Blaise berjalan tenang dari depan dan menuju ke arahnya, dan Harry tersenyum.

"Hey, glad finally meeting you here," bisik Blaise setelah ia duduk di sebelahnya.

Harry hanya menatapnya, dan tersenyum misterius. "Same here."


Moonlight Shadow

Disclaimer: Harry Potter belongs to J.K Rowling.

Summary: Ditinggal di sebuah gang gelap pada umur empat tahun, Harry Potter ditemukan oleh Pemimpin tertinggi Mafia di Eropa dan diadopsi sebagai satu-satunya pewaris. Dibesarkan dengan cara yang tidak diprediksikan oleh Albus Dumbledore, Harry kembali ke Dunia Sihir untuk memulai petualangannya di Hogwarts, dan ia tidak akan membiarkan seorang kepala sekolah mengatur hidupnya.

Eventually Blaise/Harry, tapi sepertinya untuk pair itu masih sangaaat lama ._.v untuk pair lain masih belum diputuskan, mari kita lihat sesuai jalan cerita :D

A/N: Manipulative!Dumbledore, sedikit bashing!Ron, SLYTHERIN!HARRY, Ravenclaw!Hermione, Eventually SLASH, AU, OC, OOC, a little bit mention of MPreg – Male Pregnancy. Kalau tak suka Dumbledore yang tidak se-'putih' di buku silahkan tekan tombol 'back', dan sebagainya. Terinspirasi dari fict Blood Prince dan sequel-sequelnya oleh ShadeDancer. Berminat untuk membaca? Lihat di list fave-storiesku :D

Sayang banget di cerita itu, Fem!Blaise, tapi di sini Blaise-nya cowok kok kan fict Slash :p Yaaah, karena fict Blaise dikiiit banget di HPE apalagi di HPI dan saya tidak berminat baca fict dengan bahasa selain dua bahasa itu, saya berkesperimen dengan pair iniii, semoga suka!

Keterangan:

"Speak" : Berbicara normal

"Speak" : Bahasanya berbeda, atau istilah

::Speak:: : Parseltongue

'Speak' : Berfikir

Enjoy!


Chapter 5 – Hogwarts

.

1st of September 1991

Aula Besar Hogwarts

Harry menghela nafas.

Di sebelahnya, Blaise menatapnya curiga, menaikan salah satu alisnya.

Harry mengangkat bahunya, lalu berbalik dan menatap meja Ravenclaw yang berada di sebelahnya, mencari dua wajah familier.

Itu dia!

Dua pasang mata menatapnya, satu dengan intens satu dengan kekesalan. Harry menghela nafas, menggeleng kepalanya dan mengangkat tangannya, membentuk angka dua. Frans menggeleng, mengangkat tangannya dan menunjuk dengan jempolnya ke arah bawah. Mengerutkan dahinya, Harry menatap Lewis yang mengangguk.

"Damn that two…" gumam Harry, kembali ke arah makanan di depannya dan kembali menghela nafas. Di sebelahnya, Blaise menaikan alisnya –lagi.

"Siapa itu?" gumam sang Italia itu.

Harry hanya tersenyum kecil. "Francissa Darcy dan Lewis William, friends."

"Kau seperti terkejut melihat mereka."

"Memang. Frans memang sudah seperti adik sendiri, dan Lewis paling dekat. Tidak pernah ada yang bilang kepadaku, tapi well, tidak ada yang tahu identitasku yang lain kecuali kau dan Taichi."

Beberapa orang mendengar nama tersebut langsung menengok. "Hibari Taichi, atau Taichi Hibari anak Ravenclaw?"

Harry mengangguk, menatap anak laki-laki yang bertanya kepadanya itu. Sepertinya anak kelas empat.

"Yang ayahnya adalah guardian keluarga Vongola?"

Harry menghela nafas dan memijat dahinya, pusing. "Ya, sepertinya begitu."

Anak itu mengangguk. Harry menatanya diam-diam, dan secara detail. Sosoknya seperti agen terlatih, hmm, kira-kira dari keluarga mana? Ah, yang terpenting, namanya siapa? Kalau misalkan ia sudah mempunyai nama, ia tinggal mencarinya pada waktu liburan nanti.

Tunggu. Sejak kapan berita mengenai Hibari Taichi, anak dari Hibari Kyoya dan Sawada Tsunayoshi menjadi berita umum? Dan sejak kapan ada orang sipil tahu kalau keluarga Hibari adalah guardians Mafia Vongola? Gawat–

Pikirannya terpotong ketika seseorang bersuara. "Jadi," seorang Prefek bergumam, tangannya bermain di atas meja, "Siapa saja yang kita dapat tahun ini, eh?"

Harry melihat sekeliling. Total terdapat sepuluh anak kelas satu Slytherin. Empat perempuan enam laki-laki.

"Kita dapat-"

"Theodore Nott." Anak laki-laki yang duduk di sebelah Crabbe bergumam, dan mengangguk.

"Tracey Davies." Anak perempuan berambut hitam panjang yang dikuncir berkata, suaranya tegas. Harry memperhatikannya sejenak, menilainya.

Dilihat dari sikapnya, ia jelas-jelas seorang pureblood tapi Harry tahu kalau ibunya adalah seorang half-blood. Walau begitu, Keluarga Davies termasuk keluarga 'elite' di Dunia Sihir, dan ayah dari Tracey Davies sendiri sering terdengar di kalangan keluarga Mafia-Penyihir.

Yang ketiga, "Millicent Bulstrode," seorang anak perempuan bertubuh besar berambut hitam bergelombang panjang mengangguk.

"Draco Malfoy of course, dan kroni-kroninya, Crabbe dan Goyle," salah seorang anak kelas enam –menurut Harry, dilihat dari tingginya- bersuara. "Tentu saja, siapa lagi?"

Gadis di sebelah Harry bersuara, "Daphne Greengrass."

Oh, Harry sudah tahu namanya, tentu saja. Tapi tetap saja ia penasaran mendengar suaranya. Keluarga Greengrass terdengar dengan kecantikan dan ketampanan anggota keluarganya, dan Daphne dan Al adalah salah satu contohnya.

"Pansy Parkinson," anak yang sedari tadi terlihat nempel dengan Draco bersuara. Harry menggerakan alisnya kesal. Suaranya memekik dan membuat telinganya sedikit sakit.

"Dan tentu saja," prefek yang tadi bertanya menghadap Harry dan Blaise, suaranya sedikit mengejek walau Harry tetap tidak merubah ekspresinya. "Siapa lagi kalau bukan-"

"Harry Potter, a pleasure," potong Harry, suaranya sopan tapi nadanya sedikit berbahaya; nada yang biasa ia pakai ketika menghadapi salah satu teman ayahnya yang menyebalkan. Oh, mungkin ia memang Harry Potter yang itu, tapi setidaknya ia tidak suka kalau diejek atau dipermalukan dengan cara apapun.

"Blaise Zabini." Dan disebelahnya, Blaise menyebutkan namanya dengan suara datar yang entah mengapa bagi Harry khas, berbeda. Tersenyum kecil, ia meraih minumnya dan menatap meja guru di mana matanya bertemu dengan mata biru Albus Dumbledore. Mengangkat gelasnya, ia menyeruput isinya sementara matanya meninggalkan kepala sekolah tersebut, dan melihat beberapa guru yang saling berbicara satu sama lain.

