Heihoo... Halo... Gomen chapter yang ini lama datengnya, padahal udah niatan untuk marathon =w=' Beberapa hari ini sempet sakit sih, jadi cuma bisa ol twitter untuk ngeluh u_u' *plak* Sebagai permintaan maaf, saya punya hadiah spesial untuk kalian: ht tp :/ /bit. ly/yEjygq Monggo dicek buat yang penasaran, semoga tertipu *lah* dan jangan lupa ilangin spasinya ya :"| Dan... Sudahkah kalian liat ending Bleach terbaru (yang ke 30)? Duuhh... Udah berminggu2, tapi saya ga bisa berenti mantengin ./. Ichigo, kawai ze...
Sankyuu banget ya bagi reader yang udah nyempetin diri mereview~ Saya ga pernah bosen bacanya :"| Sok atuh, anon review replies~
nanao yumi: IchiGrimm? Maksudmu GrimmIchi say? Kalo IchiGrimm, itu artinya Ichigo yang jadi seme lho dan hal itu ga mungkin terjadi di fanfic2 buatan saya XD" Iyap~ Chapter ini untuk tanda2 kehamilan Ichi, dan kegelisahannya karena jauh dari Alpha-nya :"|b Rikues mengenai anak, akan saya coba pikirkan yaa :D
ndoek: *kecipok* A-aih... Jadi malu ./. Itu saking panas n nikmatnya tuh makanya Ichigo keblenger begitu XD Akakakak *plak*
Aoi Namikaze: Ehehe... Sankyuu ^^ Tapi sayang ya, chapter ini ga bisa secepet kemaren, untuk selanjutnya, akan saya usahakan cepet lagi kok T^T"
Aoi LawLight: Sekarang udah mulai hamil kok ;) Bener banget! Grimmy bakalan dibikin puyeng 7 keliling ngeliat mood swing-nya Ichi XD
Botol Pasir: Ada alasannya kok kenapa Grimmy ngebalikin Ichi ke rumahnya. Dan alasannya belum dijelasin di chapter ini sih :"|a
GrimmIchiLoverz: Kyaaa... mau dipeluk... Maluuu! X"DDD *dilempar tomat*
Zanpaku nee: ... Ini anak mulai lagi =w=' Rukia ceritanya lagi bareng Orihime :D Kadang ke rumah Ichi sih, cuma ga selalu. Kalo minta bantuan polisi sebelum 24 jam bisa, tapi bersyarat. Asalkan jelas kalau itu anak mendadak ilang atau ada tanda2 terjadi sesuatu. Dulu waktu kecil, saya pernah ngilang gitu aja sih sampe dicariin polisi XD" *plak* Nyokap yg nyeritain soal ini =)) Jadi, saya yakin mengenai ini. :)b
Pichachan: Ehee... Makasih, Picha-sayang XD *kebiasaan bilang sayang* Ichi mulai hamil di sini kok~
Winter Aoi Sakura: Ga boleh [-( Kamu ga boleh review *ditamparin* Boleh kok, saya sendiri yg minta kan? XD" Lemon nanti bakalan ada lagi kok, tunggu aja~ Pil yg diminumin ke Ichi itu untuk bikin Ichi bisa hamil setelah ngeseks ;)
Thanks too to: Ivera Jeagerjaques / astia aoi / Haru-QiRin / ArthuriaMariePendragon / Botol Pasir / Kazugami Saichi Hakuraichi / katskrom yang sudah mau login dulu sebelum review
Sweet Baby Berry
Chapter 4
"... Ichigo..."
"Mm..."
Ichigo merasa tubuhnya mendapat getaran ringan saat mendengar namanya dipanggil dengan menggunakan suara yang berat dan dalam. "Ichigo..." Ichigo mendesah, tubuhnya menggeliat di atas permukaan lembut seprai tempat tidur. "... Nn... S-to...p..." Sesuatu yang bergetar di dalam tubuhnya membuat sang remaja mengejang. Nafasnya terasa memburu, bahkan menimbulkan awal kecil tipis di dekat mulutnya. Panas. Peluhnya menetes, tapi dibalik itu Ichigo tahu bahwa panas yang ia rasakan bukanlah panas yang mengganggu namun sebaliknya.
