Harry berjalan menuju kamar anak laki-laki. Baru saja ia akan mengganti baju, ia mengingat surat yang ia tulis untuk ayahnya belum ia kirim.
"Well fuck," gumam Harry, menaruh daggers -nya ke dalam laci dan menguncinya. "Sepertinya harus kutunggu sampai besok. Jam malam sebentar lagi."
Moonlight Shadow
Disclaimer: Harry Potter belongs to J.K Rowling.
Summary: Ditinggal di sebuah gang gelap pada umur empat tahun, Harry Potter ditemukan oleh Pemimpin tertinggi Mafia di Eropa dan diadopsi sebagai satu-satunya pewaris. Dibesarkan dengan cara yang tidak diprediksikan oleh Albus Dumbledore, Harry kembali ke Dunia Sihir untuk memulai petualangannya di Hogwarts, dan ia tidak akan membiarkan seorang kepala sekolah mengatur hidupnya.
Eventually Blaise/Harry, tapi sepertinya untuk pair itu masih sangaaat lama ._.v untuk pair lain masih belum diputuskan, mari kita lihat sesuai jalan cerita :D
A/N: Manipulative!Dumbledore, sedikit bashing!Ron, SLYTHERIN!HARRY, Ravenclaw!Hermione, Eventually SLASH, AU, OC, OOC, a little bit mention of MPreg – Male Pregnancy. Kalau tak suka Dumbledore yang tidak se-'putih' di buku silahkan tekan tombol 'back', dan sebagainya. Terinspirasi dari fict Blood Prince dan sequel-sequelnya oleh ShadeDancer. Berminat untuk membaca? Lihat di list fave-storiesku :D
Sayang banget di cerita itu, Fem!Blaise, tapi di sini Blaise-nya cowok kok kan fict Slash :p Yaaah, karena fict Blaise dikiiit banget di HPE apalagi di HPI dan saya tidak berminat baca fict dengan bahasa selain dua bahasa itu, saya berkesperimen dengan pair iniii, semoga suka!
WARNING! Harry is cussing alias mengumpat kawan -_-
Keterangan:
"Speak" : Berbicara normal
"Speak" : Bahasanya berbeda, atau istilah
::Speak:: : Parseltongue
'Speak' : Berfikir
Enjoy!
Chapter 6 – School
.
14th of September, 1991
Slytherin Dorm
Dua minggu berlalu sejak Harry pertama kali menginjakkan kakinya di Sekolah Sihir Hogwarts. Kelas berjalan dengan lancar dan tidak ada insiden terjadi sejauh ini. Mungkin ia mendengar beberapa ejekan dilontarkan kepadanya oleh beberapa anak, tapi Harry tidak mendengarkan mereka. Masa bodo. Mereka tidak mengenalnya dengan baik, dan bahkan beberapa anak tidak Harry kenal namanya. Buat apa repot?
Tapi pagi ini, di hari Sabtu yang bisa dibilang cerah, Harry terbangun dari mimpi buruk.
Terengah-engah, Harry menutup matanya dan menaikkan tangannya ke wajahnya. Menarik nafas dalam-dalam, Harry mengusap keringat yang turun di sepanjang pipinya.
Mimpinya…
Kejadian itu terjadi empat tahun yang lalu… tapi kenapa ia masih memimpikannya?
Harry mengeluarkan nafasnya, gemetar sedikit. Ia menarik kedua kakinya dan memposisikannya di depan dadanya, dan melingkarkan lengan di sekitar lututnya. Selimut ia naikkan sampai leher, dan ia bisa merasakan tubuhnya bergetar.
Menutup matanya erat-erat, ia berusaha menghilangkan gambar-gambar yang terus muncul di ingatannya… gambar-gambar yang ia, dengan susah payah, ingin lupakan.
Ia bisa merasakan seseorang menghampirinya, dan tubuhnya menegang dengan sendirinya. Tapi kemudian, sebuah tangan menghampiri pundaknya dan entah bagaimana ia tahu milik siapa tangan itu, dan ia relaks sedikit.
Bisa ia rasakan Blaise duduk di belakangnya, tangannya mengusap pundaknya perlahan, menenangkan. Harry menarik nafas dalam-dalam, menenangkan emosinya.
Setelah beberapa saat, Harry akhirnya bisa mengendalikan nafasnyan menjadi lebih teratur dan ia mendongak, menoleh ke belakang.
Ia tersenyum lemah ketika kedua mata emerlads-nya menemukan mata cemas roomate-nya itu. "Thanks…"
"No prob." Blaise kemudian terdiam, lalu berkata hati-hati, "wanna talk about it?"
Harry terdiam sejenak, lalu menggelengkan kepalanya. Ia mungkin sudah mempercayai Blaise… tapi tidak sampai tingkatan di mana ia merasa nyaman membicarakan masa lalunya, terutama traumanya. Lagi pula hal itu wajar, mengingat ia baru mengenal Blaise kurang lebih dua minggu.
...well, kalau tidak menghitung beberapa kali mereka bertemu dengan tidak sengaja. Tapi bukan berarti Harry, walau merasa nyaman dengan Blaise, bisa mempercayainya sepenuhnya, sampai ke emosinya.
Mereka terdiam di posisi itu sampai mata Harry mulai mengantuk, dan ia meraih tongkat sihirnya dan bergumam "Tempus" dan waktu menunjukkan pukul dua dini hari.
Oh well, masih banyak waktu baginya untuk tidur.
Perlahan, matanya menutup, tidak menyadari bahwa Blaise, di belakangnya, perlahan-lahan menyenderkan tubuhnya sampai benar-benar terlentang di tempat tidurnya, atau saat Blaise menyelimutinya dengan selimut yang terjatuh.
Esoknya, Harry masih bisa tampil seperti biasa walau sebenarnya, dalam hati ia bisa merasakan dirinya kecapekan. Walau begitu, ia masih tetap belajar seperti biasa, mengerjakan tugas-tugasnya sebaik yang ia bisa -dengan kata lain, mendekati 'sempurna'. Tapi ia tahu Blaise memperhatikannya, dan entah mengapa ia takut kalau 'topeng'nya terbuka sedikit.
Tapi ia mengikuti kata pikirannya dan mengabaikannya.
Untunglah, atau sayangnya, dilihat dari sudut pandang siapa, 'topeng'-nya sedikit retak.
Ini hari kelima, dan Harry sama sekali tidak mendapatkan istirahat yang cukup. Sudah mulai ada kantung mata di bawah matanya, tapi ketika Tracey atau Daphne menanyakannya, ia hanya bilang bahwa ia kurang tidur. Ia memang kurang tidur, dan tidur yang ia dapatkan tidak menyamankannya.
Entah bagaimana Harry bisa mempunyai teman se-protective Daphne, atau Tracey yang observant. Belum lagi Blaise yang benar-benar mengetahui mengapa ia tidak mendapat tidur yang cukup setiap malam.
Harry memang memakai Silencing Charm, tapi entah bagaimana Blaise masih bisa mengetahui saat ia mulai berteriak atau berputar di tempat tidurnya karena mimpi buruknya. Alhasil, setiap malam ia akan dibangunkan oleh Blaise, dan ditenangkan olehnya.
Malam ke delapan, Blaise sudah tak tahan lagi.
"Harry," anak laki-laki yang biasanya pendiam itu angkat bicara. Suaranya lembut. Melipatkan kedua lengannya, ia menghadap anak laki-laki bermata hijau cerah itu, kedua matanya tajam. Harry menghela nafas, menyenderkan punggungnya di kepala tempat tidur.
"Blaise?"
"Kau harus tidur, Harry. Delapan hari berturut-turut. Dan mimpi-mimpi burukmu itu! Kau harus menceritakannya kepada seseorang, dan kalau kau tidak menceritakannya kepadaku, kau bisa bicara dengan Tracey, Daphne, atau bahkan Profesor Snape! Kau kecapekan, kau bahkan tertidur sepenuhnya di pelajaran Binns, dan biasanya setidaknya kau akan berpura-pura mendengarkan! Dan porsi makanmu itu lebih sedikit daripada biasanya. Kau bisa saja minum Dreamless Sleep, tapi kau bisa kecanduan. Dan untuk memintanya, kau harus ke Profesor Snape. Please, Harry. You worn out yourself."
