Hooi!

Moshi-moshi minnaaa!~

Kangen ya? *tampol*

kangen fic ku yaaa? *ENGGAK!*

Eheheh, aku mau lanjutin fic ku~

Hampir stengah tahun ga ngelanjutin fic ini, fyuuh *ngelap keringet*

Bukannya aku males, cuma 6 bulan ini aku bener-bener dikerjain sama tugas! DX

Oke deh aku gamau banyak curcol,biasanya curcol terus (_ _") *pundung2*

Maaf kalo sering Typo (=^=a)

Happy Reading~!

.

.

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto-sensei

Pairing : SasuSaku

Title : No Gain Without Pain

Genre : Romance, Hurt, Comfort

Rated : T

.

.

.

.

.

Jam dinding yang terletak di kamar Sakura menunjukkan pukul 23.00. Sakura mencoba menutup matanya, atau lebih tepatnya mencoba segera menuju alam mimpinya. Tetapi ia tidak bisa. Ia mencoba berbagai cara agar ia bisa tidur, mulai dari menghitung bintang, menghitung Domba,dan lainnya. Namun tidak berhasil. Otaknya terus memikirkan 'Kejadian' yang baru beberapa saat yang lalu ia rasakan.

Sasuke..

Mungkin Sakura tidak akan seperti ini, jika Sasuke benar-benar ada keperluan mendadak dan membatalkan janjinya dengan Sakura, walaupun hanya sekedar janji membantu mengerjakan tugas. Sakura bisa memakluminya, tetapi Sasuke sudah membohongi Sakura dan..Hinata.

Sasuke memiliki janji dengan Hinata. Tak apa, Sakura sadar, ia tidaklah sepenting Hinata bagi Sasuke, tetapi kenapa? Disaat Sasuke sudah berjanji mau membantu Sakura mengerjakan tugasnya, Sakura yang sudah terlanjur terlonjak senang, dan Sasuke membatalkannya tanpa alasan yang jelas.

"Sasuke-kun, di..dimana Sakura-chan? Kau sudah menyampaikan ajakan ku padanya 'kan?"

"Hn, dia tidak bisa ikut."

Sakura menghembuskan nafasnya, Menempati satu tangannya diatas matanya untuk menutupi kedua matanya. Ia terdiam, mencoba melupakan deretan memori yang tidak ingin ia ingat, namun selalu menghantuinya. Sejak kapan Sakura bilang 'tidak-bisa-ikut' kepada Sasuke? Bahkan Sasuke tidak menyampaikan pesan Hinata pada Sakura!

'Kau berbohong Sasuke..' Batinnya.

Ya, walaupun begitu Sakura bersyukur karena setelah itu Gaara datang dan mengatakan urusannya sudah selesai, jadi ia bisa membantu mengerjakan tugas Sakura. Sakura merasa beruntung, ia satu-satunya gadis yang bisa dibilang dekat dengan Gaara yang notabene pendiam dan dingin. Sebenarnya dibalik parasnya, Gaara sangat baik. Sakura berfikir, kenapa ia tidak menyukai Gaara saja? Dia baik, dingin sama seperti Sasuke, pintar pula. Ia hampir seperti Sasuke, lalu apa kurangnya Gaara? Entahlah. Sasuke yang dingin, tidak pedulian, sinis. Sifatnya benar-benar buruk. Tapi entah kenapa Sakura tetap menyukainya.

.

.

.

.

.

.

-Pagi hari-

"Hei Sakura! Kau kenapa sih?" teriakkan Ino menyadarkan Sakura dari lamunannya.

Sakura menatap Ino kesal. "Jangan membuatku kaget! Baka." Katanya.

Ino menggembungkan pipinya. "Itu gara-gara kau melamun terus!". Sakura hanya diam. "Kau ada masalah? Kau bisa cerita padaku, forehead." Lanjut Ino.

"Hm, kapan-kapan saja ya Pig, aku sedang malas." Jawab Sakura.

Ino menatap Sakura malas "Baiklah, ayo cepat, sepertinya kita akan terlambat!" Kata Ino sambil berlari meninggalkan Sakura.

