Title : SECRET AFTER SCHOOL
Disclaimer : NARUTO belongs to Masashi Kishimoto
Rate : T
Genre : Romance, friendship, slice of life, gender bender, shounen-ai, yaoi, shoujo-ai, yuri, strike
Warning : AU, miss typos, Don't Like Don't Read!
Summary : Sasori, murid baru di Suna Gakuen. Ketampanannya membuat murid-murid sekolah itu terpana. Tapi terjadi sesuatu hal di luar kemauannya di hari pertamanya sekolah. Apa yang terjadi?
Chapter 2 : Nakushita Kotoba (Lost Word)
- Flashback -
Sang mentari pagi mulai merangkak keluar dari ufuk timur. Menebarkan senyumannya melalui cahaya hangat nan lembut miliknya. Langit yang gelap mulai menampakkan warna biru terang. Suara nyanyian burung-burung terdengar ramah dari berbagai penjuru. Tak ingin kalah, sang ayam jantanpun ikut meramaikan suasana pagi yang tenang itu. Berkokok dan membangunkan para pengelana mimpi dari dunianya.
Di salah satu sudut kota Suna berdirilah sebuah rumah megah serba putih yang terlihat asri. Halamannya luas dan tumbuh banyak pepohonan pinus di sekitarnya. Pilar-pilar putih berdiri tegak menopang rumah itu. Tiba-tiba terdengar suara alarm berbunyi dengan kerasnya dari salah satu kamar di rumah itu. Kamar itu luas, perabotannya terihat mahal dan bermerek, dan semuanya serba putih. Mulai dari cat dinding sampai tempat tidur king size yang ada di sana.
Kriiiiiiiiiing…..kriiiiiiiiiiiing…..!
"Berisik, un," gumam seseorang berambut pirang panjang dari balik selimut.
Tulilit..tulilut.. Tulilit..tulilut..
"Apa lagi ini?"
Dengan masih berada di tempat tidurnya yang empuk tangan putihnya berjalan-jalan di atas meja. Mencoba meraih handphone-nya yang berbunyi nyaring mengganggu tidurnya. Tangan putih itu menekan tombol dengan simbol telepon yang berwarna hijau.
"Hallo..," sapa pemuda itu pelan dan terdengar seperti erangan layaknya orang yang masih dalam keadaan setengah sadar.
"Sudah bangun?" tanya seorang gadis di ujung telepon.
"Apa..?"
"Baguslah kalau sudah bangun."
"Siapa ini, un?"
"Dasar. Kau masih setengah sadar ya? Ya sudahlah.."
"Ada apa? Aku masih mengantuk.."
"Jemput aku di bandara hari ini, sekarang juga. Kau bisa kan?"
"Apa..?"
"Kau mendengarku tidak?" tanya gadis itu setengah berteriak.
"Berisik! Aku mengantuk, jangan berteriak," ujar pemuda berambut pirang kesal dan kedua matanya masih terpejam.
"Jemput aku!"
"Siapa kau?"
"Sakura."
Tiba-tiba kedua mata biru aquamarine-nya terbuka lebar. Dia terbangun dan beranjak dari tempat tidurnya. Sementara gadis yang meneleponnya tadi sudah memutuskan sambungan telpon.
Tut..tut..tut..
"Dasar biang berisik! Pagi-pagi sudah berisik saja, un!" teriak pemuda itu marah-marah tidak jelas.
Tiba-tiba dia terdiam.
"Tapi tunggu, tadi dia bilang dia Sakura. Apakah.." Pemuda itu terdiam sejenak, "Haruno Sakura?"
Tiba-tiba pemuda itu melempar ponselnya ke tempat tidur king size-nya dan bergegas menuju kamar mandi.
Seorang gadis bermantel hitam duduk sendiri di tepi jalan. Di sampingnya terlihat tiga koper hitam dan silver dengan ukuran yang berbeda-beda. Di tangan kirinya ada sekaleng soft drink yang airya sudah tinggal setengah. Dia terlihat gelisah. Beberapa kali diperhatikannya jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya. Sudah hampir lima belas menit dia duduk menunggu sendirian di sana, menunggu seseorang. Tapi orang yang ditunggu belum juga menampakkan batang hidungnya.
