Title : SECRET AFTER SCHOOL
Disclaimer : NARUTO belongs to Masashi Kishimoto
Rate : T
Genre : Romance, friendship, slice of life, gender bender, shounen-ai, yaoi, shoujo-ai, yuri, straight
Warning : AU, miss typos, Don't Like Don't Read!
Summary : Ulah ketidaksengajaan Sasori membawanya ke dalam "hukuman". Gossip miring tentangnya, "Sasori si Maniak", juga tidak membantu sama sekali. Poor Sasori. Kehidupan sekolahnya hancur dalam waktu kurang dari sehari.
Chapter 3 : Kanashimi wo Yasashisa ni (Turning Sadness into Kindness)
Ruang Bimbingan Konseling (BK) adalah tempat yang mengerikan untuk sebagian orang, apalagi untuk mereka murid-murid yang memiliki masalah baik dalam perilaku maupun bukan. Ruang BK di Suna Gakuen tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil, bisa dibilang luasnya sedang dan pas untuk menjadi sebuah ruang ruangan dengan dinding coklat muda itu ada 4 sofa hitam yakni 2 sofa panjang dan 2 sofa single, meja kaca ala ruang tamu, sebuah meja kerja beserta kursinya, 2 lemari dan 2 rak buku. Pada bagian dinding-dindingnya terpajang beberapa lukisan pemandangan yang indah.
Guru yang bertugas menjadi pembimbing konseling adalah seorang wanita muda berambut hitam pendek dan memliki kedua mata hitam onyx yang indah. Guru cantik itu bernama Dan Shizune. Para murid dan guru biasa memanggilnya Shizune-sensei.
Sebagai seorang pembimbing konseling, sudah banyak kasus remaja yang ditemuinya, mulai dari masalah ringan sampai masalah berat. Contohnya saja kasus membolos, mencontek saat ujian, merusak fasilitas sekolah, masalah pertemanan, perkelahian antar sekolah, sampai masalah kehamilan di luar nikah. Kali ini Shizune-sensei harus menghadapi satu pemuda dengan banyak kasus yang terjadi hanya dalam waktu satu hari. Luar biasa.
Shizune duduk di sofa hitam sambil terus menatap pemuda berambut merah yang tengah duduk sambil menundukkan kepalanya di depannya. Pemuda itu sesekali melirik Shizune.
"Haruno Sasori-kun," panggil Shizune pelan.
"I, iya, sensei," sahut Sasori sedikit gugup.
Sasori mengalihkan kedua matanya menatap Shizune. Entah apa yang akan terjadi padanya kali ini.
"Bisa kau jelaskan apa yang terjadi hari ini?" tanya Shizune-sensei.
"Maksud sensei apa?" tanya Sasori balik pura-pura tidak tahu apa maksud dari sang guru.
"Aku sudah mendengar laporan dari Karin. Sekarang keluarkan benda yang ada pada kedua saku celanamu itu."
Sasori mendengus kesal. Dengan terpaksa dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan dua benda miliknya. Satu benda normal dimiliki anak remaja, yaitu ponsel sedangkan yang satunya benda yang tidak lazim dimiliki dan bahkan dibawa seorang pelajar sepertinya, yaitu pisau lipat. Shizune melihat sekilas dua benda yang ditaruh di atas meja itu.
"Kenapa kau membawa pisau lipat ke sekolah? Kau tahu itu dilarang kan?"
"Saya tahu sensei. Saya membawanya hanya untuk menjaga diri."
"Menjaga diri? Menjaga diri dari apa?"
"Entahlah, orang jahat mungkin? Kita tidak akan tahu apa yang bisa saja terjadi kan, sensei?"
"Haruno-kun!"
"Maaf."
Shizune-sensei memandang lekat-lekat wajah Sasori yang terlihat tidak nyaman berada di dalam ruangan itu.
Tok..tok..tok..
Terdengar suara pintu ruang BK diketuk seseorang. Shizune tahu siapa yang datang. Dia sudah menunggu mereka sedari tadi.
"Masuk!" perintah Shizune setengah berteriak.