"Ichigo?"
"Ngghh..."
"ICHIGO!"
Serasa dihantam oleh sesuatu, Ichigo sontak membuka matanya. Kedua irisnya membelalak lebar menatap langit-langit kamar yang rasanya sangat tidak asing. Nafasnya masih memburu, sementara benaknya berusaha menelaah mengenai apa yang sebenarnya tengah terjadi. Ketika ia melirikkan matanya ke samping, ia bisa menangkap bayangan berwarna merah yang tidak fokus. Sedikit mengangkat tubuh dengan menggunakan sikut, Ichigo menggosok pelan matanya dan berkedip beberapa kali. Ketika akhirnya pandangannya lebih jernih daripada sebelumnya, ia bisa melihat sosok Renji menatap ke arahnya dengan mulut yang ditutupi dan mata yang membelalak. Wajah sang wakil kapter divisi 6 itu begitu merah, menyaingi warna rambutnya sendiri.
Dengan wajah bingung dan setengah mengantuk, Ichigo bertanya, "Renji? Kenapa... kau ada di sini...?"
Untuk beberapa saat pria bersurai merah itu nampak begitu gugup dan bingung mau mengatakan apa, tapi akhirnya setelah berdehem ia pun melangkah mendekat untuk membantu Ichigo duduk. Renji tidak tahu apa yang terjadi pada Ichigo selama ia menghilang, hanya saja yang pasti, sekarang ini Ichigo terlihat... linglung. Jadi ia merasa harus membantu, "Kau tidak ingat kalau kau sempat menghilang, Ichigo?" Perlahan ia tarik Ichigo hingga pada posisi duduk, "... Lalu tiba-tiba muncul di sini. Man... Ke mana sebenarnya dirimu?"
Ichigo bukannya tidak ingat. Ia ingat dengan baik di mana ia sebelumnya, terbukti dari kepalanya yang menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang saat ini tengah sangat merah. Dan tentu saja karena ia ingat, ia tidak berani mengatakan yang sebenarnya. "... Euh... Aku juga tidak begi—Aangh!" Dengan segera, Ichigo menutup mulutnya dengan tangan, sementara matanya yang membelalak menatap Renji yang juga ternyata membelalak dan melepaskan pegangan tangannya seolah lengan Ichigo membakarnya saat itu.
Apa yang barusan...?
"AHH!"
Tubuh Ichigo tersentak kuat dan langsung terjatuh ke lantai ketika merasakan getaran yang sangat kuat di dalam tubuhnya... tepatnya di bagian pangkal... Ada sesuatu di bagian dalam rectumnya, dan rasanya ia sudah bisa menebaknya sebagai apa. "... Mmnn... tsk—Hhhaa..." Meringkuk, Ichigo berusaha bangun. Ia ingin sekali rasanya menghilang saja daripada terlihat dalam keadaan seperti ini di depan Renji.
"I-Ichigo?" Ragu-ragu, Renji mengulurkan tangan, bermaksud untuk menyentuh Ichigo.
"JANGAN SENTUH!" Karena panik, Ichigo jadi berteriak hingga membuat Renji kaget. Tidak tahu harus melakukan apa, pria bersurai merah itu kemudian keluar dari kamar setelah mengatakan 'tunggu di sini'. Kelihatannya hendak memanggil seseorang yang mengerti mengenai apa yang terjadi pada dirinya. Dengan tubuh yang bergetar hebat... karena benda di dalamnya juga bergetar... Ichigo berdiri dan terseok-seok menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Sesampainya di dalam, dengan segera ia mengunci pintunya dan mendudukkan diri di lantai.
