan agar keamanan tempat mereka dan para anggota Mafia Capiano tidak dalam bahaya. Membuatnya cepat lelah dan stress.

Makarov tahu kalau hidupnya terasa lebih relax setelah kedatangan anaknya.

"Bangun, birthday boy! Waktunya sarapan!"

Menggerutu, tapi dalam hati senang karena setelah satu-dua minggu penuh dengan segara macam urusan yang dipaksa ayahnya ia ikuti –mulai dari meeting sampai pesta dari beberapa orang kaya yang tidak mempunyai cara lain untuk membuang-buang uangnya- Harry melompat dari tempat tidurnya.

"Dad, sekarang masih pukul enam!"

Sementara sang ayah hanya menggoyangkan jari telunjuk di depan anaknya, dengan senyum usil muncul di wajahnya. "Oh tidak, bocah, hari ini hari yang spesial, tentunya kau harus bangun lebih pagi."

"Ugh!"

Harry meraih handuknya, tapi lalu berbalik menghadap ayahnya ketika ia teringat akan suatu hal.

"Dad? Dimana dagger ku?"

Jawaban dari Makarov hanya seringai.

"Kau harus mencarinya sendiri, kiddo."

Menggerutu, Harry membanting pintu kamar mandi, walau hanya main-main. Terdengar tawa dari luar dan pintu dibuka dan ditutup kembali, menandakan bahwa ayahnya telah keluar dari kamarnya. Menyalakan shower air dingin, Harry mulai membasuh rambut dan tubuhnya, membiarkan air yang dingin menghapus sisa rasa ngantuk.

Setelah dirasa cukup, ia segera mematikan air shower dan meraih handuknya, mengeringkan tubuhnya. Ia lalu meraih pakaian ganti yang entah sejak kapan berada di sana. Apa tadi ayahnya yang memasukannya? Berarti, daya kehati-hatiannya menurun, mengingat sang ayah berhasil masuk dan menyelundupkan pakaian ke kamar mandi lalu kemudian mengagetkannya.

Memang sih, ia tidak pernah bisa melampaui ayahnya. Tapi ia selalu ingin membuat ayahnya bangga terhadap dirinya. Ia ingin membuktikan bahwa ia bukan anak berumur sebelas tahun kebanyakan yang masih manja dan sebagainya. Ia ingin menunjukan bahwa ia layak disebut sebagai pewaris nama keluarga Capiano. Keluarga Mafia, terkenal di dunia belakang, penguasa di Eropa. Dan pewaris perusahaan Capiano, yang bergerak di berbagai bidang dan terkenal di penjuru dunia. Salah satu hasil dari perusahaan mereka adalah sebuah taman bermain terbesar di Inggris, dan beberapa tempat lainnya.

Setelah ia melihat bayangannya di cermin –sosok anak laki-laki berwajah tampan, berumur sekitar sebelas tahun dengan memakai jeans hitam dan kemeja berwarna hijau tua dengan silver sebagai highlightsnya. Rambutnya ia biarkan terurai, membuatnya seperti sosok Dark Elves dari buku Magical Creature yang dipunyai Vane. Tersenyum melihat bayangannya, ia kemudian berbalik dan mulai mencari di mana dagger kesayangannya di sembunyikan oleh ayahnya.

Akhirnya menemukannya di balik lemarinya –bagaimana bisa ada di situ?- Harry menaruhnya di balik lengannya, agar mudah ia capai ketika penyerangan terjadi. Lalu ia mengambil dua dagger lainnya dan ia selipkan di antara sepatu boot berwarna hitam yang ia pakai, masing-masing satu di satu kaki. Terakhir, ia meraih satu hand gun yang dibuat seukuran dengannya dan ia masukan ke dalam sarung yang tersembunyi di pinggangnya, dibuat tersembunyi dan ditaruh Mantra Anti-deteksi agar tidak ketahuan di deteksi logam.

Sebelum ia keluar, ia meraih iPod dan headsetnya, dan menyalakannya. Mendengarkan lagu '30 Second to Mars' yang berjudul 'The Kill', ia tersenyum, dan keluar kamar, tak lupa menguncinya. Paranoid, karena beberapa file penting yang ayahnya percayakan kepadanya untuk ia lihat berada di dalam laptop, yang berada di tempat tersembunyi di mejanya.

Kalau-kalau terjadi penyerangan dan penyerangnya berhasil memasuki kamarnya untuk mencari file-file penting, laptop tersebut sudah diamankan agar ketika ada orang lain yang memaksa untuk memasukinya, sebuah virus khusus langsung menghapus semua data.

Memang sih, ia punya cadangannya. Tapi lebih baik waspada dari pada nanti menyesal.

Tersenyum dan menyapa setiap orang yang ia temui di lorong, ia memasuki ruang makan.

"Pagi semua!"

"Happy Birthday Harry!"

Senyuman di wajahnya makin melebar ketika ia melihat semua orang yang dekat dengannya; ayahnya, Al, Vane, Kim, seorang mata-mata handal bernama Nicole Monroe, dua orang kakak-beradik Hunters dengan nama Dean dan Sam Winchester, yang jauh-jauh datang dari Amerika, dan bahkan Angel, yang seharusnya berada dalam misi undercover datang untuk merayakan ulang tahunnya.

"Kalian!" Harry berjalan menuju ayahnya dan memeluknya erat, menggumamkan 'Thanks' lembut di telinga pria itu. Makarov hanya tersenyum dan mengeratkan pelukannya, lalu melepaskannya dan mundur, memberikan ruang bagi orang lain. Al datang untuk memeluknya, tersenyum. Kim dan Vane bahkan memeluknya erat sampai mengangkatnya, membuatnya kesal tapi tersenyum juga. Sam memeluknya lagi dan Dean mengacak rambutnya, membuatnya tambah kesal. Nicole hanya tersenyum dan membantu Dean menjalankan misi membuat rambutnya berantakan, dan Angel memberikannya sebuah kecupan kecil di dahi.

"Thanks," gumamnya, masih tersenyum. Ini benar-benar seru! Ulang tahun terbaik yang ia punya… karena sekarang orang-orang yang ia peduli dan dekat dengannya hadir seluruhnya. Tahun lalu, Dean dan Sam tidak bisa datang karena terjadi kekacauan di Amerika… yang katanya Lucifer turun ke Bumi dan mulai meneror. Dua tahun yang lalu, Vane berada di rumah sakit karena misinya untuk menyusup dan menghapus file penting yang berada di dalam klan musuh, tapi sayangnya ketika ia akan kabur ia tertangkap dan dikurung sebelum akan dieksekusi. Beruntungnya, file sudah dihapus dan Vane berhasil mencari jalan keluar untuk kabur, dengan bantuan Makarov dan Al tentunya. Tapi tetap saja membuatnya masuk rumah sakit dan di 'hukum' kurung dalam rumah selama sebulan.