Dan mata terlatihnya melihat ke arah satu guru yang sedari tadi memperhatikannya. Severus Snape.

Oh, Harry tahu, dari cerita Al, kalau ayah kandungnya dan sahabat-sahabatnya sering mem-bully Severus Snape. Jadi Harry tahu kalau misalkan guru Ramuan tersebut mempunyai dendam terhadap Harry hanya karena ia adalah anak dari orang yang membuat hidupnya sengsara. Sekarang tapi, ia ingin melihat reaksi professor tersebut ketika mengetahui anak dari musuhnya menjadi tanggung jawabnya. Oh, betapa ia menunggu saat itu tiba.

Dan, mata mereka bertemu.

Harry tahu matanya tidak menampakan emosi, begitu juga Severus Snape. Setelah beberapa detik, Harry mengangguk sopan dan mengangkat gelasnya, menyeruput isinya dan berbalik, tersenyum.

Severus Snape bukan orang yang menyukai kejutan. Bahkan, ketika Albus Dumbledore berkata kepadanya bahwa anak dari musuh bebuyutannya, James Potter, akan tiba di Hogwarts tahun ini, ia yakin bahwa anak tersebut akan sama seperti ayahnya. Arogan, sok, dan bullies.

Oh, betapa terkejutnya ia.

Pintu Aula Besar terbuka, dan guru-guru mendongkak untuk melihat para murid baru yang akan di seleksi. Mata hitam terlatih Severus langsung menjelajah ke barisan, mencari seorang anak. Dan, itu dia! Berada di belakang seorang anak keturunan Irlandia, dan di depan seorang Blaise Zabini. Oh, Severus tentu saja kenal. Ia kenal dengan suami dari si ibu tersebut, yang sekarang adalah seorang Death Eaters. Tapi suami tersebut bukanlah ayah kandung dari Zabini. Lagi pula, nama Zabini di ambil dari nama ibunya setelah ayah kandungnya meninggal.

Kenapa mereka terlihat dekat?

Severus pikir, Potter pasti akan akrab dengan Weasley, atau Longbottom. Tapi kenapa Zabini menaruh tangan di pundaknya, seperti terlihat mendukung?

Lalu, pada saat Seleksi. Severus melihat Potter memperhatikan sekeliling dengan mata terlatih. Oh, kalau dilihat oleh orang lain, mungkin bocah tersebut hanya melihat-lihat seperti biasa, tapi Severus bisa melihat kalau bocah tersebut menganalisa isi Aula. Dan ketika namanya di panggil, betapa terkejutnya ia saat mendengar Harry Potter masuk Slytherin.

Seorang Potter masuk Slytherin!

Tapi ia memperhatikan Potter terlihat seperti mengetahui bahwa ia akan masuk Slytherin…

Tunggu. Dumbledore berkata bahwa Harry Potter tidak tinggal di rumah paman dan bibinya, kan? Jadi di mana?

Severus kembali memperhatikan interaksi antara Potter dan anak-anak lainnya selama makan malam berlangsung. Ia terlihat lancar berinteraksi dengan mereka, belum lagi ia terlihat dekat dengan Zabini. Tapi kemudian Severus melihat Potter mendongkakkan kepalanya dan melihat ke arah meja Ravenclaw, dan kedua mata hitam Severus mengikuti arah pandangannya.

Francissa Darcy dan Lewis William. Anak kelas dua dan tiga. Salah satu murid-murid brilliant, tipikal anak Ravenclaw. Tapi mereka tidak besar kepala, tidak. Mereka lebih memilih bekerja dalam diam dan tidak menarik perhatian. Bagaimana seorang Potter mengenal mereka?

Severus melihat mereka menukar… apa itu kode? Dua jari, jempol ke bawah. Hmm, menarik.

Lalu, saat mata mereka bertemu. Severus tidak bisa membaca mata tersebut, dan ia tahu kalau pikiran bocah berumur sebelas tahun itu terjaga dengan baik.

Menarik.

Saat Potter mengangkat gelasnya dan bersulang, Severus mengangguk dan kembali mengobrol dengan guru-guru lainnya.

Mungkin tahun ini memang akan menarik.

Harry menghela nafas setelah Dumbledore selesai dengan 'petuah'nya, dan mengirim mereka ke asrama masing-masing. Walau ia seharian sibuk, tapi entah mengapa ia tidak terlalu merasa capek, apa mungkin karena latihannya?

Ia mengikuti Blaise, yang sudah berdiri duluan dan menunggunya. Berjalan beriringan, Harry kembali menatap Frans yang sekarang berjalan menuju ke arah mereka dengan wajah kesal, dan di belakangnya Lewis mengikutinya dengan wajah takjub.

Ia menghela nafas.

"Frans, Lewis," gumamnya ketika mereka berdua sudah cukup dekat. Untungnya, ia dan Blaise berada di paling belakang barisan, sehingga mereka bisa berbicara dengan lebih gampang.

"Hadrian," sapa Lewis, pemuda yang lebih tua dua tahun darinya itu menyeringai. "Sebuah kejutan menemukanmu di sini. Bukankah ayahmu berkata bahwa kau akan boarding school di Prancis, hmm?"

"Lewis," gumam Harry kesal, melipat kedua tangannya di depan dada. "Dan sekian tahun kita mengenal, kau sama sekali tidak memberitahuku kalau kau pergi ke Hogwarts? Apa nama Al tidak membuatmu menyadari Capiano bukan hanya 'bermain' di dunia depan?"

Frans memukul lengannya main-main. "Dan aku jarang mengikuti rapat, kau tahu itu. Lebih sering Rose yang ikut. Lagipula, sejak kapan ayahmu 'bermain' di dunia depan seluruhnya?"

Harry tertawa, lalu menggerakan tangannya, "Ayo, sudah malam. Kalian berdua hutang cerita, besok. Kalau tidak…"

Lewis menganggkat tangannya. "Chill, boss. Oke, besok. Sip. Sekarang, malam! Ayo, Frans!"

Harry kembali tertawa ketika teman Swissnya itu menarik tangan Frans, membawa mereka menuju ke kiri sementara Harry mengikuti Blaise, yang berjalan di sebelahnya dalam diam, ke ruang bawah tanah.

Akhirnya, setelah beberapa kali melewati belokan, mereka sampai di depan dinding batu. Harry menatap Blaise.

"Kau tahu password-nya?"

Blaise mengangguk, "Morgana," katanya kepada dinding di depannya, dan dinding tersebut langsung menampakkan sebuah pintu yang akhirnya terbuka.

Harry terkekeh. Morgana, salah satu Dark Lady terkuat yang pernah ada, musuh Merlin itu sendiri.

Mereka berdua masuk, dan langsung menemukan sebuah ruang rekreasi yang luas dengan banyak warna silver dan hijau. Dua buah sofa panjang berada di tengah, membentuk huruf u. Lalu terdapat sebuah perapian dengan dua loveseat di masing-masing pinggir, dan satu sofa hijau lagi. Di setiap pojokan, terdapat sofa. Di dinding, terdapat papan pengumuman, dan sebuah jendela besar yang menampakkan langit malam yang indah.

"Langit?" tanya Harry heran sementara ia mengikuti Blaise ke salah satu sudut, ke tempat Daphne Greengrass dan Tracy Davies berada. "Bukankah tadi kita masuk lewat dungeon-"

"Pintu tadi berfungsi sebagai sebuah portal," sebuah suara memotongnya, "dan membawa kita ke menara Timur. Menara Slytherin. Nice to see you, Potter, Zabini."