Keberuntungan di tangan Ino dan Sakura. Mereka bisa sampai di sekolah sebelum bel masuk berbunyi. Sesampainya di kelas, Sakura segera menghampiri tempat duduknya, ia pun melihat bangku kosong disebelah bangkunya. 'Sasuke belum datang, syukurlah.' batinnya. Ia menaruh tasnya dan mengambil novel yang baru ia pinjam dari Perpustakaan. Baru membaca beberapa halaman, Sakura terpaku melihat seseorang duduk disampingnya, Gaara.

"Apa kau keberatan aku duduk disini, sampai Sasuke datang?" Tanya Gaara pada Sakura.

"Ah tentu saja tidak! Aku juga mau berterima kasih, kemarin kau sudah membantuku, kalau tidak aku sudah mati kebingungan!" Kata Sakura panjang lebar.

Gaara tersenyum tipis. "Tidak apa, itu soal mudah." Sakura melotot kearah Gaara.

"Yaampun, bisa-bisanya kau berkata itu soal mudah sedangkan aku membaca kata-kata dalam soal itu saja sudah pusing! Tidak! Sepintar itukah kau, Gaara? Atau aku yang terlalu bodoh?" Racau Sakura.

Gaara tidak bisa menahan tawanya. Sakura menggembungkan pipinya melihat Gaara menertawakannya. "Hn, gomen. Itu memang soal yang sulit. Aku bisa menjawabnya karena aku suka membaca buku Sejarah." Jelas Gaara.

Sakura menatap Gaara kagum. Kami-sama, lihat! Sakura menemukan satu lagi kelebihan Gaara. Dia rajin! Disaat Sakura dan Gaara asyik berbincang, tiba-tiba..

"Ehem." Sakura dan Gaara pun mencari seseorang yang berdehem tadi, Sasuke. Sakura kaget, Sasuke sudah datang rupanya. Padahal Sasuke lah orang yang paling tidak ingin Sakura temui, tapi Kami-sama tidak mengindahkan harapan Sakura. Gaara pun segera kembali ketempat duduknya. Sedangkan Sakura hanya membuang muka kearah jendela. Ia sedang tidak mau melihat Sasuke, apalagi bertemu pandang dengan Sasuke.

Kelas Sakura sedari tadi ribut, ada yang bercanda, tidur, makan, dll. Tentu saja karena Senseinya, Kakashi-Sensei tidak kunjung datang. Namun mereka sudah terbiasa, Kakashi-Sensei memang seperti itu. Sakura yang merasa bosan akhirnya membaca kembali novelnya. Tetapi ia tidak fokus, bagaimana bisa fokus, karena Sakura menyadari Sasuke sesekali melirik Sakura. Sakura tidak mengerti kenapa Sasuke meliriknya.

'Kenapa kau melirikku terus hei, Uchiha? Kau merasa bersalah padaku heh?' Batin Sakura kesal.

"Hei." Sakura tersentak, Sasuke memanggil siapa? Sakura pun kembali membaca novelnya.

"Hei, aku memanggilmu." Kata Sasuke lagi.

Sakura menatap Sasuke sembari menunjuk dirinya seolah berkata kau-memanggilku? Sasuke pun mengangguk. Sakura menghela nafas dan kembali membaca novelnya. "Aku punya nama." Kata Sakura acuh.

"Hn." Sakura kesal mendengar jawaban Sasuke. "Kemarin..bagaimana dengan tugasmu?" lanjut Sasuke.

Sakura berhenti membaca novelnya dan terdiam. "Sudah selesai. Gaara membantuku menyelesaikannya.." Jawab Sakura, murung.

"Hn." Hanya itu respon Sasuke.

'Tidak kah kau merasa bersalah Sasuke?' Batin Sakura sedih.

Tiba-tiba Hinata mendekati tempat duduk Sakura dan Sasuke. "Sakura-chan!" Sakura menatap Hinata sembari melirik Sasuke yang sedang menatap-Hinata-begitu-intens.

Sakura menghembuskan nafasnya, "Ada apa Hinata?" jawab Sakura seadanya.

"Kenapa kau kemarin tidak bisa ikut?" Tanya Hinata sembari menatap Sakura.

