OMG. It was freaking 19! I love you guys so damn much! Thank you for taking your time to review this story... Now on with the replies~ *kenapa saya jadi inggrisan begini? ==a* *jedotinpalakemeja*
nanao yumi: Ohohoho... Pikiran saya juga udah kemana2 ini selagi nulis chapter 3 ini. Hmm... Kalau sampe dipanjangin lagi, bisa2 saya ga bisa update kilat lho~ Mufufufufu... Hm... Untung banyaknya chapter, saya juga masih ga begitu yakin. Karena ada beberapa ide yg muncul, tapi juga berusaha saya teken. Yah, kita liat nanti aja ;)
botol:Oh ya? Kirain Twilight ga ada yg namanya Alpha Beta. Ga ngikutin sih... Ah, tapi Jacob emang werewolv ya kalo ga salah sih?
Aoi Namikaze: Lagi mood banget sih, cuy. Makanya cepet ;) Ufufufu... Begitulah~ Chapter ini emang bagian yg 'itu'~
Pichachan: Tentu~ Inget kan release form-nya Grimm itu bentuknya feline? Pastinya jadi kawinnya juga tipe kucing dong ;) Ehee... Sankyuu ^^
hoshichan: Ada di sini ya, say :)
Winter Aoi Sakura: Ehehehe... Sankyuu XD Kalo rape, ntar Ichi ngamuk n ga mau ngasih lagi ke Grimmy lho~ Yep begitulah. Pilnya itu supaya Ichi bisa hamil. Grimmy udah kebelet pengen punya cubs sih~ *ceroed*
Zanpaku nee: Ini update kilat lagi kan saya? ;) *ketipin*
Uzukaze sasunaru: Wkwkwk... Ga bisa tiap hari juga lho ya updatenya. Soalnya masih ada 2 mulchap laen yang harus dikasih perhatian juga :) Kayak yg saya bilang sebelumnya, kalau lebih panjang lagi dari ini, bisa2 saya updatenya lama lho ;) Fufufufu...
Vios: Yep. Ini udah update~
Ryuu: Bener sekali, sayang ;) Lemon bakalan ada di chapter ini.
GrimmIchiLoverz: Lagi mood sih =)) Oke deh, sankyuu yaa~
Aoi LawLight: ... *lempar genteng beneran ke Ao* *plak* Kalo alasan Ichigo panas2 gitu sih itu karena emang lagi musim kawin untuk Hollow. Inget kan kalo Ichigo itu setengah Shinigami, setengah Hollow? Makanya dia jadi Visored ;) Kalo mengenai belum nemu 'pengisi' untuk 'kekosongan'nya, itu untuk perasaan dia yg ga pernah bisa ngerasa nyaman...
Devil Angel: Saya usahakan ga terlalu lama ini :) Enjoy~
ndoek: Wehehe... Senang deh kalo dikau juga suka kissu-nya x3 Yep, yep. Ini udah coba di update secepat yg saya bisa :)a
Terima kasih juga untuk yang sudah login dulu sebelum mereview: Kazugami Saichi Hakuraichi / Ivera Jeagerjaques / astia aoi / ByuuBee / euke hatsumoto
Sweet Baby Berry
Chapter 3
Ting tong... Ting tong...
Mengalihkan perhatian dari wortel yang tengah dicucinya di wastafel, Yuzu mengangkat alis memandang ke arah pintu depan. Siapa ya? Sekarang ini sudah hampir waktu makan malam, dan kediaman Kurosaki jarang sekali kedatangan tamu pada jam-jam segini. Mematikan keran air, Yuzu kemudian mengelap tangannya yang basah dengan menggunakan handuk kecil yang terletak di sebelah wastafel. Ia mempercepat langkahnya ketika suara bel rumah berbunyi kembali, "Iya! Sebentar, sebentar!" Ketika membuka pintu, ia sama sekali tidak menyangka akan keramaian yang ada di baliknya.
"Ah, Yuzu. Kami datang untuk melihat keadaan Ichigo. Apa dia baik-baik saja?" Rukia bertanya dengan seulas senyum di wajahnya. Di belakang gadis bersurai hitam pendek itu terdapat beberapa orang lain lagi yang Yuzu kenali sebagai teman-teman kakaknya; Orihime, Renji, Chad, dan Uryuu.