Harry mendongkak dan mendapati Tracey-lah yang memotong ucapannya tadi. Harry membalas, mengangguk sopan. "Nice to see you too, Davies, Greengrass."

Mereka berdua duduk di sofa lainnya, saling berhadapan. Baru saja Tracey akan berbicara, pintu asrama terbuka dan masuklah sosok Severus Snape.

Semua kepala mendongkak, dan langsung memberikan perhatiannya kepada Professor Snape.

Severus menatap satu ruangan, memeriksa satu per satu wajah. Kedua matanya menatap Harry lama, dan ada sedikit emosi yang muncul di mata yang biasanya dingin itu. Sepertinya ia menemukan apa yang ia cari di mata Harry, karena lalu ia mengangguk, dan mulai berbicara.

"Selamat datang di Slytherin kepada para anak baru, dan selamat datang kembali kepada murid-murid lama. Pertama-tama, selamat karena telah diterima di Slytherin. Mungkin kalian sering mendengar bahwa Slytherin berisi oleh orang-orang yang jahat, dan semua anak-anak di sini suatu saat nanti akan menjadi Death Eaters.

"Slytherin memang menghasilkan banyak penyihir hitam, tapi tidak semua penyihir yang dihasilkan Slytherin seperti itu. Pada intinya, penyihir tersebut adalah penyihir yang hebat.

"Slytherin saling menjaga. Masalah yang berada di dalam asrama, simpan di dalam. Jangan tunjukan kepada asrama lainnya bahwa Slytherin sendiri tidak solid. Kita saling menjaga satu sama lain, karena hanya kita yang akan melakukan hal itu. Bila ada masalah, pintu kantorku terbuka setiap waktu. Sekarang, lebih baik kalian beristirahat. Any question?

Suara Professor Snape yang datar, rendah tapi entah bagaimana caranya bisa didengar oleh seluruh murid membuat Harry tersenyum. Tidak ada yang mengangkat tangan, maka Professor Snape berkata, "Goodnight," dan berbalik, keluar dari ruang rekreasi.

Sedetik, ruangan menjadi sunyi, tapi detik kemudian anak-anak mulai kembali mengobrol, dan perhatian Harry kembali ke tiga orang yang berada satu tempat dengannya.

Entah sejak kapan, ia tersenyum mendengar percakapan mengenai diri masing-masing, dan pada akhirnya ia ikut ke dalam percakapan yang didominasi oleh Tracy, diikuti oleh suara lembut Daphne. Blaise hanya diam memperhatikan, tapi Harry bisa melihat sedikit senyum di wajahnya.

Entah bagaimana, Harry bisa melihat masa depan dari ketiga orang ini. Bukan masa depan dengan artian rincian atau sesuatu yang pasti, tapi ia bisa melihat persahabatan dari ketiga orang di depannya, dan dengan dirinya akan erat. Tracey dengan sikap bossy-nya, Daphne dengan sikap lembut dan bijaksananya, Blaise dengan ke-stoic -annya walau Harry tahu bahwa Italia itu peduli terhadap temannya, yang seorang observant dan lebih memilih berada dalam baying-bayang, dan Harry sebagai Harry.

Entah mengapa ia merasa yakin.

Tapi Harry menggeleng kepalanya. Walau perasaannya berkata bahwa ketiga orang ini akan menjadi temannya, tapi ia tetap tidak bisa terburu-buru dan lebih memilih melihat ke depannya apakah mereka ingin berteman dengannya karena ia adalah Harry Potter, atau karena ia adalah Harry.

Mungkin karena ia sudah mempunyai tiga orang yang loyal terhadapnya; Taichi, Lewis dan Frans. Tapi toh mereka bertiga juga ia kenal dari ayahnya. Entah ia egois atau keras kepala ia sendiri tidak tahu, tapi ia ingin mempunyai teman yang benar-benar tidak ia ketahui dari awal, atau yang ayahnya tidak ketahui.

Menghela nafas, Harry menyender dan kembali memperhatikan Tracey dan Daphne mengobrol mengenai liburan musim panas mereka sebelum ke Hogwarts, sementara Blaise tiba-tiba menatapnya.

"Ya, Blaise?"

Gelengan kepala dan sebuah senyuman kecil.

Harry menaikan alisnya tapi tersenyum juga, tanpa sadar bahunya menyender kepada bahu Blaise. Entah mengapa ia sering merasa nyaman seperti ini saat bersama Blaise, sama seperti saat ini, tapi mengapa?

Ah, sudahlah.

Baru saja ia akan berkata sesuatu ketika suara Prefek Slytherin, Andrew Davinson memanggil.

"Anak-anak kelas satu!"

Harry berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Blaise dan membantunya berdiri, dan mereka berempat berjalan bersama dengan anak perempuan di depan. Mereka sampai di depan Andrew, dan Harry melihat Draco sekali lagi diapit oleh Crabbe dan Goyle.

"Kamar kalian berada di balik tangga, pintu pertama di sebelah kiri. Di sana, terdapat ruangan kecil berisi tempat duduk dengan dua pintu besar, yang kanan menuju kamar anak perempuan, yang kiri menuju kamar anak laki-laki. Satu kamar berisi dua orang. Ada pertanyaan?"

Mereka saling menatap satu sama lain, lalu menggeleng.

Andrew mengangguk. "Baiklah. Di depan pintu terdapat plat berisi nama kalian. Selamat malam."

Harry menatap Blaise, dan ia melihat Blaise mengangguk. Entah sejak kapan mereka berdua bisa berkomunikasi lewat mata, dan terkadang itu menyeramkannya mengingat mereka baru saja bertemu. Terlepas dari pelatihannya untuk menyembunyikan emosinya sendiri, Harry entah mengapa merasa bahwa emosinya muncul di matanya saat mengobrol dengan Blaise.

Ah, sebuah pikiran rumit bagi anak berumur sebelas tahun.

Mereka berdua berjalan menuju tangga, dan anak kelas satu lainnya mengikuti mereka. Di pintu pertama di sebelah kiri, Harry membukanya dan langsung berhadapan dengan ruang rekreasi mini, minus perapiannya. Tersenyum, ia berjalan menyebrangi ruangan dan langsung membuka pintu di sebelah kiri, dan menahannya agar semua anak laki-laki masuk. Lalu ia berjalan ke arah Blaise yang berdiri di sebuah pintu. Dengan plat nama mereka berdua.

Italia itu menyeringai kepadanya. "Seems you stuck with me."

Harry balas tersenyum dan memasuki ruangan sementara Blaise menutup pintunya. "Bukankah kebalikannya, eh?"

Walau ia tidak berbalik, ia tahu bahwa Italia itu pasti sedang tersenyum.

Ia melihat ruangan. Dua tempat tidur, berada di ujung ruangan, berseberangan. Di tengah, terdapat perapian kecil. Di sebelah tempat tidur, terdapat meja belajar.

Tempat tidur tersebut, walau terlihat kecil, Harry tahu dibesarkan secara sihir. Kelambu di sekelilingnya berwarna hijau tua, selimut berwarna silver dan hitam, seprei dan bantal berwarna putih. Di lantai kayu, terdapat karpet berwarna hiijau emerald, cukup empuk untuk musim dingin.