Sialan... Sialan... Sialan...
Perlahan-lahan, Ichigo menggerakkan tangannya untuk menurunkan risleting celananya. Ia mengerang ketika akhirnya kejantanannya yang mengeras bisa bebas. Setelah menurunkan celananya hingga lutut, jemari Ichigo bergerak melewati kejantanannya menuju lapisan luar rectum yang bisa ia rasakan sudah sangat basah. Agar suaranya tidak terdengar keluar, Ichigo mengepalkan tangannya yang satu lagi dan menggigitnya kuat. Dengan sangat hati-hati dan juga karena merasa tidak nyaman memasukkan jarinya ke dalam rectrumnya sendiri, Ichigo menggerakkan dua jarinya di dalam mencari sesuatu yang bergetar di sana, "Nnggh... Hhh..." Ketika akhirnya menemukan ujung benda yang ia cari, ditariknya benda itu keluar perlahan dan tanpa disengaja ia sempat menjerit karena benda itu mengenai prostatnya dengan telak. Mau tidak mau, sekarang Ichigo menggigit tangannya lebih kuat lagi, atau penghuni lain di rumahnya akan tahu mengenai apa yang terjadi padanya dan ia tidak mau hal itu sampai terjadi.
Tidak mau membuang waktu, Ichigo langsung menarik benda itu hingga keseluruhannya keluar dari rectrumnya. Dan ternyata dugaannya benar. Benda yang kini basah dan tergeletak di hadapannya adalah vibrator. Bukan sembarangan vibrator melainkan dildo vibrator.
Dan ia tahu betul siapa yang memasukkan benda terkutuk itu ke dalam tubuhnya.
Grimmjow...! Lihat saja pembalasanku nanti, dasar sialan!
"Ngh..."
Karena tidak mungkin membiarkan kondisi miliknya yang tegang dan sudah mengeluarkan precum, Ichigo pun mulai menggosok-gosokkannya dengan tangan, dan tidak butuh waktu lama hingga ia mengeluarkan seluruh hasratnya, membuatnya terengah-engah sambil bersandar di balik pintu.
... Kalau memang Grimmjow pelakunya, berarti apa yang terjadi padanya sebelum ini, bukanlah mimpi.
"Ichigo? Apa yang terjadi?"
Rona merah di wajah Ichigo semakin tebal karena pintu dibelakangnya diketuk, yang ternyata kali ini adalah Rukia menanyakan apakah dirinya baik-baik saja. Menghela nafas, tanpa menjawab, Ichigo membersihkan diri dan bagian kamar mandi yang jadi kotor karena hal yang dilakukannya barusan.
Ia tidak tahu apakah ia akan mengatakan kejadian sebelumnya itu pada Rukia atau tidak.
Aneh. Ada yang aneh.
Entah ini sudah hari ke berapa, Ichigo tidak bisa juga menghentikan mual-mual yang dirasakannya. Ia sudah meminum obat, tetapi bukannya mualnya berkurang malah sebaliknya. Dan ia balik mengeluarkan kembali obat yang ia telan. Sempat terpikirkan untuknya memeriksakan keadaan dirinya pada sang ayah, namun dengan segera niatnya itu ia tepis. Tidak tahu mengapa, ia merasa ayahnya itu tidak boleh sampai tahu.
Sekarang ini, Ichigo tengah berhadap-hadapan dengan bayangan dirinya yang memantul dari cermin. Wajahnya pucat dan terlihat begitu lelah karena mual-mualnya itu tetap bisa ia rasakan walau pun dirinya sedang tidur, hingga tidak mengherankan jika ia jadi kurang tidur. Dan sekarang ini sudah empat kali ia bolak-balik ke WC di tengah jam pelajaran sampai-sampai gurunya menyuruhnya untuk istirahat saja di UKS. Ichigo memang sempat istirahat di UKS, tetapi rasa mualnya tetap saja membuatnya bolak-balik juga. Sebenarnya di UKS pun terdapat wastafel, tetapi ia tidak sampai hati kalau sampai mengeluarkan isi perutnya di sana.