DEG

Sakura melirik Sasuke, terlihat Sasuke dengan tampang datarnya, tetapi Sakura tahu bahwa Sasuke sedang kaget dengan ucapan Hinata. "Maksudmu?" jawab Sakura.

"Kemarin aku mengajakmu dan Sasuke-kun untuk membeli hadiah untuk Naruto-kun, Sasuke-kun sudah bilang padamu kan? Kenapa Sakura-chan tidak bisa ikut?" Tanya Hinata dengan pelan agar suaranya tidak terdengar oleh Naruto.

Sakura terdiam, ia menatap Sasuke, dan Sasuke pun tengah menatap Sakura, terbaca raut wajah khawatir Sasuke, meski tidak jelas.

"Gomen, kemarin aku harus mengerjakan tugas dari Ibiki-Sensei, jadi aku tidak bisa menemanimu. Lagipula ada Sasuke kan?" Sakura memberi penekanan pada nama Sasuke.

Hinata menatapnya kecewa "Padahal kukira akan lebih seru jika Sakura-chan ikut. Yasudah, aku kembali ke tempat dudukku dulu, jaa!" Hinata pun meninggalkan tempat duduk Sakura dan Sasuke.

Hening. Tidak ada yang membuka suara baik Sakura maupun Sasuke. Hanya ada Sasuke yang tengah menatap Sakura dengan tatapan yang sulit diartikan. Sakura sadar akan hal itu, tetapi ia tidak peduli, dan ia memilih untuk melanjutkan membaca novelnya. Ia sudah terlanjur kecewa pada Sasuke.

.

.

.

.

.

.

Bel istirahat baru saja berbunyi. Teman-teman Sakura berhamburan keluar kelas. "Hei forehead, ayo ke kantin!" Ajak Ino.

Sakura ingin menerima ajakan Ino, tetapi Sasuke masih duduk di bangkunya sambil membaca buku. Jika Sakura mau keluar, ia harus berbicara dulu dengan Sasuke, Sakura sedang tidak ingin berbicara dengan Sasuke. "Aku..aku di kelas saja." Jawab Sakura ragu.

"Baiklah." Kata Ino sembari meninggalkan kelas.

Sakura mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kelas, dan ia baru menyadari.. bahwa di kelas hanya ada dirinya dan Sasuke! Sakura benar-benar menyesal menolak ajakan Ino tadi. Dengan pasrah ia pun kembali membaca novelnya. Tanpa Sakura sadari, Onyx tajam sedari tadi tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

Pintu kelas pun terbuka, tanda seseorang sedang masuk kedalamnya. Sakura menghela nafas lega, akhirnya datang seseorang, jadi ia tidak lagi berdua dengan Sasuke di kelas.

"Hei Sakura, kau tidak ke kantin?" Tanya seseorang itu, Gaara.

"Ah tidak, aku tidak lapar kok." Jawab Sakura sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tiba-tiba..

Kruuk

Sakura blushing. Baru saja ia berkata bahwa ia tidak lapar, dan setelah itu perutnya berbunyi, tanda perutnya meminta diisikan makanan. Gaara pun menahan tawanya, tetapi tetap terlihat oleh Sakura.

"Ja..jangan tertawa!" kata Sakura sambil membuang muka ke arah jendela.

"Hn, gomen. Ini, aku membelikan ini untukmu. Lain kali kalau lapar bilang saja." Seringai Gaara sambil memberikan Sakura Onigiri.

"Arigatou Gaara." Jawab Sakura malu. Saking asyiknya Sakura dan Gaara berbincang, lagi-lagi mereka tidak menyadari kehadiran Sasuke yang sedari tadi ada dibangkunya.

Sasuke pun berjalan menginggalkan mereka berdua keluar kelas. Terlihat ia sedikit kesal tadi. Entah, Sasuke pun tidak tahu alasannya.