"Kau pilih yang mana?"

Harry berbalik, dan tersenyum. "Hmm, kiri?"

Blaise mengangkat alisnya.

Harry mengangkat bahunya. "Sedang ingin kiri saja. Kau sendiri? Tak apa?"

Anak laki-laki berkulit gelap itu mengangkat bahunya, menaruh kopernya di ujung tempat tidur di sebelah kanan. Senyum Harry membesar.

"Yup. Kau ingin membereskan barang-barangmu sekarang?"

"Hmm, lebih baik sekarang dari pada nanti."

Harry mengangguk, lalu menaruh kopernya sendiri di ujung tempat tidur sebelah kiri, yang lebih dekat dengan pintu. Sebenarnya, kebiasaannyalah yang membuatnya memilih tempat tidur yang dekat dengan jalan keluar kalau ada apa-apa. Di sini, Harry menyalahkan paranoia ayah dan pamannya.

Ia mulai membuka kopernya, dan mengeluarkan buku-bukunya. Dengan hati-hati ia tata sesuai kategorinya. Buku sekolah di tengah, di sebelah kiri buku-buku yang berkaitan dengan pembelajarannya dengan Al yang diurutkan sesuai bahasanya, di sebelah kanan buku-buku lainnya, termasuk buku fiksi. Gulungan perkamen ia taruh di satu sisi, lalu botol-botol tinta dan pena bulunya. Tas sekolahnya ia taruh di kursi. Beruntung, di sana terdapat laci meja di mana Harry bisa menaruh daggersnya.

Membuka jubahnya, Harry menggantung jubah tersebut. Ia tidak takut Blaise bisa melihat senjatanya, toh ia sudah tahu bahwa Harry adalah anak Mafia. Pertama, ia mengeluarkan daggers yang berada di sepatu bootnya, dan menaruhnya di atas meja. Lalu, ia melipat lengan kemejanya dan mengeluarkan daggers kembar Slytherin. Ia membuka sepatu bootnya dan ia taruh di kaki tempat tidur, mengeluarkan tongkat sihir cadangannya. Tiga daggers dan tongkat sihir cadangan ia taruh di laci meja, dan ia kunci dengan sihirnya. Satu dagger ia selipkan di bawah bantal. Daggers Slytherin ia taruh di dalam koper. Ia mengeluarkan pistol terbaru dari ayahnya, menelitinya sebentar.

"That hand gun, quite good. Where do you get it?"

Butuh usaha besar agar Harry tidak melompat mendengar suara tiba-tiba. Berbalik, ia melihat Blaise duduk di tempat tidurnya sendiri, sudah memakai kaus tidur berwarna putih dan celana panjang santai berwarna hitam. Anak tersebut bergerak dengan suara seminimum mungkin, dan Harry takjub da nada sedikit rasa bangga karena Blaise bisa bergerak begitu sunyinya, tak terdeteksi dari telinga terlatih Harry.

Harry memainkan pistol tersebut, tersenyum. "Hasil dari percobaan dad di lab milik perusahaan. Tertarik?"

Blaise mengangguk. "Dan berfungsi dengan sihir?"

"Ya, hanya supaya pelurunya bisa menembus pertahanan penyihir."

"Hmm, menarik. Dan kau memiliki banyak senjata. Kau ini apa, tukang jual?" Blaise mengejeknya sedikit, dan Harry mendengus.

"Tukang jual dari mana coba? Ini tuh baru sedikit, menurut dad sih. Huh, kalau saja paman tidak menahannya, dad pasti akan memaksa untuk membawa lebih banyak."

"Poor you."

"Begitulah."

"Baiklah kalau begitu," Blaise merenggangkan tangannya. "I sleep first. Goodnight."

Harry tersenyum, "goodnight, sleepy head."

Jawaban yang ia terima hanya dengusan.

Tertawa pelan, Harry kembali membereskan barang-barangnya, lalu berganti dengan kaus berwarna merah tua dan celana panjang berwarna hitam. Menutup kopernya dan menguncinya, Harry berjalan menuju tempat tidur dan menyingkap selimutnya, lalu rebahan sambil menatap langit-langit.

Hmm, besok hari pertama ya.

Coba ia lihat, apakah Hogwarts sama serunya dengan apa yang Al bicarakan.

'Huh, untungnya, aku sekamar dengan Blaise.'

Dengan pikiran itu, Harry tertidur sambil tersenyum.

.

.


2nd of September, 1991

Sudah pagi.

Alarm di dalam dirinya, hasil pelatihan dari ayah dan pamannya agar ia selalu bangun pagi. Menguap, ia duduk dan merenggangkan otot-ototnya. Kedua tangannya naik ke wajahnya dan mengucek matanya, dan ia berkedip. Setelah beberapa saat, ia kembali menguap dan kemudian terdengar suara tawa dari samping.

Kaget, Harry segera melihat ke arah sampingnya. Dilihatnya Blaise sudah duduk di ujung meja, menyeringai.

"Tak kusangka Hadrian Capiano yang terkenal stoic itu rupanya bersikap seperti kucing saat bangun tidur,"

Harry mendelik kepada Italia itu, lalu menggelengkan kepalanya.

"Terserah apa katamu lah, Blaise."

Harry melempar kedua kakinya ke samping tempat tidur, lalu merenggangkannya. Ia melompat, berdiri, tapi sayangnya masih sedikit oleng. Ia mengucek matanya sekali lagi, dan menguap. Merenggangkan lengannya, ia akhirnya membuka matanya dan mendapati Blaise sedang bersiap mengambil peralatan mandinya.

"Kau duluan?"

"Hmm,"

Harry mengangguk, "oke."

Ia berbalik dan mulai memasukan beberapa buku ke dalam tasnya, dan perkamen serta pena bulu dan botol tinta sementara ia mendengar pintu kamar terbuka, lalu tertutup. Untungnya, tasnya sudah diperluas dengan sihir. Tapi pamannya menolak untuk meringankannya. Untuk latihan, katanya. Harry mendengus.

Ia baru saja selesai mengeluarkan jeans hitamnya dan kemeja berwarna putih pucat, pintu kembali terbuka dan masuklah Blaise dengan muka yang lebih segar. Menggelengkan kepalanya, Harry keluar kamar dan berjalan menuju kamar mandi, yang pintunya berada di sebelah kiri, pintu kedua. Lorong tersebut membagi menjadi empat pintu. Dua di kanan milik Draco dan Nott, lalu Crabbe dan Goyle. Di sebelah kiri milik Harry dan Blaise, lalu baru pintu kamar mandi.

Kamar mandi tersebut terdiri dari tiga shower yang terpisah oleh dinding tipis, dan tiga wastafel. Di dinding shower terdapat gantungan sendiri. Harry memasuki shower terdekat, dan mulai menyalakan airnya. Ia lebih memilih air dingin karena akan membangunkannya.

Selesai mandi, ia segera mengeringkan tubuhnya dan memakai pakaiannya, dan dengan rambut yang masih basah ia berjalan kembali menuju kamarnya. Di lorong, ia bertemu dengan Nott.

"Pagi," gumam Slytherin yang satu itu.

Harry mengangguk, "pagi Nott."