Pintu kayu berwarna coklat tua itu terbuka. Nampaklah seorang gadis berambut merah panjang dan bermata merah yang diketahui bernama Karin. Di belakang Karin terlihat seorang gadis mungil berambut coklat pendek. Lalu di belakang kedua gadis itu terlihat seorang pria muda bermasker hitam dan seorang pemuda berambut coklat jabrik dengan tanda lahir seperti tato segitiga merah terbalik di kedua pipinya. Di deret paling belakang ada seorang gadis berambut pirang pucat panjang. Mereka berlima memasuki ruang BK dengan teratur.
Sasori menoleh ke belakang dan mendapati kelima orang itu menatapnya dengan tajam. Dia langsung kembali melihat ke arah Shizune-sensei.
Tamat riwayatku, pikir Sasori.
"Maaf kami terlambat, Shizune-sensei," ujar Karin memulai pembicaraan.
"Ya, tak apa. Sekarang duduklah," perintah Shizune.
Kelima orang itu duduk di sofa hitam di ruangan itu. Kakashi-sensei duduk dengan hati-hati di samping Shizune dengan sebuah gips melingkar pada lehernya. Sepertinya hasil dari bantingan Sasori telah membuat tulangnya sedikit bergeser dari tempatnya. Kakashi menatap tajam Sasori dari balik kacamata bingkai hitamnya. Sasori merasakan tatapan mengintimidasi dari keenam orang di ruangan itu.
"Baiklah, kita mulai saja. Jelaskan satu per satu dengan detail, mulai dari Karin, Matsuri, Kakashi-sensei, Kiba, lalu yang terakhir Ino," ucap Shizune-sensei seraya melihat satu per satu orang-orang yang namanya disebutkan tadi.
Mereka mengangguk.
"Tadi pagi kami murid-murid perempuan kelas 2-B pergi ke ruang ganti wanita untuk berganti seragam olahraga. Saat kami mengganti pakaian tiba-tiba saja Haruno-kun masuk ke dalam. Kurasa tidak hanya mengintip, tapi dengan terang-terangan dia sengaja melihat kami yang sedang berganti baju. Kami berusaha mengusirnya secepat mungkin. Untunglah kami berhasil sebelum semuanya terlambat," jelas Karin.
"Tunggu dulu! Aku tidak mengintip!" seru Sasori tiba-tiba.
"Haruno-kun, tolong jaga sikapmu," pinta Shizune mengendalikan situasi. "Sekarang katakan pembelaanmu, Haruno-kun."
Sasori menenangkan diri.
"Tadi pagi aku datang terlambat ke sekolah. Aku murid baru jadi aku belum tahu dimana kelasku. Saat mencari kelas 2-F aku tidak sengaja salah ruangan dan masuk ke dalam ruang ganti wanita. Sungguh, saya tidak sengaja melakukannya," ujar Sasori jujur.
"Bohong! Shizune-sensei, dimana-mana tidak ada pencuri yang mau mengakui kejahatannya," tuding Karin seraya meunjuk ke arah Sasori.
"Hei! Jangan menuduhku sembarangan! Aku tidak melakukannya. Aku tidak sengaja melihatnya."
"CUKUP!" seru Shizune-sensei.
Karin dan Sasori terdiam.
"Alasan Haruno-kun ada benarnya. Dia memang murid baru di Suna Gakuen, wajar saja jika dia sampai tersesat dan salah masuk ruangan. Dalam kasus ini Haruno-kun tidak bersalah. Tapi ingat, tidak ada toleransi untuk lain waktu meskipun kau seorang murid pindahan. Sekarang giliran Matsuri."
Seorang gadis berambut colat sebahu menatap Sasori sekilas lalu menatap ke arah Shizune dengan kedua bola mata hitam miliknya. Gadis mungil itu bernama Matsuri, murid kelas 1.
"Saat jam istirahat aku pergi ke kantin untuk makan siang. Setelah makan siang aku ingin menghirup udara segar karena itu aku pergi ke atap. Tapi saat sampai di sana aku justru disambut dengan sebuah pisau terlempar ke arahku. Pisau itu tertancap pada dinding di belakangku dan hampir saja mengenaiku. Padahal aku hanya ingin menghirup udara segar. Tapi..tapi..aku malah menerima perlakuan seperti itu. Aku yang terkejut hanya terdiam. Haruno-san mulai berjalan mendekat, karena takut aku berlari keluar dan air mataku tidak bisa berhenti mengalir," ungkap Matsuri panjang lebar.