Sasuke berjalan ke arah kantin. Banyak gadis-gadis yang menatap Sasuke kagum. Ada beberapa dari mereka yang berteriak "Kyaa! Sasuke!" Namun Sasuke tidak menggubrisnya. Ia sudah terbiasa menjadi pusat perhatian banyak orang di sekolahnya. Sesampainya di kantin, ia melihat Hinata dan Naruto disana. Sasuke pun menatap kedua orang itu dengan tatapan tajam. Tadi dikelas Sakura dan Gaara membuatnya kesal, sekarang Hinata dan Naruto. Hancur sudah mood Sasuke hari ini.

"Sasuke-kun!" Sasuke menoleh pada seseorang yang memanggilnya. Hinata melambaikan tangannya pada Sasuke, disitu terlihat pula Naruto yang tengah tersenyum padanya. Terpaksa Sasuke mendekati mereka.

"Hn? Ada apa?" jawab Sasuke dingin.

"Ah, besok malam akan ada acara pesta ulang tahun Naruto-kun. Kau datang ya! Ah, jangan lupa membawa pasangan!" Kata Hinata sembari tersenyum. Sasuke semakin kesal.

'Jadi ulang tahun Naruto ya?'

"Membawa pasangan? Haruskah? Aku tidak punya dan aku tidak mau." Jawab Sasuke.

"Harus! Kau harus mau, kan ada Sakura-chan!" Goda Hinata.

'Sakura?'

"Ayolah Sasuke, kau terlihat dekat dengan Sakura. Jangan sampai Sakura keburu diajak oleh Gaara!" Kata naruto sambil tertawa. Sebelum Sasuke menjawab Hinata dan Naruto sudah izin untuk pergi. Sasuke mendengus kesal.

'Sakura ya?'

.

.

.

.

.

.

"Sakura, ayo pulang!" Ajak Ino pada Sakura.

"Ng..kau pulang duluan saja ya."Jawab Sakura ragu.

"Hee? kenapa?" Tanya Ino sambil menatap Sakura bingung.

"Tidak, aku hanya ingin ke suatu tempat dulu. Kau pulang duluan saja." Jawab Sakura meyakinkan Ino.

"Baiklah baiklah. Sampai jumpa besok." Kata Ino sembari menyentil jidat sakura. Sakura hanya bisa mengiris kesakitan karenanya.

'Ino sialan!' Batinnya.

.

.

.

Sakura berjalan kearah Taman tempat ia melepaskan emosinya. Jika Sakura sedang kesal, marah, sedih ia selalu kesana untuk melampiaskannya. Sesampainya disana Sakura duduk dikursi taman favoritnya. Ia terdiam, tentu saja ia memikirkan kejadian tadi. Sakura memikirkan raut wajah panik Sasuke saat Hinata berbicara padanya.

'Lihat Sasuke.. aku tidak membongkar kebohonganmu pada Hinata kan? Karena aku tidak tega padamu..' Batin Sakura sedih.

Saat Sakura sedang melamun, tiba-tiba datang seseorang duduk disamping Sakura. Sakura menoleh pada orang itu. Dia.. Sasuke? Sakura menatapnya sekilas, lalu ia kembali membuang muka. Bukan karena ia sombong, tetapi ia benar-benar tidak ingin Sasuke melihat wajahnya yang hampir menangis.

"Hn." Sakura menaikkan sebelah alisnya. Ia bingung, apa maksud dari 'Hn."-an Sasuke? Apa itu sapaan untuknya? "Sakura.." Sasuke melanjutkan perkataannya, meski kata pertama yang ia ucapkan hanya terdiri dua huruf.

"Apa?" Kata Sakura tanpa menatap Sasuke.

"Hn. Tadi.." Sasuke menggantungkan kata-katanya.

"Tadi kenapa?" Jawab Sakura masih dengan nada bingung.

"Tadi.. soal perkataan Hinata.." Sasuke terlihat bingung bagaimana untuk mengungkapkannya.

Sakura terdiam.

'Lihatlah, sekarang sang Uchiha tengah bingung..' Gumam Sakura. Seolah mengerti ucapan Sasuke, Sakura menjawab "Oh.. lalu kenapa?" Jawab Sakura dengan nada acuh.

Entahah, tetapi Sasuke merasa ucapan Sakura sedikit ketus. "Hn. Aku hanya.." Sebelum Sasuke menyelesaikan perkataannya, Sakura menyelaknya.