Gadis kecil bersurai coklat pucat itu mengerutkan alis ketika menangkap ada yang aneh dari pertanyaan Rukia. "Eh, apa maksudmu, Rukia-nee? Ichi-nii masih belum pulang. Kupikir ia bersama kalian seperti biasanya."
Mereka yang tadinya tengah mengobrol sambil menunggu dipersilahkan masuk, kini berhenti. Kerutan dahi penuh kebingungan terpancar di wajah mereka. "... Ichigo tadi kan pulang lebih dulu di tengah jam pelajaran karena merasa kurang sehat..." Renji menegaskan, dan untuk beberapa saat keheningan melanda mereka. Masing-masing berusaha menerima informasi yang ada, sementara satu pertanyaan yang serupa berkelebat di kepala masing-masingnya.
Kalau begitu Ichigo ke mana?
Desahan samar-samar bisa terdengar dari balik salah satu pintu di lorong yang serba putih. Di balik pintu tersebut terdapat sebuang ranjang berukuran besar dengan dua figur berada di atasnya, bergerak-gerak. Kaki salah satunya mengangkang lebar dan sesekali nampak tersentak. "Ah... Ha! Gri-Grimm...! Ahh! Ah!" Ichigo sudah menyerah untuk menahan suaranya agar tidak terlalu terdengar, kini kedua matanya tertutup rapat, sementara mulutnya menganga dengan saliva yang menetes di tepiannya. Kepalanya menggeleng ke kiri dan ke kanan, merasa tidak tahan dengan sensasi yang berasal dari tubuh bawahnya, di mana saat ini kepala dengan surai berwarna biru tengah bergerak naik-turun.
"Grimm... Grimm... A-aku... Aku sudah..."
Salah satu tangan Ichigo menggenggam seprai dengan sangat kuat, menariknya hingga bisa ia gigit di antara gigi-giginya. Sementara tangannya yang lain kini terbenam di helaian surai biru, menggenggam, dan agak menarik, membuat pemiliknya mendesis. Desisan yang kemudian berfibrasi di antara kejantananya yang berada di dalam mulut Grimmjow, membuat Ichigo tidak sanggup lagi menahan lebih lama. Dengan satu hentakkan, remaja bersurai oranye itu mengeluarkan benihnya, dan sembari bersenandung senang layaknya anak kecil yang mendapatkan balon, Grimmjow menelan cairan putih kental itu tanpa sekali pun merasakan jijik.
Setelah yakin Ichigo mengeluarkan semuanya, Grimmjow memberikan jilatan terakhir dan hisapan di pucuk kejantanan sang remaja sehingga benar-benar tidak ada sperma yang terbuang percuma. Ia pun kemudian mengeluarkan kejantanan Ichigo dari mulutnya dengan menimbulkan bunyi 'plop'.
Grimmjow menyeringai ketika melihat dampak yang ia timbulkan dari pekerjaannya barusan kepada Ichigo. Wajah Ichigo jauh lebih merah daripada sebelumnya dengan peluh yang mengucur, kedua iris coklat sang remaja nampak berkilat akibat air mata yang keluar karena panas tubuh yang naik drastis, dada yang turun-naik akibat nafas yang tersenga-sengal, dan Grimmjow bisa melihat dengan jelas salah satu pucuk dada Ichigo, yang terbuka karena t-shirt yang dikenakannya ditarik hingga atas, kini nampak tegak dan mengeras, berwarna kemerahan.
Menjilati bibirnya yang mendadak terasa kering, Grimmjow mengalihkan penglihatannya ke arah pintu masuk Ichigo sambil mengangkat kedua kaki sang remaja ke atas, sehingga ia bisa melihat pintu masuk itu dengan lebih jelas. "Damn, Ichi... Tidak kusangka hanya dengan oral saja bagian bawahmu sudah bisa sebasah ini..." Sebagai penekanan pada kata-katanya, Grimmjow menggerakkan ujung jemarinya di permukaan rectrum Ichigo yang memang basah. Kelihatannya pil yang ia minumkan tadi sudah menampakkan kinerjanya.
