"Tunggu, Anezaki! Dari tadi aku menunggumu di sini!" teriaknya tetap mengikutiku.

A-apa? Refleks aku menghentikan langkahku kemudian berbalik menatapnya.

"Ah, akhirnya berhenti juga." ujarnya dengan wajah lega.

"mm … Ada apa?" tanyaku seakan tak bersalah.

"Akhir-akhir ini kenapa kau menjauhiku sih?" tanyanya langsung dengan wajah heran dan dahi berkerut.

Ah! Itu dia pertanyaan yang paling kuhindari!

"Masa? Biasa aja kok." jawabku dengan suara datar, berusaha terdengar senormal mungkin.

"Benar begitu?" tanyanya curiga. Ekspresinya kali ini sangat menggemaskan.

"hm … Ya."

"Wah, berarti hanya perasaanku saja ya." balasnya sambil tertawa kecil.

Dasar bodoh, tentu saja itu bukan perasaanmu! Aku benar-benar menghindarimu tahu!

"Sepertinya kamu kurang sehat, wajahmu pucat. Apa ada masalah yang menganggumu? Cerita saja padaku." lanjutnya khawatir. Sifatnya yang baik inilah yang kusukai darinya. Ia terlalu baik pada semua orang dan sering menyebabkan kesalah pahaman. Mungkin aku menyukainya karena kesalah pahaman itu juga.

"Tidak kok, aku tidak kenapa-napa."

"Kalau begitu ayo senyum!" ucapnya sambil tersenyum.

Aku pun tersenyum dengan terpaksa.

"Tuh kan, kamu kan cantik, kalau tersenyum makin cantik."

Bukan bermaksud sombong, tapi sejak dulu aku sudah biasa dibilang cantik, tapi entah kenapa saat keluar dari mulutnya itu terasa lebih manis dan tulus. Wajahku pun merona merah, aku langsung memalingkan wajahku dari hadapannya.

"Jadi … hanya itu yang ingin kamu sampaikan?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.

"Yaa ... aku rasa ...,"

"Kalau gitu aku ke kelas duluan ya." aku mengakhiri pembicaraan dan langsung berlalu melewatinya, meninggalkannya sediri dalam diam.

Sebenarnya aku sangat ingin berbicara dengannya lebih lama, berteriak di hadapannya. Meneriakkan kata-kata cinta atau memakinya karena malah menyukai Karin, bukan aku. Kemudian menangis memohon agar ia berpaling padaku. Tapi, tak banyak yang bisa kuperbuat. Walaupun ia mengetahui aku menyukainya, tapi dia tetap memilih Karin. Ditambah lagi dia tidak tahu kalau aku mengetahui mereka berpacaran di belakangku.

Eh? Tunggu. Berpacaran di belakangku? Jangan-jangan selama ini Karin juga suka padanya tapi tak sanggup mengatakannya karena segan padaku? Lalu saat Yamato menyatakan perasaannya, Karin meminta untuk merahasiakan hubungan mereka dariku? Jika benar begitu berarti akulah pengkhianat sebenarnya karena aku lebih memilih keegoisanku daripada sahabatku sendiri? Oh Tuhan, apa yang sudah hamba-Mu ini lakukan?

Tanpa pikir panjang aku langsung berlari menuju kelas Karin walaupun bel masuk sudah berbunyi. Saat aku datang, Karin terlihat bingung karena aku tampak begitu terburu-buru.

"Ada apa, Mamori? Kau kenapa?" tanyanya khawatir.

Aku tak menjawab pertanyaannya. Aku malah makin membuatnya bingung dan khawatir dengan menarik tangannya ke luar kelas kemudian berlari menuju atap sekolah.

"Mamori! Pelajaran akan dimulai! Kita mau kemana?" tanyanya disela-sela aksi penculikan itu.

Aku masih tidak menjawab, terus berlari dan akhirnya berhenti ketika sampai di atap sekolah. Di sini benar-benar sepi. Sekarang benar-benar hanya ada aku dan Karin.

"Mamori?" Karin masih saja bingung.

"Karin, hal apa yang ingin kau bicarakan sepulang sekolah itu?"

"e ... itu … bukankah sudah kubilang aku akan mengatakannya sepulang sekolah nanti?"

"Aku tidak bisa menunggu selama itu!" aku menghardiknya.

"…." Dan Karin hanya diam menunduk.

"Kenapa kamu malah diam?"

"Aku … aku tak tahu harus memulai darimana …,"

"Apa susahnya sih bilang kalau kau pacaran dengan Yamato!" bentakku emosi.