Gadis berambut soft pink seperti permen kapas itu mendengus kesal. Kedua iris emeraldnya menoleh ke kanan dan kiri jalan, berharap orang yang ditunggunya tiba-tiba muncul di depan kedua matanya.
Lama sekali, keluh Sakura dalam hati. Sakura lelah menunggu dan dia tidak suka menunggu.
Dari kejauhan terlihat sebuah mobil berwarna putih melaju dalam kecepatan tinggi. Tidak lama kemudian mobil sport putih itu berhenti tak jauh dari tempat Sakura duduk. Seorang pemuda imut berpakaian serba putih, kemeja putih lengan panjang dan celana jeans putih panjang, keluar dari dalam mobil itu. Rambut kuning panjangnya diikat di atas sebagian dan yang sebagian lagi terurai indah. Sebuah senyuman manis menghiasi paras tampannya.
"Sejak kapan kau jadi peminta-minta, un?" tanya pemuda itu pada Sakura.
"Dari tadi aku menunggumu, tapi kau tidak datang juga," jawab Sakura dengan nada kesal. "Apa kau tersesat?"
Kedua mata hijau itu menatap tajam pemuda beriris biru itu.
"Kau tahu ini jam berapa? Jam 5 pagi kau menghubungiku dan meminta..ralat, menyuruhku datang ke sini menjemputmu. Wajar saja kalau aku datang terlambat," jelas pemuda pirang itu membela diri.
"Sudahlah..bantu aku memasukan semua ini ke dalam bagasi, Deidara-nii."
"Un."
Namikaze Deidara, adalah nama pemuda berambut pirang panjang itu. Dia adalah kakak kandung Naruto yang tinggal dan bekerja di Suna. Deidara seorang desainer ternama. Sudah banyak pakaian rancangannya yang dipajang di toko-toko, bahkan sampai terjual ke luar negri. Sama seperti Naruto, Deidara juga memiliki paras manis nan imut. Sepertinya keturunan dari keluarga Namikaze memiliki paras yang imut-imut semua.
Tangan putih Deidara mengambil sebuah koper hitam Sakura dan membawanya. Dimasukkannya koper itu ke dalam bagasi mobilnya. Sakura juga melakukan hal yang sama. Setelah semuanya selesai, mereka berdua masuk ke dalam mobil putih itu. Lalu mobil itupun mulai melaju di jalanan. Deidara yang mengemudikannya. Sementara Sakura duduk di kursi penumpang di samping kemudi.
"Kapan kau datang?" tanya Deidara mengawali pembicaraan.
"Tadi pagi," jawab Sakura singkat dan padat. Kedua matanya menatap pemandangan di luar jendelanya.
"Apa misimu kali ini?"
"Misi yang merepotkan. Aku tidak suka dengan misi ini, tapi anehnya aku justru ahli dalam hal ini."
"Hahaha.. Kau mirip dengan Naru, un."
"Hn."
"Naru juga dulu pernah mengatakannya."
"Dei-nii, kau tahu gedung apartment yang ada di dekat area rumahmu itu?"
Deidara mengangguk, "Ya, aku tahu. Kenapa?"
"Antarkan aku ke sana. Naruto bilang mereka sudah menyewakan apartment di sana untukku."
"Wah..sepertinya atasanmu sangat mengharapkanmu berhasil dalam misi ini."
"Ya, aku harap juga begitu."
Tak terasa mobil yang mereka tumpangi telah memasuki kawasan tengah kota Suna. Walau masih pagi, tapi lalu lintas jalanan kota itu sudah mulai padat. Sakura masih menatap pemadangan di luar jendelanya. Terlihat berbagai macam orang tengah berlalu lalang mengerjakan aktivitas mereka masing-masing. Tiba-tiba mobil putih itu berhenti di depan sebuah minimarket. Sakura mengalihkan kedua matanya pada Deidara.
"Kalau kau tinggal di apartment setidaknya kau harus membeli bahan makanan untuk memenuhi kulkasmu, un," ujar Deidara seraya melangkah keluar dari mobilnya.
Sakura keluar dari mobil itu dan mengikuti langkah Deidara masuk ke dalam mini market itu.
"Dei-nii, aku tidak bisa memasak. Kita tidak perlu membeli bahan makanan," ucap Sakura seraya berlari kecil menyusul langkah Deidara yang ternyata lebih cepat dari perkiraannya.