Tiga tahun yang lalu tidak terjadi apa-apa, tapi Dean dan Sam baru muncul dan menjadi anggota Capiano karena Al menghubungi kembali ayah mereka John Winchester, mereka belum terlalu dekat.

Lima tahun yang lalu… sosok Kim yang berdarah muncul di depan pintu mereka. Kim rupanya adalah 'aset' milik pemerintahan Amerika. Sayangnya, Kim baru keluar dari sekolah sihirnya, Maimer School of Magical Beings, mempunyai potensi tinggi dan kemudian ia ditawan untuk dilatih. Tidak kuat, Kim pergi untuk mencari pertolongan dan tanpa sengaja ber-Apparate ke depan rumah Capiano.

Di rawat dan di sembuhkan langsung oleh Makarov dan Al, Kim akhirnya langsung bergabung dengan klan Capiano. Dilatih dari posisi terendah, sampai kemudian ia sekarang berada di rangking satu sebagai anggota Shadow.

Lima bulan setelah Kim muncul di depan pintu rumah Capiano, Vane datang untuk perekrutan karena ia baru di disowned oleh keluarganya. Sejak saat itu, Vane dan Kim adalah partner dan mereka berdua menjadi rangking satu anggota Shadow, setingkat di bawah Alfonso yang tangan kanan Makarov.

Menerima semua hadiah di tangannya dan menaruhnya di meja makan, Harry duduk di kursi dan makanan muncul. Di tengah, sebuah kue ulang tahun muncul. Berwarna cokelat, Tiramisu, kue favoritnya. Menyeringai lebar, ia melihat ke sekeliling dan mengangguk, meniup lilin berbentuk sebelas di tengah kue, sambil memikirkan permintaannya.

'Semoga tahun ini menjadi tahun yang menyenangkan.'

"Ada yang mau kue?" seru Harry, pisau kue di tangan kanannya, memotong dan menaruhnya di piring di tangan kirinya.

"Aku duluan!" seru Dean dan Vane bersamaan, membuahkan tawa dari sekitarnya. Tersenyum, Harry memberikannya kepada ayahnya yang berada di sebelahnya dan mengecup pipinya.

"Thanks, dad," bisiknya, lalu ia mundur dan tersenyum lalu mengeluarkan lidahnya kepada Dean dan Vane, mengejek mereka.

Kim, yang berada di sebelah Vane, menjitak partnernya selama lima tahun itu. "Jangan bertingkah kekanak-kanakan, Vane!"

Satu ruangan tertawa saat melihat adegan tersebut. Bukan asing lagi kalau dua partner itu saling menjaga satu sama lain, dan Kim berperan sebagai kakak perempuan, atau 'ibu' di antara para anggota Shadow lainnya. Tapi, seperti yang di kata Dean selanjutnya,

"Dasar pasangan tua!"

Dan hunter berumur dua puluh tujuh itu menerima death glare dari Kim dan Vane, sementara Sam hanya menghela nafas dan menggelengkan kepalanya.

"Dean…"

"Ya, Sammy?"

Menggelengkan kepalanya, Harry meraih piring lain dan memotong kuenya, membagikannya kepada orang-orang terdekatnya. Setelahnya, ia kembali duduk dan meraih sarapannya. Ruang makan itu dipenuhi oleh suara orang-orang yang berbicara dan saling mengobrol. Harry sendiri sedang berdiskusi asik dengan Angel, menanyakan kabarnya selama menjalankan misi undercover di sebuah perusahaan.

"Jadi jadi, bagaimana? Kau sudah menemukan seseorang?" goda Harry, sedikit melirik kepada pamannya yang berada dua kursi di sebelahnya, yang pastinya langsung mendengarkan. Sudah bukan rahasia lagi di antara Harry dan Makarov kalau Al sedang melirik wanita yang nama aslinya tidak diketahui itu.

Bisa dirasakan wajah wanita keturunan Asia itu memerah. "Ti-tidak lah, Harry, apa sih yang kau pikirkan? Aku sedang menjalankan misi!"

Harry membuat mimik wajah terkejut yang pura-pura. "Benarkah? Tidak ada cerita tentang seorang agent perempuan jatuh cinta dengan warga sipil dalam misi undercover?"

Seisi ruangan tertawa, bahkan Makarov.

"Klise sekali, Harry!" seru Dean, yang terkenal dengan sikap playboynya. "Kau hidup di tahun berapa, 80-an?"

"Musikmu yang ketinggalan jaman, Dean!" balas Harry, dan mendapat anggukan setuju dari Sam dan tawa dari Vane. Dean memang terkenal dengan selera musiknya yang… 'unik', dan sebagai teman satu perjalanannya, Sam harus mempasrahkan untuk mendengarkan musik pilihan Dean karena Impala adalah mobil tersayang milik sulung keluarga Winchester itu.

Mereka melanjutkan makan, yang dilanjut dengan melahap kue dengan santai dan berjalan menuju ruang duduk ketika ada sesuatu yang mengetuk kaca jendela.

Segera saja semua orang sudah siap dengan dagger atau hand gun di tangan, dan berbalik menghadap jendela tersebut. Bisa dilihat sebuah burung hantu berwarna cokelat tua terbang di sana, paruhnya mengetuk kaca tidak sabar. Masih tetap waspada, Al maju dan membuka jendela, membiarkan burung tersebut masuk dan menjatuhkan surat di paruhnya.

Al maju dan melihat cap di belakangnya, cap Hogwarts.

"Apa tulisan di depannya?" tanya Harry, waspada. Ia membaca di Hogwarts, A History kalau mereka yang mendapat surat, akan terlihat nama lengkap serta alamatnya. Tapi Al menyeringai dan menggeleng.

"Hanya Harry Potter. Sepertinya, wards yang kubangun dengan Vane berhasil."

Pemuda Prancis itu mengangguk bangga. "Tentu saja dong!"

Mendengus, Harry meraih surat tersebut.

"Dear Mr. Harry Potter."

Di belakangnya, terdapat cap Hogwarts.

