Yoo~~~

Ternyata ceritanya emang bener2 kependekan lagi ya-''

Tadinya aku udah seneng2 ceritanya ga kependekan, eh pas diupload tau2nya pendek banget -_-

Trus aku sempet mikir, chapter.2 kayaknya kurang memuaskan, aku takut bgt, tapi kalian tetep dukung aku, sampe terharu bgt baca reviews :')

Makasihh banyak yg udah kasih kritik dan saran buat aku.. dan makasih juga yang udah ngasih aku semangat buat bikin fic ini

aku seneng banget banget bangetan^^~

yosh, maafkan aku senpai-senpai sekalian atas kebodohan dan keteledoran aku dalam membuat fic ini, sekian curhatan saya (_ _)

Salam hangat, dari pacarnya Shun Oguri-Yuki Hattori (nama samaran) (?)

.

.

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto-sensei

Pairing : SasuSaku

Title : No Gain Without Pain

Genre : Romance, Hurt, Comfort

Rated : T

.

.

.

.

Langit tampak begitu gelap, seperti akan menumpahkan berjuta-juta air matanya. Ya, Hujan. Sudah pasti akan hujan. Memang sejak beberapa waktu lalu Konoha dilanda hujan. Hampir semua murid-murid KHS mengeluh. Karena hujan, seragam mereka, tas mereka, buku-buku sekolah mereka, dan peralatan yang lainnya akan basah, apalagi jika mereka lupa membawa payung. Mereka tidak menyukai hujan. Ya, tapi setidaknya tidak untuk Sakura. Ia justru sangat menyukai hujan.

Sakura terdiam sembari memandang jendela luar kelasnya. Entah kenapa, ia menjadi suka memandang jendela. Memang, semenjak duduk dengan Sasuke, Sakura duduk di paling pojok kelas sebelah kanan dekat jendela luar kelasnya.

Kringgg.

"Ya, Baiklah. Jam pelajaran kita sudah habis. Dan kalian bisa pulang sekarang." Ucap Kurenai Sensei.

"Baik Sensei" Jawab penghuni kelas serempak.

.

.

.

'Sepertinya akan hujan lagi' Gumam Sakura sembari tersenyum.

"Aneh. Sebentar lagi akan hujan, tapi kenapa kau tersenyum?" Tanya suara dingin itu.. ya .. Sasuke.. Uchiha Sasuke.

Sakura tersentak.

Apa?

Sasuke mengajaknya berbicara atau lebih tepatnya mengobrol? Tidak mungkin kan?' Sakura mencubit tangannya. Sakit. Ia tidak sedang bermimpi. Ini nyata. Ini.. pertama kalinya Sasuke mengajaknya bicara. Sakura memejamkan matanya dan menarik nafasnya. Lalu ia menatap Sasuke.

"Tentu saja aku tersenyum. Karena aku suka hujan." Jawab Sakura mantap.

"Hn? Aneh." Sasuke berjalan ke luar kelas. Meninggalkan Sakura yang baru saja ia ajak bicara.

Sakura masih diam dengan tatapan tidak percaya. Ada apa dengan Sasuke? Kenapa.. tiba-tiba mengajaknya bicara?

Sakura menggelengkan kepalanya.

'Tidak,tidak. Hanya mengajak berbicara seperti itu, tidak lebih kan?'.

.

.

.

Hujan turun dengan derasnya di KHS. Tentu saja masih banyak murid-murid yang belum pulang ke rumah masing-masing karena terjebak hujan.

Mereka lalu lalang sibuk mencari payung pinjaman,tentu saja karena mereka tidak membawa payung. Tidak terkecuali Sasuke. Ia juga lupa membawa payung. Ia menyenderkan dirinya ke tembok yang dingin sembari memasukkan kedua tangannya kedalam kantong celananya. Ya, itu memang kebiasaannya.

"Sial, hujan benar-benar merepotkan." Katanya gusar.

Sakura melihat Sasuke belum pulang dan ya.. dia tahu pasti Sasuke tidak membawa payung.

"Kau bisa memakai payungku kalau kau mau." Tawar Sakura dengan suara pelan.