"Tak apa, un. Kau kan bisa membeli makanan cepat saji. Atau kalau perlu aku yang akan memasakannya untukmu."
"Dei-nii..tapi aku.."
"Tidak ada tapi-tapian."
Sakura mendengus. Dia hanya bisa pasrah dan mengikuti langkah Deidara menyusuri lorong-lorong minimarket itu dengan ogah-ogahan. Di samping kanan dan irinya hanya ada rak-rak dengan berbagai macam produk makanan cepat saji berjajar rapi. Kedua matanya melihat sekilas makanan-makanan itu dengan tatapan bosan, seolah tak tertarik pada makanan apapun. Sementara itu Deidara memilih-milih berbagai macam bahan makanan yang bagus.
Melihat kakak sahabatnya sibuk dengan bahan makanan yang diletakkan pada rak-rak itu, Sakura melangkah menjauh dari Deidara. Kedua kakinya menyusuri sisi lain dari minimarket itu dengan kedua tangannya berada di dalam kedua saku mantel hitamnya. Tiba-tiba kedua mata emeraldnya menangkap sosok bayangan seorang gadis. Sakura memperhatian gadis berambut biru tua panjang sepunggung itu. Gadis itu mengenakan jaket ungu muda dengan bagian lengan panjang warna putih dipadu celana biru di bawah lutut. Tangan putihnya sibuk mengambil berbagai macam makanan dan botol minuman yang ada pada rak ke dalam keranjang belanjaannya.
Banyak sekali dia mengambilnya. Apa dia berasal dari keluarga dengan banyak saudara? Pikir Sakura.
Gadis itu menyeret kedua kakinya melangkah pergi. Sakura masih memperhatikan gadis itu. Sepertinya baginya memperhatikan gerak-gerik gadis berambut biru itu memberinya kesenangan tersendiri. Tiba-tiba gadis berambut biru itu kehilangan keseimbangan. Dengan sigap Sakura berlari ke arah gadis itu dan menangkap tubuhnya hingga dia tidak sampai terjatuh ke lantai.
Kedua mata hijau emerald Sakura menatap kedua mata ungu lavender gadis itu.
"Daijobu ka?" tanya Sakura ramah.
"Hai, arigato," jawab gadis itu pelan.
Sakura melepas dekapannya dari gadis itu. Untung saja barang belanjaan gadis itu tidak sampai jatuh berhamburan di lantai. Gadis berambut biru itu menundukkan kepalanya memberi hormat pada Sakura. Tersenyum kecil lalu melangkah pergi. Sementara Sakura masih menatap kepergian gadis itu dalam diam. Perlahan-lahan tangan kanannya bergerak ke atas. Sakura mengalihkan kedua matanya ke arah telapak tangan kanannya itu.
Perasaan ini..? Sentuhan ini..? Apa? Kenapa terasa begitu lembut dan nyaman..?
Tanpa disadarinya sepasang mata biru aquamarine menatapnya dari arah belakang. Deidara berjalan mengendap-endap mendekati Sakura.
"DOOR!" seru Deidara mengejutkan Sakura.
Gadis berambut pink itu sedikit berjingkat terkejut. Dia langsung menoleh ke arah belakang dan mendapati Deidara berdiri terbahak-bahak.
"Hahahahahaha..," tawa Deidara.
"Dei-nii, jangan mengejutkanku seperti itu. Bagaimana kalau aku sampai serangan jantung? Apa Dei-nii mau bertanggungjawab?" gerutu Sakura dengan wajah sebal.
"Haha..maaf, maaf..hahaha.. Habis kau melihat gadis tadi dengan tatapan aneh."
"Tatapan aneh?"
"Iya. Kau terlihat seperti seorang pemuda yang menyimpan perasaan padanya, un."
"Eh?"
Deidara tersenyum ramah. Sedangkan Sakura masih tidak mengerti dengan apa maksud Deidara dari ucapannya itu.
- End Flashback -
.
.
.
Pemuda berambut merah itu melihat ke arah teman-teman barunya di kelas 2-F.
"Namae wa Haruno Sasori desu, yoroshiku," ucap pemuda berambut merah itu singkat dan jelas.