Harry menghela nafas. Temannya yang pendiam, yang hanya sebagai observant, bicara sepanjang itu. Kondisinya pasti menyedihkan, dan bahkan ia sendiri yakin kantung matanya menebal. Ia sendiri sudah merasakan rasa capek mulai menguasainya, walaupun sekarang baru pukul delapan di hari Minggu.
Harry tahu malam ini ia pasti tidak bisa tidur lagi karena ia tahu mimpi buruknya pasti datang. Masalahnya, malam ini pasti lebih parah karena puncaknya. Mimpi buruknya bukan hanya memori dari malam itu, tapi juga rasa takut yang terlalu sering hinggap di dirinya.
Menyisirkan tangannya ke rambutnya, Harry menghela nafas dan menutup matanya. Perlahan, ia mengangguk.
"Aku akan ke Profesor Snape. Kau boleh ikut, tapi keputusanku untuk menceritakan mimpiku terserah kepadaku."
"Setidaknya kau mencoba untuk lebih baik. Kau tahu kalau Tracey protes ia tidak bisa berhenti."
Harry berhenti dari posisinya akan berdiri. "Tracey tahu?"
"Ya, dan Daphne juga."
"Shit!"
Blaise menyeringai. "Mereka hanya tahu karena mereka terlalu perhatian padamu, dan sebagai temanmu wajarlah mereka melihat ada yang berbeda denganmu. Daphne bahkan berkata akan langsung menanyakannya kepadamu kalau kau tidak berubah."
Harry menggerutu, akhirnya menemukan sepatunya dan memakainya. Meraih jubahnya yang berwarna hijau tua, ia memakainya di atas celana training biru dan kaus berwarna putih. Akhirnya berhasil memakai kedua sneakers berwarna hitam-abu, ia melihat ke arah Blaise. "Kau ikut?"
"Nah, aku di sini saja. Mungkin Tracey dan Daphne akan datang. Kita masih ada tugas, essai Transfigurasi, kau ingat?"
Harry terdiam sebentar, mencerna perkataan Blaise. Lalu ia menggelengkan kepalanya, "essai, lagi?"
Blaise tertawa, lalu mendorong Harry keluar. "Ayolah. Walau masih dua jam lagi sebelum jam malam, lebih cepat lebih baik, eh?"
Mengangguk, Harry membuka pintu dan menutupnya, berjalan sepanjang lorong kecil yang membawanya ke ruang rekreasi 'mini'. Di sana, terdapat Millicent dan Pansy, duduk di pojokan mengobrol. Ia juga bisa melihat Tracey dan Daphne berada di dekat mereka, tapi tidak mengikuti keduanya sama sekali. Mata mereka bertemu, Harry menghela nafas dan mengangguk, tahu kalau kedua temannya itu akan mengerti.
Bisa ia lihat Tracey menyeringai puas dan Daphne tersenyum kecil.
Menggelengkan kepalanya, ia melewati pintu yang membawanya ke ruang rekreasi Slytherin, menemukan banyak yang masih berada di sana untuk mengerjakan tugas. Mengangguk kepada beberapa orang yang ia kenal wajahnya dan sedikit nama, ia berjalan menuju pintu.
Sayang sekali ia tidak menyadari sepasang mata yang memperhatikannya lekat-lekat.
Berjalan sepanjang koridor gelap, Harry tidak menemukan siapa-siapa, dan ia bersyukur karena hal itu.
Sepanjang perjalanan, ia berfikir. Apa ia akan menceritakan mimpinya kepada Profesor Snape? Ia tidak ingin menulis surat kepada ayahnya atau Al, mereka pasti akan khawatir, dan mungkin berlebihan. Dan ia tahu bahwa Kim sedang dalam misi undercover, Vane sedang dalam perjalanan diplomatis. Nicole dan Angel… mereka berdua sedang pergi entah kemana, sesuatu yang classified. Kalau Taichi, Frans dan Lewis… memang mereka adalah temannya diluar Blaise, Tracey dan Daphne, tapi mereka beda. Lagi pula, insiden beberapa tahun yang lalu, salah satu tersangkanya adalah penghianat dari keluarga William, dan Harry tahu Lewis masih canggung apabila berbicara dengannya mengenai keluarga mereka.
Oke, mungkin apabila Profesor Snape menanyakan untuk apa ramuan itu, ia akan memberitahunya.
Akhirnya ia sampai di depan sebuah lukisan. Salazar Slytherin.
::Ah, siapa di sana?::
Harry mendongak dan tersenyum. Beberapa hari yang lalu, ia tidak sengaja bertemu dengan potret The Founders. Mereka saling bercakap-cakap, dan terkadang Harry berbicara dengan Salazar Slytherin dengan Parseltongue.
::Ini aku, Hadrian.::
::Ah, Hadrian. Come clossse, kid. Hmm, benar kata Severus. You have been better.::
::Well, apologize me. I had… many rouge nights.::
::Really, kid thisss day. Aku akan memberitahu Severus dulu mengenai kedatanganmu, kid.::
::Thanks, Sal.::
Harry menunggu beberapa saat sampai kemudian Salazar kembali, ular masih di pundaknya dan beberapa detik kemudian lukisan itu terbuka.
Di depannya, terdapat sosok Severus Snape.
Harry menelan ludah tanpa sadar.
"Sir?"
Severus terdiam sejenak, lalu membuka lukisan lebih lebar. "Masuklah."
Ini pertama kalinya Harry masuk ke dalam ruangan pribadi milik guru Ramuannya. Ia menarik nafas, dan tanpa sadar 'topeng'-nya sebagai anak dari Makarov Capiano muncul.
Ia tahu kalau Snape memperhatikannya, tapi ia terlihat tidak peduli. Ia kemudian mengikuti gurunya ke ruang duduk dan membiarkan dirinya dibawa ke sofa. Duduk dengan hati-hati, Harry melihat gurunya itu duduk di satu sofa di seberangnya. Sebuah cangkir kopi berada di depannya, dan Harry asumsikan gurunya itu sedang menikmati secangkir kopi saat ia datang.
"Ada masalah apa, Mr. Potter?"
Suara gurunya yang datar, tenang, membuatnya terlepas dari pikirannya. Menatap gurunya, Harry memulai hati-hati.
"Maaf mengganggu anda, Profesor Snape, tapi… bolehkah saya meminta Ramuan Dreamless Sleep?"
Terdapat jeda sebentar sebelum gurunya itu menjawab, "dan apakah permintaannya ini berkaitan dengan kondisimu yang tidak baik akhir-akhir ini?"
Harry terkaget sesaat. Tadi, saat Sal memberitahunya kalau Severus mengetahui kondisinya, Harry pikir itu hanya angin lalu. Tapi rupanya gurunya itu tahu.
Oh god, apa tiga minggu jauh dari rumah membuatnya kehilangan kepribadian yang susah payah ia buat, demi menjaga nama Capiano?
"Iya, sir. Akhir-akhir ini aku mempunyai mimpi buruk… dan makin ke sini makin buruk."
Harry bisa rasakan kedua mata hitam itu menatapnya, menelitinya. Tapi Harry tetap menatap pahanya, tidak berbicara apa-apa. Akhirnya, pendengaran terlatihnya mendengar suara orang berdiri, dan ia tahu gurunya itu sedang berdiri dan berjalan menjauh. Memasuki salah satu pintu. Setelah beberapa detik, ia kembali mendengar Master Ramuan itu kembali, dan duduk di sampingnya.
"Do you want to elaborated it?"
Harry tahu kalau gurunya pasti akan menanyakannya.
