Mata mereka berdua terkunci, dan keduanya tersenyum.

Blaise Zabini.

Berbalik, Harry mengikuti ayahnya, keluarganya, keluar dari Diagon Alley.

Oh, betapa ia menantikan tanggal 1 September nanti.


Moonlight Shadow

Disclaimer: Harry Potter belongs to J.K Rowling.

Summary: Ditinggal di sebuah gang gelap pada umur empat tahun, Harry Potter ditemukan oleh Pemimpin tertinggi Mafia di Eropa dan diadopsi sebagai satu-satunya pewaris. Dibesarkan dengan cara yang tidak diprediksikan oleh Albus Dumbledore, Harry kembali ke Dunia Sihir untuk memulai petualangannya di Hogwarts, dan ia tidak akan membiarkan seorang kepala sekolah mengatur hidupnya.

Eventually Blaise/Harry, tapi sepertinya untuk pair itu masih sangaaat lama ._.v untuk pair lain masih belum diputuskan, mari kita lihat sesuai jalan cerita :D

A/N: Manipulative!Dumbledore, sedikit bashing!Ron. Eventually SLASH, AU, OC, OOC, kalau tak suka Dumbledore yang tidak se-'putih' di buku silahkan tekan tombol 'back', dan sebagainya. Terinspirasi dari fict Blood Prince dan sequel-sequelnya oleh ShadeDancer. Berminat untuk membaca? Lihat di list fave-storiesku :D

Sayang banget di cerita itu, Fem!Blaise, tapi di sini Blaise-nya cowok kok kan fict Slash :p Yaaah, karena fict Blaise dikiiit banget di HPE apalagi di HPI dan saya tidak berminat baca fict dengan bahasa selain dua bahasa itu, saya berkesperimen dengan pair iniii, semoga suka!

Enjoy!


Chapter 4 – Leaving

.

1st of September 1991

The Capiano Mansion

Prang!

"Harry!"

Terdengar suara barang terjatuh dan suara tawa dari para penjaga yang berada di koridor, melihat sang pewaris nama Capiano berlari sepanjang koridor ke ruang makan.

Tapi sang pewaris itu hanya menengok ke belakang pundaknya dan berteriak, "Maaf, Alice!"

Alice, salah satu anggota Moon alias 'penjaga', tersenyum kecil. Oh, ia memang sudah mencurigai kalau Harry Capiano adalah Harry Potter, mengingat ia sendiri adalah seorang penyihir walau ia adalah lulusan Russian University of Magic tiga tahun lalu dan mulai bekerja sebagai guards di Klan Capiano tiga bulan setelahnya. Ia tahu, hari ini adalah hari di mana Harry akan mulai bersekolah di Hogwarts, walau sebenarnya Makarov memberitahu mereka kalau Harry akan bersekolah boarding di Prancis, bersama dengan keluarga Darcy yang memang sudah 'kerabat' mereka sejak jaman dulu.

Harry memang sedang berlari sepanjang koridor, mengingat sekarang sudah pukul sembilan, dua jam sebelum kereta Hogwarts akan berangkat. Ia baru bangun, karena semalam ia bersenang-senang dengan Dean dan Sam dan Al dan Nicole, yang memang tipe-tipe yang senang bermain. Dan akhirnya ia telat bangun. Dan sekarang ia sedang terburu-buru ke ruang sarapan.

"Pagi dad, Al!"

Dua kepala mendongkak dari balik koran di tangan mereka, masing-masing menawarkan Harry senyuman yang di balas dengan sama cerianya. Bocah berumur sebelas tahun itu duduk di sebelah ayahnya dan meraih English Breakfast, meminum tehnya cepat.

"Ada yang kesiangan, eh?"

Bisa ia rasakan wajahnya menghangat, tapi sebisa mungkin ia mengabaikannya dan meraih rotinya. "Dan siapakah yang mengajak begadang semalaman menonton dan bermain, eh?"

Kali ini gantian Al yang mengerut sedikit karena tatapan yang diberikan sahabatnya kepadanya.

"Bukankah sudah kubilang agar tidak membuat Harry tidur malam eh, Al?"

Brunette itu hanya mengangkat bahu tak peduli.

Menghabiskan sarapannya cepat, Harry melirik jam lalu segera melompat.

"Ayolah, dad, Al, sudah telat. Ayo ayo!"

Menggeleng kepala melihat tingkah anaknya, Makarov beranjak dari kursinya dan mengikuti anaknya, berjalan keluar ruangan. Al, tertawa mengikuti mereka dengan segelas kopi di tangannya. Ia memang berencana untuk ikut dengan mereka. Lagi pula, sudah lima belas tahun berlalu sejak seseorang melihatnya. Setidaknya tidak ada orang yang mengenalinya.

"Dad!"

Kedua orang dewasa itu terkekeh mendengar suara Harry. Anak itu terkadang bisa bertingkah kekanak-kanakan, hanya ketika ia sedang benar-benar bersemangat dan berada dengan orang yang ia kenal baik. Tapi, ketika ia berada di luar, 'topeng'nya kembali terpasang.

Harry berdiri di garasi, melihat kopernya di masukan ke dalam salah satu mobil hitam yang berada di sana. Garasi mansion keluarga Capiano memang besar, belum lagi Al diam-diam membesarkannya dengan sihir sehingga muat dengan empat mobil hitam berbeda merek, yang tentunya di pakai untuk berbagai keperluan menyamar, beberapa buah motor milik anggota Capiano yang tinggal di mansion itu, sebuah ruangan berisi plat-plat palsu tapi tercatat pemerintah dengan nama yang berbeda –kalau-kalau mereka butuh menyamar dengan nama yang berbeda dan plat mobil yang berbeda… bisnis mafia itu tidak simple, right? Dan beberapa transportasi lainnya.

Suara pintu terbuka membuat Harry langsung menoleh. Ia melihat Kim dan Nicole; keduanya sedang tidak ada misi. Vane sedang pergi ke Swiss, sebuah misi mengenai keberadaan bandar narkoba yang tidak terdaftar di data Capiano –mengingat keluarga tersebut adalah penguasa di Eropa, jadi Makarov mempunyai data lengkap dan mengatur serta mengetuai setiap kegiatan yang berada di dunia belakang. Dengan bantuan keluarga William, salah satu keluarga Mafia dan Penyihir yang bekerja sama dengan dengan keluarga Capiano.

Dari setiap negara di Eropa yang jelas-jelas mempunyai basis mafia, mempunyai 'ketua' masing-masing. Seperti di Swiss; keluarga William, lalu di Bulgaria; keluarga Nadine. Tapi, semua keluarga itu 'menjawab' kepada keluarga Capiano, kepala mafia di Inggris Raya dan di Eropa. Hanya Russia yang mempunyai 'kerajaan' tersendiri, keluarga Vongola.

"Someone's gonna leave us~" suara Kim terdengar, disusul oleh suara tawa Nicole. Harry cemberut kepada mereka berdua, tapi ujung-ujungnya tersenyum juga.

"Benar-benar hanya kalian berdua, eh?"

Kim mengangguk, tersenyum sedih. "Dean dan Sam harus segera kembali ke Amerika, Bobby memanggil mereka. Vane baru mendapat misi, dan Angel, yaah, kau tahu ia masih berada dalam misi undercover yang kemarin."

Harry mengangguk. Walau ia masih kecil –dibandingkan dengan ayahnya dan para staff-nya, tentu- Harry mengetahui jenis misi apa saja yang didapat oleh Kim dan yang lain. Anggota Shadow tinggi seperti Kim dan Vane, rata-rata mendapat misi tinggat B sampai A, bahkan S kalau bersama partner. Kalau anggota khusus seperti Angel dan Nicole, misi tingkat A yang membutuhkan spy. Untuk assassins dan penelitian dan sebagainya, cukup anggota Shadow biasa.

Sedangkan anggota Moon seperti Alice dan partnernya Felix, mendapat tugas guarding di kantor-kantor, atau misi undercover yang berarea di bidang politik dan militer, Maka dari itu anggota Moon dilatih sebagai seorang yang bekerja di daerah politik, dan hubungan antar keluarga di dunia. Maka ketika anggota Shadow bekerja di lapangan, Moon bekerja di balik meja.