Dia terlihat shock atas kejadian yang dialaminya tadi. Sasori hanya mendengar dan tak mampu mengeluarkan pendapat apapun. Bagaimanapun juga kali ini dialah yang salah. Kalau bukan karena kemampuan refleknya yang tinggi itu, pasti dia tidak akan melempar pisau lipat ke arah Matsuri dan semua ini tidak akan terjadi.
"Ada pembelaan Haruno-kun?" tanya Shizune.
"Uhm..ehm..soal itu..maafkan aku Matsuri-chan. Aku tidak bermaksud untuk melukaimu," jawab Sasori dengan wajah terlihat sangat menyesal.
"Jadi kau tidak menyangkal telah melempar pisau lipat ke arah Matsuri?"
Sasori mengangguk.
"Dalam kasus Matsuri, Haruno-kun dinyatakan bersalah. Sekarang giliran Kakashi-sensei. Silahkan."
Kakashi-sensei menyandarkan tubuhnya untuk mencari posisi yang nyaman untuk duduk.
"Aku sedang berjalan-jalan di koridor sampai aku melihat Haruno-kun dari belakang. Dia berdiri di depan ruang perpustakaan dan menatap pintunya dengan aneh. Kupikir tidak ada salahnya aku menyapanya dan mencoba mengakrabkan diri dengannya, apalagi aku wali kelasnya. Tapi saat kutepuk pundaknya tiba-tiba saja dia menarik tanganku dan membantingku ke lantai. Kepalaku sepertinya terbentur. Aku jatuh tak sadarkan diri," ujar Kakashi-sensei.
"Benar begitu Kiba-kun? Kau saksi mata dalam kasus ini."
"Ya, saya melihatnya. Haruno-kun membanting Kakashi-sensei," ujar Kiba.
"Gomen nasai, Kakashi-sensei," ucap Sasori seraya membungkuk hormat.
"Tidak apa-apa. Tapi kenapa kau membantingku seperti itu? Apa kau ada dendam padaku?"
"Bukan, bukan begitu. Aku tidak sengaja melakukannya. Reflek."
Reflek? Tanya keenam orang itu, membeo dalam hati.
Hm..suatu reflek yang bagus, puji Kakashi-sensei dalam hati.
"Jadi bagaimana Kakashi-sensei? Kau menganggapnya bersalah?" tanya Shizune.
"Kumaafkan. Anggap saja kenakalan seorang murid, lagipula aku juga salah tiba-tiba menepuk bahunya dari belakang."
"Baiklah, kalau begitu tinggal kasus terakhir. Ino, ayo jelaskan."
Gadis bernama lengkap Yamanaka Ino itu memiliki rambut pirang pucat panjang yang indah. Poni panjangnya sedikit menutupi matanya sebelah kanan. Parasnya cantik, kulitnya putih alabaster, kedua matanya biru aquamarine, dan penampilannya terlihat dewasa. Satu kata yang tepat untuk mendeskripsikannya mungkin adalah kata 'mempesona'.
"Sebelum kembali ke kelasku aku pergi mampir dulu ke toilet untuk membersihkan noda saus tomat yang tadi kumakan bersama dengan sandwich. Setelah masuk ke dalam toilet aku membuka baju atasanku. Tapi tiba-tiba saja Haruno-kun keluar dari salah satu bilik toilet. Aku terkejut melihatnya kontan berteriak. Bukannya segera pergi, dia justru masih menatapku. Lalu dia keluar begitu aku akan menyiramnya dengan air," tutur Ino dengan wajar terlihat marah.
"Ini pelecehan seksual, Shizune-sensei. Seorang pria masuk ke toilet wanita dan bersembunyi di dalam bilik toilet. Bukankah itu suatu pelanggaran? Jangan-jangan dia maniak," tambah Ino beserta tuduhannya.
Kedua mata coklat hazzel Sasori membulat sempurna. Karin sudah mengatainya 'mesum', sekarang Ino mengatainya 'maniak'.