Ia menarik nafas dalam-dalam, dan tangannya memijit dahinya. Menutup matanya, ia mulai merileks-kan pundaknya, dan bersandar ke punggung sofa. "It's a memory… from a long time ago."
Severus menaikan alisnya. "Ingatan?"
"Ya…" Harry mengangguk suram, "memori dari malam empat tahun yang lalu. Semua berawal dari saat sebuah kelompok memasuki rumah, dan para penjaga mengalami kesulitan. Dad… dad sudah memberitahu jalan keluar yang aman; jalan di mana langsung membawaku ke safe house. Tapi dad tinggal di sana, membantu penjaga melawan kelompok itu dan memastikan dokumen-dokumen penting tidak berada di tangan mereka. Aku-aku harus ke sana sendiri. Tapi untungnya, sebelum aku ke sana kelompok itu sudah berhasil dilumpuhkan…"
Severus tahu ada kelanjutan dari cerita itu, karena sepertinya yang membuat Harry mengalami mimpi buruk bukan memori itu, tetapi yang lain. Dan ia menunggu sampai anak dari musuhnya itu berbicara.
"Tapi… anggota terakhir mereka rupanya masih hidup… dan menembak dad, dari belakang. Mengenai dadanya… Do-dokter bilang mereka tidak akan tahu apakah ia akan selamat atau tidak karena ia kehilangan banyak darah dan lukanya begitu dekat dengan paru-paru- tapi bukan darah atau luka yang membuatku takut!"
Harry sekarang menatapnya, kedua matanya melebar. Harry tahu ia sangat tidak dirinya, tapi bayang-bayang ayahnya meninggal saat menjalankan misi, bayang-bayang ayahnya pergi selama beberapa hari, minggu, atau bulan sementara ia menunggu di rumah, dan mendapati berita bahwa ia tidak akan bisa berbicara dengan ayahnya lagi…
"Mi-mimpi-mimpiku semakin lama semakin buruk… awalnya hanya memori saat dad ambruk setelah ditembak orang itu, lalu berubah saat dad ditusuk di punggung, hampir merusak tulang punggungnya, atau saat dad pergi dan-dan yang mereka bawa pulang ha-hanya tubuhnya… I'm afraid of losing my dad, and tomorrow is that day, the day I almost lost him because of a fucking document."
Ah.
Saat pertama Severus melihat Harry James Potter di depan pintunya, ia pikir anak tersebut akan berbuat seperti ayahnya. Mengacau atau apalah. Tapi kemudian ia meneliti sedikit anak yang sekarang berda di asramanya, dan ia melihat tanda-tanda kecapekan. Muka pucat, kantong mata di bawah mata, dan mata hijau cerahnya –yang begitu mengingatkannya pada Lily- tidak dingin atau tanpa emosi seperti biasanya, tapi menampakkan rasa capek dan frustasi, dan dull.
Lalu kemudian, ketika Potter meminta Dreamless Sleep, kecurigaan Severus selama beberapa minggu ini terbukti; anak itu kurang tidur karena sesuatu. Saat ia pergi ke lab-nya dan mengambil satu botol kecil ramuan Dreamless Sleep, ia kembali mendapati Potter masih menundukkan kepalanya.
Minggu pertama masuk, Severus pesimis tentang seorang Potter bisa bertahan di asrama Slytherin, tapi bukti dan observasinya berkata lain.
Anak itu seorang Slytherin.
Ia tidak pergi mengejek anak-anak muggleborn, atau anak-anak Gryffindor, atau mem-bully anak-anak Hufflepuff. Ia bermain di bayang-bayang. Saat ada seseorang, atau suatu kejadian, ia hanya memperhatikan dari samping, tapi Severus bisa melihat kedua matanya berkilat; ia mengobservasi situasi dengan cermat. Tapi ia tidak ikut campur, ia hanya memperhatikan. Watcher.
Lalu di kelas, ia tidak heboh atau menarik perhatian seperti ayahnya, ataupun temperamen dan menarik seperti ibunya. Ia memperhatikan pelajaran dengan baik, ia mencatat hal-hal yang perlu. Ia mengerjakan tugas tepat waktu, tidak berlebihan seperti Granger tapi tidak malas-malasan seperti Weasley. Essai-essainya rapi, to the point.
Ia bisa saja menjadi Ravenclaw, tapi Severus tahu ia tidak memiliki sifat Ravenclaw yang ingin tahu apa saja. Ia lebih ke pendalaman suatu hal yang menurutnya menarik, dan mencernanya. Atau mencari tahu yang penting. Ia gampang mencerna pelajaran, tapi ia tidak sok tahu, hanya menjawab ketika di tanya.
Dalam arti lain, tidak mencari perhatian dalam kelas; menyembunyikan kepintarannya yang sebenarnya. Dari siapa, Severus awalnya tidak tahu. Tapi lama kelamaan, ia tahu bahwa Potter menyembunyikan sosoknya yang sebenarnya dari Dumbledore.
James Potter adalah orang yang arogan, mencari perhatian, heboh, dan tergesa-gesa. Tapi Harry Potter cerdik, diam-diam, tidak menarik perhatian.
Dan Severus bertanya-tanya apa lagi yang disembunyikan bocah berumur sebelas tahun itu, dan dari mana ia mendapatkan hal-hal itu.
Saat ia mendengar Potter membutuhkan ramuan itu karena mimpi buruk, Severus bertanya-tanya dalam hati, apa yang membuat anak semuda itu memimpikan hal yang buruk, dan membuatnya susah tidur.
Dan ia mendapatkan jawaban yang sama sekali tidak ia pikirkan.
Oh, ia tahu kalah Harry Potter, The Boy-Who-Lived tidak tinggal dengan paman dan bibinya sejak lama, dan ia tetap penasaran dengan siapa anak itu tinggal. Dan ia tahu Dumbledore selama ini berusaha membaca pikiran anak itu, tapi selalu ada shield disekeliling pikirannya, ataupun ketika ia berhasil masuk hanya berada di layer terluar pikiran bocah itu. Sebuah ruang segi empat dengan matras di tengah-tengah ruangan, dan lemari-lemari di dinding. Ada sebuah pajangan di dinding atas, dan Dumbledore memberitahunya bahwa pajangan di sana adalah berbagai macam pistol dan daggers.
Ia juga tahu fakta bahwa Harry Potter mengenal orang-orang yang selama ini tidak mereka duga.
Pada awalnya, Dumbledore yakin kalau Potter masuk ke Hogwarts, ia akan berteman dengan keluarga Weasley, dan mereka bahkan telah membicarakan perjodohan antara Potter dengan anak bungsu keluarga berambut merah itu. Tapi Severus sering melihat Potter berbicara, atau berdebat dengan Ms. Darcey, Mr. William dan Mr. Hibari, ketiganya dari Ravenclaw. Dan terkadang mereka berbicara dengan bahasa lain, terkadang Prancis, terkadang Jepang.
Dan itu membuat Severus kembali berfikir siapa yang membesarkan Potter muda itu.
Sekarang, ia mendengar salah satu 'anak asuh'nya, yang terlihat tidak sehat, menceritakan tentang mimpi yang mengusiknya.
"… I'm afraid of losing my dad, and tomorrow is that day, the day I almost lost him because of a fucking document."
"Language, Mr. Potter."
Harry menatap ke bawah, "M'sorry, sir."
"Hmm. Are you sure after drinking this you can sleep? Or do you need something else?"
Potter menggeleng, "Usually, dad come to assure me he's still here, still alive. But now he's gone to Germany, actually in two days. Doing business, he says. And I don't want to worry him and cancel his trip, cause this trip is really important."
Severus mengangguk, lalu menyodorkannya botol ramuan dan dikantongi Potter dengan hati-hati, dan mengangguk saat Potter memberikannya senyum kecil.
"Sekarang, tidurlah. Besok hari Senin, dan aku tidak ingin melihat Slytherin kehilangan angka."
Potter mengangguk, lalu berdiri. "Yessir. Dan terima kasih, sir, dengan ramuannya."