Terdengar suara bisik-bisik dari para gadis di kelas barunya itu. Gadis-gadis itu membicarakan Sasori tentunya.
Wah..dia tampan sekali, puji seorang gadis berambut coklat yang duduk di bangku paling belakang.
"Dia keren ya?" tanya seorang gadis pada temannya yang ada di sebelahnya. Temannya mengangguk menyetujui.
Siapa yang tidak akan jatuh cinta padanya? Sasori memiliki paras tampan yang berbeda dengan pemuda-pemuda lainnya. Dia berbeda.
"Haruno-kun, kau lihat bangku kosong di belakang Hinata? Kau bisa menempatinya," ucap Kakashi seraya menunjuk ke arah sebuah bangku kosong tepat di belakang gadis bernama Hinata.
"Hn," sahut Sasori seraya berjalan santai ke arah bangkunya.
Kedua mata coklat hazel itu menatap sekilas Hinata lalu kembali berjalan dan duduk di bangkunya. Dilepasnya tas ransel hitam dari bahunya. Lalu dia memperhatikan Kakashi-sensei yang sedang melanjutkan penjelasannya yang tadi sempat terhenti.
- Flashback -
Sakura berdiri di depan Jiraiya dan Naruto yang menatapnya tajam. Mereka menunggu ucapan dari gadis pink itu.
"Aku tidak suka liburanku diganggu dengan pekerjaan," papar Sakura dengan penekanan pada kata liburan dan pekerjaan. "..Tapi apa boleh buat, sepertinya aku tidak punya pilihan lain. Baik, dengan terpaksa kuterima misi ini."
Jiraiya dan Naruto saling memandang. Mereka menyeringai puas berhasil mengalahkan Sakura. Tanpa mereka ketahui, Sakura tengah menyeringai kecil.
"Tapi dengan satu syarat!" seru Sakura tiba-tiba.
"Katakan," perintah Naruto.
"Aku akan ke sana tapi bukan sebagai Haruno Sakura. Melainkan sebagai.."
"Siapa?" tanya Jiraiya dan Naruto tidak sabar menunggu ucapan dari gadis pink itu.
"Haruno Sasori," ujar Sakura mantap.
"EEEH..?" teriak Naruto dengan kedua mata terbelalak. Bukan hanya Naruto, bahkan Jiraiya juga terlihat terkejut mendengarnya.
"Kau serius mau melakukannya? tanya Jiraiya memastikan.
"Kenapa? Tidak boleh?"
"Boleh-boleh saja Sakura. Tapi apa tidak berbahaya? Kalau menyamar menjadi laki-laki nanti kau bisa ketahuan kan?"
"Aku dan Sasori-nii adalah saudara kembar. Kami juga masih terlihat remaja walau usia kami sudah 24 tahun. Aku akan merasa lebih bebas kalau menyamar menjadi laki-laki, tidak perlu dijelaskanpun kau sudah tahu alasannya kan Naruto?"
Pasti gara-gara dia tidak suka memakai rok, tebak Naruto dalam hati.
Ada apa dengan Sakura sih? Dia selalu merepotkan seperti biasanya, pikir Jiraiya.
Sakura berbalik lalu melangkah keluar dari ruang kerja Naruto yang berantakan. Dia menyeringai lebar, membuat orang-orang yang melihatnya bergidik ngeri.
Mulai sekarang aku bukan Haruna Sakura, tapi Haruno Sasori.
Sakura melangkah keluar dari gedung markas kepolisian itu dengan wajah berseri. Tiba-tiba dia menyeringai kecil.
- End Flasback -
Ya, di sini aku bukan Haruno Sakura. Selama misi ini berlangsung aku adalah Haruno Sasori, kata Sasori dalam hati.
Sasori mengeluarkan sebuah buku catatan dari tas ranselnya. Diapun mulai memperhatikan pelajaran Kakashi-sensei.
.
.
.
TENG..TENG..TENG..
Bel tanda jam istirahat makan siang telah berbunyi. Murid-murid Suna Gakuen bergegas keluar dari kelas mereka masing-masing. Tapi terjadi hal yang sedikit berbeda dengan kelas 2-F, terutama pada murid-murid perempuannya. Begitu Kakashi-sensei meninggalkan kelas mereka, para murid berpakaian seifuku itu langsung menyerbu tempat Sasori berada. Mengelilinginya. Sementara Sasori hanya diam melihat belasan pasang mata menatapnya kagum.