Harry sendiri mulai dilatih seperti anggota Moon sejak berumur sepuluh tahun; tahun lalu. Untuk pergi ke Hogwarts saja ia membawa beberapa buku mengenai politik, yang harus ia kuasai mengingat ia akan mengambil alih perusahaan ayahnya suatu saat, dan perusahaan keluarga Potter juga. Sedangkan untuk latihan menjadi anggota Shadow, Harry baru akan menerimanya ketika ia berumur tiga belas atau empat belas, mengingat porsi latihan yang berat membuat tubuhnya terkadang tidak kuat. Sekarang, ia hanya menerima latihan standar para guards.

Sedangkan untuk pendidikannya di bidang sihir… Harry takjub mengetahui banyak sekali ilmu yang bisa ia dapat. Tiga tahun belajar intensif dengan Al baru membuatnya belajar teori sampai tingkat enam, dan praktek sampai tingkat empat. Karena setiap hari, waktu belajarnya diikuti dengan pelajaran muggle; untungnya Harry sudah sampai kelas senior di High School. Kata prodigy memang bisa ia sandang, tapi Harry sendiri tidak mengakui kalau dirinya se-jenius itu. Masih banyak kekurangan yang ia punya, dan ia tahu ia harus belajar lagi.

"Ini, Harry,"

Harry tersadar dari pikirannya dan menerima sebuah kotak berwarna hitam mengkilat dari Nicole. Wanita itu memang misterius, sekian tahun mengenalnya tidak membuat Harry langsung mengetahui apa yang ada di balik mata biru cerah itu. Malah semakin ia gali semakin banyak misteri di baliknya. Bergumam 'Thanks', Harry membuka kotak tersebut yang rupanya berisi sebuah kalung dengan bandul bergambarkan lambang keluarga Capiano, burung elang berwarna hitam dan panther, membentuk lingkaran. Elang untuk ketelitian dan kecerdasan, panther untuk kekuatan dan kecepatan.

"Thanks!"

Kim dan Nicole tersenyum, sementara Harry mengecilkan kotak itu dengan wandless dan menaruhnya di kantong jeans hitam-nya, sementara ia memakai kalung tersebut dan menyembunyikannya di balik button up t-shirt-nya yang berwarna abu. Seorang anggota Moon, partner Alice, pemuda bernama Felix memberikannya sangkar Hedwig, nama burung hantu seputih salju miliknya.

"Thanks Felix!"

Pemuda stoic itu hanya mengangguk. Felix memang dikenal sebagai seorang half-vampire, tidak membutuhkan darah sebagai makanan utamanya –walau masih minum sedikit-sedikit- tetapi mempunyai beberapa karakteristik vampire seperti kecepatan dan sebagainya. Entah mengapa, sejak ditemukan oleh Al di tengah hutan di Afrika ketika sang pemuda itu diserang vampire, Felix dekat dengan Alice dan selalu 'nempel' dengan gadis itu sehingga Al memasangkan mereka berdua.

"Ayo, kiddo! Tadi kau yang menyuruh kami cepat-cepat, sekarang kau sendiri yang lama, eh?"

Tertawa, Harry berbalik dan berseru kepada ayahnya, "Sabar lah, dad! Kau sebagai orang dewasa yang seharusnya sabar!"

Terkekeh, Harry kembali berbalik dan menatap Kim, lalu memeluknya. Ketika pertama kali ditemukan oleh Makarov tujuh tahun yang lalu, Harry benar-benar menolak kontak manusia selama lebih dari setahun, terkecuali ia sendiri yang berinisiatif. Hal itu membuat Makarov benar-benar murka dan hampir menghabisi keluarga Dursley andai Al tidak menahannya, walau penyihir itu juga sama murkanya. Tetapi akhirnya, perlahan-lahan Harry mempercayai orang-orang di sekitarnya dan mulai menerima kontak manusia.

Kim, yang teringat kepada perilaku 'adik'-nya pada awal-awal mereka bertemu, bersyukur mengetahui dirinya adalah salah satu dari orang yang tidak akan diserang oleh Harry ketika ia menyelinap saat Harry tidur –karena Harry pernah menyerang penyusup yang masuk saat ia tidur, sebuah pengalaman yang tidak menyenangkan karena anak itu begitu tajam pendengarannya.

"Bye, Kim!"

Kim tertawa dan mengacak rambut Harry. "Bye to you too, kiddo. Jangan lupa menulis surat!"

"Oke!"

Harry berbalik ke arah Nicole dan memeluk wanita itu, membuat Nicole terkejut. Harry tidak pernah, sebelumnya, berinisiatif memeluknya. Wanita itu tersenyum kecil dan membalas memeluk.

"Bye!"

Dengan itu, Harry melompat ke mobil, duduk di sebelah Makarov yang mengacak rambutnya sambil tertawa. Dengan lambaian terakhir, mobil hitam jaguar itu melaju keluar dari garasi, menuju jalan utama rumah dan menghilang dari pandangan.

"Semoga Harry baik-baik saja, ya."

Kim berbalik untuk melihat Felix bersandar di dinding, kedua tangannya terlipat. Tapi yang bersuara bukan half-vampire itu, melainkan parnernya, Alice.

"Apa maksudmu, Alice?"

Tapi gadis itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak apa-apa. Hanya sebuah firasat."

Kim mengerutnya dahinya, berfikir. "Bukan sebuah firasat yang buruk, kan?"

Tapi gadis itu hanya terdiam selama beberapa saat, kepalanya menatap langit Inggris yang sedang cerah dengan mata menerawang. Sekilas, kedua mata itu berkilat menjadi warna emas, lalu kembali lagi ke warna semula, cokelat muda.

Menunduk, ia menatap Kim lurus. "Semoga saja, Kim."

Menghela nafas, Kim hanya menggeleng kepala dan berharap semoga adiknya tidak mencari masalah di sekolah barunya. Tapi mengingat kepala sekolah mereka, Albus Dumbledore yang seperti itu…

Semoga saja tahun ini Harry tidak mencari masalah.

.

.


1st of September, 1991

The King Cross Station

10.40 a.m.

"Berapa banyak senjata yang kau bawa?"

"Dad~"

"Jawab saja, Harry James."

Menghela nafas mengetahui bahw ia tidak bisa kabur dari ayahnya mengenai hal ini, Harry akhirnya menjawab. "Empat daggers di kaki, twin daggers Slytherin di lengan, tongkat sihir cadangan di balik sepatu boot, tongkat sihir di holster di pergelangan tangan kanan, pisau lipat di bawah sepatu boot, apa harus ku masukan satu pedang di koper, dad?"

Di belakangnya, Al tertawa.

Mendelik kepada pamannya itu, Harry menghela nafas dan menatap ayahnya yang tersenyum sedih ke arahnya.

"Bertanya juga tak salah kan, son?" jawab sang ketua Mafia itu.

Harry hanya mengangguk sedih. Sebenarnya… ia tidak ingin meninggalkan dunia yang ia kenal, walau dunia tersebut dunia gelap, dunia belakang. The dark and ugly side of the world. Tapi tetap saja, ia sudah kenal dengan dunia itu. Dan sekarang ia harus masuk dunia lain yang, walau sudah ia pelajari dari buku, belum ia ketahui sama sekali lewat pengalaman. Jujur, ia sendiri takut karena ia, kali ini, sendiri.

Tapi sepertinya Al datang dengan sebuah solusi.

"Ini, Harry, tolong kasih kepada sepupuku," Al menyodorkan sebuah surat, bertuliskan nama 'Daphne Greengrass'. "Aku tahu kemungkinan kau masuk Slytherin, dan saudaraku masuk Hogwarts juga tahun ini. Kasih ini kepadanya kalau kau berteman denganya, dan ketika ia sudah selesai membacanya, suruh ia untuk membakarnya."

Harry mengangguk dan menerima surat itu. Ia tahu bahwa sulit bagi pamannya untuk masuk kembali ke dalam dunia yang sudah ia tinggalkan selama lima belas tahun. Tapi sekarang, Harry memasuki dunia itu, dunia yang sama sekali tidak ia ketahui, dan tidak mengetahui mana yang kawan mana yang lawan. Ia harus hati-hati mengenai identitasnya di dunia muggle.