Severus kembali mengangguk. "Sekarang, pergilah. Jam malam sebentar lagi."
Potter berbalik dan berjalan menuju pintu ruangannya, dan membukanya perlahan. Baru ketika pintu kembali tertutup, ia menghela nafas dan menyenderkan punggungnya ke punggung sofa.
"Anak yang menarik dia itu, Severus."
Tanpa membuka matanya, Severus tahu siapa yang berbicara. "Oh? Dan aku tidak tahu kau mengenalnya dengan baik, Salazar."
"Ia berbicara bahasaku, Severus."
Ini menarik perhatiannya. "Apa?"
Ia bisa merasakan Salazar menyeringai di setiap kata yang ia ucapkan. "Ah, kau belum tahu? Ia bisa berbicara bahasaku, Parselmouth."
Hanya satu hal yang keluar dari mulutnya, yang muncul di otaknya. "Oh god."
Salazar memutar matanya, terlihat kesal tapi bersemangat. "Ya, 'oh god'. Dan sedikit jenius, really.Kau tahu ia beberapa hari yang lalu menemukan potretku yang satu lagi, yang tersembunyi di kastil karena ulah Dumbledore? Ia membersihkannya, dan menyimpannya di salah satu ruang kelas tersembunyi yang sering ia pakai. Membicarakan tentang banyak hal, benar-benar menarik dia itu."
"Tunggu. Untuk apa ia sering memakai ruang kelas tersembunyi?"
Di sini, Salazar terlihat sedikit kaget. "Kau tidak tahu? Ia sering berlatih hand-to-hand combat, katana, dan melempar daggers. Aku kaget anak jaman sekarang sama sekali tidak tahu bela diri tanpa sihir. Padahal jamanku dulu, sering sekali diadakan duel bebas…"
Harry Potter dan hand-to-hand combat?
Kenapa tidak terdengar sama sekali?
"Dan seberapa seringnya, Salazar?"
Salazar menatapnya sedikit curiga, "kau tidak akan menghentikannya bukan, Severus? Karena, untuk informasi saja, ia mempunyai talenta di bidang bela diri."
Severus terdiam, lalu menggeleng kepalanya. "Tidak, hanya ingin tahu saja."
"Sekitar seminggu tiga kali, dan kalau ia tidak mempunyai banyak tugas, seminggu lima kali."
"Hmm, jadual yang padat."
"Ya…"
Severus terdiam sebentar, lalu menegak minumannya yang sesaat terlupakan. Lalu akhirnya ia berdiri dan meluruskan jubahnya. "Well, sekarang saatnya aku melanjutkan ramuan untuk Poppy. Beberapa hari lagi Gryffindor dan Slytherin akan mendapatkan pelajaran terbang pertama mereka di lapangan."
"Ah, Gryffindor dan Slytherin jaman sekarang… padahal dulu aku dan Godric tidak pernah seperti itu."
Baru sekarang Severus menyeringai lebar, "karena kalian sibuk mendominasi satu sama lain… di tempat tidur."
"SEVERUS!"
Master Ramuan itu tertawa sembari menutup pintu lab-nya.
.
.
21st of September, 1991
Hogwarts Library
"…Tracey, kau salah di bagian ini-"
"-tapi Daph, aku sudah membacanya dengan jelas! Aku yakin seharusnya memang begitu-"
"-tapi kau seharusnya ingat, Cy, pelajaran Mantra minggu lalu jelas-jelas menjelaskan tentang pengucapan-"
"Kalian," Harry menghela nafas, memijat keningnya, "Mantra Melayang. Mantra, 'Wingardium Leviosa'. Pengucapan mantra, 'Wing-gar-dium Levi-o-sa'. Gerakan tangan, ayun dan sentak. Cara kerja; sihir dari core dalam tubuh, dipusatkan pada inti tongkat sihir yang pada dasarnya berguna untuk menyalurkan sihir dari tubuh, lalu dengan aim yang pas, benda dapat terangkat dengan sihir yang mengalir dari tubuh. Guna dari mantra, adalah untuk 'mengikat' sihir dari tubuh ke objek tersebut. Cara melepaskan sihir dari objek adalah hanya dengan menggeser tongkat dari objek, cukup jauh untuk sihir tidak dapat meraihnya. Tanpa pelafalan kata yang benar, sihir tidak akan terikat kepada objek sehingga gagal melayangkan benda." (1)
Sunyi menyambutnya.
"Apa?" suara Harry defensive, menatap ketiga temannya.
"Waw Harry…" gumam Tracey, menatap Harry kagum. "Kau penyelamat!" dan dengan itu, ia menuliskan kata-kata Harry dengan kalimatnya sendiri.
"Aku tidak tahu rupanya begitu cara kerjanya," gumam Daphne, mencari-cari lagi informasi dari beberapa buku di perpustakaan.
Harry hanya menyeringai, "kau harus belajar dasar sihir terlebih dahulu, atau definisi dari sihir itu sendiri. Pertama kali datang ke Hogwarts, aku kaget saat pelajaran-pelajaran yang membutuhkan pemahaman sihir yang dalam langsung ke teori pelajaran itu sendiri, tidak sihir secara keseluruhan. Kalau tidak mengerti sihir dari dasar, lebih susah untuk sukses mempraktekan beberapa mantra."
"I never knew you this smart,"
Harry menatap temannya yang berada di sampingnya, tersenyum lebar. "Oh, ini baru sedikit."
"Potter besar kepala, eh?"
Harry men-death glare Tracey yang hanya menyeringai sementara Daphne tersenyum kecil. Tapi anak perempuan itu langsung memasang muka datar.
Setelah hampir sebulan berada di Hogwarts, Harry bisa menilai beberapa anak-anak, dan posisi-posisi mereka di mata publik.
Asrama Gryffindor, tidak ada yang spesifik sih. Tapi si Kembar Weasley yang paling terkenal, lalu kakak mereka Percy Weasley, seorang Prefek yang cerewet dan benar-benar taat peraturan. Lalu Oliver Wood, kapten Quidditch Gryffindor. Beberapa anggota Quidditch juga terkenal. Lalu sekarang, yang mereka kenal, atau dipaksa kenal karena keadaan, adalah Ron Weasley. Neville Longbottom oke-oke saja, walau sedikit gugup anaknya. Dean Thomas dan Seamus Finnigan, tidak terlalu 'terlihat'. Parvati Patil dan Lavender Brown, penggosip yang bisa disamakan dengan Pansy. Lalu Sally-Anne Perks, pendiam.
Asrama Hufflepuff, sedikit sulit diperkirakan. Sebenarnya sih, ia tidak terlalu kenal anak-anak Puff kecuali beberapa orang di angkatan mereka, seperti Hannah Abbot, Susan Bones –di sini Harry kenal, karena tantenya, Amelia Bones, adalah orang penting di Kementrian- Justin Finch-Fletchley, yang racist, seperti kata Tracey.
Anak-anak Ravenclaw ia kenal baik. Tentu saja Hibari Taichi menggunakan sifat ayahnya, Hibari Kyoya, yang adalah mantan Prefek yang terkenal bertangan besi. Baru tahun kedua, tapi sudah terkenal sifatnya yang jenius dan sedikit sadis kalau perlu, tapi terkadan bersikap baik. Sifat bertabrakan yang ia dapat dari kedua orangtuanya, Hibari Kyoya dan Sawada Tsunayoshi. Tapi jelas-jelas, ia mendapat sifat kepemimpinan ayahnya. Francissa Darcy, temannya itu juga terkenal karena kecantikannya, tapi juga dari namanya. Keluarga Darcy terkenal di dunia sihir –Harry hampir ingin memukul kepalanya ke meja karena tidak melihat ini dengan jelas. Keluarga William… terkenal di kalangan pureblood, karena mereka berada di Prancis dan politik di sana lebih maju.
Slytherin.