"Haruno-kun, boleh tidak kami memanggilmu Sasori-kun?" tanya salah seorang gadis berambut pirang pucat panjang.
"Boleh," jawab Sasori singkat disertai senyuman.
"Sasori-kun, dulu kau tinggal dimana?" tanya gadis lainnya.
"Konoha," jawab Sasori singkat.
"Kalau boleh tahu kenapa Sasori-kun pindah ke Suna?"
"Hm..ingin."
Ingin? Jawaban macam apa itu? Pikir gadis yang menanyainya tadi.
Walau jawabannya singkat-singkat tapi dia keren, jadi tidak apa-apa, kata gadis lain dalam hati.
Pipipup..peppoop.. Pipipup..peppoop.. Pipipup..peppoop..
Tiba-tiba ponsel hitam Sasor berbunyi. Pemuda itu tersenyum pada fangirls barunya.
"Maaf nona-nona, aku harus menerima telpon dulu. Permisi," ujar Sasori ramah.
Sasori melangkah pergi meninggalkan gadis-gadis itu yang masih menatap kepergiannya.
"Wah..dia benar-benar baik hati..," ujar seorang gadis.
"Tidak hanya itu. Dia juga sopan," timpal gadis lainnya.
Sementara itu Sasori berlari menjauh dari kelasnya dan semakin jauh. Dia terus melaju sampai menemukan anak-anak tangga. Sasori meniti anak-anak tangga itu menuju atap gedung. Menurutnya hanya di sanalah tempat yang paling aman dan tenang untuk menerima telpon. Apalagi jika telpon itu dari atasannya. Dia tidak mau identitasnya terbongkar padahal belum ada sehari dia menyamar.
Sasori sampai di depan pintu yang menjadi akses menuju atap. Dia memegang pegangan pintu lalu membukanya. Dilangkahkan kedua kaki jenjangnya melewati pintu itu. Ternyata dugaannya benar, tempat itu sepi. Dengan cepat dia mengeluarkan ponsel hitamnya dan menekan tombol terima.
"Moshi-moshi," sapa Sasori.
"Akhirnya kau angkat juga. Padahal aku sudah khawatir terjadi hal buruk padamu, Sakura."
Terdengar suara pemuda dengan suara cempreng di ujung sambungan telpon itu. Sasori mengenali suara itu dengan baik. Suara Namikaze Naruto.
"Cepat katakan ada urusan apa. Kau tahu aku sibuk kan?"
"Soal misi yang kau tangani saat ini, aku sudah mendapat sedikit bukti."
"Bukti?"
"Lebih tepatnya petunjuk. Kasus ini berkaitan erat dengan salah seorang murid di Suna Gakuen, nama marganya Jitsugata."
"Jitsugata?"
"Kau cari tahu ya, Sakura. Kami mengandalkanmu."
"Kuperingatkan, namaku sekarang Sasori. Jangan memanggilku Sakura lagi."
"Iya, maaf.."
Sasori merasakan kehadiran sesorang di atap itu. Dengan cepat dia menutup ponselnya dan menyimpannya kembali ke dalam sakunya. Sementara tangan kanannya mengambil sesuatu dari dalam saku celananya sebelah kanan. Sebuah pisau lipat digenggamnya erat.
Tap..tap..
Terdengar suara langkah kaki seseorang.
"Siapa itu?" tanya Sasori seraya berbalik menatap ke arah sumber suara.
Reflek tangan kanannya melempar pisau lipatnya ke arah pintu.
SYUUT.. TAKK!
Pisau lipat itu menancap pada dinding di samping pintu masuk. Hampir saja pisau lipat itu mengenai sosok manusia yang memasuki atap itu. Sasori menatap kedua mata orang itu. Kedua iris coklatnya membulat. Seorang gadis manis berambut coklat sebahu berdiri terdiam terpaku di sana. Gadis bermata hitam itu terlihat shock.
"Ka-kau tidak apa-apa kan?" tanya Sasori khawatir.
Perlahan-lahan dia berjalan mendekat ke arah gadis itu. Tapi sang gadis melangkah mundur satu langkah ke belakang. Tubuh gadis itu gemetar. Sasori menjadi semakin merasa bersalah.