Orang yang ia kenal hanya Draco Malfoy dan Blaise Zabini. Dan Blaise Zabini mengetahui identitasnya sebagai anak dari Makarov Capiano, sekaligus satu-satunya pewaris grup Capiano Ink.

Ngomong-ngomong mengenai Italia itu…

Harry mengedarkan pandangannya ke seluruh stasiun peron 9 ¾ itu, untuk mencari sosok yang entah mengapa sudah familier baginya. Dan ketika ia tidak menemukan siapa-siapa, ia menghela nafas dan berbalik menghadap paman dan ayahnya… yang menatapnya penasaran dan ada kilat jahil di mata mereka.

Uh-oh…

"Cari siapa eh, kiddo?" goda pamannya, menotol-notol lengannya.

"Bukan siapa-siapa!" sanggah Harry, menghindari serangan jari pamannya dan menggeleng.

Tapi seharunya Harry tahu lebih baik kalau pamannya tidak akan melepaskannya begitu saja. "Apa itu pemuda pirang, siapa namanya, anak Lucius itu? Ah, Draco Malfoy? Atauu, anak Italia itu, yang kau temui empat tahun yang lalu, siapa namanya? Blaise Zabini?"

"Keluarga Zabini? Yang mempunyai pabrik wine terbesar dan paling terkenal itu?" Makarov akhirnya masuk ke dalam percakapan menyeringai. "Mungkin aku bisa bercakapa-cakap dengan kedua orangtuanya…"

Wajah Harry memerah. "Dad! Aku terlalu muda untuk acara-acara seperti itu!"

Makarov hanya menggelengkan kepalanya dan mengacak rambut Harry.

"Ayo, kiddo, kau tak cari kompartemen, eh?"

Harry menggeleng lalu menarik kopernya, dan menaikinya dibantu oleh Al. Tapi sayangnya, ketika ia sedang berjalan di koridor sambil menengok ke kiri dan kanan, ia tidak melihat seseorang datang dari depan.

"Auch!"

Ia hampir saja terjengkal ke belakang kalau tidak dua pasang tangan menangkap lengannya.

"Eits, hati-hati-"

"-kalau kau berjalan-"

"-anak kelas satu yang mungil-"

"-dan pendek!"

Mendengar kata pendek, Harry langsung mendelik. Ia berdiri tegak dan menatap kedua orang yang menyelamatkannya itu. Dua anak kembar, sekitar kelas tiga. Dengan rambut merah dan wajah identik.

"Well well, lihat siapa Gred-"

"-seorang Harry Potter Forge-"

"-dan ia terjungkal!" mereka berkata bersamaan di akhir kalimat, dan menyeringai bersamaa.

Harry men death glare mereka, berusaha mempertahankan topengnya. Tapi tidaaaak, ia tidak bisa mengontrol emosi wajahnya sekarang –hei, kenapa harus terlepas sekarang? Bagaimana mereka bisa tahu ia Harry Potter?

'Ah iya,' gumam Harry, tangannya otomatis naik ke bekas luka berbentuk sambaran kilat di dahinya. Menghela nafas mengetahui luka itu terlihat ketika ia jatuh, Harry menutupinya dengan rambutnya.

"And prey, tell me, who are you two?"

Mereka berdua saling bertatap dan menaikan bahu mereka bersamaan, lalu berkata bersamaan, "Fred dan George Weasley, at your service, ma'am!"

Harry kembali men death glare mereka ketika mendengar kata ma'am. Memang sih, dengan fiturnya yang seperti ini ia seperti seorang Dark Elf, tapi bukan berarti ia terlihat seperti cewek.

"Selow selow, Harry-"

"-kami hanya bercanda-"

"-kau bisa turunkan death glare-"

"-yang seperti Snape itu!"

Terkekeh karena ia tahu siapa Snape yang mereka bicarakan, Harry hanya menggelengkan kepalanya. Lalu ia tersenyum kecil dan membungkuk sampai pinggang, "Harry Potter at your service, misters!"

"We like you!" Fred dan George berkata bersamaan, membuat Harry yang awalnya bingung menjadi tersenyum kecil.

"Well, begitulah. Kalau begitu, permisi-" dan dengan itu Harry berjalan menelusuri koridor, tidak melihat si kembar Weasley yang berbisik pelan dan menyeringai.

Akhirnya Harry menemukan satu kompartemen kosong, dan menaiki kopernya dengan wandless. Ia sedikit pintar dengan cabang sihir yang satu itu, karena sihirnya mengalir dari inti di dalamnya ke seluruh tubuh. Dan kalau ia memusatkannya di tangan, ia bisa tidak menggunakan tongkatnya. Tongkat yang ia punya hanya sebagai pemusat, membuat sihirnya ke satu titik dan memusatkannya ke titik itu. Sementara dengan wandless, membuat sihirnya menyebar luas dan merata.

Tersenyum, Harry menaruh sangkar Hedwig di satu kursi dan keluar lagi. Ia turun dan kembali menyapa ayah dan pamannya untuk berbincang, lalu memperhatikan sekitar hanya untuk melihat Draco Malfoy dengan kedua orang tuanya.

"Apa itu mereka?"

Al berbalik untuk melihat sosok Lucius Malfoy dan Narcissa Malfoy nee Black, dua orang yang ia kenal baik dulu ketika masih di Hogwarts, karena mereka bertiga satu asrama. Al mengangguk kaku dan kembali melihat kepada Harry.

"Ingat Harry, aku tahu kau sanggup menghadapi para ular karena kau adalah ular sendiri-"

"Hei!"

"-tapi aku tidak bisa tidak mengucapkan hati-hati. Dan jangan masuk perangkap siapapun, terutama Dumbledore, mengerti?"

Harry mengangguk.

Makarov menatap anaknya lekat-lekat. Ini pertama kalinya mereka berpisah lama, walau Christmas dan Tahun Baru nanti ia akan kembali ke mansion. Tapi tetap saja… apalagi 31 Oktober nanti Harry akan sendiri. Bukan rahasia lagi kalau setiap malam Halloween, atau Samhain di dunia sihir, Harry mengalami nasib paling sial sepanjang tahun. Entah itu terluka, diculik, dan sebagainya.

"Take care, son."

Harry mengangguk, dan maju untuk memeluk ayahnya. Makarov, tersenyum kecil, menyambut anaknya. Setelah beberapa saat, mereka berpisah dan Makarov memberikan sebuah kotak kepada anaknya.

Harry menaikan alisnya.

"Hadiahmu," jawab sang Italia itu simpel.

Harry membukanya, tersenyum takjub, lalu menutupnya kembali dan memegangnya erat. "Thanks dad!"

Suara siulan kereta api terdengar, dan Harry sekali lagi memeluk ayahnya dan Al, lalu berjalan tenang menuju pintu masuk. Topengnya terpasang kembali, wajahnya tenang tanpa menunjukan emosi sama sekali. Matanya menatap sekeliling dengan wajar, seolah-olah hanya melihat sambil lalu tapi Harry menggunakan ingatan fotografisnya untuk mengingat semuanya, semua wajah yang ia lihat.

Ia kembali ke kompartemennya dan meraih satu buku strategi. Desember nanti, Al akan mengetes dalam bidang strategi dan ekonomi dasar, jadi Harry bersiap dari sekarang.

Ia bisa merasakan kereta berjalan, tapi ia mengabaikannya dan tetap membaca, sampai sebuah ketukan di pintu kompartemen menghentikannya.

Ia mendongkak dari buku yang ia baca dan matanya langsung mengunci kepada sepasang mata yang ia kenal…

"Zabini?"

Italia itu hanya mengangguk. Menghela nafas, Harry menutup bukunya dan berjalan, membuka pintu.

"Ya?"

Tapi Blaise Zabini tidak masuk, ia hanya berdiri di luar.

"Hei."

Suaranya yang dalam, entah mengapa selalu membuat Harry tersenyum dan melepas topengnya; walau efeknya sama seperti si Kembar, entah mengapa yang ini… beda.

"Hei, wanna come in?"

Tapi Italia itu hanya menggeleng.