Dari luar, mereka semua bersikap seperti apa yang kalangan sosial ingin lihat. Mereka ingin melihat Draco Malfoy sebagai seorang brat yang selalu berbicara tentang ayahnya; dan mereka mendapatkan itu. Tapi sebenarnya, di dalam asrama, Draco sedikit-sedikit kehilangan pegangan terhadap ayahnya, dan mulai menjadi dirinya sendiri. Harry dan Draco sering berargumentasi, tapi tidak diisi dengan rasa marah –ia malah lama kelamaan merasa geli, karena dengan Draco ia bisa saling mengejek satu sama lain seperti anak-anak.
Harry juga tahu fakta bahwa orang-orang melihat Daphne sebagai 'Ice Princess' mereka karena muka datar dan dinginnya. Padahal, Daphne termasuk anak lembut dengan sifat keibuan, dan menjadi 'kakak' di antara mereka berempat. Dan orang-orang ingin melihat Tracey sebagai seorang yang angkuh, dan mereka mendapatkannya hanya karena Tracey jarang tersenyum. Walau yang sebenarnya adalah Tracey termasuk tipe cewek tsundere –oke, Harry akan menyalahkan Taichi karena kosakata bahasa Jepangnya aneh-aneh sekarang- yang blunt, tapi walaupun begitu masih mempunyai ambisi dan kelicikan seorang Slytherin.
Mereka melihat Marcus Flint sebagai seorang yang keji karena postur tubuhnya dan –rumor- bahwa permainan Quidditchnya kasar. Tapi Flint bisa menjadi orang yang sabar dan toleran kepada orang lain, masalahnya hanya ia susah mengekspresikan dirinya sendiri.
Harry bingung bagaimana orang-orang tidak melihat ini sedari awal. Setidaknya, minimal mereka yang berada satu angkatan menyadari bahwa mereka bukan orang-orang yang kalangan sosial ingin lihat. Mereka bisa berubah, atau bahkan beberapa hal yang orang lain lihat bukanlah diri mereka yang sebenarnya.
Oh well, salahkan saja prejudice. Pantas saja anak-anak Slytherin bersikan defensive seperti itu, yang peduli kepada mereka hanya mereka sendiri. Bahkan beberapa guru pun bersikap berbeda kepada mereka.
Yah, yang benar-benar adil kepada mereka hanya Profesor Snape. Wajar saja ia sering memberi point tinggi.
Harry menghela nafas; berfikir intens seperti ini membuat kepalanya sakit. Mana ia belum menyelesaikan membaca buku yang disuruh oleh Al pula!
Menggerutu, ia melihat tumpukan perkamen di depannya. Ia masih harus menyelesaikan essai transfigurasi tentang perubahan dari kayu ke metal. Essai Ramuan, tentang beberapa bahan.
Harry mendongak. "Hey kalian…"
"Oh tidak, Harry."
"Hey, aku bahkan belum berbicara!"
Blaise menghela nafas, "kau pasti ingin meminta bahan essai. Ya kan?"
Harry melipat kedua lengan di dadanya, pura-pura kesal, "hey, setidaknya hanya bahan, bahan! Bukannya aku meminta seluruh essai-mu untuk ku lihat!"
"Harry, kau bisa cari bahan sendiri. Perpustakaan ini besar."
Harry menghela nafas, mulai beranjak dari kursinya dan men-death glare Slytherin berkulit hitam itu, dan sebuah alis yang naik adalah balasan yang ia dapat. Menggerutu, ia mulai berjalan menuju daerah Transfigurasi.
Sambil menggerutu dalam hati, ia melayangkan matanya kepada buku-buku yang tersusun rapih di rak di depannya, mencari buku yang setidaknya menyimpan informasi yang ia butuhkan. Harry sendiri lumayan cepat dalam mencari informasi, mengingat ayahnya, Al, dan Nicole adalah perncari informasi terbaik yang mereka punya.
Saat ia akan kembali ke meja diskusi yang dipakai olehnya, Blaise, Tracey dan Daphne, ia berhenti ketika melihat siapa yang berada di meja diskusi dengan jarak tiga meja dari tempatnya.
Taichi, Frans, Lewis, dan seorang Ravenclaw tahun pertama yang ia yakini bernama Terry Boot.
Lalu kesadaran menghantamnya.
Boot!
Nama salah satu anggota Shadow!
Ia mempercepat jalannya, berhenti hanya sebentar di mejanya untuk menaruh bukunya di sebelah tugasnya dan berbisik kepada mereka, "sebentar", dan berjalan menuju meja Taichi.
"Sepertinya kalian sibuk mengobrol tanpaku, hmm?"
Aksen Inggrisnya membuat bahasa Jepang yang ia pakai sedikit aneh, tapi toh ia telah memakai bahasa itu sejak lama, setidaknya ia sudah terbiasa.
"Hadrian!"
"Sssh, kalian! Sudah dibilang, di sini panggil aku Harry!"
"Kami baru akan memberitahumu saat kami benar-benar yakin dengan informasi ini, Harry," ucap Frans cepat, beralih ke bahasa Prancis.
Harry hanya menaikan alisnya.
Lalu tiba-tiba, Boot angkat bicara. "A pleasure to meet you, Boss. Ayah berbicara tinggi tentangmu."
Harry memandang Boot, tersenyum. "A pleasure. Ya, aku mengenal ayahmu. Beberapa kali menemuinya di rumah. Bagaimana kabarnya?"
"Terakhir, aku mendengarnya sedang pergi misi ke Jerman, tapi tidak tahu lagi."
"Hmm, akhir-akhir ini keadaan di rumah memang sedang sibuk."
Harry mengambil tempat duduk di sebelah Frans, menatap mereka. "Jadi?"
"Kami baru akan membicarakan mengenai identitas anak kelas empat itu, yang menurut sumbermu dan sumberku, seorang Millefiore. Yang kita butuhkan hanya nama depannya, dan kita bisa mendapatkan informasi tentangnya, dan mengapa ia berada di sini."
"Hmm, mungkin aku akan menanyakan Blaise."
Informasi ini meenangkap perhatian Frans, yang langsung mencondongkan tubuhnya, "Oh? Dan apakah mereka sudah tahu mengenai namamu yang satunya lagi?"
Harry mengangkat bahunya tak peduli, walau dalam hati ia takut juga. "Tidak tahu. Blaise tahu pastinya, karena ia adalah orang yang pertama kali menghampiriku pada saat pesta Hallowen beberapa tahun yang lalu. Tracey… sepertinya tidak tahu sama sekali, tapi gadis itu terlalu observan. Sedangkan Daphne, ia hanya tahu mengenai pamannya yang masih hidup, dan seorang tangan kanan ayahku, sementara ia tidak tahu tangan kanan dalam hal apa."
Lewis menaikan bahunya, tak peduli. "Well, sebenarnya itu pilihanmu sendiri untuk percaya kepada mereka. Kami sih, sebenarnya memilih sekolah di sini karena dengan ini kami bisa memperhatikan potensi-potensi bagi keluarga William, Darcy dan Vongola, dan juga bisa mendapat informasi mengenai beberapa orang tertentu yang mungkin nantinya akan mengambil perang penting melawan Voldemort."
"Dan salah satunya adalah Harry Potter," sambung Harry, menyeringai lebar.
Taichi men-death glare, melipat kedua lengannya. "Kalau aku tahu kalau sebenarnya Harry Potter adalah Hadrian Capiano, tidak perlu capek-capek ke sini dan mencari informasi! Tinggal pergi ke rumahnya, menginap dan bermain di sana, beres!"
Harry pura-pura terkejut dan shock, menatap temannya sakit, "dan kau ternyata berteman denganku hanya untuk mencari informasi? Teman macam apa kau, Taichi-kun?"
Taichi menyeringai, mencondongkan tubuhnya, "well, teman serba guna, sebenarnya."