Sasori mulai merasa kalau dia memang ditakdirkan tidak untuk menjadi agen rahasia, terutama dalam kasus penyamaran di sekolah. Bukti di depanya ini sudah cukup jelas. Poor Sasori.
"Ada pembelaan?"
"Maafkan aku, Ino-san. Aku tidak sengaja berada di sana dan melihatmu," ujar Sasori.
"Tidak sengaja? Enak saja kau mengatakan hal itu! Sudah jelas-jelas kau masuk toilet wanita!"
"Maafkan aku."
"Kau pikir cukup dengan kata maaf?"
"Yamanaka-san! Haruno-kun!" panggil Shizune menginterupsi. "Cukup."
Kakashi melirik ke arah Shizune sekilas. Terlihat jelas Shizune sedikit kesal dengan kasus Sasori yang terlalu banyak ini. Satu pemuda dengan empat kasus dalam waktu kurang dari sehari. Hebat, itulah yang dipikirkan Kakashi. Mungkin tindakan Sasori sedikit mengingatkannya pada dirinya sendiri saat masih muda.
Shizune menghela nafas panjang dan menekan jauh kekesalannya. Dia berusaha tenang dan berpikir jernih.
"Ehem!" Shizune berdehem sebentar. Menatap murid-muridnya sekilas lalu mengalihkan seluruh perhatiannya pada Sasori. "Dengan ini sudah jelas Haruno-kun bersalah atas kasus Ino. Sebagai pembimbing konseling, aku akan memberimu beberapa hukuman terkait penyerangan terhadap Matsuri, mengintip kamar mandi wanita, dan kepemilikan senjata tajam. Hukumanmu adalah.."
Gulp!
.
.
.
Sasori membawa sebuah sapu lidi bertongkat panjang dengan lesu. Kedua matanya melihat ke bawah dimana daun-daun kering berserakan. Dengan enggan dia menggerakan sapu lidinya menyapu dedaunan kering itu. Beberapa murid Suna Gakuen akan tertawa atau terkekeh kecil ketika melihatnya saat ini. Sebesar apapun dia tidak menyukai hukuman yang diterimanya ini, dia tidak bisa mengajukan protes. Bisa gawat kalau penyamarannya terbongkar. Bicara soal penyamaran..
Haah.. Bagaimana aku akan mendapat informasi tentang kasus itu..? Sekarang saja aku malah menghadapi masalah dalam kehidupan sekolahku sebagai Sasori. Merepotkan.. Kenapa aku harus mengalami semua ini? Gerutu Sasori dalam hati.
Dia menghela nafas lelah.
Ini semua salah si pak tua Jiraiya itu!
"Ha..chuuh..!"
Di tempat lain Jiraiya yang sedang menikmati waktunya di kantornya tiba-tiba bersin. Padahal dia yakin temperatur AC di ruangannya cukup hangat dan dia juga tidak memiliki penyakit alergi terhadap apapun.
Siapa yang sedang membicarakanku ya? Jangan-jangan wanita-wanita cantik di club malam itu. Hahaha..
"Hei sudah dengar gossip baru?" teriak seorang gadis dari arah taman.
"Oh, aku tahu! Murid baru itu ternyata seorang maniac," sahut temannya.
"Benarkah? Ya ampun..," sahut teman yang lainnya.
"Dia sengaja masuk toilet wanita dan mengintip Yamanaka-san."
"Cowok mesum. Kenapa dia bisa bersekolah di sini?"
"Ssst..itu dia orangnya," bisik gadis lainnya yang berambut panjang sambil menunjuk-tunjuk ke arah Sasori berada.
Sementara itu Sasori yang mendengar dan menyadari tatapan dari gadis-gadis itu hanya bisa mendengus kesal. Bagus, sekarang dia menjadi bahan gossip dan akan dikenal dengan julukan "Sasori si Maniak". Belum ada sehari dia bersekolah di sini sudah seperti ini, apa jadinya kalau dia harus berada satu bulan lebih di sini?
Tiba-tiba aura gadis-gadis itu tidak terasa.
Mungkin mereka sudah pergi.
Sasori mengalihkan kedua matanya ke arah taman. Terlihat seorang gadis berambut coklat pendek, Matsuri, berjalan sambil bercengkerama dengan teman-temannya. Mereka masih berada di area taman hanya saja sedikit lebih jauh dari tempat Sasori berdiri.
