Terima kasih untuk kalian yang sudah bersedia mereview pada chapter sebelumnya ^^
Aoi Namikaze: Pastinya secara cepet karena darah Hollow dari dirinya sendiri n darah Arrancar dari Grimmy. Dan karena Grimmy bentuk ressureccionnya itu feline, saya pakai jangka waktu hamilnya kucing, yaitu 70 hari :) Jadi, progressnya bakalan lebih cepet.
nanao yumi: Untuk saat ini, yep. Setting cerita bakalan berpusat di Hueco Mundo dulu karena Ichigo ada di sana. Soal temen2 Ichi yg lain, akan diceritakan lagi kalau waktunya udah tepat :)
Zanpaku nee: Begitulah~ Terlalu nafsu makanya ga fokus n iya2 aja tanpa sadar =)) Alpha-female ga selalu harus yuri kok. Cuma kalo yuri, iya dia bakalan pasti jadi semenya, tapi kalo het, dia bakalan punya kedudukan yg sama dengan Alpa-nya. Wkwkwk, sankyuu link-nya~ Bakalan dicoba kalo kuota udah nambah nanti XD Sekarang udah mulai sekarat *ORZ*
GrimmIchiLoverz: Iyaahh... Kemaren2 FFn emang sempet error, saya juga mau publish update WCMTP ga bisa terus. Tapi untungnya bisa dua hari kemudian :) Wkwkwk... Senyumnya Ichi itu senyum orang yang ga mau menjalani kehidupan sebagai manusia biasa itu XD
Winter Aoi Sakura: Ichi bukannya ga tau sih, dia ga mikir ke situ karena cowok kan lazimnya ga bisa hamil lah~ Kalo masalah 70 hari itu, bisa aja kok. Kayak kucing aja gitu :)
F . Freyja: Begitulah~ Ichi terlalu napsu liat Grimmy makanya jadi lupa segalanya XDD *ditaboki zangetsu* Wkwkwk... Chapter ini penyiksaan Grimmy udah mulai kok~
ndoek: Di sini dia lebih sensitif lagi ;)b
Nara Hikari: Halo juga, Hikari ^w^ Welkom to mah world~ Maaf menunggu lama untuk chapter 6. Chapter2 berikutnya saya berniat update kilat lagi kok. Udah agak senggang jadwal IRL soalnya di sini XDb
Terima kasih juga untuk yang sudah login dulu sebelum mereview: Aoi LawLight / Chibi Dan / Ivera Jeagerjaques / astia aoi / UchiKaze No SasuNaru / Aoi-Rara / ArthuriaMariePendragon
Sweet Baby Berry
Chapter 6
"MAKANYA SUDAH KUBILANG, HILANGKAN KEBIASAAN GEGABAHMU ITU!"
—BUAKK!
Bagaimana cara yang tepat untuk menggambarkan ekspresi wajah Grimmjow yang sekarang? Yang pasti, Arrancar bersurai biru itu berwajah sangat pucat dan berkeringat dingin, mulutnya menganga, serta kedua matanya membelalak lebar, sementara kedua tangannya menggenggam bagian selangkangannya yang baru saja menjadi korban amukan ibu mertua. Tidak. Bukan ibu mertua dalam arti yang sebenarnya, melainkan wanita yang bersikap layaknya ibu mertua yang sangat membenci menantunya. Dan istilah semacam itu, cocok untuk kondisinya saat ini.
Mengerang kesakitan, Grimmjow sekarang ini mau tidak mau jadi berlutut di lantai, tepat di bawah kaki seorang Nelliel Tu Odelschwanck—dalam wujud dewasa—yang tengah berkacak pinggang dan menatapnya dengan wajah yang penuh dengan urat kekesalan. Padahal ketika baru pulang setelah menengok Menos Forest beberapa saat lalu, Grimmjow merasa orang pertama yang akan ia temui adalah Ichigo yang tersenyum manis kepadanya karena akhirnya mengetahui kepastian mengenai kehamilannya. Bukan Nelliel yang tiba-tiba menendang bokongnya dari belakang, lalu hampir membunuhnya dengan menembakkan Cero Doble ke arahnya yang masih tersungkur, karena Ichigo pingsan akibat mendengar berita mengenai kehamilannya.
Ia benar-benar tidak mengerti.
Padahal ia yakin sudah mengatakan pada Ichigo mengenai pil yang ia minumkan kepadanya, dan Ichigo kelihatannya tidak keberatan karena ia bersikap begitu submisif setelahnya. Meringis, Grimmjow mencoba menjelaskan kepada sang Arrancar wanita bersurai hijau-kebiruan mengenai ketidak-bersalahannya, "Tapi... Nel... Aku sudah mengatakan mengenai pil itu pada Ichi, dan ia nampak tidak masalah dengan hal itu..." Nada suaranya yang dikeluarkan saat itu hampir mendekati sebuah rengekan, karena bukannya Nelliel memakluminya tapi malah makin marah. Membuatnya mendapatkan satu geplakan keras di kepalanya lagi.