Harry tertawa dan memukul lengan temannya main-main. Ia memang selalu seperti ini, bercanda sembari flirting walau mereka berdua tahu mereka hanya main-main. Mereka tahu persahabatan dan allies yang terjalin di antara mereka lebih berharga daripada relationship, yang mungkin tidak akan berhasil di antara mereka.
Tapi, sepasang mata gelap memandang mereka blank.
Harry mengobrol dengan mereka selama beberapa saat, sebelum akhirnya berdiri.
"Yah, aku duluan ya, essai Transfigurasi belum beres."
"Alah, menunda-nunda pekerjaan. Dasar kau ya, seperti biasa."
"Hmm. See you guys around,"
Harry berdiri sementara keempat temannya itu bergumam, "bye Hadrian," dengan Taichi dan Terry Boot bergumam, "bye boss," dan Harry menggelengkan kepalanya pasrah.
Ia berjalan menuju mejanya, dan menemukan ketiga teman Slytherinnya masih berkutat dengan essai Transfigurasi. Tersenyum, Harry kembali ke tempatnya, di sebelah Blaise.
Ada yang berbeda dengan anak itu…
Sejak pertama kali Harry bertemu dengannya, ia selalu merasa 'terhubung'. Ia merasa nyaman, dan entah mengapa mempercayainya sebagai teman. Dengan Tracey dan Daphne, seolah mereka mengerti dirinya walau baru bertemu sebulan.
Dan Harry tersenyum mengingatnya.
Berkedip sekali, dua kali, Harry akhirnya menyadari kalau ketiga temannya sedang menatapnya.
"Apa?"
Ia menaikan salah satu alisnya, HaHamenyeringai.
"Hmm, kau begitu dekat dengan mereka?"
Terdengar sedikit nada cemburu di suara Tracey, dan Harry harus menahan senyuman yang hampir muncul di wajahnya. Ia dapat menduga kalau Tracey, sebelum datang ke Hogwarts, hampir sama dengannya. Mempunyai nama, dan orang-orang yang mendekati dirinya hanya untuk terciprat ketenarannya.
"Well, Lewis aku mengenalnya karena ayahnya adalah rekan kerja ayahku, dan saat berumur tujuh tahun sering bertemu dengannya, entah itu di suatu tempat atau di rumahnya di Swiss. Francissa, keluarga Darcey practically keluarga ayahku, dan kakanya, Rosaline, adalah sahabat dari orang yang seperti kakak bagiku, Kim. Kalau Taichi, keluarga Hibari, dan Vongola adalah keluarga terkenal di Italia, tempat tinggal ayahku sebelum pindah ke Inggris setelah lepas dari ayahnya. Yah, aku telah mengenal mereka dari lama, sih."
Nada suara Harry santai, dan ia tahu kalau Tracey relaks sedikit. Mereka berempat mungkin baru bertemu sebulan yang lalu, tapi ada sesuatu yang meng-'klik' mereka, dan Harry tahu itu. Tapi, ia ingin mencobanya perlahan, karena ia tahu perbedaan antara teman sebagai 'allies' dengan teman sebagai 'teman'.
Menyeringai lebar, Harry meraih pena bulunya dan mulai mengerjakan essai.
"Hey, kalian tahu hari kamis ini pelajaran terbang pertama?"
Harry menggerutu mendengar suara Blaise, dan berbalik ke arahnya dan memberikan death glare-nya, sementara Italia itu hanya menyeringai.
"Dengan Gryffindor."
Fucking wonderful.
.
.
24th of September, 1991
Quidditch Pitch
Harry berjalan menuju lapangan Quidditch dengan Blaise di sebelahnya, dan Tracey serta Daphne berada di depan mereka. Harry menggunakan jubah sekolahnya, dengan kememja berwarna abu dan celana jeans berwarna hitam. Ia tidak memakai seragam tradisional sekolah, celana hitam dengan kemeja putih dan dasi warna asramanya, Slytherin. Ia hanya memakai itu saat hari Senin, atau saat acara sekolah.
Hari ini hari kamis, di mana mereka akan melakukan pelajaran terbang pertama dengan Gryffindor.
Sungguh, Harry tidak mengerti. Ia tahu rivalisasi antara Gryffindor dan Slytherin begitu tinggi sampai sebanyak apapun kelas yang mereka lakukan bersama, kemungkinan kecil mereka akan saling berkerja sama. Tapi mengapa mereka sering mendapat pelajaran bersama, sih?
Yah, mungkin Dumbledore mengira dengan menyatukan mereka, maka akan terjadi 'pengertian' di antara mereka.
Huh, as if.
Bagi Harry, Slytherin bersikap seperti itu karena self-defence. Lagi pula, kalau tidak ada orang lain yang mendukung mereka, maka mereka harus saling mendukung satu sama lain, right? Lagi pula, prejudice di dunia sihir sudah berlangsung terlalu lama bagi Dumbledore untuk mengubahnya hanya dengan menyatukan kelas mereka. Malah rencana itu menyerangnya kembali, dengan malah membuat rivalisasi antara Gryffindor dan Slytherin menjadi makin meningkat. Dengan makin seringnya mereka bertemu, dan dengan tingkat ketidak sukaan yang sama -malah, Harry tahu beberapa sudah berubah menjadi 'benci'—akan makin meningkat dengan bertemu orang yang tidak disukai terlalu sering.
Oke, sekarang pikirannya kemana-mana. Ia harus berhenti berfikir.
Seseorang menarik pergelangan tangannya, dan sesaat Harry kaget. Tapi kemudian, kedua bola mata hijau emeralds-nya menangkap wajah yang sudah ia kenal selama beberapa minggu ini, dan dirinya langsung relaks. Tersenyum kecil, Harry mensejajarkan dirinya dengan Blaise, yang sudah duluan beberapa langkah. Rupanya, selama ia berfikir tadi, temannya sudah maju beberapa langkah lebih dulu darinya. Huh, kebiasaan buruk.
"Ah," gumam Blaise, kedua matanya menatap lapangan Quidditch dari kejauhan.
Ngomong-ngomong tentang olahraga itu…
Harry sudah tahu kalau ayahnya jago dalam olahraga itu, dan Al sering berkata bahwa Harry juga jago dalam hal itu. Tapi jujur, Harry sendiri belum pernah nak sapu terbang. Sebagian sih, karena memang rumah keluarga Capiano tidak mempunyai halaman yang luas, dan terlalu banyak tekhnologi di sekitar rumah sehingga pastinya akan terjadi banyak insiden. Tapi Harry tahu, antara keluarga Capiano dan beberapa keluarga lainnya yang sudah menjalani aliansi di bidang dunia sihir, bagian IT sedang mengembangkan devices ataupun runes dan mantra yang akan membantu tekhnologi beradaptasi dengan sihir.
Ah, semoga waktu di mana ia bisa mendengarkan lagu dari iPod-nya cepat datang.
"Harry,"
Gumaman terdengar dari sampingnya, dan Harry tersadar dari lamunannya. Blaise sedang menatapnya, amused, dan Daphne serta Tracey berbalik dari lokasi mereka di depannya, sekitar sepuluh langkah di depannya sebenarnya. Daphne menatapnya, amused, sama seperti Blaise, sedangkan Tracey menatapnya kesal.
"God Harry, stop daydreaming! We're gonna be late on our first fly lesson and I don't wanna hang out with that Gryffindor, expecially the Weasel." Suaranya terdengar kesal, tapi ada nada exasperated di dalamnya.
Harry menyeringai geli. Oh, betapa senangnya ia membuat Tracey kesal. "Weasel, really, Cy? Tidak original sekali."
Ia menarik lengan Blaise, berjalan cepat sambil tersenyum lebar sementara di depannya Daphne hanya menggelengkan kepalanya, dan di belakangnya, bisa ia bayangkan Blaise memutar bola matanya. Tracey menjulurkan lidahnya kekanak-kanakan, tapi Harry merasa senang. Karena jarang sekali Tracey melakukan hal-hal yang sebenarnya wajar bagi anak seumuran mereka, dan setiap kali Tracey melakukan hal kekanak-kanakan, Harry tahu kalau Tracey sedikit-sedikit terbuka kepada their little gang.