Menghela nafas dan perlahan membukanya, Harry menarik dua perkamen yang berada di dalamnya. Ia lalu melirik ke arah burung hantu yang masih menunggu di atas meja. Ia menghela nafas.

"Apa kau menunggu jawaban?"

Burung hantu itu menatapnya intens seolah berkata 'iya'.

Menghela nafas, Harry berkata, "Kau pergi saja duluan, aku akan balas dengan burung hantu lain."

Burung hantu itu melihatnya, seolah membalasnya dengan 'apa-kau-yakin-bocah?'

Harry tertawa kecil lalu mengangguk. "Aku yakin. Sekarang, shush!"

Memberikan death glare sekali lagi, sang burung hantu terbang, meninggalkan Harry yang akan membuka suratnya dan orang-orang yang berada di ruangan menatapnya takjub.

"Waah, tak ku sangka Harry bisa berbicara dengan burung hantu!" Dean berkomentar dengan nada mengejeknya yang biasa.

"Dean!"

Terkekeh, Harry membuka suratnya dan membaca isinya keras-keras.

"SEKOLAH SIHIR HOGWARTS

Kepala Sekolah: Albus Dumbledore (Orde of Merlin, Kelas Pertama, Penyihir Hebat, Kepala Penyihir, Konfederasi Sihir Internasional)

Mr. Potter yang terhormat,

Dengan gembira kami mengabarkan bahwa kami menyediakan tempat untuk Anda di Sekolah Sihir Hogwarts. Terlampir daftar semua buku dan peralatan yang dibutuhkan.

Tahun ajaran baru mulai 1 September. Kami menunggu burung hantu Anda paling lambat 31 Juli.

Hormat saya,

Minerva McGonagall

Wakil Kepala Sekolah."

Harry menatap perkamen tersebut takjub.

"Kalau mereka memutuskan untuk memberi dead line hari ini, mengapa suratnya baru datang sekarang?"

Kim mengangkat bahunya. "Mungkin karena wards di sekitar rumah terlalu kuat sehingga burung hantu Hogwarts telat?"

Dan gadis Korea-Amerika itu segera menyesali perkataannya, karena tanpa sadar ia memberikan pujian kepada orang yang membuat wards tersebut, dengan kata lain Al dan Vane. Dan sekarang pria Prancis itu menatapnya dengan seringai lebar terpampang di wajahnya.

"Dan daftarnya?" tanya Al, bersandar di sofanya. Ia masih merasa senang karena berhasil membuat wards yang cukup kuat. Membalas seringai pamannya, Harry meraih perkamen satu lagi dan kembali membacanya.

"SEKOLAH SIHIR HOGWARTS

Seragam

Siswa kelas satu membutuhkan:

Tiga setel jubah kerja sederhana (hitam)

Satu topi kerucut (hitam) untuk dipakai setiap hari

Sepasang sarung tangan pelindung (dari kulit naga atau sejenisnya)

Satu mantel musim dingin (hitam, kancing perak)

Tolong diperhatikan bahwa semua pakaian siswa harus ada label namanya.

Buku

Semua siswa harus memiliki buku-buku berikut:

Kitab Mantra Standar (Tingkat 1) oleh Miranda Goshawk

Sejarah Sihir oleh Bathilda Bagshot

Teori Ilmu Gaib oleh Adalbert Waffling

Pengantra Transfigurasi bagi Pemula oleh Emerie Switch

Seribu Satu Tanaman Obat dan Jamur Gaib oleh Phyllida Spore

Cairan dan Ramuan Ajaib oleh Arsenius Jigger

Hewan-hewan Fantasis dan di Mana Mereka Bisa Ditemukan oleh Newt Scamander

Kekuatan Gelap: Penuntun Pelindungan Diri oleh Quentin Trimble

Peralatan Lain

1 tongkat sihir

1 kuali (bahan campuran timah putih-hitam ukuran standar 2)

1 set tabung kaca atau Kristal

1 teleskop

1 set timbangan kuningan

Siswa diizinkan membawa burung hantu ATAU kucing ATAU kodok

ORANGTUA DIINGATKAN BAHWA SISWA KELAS SATU BELUM BOLEH MEMILIKI SAPU SENDIRI"

Al menyeringai.

"Peraturannya masih sama."

Harry memberikannya tatapan menyelidik.

Al menghela nafas, menarik perkamen dari tangan Harry. "Buku standarnya hanya berubah satu-dua, peralatan yang harus di bawa masih standar, hewan peliharaan yang di bawa masih sama, bahkan peraturan siswa tahun satu tidak boleh punya sapu sendiri pun masih sama! Kemana saja sih, dunia sihir satu dekade lebih ini?"

Menggelengkan kepalanya takjub, Harry menatap ayahnya. "Jadi?"

Makarov terlihat berfikir, lalu tersenyum. "Mari kita lanjutkan pestanya nanti malam, kau ada jadual belanja bukan? Lagi pula katamu kau akan ke Gringgots dulu?"

Mengeluh, Harry menatap Kim dan Vane pasrah. Keduanya hanya menyeringai dan terkekeh.

Oh, betapa Harry membenci belanja.

.

.


Kim mengeratkan jubah di sekeliling tubuhnya. Jubah tersebut berwarna merah tua, sewarna dengan rambutnya. Rambutnya ia ikat satu, tersembunyi di balik jubah. Ia memakai celana pendek selutut yang membuatnya mudah bergerak, dan tank top bewarna hitam. Kedua daggernya ia taruh di lengan, masing-masing lengan satu. Hand guns nya ia taruh di pinggang, dua. Di balik sepatu boot kulit naganya ia taruh dagger lainnya, yang diselimuti racun ular mematikan. Tongkat sihirnya berada di holster di pergelangan tangan kirinya, di buat tak terlihat. Tongkat cadangannya berada di kantong celana.

Sekarang, ia akan mendampingi Makarov dan Harry ke Diagon Alley, bersama dengan Vane. Karena sayangnya, Al harus mewakili Capiano Ink. karena sang pemilik alias Makarov –yang seharusnya memimpin rapat hari ini- memaksa pergi mengantarkan anaknya membeli perlengkapan.

Tersenyum, Kim berjalan cepat menuju Vane. Partnernya selama bekerja di keluarga Capiano itu memakai jubah berwarna abu tua, hampir hitam. Di baliknya terdapat kaos longgar untuk bergerak dan celana kulit berwarna abu. Ia memiliki senjata yang sama dengan Kim, bedanya ia memiliki lima daggers dan satu hand gun. Mereka berdua mengangguk, dan berjalan di belakang Makarov dan Harry, yang sekarang menuju belakang Diagon Alley. Kedua guards itu memakai tudung jubahnya agar tidak ada orang lain yang melihat wajah mereka.