"Maafkan aku, aku tidak sengaja. Kupikir tadi.."
"Huwaaa..!" teriak gadis itu tiba-tiba seraya berlari meninggalkan atap begitu saja. Cairan bening mengalir dari kedua matanya.
Sedangkan Sasori hanya menatap bingung ke arah pintu yang masih terbuka. Dia menghela nafas lelah. Lalu mengambil pisau lipatnya yang menancap pada dinding. Disimpannya kembali pisau lipat itu ke dalam saku celananya. Dengan santai pemuda itu melangkah pergi meninggalkan atap.
Sepanjang lorong menuju kelasnya banyak pasang mata yang menatapnya dengan aneh. Tatapan tajam, pandangan curiga dan waspada seolah Sasori adalah makhluk planet lain. Bukan hanya itu, mereka juga berbisik-bisik tiap kali Sasori lewat. Tidak hanya para gadis, kalau para gadis sudah jelas wajar saja melihat ketampanannya, tapi para pemuda juga melihatnya.
Apa ketampanannya memancing para lelaki ingin menjadi uke-nya? Pikiran bodoh, terlalu berlebihan. Memang apa yang aneh dari dirinya? Apa ada hal yang salah dari dirinya?
Dia memakai baju seragam dengan normal. Rambut merahnya tertata dengan rapi. Wajahnya tampan dan keren, tidak ada sesuatu yang salah di wajahnya. Dia juga tidak bau, justru dia harum. Sasori mendengus tidak peduli. Dia terus melangkah dengan santai. Tapi tiba-tiba seorang gadis berambut merah panjang dengan kacamata bingkai hitam bertengger pada hidung mancungnya muncul di depannya. Berdiri di tengah jalan. Dengan terpaksa Sasori menghentikan langkahnya.
"Ada apa?" tanya Sasori to the point.
"Kau pemuda mesum yang tadi pagi kan?" tanya gadis dengan kedua mata merah scarlet itu seraya berkacak pinggang.
"Huh?"
"Aku ingat tadi pagi kau kan yang masuk ke ruang ganti untuk wanita tadi pagi?"
"Ah! Kau, kau gadis yang tadi pagi meneriakiku."
"Dasar pemuda mesum. Cepat keluarkan benda yang ada pada saku celanamu."
"Bagaimana kalau kubilang tidak mau?"
Tiba-tiba gadis berambut merah itu memperlihatkan kain merah dengan tulisan kanji "Fuuki" yang melingkar pada lengan kirinya.
"Namaku Karin, Ketua Komite Kedisiplinan Suna Gakuen. Kau berani menantangku?" tanya Karin pada Sasori.
Tidak mau mencari masalah di hari pertamanya, Sasori mengalah. Dikeluarkannya ponsel hitam dari dalam saku celananya sebelah kiri. Ditunjukkannya di depan wajah Karin. Sementara para murid yang ada di sekitar koridor itu terdiam dan menikmati pertunjukan di sana.
"Kalau kau meminta nomor ponselku, tenang saja..akan kuberitahu tanpa kau harus melakukan hal seperti ini," ujar Sasori santai.
Dia menyeringai kecil.
"Enak saja! Siapa yang ingin nomor ponselmu? Cepat keluarkan benda yang ada pada saku celanamu yang satunya. Aku yakin ada benda mencurigakan di sana."
Ini gawat. Aku kan membawa pisau lipat, pikir Sasori.
Sasori menoleh ke kiri dan ke kanan, mengalihkan pandangannya dari tatapan tajam sang Fuuki Iinchou.
"Eh? Apa itu?" teriak Sasori seraya menunjuk ke arah langit di luar jendela.
Otomatis para murid termasuk Karin tentunya, menoleh ke arah yang ditunjuk Sasori. Mereka lengah, kesempatan untuk Sasori kabur dari Karin. Dengan cepat pemuda itu berlari menyusuri koridor lalu berbelok ke arah kiri. Sasori menyeringai kecil. Merasa menang telah berhasil mengelabui Karin. Padahal tidak ada apa-apa di langit yang ditunjuknya tadi. Sasori terus berlari sampai-sampai dia telah berada di depan perpustakaan.