Lagipula, jarak WC sekolah dan UKS tidak jauh.
"Kurosaki-kun, ada baiknya kau izin pulang saja."
Ichigo menolehkan pandangannya ke arah pintu masuk WC, dan menemukan guru UKSnya berdiri di sana dengan wajah yang khawatir, "Aku sudah membuatkan izin untukmu, jadi kau bisa langsung pulang. Dan ini tasmu." Ia mengulurkan tas di tangannya kepada Ichigo yang langsung menerimanya.
"Arigatou, sensei."
Berjalan keluar sekolah, Ichigo tidak yakin pikirannya berada di mana... atau mungkin ia memang sedang tidak berpikir sama sekali. Sudah seminggu lebih berlalu semenjak Grimmjow mengembalikannya ke rumah, namun tidak sekali pun Arrancar bersurai biru itu mendatanginya lagi. Setelah melakukan... itu... apakah Grimmjow sama sekali tidak membutuhkannya lagi? Heh. Mungkin saat itu pun Grimmjow mendekatinya karena sedang horny saja.
"Berterima kasihlah karena aku memutuskan akan menjadi Alpha bagimu, Ichigo."
Apanya yang Alpha? Apanya yang Beta? Apanya yang Mating Pill?
Sepertinya itu semua hanya karangan pria itu semata agar dirinya tidak banyak melawan saat itu.
Mendadak Ichigo menghentikan langkahnya, ia merasa ada yang memperhatikannya. Ragu-ragu ia menoleh ke belakang dan langsung terlonjak kaget saat kucing melesat keluar dari balik semak-semak. Menghela nafas lega, Ichigo pun melanjutkan langkahnya sembari menggelengkan kepala. Tapi, belum jauh ia melangkah, ia kembali merasakan perasaan itu. Jika dikatakan dengan jujur, sebenarnya ini bukan kali pertamanya ia merasa seperti yang sedang diperhatikan, dibuntuti... merasa tidak nyaman ketika hanya seorang diri di jalanan. Padahal sebelum-sebelum ini ia tidak pernah merasa begitu.
Ketika bersama teman-temannya pun, terkadang ia tetap merasa tidak tenang.
Lama-lama, rasanya seolah ada yang kurang. Sesuatu yang seharusnya ada, tetapi tidak ada.
"Ichigo!"
Kali ini Ichigo benar-benar terlompat dan memekik saat mendengar namanya dipanggil dengan nada suara tinggi. Jantungnya langsung berdebar dua kali lipat, dan walau pun ketika akhirnya ia melihat siapa yang memanggilnya, debaran jantungnya tetap sulit mereda. "Jeez... Rukia, jangan mengagetkan begitu." Ia mengelus pelan dadanya, berharap debarannya menormal.
"Gomen. Aku tidak tahu kalau kau sedang melamun." Namun seringai kecil di wajah sang gadis mungil sama sekali tidak menunjukkan kalau ia merasa bersalah sudah mengagetkan Ichigo. Justru Rukia kelihatannya malah menemukan adegan Ichigo yang memekik kaget hingga terlompat itu adalah sesuatu hal yang menarik. "Ada sesuatu, Ichigo? Sekarang ini belum waktunya sekolahmu bubaran kan?" Sebenarnya sudah semenjak 2 hari lalu Rukia ada keperluan di Soul Society makanya hari ini ia tidak ada di sekolah.
"Ah... Aku merasa tidak enak badan hari ini, jadi..." tertawa gugup, Ichigo menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.
Rukia yang tahu kalau belakangan ini Ichigo sering kali merasa mual, mulai menunjukkan kembali wajah khawatirnya. Ia dekati Ichigo dan menempelkan tangannya di kening sang pemuda, "Hm... Aneh. Badanmu tidak panas kok. Mual-mualmu masih, Ichigo?"