Mereka berdua mengikuti Makarov dan Harry, berjalan tepat di belakang mereka sementara kedua orang yang mereka hormati itu berjalan menuju pintu belakang Leaky Cauldron. Kim maju dan mengeluarkan tongkat sihirnya, mengetuk batu bata dinding. Tiga atas, dua kanan. Setelahnya ia mundur, dan dinding tersebut terbuka ke sebuah jalan yang sudah familier dengannya.

Mereka berempat berjalan beriringan, Makarov berada di sebelah Harry yang memakai jubah berwarna hijau tua. Bekas luka sambaran kilat di kepalanya tertutupi oleh rambutnya yang ia biarkan memanjang sedikit. Fiturnya mirip dengan Dark Elves, membuat Kim bertanya-tanya sendiri apakah keluarga Potter terdapat darah dari keturunan Magical Creatures langka tersebut. Harry memiriki daya tarik tersendiri untuk anak seusianya, dan dengan rambutnya yang acak-acakan menempel di kepalanya, mata hijau cerahnya yang jelas di wajahnya, dan pembawaannya yang tegas dan percaya diri membuat Kim yakin kalau 'adik'nya itu akan sukses.

Yah, sekarang tugasnya adalah mengawasi, menjaga dan membimbingnya.

"Anda ingin ke mana dulu?"

Kim tersadar dari pikirannya saat Vane berbicara, dan ia segera mengalihkan matanya ke dua orang yang sudah seperti keluarganya itu.

"Hmm… bagaimana kalau Gringgonts dulu? Lagi pula aku ingin melihat isi vaults dad, mungkin ada beberapa senjata yang bagus." Harry yang menjawab.

Vane mengangguk bersemangat. Pemuda yang satu itu memang hebat dalam hal hand-in-hand combat dan berduel dengan pedang dan dagger. Sepertinya, sebelum ia di disowned oleh keluarganya, ia sudah belajar mengenai banyak hal para pureblood ajarkan kepada anak-anak mereka. Apalagi Vane berasal dari Prancis; negara tersebut terkenal dengan politik mereka yang jauh lebih 'tinggi'.

Mungkin di Inggris terdapat keluarga Malfoy, Zabini, Greengrass, Nott, dan sebagainya, yang jelas-jelas mempunyai nama di kalangan dunia sihir Eropa. Tapi nama-nama di Prancis, Swiss, Bulgaria dan Russia termasuk yang paling menonjol. Dari Prancis terdapat nama Darcy dan Delacour, dari Russia terdapat nama Dalton, dari Bulgaria terdapat nama Krum dan Nadine yang juga keluarga Mafia, penguasa Bulgaria walaupun keluarga Nadine masih menjawab panggilan keluarga Capiano. Hanya Russia saja yang mempunyai wilayah kekuasaan sendiri. Keluarga Vongola adalah salah satu yang terkuat, dan pemimpin mereka sekarang, Vongola X, termasuk orang yang menilai dari sisi kemampuan dan kemampuan Vongola setara, atau mungkin lebih dari Capiano. Tapi hubungan kedua pemimpin baik, jadi kemungkinan Inggris diserang oleh Vongola sangat minimum.

Menghela nafas, Kim mengikuti Harry yang berjalan kalem tapi matanya memancar rasa gembira menuju Gringgonts. Sesampai di sana, mereka langsung berjalan menuju satu tempat Goblin yang kosong. Berbeda dari orang lain, Harry menunggu dengan sabar. Setelah sekian menit dan Goblin tersebut menyelesaikan kertasnya, Goblin itu mendongkak.

"Ya?"'

"Salam, Goblin Gringgonts. Saya dari keluarga Potter dan Slytherin ingin melihat kedua isi vaults."

Goblin tersebut terlihat tidak terkejut; mungkin kepala Goblin itu sudah memberi tahu gerak-gerik Harry di dekat Goblin. Griphook, nama goblin tersebut, mengangguk. "Ada identitas?"

Harry menoleh kepada ayahnya yang tersenyum dan mengeluarkan satu set kunci yang kemarin diberikan Bloodbuck sebelum mereka pergi. Ia mengulurkannya kepada Griphook, yang bertandakan lambang keluarga Slytherin dan satu kunci vault yang berisi khusus untuk keperluannya sekolah.

Goblin tersebut menerima kunci dengan seksama, lalu mengangguk. "Ikuti saya."

Mereka berempat berjalan mengikuti goblin, jauh ke bawah menuju ruang bawah tanah. Lalu mereka benaiki kereta bawah tanah Gringgonts –yang menurut Makarov lebih menakjubkan dibandingkan pengalamannya naik pesawat tempur tanpa seatbelt- dan segera turun di vaults 324.

"Trust vault keluarga Potter." Griphook mengumumkan, dan mengeluarkan kunci yang diberikan Harry. Setelah terdengar bunyi klik, mereka bertiga masuk sementara Kim dan Vane menunggu di luar.

"Wah…" Harry benar-benar speechless melihat tumpukan, sekali lagi, tumpukan emas. Benar-benar…

"Ini milikku?"

Griphook menyeringai –yang terlihat seram, sebenarnya- dan mengangguk. "Trust vault untuk mendanai sekolahmu, di set oleh James Potter."

Harry mengangguk dan meraih kantongnya, tapi sebuah tangan menghentikannya.

"Sudah kubilang, ayah saja yang membayar sekolahmu," gumam Makarov, sedikit kesal karena anaknya memaksa agar ia tidak membayarkan keperluan sekolahnya.

Harry hanya menyeringai. "Hanya untuk tahun ini, oke dad? Lagi pula, kalau kurang kan aku selalu bisa minta dad."

Mengehela nafas, Makarov melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Harry dan memindahkannya ke bahunya. Harry tersenyum dan memindahkan emas yang ia ketahui bernilai sebagai galleon ke dalam kantongnya yang tak berdasar, dan setelah di rasa cukup ia menutupnya dan menaruhnya ke pinggangnya.

"Oke!"

Melihat tingkah anaknya yang gembira, mau tak mau Makarov juga ikut tersenyum. Mereka berdua keluar, diikuti oleh Griphook yang mengikuti mereka dan mengunci vaults tersebut. Setelahnya, ia memberikan kunci tersebut kepada satu-satunya pewaris nama keluarga Potter yang masih hidup. Setelahnya, mereka berlima kembali menaiki kereta Gringgots yang terkenal itu dan menuju lantai terbawah.