"Ayolah, Cy, jangan muram begitu," Harry bisa mendengar Daphne berbicara, dan diam-diam ia tertawa, "Harry hanya bercanda, ya kan Harry?"
Daphne berbalik kepadanya, matanya yang biasanya lembut berubah memperingatkannya bahwa inilah Daphne yang dijuluki sebagai 'Slytherin First Year Ice Princess'. Tersenyum kecil, Harry mengangguk.
"Yup, Cy, aku hanya bercanda! Ya kan, Blaise?"
Di sebelahnya, Blaise mendengus.
"Really guys, kalau kita berbicara terus menerus di sini, kita akan benar-benar telat." Daphne mengingatkan mereka, dan Harry kembali berjalan. Tetap dengan formasi yang sama, Daphne dan Tracey di depan sementara Harry dan Blaise di belakang. Harry membenarkan posisi tas yang berada di punggungnya, dimana ia hanya menyantelnya ke bahu kirinya.
Mereka akhirnya sampai di lapangan Quidditch.
Lapangan tersebut berbentuk lonjong, dengan tiga gawang menjulang tinggi di masing-masing sisi. Gawang tengan lebih tinggi dari dua gawang di sisinya, Harry memperhatikan. Dan di tengah, berdiri Madam Hooch dan beberapa anak Slytherin.
Harry dapat melihat Theo dan Millicent sedang berbicara di satu sisi, dan Harry sedikit kasihan dengan anak laki-laki itu. Kalau Millicent masih bisa mengobrol dengan anak perempuan lain –sebut saja, Pansy- Theo tidak. Yah, anak laki-laki lain di angakatan mereka di Slytherin hanya ada Harry, Blaise, Theo, Draco, Vincent dan Gregory. Vincent dan Gregory sepertinya sudah mengabdikan diri mereka –Harry mendengus di sini- menjadi bodyguard Draco, sementara Harry dan Blaise sudah 'memisahkan diri' dengan Tracey dan Daphne. Well, mungkin ia bisa berbicara dengan Nott muda itu nanti, tapi yang ia perhatikan Theo berbicara kepada Millicent dengan senang hati.
'Mungkin mereka kenal sebelum datang ke Hogwarts…'
Yah, banyak kemungkinan lainnya, dan Harry hanya mengangkat bahu dan mengikuti Blaise ke satu sisi. Tracey dan Daphne mulai mengobrol lagi –dan Harry sungguh tidak ingin tahu mengenai apa yang sedang mereka bicarakan- dan ia bisa melihat Draco datang dengan Pansy, Vincent dan Gregory. Mereka bertukar sapa –hanya saling mengangguk, sebenarnya. Tapi itu kemajuan, dari pada saling menyindir satu sama lain.
Beberapa menit kemudian, para Gryffindor muncul. Harry bisa melihat Ron Weasley mengirimkannya beberapa glare, tapi Harry tidak peduli. Orang-orang mengansumsikan hal tentangnya terlalu banyak bahkan sebelum bertemu dengannya, dan mereka menaruh harapan tinggi kalau ia akan seperti ayah dan ibunya, dan langsung mendeklarasikan kesetiaannya dengan pihak Light.
Huh, as if.
Salah mereka sendiri kenapa mengasumsikan banyak hal kepadanya, dan menutut banyak hal kepadanya saat mereka bahkan belum bertemu dengannya.
Well, their loss.
Harry tidak suka orang yang mengasumsikan banyak hal tentangnya, tapi tidak pernah bertemu dengannya atau berbicara dengannya. Apalagi kalau kemudian mereka merasa kecewa ketika dirinya berbeda dari apa yang mereka bayangkan. Well, Harry kan dirinya sendiri! Mengapa harus menjadi orang lain, menjadi seseorang yang bukan dirinya demi menyenangkan banyak orang yang tidak benar-benar mengenalnya?
Selama orang-orang terdekatnya menerimanya apa adanya, bagi Harry itu sudah cukup.
Seperti ayahnya, yang menerima bahwa Harry tidak mempunyai sifat kepemimpinan yang diharapkan oleh ayahnya. Tapi Makarov tetap tersenyum dan berkata kepadanya mereka akan memecahkan masalah itu, dan mungkin, nanti pada saatnya Makarov turun dari jabatannya sebagai pemilik perusahaan Capiano dan kepala Mafia Eropa dan Harry mengambil jabatannya, Harry akan memimpin dengan cara yang berbeda dari Makarov.
Well, dengan itu Harry akan membuat tempatnya sendiri di dunia.
Akhir-akhir ini masalah di dunia belakang sedikit… tense. Harry bisa merasakannya, karena selama liburan musim panas kemarin ayahnya berkali-kali dipanggil untuk meeting, meninggalkan Harry di mansion sendiri dan belajar lebih giat –kata Al, tapi Harry sebenarnya lebih suka sparring dengan Felix atau Alice. Mungkin era baru akan dimulai…
Kalau begitu, Harry harus bersiap-siap. Walau dirinya masih muda –sangat, sebenarnya– tapi ia tahu kalau ada apa-apa ia harus memimpin, dengan Al mendampinginya.
"Harry!"
Harry hampir tersontak di tempat, kepalanya dengan cepat beralih ke sumber suara dan memberikan death glare terbaiknya.
Tracey membalas menatapnya, dan mereka dua saling beradu pandang –yang penuh dengan kekesalan, sebenarnya- sampai ia mendengar suara tertawa Daphne dan di sebelahnya Blaise menyeringai.
"Come on, guys. Stop bickering like a toddler and pay attention to Madam Hooch," gumam Blaise, yang segera mendapat death glare dari Harry.
"Don't call me toddler, Blaisey,"
Blaise langsung memerah, dan berbisik kesal, "Harry!"
"Well, salahmu sendiri-"
"Tapi kau yang memulai!"
"Aku tidakakan memanggilmu begitu kalau kau tidak memanggilku toddler, Blaisey."
Blaise mendengus kesal, "Harry!"
"Tuh kan. Harry, Blaise, stop. Satu kata lagi, Harry, dan kau tidak akan mendapat bantuan di Sejarah Sihir."
Harry langsung tersontak kaget, menatap Daphne kaget. "Daph!"
Bukan rahasia lagi Harry tidak suka Sejarah Sihir yang diajarkan oleh Profesor Binns. Guru –hantu- itu telah merusak image-nya tentang sejarah dunia… padahal pelajaran itu adalah salah satu yang paling ia sukai. Karen kesal, Harry mengikuti anak-anak lainnya –tertidur di kelas itu terkecuali Daphne dan Hermione yang memang terlalu rajin.
"Harry."
Harry mengangkat tangannya, berpura-pura surrender dan menghela nafas, dejected. "Oke, oke. Baiklah, Daphne."
Daphne mengangguk puas sebelum kembali menatap Madam Hooch yang berjalan membawa sapu terbang di punggungnya. Harry menghela nafas dan berbalik menatap Blaise, memberinya tatapan 'jangan berkomentar'.
Blaise mengangguk, tapi seringainya tidak meninggalkan wajahnya.
Harry mendengus, walau dalam hati ia merasa senang. Jarang sekali Blaise menyeringai seperti itu di depan umum… orang-orang menyebutnya penerus ibunya, walau Harry tahu Blaise seperti itu untuk menutup emosinya, membuat orang-orang menjauh darinya. Tapi Harry juga tahu kalau Blaise hanya terbuka kepadanya, Daphne dan Tracey. Bahkan di lingkup ruang asrama Slytherin pun jarang ia benar-benar bebas.
Yah, semua orang mempunyai masalah mereka masing-masing.
Harry mendengarkan Madam Hooch menyuruh mereka untuk berdiri di samping sapu mereka, dan Harry pun melakukannya. Ia mengangkat tangan kanannya, dan berseru 'Naik' dengan yang lain, seperti yang di instruksikan oleh gurunya itu.