"MANA ADA ORANG YANG BERTANYA DAN MENJELASKAN DI TENGAH-TENGAH SEKS!" Satu tendangan di wajah Grimmjow hingga meninggalkan tapak sepatu, "ORANG YANG PIKIRANNYA SEDANG DIPENUHI NAFSU SEPERTI ITU TIDAK AKAN PERNAH BISA BERPIKIR JERNIH! ICHIGO MENGIYAKAN PUN, PALING KARENA DIA TIDAK BENAR-BENAR MENANGKAP MAKSUD PERKATAANMU!" Satu hantaman keras di kepala hingga Grimmjow kembali tersungkur, kali ini sampai menimbulkan retakan di lantai, "SEHARUSNYA KAU TANYAKAN MENGENAI ITU SEBELUMNYA, TAHU!" Dan Nelliel tidak berhenti menginjak-injak tubuh Grimmjow, sedangkan yang bersangkutan sangat tidak berdaya, hanya bisa berkata 'time out' berkali-kali.
Harribel yang semenjak tadi hanya menyaksikan, tidak berniat ikut campur karena kekuatan Nelliel saja sudah cukup untuk 'menghukum' Grimmjow, menolehkan kepalanya ke arah ranjang saat mendengarkan erangan lemah. Dengan langkah yang sangat anggun, ia berjalan mendekati ranjang tersebut, "Bagaimana perasaanmu?"
Untuk beberapa saat, Ichigo hanya menatap Harribel dengan penuh keheranan, sebelum akhirnya ia kembali mengingat apa yang sebenarnya terjadi. Dalam ketidak-sadarannya, Ichigo bergumam pelan dan membelaikan pipinya di tangan Harribel yang menyentuhnya. Entah kenapa, rasanya ia begitu nyaman berada di sebelah sang Arrancar wanita berkulit gelap, rasanya hampir sama seperti apa yang ia rasakan jika bersama ibunya dulu. Ichigo menghela nafas, dan tersentak kaget saat mendengar namanya dipanggil oleh suara kasar seorang pria. Menolehkan kepalanya, ia melihat Grimmjow berjalan ke arahnya dalam kondisi babak belur.
Kedua mata Ichigo membelalak, dan ia langsung mendudukkan dirinya, "Kitten, bagaimana perasaanmu?" Grimmjow bertanya sambil membelai pelan rambutnya. Pertanyaan itu bukannya membuat Ichigo merasa senang karena dipedulikan (sebab bukan jarang lagi, tapi tidak pernah, Grimmjow bersikap lembut pada orang lain), tapi kembali merasakan amarah karena ia masih bisa mengingat dengan jelas alasan dirinya pingsan. Tubuh Ichigo yang bergetar menahan amarah sempat membuat Grimmjow khawatir dan merendahkan tubuhnya dengan maksud mensejajarkan arah pandang mereka berdua, "... Ichi?"
—BUAGH!
Saat itu, entah untuk keberapa kalinya, Grimmjow Jaegerjaquez tersungkur di lantai akibat tonjokan telak di hidungnya. "IHHIHO? AFFA-AFAHFAH—?" Maksud Grimmjow barusan adalah, 'Ichigo, apa-apaan'. Hidungnya yang berdarah, serta tangannya yang menutupnya, membuat bicaranya jadi terdengar sangat sengau. Ia terpekik kaget saat melihat Ichigo melompat ke arahnya, dan kemudian menggantikan Nelliel menghajarnya.
"BRENGSEK!" Tendangan di sisi kepala, "KAU PIKIR APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN? ! !" Tendangan di perut, "DASAR KURANG AJAR! MESUM!" Tonjokan tepat mengenai dagu dari bawah, "APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN PADA TUBUHKU? ! !" Hantaman kepala ke lemari di sebelah, dan Grimmjow benar-benar K.O. Terengah-engah setelah meluapkan semua amarahnya pada sang Alpha, Ichigo kemudian terduduk di lantai begitu saja dengan wajah tertutup oleh kedua tangannya. "Bagaimana ini...? Sekarang sudah begini, apa yang harus kukatakan pada yang lain...?" Ia terisak. "Para Shinigami pasti akan membunuhku kalau sampai tahu bahwa diriku mengandung anak dari musuh... Mengandung, Kami-sama...! BAGAIMANA BISA AKU HAMIL? ! ! AKU KAN LAKI-LAKI! !" Dan isakan Ichigo itu kemudian berubah menjadi sebuah raungan yang membuat Harribel dan Nelliel yang melihatnya semakin merasa iba. Kedua wanita Arrancar yang semenjak tadi bersikap keibuan pada Ichigo itu kini memeluknya dan menatap ke arah Grimmjow dengan tatapan penuh hawa nafsu membunuh.