Harry kembali ke kamarnya dan menemukan Blaise sedang membereskan bukunya. Perlahan, dan dengan tangan kiri masih memegang handuk dan mengeringkan rambutnya, ia berjalan menuju laci dan membuka kuncinya. Ia berhenti sebentar untuk menimbang daggers apa yang akan ia bawa, dan akhirnya ia memutuskan untuk dua. Satu di sepatu, satu di lengan kirinya.

Setelah ia selesai, ia memakai sepatu bootnya dan duduk di tempat tidurnya, memperhatikan Blaise yang masih membereskan sesuatu. Italia itu berbalik dan menatap Harry yang masih membetulkan letak daggers di lengan.

"Berhati-hati sekali, eh?"

Harry hanya bergumam, "tak ada salahnya berhati-hati."

"Hmm,"

Harry memakai jubah sekolahnya, yang di dada sebelah kiri sudah muncul lambang ular khas Slytherin. Ia meraih dasinya dan memakainya, tapi tidak rapi. Lagi pula, kemejanya tidak ia masukan, dan lengannya sedikit ia lipat, tapi tidak cukup untuk orang luar melihat dagger -nya. ia meraih tasnya, dan menatap Blaise, yang sedang menyender di dinding di sebelah pintu, menunggunya.

"Finish?"

Harry mengangguk, dan Blaise membuka pintu kamar. Mereka berdua keluar dan segera menuju ruang rekreasi 'mini' milik angkatan mereka, yang masih kosong. Harry melirik ke jam tangannya. Waktu sudah menunjukan pukul setengah delapan.

"Hmm, sepertinya aku telat bangun,"

Blaise mengangkat alisnya. "Telat?"

Harry bergumam, "ya, bisanya lebih pagi."

"Hmm,"

Mereka pergi ke ruang rekreasi dan mendapati bahwa hanya ada sekitar delapan orang yang berada di sana, rata-rata murid kelas atas. Harry menatap Blaise yang hanya menaikan alisnya, dan akhirnya Harry mengangguk dan mereka berdua berjalan keluar dari ruang rekreasi mereka, menuju Aula Besar.

Perjalanan dari dungeon ke lantai dasar* diisi oleh sunyi, tapi Harry tidak keberatan sama sekali. Mereka sampai di Aula Depan, yang masih sepi, dan akhirnya masu ke Aula Besar dan mendapati bahwa isinya masih sepi.

Di meja Gryffindor, hanya ada sekitar dua orang, anak kelas atas semua. Di meja Hufflepuff hanya ada tujuh orang, bervariasi. Meja Ravenclaw… ah, tiga orang temannya ada di sana. Melambai kepada mereka, Harry mengikuti Blaise ke arah meja Slytherin yang hanya dihuni oleh dua anak kelas enam, tiga anak kelas tujuh, dan dua anak kelas empat.

Ah, anak kelas empat yang semalam juga ada.

"Blaise," bisik Harry, tapi wajahnya tetap datar dan tenang saat ia mengambil makan paginya. "Kau tahu anak kelas empat yang di sana?"

Blaise menunggu waktu sebentar sebelum mendongkakkan kepalanya dan berpura-pura memperhatikan satu Aula walau sebenarnya, yang benar-benar ia perhatikan hanya anak yang ditunjuk Harry.

"Seorang Millefiore kalau tidak salah,"

Di sini, Harry terpekik kaget.

Blaise menaikan alisnya, tapi Harry mengabaikan dan segera berbalik menatap ketiga temannya di meja sebelah. Ia menggerakan tangannya cepat dan terlatih, sedikit tidak terlihat dari orang lain tapi Blaise bisa melihatnya dengan jelas. William, kalau tidak salah, mengangguk.

"Jadi?"

"Millefiore adalah salah satu keluarga yang diduga bekerja sama dengan Cavallone, yang diduga sedang membuat pasukan sendiri untuk memberontak. Melawan kekuatan Capiano dan Vongola. Mungkin akan ada perang kedua," jawab Harry, suaranya berbisik sementara ia meraih minumnya. Menghela nafas, ia meletakan kepalanya di meja. "Aku harus segera mengirim dad surat. Kau yakin dia Millefiore?"

Blaise mengangguk. "Ciri khas-nya sama. Lagi pula, kita bisa bertanya kepada Tracey. Walau ia seperti itu, tapi ia cepat menerima informasi baru dan gampang mencari informasi lain."

Harry mengangguk. Ia juga mendapat firasat kalau Tracey Davies mirip dengan Nicole, tapi dengan sedikit kepribadian Alice.

Harry segera menghabiskan sarapannya, dan berbalik kepada Blaise. "Apa ada peraturan yang melarang Slytherin ke meja Ravenclaw?"

Blaise terdiam sebentar, lalu menggeleng pelan.

Menyeringai, Harry melompat lalu berjalan menuju meja Ravenclaw, di mana Harry bisa mendengar Taichi dan Frans sedang berdebat dengan bahasa Prancis.

"Sudah kubilang, dad tidak membiarkanku ikut rapat kali ini, walaupun otou-san yang memimpin. Katanya, ada sedikit masalah di bagian bawah, tapi sedikit lebih rumit daripada yang biasa aku boleh ikuti."

"Dan kau tidak mendengar apapun? Sesuatu?"

"Tidak ada sama sekali."

"Dan kalian di sini, berdebat sementara aku di sana sendirian. Well, tidak sendirian juga sih," sambung Harry, nadanya sedikit takjub, dan kedatangannya yang tiba-tiba membuat tiga kepala yang sudah ia kenal baik itu langsung mengangkat dan langsung melihat ke arahnya.

"Hadrian!"

Harry tertawa dan duduk di sebelah Taichi, "Kau bisa panggil aku Harry di sini, Taichi."

"Hmm, suatu kehormatan, Boss."

"Kau tidak boleh memanggilku boss di depan ayahmu, kau tahu itu," peringat Harry, "Kau anak dari Vongola X dan Cloud Guardiannya, kaulah yang di panggil boss."

Taichi mendelik sedikit, "Tapi di sini tidak ada dad dan otou-san, kan? Jadi aman-aman saja."

Harry menghela nafas, "Taichi…"

"Oke boss, ada apa?"

"Jangan kau juga, Frans!"

"Maaf, kebiasaan."

Harry menggelengkan kepalanya takjub.

"Oke, kembali ke awal. Ada masalah."

"Ada apa, Harry?" tanya Lewis, dan Harry memberikan Ravenclaw yang lebih tua dua tahun darinya itu tatapan kesal.

"Anak kelas empat Slytherin. Seorang Millefiore."

Di sebelahnya, Taichi memaki kecil.

"Ya, Taichi?" Harry segera berganti ke bahasa Jepang, karena Aula Besar mulai penuh oleh anak-anak dan mungkin saja di antara mereka terdapat orang yang bisa bahasa Prancis, jadi waspada lebih baik.

"Kau tahu kemarin aku telat, kan?"

"Ya…"

"Sepertinya, ada masalah kepada keluarga Simon."

"Dan keluarga Simon, dalam dunia kita, seperti saudara keluarga Millefiore."

"Ya. Dan kalau keluarga Simon sudah mulai bergerak, kita hanya akan menunggu beberapa bulan sebelum Millefiore mulai menyusupi mata-matanya."

"Keluarga mereka sepertinya benar-benar niat ingin menjatuhkan Capiano. Aku akan tulis surat kepada dad agar mereka lebih berhati-hati lagi terhadap para guards."

"Ya, jangan sampai kejadian waktu itu terulang lagi. Untung saja ada pamanmu, boss."