Ichigo mengerang merasakan satu jari Grimmjow memasuki dirinya. Ia sudah tidak tahu lagi apa yang tengah dirinya lakukan saat ini dengan musuhnya... mantan musuhnya... karena kabut nafsu semakin lama semakin membutakan jalan pikirannya. Yang ia tahu hanya bahwa dirinya memang membutuhkan ini... sentuhan ini. Sentuhan yang membuat seluruh indera pada tubuhnya serasa akan meledak. Tidak lagi ia ingat siapa lawannya, tidak lagi ia memusingkan di mana dirinya tengah berada sekarang, tidak lagi ia peduli kalau saat ini ia tengah melakukan hubungan intim dengan orang yang bukan kekasihnya, bukan Rukia.
Rukia tidak akan pernah bisa memberikan perasaan seluar biasa ini pada dirinya.
... Dan rasanya ia sekarang mengerti kenapa.
Entah Ichigo tidak menyadari atau tidak peduli, jari yang berada di dalam dirinya saat ini sudah bertambah dan Grimmjow, yang nafasnya sudah semakin memburu, dengan agar terburu-buru berusaha meregangkan dinding rectrum sang remaja agar ia mudah memasukkan miliknya nanti. "... Nnn... Grimm... Nngghh...!" Rasa sakit yang sempat Ichigo rasakan ketika dinding rectrumnya dilebarkan, langsung berganti dengan kenikmatan yang teramat sangat saat jemari Grimmjow menyentuh sesuatu di dalam dirinya, yang membuatnya serasa melihat bintang dan kejantanannya kembali menegak.
Jika memungkinkan, seringai Grimmjow akibat rasa puas karena akhirnya ia menemukan titik sensitif sang remaja, bertambah lebar lagi karena saat ini Ichigo mulai menggerakkan pinggulnya juga, seirama dengan gerakkan tangannya. Hingga akhirnya Grimmjow memutuskan untuk menghentikan gerakan jarinya dan membiarkan Ichigo menusukkan dirinya sendiri ke jari sang Alpha.
"... Grimm... ku... kumohon..."
Dengan tubuh yang terangkat karena menopang pada salah satu tangannya, tangan Ichigo yang lain meraih pergelangan tangan Grimmjow yang jemarinya digunakan oleh sang Arrancar untuk mempersiapkan dirinya. Ia menggerakkan tangan Grimmjow itu hingga jarinya keluar-masuk tubuhnya. Secara refleks, Ichigo merintih saat Grimmjow mengeluarkan jemari-jemarinya yang sudah basah dari dalam rectrumnya. Rintihan yang sebenarnya berupa rengekan Betanya itu membuat Grimmjow tertawa kecil sambil menjilati jemarinya yang terlumuri cairan rectrum Ichigo. "Jangan khawatir, Ichi... Akan kuberikan apa yang kau mau." Grimmjow kemudian mendorong Ichigo hingga kembali rebahan di permukaan tempat tidur, dan melucuti Beta mudanya itu dari sisa pakaian yang masih menempel.
Setelah puas mengapresiasi tubuh telanjang Ichigo dan tatapan yang seolah memintanya untuk cepat, Grimmjow lalu melepaskan seragam Arrancar yang masih melekat di tubuhnya itu. Dengan sengaja ia melambatkan gerakannya ketika hendak melepaskan obi yang menahan hakamanya, ia pun tertawa ketika Ichigo menggeram penuh frustasi. Tidak berniat untuk menerima berbagai godaan sekarang ini.
Untuk beberapa saat, kedua iris coklat Ichigo kembali fokus saat tali obi Grimmjow akhirnya lepas, membuat hakama putih yang menutupi anggota tubuh itu turun begitu saja karena tidak ada penahan. Sang remaja menahan erangannya ketika melihat kejantanan Grimmjow yang begitu tegak dan berwarna kemerahan dengan urat yang berdenyut di sekelilingnya. Ukurannya besar, lebih besar dari bayangannya ketika melihat tonjolan di balik hakama sang Alpha beberapa saat lalu, dan sangat tebal sehingga membuat Ichigo khawatir kalau benda itu tidak akan muat di dalam dirinya. Bagaimana pun juga, tiga jari yang Grimmjow masukkan tadi, tidak akan ada apa-apanya jika dibandingkan dengan ini.
Dan rasa takutnya itu, mulai menipiskan kabut nafsu Ichigo. Membuat remaja Shinigami itu kembali memikirkan kalau apa yang ia lakukan ini tidak benar, dan tidak seharusnya ia lakukan. Tanpa disadari, ia pun agak menarik diri dari Grimmjow, membuat sang Alpha Arrancar mengerutkan dahi.