"Aku satu kompartemen dengan Draco Malfoy, di Slytherin. Dan ia sudah mengetahui kau ada di sini. Jadi bersiap saja."

Walau kata-katanya datar, Harry tahu maksudnya. Draco Malfoy ingin berteman denganya, menawarkan persahabatan. Atau mungkin aliansi.

"Menurutmu?"

Blaise hanya menyeringai kecil. "Your decision."

Harry menaikan alisnya. "And yourself?"

"Do you think I'll accept?"

Harry tertawa mendengarnya. "Yah, mungkin tidak. Hanya itu?"

Anggukan.

"Thanks, by the way. See you at school."

Blaise berjalan pergi dan Harry menutup pintu. Ia tersenyum. Ah, mungkin karena Blaise tidak menerima Malfoy sebagai teman, ia juga tidak? Walau ia ingin menyelamatkan anak itu dari pengaruh ayahnya, tapi bukan berarti ia ingin berada di sampingnya terus, hm? Lagi pula, terlalu cepat untuk menilai. Ia ingin melihat dulu anak-anak asramanya, dan memutuskan mana yang bisa dijadikan teman, atau hanya sebagai seseorang yang dikenal, dan mana yang musuh.

Menghela nafas, ia kembali duduk. Tapi ia tidak membaca kembali bukunya, tapi membuka kotak yang diberikan ayahnya.

Isinya adalah sebuah pistol isi empt peluru dengan pegangan dan berat yang pas untuk anak seusianya, dan bisa menembus perisai sihir. Benda terbaru buatan lab keluarga Capiano, dengan seorang ilmuwan lulusan American Magic University.

"Thanks dad," gumamnya, dan menaruh kembali pistol tersebut di tempatnya, dan ia sembunyikan di dalam kompartemen. Baru saja ia akan membaca lagi, sebuah ketukan terdengar.

Menghela nafas kesal, ia mendongkak dan kemudian melihat seseorang berambut merah yang sama dengan si Kembar Weasley berdiri di sana. Ia terlihat seumuran dengan Harry, dan ia tahu kalau ini adalah anak laki-laki keluarga Weasley yang baru masuk Hogwarts tahun ini, yang tadi ia lihat dengan segerombolan keluarga berambut merah juga.

"Ada yang duduk di sini?" anak itu bertanya sambil menunjuk tempat duduk di seberang Harry yang kosong. "Tempat yang lain sudah penuh."

Harry, walau menatap anak itu dengan tampang datar, dalam hati curiga. Mengapa ia bilang tempat lain sudah penuh? Harry memilih kompartemen belakang, ia tahu masih banyak tempat kosong lain. Apa si kembar memberitahu namanya kepadanya? 'Ah, kalau begitu salah satu orang yang ingin mencari ketenaran,' batin Harry, tapi toh ia membiarkan anak itu masuk. Sekali-sekali bermain tidak apa-apa, ya kan?

Tapi sebelum mereka bisa berbicara, dua orang muncul di depan pintu, kedua kepala identik menoleh masuk.

"Hei, Ron-"

"-kau sudah menemukan-"

"-orang yang kau cari-cari-"

"-yang kau ributkan sejak tadi, eh?"

'Ternyata benar mereka yang memberitahuu namaku,' batin Harry kesal, dan memberikan Fred dan George death glarenya. Tapi mereka sepertinya tidak terpengaruh sedikitpun –walau sebenarnya Harry bisa melihat mata mereka sedikit waspada- dan tetap berbicara.

"Dengar, kami akan pergi ke tengah kereta- Lee Jordan punya tarantula raksasa."

"Baiklah," gumam anak itu, Ron.

"Harry," kata kepala yang di kiri, yang bisa Harry ketahui sebagai George, "kita sudah berkenalan tadi, eh ma'am? Ini adik kami, Ron. Sampai nanti!"

"Dan jangan biarkan ia tenang, Harry!" seru Fred, dan mereka berdua berlalu.

Harry menghela nafas dan menatap Ron sebentar, tapi akhirnya ia kembali mengambil bukunya yang terabaikan di sebelahnya dan kembali membaca.

Baru saja ia membaca beberapa halaman, dan berkutat di halaman 16 karena beberapa kata yang kurang ia mengerti –salah sendiri Al mengirimkan buku dalam bahasa Jerman!- Ron angkat suara.

"Jadi kau benar Harry Potter?" tanyanya menyelutuk.

Harry menghela nafas. Anak ini, benar-benar ya. Tapi ia memilih ikut bermain. Hmm, mungkin nanti ada hal yang menarik, eh?

Jawabannya hanya sebuah anggukan.

"Oh, yah, kukira tadi Fred dan George cuma bercanda," gumam Ron, "dan apakah benar-benar ada… kau tahu, kan…"

Dan parahnya, ia menunjuk dahi Harry.

Menggerutu dalam hati –sumpah, ia benci perhatian seperti ini! Orang yang ingin melihat dirinya sebagai Harry Potter The Boy Who Lived bukan Harry!- tapi toh ia menyibakkan poninya juga, memperlihatkan luka sambaran kilat yang terlihat masih baru.

"Jadi di situlah Kau-Tahu-Siapa…"

'Pertanyaan yang sudah jelas-jelas,' batin Harry sakrastik.

"Ya."

"Apa kau ingat sesuatu? Kau lihat wajahnya-"

Crap, apa ia tidak tahu bahwa ia baru saja membangkitkan ingatan menyakitkan?

"Tidak, yang kuingat hanya cahaya hijau. Itu saja."

Ron menatapnya takjub.

Harry menggerutu dalam hati. Sungguh, apa ia tidak mengerti bahwa mengungkit topik ini hanya akan mengungkit masa lalunya? Sunggu tidak sensitif.

Tapi Harry hanya tersenyum kecil, malu. Seharusnya, sekarang ia berakting sebagai seorang Harry Potter yang tinggal di dunia muggle dan tidak mengerti mengenai dunia sihir. Seorang anak yang pemalu dan baik hati.

Uh, topeng yang… tidak terlalu enak ia pakai.

Tapi setidaknya ia hanya harus memakainya selama perjalanan, karena setelah ini, setelah mereka sampai di Hogwarts dan mengikuti Seleksi, ia akan betindak sesuai asrama yang ia masuki. Ia tidak yakin ia masuk Huflepuff, mengingat ia memang loyal tapi hanya terhadap orang-orang yang benar-benar ia percaya. Tujuh tahun tinggal di Mansion Capiano saja tidak membuatnya langsung percaya dan dekat dengan para anggota yang tinggal di sana. Bahkan, orang yang ia percaya hanya delapan orang, termasuk ayah dan pamannya.

Kalau tentang teman yang ia punya…

Ia hanya kenal anak-anak para 'kepala' keluarga negara-negara di Eropa, dan beberapa aliansi yang dikenal di luar Eropa. Sedangkan yang ia kenal baik hanya Lewis William, pewaris keluarga William, ketua negara Swiss, yang lebih tua dua tahun darinya. Lalu ada lagi Francissa Darcy, adik dari Rosaline Darcy, sahabat Kim. Sejak Kim memperkenalkannya kepada gadis yang lebih tua setahun darinya itu, mereka saling akrab satu sama lain karena Frans berbeda dengan gadis-gadis yang ia kenal dari pertemuan ayahnya. Gadis itu hanya ingin menjadi temannya. Lagi pula, keluarga Darcy sudah sangat dekat dengan keluarga Capiano sehingga tidak perlu lagi adanya pernikahan politik.

Lalu terakhir, Hibari Taichi, anak dari Hibari Kyoya, guards khusus keluarga Vongola. Taichi, yang lebih tua setahun darinya, adalah satu-satunya anak yang bisa menebak dirinya adalah Harry Potter. Dan hal itu bukan masalah, karena Taichi sekarang berada di kelas dua di asrama Ravenclaw. Mereka memang tinggal di Russia dan seharusnya Taichi bersekolah di sana, tapi ayahnya memutuskan Hogwarts lebih aman. Lagi pula, anak yang satu itu penasaran dengan 'rumah' dari Harry.