"Ya, kau benar Frans." Harry kembali berganti kepada bahasa Inggris ketika ia melihat Dumbledore memasuki ruangan. "Jadi, bagaimana kalian bertiga bisa saling mengetahui bahwa kalian akan masuk Hogwarts, sementara aku tidak tahu?"

Di sebelahnya, Taichi menyeringai lebar. "Well Harry, pertama-tama, terakhir kita berkirim e-mail adalah setengah tahun yang lalu. Saat Tahun Baru, dan aku sedang pergi ke Jepang. Lalu Frans dan Lewis di sini, bukankah seharusnya kau tahu nama-nama keluarga besar seperti Darcy dan William adalah nama keluarga penyihir?"

Harry bisa merasakan wajahnya memanas, dan ia segera berbalik menghadap meja guru. Tiba-tiba, saat bertatapan dengan seorang guru yang berada di sebelah Profesor Snape, bekas lukanya terbakar.

"Ah!"

Harry mungkin terbiasa menerima rasa sakit, terutama dari latihan-latihan yang ia terima dari ayah dan pamannya, tapi rasa sakit di bekas luka sambaran kilatnya benar-benar membuatnya terbakar.

"Hadrian?"

Perlahan, Harry mendongkakkan kepalanya dan segera bertatapan dengan wajah cemas Frans. Ia menghela nafas dan memijat keningnya.

"Kau bisa memanggilku Harry, Frans. Dan apakah kalian mengenal guru yang sedang berbicara dengan Profesor Snape?"

Perlahan, dengan terlatih Taichi melayangkan pandangannya ke arah meja guru, membuatnya seperti hanya melihat dengan acak. Tapi Taichi menemukan guru yang dimaksud oleh Harry.

"Ya, Profesor Quirrel, guru DADA. Memang kenapa?"

Harry bergumam, lalu berdiri dan tersenyum. "Ada beberapa hal yang harus kulakukan. Nah, sekarang, Aula sudah mulai penuh. Mungkin aku harus kembali ke mejaku, agar tidak menarik perhatian."

"Jangan lupa beritahu ayahmu!" sahut Lewis saat Harry berbalik dan melambai ke arahnya.

"Oke."

Harry berjalan menuju meja Slytherin, di mana ia melihat Tracey dan Daphne sudah bergabung dengan Blaise. Draco sedang mengobrol dengan Nott, Crabbe dan Goyle sedang makan dengan lahap, dan Pansy sertan Millicent sedang mengobrol.

Harry kembali duduk di sebelah Blaise.

"Pleasant talk?"

Harry tersenyum kecil. "Likely."

"Aku tidak tahu kau mengenal keluarga Darcy dan William, Harry," gumam Tracey, meraih roti bakar lagi.

Daphne hanya tersenyum kecil, "mungkin karena kau baru bertemu dengan Harry kemarin, Tracey."

"Mengapa kau selalu benar, Daph?"

"Mungkin karena aku adalah aku?"

Harry tertawa kecil, menggelengkan kepalanya dan meraih minumnya. Ia melirik ke samping, dan ia lihat Blaise sedang menatapnya sebentar. Harry menaikan alisnya.

"Lukamu?"

Harry menghela nafas. Blaise memang selalu memperhatikananya, menanyakan beberapa hal, tapi tidak mendetail. Itu salah satu yang Harry suka. Blaise memang peduli, tapi ia tidak memaksa sebuah jawaban, lebih memilih untuk diam dan memperhatikan. Harry tidak tahu mana yang lebih menyebalkan, Blaise mendapat jawaban karena Harry berikan, atau mendapat jawaban karena memperhatikan.

"Tidak tahu. Mungkin aku akan mencari sesuatu…"

Mereka berdua kembali terdiam, sampai Profesor Snape turun dari meja guru dan berjalan menuju meja Slytherin, membagikan jadual pelajaran.

Ketika Profesor Snape sampai di daerah mereka, mata mereka berdua bertemu dan Harry mengangguk sopan. Snape, seperti mencari sesuatu, terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk. Harry menerima jadual pelajarannya, dan melirik milik Blaise di sebelahnya sementara Profesor Snape memberikan milik Tracey.

"Rata-rata anak kelas satu jadualnya sama semua…" gumam Daphne di seberangnya. Harry mengangguk, dan melihat jadualnya sendiri.

Rupanya hari Senin pertama adalah Ramuan, tiga jam pelajaran dengan Gryffindor. Lalu diikuti dengan istirahat makan siang, lalu diikuti Mantra dua jam dengan Ravenclaw dan Transfigurasi dua jam dengan Gryffindor.

Menghela nafas, Harry menunggu Blaise selesai membaca seluruh jadualnya, dan menaruhnya ke dalam tas. Ia kemudian melihat Blaise berdiri dan Harry segera mengikuti, sementara Tracey dan Daphne berada di belakang mereka, mengobrol.

Entah mengapa, Harry bisa terbiasa dengan hal ini.

Mereka termasuk murid yang pertama sampai ke kelas Ramuan, mengingat ruang tersebut adalah salah satu ruangan yang dihindari anak-anak.

Harry memilih kursi kedua di barisan kiri, diikuti oleh Blaise di sebelahnya. Tracey dan Daphne memilih berada di belakangnya, dan Harry menahan diri untuk tidak memutar matanya.

Sekitar lima menit kemudian, anak-anak Slytherin lainnya datang, dengan Draco dan Theodore Nott di bangku di depan Harry, Pansy di sebelah Draco, Millicent di sebelah Daphne, dan Crabbe dan Goyle di bangku paling belakang.

Sepuluh menit kemudian, anak-anak Gryffindor terburu-buru masuk. Baru ketika mereka duduk, Profesor Snape masuk. Seperti yang Harry kira, kedua mata itu kosong dan dingin, dan menyapu ruangan dengan tatapannya yang mengintimidasi. Dalam hati, Harry tersenyum.

"Kalian berada di sini untuk mempelajari ilmu rumit dan seni untuk membuat ramuan," ia memulai, dan Harry mempunyai firasat bahwa ini adalah pidato yang sama setiap tahunnya, tapi tetap membawa efek yang sama, menarik perhatian anak-anak satu kelas, "karena tak banyak kibasan tongkat yang konyol di sini, banyak di antara kalian akan susah percaya ini sihir. Aku tidak berharap kalian benar-benar bisa menghayati keindahan isi kuali yang menggelegak lembut dengan asapnya yang menguar, kekuatan halus cairan-cairan yang merayap merasuki nadi manusia, menyihir pikiran, menjerat akal sehat… Aku bisa mengajarkan kalian bagaimana membotolkan kepopuleran, merebus kejayaan, menyumbat kematian- kalau kalian bukan kepala-kepala kosong seperti anak-anak lain yang biasa kuajar."

Sunyi mengikuti mereka, dan dalam hati Harry menyeringai. 'Benar-benar kata sambutan yang menarik,' batinnya.

Severus memulai kembali kelas seperti biasa, meraih absensinya dan menyebutkan nama satu per satu. Ketika susah selesai, ia kembali melipat dan melayangkan pandangannya ke satu anak. Seorang anak yang membuatnya penasaran sedari kemarin, dan ingin ia uji kemampuannya.