Karin terbelalak kaget dan ketakutan, "Da-darimana kamu tahu?"

"Tentu saja aku tahu! Dasar pengkhianat!" hei, hei! Bukan itu yang ingin aku katakan! Tch, aku benar-benar sudah terbawa emosi.

Karin memucat, lututnya lemas, ia pun terduduk sambil menangis terisak. Satu kalimat dariku tadi benar-benar sudah menusuk hatinya. Aku hanya menatapnya dengan pandangan dingin.

"A … aku tak tahu harus bagaimana … aku menyayanginya juga sangat menyayangimu .…" ujarnya sambil tetap menangis.

"Tentu kau tahu 'kan kau tidak akan bisa memiliki keduanya sekaligus!"

"Aku tahu, aku tahu itu. Makanya, aku memilihmu karena kamu lebih penting dari segalanya. Aku akan putus dengan Yamato nanti …," ujarnya lirih.

Emosiku pun meluap setelah mendengar perkataanya itu, "Karin! Aku membawamu kesini bukan untuk dikasihani! Juga bukan untuk menyuruhmu memutuskan Yamato atau bersujud meminta maaf padaku! Tapi aku sebagai sahabat kesini untuk …," aku berhenti karena tiba-tiba air mataku yang kutahan sedari tadi akhirnya jatuh di pipi, "untuk mendukungmu hubunganmu dengannya." aku sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Hanya air mata yang mewakili perasaanku saat itu. Begitu pula dengan Karin, tangisnya semakin menjadi-jadi. Kami terhanyut oleh perasaan masing-masing.

"… itulah yang terbaik." kataku seraya mengahapus airmata. "Bahagialah dengannya, aku tidak akan menganggu kalian. Kita sudahi saja semua ini." Ucapku seraya pergi menjauh, air mata yang tadi sudah kuhapus kembali turun. Aku meninggalkan Karin yang makin terisak pedih. Sepersekian detik setelah itu, hujan pun turun dengan derasnya mengiringi tangisan kami berdua.

Yang terbaik bukanlah apa yang tampak dan yang kau inginkan semuanya dapat terwujud. Ada kalanya yang terbaik adalah apa yang tak tampak dan kemudian kau mengalah untuk memberikan yang terbaik itu kepada orang yang kau sayangi.

.

.

.

OWARI—

.


A/N:

Ehm, ehm, tes tes satu dua tiga. Yak! Kembali lagi dengan author gaje-superabal- radaaneh ini!

Pas liat-liat profil sendiri kaget juga ada satu fict yang nggak di update-update dari setahun yang lalu -_- hahahaha #ketawamiris

Sebenarnya ini fict udah jadi setahun yang lalu, tapi yah, rencananya mau diperluas ceritanya, tapi, tapi maaf aku udah stuck banget -_-

Banyak maaf, seribu maaf deh buat para readers yang nantiin fict ini upate #emangada? #ngareptingkatdewa

Kepada Sky Melody maaf banget yah, aku tak bisa memberikan yang terbaik sesuai dengan judulnya kepada kamu. Yak, silahkan bunuh diriku dengan pisau yang kamu punya~ lalalala~ #stress sekali lagi maaf banget T_T

Hm ... karena fict ini udah jadi setahun yang lalu, rasanya pas aja di publish sekarang karena sekarang tepat satu tahun aku publish fict di FFn! Yeeeey! XD dan fic ini benar-benar gak ada perubahan dari yang udah jadi setahun yang lalu tapi sepertinya gaya bahasanya tak jauh beda ya dengan yang sekarang u,u #pundungdipojokan

Sedikit mungkin aku ingin menyampaikan kepada teman-teman semua penghuni FESI, terima kasih atas bantuannya selama setahun ini, tanpa adanya kalian, entah apa jadinya author gaje ini, mungkin akan semakin gaje saja? Atau malah berubah jadi serius? Entah lah. Yang penting terima kasih sebanyak-banyaknya kepada kalian semua, you are rock Guys! :*

Oh ya, satu lagi, happy birthday buat LalaNur Aprilia yang katanya berulang tahun hari ini! ._.d Terima kasih sudah mereview fict-fict saya, ehm, dan juga kenapa gak bikin account FFn? Atau malah udah punya? Boleh minta penname? Fb? Twitter? #plak #digamparbolakbalik

Oke, maaf kalau a/n-nya kepanjangan. Terima kasih sudah membaca sampai sini, mind to ripiu? XD