Ia kemudian baru tersadar… berarti Taichi ada di sini sedari tadi, di kerata yang sama dengannya. Tapi kenapa ia tidak melihat Taichi ataupun Kyoya-san? Mereka berdua kan bukan tipe yang telat…

Mungkin ada masalah di Russia jadi mereka telat? Hmm, mungkin, karena ayahnya berkata sambil lalu kalau ada sedikit kerusuhan di Vongola. Katanya ada pemberontakan dan sebagainya.

'Hanya orang bodoh yang mau memberontak dari keluarga Vongola,' gumam Harry sambil melihat pemandangan di luar. 'Sebagai penguasa paling besar di dunia, dan mempunyai 'cabang' di mana-mana serta aliansi kuat di semua negara.'

"Kudengar kau tinggal dengan muggle," anak di seberangnya, Ron, memulai percakapan dengan suara guggup. Harry hampir memutar bola matanya, tapi ia tahan dan berpura-pura tertarik. "Seperti apa mereka?"

Harry berfikir dulu. Dari sudut mana ia akan menjawab? Hmm, mungkin ia akan menjawab dari penglihatannya tentang keluarga Dursley.

"Mengerikan– yah, tidak semua sih. Tapi paman, bibi, dan sepupuku mengerikan. Coba kalau aku punya tiga kakak laki-laki penyihir." –yah, tidak penyihir semua sih, tapi satu penyihir dan dua hunter. Tapi apa bedanya coba? Hahaha.

"Lima." Kata Ron, dan ia terlihat muram. Harry sepertinya mengerti maksudnya- "Aku anak keenam dalam keluarga kami yang masuk Hogwarts. Bisa dikatakan banyak yang diharapikan dariku. Bill dan Charlie sudah lulus dan meninggalkan Hogwarts– Bill dulu Ketua Murid dan Charlie kapten Quidditch. Sekarang Percy terpilih menjadi Prefek. Fred dan George banyak main-main, tetapi nilai mereka bagus-bagus dan semua orang menganggap mereka kocak. Semua orang mengharapkan aku akan berprestasi sebaik mereka, tetapi kalaupun aku berhasil, ini bukan hal yang istimewa, karena mereka sudah melakukannya lebih dulu. Kau juga tak akan punya barang baru, kalau punya lima kakak. Jubah dan pakaianku bekas Bill, tongkatku bekas Charlie, dan tikusku tikus tua yang dulu milik Percy."

Selama Ron merogoh kantong jubahnya, Harry memikirkan temannya –apa Ron bisa ia bilang teman? Hmm, mungkin belum, tapi lihat sajalah nanti apakah anak berambut merah itu masih tetap ingin berteman dengannya kalau ia masuk Slytherin?- Ron termasuk tipe yang tidak terlalu diperhatikan keluarganya. Oh, bukan berarti ia diabaikan, tidak. Kalau ingatan Harry benar, Ron mempunyai satu-satunya adik perempuan dalam keluarga, yang biasanya lebih dimanja. Dan kalau dilihat dari kakak-kakaknya yang sukses, kedua orangtuanya berharap banyak dari Ron. Tapi dari nada suaranya menceritakan kakak-kakaknya, ia bisa melihat ada rasa cemburu di sana. Hmm, kalau tidak ada yang memperhatikannya, ia akan terus berada di balik bayangan kakaknya. Sama seperti Draco, dalam bayangan ayahnya. Tapi bedanya, Ron menyalurkannya dengan rasa cemburu, Draco tumbuh dengan melihat ayahnya sebagai idolanya; dan ia mendengar dari Al kalau Lucius bukan salah satu orang yang, ah, baik.

Tapi Harry, dari percakapan singkat yang ia alami dengan pewaris nama Malfoy itu, Draco salah satu anak yang bisa di toleransi. Setidaknya, setelah melihat dari balik topeng yang ia pakai.

"Namanya Scrabbers, dan ia tidak berguna sama sekali."

Kalimat yang di ucapkan Ron membuat Harry tersadar dari pikirannya, dan melihat tikus yang tertidur pulas di sebelah Ron. Perlahan, pewaris keluarga Capiano itu memiringkan kepalanya sedikit, dan memicingkan matanya sedikit. Ada yang aneh dari tikus itu… apa hanya firasatnya saja? Mungkin... karena ia terlalu paranoid, dan mengingat Al harus melewati satu tahun lebih dikejar oleh Voldemort dan pada dasarnya Harry belajar dari brunette itu, sudah wajarlah.

"-karena terpilih sebagai Prefek tetapi mereka tidak mam- maksudku, aku jadi dapat Scrabbers."

Telinga Ron memerah, hampir sama dengan warna rambutnya. Walau setengah mendengarkan, Harry mengerti dan ia mengangguk. Sebenarnya tidak ada masalah kalau Ron tidak mampu membeli burung hantu, atau tidak mampu membeli barang baru. Toh banyak orang tidak mampu yang sukses, andai bekerja keras, no?

Entah mengapa, Harry menceritakan pengalamannya di keluarga Dursley –yang sedikit di edit dan ia tambahkan, mana mungkin kan ia membiarkan orang lain tahu kalau ia diperlakukan buruk oleh orang yang dilihat sebagai paman dan bibinya? Lagi pula ia tidak bisa menceritakan kalau ia di adopsi oleh Mafia King di Eropa, bukan?

Mereka mengobrol sedikit, dan Ron mulai berbicara tentang Quidditch. Inilah salah satu hal yang ia suka, walau ia harus hati-hati tidak membiarkan Ron tahu ia tahu banyak mengenai Quidditch –heck, ia bahkan menonton salah satu pertandingan Quidditch di Bulgaria! Tapi tetap saja, bisa berbicara santai dengan seseorang yang seumuran dengan Harry adalah salah satu pengalaman yang menarik, mengingat Lewis, Taichi dan Frans hanya bisa berkunjung pada liburan.

Sekitar setengah satu, terdengan bunyi berkelontang dari lorong. Kaget, Harry bergerak secara insting dan segera melompat dengan tangan kanannya sudah siap mengeluarkan dagger dari lengan kirinya. Untungnya, Ron yang mengetahui bahwa itu hanya troli makan siang, menganggap Harry sudah lapar dan tidak sabar membeli jajanan.

Seorang wanita tua mendorong troli berisi aneka macam makanan, menengok ke dalam kompartemen mereka. "Mau beli sesuatu dari troli, anak-anak?"

Harry, yang tadi hanya sarapan sedikit mengingat ia terlalu bergembira untuk berangkat langsung mengangguk ceria, tapi Ron diam di tempat dengan telinga sedikit memerah. Rupanya ia sudah membawa bekal sandwich.

"Ada apa saja, ma'am?" tanya Harry sopan. Sudah kebiasaan sih, karena ia belajar etique secara ketat dengan Angel.

"Ah, anak yang sangat sopan," kata wanita itu gembira. "Seperti biasa, nak, cokelat kodok, kacang segala rasa Bertie Bott, Permen Karet Tiup, Pastel Labu, Bolu Kuali, dan lainnya."

Harry akhirnya membeli satu pak cokelat kodok –karena menurut Al, cokelat ini enak- dan hanya membeli satu kotak kacang segala rasa, dan lima Pastel Labu, lalu membayarnya. Setelah berterima kasih, Harry kembali ke dalam kompartemen dengan lengan penuh cokelat.

Ron menatapnya kaget.

"Lapar, eh?"

Harry hanya menyeringai.

Akhirnya, mereka berdua saling bercakapan sambil memakan cokelat yang Harry beli, karena Harry berhasil meyakinkan Ron kalau ia tidak akan bisa menghabiskan semua cokelat sendiri.

Harry membuka Cokelat Kodok pertamanya, terlihat tidak yakin.

"Bukan kodok asli, kan?"

Ron tertawa. "Tentu saja bukan, Harry. Di dalamnya biasanya terdapat kartu yang bisa dikoleksi. Coba saja lihat!"

Harry membuka bungkusan berbentuk segi lima itu dengan hati-hati. Yup, cokelatnya tidak melompat seperti kodok, walau bentuknya memang kodok. Ia melempar cokelat itu ke mulutnya, mengunyahnya perlahan. Lalu ia menunduk, melihat kartu di dalamnya.

Albus Dumbledore.