"Potter!" Severus berkata tiba-tiba, kedua matanya menatap manik hijau yang mengingatkannya kepada sahabatnya dulu, "apa yang kudapat jika aku menambahkan bubuk akar asphodel ke cairan wormwood?"

Severus melihat kedua mata hijau itu membesar sedikit, sebelum emosi terkejut muncul, diikuti oleh rasa bingung lalu kemudian Severus bisa melihat Potter menyeringai dalam hati.

"Campuran asphodeldan wormwood menghasilkan obat tidur yang paling kuat sehingga disebut Tegukan Hidup Bagai Mati, sir."

Suaranya terlatih, tidak menunjukan emosi, tapi tetap terlihat sopan. Severus tersenyum dalam hati. James Potter pasti sedang berputar di kuburannya melihat anaknya menjawab soal Ramuan dengan gampang dan yakin, terutama menginat anak tersebut masuk Slytherin.

Severus mengangguk puas. "Di mana kau akan mencari jika kusuruh kau mengambilkan bezoar untukku?"

Kali ini, Harry menyeringai terbuka, "Tergantung situasi dan orang yang berada di sekitar, sir. Apabila terdapat Ahli Ramuan atau seseorang yang paranoid, kemungkinan ia akan membawa satu atau lebih bezoar. Kalau berada di kelas ini, kemungkinan anda menyimpannya di lemari siswa. Kalau tidak, bezoar bisa diambil dari perut kambing."

Severus memberikan death glare-nya, walau ia cukup puas karena Potter sanggup menjawab pertanyaannya dengan nada yang menantang tapi masih bisa terlihat sopan.

"Ah, rupanya status selebritismu tidak membuatmu besar kepala. Apa bedanya monkshood dan wolfsbane?"

"Pertanyaan yang menjebak, sir, karena sebenarnya kedua tanaman itu sama, hanya berbeda namanya. Tanaman tersebut juga bisa disebut aconite."

Bagus.

"Lima belas point untuk Slytherin. Rupanya tidak semua anak berotak kosong."

Anak Slytherin lainnya menyeringai, sementara anak-anak Gryffindor memerah karena kesal. Ron Weasley memberikan death glare kepada Harry, berbisik "pengkhianat".

Kelas kembali berjalan, dan tidak ada insiden selanjutknya kecuali saat Neville melelehkan kuali, membuatnya mengerang kesakitan dengan bisul-bisul yang muncul di lengan dan kakinya.

"Anak idiot!" seru Snape, membersihkan tumpahan ramuan. "Kau pasti menambahkan duri-duri landak sebelum kuali diangkat dari atas api, kan? Lima angka dari Gryffindor."

Draco tertawa sementara Harry menyeringai, ramuannya sendiri telah berhasil ia kerjakan. Memang keberuntungannya mewarisi ketidak hati-hatian dalam Ramuan dari ayah kandungnya, tapi untungnya ada Al yang mengajarinya.

Ramuan selesai, dan mereka kembali ke ruang rekreasi untuk mengganti buku dan kemudian turun ke Aula untuk makan siang.

Siang itu dilanjutkan dengan Mantra, dua jam dengan Ravenclaw. Pelajaran pertama mereka adalah mengenai teori dasar Mantra, dan Harry mendapati dirinya tertarik dengan kerumitan pelajaran sihir tersebut.

"Hey,"

Terdengar suara di sebelahnya, dan Harry menengok. Ia kaget mendapati Hermione duduk di sebelahnya sedari tadi tapi ia tidak memperhatikan.

"Hey," balas Harry, berbisik sementara tangannya menulis apa yang sedang dijelaskan oleh Profesor Flitwick. "Pelajaran pertamamu asik, eh?"

Hermione mengangguk. "Ya, tiga jam pelajaran Transfigurasi. Bagaimana pelajaran pertamamu?"

Harry menyeringai, " Ramuan? Menarik…"

"Kau tahu," Hermione berbisik, dan Harry bisa merasakan Blais yang berada di sebelahnya merapat untuk mendengarkan dan Tracey serta Daphne mencondongkan tubuhnya lebih dekat. Hermione terlihat tidak terganggu mengenai hal ini, mengingat Ravenclaw dan Slytherin mempunyai hubungan yang cukup baik. "Sedari tadi, saat makan malam, Ron Weasley terus berbicara mengenai kau, Harry Potter, yang menghianati dunia sihir dengan masuk Slytherin."

Harry mendengus sementara Blaise mencoba untuk tidak tertawa, "Menghianati? Aku bahkan tidak berhutang apa-apa dengan dunia sihir!"

Hermione mengangguk, "Ya. Tapi kakaknya, si kembar Weasley, menghentikan ocehannya. Kau tahu mereka berdua?"

Harry mengangguk, "Ya, mereka membantuku di kereta."

"Baguslah. Kau tahu, Harry, kau benar. Tidak semua hal bisa dipelajari di buku."

"Baguslah kau mengingat hal itu," Harry tersenyum, lalu kembali menulis.

"Tapi juga ada hal yang lebih baik dipelajari dari buku."

"Ya, kalau kau memasuki teritori baru, kau harus mempelajari apa yang terjadi di sekitarmu. Kau yang harus beradaptasi, bukan sebaliknya."

"Hmm, kau benar juga."

Harry menyeringai, "Tentu saja."

Pelajaran terakhir, Transfigurasi dua jam dengan Gryffindor. Harry mendapati dirinya berada di antara Blaise dan Tracey, sementara Daphne berada di depannya dengan Theo dan Millicent. Pelajaran kali ini hanya mengenai dasar, dan Harry memperhatikan dengan baik walaupun ia sudah belajar dengan Al. Menarik kadang mendengarkan suatu hal yang sama dari dua orang yang berbeda, dengan cara pandang yang berbeda dan sebagainya.

Akhirnya waktu bebas sebelum makan malam, dan Harry mendapati dirinya berada di tempat tidurnya, menuliskan surat kepada ayahnya dengan kode. Garis besarnya adalah mengenai kehadiran seorang Millefiore di sekolahnya, di asramanya. Ia tahu, keadaan di dunia Mafia sudah tidak seaman biasanya. Tinggal tunggu dua sampai tiga tahun lagi, mungkin perebutan kekuasaan akan terjadi kembali.

Pada saat itu terjadi, Harry untungnya sudah lebih tua dan sudah mempelajari apa yang dibutuhkan seorang Capiano untuk memimpin kerajaannya.

"Kau tak apa?"

Harry sudah tidak kaget lagi saat mendengar suara tiba-tiba di dekatnya, tahu kalau itu Blaise. Entah mengapa ia sudah terbiasa dengan kedatangan tiba-tiba Blaise, dan itu menyeramkannya mengingat ia baru mengenal Blaise selama dua hari.

"Hmm, semoga saja, semoga."

Bisa ia rasakan Blaise tersenyum kecil. "Ayo, kalau begitu."

"Hmm, oke."

Mereka berdua berjalan keluar dan disambut oleh Tracey dan Daphne. Mereka berdua berjalan keluar, dan untungnya ruang rekreasi tidak terlalu penuh. Mereka duduk di tempat sama seperti semalam, dan mereka terlihat nyaman-nyaman saja dengan hal itu.

Baru saat itu Harry teringat sesuatu.

"Daphne."

Yang dipanggil mendongkak, menatapnya dengan tatapan tanya.

"Ya, Harry?"

"Ada sesuatu yang harus kusampaikan."

Mendengar nada serius Harry, Daphne langsung duduk tegak.