Lantai satu, dengan tingkat kemanan tinggi.

"Beberapa vaults dilindungi oleh naga," Griphook menjelaskan, "Tapi keempat vaults para Pendiri tidak, karena hanya bisa dibuka oleh darah dan kunci khusus."

Harry mengangguk. Bagus lah, setidaknya ada jaminan kalau ada orang yang berniat masuk ke sana.

Mereka langsung berjalan menuju satu vaults dengan pintu yang terlihat tua. Harry segera masuk dan menerima pisau dari Griphook, mengiris sedikit telapak tangannya –di sini ia menyerngit sedikit- dan menaruh lengannya di sebuah runes di tengah pintu. Seketika pintu bercahaya sedikit, dan sebuah lubang kunci muncul.

Menerima kunci dengan tangannya yang masih berdarah, Harry menaruhnya di lubang kunci dan memutarnya.

Klik.

Pintu terbuka.

Harry berjalan memasuki pintu yang terbuka, membiarkan Kim mendekatinya dan menyembuhkan telapak tangannya yang berdarah.

Waw.

Vault tersebut berwarna hijau tua dan silver, di dindingnya terpajang panji-panji Slytherin. Di dinding kiri terdapat rak-rak buku, dan di dinding kanan terdapat rak berisi koleksi senjata. Di tengah terdapat sebuah rak setinggi meja, berisi bergulung-gulung perkamen. Di ujung, terdapat lemari kaca berisi heirloom keluarga Slytherin.

Waw.

Dan semua ini miliknya.

Dan ini baru sebagian karena ia adalah pewaris dari pihak squib. Belum lagi kalau Tom Riddle mati dan tidak mempunyai anak atau pewaris, maka ia yang akan mendapat semua.

Tersenyum. Tentu ia senang. Berbagai macam pengetahuan berada di sini. Senjata-senjata berbahaya. Perhiasan yang bernilai sangat tinggi.

Harry segera berjalan menuju koleksi senjata, Vane di belakangnya, sementara Kim menuju rak buku. Ayahnya sendiri berjalan mengelilingi, terlihat takjub.

::Siapa di sana?::

Gerakan Harry langsung berhenti saat ia mendengar seseorang bersuara. Ia segera berbalik, siaga.

::Siapa?::

Dan tanpa sadar ia menjawab tidak dengan bahasa manusia.

Gerakan dalam ruangan langsung berhenti.

"Harry?"

Harry mengangkat tangannya, menghentikan apapun kata yang ingin diucapkan ayahnya. Sumber suara itu terlihat dekat tapi seperti dari tempat yang jauh…

Dari atas.

Ia melihat ke dinding tempat heirloom, yang di atasnya terdapat panji-panji Slytherin. Di sebelah panji tersebut, terdapat sebuah lukisan, yang sekarang berisi seseorang dengan fitur tinggi dan percaya diri, berwajah khas bangsawan tua dan sedikit mirip dengan Harry. Hanya saja warna matanya adalah cokelat tua.

::Salazar Slytherin?::

Orang yang berada di lukisan tersebut mengangguk. ::Ah, rupanya datang juga akhirnya salah satu pewarisku. Say, kau datang dari keturunan squib, eh?::

Harry menegang sedikit, tapi ia mengangguk. ::Ya.::

::Tapi kau mewariskan kemampuan Parselmouth ku.:: Salazar berkata, kedua alisnya terangkat. ::Tidak ada yang mewariskan kemampuan tersebut… kecuali kalau kau benar-benar kuat.::

"Parselmouth?" ulang Harry, shock.

Tiga kepala langsung melihat ke arahnya. "Harry?" tanya Makarov, berjalan menuju anaknya.

"Ah, benar, young speaker." Kali ini Salazar yang berbicara. "Kalau perkiraanku benar, maka kau adalah Harry Potter, hmm? Terkejut sekali anak emas Dumbledore adalah seorang Parselmouth."

Mata Harry langsung berkilat berbahaya, membuat Salazar yang memperhatikannya menaikan satu alisnya heran.

"Aku-bukan-boneka-Dumbledore." Ucapnya tegas, menekankan tiap kata.

Salazar menyeringai.

"Ah, sekali keturunan Slytherin selalu Slytherin. Jadi, apa yang kau lakukan di sini, hmm?"

Perhatian Harry kembali teralih kepada rak-rak berisi senjata. "Melihat-lihat apakah ada daggers atau pedang yang bagus."

"Hmm, coba kau buka kotak di rak paling bawah, terdapat sepasang daggers kembar milikku. Satu sudah terkena racun Basilik."

Mengabaikan gumaman kaget dari yang lain, Harry membungkuk dan menarik sebuah kotak tua dan menaruhnya di atas meja-rak di tengah ruangan. Ia membukanya, mengabaikan rasa geli dari nafas Vane yang terasa di lehernya.

Sepasang daggers yang benar-benar… indah.

Berwarna antara campuran dari hitam, hijau, dan silver. Bertuliskan rune protection, dan kalau kata Salazar benar, dilapisi oleh racun Basilik.

Mengambil daggers itu hati-hati, Harry memainkannya di kedua tangannya, memutarnya dan mencoba memegangnya.

"Wah,"

Ringan. Fleksibel. Pas dengan keperluannya, dan kelebihannya di kecepatan.

Salazar menyeringai. "Wah, tentu saja."

Harry mengangguk, berterima kasih. Ia lalu melihat ke arah Kim dan Vane yang sudah mengambil beberapa buku yang berguna, lalu ke arah ayahnya yang sedang melihat salah satu perkamen mengenai… sejarah? Ah, tipikal ayahnya.

Mengangkat bahu, ia menyelipkan kedua daggers barunya di kantong di lengan kiri dan kanannya, tersembunyi di balik jubah. Mengangguk, ia menaruh buku-buku yang disodorkan Kim ke tasnya.

Setelahnya, mereka naik ke atas.

"Akhirnya, matahari," gumam Vane yang merenggangkan otot lengannya. Kim hanya tersenyum dan kembali memasang tudung jubahnya.

Mereka berempat sudah berada di luar Gringgonts. Makarov sudah menukar uangnya untuk keperluan sekolah Harry. Dasar ayah yang satu itu, sekalinya bersikeras maka dilakukan juga.

"Jadi, ke mana?"