Tidak mau membuat Ichigo mundur begitu saja karena mulai tersadar dari kondisi heat-nya, tanpa aba-aba, Grimmjow langsung menghantamkan keseluruhan kejantanannya masuk ke dalam rectrum Ichigo. Membuat sang remaja menjerit kuat karena rasa sakit yang tidak tertahankan, dan kejantanannya sendiri melemas. Sang Arrancar bersurai biru mengerang ketika merasakan panas dan sempitnya lapisan daging yang mengurung kejantanannya itu, "Berry... Tidak bisakah kau rilekskan ototmu sedikit lagi saja? Kau akan menghancurkan barang berhargaku kalau terus seperti ini, tahu!" Dengan kedua tangan bertumpu di masing-masing sisi kepala sang remaja, Grimmjow berusaha mengatur kembali aliran nafasnya.
Ichigo ingin sekali membalas kata-kata Grimmjow barusan, tetapi tidak ada suara yang bisa keluar dari mulutnya selain erangan dan rintihan kesakitannya. Jari-jarinya kini menggenggam lengan Grimmjow dan mulai meninggalkan bekas cakaran di sana, namun sang Arrancar nampaknya tidak terlalu mempedulikan hal itu.
"Kalau kau tenangkan dirimu, rasa sakitnya akan berkurang, Berry." geram Grimmjow pelan. "Yeah... Seperti itu..." ia menghela nafas lega saat otot-otot pada tubuh sang Beta sudah mulai rileks dan mulai menerima kehadiran dirinya di dalam. "Aku akan mulai bergerak." Grimmjow memperingatkan tidak sabar. Namun kembali dibuat mengerutkan alis ketika Ichigo menggelengkan kepalanya kuat.
Grimmjow tidak sesabar itu untuk menunggu lebih lama lagi, tahu!
Sang Arrancar kembali menggeram, tapi berkesan lebih dalam sehingga Ichigo tidak berani untuk membantah lagi, "Pokoknya aku bergerak." Dan sesuai dengan kata-katanya, Grimmjow menarik kejantanannya hingga hanya tersisa bagian pucuknya di dalam Ichigo, dan menghentakkannya dengan sekuat tenaga. Terus ia lakukan seperti itu, semakin lama semakin cepat, seolah dirinya hendak menghancurkan tubuh di bawahnya hingga berkeping-keping.
"AHH! AH! AH! Sa... Sakiiiit...! AHH! AH! HENTIKAN! GRIMMJOW...! KU-KUMOHON...! ARGH! Haa... AH!"
Padahal saat itu kuku-kuku jari Ichigo sudah menusuk permukaan kulit lengan Grimmjow hingga berdarah, bahkan darahnya sampai menetes ke permukaan seprai putih di bawahnya, tetapi tidak sekali pun Grimmjow memelankan gerakannya... apalagi menghentikan. Ketika Ichigo mulai merasakan kesadarannya menipis dikarenakan rasa sakit yang teramat sangat, kejantanan Grimmjow menyodok sesuatu di dalam rectrumnya yang membuat sang Beta mengerang nikmat.
"Heheh... Ketemu lagi..." Grimmjow menyeringaikan kesenangannya, dan semakin mempercepat gerakannya, mengenai titik sensitif sang remaja dengan telak. Dan Ichigo mulai mengerang serta mendesah dalam kenikmatan, tidak seperti sebelumnya.
Dengan cepat, Ichigo merasakan kejantanannya kembali terbangun dan mengeluarkan precum yang menetes mengenai perutnya. Rasa sakit di pangkal tubuhnya masih terasa, tapi tidak lagi ia pedulikan karena kenikmatan yang ia rasakan di samping itu membuatnya terus melihat bintang di balik matanya yang terpejam.
Tanpa mengurangi kecepatan gerakan dan tenaga hentakkan pinggangnya, Grimmjow menjilati sisi rahang Ichigo, memberikan hisapan di sana, dan mengulum daun telinga sang remaja. Kedua kaki jenjang Ichigo yang melingkar di pinggang Alpha-nya kini mulai menekan, mengisyaratkan kalau ia menginginkan lebih dan Grimmjow dengan senang hati mengabulkan. Sang Arrancar terus berusaha memasukkan kejantanannya semakin dalam ke dalam tubuh Ichigo.