"Ya, Harry?"

"Sebelum kau membaca surat ini, aku ingin kau merahasiakannya. Kalaupun nanti, kau memutuskan pertemanan denganku, aku harap kau menjaga rahasia ini. Masalahnya, ini bukan rahasiaku. Kau mengerti?"

Yang membuat Harry kaget adalah Daphne langsung mengangguk.

"Kau tahu Harry, dengan statusmu itu, akan ada banyak orang yang akan berteman denganmu hanya demi ketenaran dan uang. Akan kusebutkan dengan lantang, aku tidak mengejar keduanya. Bukan apa, tapi nama Greengrass mempunyai reputasi sendiri, walau masih hanya di Inggris. Belum lagi, kalau suatu saat kau akan menghadapi Voldemort lagi, Greengrass lebih memilih berada di sisimu daripada berada di sisi dark ataupun light."

Harry terdiam, shock di tempat. Sementara di sebelah Daphne, Tracey mendengus.

"Yeah right to the point, Daph. Bukankah kita sudah setuju untuk mendeklarasikan aliansi kita nanti, ketika ia sudah tidak curiga lagi kepada kita?"

"Tapi ia meminta kepercayaan. Ya kuberikan, Cy."

"Don't call me that, Daph. Mungkin kau ada benarnya…"

"Ehm. Dan orang yang sedang kalian bicarakan sedang duduk di seberang kalian sekarang."

Dua kepala langsung melihat kepadanya, dan dua senyuman kecil terlempar kepadanya. Satu sebuah senyum lebar dengan sedikit maaf di sana, satu senyum manis.

Tapi kemudian Harry mengerutkan dahinya, "curiga?"

Daphne mengangguk, "Kau tahu, saat kita pertama bertemu, kau terlihat… waspada. Memperhitungkan semua orang yang berada di sekitarmu, kecuali Blaise dan ketiga anak Ravenclaw itu."

"Hmm,"

"Apa yang ingin kau bicarakan, Harry?" tanya Daphne, suaranya yang kecil terisi dengan rasa penasaran.

"Well, tangan kanan ayah ingin menyampaikan surat ini kepadamu," gumam Harry sambil meraih kantong celananya dan mengeluarkan amplop putih berukuran sedang. "Jujur saja, saking paranoid-nya ia, ia berkata untuk memberikannya kepadamu kalau kau bisa dipercaya dan tidak akan memakai informasi ini untuk membahayakannya, dan ia mempercayakan keputusan itu kepadaku."

"Hmm," Daphne mengangguk dan menerima amplop tersebut. Ia memang sudah tidak terlihat seperti anak perempuan yang pendiam dan pemalu seperti yang Harry lihat pertama kali. 'Mungkin setiap anak Slytherin mempunyai topengnya sendiri', batin Harry, takjub.

Dalam hati, Daphne penasaran dengan siapa orang yang mengirimnya surat. Siapa yang kemungkinan mengenalnya, dan dikenal baik oleh Harry? Terlalu banyak kemungkinan, Daphne tidak bisa memperkirakan.

Tapi, ketika ia melihat amplop tersebut bertuliskan, 'Kepada pewaris keluarga Greengrass', Daphne tahu masalah itu serius.

Perlahan, ia membuka amplop tersebut dan mengeluarkan isinya. Bukan perkamen seperti yang biasa dipakai oleh penyihir, melainkan kertas biasa walau Daphne tahu kertas tersebut bernilai tinggi. Ia perlahan membuka lipatan surat dan membacanya, dengan Tracey memperhatikan dari pundaknya.

'Kepada yang dituju,

Sudah lama tidak menulis surat semi-formal atau itulah yang dibertahu oleh Harry, jadi lebih baik aku langsung saja. Aku Alfonso Greengrass, anak kedua dari keluarga Greengrass. Kau mungkin mendengar cerita mengenai diriku, paman yang tidak pernah kau kenal, yang meninggal saat terjadi penyerangan.

Atau begitulah ceritanya.

Tapi yang sebenarnya terjadi adalah, keluarga Greengrass dipaksa oleh Lord Voldemort untuk menyerahkan anaknya, dalam kata lain diriku, untuk menjadi pengikutnya atau Death Eaters. Dan sebagaimana yang kau tahu dengan baik, keluarga Greengrass selalu netral dalam perang. Maka itu yang kulakukan.

Tapi sayangnya, saat itu Lord Voldemort tidak bisa menerima kata 'tidak'. Maka rencana pun dibuat olehku. Aku akan berada dalam tengah pertempuran, terjebak, dan membiarkan salah satu Death Eaters 'membunuh'ku sementara yang berada di sana adalah kloningku. Trick, memang. Tapi berguna.

Setelahnya, aku mencari tempat tinggal, dan bertemu dengan ayah dari Harry. Beliau menawarkan tempat tinggal, dan sekarang aku bekerja kepadanya.

Oh, jangan berfirasat dulu. Aku sehat dan baik, kau bisa menanyakan Harry.

Sebenarnya, kau dan teman-teman dekat Harry yang sudah ia percaya, bisa datang pada saat liburan Natal nanti, karena ada beberapa hal yang harus dibicarakan mengenai statusku yang sudah 'mati' di dunia sihir.

Sign,

Alfonso Greengrass.'

Daphne membaca surat tersebut tiga kali, dan mendongkak. Menatap Harry tidak percaya.

Yang ditatapnya hanya membalas tatapan sama seriusnya, dan mengangguk.

"Kau tidak salah baca, kau tahu. Dan sekarang, ia berada di rumah dengan aman."

Daphne hanya menatapnya panjang, lalu baru setelah beberapa detik membuka suaranya, "Kau serius?"

Harry mengangkat satu alisnya, "Ya, tentu saja. Menurutmu membuat tulisan bohong itu lucu?"

"Tapi-tapi-"

"Golem,"

"Tapi-"

"Ia meminta bantuan Goblins,"

"Ah, lalu-"

"Kau bisa datang, kau tahu itu. Begitu juga denganmu, Tracey, Blaise, kalau kalian mau."

"Hmm,"

"Apa, Harry?"

Harry menghela nafas, lalu melihat jam-nya. "Besok saja. Sudah jam segini. Aku duluan, ya."

Menyeringai puas mendengar seruan kesal Tracey, Harry bangkit dan mengangguk kepada Blaise, yang membalas mengangguknya. Ia berjalan menuju ruangan anak kelas satu, dan menemukan ruang rekreasi 'mini' diisi oleh Theodore Nott yang sedang membaca. Mengangguk kepadanya, Harry berjalan menuju kamar anak laki-laki. Baru saja ia akan mengganti baju, ia mengingat surat yang ia tulis untuk ayahnya belum ia kirim.

"Well fuck," gumam Harry, menaruh daggers -nya ke dalam laci dan menguncinya. "Sepertinya harus kutunggu sampai besok. Jam malam sebentar lagi."

TBC


Dalam rangka merayakan beresnya UAS, akhirnya bisa update!

Mungkin rada tak jelas atau tak berinti, tapi entah mengapa lagi pengen mood nulis begini. Maaf kalo interaksi Harry-Blaise-Tracey-Daphnenya rada kecepetan, tapi untuk tahun ini tak sempurna-sempurna amat kok ke sananya! :D

SEMANGAT YANG MAU UAS! SEMOGA LULUS!

Review?