Grimmjow yang menjadi objek penderita, hanya bisa tertawa gugup dan memainkan jarinya.
Baik Harribel mau pun Nelliel akan sangat mengerikan jika sampai marah besar. Grimmjow selama ini selalu berusaha berada dalam kategori baik pada kamus keduanya, tapi kini nampaknya namanya sudah langsung masuk ke dalam daftar teratas dari blacklist keduanya.
"DAN KENAPA AKU MALAH MENANGIS BEGINI? ! !" Walau pun dirinya sendiri yang menangis, tapi menangis karena apa pun, Ichigo tidak tahu. Ia hanya tahu kalau dirinya merasa sangat marah pada Grimmjow karena sudah mengobrak-abrik tubuhnya tanpa izin. Ia ingin sekali meluapkan seluruh kemarahannya, tapi kemudian, yang ia lakukan hanya menangis.
Apa-apaan itu?
Dia kan bukan seseorang yang cengeng!
"Tidak apa-apa, Ichigo." Nelliel berkata menenangkan, membelai surai oranye Ichigo yang terasa begitu lembut. Wanita bersurai hijau-kebiruan itu mengecup pelan puncak kepala sang remaja, "Moodmu akan selalu sulit ditebak karena kehamilanmu. Itu hal yang lumrah kok. Aku juga dulu begitu." Nelliel tersenyum puas saat Ichigo akhirnya bisa berhenti terisak dan mulai nampak tenang.
Menggiring Ichigo untuk kembali duduk di atas ranjang, Harribel pun menambahkan, "Dan kehamilanmu itu pulalah yang membuatmu sangat sensitif, apalagi jika merasa terganggu. Itu sebabnya tadi dengan mudahnya kau menyerang Szayel yang membuatmu merasa tidak nyaman." ia tepukkan tangannya ringan di kepala Ichigo, "Yah... Untuk urusan ini, aku bersyukur karena yang akan paling merasakan dampak mood swing-mu, sudah tentu Alphamu." Selama mengatakan ini, Harribel melemparkan tatapan yang sangat tajam ke arah Grimmjow yang tertawa semakin gugup dan semakin pelan.
Pria bersurai biru itu menelan ludah takut-takut.
Ichigo mengerjapkan mata mendengar penjelasan yang diberikan oleh Harribel. Kata-kata Szayel saat itu, terngiang-ngiang kembali di benaknya, dan membuatnya mengepalkan kedua tangannya.
'My... Rupanya Grimmy menyukai tipe yang berapi-api? Pantas saja ia tidak pernah mau serius denganku berapa kali pun kami berseks.'
"... Ichi?"
Tersadar mendadak dari lamunannya, Ichigo menjauhkan kepalanya dari tangan Grimmjow yang terulur untuk menyentuhnya. Kapan pria itu berjalan mendekatinya, Ichigo tidak menyadarinya. Grimmjow yang kesal karena ditolak oleh sang Beta, mulai menggeram pelan, dan sekali lagi berusaha menyentuhnya... untuk kemudian kali ini tangannya ditepis dengan kasar. Kali ini, tali kesabaran Grimmjow sudah habis. Tidak bisa ia terus menerima dirinya diperlakukan layaknya pencuri yang tertangkap warga, dengan kasar ia menarik lengan Ichigo hingga yang bersangkutan melihat ke arahnya. Tapi, nafas Grimmjow tercekat saat akhirnya ia bisa melihat wajah Ichigo.
Sepasang iris coklat yang melihat ke arahnya tidak lagi menunjukkan kemarahan, melainkan sebuah sakit hati dan kesedihan... juga kekecewaan.
Dalam ketertegunannya, Grimmjow tidak melakukan apa pun ketika Ichigo kembali menepis tangannya dan berjalan keluar ruangan setelah membanting pintu dengan sangat keras. Melihat reaksi Ichigo dan Grimmjow yang hanya diam saja, Nelliel kembali marah-marah. Mengatakan kalau Grimmjow tidak bisa bertanggung jawab dengan benar sebagai seorang Alpha.
Dengan langkah yang dihentak-hentakkan, Ichigo berjalan tanpa arah di lorong-lorong Las Noches. Beberapa Arrancar pelayan yang ia temui di perjalanannya, membungkuk dan memanggilnya "Ichigo-sama", tetapi tidak ia pedulikan.
Kelihatannya Grimmjow sudah mengumumkan kepada setiap Arrancar yang ada mengenai dirinya... dan statusnya.