"Apa tidak ada cara untuk membuatku membersihkan nama baikku?" gumam Sasori lirih.
Sasori berbalik dan melanjutkan menyapu halaman samping yang masih kotor. Tiba-tiba kedua mata coklatnya menangkap sosok seorang gadis cantik berambut biru tua panjang tengah berlari ke arahnya. Atau ke arah taman mungkin.
Kalau tidak salah namanya Hyuuga Hinata, pikir Sasori.
Di lain sisi halaman terlihat sebuah bola sepak melambung tinggi ke arah gedung sekolah. Tiba-tiba bola itu menghantam jendela lantai tiga dengan kerasnya, mengakibatkan jendela kaca itu pecah. Kejadian itu tidak terlewat oleh kedua mata elang Sasori. Pecahan kaca-kaca berjatuhan dari lantai tiga. Di bawah tempat itu terlihat Hinata. Kedua mata Sasori melebar. Kalau dibiarkan Hinata bisa terkena pecahan-pecahan kaca itu!
PRANG!
"Hinata!" seru Sasori.
Dengan cepat pemuda itu berlari melesat ke arah Hinata. Melingkarkan tangan kanannya pada pinggang Hinata dan mendekapnya erat dengan tangan kirinya. Tubuh Hinata terdorong ke bawah. Sasori menggunakan tubuhnya sendiri sebagai tameng untuk melindungi gadis bermata lavender itu. Pecahan-pecahan kaca itu berjatuhan ke bawah, menimpa punggung Sasori. Sedikit menggores lengan kanannya.
Deg..deg..deg..
Jantung Hinata berdegup dengan kencang dalam dekapan pemuda berambut merah itu. Pelahan-lahan muncul semburat merah pada paras cantiknya. Hinata menutup kedua matanya, menikmati kehangatan tubuh pemuda itu yang begitu hangat dan terasa lembut. Walau hanya sejenak, Hinata merasa nyaman berada dalam pelukan pemuda itu.
Murid-murid di sekitar tempat itu melihat aksi heroik sang pemuda berambut merah dengan tatapan kagum, takjup, dan khawatir di saat yang sama. Mungkin bila mereka berada di posisi Sasori saat ini mereka tidak akan sanggup untuk menyelamatkan Hinata dari pecahan-pecahan kaca itu. Tapi Sasori berbeda. Walau banyak gossip miring tentangnya, tapi di depan mereka semua hari ini mereka melihat bagaimana kebaikan hati Sasori. Mereka tahu kalau pemuda itu bukan orang jahat seperti yang dikabarkan. Mungkin, Sasori adalah pemuda yang memiliki jiwa seorang ksatria.
Sasori melonggarkan dekapannya pada Hinata lalu diapun melepas dekapannya sepenuhnya. Dia menatap wajah Hinata yang merona.
"Daijobu ka?" tanya Sasori perhatian.
Hinata tak mampu menjawabnya. Rasanya kegugupannya selama ini bertambah parah oleh kehadiran seorang Haruno Sasori. Dia ingin menjawa 'Aku baik-baik saja', tapi kata-kata itu tak mampu dikeluarkan melalu kerongkongan dan pita suaranya. Spontan Hinata mengangguk sebagai jawaban. Sasori tersenyum melihatnya. Kedua mata Hinata menatap lengan Sasori yang berdarah.
"Le, lenganmu terluka. Lebih baik ki-kita ke ruang infirmary se, sekarang juga," ajak Hinata khawatir.
"Tak apa, luka gores seperti ini, nanti juga sembuh," ujar Sasori asal seraya melangkah pergi.
Tiba-tiba sebuah tangan putih menangkap pergelangan tangan kiri Sasori. Pemuda itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Tangan yang menahannya pergi itu adalah tangan Hinata. Terlihat jelas dari kedua mata gadis itu kalau dia mengkhawatirkan keadaan Sasori.
"Gara-gara menolongku kau jadi terluka. Izinkan aku mengobati lukamu sebagai ucapan terima kasihku padamu," ujar gadis berambut biru itu.
