Di sela-sela ujian saya menyempat-nyempatkan diri buat update, bosan sih belajar terus haha *digampar*
Oh ya, kan ada beberapa orang nih yang bilang fandom kita tercinta ini sepi, yah apa mau dikata, doain aja author-author itu semua cuma hiatus bentar dan pasti bakal balik lagi secepat kilat, biar fandom ini jadi rame! Yeeey! XD
Ok kita mulai aja nih cerita, selamat menikmati~
Disclaimer
Story: Riichiro Inagaki
Art: Yuusuke Murata
A Eyeshield 21 fanfiction: yang Terbaik
Warning: newbie, AU (mereka sekolah di SMU Deimon semua), typo, gaje, abal, no sense, gak mutu, gak kerasa apapun sedatar jalanan beraspal, gak suka? Tinggal tekan back kok!
Kamu melirik boneka panda besar pemberian Karin yang tengah duduk manis di meja tepat di samping tempat tidurmu. Itu adalah hadiah ulang tahun darinya sebulan lalu. Masih segar di ingatanmu senyum tulus yang terukir di wajahnya kala itu. Sebelum akhirnya kau mengatahui semua hal menyakitkan ini tanpa sepengetahuannya, dulu hari-hari bersamanya terasa begitu indah.
Sebenarnya Karin adalah sahabat terbaik yang pernah ada. Kamu tahu itu, sangat tahu. Tapi saat ini kamu benar-benar masih belum bisa menerima semuanya. Kamu harus mendinginkan kepalamu dulu, ya mungkin besok memang belum saat yang tepat untuk bicara dengannya.
Kamupun kembali pada kegiatan awalmu, menatap nanar langit-langit kamar dengan wajah sendu, kegiatan yang sangat konyol. Kamu sudah cukup lama memendam perasaan sakit hati itu dan kamu rasa hari ini adalah puncaknya. Kamu mengangkat tangan kananmu dan kemudian menatapnya. Sungguh, kamu sendiri tak mengerti untuk apa kamu melakukan itu. Kamu sudah benar-benar kusut, galau.
~Normal POV~
Sebentar lagi jarum pendek pada jam akan menunjukkan angka tiga. Hari sudah semakin dingin. Mamori menarik selimut dan kemudian tenggelam kedalamnya dengan perasaan yang masih tak menentu. Dia masih belum bisa tidur. Walaupun ia lelah, tapi matanya tetap tak bergeming, matanya hanya menginginkan pemiliknya menangis. Jujur sebenarnya iapun sungguh sangat ingin menangis dan berteriak keras untuk melepaskan semua gundahnya. Tapi sekarang sudah hampir pukul tiga pagi, ia tahu terlalu beresiko untuk berteriak pada jam ini.
"hoaahmm…" Mamori menguap cukup lebar. Akhirnya ia mengantuk juga. Diraihnya tombol lampu di meja tempat yang sama dengan panda tadi, kemudian mematikannya sambil sebelumnya berbisik, "Selamat tidur." Untuk dirinya sendiri.
…..
Keesokan paginya saat sang surya mulai merangkak naik menuju singgasananya di atas langit, iapun membagi cahayanya yang menusuk itu. Cahaya itu memaksa masuk ke kamar Mamori melalui celah-celah jendela kamarnya. Ia terbangun karena cahaya itu tepat mengarah ke matanya. Menganggu tidurnya yang baru saja dimulai dua jam lalu. Mamori bangun dari kasur tercintanya dengan perlahan. Walaupun ia tahu hari ini pasti akan menjadi hari yang sangat berat, tapi tidak sedikitpun ada niat untuk melarikan diri dari kenyataan terbesit di hatinya.
Mamori berangkat ke sekolah dengan persiapan seadanya dan kemudian tak lupa berpamitan kepada orang tuanya. Ia berangkat dengan hati yang masih gelisah. Perjalanan ke sekolah kali ini terasa sangat panjang. Yang disepanjang perjalanan itu ia hanya menatap kosong jalanan yang ia lalui. Melihat pemandangan yang bergerak silih berganti dengan perasaan hampa.
Mamori terus berjalan ke sekolah dengan perasaan seperti itu. Tapi tiba-tiba ia menghentikan langkahnya mendadak saat melihat seseorang berdiri di depan gerbang sekolahnya. Seseorang yang bisa dibilang menjadi penyebab semua hal ini terjadi. Orang yang ia sukai, sangat-sangat ia sukai. Yang akhirnya menjadi pacar sahabatnya sendiri. Pria tampan itu berdiri didepan gerbang sambil melipat kedua tangannya seperti menanti kehadiran seseorang. Pria itu juga terus melirik jam tangannya pertanda dia sudah menunggu orang itu cukup lama. Yang juga artinya orang yang ia tunggu itu pastinya sangatlah penting. Tentu saja ia menunggu Karin, kalau bukan siapa lagi?
Mamori melewatinya dengan langkah seribu, ia sangat berharap pria itu tak melihatnya yang membuatnya harus menyapanya untuk sekedar basa-basi. Menyakitkan.
"Anezaki!" pria itu memanggil Mamori.
Mamori semakin mercepat langkahnya seakan-akan tak mendengar suara pria itu.
"Anezaki!" ia memanggil Mamori sekali lagi. Kali ini cukup keras, ia memanggil sambil mengikuti Mamori dengan langkah yang tidak kalah cepat.
Mamori masih terus berjalan atau mungkin bisa dibilang setengah berlari dengan tetap berpura-pura tak mendengar pria itu memanggil.
~TBC~ *seenaknya lagi*
Jadi mau tau siapa pria itu? Mau tau? Beneran mau tau? XD
Yah liat aja sendiri ya di chap selanjutnya *digebukin*
Review please! *senyum-senyum gaje*