"Hn?" Sasuke melirik seseorang.. atau lebih tepatnya Sakura yang sudah berdiri di sampingnya.

"Ya. Pakailah, kau tidak ingin menunggu sampai malam disini kan'?" Balas Sakura sembari tertawa kecil.

"Hn, tidak." Kata Sasuke sambil mendengus.

"Tak apa.."

"Lalu? Kau pulang memakai apa, heh, bodoh?" Kata Sasuke sinis.

"Aku.. bisa hujan-hujanan kok."

"Bodoh. Kalau kau sakit bagaimana?"

Sakura terdiam.

'Apa? Kalau aku sakit? Apa.. apa Sasuke memikirkan aku?' Pikir Sakura.

"Jangan berfikir yang tidak-tidak. Aku sama sekali tidak mengkhawatirkan mu." Tambah Sasuke.

Deg.

'Begitu ya?'

Sakura menundukkan kepalanya.

"Aku suka hujan. Lagipula kalau aku sakit, itu sudah menjadi resiko. Tapi terserah kau saja mau meminjam payungku atau tidak." Ucap Sakura sambil berlari meninggalkan Sasuke. Ia sudah tidak tahan disana. Sudah tidak tahan akan sikap Sasuke, dan tidak dapat menahan air matanya yang sedari tadi mendesak keluar. Tapi, dengan cepat Sasuke menarik tangan Sakura.

"Baiklah. Untuk kali ini saja, aku pinjam payung mu." Ucap Sasuke.. masih tetap dingin.

Sakura terdiam. Ia tidak bisa menjawab. Hanya anggukan kecil yang ia berikan untuk Sasuke. Setelah Sakura memberikan payungnya kepada Sasuke, ia hendak pergi, tapi.. lagi-lagi tangan Sasuke menghentikan langkahnya.

"A..apa lagi?" kata Sakura sembari menunduk.

"Ini payungmu. Aku tidak akan membiarkan sang pemilik payung kehujanan tetapi aku tidak." Ucap suara dingin itu.

Sakura menatap Sasuke tidak percaya.

"La..lalu?" Tanya Sakura bingung.

"Kau harus pulang bersama ku."

Sakura membulatkan matanya. Ia kaget. Apa? Sasuke .. dia.. pulang bersama? Satu Payung? Hujan-hujanan?

"Ta..tapi.. apa tidak apa-apa?"

"Hn. Ayo cepat." Sasuke menarik tangan Sakura untuk mendekat padanya. Sekarang mereka benar-benar sangat dekat. Tentu saja, karena mereka satu payung.

Selama di perjalanan pulang, tidak ada dari mereka yang memulai percakapan. Suasana benar-benar canggung. Hanya ada suara hujan yang menemani mereka. Mereka terdiam, terhanyut dalam pikiran masing-masing.

Mereka tetap terdiam. Sampai mereka bertemu dengan Naruto dan Hinata.

"Hoi, Sasuke, Sakura!" Sapa Naruto.

"Ah.. Naruto" Kata Sakura canggung. Ia pun melirik Sasuke. Dan Sasuke melihat mereka atau-lebih-tepatnya Naruto dan Hinata dengan tatapan Dingin dan.. tatapan tidak suka.

'Ah.. terjadi lagi' Batin Sakura.

"Um.. Naruto, Hinata? Kenapa kalian bisa pulang bersama?" Tanya Sakura untuk mencairkan suasana.

"A..ah. Ka..kami me..memang selalu pulang bersama kok, Sakura-chan." Jawab Hinata dengan wajah memerah.

"Iya. Karena Neji menitipkan Hinata padaku. Tentu saja aku harus menjaga Hinata." Tambah Naruto sembari mengelus kepala Hinata. Dan wajah Hinata pun tambah memerah.

"O..oh begitu." Jawab Sakura.

"Lalu? Kenapa kalian bisa pulang bersama? Apa lagi satu payung. Apa jangan-jangan.." Goda Naruto.

"Ah! Ti..tidak. Ini karena Sasuke meminjam payungku." Bantah Sakura.

"Hn, ayo Sakura." Sasuke mencengkram erat tangan Sakura dan menariknya menjauh dari Naruto dan Hinata.