"Hanya apa? Hanya berbohong?" Jawab Sakura.

DEG

Sasuke kaget dengan ucapan Sakura. Terlebih lagi ucapan Sakura tepat mengenai sasaran pembicaraannya. Apa Sakura sudah tahu lebih dulu kalau ia..membohongi Hinata? Sasuke mencoba tenang. "Tentu saja aku mempunyai alasan." Katanya, terdengar seperti membela diri.

"Alasan?" Sakura tersenyum miris.

'Alasan apa lagi Sasuke?' Batinnya.

"Ya. Kau tahu aku..menyukai Hinata kan?" Kata Sasuke sedikit ragu.

Sakura terdiam. Sakura sudah benar-benar paham sekarang. Tapi ia ingin mendengar dari Sasuke langsung. "Ya.." Jawab Sakura pendek.

"Aku.. aku tahu ini konyol tapi.. aku ingin menghabisi waktu bersamanya walau hanya sekali itu saja." Jawab Sasuke sambil membuang muka kearah lain.

Benar dugaan Sakura. Pasti itu alasannya. Pasti.. "Jadi..kau membohongi Hinata dan kau tidak menyampaikan pesannya padaku..hanya untuk itu?" Tanya Sakura yang sambil menahan air matanya.

Sasuke terdiam. Entah kenapa kata-kata Sakura barusan benar-benar menyadarkannya. "Ya. Tapi, itu hal sepele kan?" Jawab Sasuke mencoba tenang. Ternyata berbicara dengan Sakura tidaklah mudah.

"Sepele ya?" Jawab Sakura. Sasuke terdiam, mendengarkan perkataan Sakura dengan seksama. "Kau menyukai Hinata, kau memanfaatkan waktu bersama Hinata, yang sebenarnya itu adalah waktu bersamaku dan Hinata. Tak apa, aku mengerti itu, karena kau menyukainya. Tetapi kau bersama Hinata dibelakang Naruto. Sasuke, kau curang.." Lanjut Sakura yang terdengar begitu miris.

"Apa maksudmu?" Tanya Sasuke, ia tidak mengerti maksud perkataan Sakura.

Sakura menghela nafasnya. Sepertinya ia akan banyak bicara sekarang. "Jika kau benar-benar menyukainya..kenapa kau tidak merebutnya. Kau malah memanfaatkan saat-saat yang salah. Kau terlihat seperti..Pengecut."

Sasuke tersentak. Ia menatap tajam Sakura. "Aku pengecut? Kau tidak tahu apa-apa tentangku dan kau tidak berhak menilaiku!" Bentaknya.

Sakura terlonjak kaget. Tubuhnya bergetar menahan tangis.

'Kau tidak boleh menangis sekarang Sakura. Kau belum menyelesaikan semuanya.' Batinnya.

"Menurutmu mungkin aku memang tidak tahu apa-apa tentangmu. Tetapi sayangnya aku tahu Sasuke..aku tahu." Balasnya sendu.

"Cih. Kau tahu apa?" Tanya Sasuke kesal.

"Aku tahu kau menyukai Hinata, aku tahu kau selalu menatap benci saat Hinata bersama Naruto. Siapapun tahu itu. Aku tidak ingin tahu..tapi aku terlanjur mengetahuinya."

Sasuke terdiam. "Baiklah. Lupakan saja tentang ini. Aku akan meminta maaf pada Hinata karena sudah membohonginya. Kau puas sekarang?" Kata Sasuke sembari beranjak pergi. Emosinya benar-benar tersulut karena gadis ini. Sakura benar-benar menyebalkan. Pikirnya.

"Lalu bagaimana denganku?" Kata Sakura tiba-tiba.

Sasuke menghentikan langkahnya. "Apa maksudmu?"

Sakura terdiam beberapa saat. "Kau memang membohongi Hinata, tetapi..kau juga tidak menyampaikan apa yang Hinata pesankan padamu untukku."