Mendengus, Ichigo terus melanjutkan langkahnya tanpa melihat ke arah mana ia berjalan. Matanya terus menatap setiap lantai yang ia langkahi, sementara benaknya penuh berbagai pikiran mengenai apa yang ia dengar di ruangannya barusan. Mengenai Alpha dan Beta, mengenai kehamilannya... yang masih sulit ia percayai, tapi mau tidak mau akhirnya ia percaya juga karena jika dirasakan lebih teliti lagi, memang terasa ada sesuatu di dalam perutnya... dan juga mengenai Grimmjow dan Szayel.
Rasanya setiap kali ia mengulang perkataan Szayel di lab tadi, bukannya amarah yang ia rasakan semakin lama semakin besar, melainkan kecemburuan yang kemudian membuat hatinya sakit... baru kemudian amarah muncul karena ia tidak mau mengakui bahwa dirinya sudah mulai terasa terikat dengan Grimmjow.
...
...
...
"SIALAN! ! !"
Dengan keras Ichigo menendang dinding di depannya, tapi kemudian ia terlompat-lompat kesakitan. Dinding Las Noches kelihatannya jauh lebih keras daripada dinding di rumahnya di dunia manusia. Ah ya, dunia manusia. Bagaimana reaksi keluarganya, dan teman-temannya ketika tahu mengenai keadaan dirinya? Bagaimana reaksi Karin, Yuzu... Dad? Inoue, Chad, Ishida, Tatsuki, Keigo, Mizuiro... Renji dan... terutama, bagaimana reaksi Rukia? Mereka belakangan ini begitu sangat dekat, walau tidak pernah ada persetujuan untuk menjadi sepasang kekasih secara resmi, tetapi setidaknya, apa yang mereka lakukan sudah melampaui kata 'kekasih' itu sendiri.
...
...
Pastinya akan lebih dari sekedar amarah biasa.
Heh. Mungkin nantinya Rukia akan mengadu pada Byakuya, lalu sang Aristokrat akan melaporkannya pada Sotaichou dan—BAM—Shinigami akan mendapatkan misi baru untuk memburu dirinya... Grimmjow... dan bayinya.
Tanpa disadarinya sendiri, Ichigo menyentuh perutnya ketika pikiran itu terbesit jelas di benaknya. Mendadak merasakan takut akan terjadi sesuatu kepada jiwa yang dikandungnya. Menggelengkan kepala dan tertawa dengan renyah, Ichigo berucap lirih, "Tidak... Rukia bukan gadis yang seperti itu jadi... tidak mungkin ia akan melakukannya... 'kan?" Semakin dipikirkan, Ichigo semakin merasakan sangsi. Karena kali ini apa yang ia lakukan adalah suatu hal yang tabu, bersama musuh.
Menghela nafas, dan memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya, setidaknya untuk saat ini, Ichigo akhirnya mendongakkan kepalanya dan mengangkat kedua alisnya ketika menyadari di mana ia berada sekarang. Di dalam sebuah ruangan yang remang-remang dan nampak becek. Bau lumut basah yang menyerang penciumannya membuatnya mengernyitkan hidung. Ruangan di mana dirinya berada sekarang, terdapat beberapa ruangan yang mirip dengan sel tahanan karena ada jeruji besinya. Merasakan perasaan tidak nyaman, Ichigo langsung berbalik, tapi ketika dirinya baru mau menaiki tangga yang tanpa ia sadari ia lewati sebelumnya, kedua pendengarannya menangkap sebuah suara erangan serak dan rendah.
Merasakan rasa penasarannya menguat di atas rasa khawatirnya, Ichigo melangkah mendekati suara erangan tersebut ke salah satu sel yang berada di sisi dalam. Di sana, ia melihat gundukan besar yang bergerak-gerak, mengerutkan dahi, Ichigo mendekatkan kepalanya.
Hal berikut yang ia sadari sebelum sempat melihat dengan jelas apa yang berada di dalamnya, adalah oksigennya direbut secara tiba-tiba dan tubuhnya terangkat dari tanah. "Errkh... Hhaakhh...!" Memberontak, Ichigo mencakarkan kuku-kukunya ke tangan yang mencengkeram lehernya dengan kuat. Rasa paniknya semakin besar ketika ia membuka matanya dan melihat ke arah 'sesuatu' yang menyerangnya.
"Ku...ro...saki...Ich...igo...!"
Geraman dari suara yang sangat berat dan serak, serta sepasang mata yang berwarna putih seluruhnya, menatap dengan penuh kebencian ke arahnya.
TBC
Doakan saya beruntung untuk update kilat cerita ini lagi seperti sebelumnya untuk beberapa chapter ke depan -_-' Anyway, review? Semakin banyak penyemangat, semakin cepat saya update tentunya~