"A..ah iya. Jaa Naruto, Hinata!"

"Jaa" Jawab Naruto dan Hinata.

.

.

.

"A..anu Sasuke.."

"Hn?" Jawab Sasuke malas.

"Bi..bisakah kau lepaskan tanganku? Sakit.." Rintih Sakura.

"Ah, maaf." Sasuke melepaskan genggaman tangannya. Ia benar-benar seperti orang bodoh.

"Tidak apa.. aku tahu kau tidak suka melihat mereka berdua." Kata Sakura sembari menundukkan kepalanya.

"Apa maksudmu?" Tanya Sasuke tajam.

Sakura memejamkan matanya, ia menggenggam erat tasnya. Ia benar-benar takut.

"Hei jawab! Apa maksudmu?" Tanya Sasuke.. ia mulai kesal.

Sakura memberanikan diri dan menjawab.

"Kau.. menyukai Hinata kan?'"

"…"

"…"

"Kau.. tidak tahu apa-apa tentang aku." Jawab Sasuke.

"…"

"…"

"Aku.. aku tahu."

"Hn? Apa maksudmu?"

"Aku tahu tentang kau Sasuke.."

"…"

"Karena aku.. selalu memperhatikan mu."

Sasuke menghentikan langkahnya. Ia terdiam. Apa maksud gadis ini?

"Aku tahu, aku tahu kau sering memperhatikan Hinata, kau menyukai Hinata, dan kau selalu menatap dingin Hinata saat bersama Naruto..Siapapun yang memperhatikan mu pasti tahu itu.." Lanjut Sakura.

"Itu semua.. Bukan urusanmu."

"Memang benar, itu semua bukan urusanku.. tapi aku hanya ingin memberitahukanmu.. bahwa aku.. mengerti perasaan mu.."

"…"

"Karena.. kita.. kau dan aku.. sama-sama mencintai tanpa dicintai.."

"…"

"Aku tahu aku lancang.. tapi.. aku sudah tidak dapat menahan lagi.."

"Jadi..kau sudah tahu semuanya ya?"

"…"

"Kenapa kau tiba-tiba bicara tentang itu?"

"Aku hanya ingin kau.. lebih terbuka lagi.. kau selalu menahannya sendirian, Sasuke.. dan aku tahu.. Aku juga merasakan hal yang sama, tapi Ino selalu ada disamping ku.. aku jadi bisa lebih terbuka..Aku memang menyebalkan.."

"…"

Sakura menarik nafasnya, dan melanjutkan kata-katanya.

"Tetapi..tidak ada salahnya jika kau lebih terbuka padaku kan?'"

Sasuke menatap Sakura tidak percaya. Kenapa gadis ini bisa bicara begitu padanya? Apakah gadis ini tidak takut padanya? Pada si Uchiha Dingin ini?

"Ah.. sudah sampai rumahku. Aku duluan ya. Payungku kau bawa pulang saja, kau bisa mengembalikannya kapan-kapan. Maaf tadi aku begitu lancang, lupakan saja perkataan ku tadi. Jaa." Kata Sakura sembari berlari kecil kearah rumahnya. Namun Sasuke lagi-lagi menarik tangannya. Sakura menatap Sasuke bingung bercampur kaget.

"A..ada apa lagi Sasuke?" Tanya Sakura pelan.

"Sakura.."

"Um?"

"Terima Kasih." Kata Sasuke sembari meninggalkan Sakura yang terdiam.

Sakura diam membeku.

'Terima Kasih.'

'Terima Kasih.'

'Terima Kasih.'

'Terima Kasih.'

'Terima Kasih.'

'Terima Kasih.'

'Terima Kasih.'

'Terima Kasih.'

'Terima Kasih.'

'Terima Kasih.'

Kata-kata itu terus berputar-putar di pikiran Sakura.

Sakura mengangkat wajahnya yang tertunduk, dan berkata sembari tersenyum manis.

"Doite, Sasuke-kun."

Dan Sakura berlari memasuki rumahnya.

.

.

.

Ya, hanya Hujan yang menjadi saksi bisu kejadian di antara keduanya.. Sasuke dan Sakura.

.

.

.