Sasuke membalikkan badannya, ia menatap Sakura tidak percaya. Gadis itu benar-benar membesar-besarkan masalah. "Itu hanya hal sepele Sakura! Kenapa kau mempermasalahkan itu! Aku membohongi Hinata, bukan kau! Kenapa kau yang menjadi begitu terluka?" Tanya Sasuke dengan membentak. Ia benar-benar kesal.

"Tetapi itu tidak sepele untukku! Kau membuatku membiarkanmu bersamanya!" Jawab Sakura dengan nada tinggi tetapi bergetar.

Sasuke terheran. "Apa maksud-" Sebelum Sasuke menyelesaikannya, Sakura memotongnya.

"Karena..karena aku menyukaimu! Aku menyukaimu sejak dulu!" teriak Sakura.

Ia sudah tidak perduli lagi respon Sasuke. Ia hanya terlalu lelah, lelah menahan perasaannya, lelah menunggu Sasuke melihatnya.

Sasuke membelalakkan matanya. Ia sungguh kaget dengan pernyataan Sakura barusan. "Ja..jangan bercanda Sakura!" Elaknya.

"Mana mungkin aku bercanda disaat seperti ini. Aku..benar-benar menyukaimu! Sejak dulu..tetapi kau tidak pernah melihatku, hanya Hinata..selalu Hinata." Kata Sakura dengan suara bergetar. Tangisnya pun pecah. Ia sudah tidak dapat menahannya lagi. Ini terlalu menyakitkan.

Sasuke hanya terdiam. Ia benar-benar bingung harus menjawab apa. Ia menatap Sakura yang menangis. Kenapa? Kenapa ia merasa bersalah? Kenapa..ia merasa sakit saat melihat Sakura menangis?

"Aku..tidak akan membiarkanmu berdua dengan Hinata..karena aku tahu, kau hanya akan semakin sakit. Kau akan semakin sulit melepas Hinata yang sudah jelas-jelas mencintai Naruto dan Naruto mencintainya.. Aku..hanya tidak ingin kau..semakin terluka..hanya itu.." Kata Sakura sembari tersenyum lirih, ia mengusap air matanya dengan kasar.

Sasuke masih terdiam. Kini ia tidak berani menatap Sakura. Entah kenapa, tetapi melihat air matanya, membuat Sasuke begitu sakit.

"Sekarang..aku sudah menyatakan semuanya. Aku tahu ini mengganggumu. Tetapi setelah ini, aku tidak akan mengganggumu lagi. Jadi kau bisa mengejar Hinata sesukamu. Aku..menyerah. Aku akan melupakanmu. Sampai jumpa." Lanjut Sakura.

Sakura mengambil tasnya, dan berlari. Tanpa sengaja pundaknya menyentuh pundak Sasuke saat sedang berlari.

DEG

Sasuke diam membeku. Apalagi tadi pundaknya tidak sengaja bersentuhan dengan gadis itu. Sasuke dapat merasakannya, walau hanya bersentuhan pundak, Sasuke tahu tubuh gadis itu bergetar hebat.

Sasuke masih belum begitu sadar dengan apa yang barusan terjadi. Kejadian tadi terasa begitu cepat. Sampai Sasuke tidak dapat mencernanya baik-baik dalam pikiran Sasuke. Tetapi yang Sasuke tahu, Ia sudah menyakiti gadis itu.

Sasuke masih diam dengan posisinya, berdiri. Ia mencerna kata-kata Sakura tadi. Hampir semua kata-kata Sakura benar. Hanya saja Sasuke tidak dapat menerimanya. Dan sekarang, penyesalan sedikit-demi-sedikit menyelimuti Sasuke.

'Apa yang harus kulakukan?' Batinnya frustasi.

.

.

.

.

.

.

-TBC-

Alhamdulillah selesai juga~

Ini chapter pertama yang bikin aku bener-bener mau nangis *mau loh ya MAU*

Gatau kenapa. Biasanya kalo bikin cerita ga pernah terhanyut sama cerita sendiri (=v=a)

Gimana? Jelek ya?==

Kayaknya fic ini bakal ending di chapter 6 *mungkin* yah padahal maunya ending di chapter 7 tuh =A= *angka kesukaan* *angka cantik*

Ah udah deh, Kasih kritik dan saran yaa, review~ XD

Jaa~