Harry bisa merasakan darahnya mendidih dan tubuhnya sedikit begetar. Ia masih belum melupakan nama itu, nama orang yang menaruhnya di keluarga Dursley melawan isi Surat Wasiat orangtuanya; orang yang menamakan dirinya sendiri sebagai magical guardian Harry padahal ayah dan ibunya meminta kedua sahabatnya yang menjadi magical guardian-

Ngomong-ngomong, di mana Sirius Black dan Remus Lupin?

Sumpah, Harry sesaat terlupa dengan dua nama itu. Mungkin karena ia terlalu marah kepada Dumbledore? Mungkin nanti ia bisa mencari sesuatu di perpustakaan, atau meminta tolong Al dan Felix untuk menyelidikinya –mereka berdua sangat ahli dalam mencari informasi.

Harry kembali teringat tentang kartu yang berada di genggamannya, dan ia melihat foto Albus Dumbledore, seorang pria tua dengan kacamata bulan separuh dan hidung bengkok dan jenggot putih panjang. Mendengus, ia membalik kartunya dan membaca:

Albus Dumbledore saat ini menjabat Kepala Sekolah Hogwarts..

Banyak yang menganggapnya sebagai penyihir terbesar di zaman modern ini. Professor Dumbledore khususnya terkenal karena berhasil mengalahkan penyihir aliran hitam Gindelwald pada tahun 1945, penemuannya untuk dua belas kegunaan darah naga, dan karyanya di bidang alkimia yang dikerjakan bersama mitranya, Nicolas Flames. Profesor Dumbledore menyukai music kamar dan boling.

Mendengus lagi. Oh, sebuah informasi yang benar-benar detail.

Ia kembali membalikan kartunya.

Dumbledore menghilang.

"Dumbledore… menghilang?"

Suaranya sedikit aneh, dan Ron tertawa lagi. "Tentu saja! Kau tidak mengharapkan ia berada di sana terus seharian, bukan?"

Ah iya, Harry lupa kalau foto di dunia sihir bisa bergerak. Malah beberapa bisa berbicara. Padahal baru saja ia berbicara dengan foto Salazar Slytherin di vault-nya.

Harry melihat Ron memperhatikan Cokelat Kodok dengan kepingin, maka bocah itu hanya mengangkat bahunya dan melempar satu cokelat kepada Ron.

"Makan saja, masih banyak kok."

Tersenyum berterima kasih, Ron mulai membuka Cokelat Kodok. Mereka kembali berbicara, sampai terdengar sebuah ketukan dari pintu.

Harry dan Ron mendongkak, melihat seorang anak laki-laki berwajah bundar berdiri di sana, dengan mata sembab seperti habis menangis.

"Ya?"

"Maaf," katanya gugup, "tapi apakah kalian melihat katak?"

Harry menggeleng, begitu juga dengan Ron.

Anak itu terlihat kecewa. "Yah, hilang deh! Kabur terus dariku."

"Ia akan muncul," gumam Harry, walau sedikit tidak yakin.

"Yah, kalau kau melihatnya…"

Dan anak itu pergi.

Harry dan Ron saling bertatapan, lalu Harry menaikan alisnya heran sementara Ron mengangkat bahunya tak peduli.

Baru saja Harry akan berbicara, Ron sudah menyela.

"Aku tidak tahu mengapa ia sesedih itu," kata Ron. "Kalau aku membawa katak, aku akan kehilangan dia secepat mungkin. Tahu tidak, aku membaca Scabbers supaya aku tidak bicara."

Dan tikus yang dibicarakan itu masih tidur di sebelah Ron.

Harry menatap tikus itu. Lagi-lagi, ada perasaan aneh. Menghela nafas frustasi, Harry meraih Pastel Labunya dan mulai mengunyah, membiarkan Ron berbicara.

"Dia bisa saja mati dan kau tidak akan mengetahui perbedaannya. Aku mencoba mengubahnya kemarin mejadi kuning, tapi mantranya tidak bekerja. Akan kutunjukan padamu. Lihat-"

Perubahan warna? Bukannya itu termasuk Transfigurasi tingkat menengah?

Menaikan bahunya tak peduli, Harry memperhatikan Ron mengeluarkan sebuah tongkat sihir lama yang terlihat tak terawat dari sakunya. Melihat tongkat sihir itu, tangan Harry reflek bergerak ke pergelangan tangan kanannya, di mana ia menaruh tongkat sihirnya. Oh, walaupun ia bisa wandless, ia tetap suka, cinta dengan tongkatnya. Dengan perasaan hangat yang mengalir setiap ia memegang tongkatnya, dan dengan siraman Holy Water, ia menghilangkan rasa khawatir berlebihan Sam dan –walau orangnya tidak mengakui- Dean. Dengan pengalaman mereka sekian tahun menjadi hunters, wajar sajalah.

Harry memperhatikan dengan takjub saat Ron baru saja akan mengayunkan, tapi sayangnya terdengar ketukan dari pintu, lagi. Memutar lehernya, Harry melihat sosok anak perempuan yang seumuran dengannya, dengan rambut cokelat keriting yang mengembang. Walau begitu, Harry bisa melihat kalau anak perempuan itu akan tumbuh menjadi gadis cantik, kalau saja rambutnya diluruskan sedikit.

Tapi matanyalah yang membuat Harry tertarik. Mata itu mencerminkan pengetahuan dan keingin tahuan, tapi sayangnya ada rasa bossy di sana. Ooh, ia melihat mata yang sama di dalam diri Nicole, bertahun-tahun yang lalu. Tapi sekarang Nicole bisa mengontrol emosi yang timbul di matanya. Harry tahu anak ini akan menonjol di kelas, dengan kepintaranya.

Anak itu membuka pintu.

"Ya?" tanya Harry, menegakan punggungnya.

"Ada yang lihat katak? Katak Neville hilang," katanya. Suaranya berwibawa, sama seperti suara Kim saat ia menjadi pemimpin penyerangan, atau saat Angel memberikan laporan setelah misi.

"Kami sudah bilang kami tidak-"

"Kami tidak melihat katak milik Neville, miss-"

"Granger, Hermione Granger." Hermione terlihat takjub dengan tata karma Harry, dan bocah itu menyeringai.

"Harry Potter, miss," Harry mengulurkan tangannya, yang disambut dengan Hermione setelah gadis itu lewat dari shock-nya.

"Ah, kehormatan bertemu denganmu, Harry."

"Pleasure is mine, miss Granger."

Tertawa pelan, Hermione mengulurkan tangannya kepada Ron, yang menyambutnya was-was.

"Hermione Granger."

"Ron Weasley."

"Ah, dan kulihat kau akan menyihir, coba lihat."

Ron berdeham.

"Erm, cahaya mentari, mentega, kemuning.

Ubahlah tikus gemuk bodoh ini menjadi kuning."

Tidak berubah apa-apa.

Menggerutu kesal, Ron menotol-notol tikusnya.

"Jangan! Kupikir, yang salah padamu adalah mantranya, memang mantra seperti itu ada? Ah ya, apa kalian sudah tahu masuk asrama mana? Aku sudah membaca semua, dan kupikir lebih enak di Gryffindor, kau tahu, asrama yang sama dengan Albus Dumbledore. Tapi kupikir Ravenclaw juga tidak terlalu buruk… ah, itu Neville, sampai nanti!"

Dan Hermione pergi.

Tersenyum kecil, Harry kembali meraih bukunya, menekadkan untuk menyelesaikan setengahnya, atau paling tidak satu pertiganya sebelum mereka sampai di Hogwarts.

Tapi sayangnya, baru saja ia membaca sekitar dua puluh halaman –dan itu juga ia harus meraih kamus bahasa German miliknya yang ia ringankan dan ia masukan ke dalam kotak tak berdasar di kantong jubahnya, karena banyak sekali kosa kata yang masih tidak ia mengerti- dan Ron memperhatikannya dengan takjub sebelum beralih ke cokelatnya, pintu kompartemen bergeser.

"Apa lagi sih," gerutu Harry, menutup kencang kamus dan menandakan halaman dari bukunya. Ia mendongkak dan kembali menggerutu. Di pintu, terdapat seorang Draco Malfoy dan dua anak laki-laki bertubuh besar di belakangnya, bertingkah sebagai bodyguard.