Pagi hari di Konoha, udara terasa begitu dingin. Udara seakan merasuki tubuh. Dengan suhu seperti ini, siapapun pasti hanya ingin sendirian di kamar, ditemani kasur, bantal, dan guling yang begitu menggoda.

"Hei forehead, kau tampak tidak sehat." Tanya Ino.

"Tentu saja! Kemarin aku kehujanan. " Jawab Sakura enteng.

"Pasti kau hujan-hujanan lagi ya? Huh, hentikan hobi bodoh mu itu!"

"Tidak kok! Padahal kemarin aku pakai payung, tetapi tetap saja terkena hujan, ya wajar saja sih, payung kecil seperti itu mana bisa melindungi dua orang.." Sakura menghentikan bicaranya. Ia menutup mulutnya. Ia jadi teringat kejadian kemarin, dan tanpa sadar wajahnya sudah memerah.

"Dua orang?"

"E..eh.."

"Kau kemarin pulang bersama siapa? Satu payung? Dengan siapa?" Tanya Ino penasaran.

"Ti..tidak kok.."

"Jangan bohong! Jawab aku! Kumohon!" Bujuk Ino sembari memberikan puppy-eyes nya.

"Ke..kemarin..aku pulang bersama.."

"Ya?ya?"

"Sasuke.."

"Kyaa! Kau hebat Sakura, kau he.." Perkataan Ino terpotong karena sakura menutup mulutnya rapat-rapat.

"Baka Pig! Jangan Keras-keras!"

"I..iya maaf. Tapi..kenapa bisa?" Tanya Ino tidak percaya.

"Apa sih? Aku hanya meminjamkan payung ku untuknya kok."

"Lalu? Kenapa bisa sampai.. Satu payung.. dengan Sasuke?" Tanya Ino sembari memberi penekanan pada kata Sasuke.

"Dia bilang, dia tidak mau melihat aku yang mempunyai payung itu kehujanan sedangkan dia yang meminjamnya tidak."

"Sakura…"

"Hm?"

"Kau benar-benar beruntung!"

"Apanya?" Jawab Sakura bingung.

"Bisa pulang bersama orang yang kau sukai.. apalagi sampai satu payung!" Jawab Ino bersemangat.

"Mungkin iya, mungkin tidak. Aku tidak benar-benar beruntung kok.."

"Apa maksudmu?" Sekarang giliran Ino yang bertanya.

"Ah! Sudahlah. Ayo cepat, nanti bisa terlambat tahu!"

.

.

.

Di Kelas

"Hatchi!"

Seluruh kelas menatap sang pelaku atau lebih tepatnya seseorang yang bersin-Haruno Sakura.

"Haruno, sepertinya kau sakit. Sebaiknya kau ke UKS saja." Ujar Kakashi Sensei yang tumben-datang-tidak-telat.

"Ha..hai Sensei." Dengan cepat Sakura memakai jaketnya dan berjalan menuju UKS.

Namun kali ini Sakura lupa akan kebiasaannya.. yaitu menatap Sasuke sebelum ia pergi kemana pun. Dan kali ini.. Sasuke menatap Sakura yang berjalan menjauh menuju UKS.

'Kau lihat kan' Sakura? Kalian memang di takdirkan bersama. Sekarang pun, sadar atau tidak sadar, Sasuke sedang menatapmu yang berjalan menjauh! Benar-benar menarik kan?' Batin Ino sembari tersenyum menyeringai.

-TBC-

Jeng Jeng Jeng!

Gimana?

SasuSaku nya udah keliatan greget belom? Aku kasian sama Sakura, sampe mau nangis pas bikin chapter 3 yang ini TT^TT

Gimana chapter 3 nya? ini masih kedikitan gak sih? Aku ga bisa bikin sampe 2000 word nih =A=a ini aja Cuma sampe 1700 word—'' dan aku udah bener2 keabisan kata2 nih—'' huweee gomen kalo masih kedikitan TTT^^^TTT *nangisdipojokan* *pelukshun*

Oke deh, aku terlalu banyak ngeluh—'' reviews yaa minna, jangan lupa kasih saran biar fanfic ini jadi sempurna \m/ arigatou~~~ ^^v