Sasori hanya terdiam. Tak ada kata-kata jawaban dari pemuda itu. Sementara luka pada lengannya semakin parah. Darah yang keluar dan menodai seragamnya semakin melebar. Dan Hinata masih menatapnya penuh harap.
"Kumohon Sasori-kun."
Akhirnya pertahanan Sasori runtuh juga. Pemuda itu tersenyum lalu mengangguk singkat. Hinata tersenyum lalu menarik Sasori menuju ruang kesehatan. Mereka berdua berjalan dalam diam. Orang-orang yang ada disekitar mereka terus mengamati setiap gerak-gerik kedua orang itu sampai mereka menghilang di balik pintu ruang infirmary.
"Haruno-kun ternyata tidak seburuk dari apa yang kita pikirkan," gumam seorang gadis tanpa sadar.
"Mungkin dia memang orang baik dan kita hanya salah paham padanya," sahut gadis lainnya.
Dan sejak saat itulah gossip miring tentang Sasori menghilang. Kini setiap kali melihat pemuda berambut merah itu, para gadis akan tersenyum dan memandangnya dengan tatapan kagum. Memang wajah Sasori tampan, tapi dia tidak pernah mengira akan mendapat perlakuan seperti ini sejak saat kecelakaan pecahan kaca. Dan berkat kejadian itu pula Sasori tidak sengaja mengubah julukannya dari "Sasori si Maniak" menjadi "Sasori the Knight".
Bagus, sekarang aku bermasalah dengan fangirls! Gerutu Sasori dalam hati.
Di belakangnya terlihat beberapa gadis yang terus menatapnya dengan kagum.
.
.
.
Awan mendung menggantung di angkasa. Warna biru langit yang terang itu kini tergantikan dengan abu-abu. Kelam. Menampilkan kesan kesedihan yang mendalam. Perlahan tetes demi tetes hujan turun dengan perlahan jatuh ke bumi. Di tengah suatu taman yang sepi terlihat seorang gadis berpakaian serba hitam. Mulai dari T-shirt lengan panjangnya, rok tartaid motif kotak-koyak merah dan hitam, kaos kaki di atas lutut, sampai sepatu hak tinggi, semuanya hitam. Hanya sabuk berduri dan gelang serta kalungnya yang berleontin dengan bentuk seperti bunga mawar itu yang berwarna berbeda. Mengkilat, stainless steal.
Gadis itu melemparkan payung hitam yang dari tadi digunakannya untuk mencegah hujan membasahi tubuhnya. Payung itu melayang jatuh lumayan jauh dari tempat gadis berambut hitam itu berdiri. Kini air hujan membasahi rambut pendeknya, membasahi bajunya dan juga tubuhnya. Dia menengadah ke atas, melihat langit yang sedang menangis. Perlahan ditutupnya kedua matanya. Merasakan hujan membasahinya. Perlahan setitik air keluar dari sudut mata matanya. Dia menangis.
"Rasanya sudah lama sekali aku tidak menikmati hujan seperti ini," gumamnya pelan.
Dengan mata masi terpejam, gadis itu menikmati dinginnya udara kala hujan yang sampai menusuk tulang.
"Dulu aku sangat benci dengan hujan, itu karena 'dia'. Tapi pelahan aku mulai menyukai hujan, itupun karena 'dia'."
Kedua mata beriris light-pink itu terbuka. Dia tersenyum miris. Perlahan dia melangkahkan kedua kakiya menembus derasnya hujan. Orang-orang yang tengah berteduh di pinggir-pinggir toko maupun halte menatapnya heran. Tapi gadis itu masih terus menatap langit kelabu dengan kedua bola light-pinknya.
"Sasori..," gumamnya lirih. "Aku merindukanmu.."
.
.
TBC
Ciaossu! Maaf membuat kalian menunggu. Banyak hal yang terjadi, jadi terlambat update.
Chapter 3 akhirnya bisa updated juga.
Sasori si Maniak, ide itu terpikir secara spontan. Sasori the Knight, kurasa Sasori keren juga menjadi ksatria yang menyelamatkan sang hime (Hinata).
Terima kasih untuk reviewer yang telah bersedia mereview fic ini: HarunoZuka
Buat para readers sekalian, jangan lupa review ya.
Jaa..