Kedua lengan Ichigo yang kini sudah berpindah ke leher Grimmjow, melingkar semakin kuat—tapi masih tidak cukup kuat untuk membuat sang Arrancar tercekik—menandakan kalau ia semakin mendekati puncaknya. Beberapa hentakkan lagi, dan Ichigo pun akhirnya menyemburkan kembali hasratnya untuk yang kedua kalinya, membuat dinding-dinding lapisan dalam rectrumnya berkontraksi.
Grimmjow mengerang, disertai dengan satu sodokan kuat lagi, ia pun memberikan gigitan kuat di area pertemuan leher dan pundak Ichigo bersamaan dengan bukti hasratnya yang memenuhi dalam tubuh sang remaja.
Keduanya nampak mengatur nafas selama beberapa saat, sebelum kemudian Grimmjow melepaskan gigitannya dan menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Beta-nya. Kurangnya protes dari Ichigo, membuat Grimmjow menoleh ke arah wajah Ichigo yang ternyata sudah kehilangan kesadaran akibat aktifitas yang menghabiskan hampir keseluruhan tenaga di dalam tubuh. Pemandangan Ichigo yang mendengkur dengan tenang dengan kejantanannya masih berada di dalam tubuh sang remaja, membuat Grimmjow mendengus. Ia pun mengeluarkan kejantanannya itu, dan tanpa memikirkan mengenai kebersihan, ia merebahkan diri di sebelah Ichigo dan mendekap erat pasangannya itu dalam pelukannya.
Istirahat sebentar sebelum mengembalikan sang remaja ke dunianya, tidak akan menyakitkan.
Lewat tengah malam, para anggota keluarga Kurosaki masih terbangun dan semuanya berkumpul di ruang keluarga bersama-sama dengan Renji, Rukia, Orihime, Chad, dan Uryuu, dan juga telepon yang diletakkan di hadapan semuanya. Mereka menunggu kabar dari polisi yang saat ini tengah mencari keberadaan Ichigo yang menghilang. Karena dengan ini, berarti sudah tiga belas jam Ichigo tidak pulang dan tidak diketahui keberadaannya. Sore hari tadi, Rukia dan yang lainnya sudah berusaha mencari Ichigo dan akhirnya hanya berhasil menemukan tasnya di sebuah gang. Tergeletak begitu saja dengan beberapa isinya yang berhamburan keluar.
Dari kondisi tasnya itulah, semuanya mengambil kesimpulan yang terburuk dan memutuskan untuk menghubungi polisi.
Yang membuat mereka paling khawatir, adalah kenyataan kalau mereka sama sekali tidak bisa merasakan reiatsu dari sang remaja bersurai oranye itu sedikit pun, sehingga mereka tidak bisa mencarinya meskipun dalam mode Shinigami. Seharusnya dengan orang semacam Ichigo yang masih juga tidak bisa mengendalikan reiatsunya sendiri, mereka bisa dengan mudah merasakannya. Tapi, pada kenyataannya tidak ada sedikit pun.
"Ichi-nii..." Yuzu membenamkan kembali kepalanya ke telapak tangan dan mulai tersedu. Merasakan kekhawatiran yang teramat sangat karena baru kali ini Ichigo pergi begitu saja tanpa pesan.
Perhatian semua orang yang berada di ruangan, kecuali Yuzu, teralihkan ketika reiatsu dalam jumlah besar menghantam kediaman Kurosaki itu. Jenis reiatsu yang sangat mereka kenal, tapi saat itu tidak bisa mereka ingat-ingat di mana mereka pernah merasakan reiatsu semacam itu sebelumnya. "Asalnya dari kamar Ichigo." Yang pertama kali beranjak dari ruangan dan berlari menuju kamar Ichigo di lantai dua adalah Rukia, diikuti oleh Renji dan kemudian yang lainnya, termasuk Yuzu yang ditarik oleh Karin.
"ICHIGO!"
Membanting pintu kamar, Rukia masuk begitu saja, dan kedua iris keunguannya membelalak keheranan saat melihat figur yang berada di atas ranjang. Ichigo, masih dengan menggunakan seragam sekolahnya lengkap, kini nampak tertidur pulas di atas ranjang dengan posisi terlentang, sebelum kemudian berbalik memunggunginya.
Renji yang masuk tidak lama kemudian hanya bisa mengernyitkan dahi, "... Apa yang sebenarnya terjadi?"
TBC