"Bagaimana kalau Vane dan ayah ke toko bahan ramuan dan membeli perlengkapan lainnya? Aku dan Kim akan pergi membeli seragam sekolah lalu ke toko buku. Bagaimana kalau satu jam lagi di depan toko tongkat sihir… Ollivander?"

Makarov awalnya ingin protes –meninggalkan anaknya sendiri di tempat yang ia sendiri belum familier, bagaimana ia ingin setuju? Tapi akhirnya ia mengangguk, dan memberikan sebagian dari uang yang ia pegang, yang Harry terima dengan seringai. Menggelengkan kepalanya, Makarov berjalan menuju arah toko bahan ramuan dengan Vane di sebelahnya, sementara Kim menarik lengan Harry menuju toko Madam Malkin.

Ooh, kenapa tadi ia memutuskan untuk pergi dengan Kim? Walau Kim seorang prajurit, seorang sniper, tapi tetap saja dia itu… cewek. Dan cewek suka belanja.

Akhirnya ia berdiri tegak dan melepaskan tangannya dari cengkeraman Kim dan berjalan bersebelahan dengannya. Mereka berdua memasuki toko tersebut, dan mata Harry yang observan melihat sesosok anak laki-laki berambut pirang hampir putih, yang seumuran dengannya.

Seorang wanita ramah menghampirinya. "Hogwarts, nak?"

Harry tersenyum sopan dan mengangguk. Kebiasannya itu sudah otomatis berada dalam dirinya, ketika orang mendatanginya dan mengajaknya berbicara atau menyanyakan sesuatu dengannya. Ia akan berperan sebagai anak polos berumur sebelas tahun, tapi sekaligus seorang anak politik yang penuh perhitungan dan tidak menunjukan apa yang sebenarnya ia kuasai kepada orang-orang.

"Ya, madam," jawabnya lancar, kedua jari tangannya bermain, menggesturkan sosok anak yang gugup. "Tahun pertama, madam."

Madam Malkin sepertinya jarang menerima anak yang sopan dan ramah, karena ia langsung tersenyum ceria. "Oh, kalau begitu mari! Kebetulan ada anak lain yang sedang mengukur."

Mengangguk, ia tahu kalau yang Madam Malkin sebutkan adalah anak yang tadi ia lihat. Dan ketika mendekat, Harry menyadari bahwa anak tersebut adalah seorang Malfoy, karena Al sering menyebutkan tentang mereka dan ciri-cirinya.

Menghela nafas, ia melirik Kim dan mengangguk kecil. Ia bisa mengatasi situasi apapun yang akan terjadi sekarang, jadi Kim bisa berdiri diam di samping, dekat pintu.

Madam Malkin sepertinya melihat sosok Kim, karena ia menatap gadis itu curiga.

Tapi Harry memainkan perannya, tersenyum kecil. "Maaf Madam, itu kakakku dan ia ingin menemaniku walau tidak ingin terlalu dekat, jadi bolehkah-?"

"Oh, tidak apa-apa, nak!" seru Madam Malkin, tersenyum. "Tidak apa-apa, lagi pula kakakmu bisa melihatmu, hmm?"

Harry menggigit bibir bawahnya, terlihat tidak yakin. "Apa anda yakin, madam-?"

"Oh child, tidak apa-apa!"

Ia melepaskan bibir bawahnya, tersenyum manis. "Terima kasih, Madam."

Harry berdiri di atas bangku di sebelah Malfoy itu, sementara Madam Malkin mulai mengukurnya dengan alat ukur otomatis.

"Halo," sapa Malfoy. "Hogwarts juga?"

'Lebih baik aku memperhatikan dulu sikapnya,' batin Harry, yang mengangguk sopan. "Ya."

"Ayahku di sebelah, membelikan bukuku, dan ibuku di toko lain mencari tongkat," kata Malfoy, mencoba memulai percakapan. Harry mengikuti permainannya, karena semakin ia memperhatikan akan semakin mengerti, dan puzel di otaknya mulai tersusun. "Sesudah itu nanti aku akan menarik mereka melihat sapu balap. Aku tidak mengerti kenapa anak-anak kelas satu tidak boleh mempunyai sapu sendiri. Kurasa aku akan memaksa ayah supaya membelikan aku sapu dan akan kuselundupkan."

Ah, begitu rupanya. Harry mengerti. Yang selalu ia bicarakan adalah ayahnya; dan ada nada kebanggaan di sana. Anak itu bukan arogan atau apa, mungkin ia jarang berbicara dengan anak seusianya. Dan ia di ajarkan oleh ayahnya untuk bersikap seperti itu; ayahnya mendiktekan masa kecilnya, bagaimana ia berbicara, bertingkah. Dan karena ia masih kecil, ayahnya menjadi sosok yang ia kagumi. Otomatis ia akan membanggakan ayahnya, dan karena Harry berfikir kalau Malfoy muda itu jarang bersosialisasi dengan anak seusianya, maka ia tidak terbiasa berbicara walau sebenarnya ia ingin. Dan Harry mengerti sikap itu, karena dulu ia pun masih gugup saat bersosialisasi dengan anak-anak seusianya, terutama karena ia begitu cepat dalam bersekolah.

Tapi sikap Malfoy masih bisa dirubah… asal ia mendapat seseorang yang tepat. Yang bisa menunjukan bahwa perbuatan seseorang tidak bisa didiktekan oleh ayah mereka, atau orang lain, dan setiap orang mempunyai pandangan tersendiri.

Tapi tetap saja, untuk melakukan itu sedikit… susah dan pastinya membutuhkan waktu lama.

"Apa kau sudah punya sapu?"

Harry tersadar dari pikirannya ketika Malfoy sekali lagi bertanya. Harry menggeleng. "Ah, belum. Aku sudah meminta pamanku, tapi katanya aku harus belajar dulu sebelum punya satu," di sini, Harry membuat wajah kesal, "Tapi sekeras apapun aku belajar, paman tidak membelikannya juga."

Malfoy mendengus.

"Main Quidditch?"

"Baru teori," jawab Harry simpel.

"Quidditch tidak hanya bisa dimainkan oleh teori, skill dalam permainan dan kemampuan juga dibutuhkan. Banyak orang yang mengerti Quidditch, tapi ketika memainkannya tidak bisa karena tidak terbiasa dan terlalu bergantung pada apa yang dikatakan oleh buku. Setiap orang mempunyai cara bermainnya sendiri."