Merlin…

"Ya?" tanya Harry lagi,kali ini dengan nada bosan.

"Ku dengar dari seluruh gerbong, Harry Potter ada di kompartemen ini. Jadi, rupanya kau ya?" katanya dengan nada sedikit datar, dan dengan wajah datar juga.

Ooh, memakai topeng Malfoy rupanya. Oke, sekarang Harry akan memainkan perannya.

"Yah, begitulah."

"Oh, ini Crabbe, dan ini Goyle. Dan namaku Malfoy, Draco Malfoy."

Sebelum Harry dapat menjawab, Ron terbatuk dan tertawa kecil.

Perhatian Draco teralih ke Ron, dan ia mencibir.

"Kau pikir namaku lucu, eh? Coba kita lihat, rambut merah, bintik-bintik di pipi. Aku tidak perlu menyanyaimu, karena ayahku bilang orang dengan deskripsi itu selalu seorang Weasley."

Tuh kan, ayahnya lagi.

Draco kembali menatap Harry, keduanya saling bertatapan dengan perhitungan di mata.

"Kau akan segera tahu beberapa keluarga penyihir yang jauh lebih baik dari yang lain, Potter. Jangan sampai berteman dengan ornag yang salah. Aku bisa membantumu dalam hal ini."

Dan ia mengulurkan tangannya.

Harry menatapnya sekian lama.

"Aku mungkin menyambut tanganmu, Malfoy, tapi bukan berarti aku langsung menerima kau menjadi yang lebih baik hanya dari kata-katamu. Aku bukan tipe seperti itu, kau tahu, Malfoy. Mari ku lihat seperti apa kau yang sebenarnya, dan mari kulihat semua orang yang sebenarnya, dan aku bisa menentukan sendiri mana orang yang salah, dan yang benar."

Ah, sebuah jawaban yang setidaknya bisa diterima.

Harry menyambut tangan itu, dan menggenggamnya sedikit, lalu melepaskannya. Wajah Draco masih datar, tapi Harry bisa melihat, di balik façade yang ada di matanya, ada sesuatu yang baru dalam mata dan pikiran Draco.

Dan blonde itu menyeringai.

"Well well, pilihan yang bijak, Potter. Sangat, Slytherin. Kalau begitu, sampai jumpa di Hogwarts, eh? Dan Slytherin menerima siapa saja, yang setidaknya cukup layak."

Dan dengan itu ia pergi, diikuti dengan kroni-kroninya.

Harry menutup pintu dan berbalik, memijat dahinya.

"Ada apa sih dengan semua orang, mengetuk pintu dan mengusik waktu istirahat orang lain? Damn it, and I not yet finish that book!" ia berkata sedikit takjub, akhirnya menghempaskan tubuhnya ke tempat duduk dan menaikan kakinya, menyilangkannya, dan duduk dengan nyaman sementara tangannya sudah meraih bukunya.

Ia tidak memperhatikan Ron menatapnya dengan aneh, sampai sekitar tiga halaman kemudian. Ia mendongkak, dan melihat Ron masih menatapnya aneh.

"Apa?"

"Kau-kau dengan Malfoy-"

"Aku hanya menyambut tangannya, membuat kami berkenalan secara resmi. Tapi bukan berarti aku setuju berteman dengannya, bukan? Lagi pula, aku penasaran dengan sosok Draco Malfoy yang sebenarnya."

"Tapi dia Draco Malfoy yang sebenarnya!" seru Ron, tapi Harry hanya menggelengkan kepalanya.

"Ia berada di lingkup ayahnya terlalu dalam, Ron. Ia menilai orang lain sesuai dengan apa yang ayahnya diktekan. Aku hanya ingin mengetaui Draco Malfoy yang sudah terlepas dari ayahnya, mungkin ia akan lebih menyenangkan, eh?"

Mengabaikan gerutuan Ron, Harry kembali menekuni bukunya.

Betul saja, ia sudah mencapai halaman tengah ketika jendela di luar menampakan hari sudah petang. Ia mendongkak dan melihat Ron tertidur. Menyeringai dan menggeleng kepalanya, Harry bergerak diam tanpa suara meraih jubah hitamnya dan atasan seragamnya, sebuah kemeja berwarna putih, dan dasi berwarna hitam polos yang nanti akan berubah sesuai warna asramanya. Ia tetap memakai celana jeansnya, dan dengan hati-hati menutupi daggers-nya dengan lengan kemejanya.

Ia memakai jubahnya, lalu membangunkan Ron. Untungnya, anak lelaki bungsu Weasley itu sudah memakai jubah sekolahnya. Mereka berdua menunggu sampai kereta berheti; keduanya tidak berkata apa-apa. Well, Harry mengerti sih, karena Ron melihatnya berbeda setelah ia berjabat tangan dengan Draco.

Setelah kereta berhenti, mereka keluar perlahan-lahan dan sampai di sebuah stasiun. Stasiun Hogsmade, seingat Harry.

"Kelas satu! Kelas satu sebelah sini!"

Harry mendengar suara lantang, dan berbalik ke arah sumber suara. Seorang setengah raksasa dengan lentera di tangannya, melambai di tengah keramaian. Beberapa anak menyapanya, dan manusia-setengah-raksasa itu menyapanya balik.

Harry berjalan, kali ini sendiri. Ia lihat dari sudut matanya, total terdapat kurang lebih empat puluh anak kelas satu. Dan ia melihatnya, Blaise Zabini, di sudut, blend in dengan bayangan.

Mereka saling bertatapan, dan menyeringai.

Harry dan anak kelas satu lainnya mengikuti Hagrid –nama manusia setengah raksasa itu- ke arah lain, ke sebuah pinggir danau dengan beberapa perahu.

"Satu perahu tidak boleh lebih dari empat orang!"

Harry merasakan ada seseorang yang memegang lengannya pelan. Ia bersiap menyerang, tapi entah mengapa orang itu terasa familier. Oh iya, Blaise.

Tanpa suara, Blaise membawanya ke salah satu perahu, yang di isi dengan dua anak perempuan. Satu berambut hitam panjang diikat satu dengan wajah sedikit angkuh, satu lagi anak yang Harry curigai sebagai Daphne Greengrass karena kemiripannya dengan Al.

"Sedetik lagi kalian akan melihat Hogwarts untuk pertama kalinya," seru Hagrid, "sesudah belokan ini."

Harry mendongkak dan terdiam. Matanya terbuka lebar.

"Waaah,"

Terdengar gumamam kagum. Kastil Hogwarts memang… wah. Harry menutup matanya saat ia merasakan wards Hogwarts membasuhnya, dan membiarkan masuk. Hogwarts tahu, walaupun ia membawa banyak senjata, senjata tersebut untuk mempertahankan diri.

Tapi, ada yang salah dengan wards ini… ada apa?

Sebelum Harry berfikir lebih jauh, perahu berhenti dan ia ditarik sedikit oleh Blaise, dan mereka berdua berjalan beriringan ke dalam kastil. Harry menaiki undakan yang membawa mereka ke dalam, dan mata terlatihnya melihat sekeliling dengan cermat.

Di ujung tangga, di depan pintu raksasa, seorang wanita menunggu mereka.

"Terima kasih Hagrid, biar aku ambil alih sekarang."

Hagrid mengangguk. "Sudah semua, Profesor McGonagall."

Dan Hagrid pergi menuju lorong samping.

Profesor McGonagall menatap mereka, dan Harry langsung merasakan rasa hormat. Wanita itu cerdas, dan cermat. Bukan seseorang yang bisa ditipu dengan gampang.

"Selamat datang di Hogwarts. Pesta awal tahun ajaran baru akan segera dimulai, tetapi sebelum kalian mengambil tempat duduk di Aula Besar, kalian akan diseleksi masuk rumah asrama. Ada empat asrama di sini, Gryffindor, Hufflepuff, Ravenclaw, dan Slytherin. Masing-masing asrama punya sejarah luhur dan masing-masing telah menghasilkan penyihir hebat. Selama kalian di Hogwarts, prestasi dan kemenangan kalian akan menambah angka bagi asrama kalian, sementara pelanggaran perraturan akan membuat angka asrama kalian dikurangi. Asrama dengan nilai terbanyak akan memenangkan Piala Asrama. Kuharap kalian akan membawa kebanggaan bagi asrama manapun yang akan kalian tempati.