Harry bisa merasakan sihirnya bereaksi, dan ia bisa merasakan sapu terbangnya naik, menuju genggamannya. Ia memperhatikan sekeliling, dan melihat hanya sedikit yang langsung bisa pada percobaan pertama. Malahan baru ia, Draco, dan Blaise. Ia bisa melihat Theo berhasil di percobaan pertama, dan Daphne serta Tracey beberapa detik kemudian. Anak-anak Slytherin lainnya juga berhasil, dan begitu pula dengan Dean Thomas dari Gryffindor. Harry melihat Weasley yang sapunya mengenai hidungnya, dan mendengus menahan tawa.
Mereka akhirnya menunggangi sapu mereka, dan Madam Hooch menginstruksikan mereka untuk menghentakkan kaki kanan di hitungan ketiga.
Harry melihat sekeliling…
…dan ia tahu masalah akan datang.
Neville Longbottom rupanya terlalu gugup dan takut ia akan telat sehingga di hitungan kedua ia sudah menghentakkan kakinya. Tapi sayangnya… ia tidak bisa mengendalikan sapunya.
Terdengar teriakan kaget dan takut saat Neville melesat ke udara, berputar mengelilingi lapangan Quidditch. Harry, dengan kedua matanya yang terlatih, memperhatikan gerakan sapu tersebut. Kiri, kanan, naik, naik terus… dan tiba-tiba bergoyang dan melesat turun.
Uh oh.
Tanpa berfikir lagi, Harry segera menghentakkan kakinya ke tanah, melesat. Tapi kemudian ia terkesiap.
Rasanya berada di udara…
Menakjubkan.
Menyeringai terlalu lebar –ia bisa merasakan otot-otot wajanya sakit, tapi siapa peduli?- Harry melesat dengan cepat menuju titik dimana ia memperkirakan Neville dan sapunya akan terjatuh. Dugaannya tepat, karena ia sampai di titik itu tempat ketika Neville terjatuh dari sapunya dan berpegangan pada gagangnya hanya dengan satu lengan.
Harry tidak mendengar suara-suara orang lain –adrenalin terpompa dengan cepat ke seluruh tubuhnya. Ia mencondongkan tubuhnya, melepas lengan kirinya, dan melesat melewati Neville dan mengalungkan lengannya di sekitar pinggangnya tepat ketika pegangan Neville terlepas –membuatnya tersandar kepada Harry sepenuhnya. Harry memutar lengannya sedikit agar Neville duduk di belakangnya, mengabaikan tulangnya yang berbunyi sedikit sementara tangan kanannya mengontrol sapunya agar berhenti sebentar.
Ia menarik pegangan sapunya, dan sapu itu berhenti di udara, melayang sekitar dua belas kaki dari tanah. Harry menghela nafas, melepaskan lengan kanannya dan menyeimbangkan tubuhnya, sementara ia membantu Neville duduk dengan nyaman di belakangnya.
"Kau terluka?"
Neville berkedip, melihatnya dengan mata bulatnya yang berwarna cokelat. Mukanya pucat, dan Harry tahu rasa takut masih menyelimuti anak itu. Harry menghela nafas saat Neville menggeleng.
"Bagus. Hold on."
Harry bisa merasakan tangan mencengkram jubahnya, dan ia berbalik, menuju kerumunan Slytherin, Gryffindor dan Madam Hooch yang menunggu di bawah.
Harry berhasil menukik dengan lambat-lambat, dan mendarat di atas tanah dengan selamat. Segera setelah kedua kakinya menapak ke atas tanah dengan pas, ia mendadak terjungkal sedikit ketika sebuah beban mendarat di depannya dan dua lengan memeluknya dengan erat.
Kemudian ia melihat rambut cokelat tua bergelombang, ia tahu itu adalah Daphne. Menghela nafas, ia memeluk Daphne dengan satu tangan, tangan yang lain memegang sapu untuk menahannya. Ia mendorong Daphne sedikit untuk bernafas, sebelum kemudian di pukul mai-main di lengannya oleh Tracey.
"Aw! Apa-apaan sih, Cy?"
Tracey menjulurkan lidahnya dan kemudian berdiri di sebelah Daphne ketika anak perempuan itu sudah melepaskan pelukannya. Blaise, yang kemudian maju, memberikan death glare kepadanya, dan Harry menghela nafas.
"Neville, kau bisa berdiri?"
Di sebelahnya, Neville mengangguk, gemetaran.
Madam Hooch sepertinya sudah tersadar, karena ia kemudian berteriak, "Mr. Longbottom? Ke Madam Pomfrey sekarang juga. Mr. Thomas, Mr. Weasley, temani. Mr. Potter, ikut aku sekarang juga. Class dismisses."
Anak-anak pergi dengan teratur, dengan Blaise masih menatapnya kesal, kedua tanganya dilipat. Tracey berdiri di sebelah Blaise dan Daphne di kirinya, ketiganya menatap Harry kesal.
"Apa?"
Daphne mengehela nafas. "Harry…"
"Kau bisa terluka!" Tracey berkata, suaranya meninggi sedikit. Walau Harry mendengar rasa kesal mendominasi nada suaranya, tapi Harry juga bisa mendengar nada khawatir dan hal itu membuat Harry tersenyum. "Apa sih yang kau pikirkan?"
Blaise hanya menatapnya kesal, menunggu Harry memberikan jawaban.
Harry menghela nafas. "Gusy, kalau aku tidak melakukan apa-apa, ia akan terjatuh dari ketinggian sekian puluh meter di atas tanah, dan believe me, terjatuh seperti itu… hurt like bitch."
"Languege, Harry!"
Harry mengabaikan Daphne.
"Ayolah, lagi pula aku tidak terluka, kan?"
Blaise baru kemudian berbicara, "kau harus membantu kami mengerjakan PR Transfigurasi dan Mantra. Selama seminggu. Dan Daphne tidak akan membantu essai Sejarah Sihirmu yang ini."
Harry memucat. "Guys!"
Sampai kapanpun Harry akan menyanggah bahwa ia… whinning like a child.
"Ayo Harry," nada suara Tracey sudah biasa lagi, dan Harry bisa melihat kalau ketiga temannya itu sudah tidak terlalu kesal kepadanya. Well, baguslah…
"Madam Hooch menyuruhmu untuk menemui Profesor Snape, segera."
Harry face-palmed. Gawat.
TBC
Cliffhanger lagi kawan! Hehehe maaaaf ._.v
Pertama-tama, maaf bangeeet baru update, soalnya dari kemaren puyeng soal ujian praktek sekolah sama persiapan UN sama persiapan ujian masuk sma. Doa'in saya semoga masuk sma yang dituju yaaaaa –AMIN! Dan kebetulan senen besok saya bakalan ngadepin ujian mid-semester dilanjut ke TO kota lalu langsung ke Ujian Sekolah alias US. Doain yaaa kawan semoga dapat nilai bagus –AMIN! #curhat
Terus kemaren teh niatnya mau update minggu lalu, tapi saya sakit. Hehehe. Ampun ya banyak alesan. Peace.
Dan sepertinya…... Saya tidak akan update sampai… April/Mei, setelah UN beres. Peace. Ampun.
-jeng jeng-
Buat yang nomre (1): saya membuat definisi sendiri mengenai bagaimana sihir bekerja, bagaimana mantra bekerja, dan bagaimana tongkat sihir bekerja. Hehehe. Peace. Dan mungkin bakalan ada –di beberapa cerita ke depan- mengenai alchemy, runes, necromancy, sorcery, dan sebagainya. Hehehehehe.
Mungkin saya akan sedikit menambah ide cerita dari Merlin BBC… gatau kenapa seneng banget sama cerita itu sekarang #facepalmed. Apalagi sama pair Arthur/Merlin. #stopdamnit!
Oke deh. Sampai bertemu bulan April/Mei. Ciao!
REVIEW diterima kawan!