Harry mengangguk setuju. Malfoy ini mempunyai kepintaran tersendiri, dan ketika rasa bangga diri dan arogannya sudah hilang, ia bisa menjadi teman yang decend. Tapi masih banyak hal yang harus dilakukan.

"Ah, apa kau sudah tahu akan ke asrama mana?"

Harry menyeringai dalam hati. Sudah pasti setelah ini, saat ia tidak menjawab hati-hati, jawaban dan pandangan Malfoy kepadanya akan berbeda.

"Tidak tahu, kau?"

"Yah, memang tidak ada yang tahu sampai kita tiba. Tapi aku sudah tahu kalau aku akan masuk Slytherin. Maksudku, Ravenclam memang bagus, tapi anak-anaknya terlalu terpaku pada buku dan benar-benar… begitulah. Kalau Hufflepuff, ugh! Memikirkannya saja sudah… Terutama Gryffindor! Ugh, kalau itu terjadi, aku akan pindah. Ya kan?"

Harry hanya mengangguk dalam diam. Ia sendiri masih belum terlalu memikirkan ia masuk mana. Ia tahu kalau Makarov akan menerimanya dimanapun ia berada, tapi di mata dunia sihir… ia yakin ia masuk Slytherin, tapi kemunculannya di sarang ular itu pasti akan membuahkan tanya dan orang lain akan mulai meragukannya. Lalu keberadaannya akan menghilang dalam bayangan, karena orang jarang membicarakan tentang Slytherin. Sisanya, ia akan bekerja dalam diam.

"Sudah selesai, nak," Madam Malkin memotong perkataan apapun yang akan dikatakan oleh Harry, dan Malfoy mengangguk. Turun dari bangkunya, ia menatap Harry dan tersenyum kecil. "Sampai bertemu tanggal 1 September."

Harry balas mengangguk, lalu kedua matanya mengikuti Malfoy yang keluar dari toko dan… kenapa ia berhenti di depan pintu? Seperti terlihat sedang berbincang dengan seseorang…

Baru saja pikirannya akan mengelana, terdengar dentingan pintu terbuka dan suara Madam Malkin menyapa seseorang. Anak kelas satu juga yang akan masuk Hogwarts sepertinya… dan Harry mendongkak. Dan ia terdiam.

Di sana, sosok yang ia lihat kurang dari tiga tahun yang lalu. Di sebuah pesta. Di malam Halloween. Anak laki-laki, yang sekarang seumuran dengannya. Dengan kulit hitam, tulang pipi tinggi, wajah menarik, rambut hitam pendek cepak, dan jubah kasual berwarna hitam.

Blaise Zabini.

Oh, Harry masih ingat, tentu, walau sudah tiga tahun tidak bertemu dan tentunya anak laki-laki itu sudah sedikit berubah. Tapi tetap saja aura dan kesan yang ia tangkap sama. Karena malam itu, Blaise Zabini mengetahui siapa dirinya, dan Al membuka, memberitahu sebuah dunia di mana Harry seharusnya berada. Tapi karena seorang tua yang berfikir bahwa meninggalkannya di keluarga Dursley adalah untuk kebaikan yang lebih besar, Harry tidak tahu apa-apa.

Ah, malam itu juga, Blaise berjanji bahwa mereka akan bertemu tiga tahun lagi. Dan sekarang, mereka bertemu lagi. Memang lebih cepat dari rencana sih, 1 September. Tapi tetap saja…

Kedua bola mata itu menjelajahi ruangan, kemudian menemukan dirinya. Ia berjalan mengikuti Madam Malkin ke kursi di sebelahnya, tapi kedua matanya terkunci pada bola mata Harry. Mereka berdua saling bertatapan, tidak mendengarkan apa yang Madam Malkin katakan.

"Hey."

Harry tersenyum.

"Hey juga."

"Tak menyangka akan bertemu denganmu di sini."

Harry memiringkan kepalanya sedikit, alisnya terangkat. "Oh? Dan kau masih ingat?"

Blaise tersenyum, menyeringai tepatnya. "Oh, tentu saja. Jarang-jarang kan, orang bertemu langsung dan mengobrol ringan dengan seorang Hadrian Capiano, apa lagi Harry Potter?"

Harry mendengus, yang benar saja. Sang Italia itu tahu kedua statusnya di kedua dunia. Mungkin malah sebelum bertemu. Well, memang sebelum bertemu sih, karena Blaise berhasil mengetahui jati dirinya sesaat setelah mereka bertemu pandang.

"Ya ya, apalah. Jadi?"

Blaise menyeringai. "Jadi apa? Akhirnya kau mendapatkan suratnya, hm?"

"Yah, begitulah."

"Dan tadi kau bertemu dengan Draco Malfoy?"

"Oh? Draco Malfoy, namanya?" Harry mengangkat satu alis. "Aku tidak tahu namanya, tapi aku tahu ia seorang Malfoy."

"Hmm, dan siapakah yang menjadi mentormu, selain guards mu yang berada di sana?"

Harry tersenyum mengetahui kalau Blaise langsung mengetahui kalau Kim adalah guardsnya, dan seorang penyihir. Orang Italia itu ternyata mempunyai pikiran yang tajam juga.

"Yaah, itu-"

"Sudah selesai, nak." Madam Malkin, sekali lagi, memotong pembicaarannya dan membawanya ke kasir, sementara Harry memberikan Blaise satu tatapan lagi. Tersenyum cerah, ia berjalan menuju kasir dan membayarnya. Ketika ia menerima bungkusan berisi jubah sekolahnya, ia berbalik dan berjalan menuju Blaise dan berbisik di telinganya.

"Itu adalah salah satu puzzel yang harus kau pecahkan."

Harry menarik kembali tubuhnya dan tersenyum kecil, puas melihat kilat penasaran dan determinasi muncul di mata itu. Ia berbalik dan berjalan menuju Kim. Mereka berdua keluar dari toko tanpa melihat ke belakang lagi. Baru ketika mereka sampai di Flourish and Blotts, Kim angkat bicara.

"Made friends, huh?"

Harry hanya terkekeh, mengambil satu buku hukum dan satu buku tentang warding, dan membawa semua buku yang telah ia beli ke kasir. "Yes, interesting friends."

Mereka akhirnya keluar. Bungkusan dari Madam Malkin sudah mereka kecilkan dan di taruh di tas punggung Harry yang berisi buku-buku dari vaults Slytherin, dan dua bungkus berisi buku di bawa oleh Kim. Mereka akhirnya bertemu dengan Makarov dan Vane di depan toko Ollivander, dan ayah serta anaknya memasuki toko tua itu sementara Kim dan Vane berjaga di luar.