"Sepertinya ini bukan saat yang tepat untuk kembali ke kelas. Bisa gawat kalau gadis itu ada di sana," gumamnya seraya menatap pintu perpustakaan. "Lebih baik aku masuk ke dalam."
PUK!
BRUAG!
Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahu Sasori dari belakang. Reflek pemuda itu memegang tangan putih yang menepuknya itu lalu memutar dan membantingnya ke lantai. Pemuda bermabut merah itu terbelalak kala melihat siapa orang yang dibantingnya tadi. Hatake Kakashi. Wajahnya langsung memucat.
Mati aku!
Kakashi terbaring pingsan di lantai akibat benturan keras pada kepalaya bagian belakang dan juga punggungnya. Tiba-tiba pintu perpusatakaan terbuka, seorang pemuda berambut coklat melihat Sasori dan Kakashi-sensei yang sedang terbaring di lantai dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Sasori, kau..?"
"GOMEN..!" seru Sasori seraya berlari menjauh dari Tempat Kejadian Perkara itu, meninggalkan pemuda berambut coklat jabrik itu bersama dengan Kakashi.
.
.
.
Haah..kenapa jadi begini..? Di hari pertama penyamaran aku sudah membuat banyak kekacauan, keluh Sasori dalam hati.
Kini pemuda berambut merah itu tengah duduk di dalam salah satu bilik toilet dengan wajah lelah dan frustasi. Berulang kali dia menghela nafas. Akibat kejadian kesialan yang menimpanya hari ini dengan terpaksa Sasori harus bersembunyi di dalam toilet. Setidaknya sampai suasana menjadi lebih aman.
Sasori teringat kembali kejadian yang menimpanya sepanjang hari ini. Mulai dari salah masuk ruang ganti untuk wanita, lalu menabrak Hinata, menggunakan pisau lipat dan hampir melukai murid perempuan di atap, dan yang paling baru adalah membuat Kakashi-sensei pingsan. Hari yang sial untuk Sasori.
Aku gagal menjadi mata-mata, pikirnya.
Diliriknya jam tangannya yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya. Waktu istirahat sudah hampir berakhir. Sasori memutuskan keluar dari dalam bilik itu. Tapi..
"KYAAAA...!" teriak seorang gadis yang ada di dalam toilet itu.
Gadis itu dalam keadaan sedang membuka bajunya. Tapi tiba-tiba saja Sasori keluar dari bilik toilet dan melihat gadis berambut pirang panjang itu. Otomatis gadis itu berteriak. Sasori langsung keluar dari toilet itu. Dilihatnya tulisan pada pintu toilet itu, tertera papan bertuliskan "FEMALE" di sana.
Sial! Aku lupa sedang menyamar menjadi laki-laki. Tanpa sadar jadi masuk toilet wanita.
Sasori berlari menyusuri koridor untuk kembali ke kelas 2-F. Mudah-mudahan saja Karin sudah tidak ada di sekitar sana dan Kakashi-sensei belum datang.
Tapi dugaannya salah.
Seorang guru wanita berambut hitam sebahu berdiri menatapnya tajam di depan kelas 2-F. Kedua mata obsidiannya menatap tajam ke arah Sasori. Sasori menelan ludahnya. Dia merasakan firasat buruk akan terjadi. Sepertinya kesialannya belum berhenti juga.
"Haruno Sasori-kun?" tanya guru wanita dengan name-tag Shizune itu.
"Hai. Nanda yo ka, Shizune-sensei?" tanya Sasori balik.
"Ikut aku sekarang juga ke ruang BK."
Shizune berjalan melewati Sasori. Pemuda berambut merah itu mendengus lalu berjalan mengikuti langkah guru muda itu.
My bad luck day, ujar Sasori dalam hati.
.
.
TBC
Ciaossu!
Chapter 2 akhirnya bisa updated juga. Lega rasanya.
Di sini ceritanya Sakura menyamar menjadi laki-laki dan masuk ke Suna Gakuen dengan menggunakan identitas Sasori, kakak kembarnya.
Terima kasih untuk para reviewers yang telah bersedia mereview fic ini: Hakuya Cherry Uchiha Blossom, Eve Lunatique, dan Lrynch Fruhling
Kupikir nggak akan ada yang suka, soalnya temanya agak 'aneh'.
Buat para readers sekalian, jangan lupa review ya.
Jaa..