"Upacara seleksi akan berlangsung beberapa menit lagi di hadapan seluruh penghuni sekolah. Kusarankan kalian semua merapihkand iri sebisa mungkin selama menunggu."

Harry menghela nafas. Rambutnya, sudah di tata seperti apapun, tidak akan menurut kecuali kalau dipanjangkan. Ia hanya akan menunggu sekarang.

Setelah beberapa menit, Profesor McGonagall kembali dan bersuara seperti mengusir sesuatu. Harry mendongkak dan terbelalak. Hantu! Tapi berbeda dengan hantu yang diburu Dean dan Sam di Amerika, hantu ini berbeda.

"Sekarang, berbaris satu-satu, dan ikuti aku." Suara tegas Profesor McGonagall terdengar.

Harry berbaris di belakang seorang anak laki-laki yang terlihat seperti keturunan Irlandia, dan dibelakangnya Blaise. Berjalan, mereka memasuki pintu besar itu.

Ia langsung terpana melihat kemegahan Aula Besar. Luas, terang, dengan ratusan lilin melayang di udara dan langit-langit yang menampakan langit luar malam Scotlandia yang cerah.

Mereka sampai di ujung, dan Profesor McGonagall mengisyaratkan mereka untuk berhenti. Ia menghilang dan kembali lagi dengan sebuah kursi dan topi tua.

Harry memperhatikan dengan seksama, tidak memperdulikan tangan Blaise yang berada di punggungnya.

Dan robekan di topi itu terbuka, dan mengeluarkan suara, dan bernyanyi.

Inti nyanyian tersebut adalah tentang asrama-asrama di Hogwarts dan deskripsiannya. Harry menyeringai. Hmm, mungkin topi seleksi bisa menempatkannya di asrama yang benar-benar untuknya.

"Yang disebut namanya, harap maju dan memakai topi, lalu duduk di atas bangku untuk diseleksi." Katanya, "Abbot, Hannah!"

Seorang anak perempuan maju dan memakai topi itu.

"HUFFLEPUFF!"

Terdengar tepuk tangan meriah di seluruh meja, dan Abbot turun dan duduk di meja Hufflepuff.

"Bones, Susan!"

"HUFFLEPUFF!"

Boot, Terry!"

"RAVENCLAW!"

Lalu ke "Brocklehurst, Mandy" yang masuk ke Ravcneclam lagi, lalu "Brown Lavender" masuk ke Gryffindor. "Bulstrode, Millicent" akhirnya masuk Slytherin, dan Harry menyeringai.

"Davies, Tracy!"

Anak perempuan yang tadi satu perahu dengan Harry maju, dan setelah beberapa saat topi itu berteriak, "SLYTHERIN!"

Harry menyeringai.

Lalu akhirnya, "Granger, Hermione!"

Harry menunggu. Hermione, ia bisa melihat kemungkinan masuk Ravenclaw, atau Gryffindor. Tapi yang mana ya…

"RAVENCLAW!"

Harry menyeringai. Ah, sudah ia duga.

"Greengrass, Daphne!"

Harry memperhatikan dengan seksama. Gerakannya anggun tapi penuh dengan kekuatan. Mirip dengan Al, walau Al sudah lama tidak masuk ke dunia sihir dan tidak pernah melihat sepupunya langsung.

"SLYTHERIN!"

Harry tersenyum.

Lalu dilanjut dengan "Moon" Ravenclaw, "Nott" Slytherin, "Parkinson" Slytherin, lalu kembar "Patil" satu di Ravenclaw, yang satu di Gryffindor, kemudian "Perks, Sally-Anne" masuk Gryffindor, kemudian,

"Potter, Harry!"

Harry maju, tersenyum ketika menemukan tepukan kecil di punggung dari Blaise. Pesannya gampang, 'ku tunggu di meja Slytherin'. Harry mengangguk.

Terdengar bisikan, tapi Harry tidak peduli. Untuk pertama kalinya, ia melihat ke meja para staff dan melihat Albus Dumbledore. Bisa ia rasakan kemarahan mulai muncul, tapi ia mendorongnya dengan Occlumency yang ia kuasai. Ia berjalan tenang, dengan wajah tanpa ekspresi.

Dan kemudian topi tersebut menutupi pandangannya.

"Hmm, sulit. Sangat sulit. Mempunyai kepintaran, ooh, dan haus akan ilmu, eh? Kau bisa berkembang di Ravenclaw, tapi sayangnya ada sisi lain yang lebih dominan… dan loyal seperti Hufflepuff? Ah, menarik. Di mana ya?"

"Jangan Gryffindor," batin Harry, menyeringai. "Aku ingin sedikit 'bermain' dengan Dumbledore."

Topi itu terkekeh. "Gryffindor, eh? Kau mewariskan keberanian ayahmu, tapi kau dibesarkan dengan orang lain, lebih hati-hati. Dengan kelicikan yang kau punya, dan ketelitian, kalau begitu…

"SLYTHERIN!"

Harry melepas topi dengan tenang, menghadapi satu aula yang sunyi. Ia perlahan berjalan ke meja Slytherin, yang perlahan bertepuk tangan, diikuti dengan Ravenclaw dan Hufflepuff dengan sopan. Lalu dari meja Gryffindor, si kembar Weasley mulai bertepuk tangan. Ia melihat wajah McGonagall yang shock, serta wajah Dumbledore yang berubah. Tapi yang menarik, wajah kepala asrama Slytherin, Severus Snape, mengeras.

Menyeringai, ia duduk di sebelah Daphne dan menatap Blaise panjang, seolah mengingatkan untuk satu asrama dengannya.

Ia memperhatikan sekeliling, dan ia melihat sosok yang… familier di meja Ravenclaw. Itu-?

Apa yang Frans lakukan di sini?

Gadis itu hanya menatapnya lekat, dan tersenyum. Tapi Harry menghela nafas. Senyum itu berarti Harry berutang cerita kepadanya. Dan Frans tidak akan berhenti sampai ia mendapat cerita lengkap dari Harry.

Yang mengejutkan, di sebelahnya terdapat– kenapa ada Lewis William di sana?

Harry menggerutu. Kenapa ketika temannya berada di Hogwarts tanpa bilang-bilang kepadanya?

Ooh, ia pasti akan meminta mereka untuk berbicara. Tapi sekarang, yang terpenting adalah jalannya seleksi. Kemudian, "Thomas, Dean" masuk Gryffindor, dan lalu ketika anak tinggal dua, Ron dan Blaise, "Weasley, Ronald" masuk Gryffindor dan akhirnya "Zabini, Blaise" masuk Slytherin.

Blaise berjalan tenang dari depan dan menuju ke arahnya, dan Harry tersenyum.

"Hey, glad finally meeting you here," bisik Blaise setelah ia duduk di sebelahnya.

Harry hanya menatapnya, dan tersenyum misterius. "Same here."

TBC


AKHIRNYA! MAAP PANJANG BANGET DAN KEMUNDUUUR, BARU BERES UTS! Hahahahahahahahaha…

Cliffhanger ._.v

Sarap emang gua. Lagi Tes Diagnostik ngetik ya. Tapi emang bete sih. Jadi anak kelas sembilan emang ngebetein. Tiap hari coba pulang sore! Kapan mainnya?

*ehm*

Oh iyaa, kan udah janjiii bakalan masukin rincian Moonlight Shadow. Itu tuh ada di blog gua, link-nya:

Original Main Character (OMC) Moonlight Shadow:

http:/ www . mutmutte . co . cc / 2011 / 10 /

Aliansi dan Keluarga Kenalan Harry dan Makarov:

http:/ www . mutmutte . co . cc / 2011 / 10 /

Kepanjangan yaa? MAAP!

Didedikasikan untuk tiarautm hahahahaha ;)

Oh iyaa, mengapa masukin Hermione ke Ravenclaw? Karena kupikir 'Mione tuh pinteer banget dan lebih cocok jadi Ravenclaw kalau misalnya Harry tak masuk Gryffindor :D

Oh iya, penname gua ganti yaa, jadi ScarletSky! Hihihi ;)

REVIEW! :D