Isi toko tersebut terdiri dari bagian depan; yang hanya berisi satu meja kerja, dua kursi tunggu. Sisanya adalah rak-rak yang berisi kotak-kotak pipih, yang pastinya di dalamnya berisi tongkat sihir.

Selama latihan ini, Harry selalu memakai wandless magic dan terkadang sebuah tongkat sihir cadangan yang dipunyai oleh Kim, Vane, atau Al. Dan karena ia harus mempunyai tongkat sendiri, ia membelinya.

"Selamat sore," terdengar suara lembut. Harry langsung berbalik, tangannya siaga menyentuh dagger di balik jubahnya. Tapi yang muncul adalah seorang laki-laki tua. Matanya lebar dan pucat, dan berbahaya.

Orang ini membawa aura yang aneh…

"Selamat sore," balas Makarov mengangguk. Harry juga mengangguk, tersenyum kecil.

"Ah, ya," Mr. Ollivander berkata. "Ya, ya. Sudah kuduga aku akan segera bertemu denganmu, Harry Potter. Matamu mirip dengan ibumu. Rasanya baru kemarin ia ke sini, membeli tongkat pertamanya. Dua puluh lima setengah senti, mendesir jiga digerakkan, terbuat dari dahan dedalu. Tongkat yang bagus untuk menyihir, dan ibumu sangan brilliant dalam Mantra."

Harry menatap laki-laki itu, Mr. Ollivander, dengan seksama. Kalau tebakannya benar, berarti orang tersebut mengingat setiap tongkat yang di jual, dan kepada siapa. Dengan ingatan se-detail itu…

"Ayahmu, sebaliknya, lebih suka tongkat mahogany. Dua puluh tujuh setengah senti. Lentur. Sakti, cocok untuk transfigurasi. Dan ayahmu memang pintar di sana. Yah, sebetulnya tongkat sihirlah yang memilih penyihirnya."

Ya… tebakan Harry benar. Orang ini mengetahui, hafal tiap tongkat yang di jual dan untuk siapa.

"Hmm," Ollivander mundur, dan berdiri tegak. "Nah, Mr. Potter, coba kita lihat. Tangan mana tangan pemegang tongkatmu?"

"Kanan… dan kiri sebenarnya. Tapi lebih lancar dan terbiasa kanan."

"Humm," Ollivander bergumam, mulai mengukur. "Langka sebenarnya mempunyai tangan pemegang tongkat dua… tapi itu berarti anda, Mr. Potter, bisa menggunakan keduanya dengan baik dan sihir anda butuh disalurkan melalui dua tempat… but it's only a wild guest."

Selesai mengukur, Ollivander kembali ke belakang sementara Harry menatap ayahnya, satu alisnya terangkat, bertanya dalam diam. Ayahnya hanya tersenyum takjub dan menggelengkan kepalanya; sebanyak apapun misi yang pernah ia tempuh, ia baru pertama kali bertemu dengan orang seperti Ollivander.

Pria tua tersebut kembali dari belakang, dengan beberapa kotak melayang di depannya. Ia menaruhnya di atas meja, membukanya, dan memberikan tongkat sihir kepada Harry.

"Give it a wave!"

Harry mengayunkan, tapi lansung dihentikan oleh Ollivander.

"Bukan, bukan yang itu. Coba lagi!"

Harry kembali mencoba… dan sayang sekali bunga tersebut kehilangan vas-nya.

"Bukan lagi. Coba ini, Mr. Potter. Beechwood dan nadi jantung naga. Dua puluh dua setengah senti. Bagus dan fleksibel."

Harry kembali mencoba… dan tumpukan tongkat sihir muncul di atas meja. Akhirnya, Ollivander kembali masuk dan mengambil satu kotak.

Tongkat tersebut berwarna hitam, sedikit cokelat. Pegangannya terbuat dari kayu yang indah, dan tongkat itu sendiri licin.

"Kayu Holly, dua puluh tujuh setengah inci. Inti, sehelai rambut Thersal dan di siram dengan Holly Water, kombinasi yang sangat langka."

Harry meraih tongkat tersebut, dan rasa hangat menjalarinya. Ia mengayunkan tongkat tersebut, dan percikan cahaya keluar dari ujungnya. Tersenyum, ia menatap Ollivander yang membeku sedikit.

"Kayu Holly, Mr. Potter, merupakan simbol light. Thersal, sebagai hewan dark, pertanda kematian bagi para penyihir. Berbahaya. Sedangkan Holly Water, di gunakan oleh para hunter untuk mendeteksi musuh mereka. Seorang Angel of Death yang waspada…"

Suara Ollivander menghilang, tapi kemudian tiba-tiba ia menepuk kedua tangannya.

"Ah! Sepertinya tongkat itu sudah memilih pemilihnya, eh?"

Harry hanya mengangguk sopan, tapi pikirannya masih berkelana menuju tongkat sihirnya… dan ia tidak menyadari ayahnya berterima kasih, membayar tongkatnya, dan menggiringnya keluar. Ia tidak menyadari kapan Kim dan Vane membeli seekor burung hantu seputih salju untuknya. Tapi, ia menyadari ada sepasang mata yang memperhatikannya, dan ia berbalik. Ia melihatnya.

Mata mereka berdua terkunci, dan keduanya tersenyum.

Blaise Zabini.

Berbalik, Harry mengikuti ayahnya, keluarganya, keluar dari Diagon Alley.

Oh, betapa ia menantikan tanggal 1 September nanti.

TBC


Chapter ini didedikasikan untuk clarissaaw, sama tiarautm alias Tiara yang udah jadi temen nyontek gua, hahahaha, thanks yo! Ini gua dedikasikan #ceileh, bahasanya! karena UTS akhirnya berakhir, hahaha!

Kepanjangan -_-

Oh oh! Buat tongkatnya, karena Harry pastinya sudah berubah dari kepribadiannya di buku, jadi ku ganti! Hohohohoho. Sedikit crossover dengan Supernatural, tapi minor kawan! Oh iya, nanti nih palingan setelah update chapter 4, bakalan ada link di profile-ku buat rincian nama-nama OMC dan deskripsinya, juga tentang keluarga Capiano dan aliansi mereka. Karena kayaknya kalau dijelaskan di sini kepanjangan -_-

Buat chapter depan AKHIRNYA ke Hogwarts juga! Uyeeee hahahaha.

Oke, REVIEW!