Ketika tangan Rukia menyentuh dahinya, Ichigo mendadak memiliki keinginan untuk menjauhkan diri dari sang gadis Shinigami. Dan hal itu benar-benar ia lakukan. Ia mengambil jarak darinya dan membuat Rukia bingung, "Ichigo? Kena—" Kata-kata Rukia terhenti saat melihat tangan Ichigo yang terangkat.
"Gomen na, Rukia... Kurasa hari ini aku... sedang ingin sendiri." dan Ichigo pun langsung menjauh dengan cepat, meninggalkan Rukia yang menatap ke arahnya dengan sangat bingung, serta sedikit kesal karena rasa pedulinya sama sekali tidak dianggap.
Rukia sadar betul, kalau beberapa hari ini Ichigo menjaga jarak darinya.
... Semenjak remaja itu sempat menghilang selama 13 jam dan mendadak muncul di kamarnya sendiri.
Setelah menghindari tendangan yang diarahkan Isshin kepadanya, tanpa menjawab pertanyaan sang ayah mengenai kenapa ia pulang cepat, Ichigo bergegas menuju kamar dan langsung menggulung diri di kasur dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Seberapa pun keras usahanya untuk menenangkan diri, ia tidak pernah berhasil sebelum ia merasa selimut miliknya membungkus tubuhnya dengan sangat baik.
Menghela nafas karena akhirnya ia bisa merasa tenang, Ichigo tetap bingung kenapa ia bisa merasakan panik seperti tadi. Padahal ia yakin tidak ada orang yang membuntutinya, tidak ada orang yang berniat mencelakainya... tapi tetap, ia tidak pernah merasa aman dalam perjalanannya barusan, dan semakin dekat dengan rumah, semakin cepat pula ia mengambil langkah.
Ia benar-benar tidak mengerti mengenai apa yang terjadi dengan dirinya saat ini.
Bagaikan terasa bukan dirinya sendiri, tetapi ia memang tetap dirinya.
"... Grimm."
Sontak menegakkan tubuhnya, kedua iris coklat Ichigo membelalak menatap dinding di hadapannya. Apa itu barusan? Mengapa mendadak ia malah memanggil Grimmjow? Bagaikan sebuah trigger, hal itu membuat Ichigo tidak bisa berhenti memikirkan mengenai sang Arrancar. "... Grimm...?" berbisik, Ichigo menggerakkan kedua bola matanya mengitari setiap sudut kamarnya... seolah mencari. Kenyataan bahwa di kamarnya hanya ada dirinya, tidak ada yang lainnya, langsung membuat Ichigo panik. Ia turun dari tempat tidur dan berlari keluar rumah, tanpa mempedulikan sang ayah yang berteriak memanggil namanya.
Ichigo terus berlari dan berlari tanpa tentu arah.
Tapi... walau tanpa arah, ia merasa bahwa dirinya tahu ke mana harus berlari yang kemudian membawanya ke taman kota yang terletak 2 blok dari rumahnya. Rasanya, instingnya saat itu menjadi lebih kuat daripada biasanya, dan Ichigo tidak berhenti berlari memasuki sederetan pohon yang berada di bagian dalam taman, menyerupai hutan.
Dan di sana, ia melihatnya.
Dua lengan yang kekar terulurkan ke arahnya, seringai serta tatapan mata yang seolah mengatakan 'akhirnya', membuat Ichigo semakin mempercepat langkahnya. "Grimm!" Ichigo benar-benar menjatuhkan tubuhnya tepat di tubuh Grimmjow yang tengah bersandaran pada sebuah pohon yang nampak lebih besar daripada pohon lainnya.
Dan akhirnya... akhirnya, setelah seminggu, Ichigo bisa merasa aman dan puas.
TBC
Hal yang membingungkan, akan dijelaskan di chapter depan. Sepenuhnya, atau cuma sebagian. Review?
