Terima kasih untuk kalian yang sudah bersedia mereview pada chapter sebelumnya ^^
Winter Aoi Sakura: Semua pertanyaanmu terjawab di chapter ini ya, say~ Yang masih belum jelas, silakan bertanya kembali XDb Dan mengenai FB, ada di halaman profil kok :)
nanao yumi: Ngidamnya nanti ada kok. Sabar yaa XD Dan mengenai Shinigami, rencananya bakalan di ceritain di chapter depan. Kalo keguguran... Err... Tanyakan Szayel aja ya XD" *dorong Szayel* *digaplok*
ndoek: Udah nasibnya Grimmy untuk jadi Alpha tertindas sih~ 8) Muohohohoho *ceroed*
Nara Hikari: Diusahakan kok yaa~ Sambil menyeimbangkan juga dgn 2 cerita saya lainnya ^^' Reaksi orang2 di sekitar Ichigo bakalan diceritain di chapter depan. Tapi, baru mengenai masalah ilangnya Ichi aja sih XDa
Aoi Namikaze: Cerita keluarga Ichi bakalan ada di chapter depan :) Dan yep, selama hamil, Beta kan ga boleh jauh dari Alpha, jadi mereka bakalan terus barengan XDDa Bukan~ Bukan monster tentacle yang kemaren kok. Kan udah mati yg itu mah :D
Pichachan: Namanya juga, siapa yang berbuat, dia yg bertanggung-jawab XDb
Arya Angevin: ... ' ' Kelihatannya begitu yaa... ' 'a *ga inget* *plak* Bukaaan~ Alphanya Nel bakalan muncul nanti kok~ Tunggu aja XD Kemungkinan besar sih Ichi bakalan tinggal di Las Noches, tapi siapa yg tau masa depan kan~? ;) *bletak*
GrimmIchiLoverz: Akakakakakak XDDD Soalnya kalo ga mendebarkan, bisa2 ditinggal pembaca nanti *eh* Kan biar pada penasaran XD *plak* Tapi, kayaknya yg kali ini ga bikin penasaran deh TBCnya :/
Terima kasih juga untuk yang sudah login dulu sebelum mereview: Ivera Jeagerjaques / Zanpaku nee / Aoi LawLight / Chibi Dan / ArthuriaMariePendragon
Sweet Baby Berry
Chapter 7
Dia tidak bisa bernafas. Kenapa? Oh yeah, dengan tangan besar yang melilit di lehernya, sudah pasti aliran nafasnya jadi tersumbat. Seberapa besar mulutnya menganga pun, tetap tidak ada oksigen yang bisa ia ambil dan membuatnya mengembangkan kembali paru-parunya yang mulai menjerit. Ia merintih serak, menancapkan kuku-kuku tangannya ke permukaan kulit kecoklatan penyerangnya. Kedua kakinya bergerak, menendang, untuk kemudian terayun tidak berdaya karena yang ia lakukan malah semakin mengencangkan cengkeraman di lehernya.
Tidak... Tidak... Tidak...
Kalau dia terus dalam kondisi begini satu menit lagi saja, maka ia akan benar-benar mati. Ia tidak menginginkan hal itu. Tidak sekarang ketika ia memiliki nyawa lain yang begitu bergantung dengan keberadaan dirinya.
Pada dasarnya, Ichigo adalah orang yang impulsif. Ia selalu membiarkan instingnya yang menggerakkan tubuhnya, maka kelihatannya sekarang pun tidak akan berbeda.
"... G-Grimm... Grimm-jow... Hhhk...!"
Memanggil nama sang Alpha adalah hal pertama yang ia rasa harus ia lakukan.
Tapi, suaranya yang tercekat tidak akan pernah sampai ke telinga Grimmjow, dan yang bersangkutan tidak akan sempat menolongnya sebelum terlambat. Mati-matian Ichigo menahan air matanya yang menggenang, merasa dirinya memalukan. Payah... Payah... Payah. Semenjak kapan ia begitu menjadi bergantung pada orang lain? Pada musuhnya, terutama. Tidak. Mantan musuhnya. Bahkan ketika Grimmjow mengembalikannya pulang beberapa waktu lalu, bukannya menahan dirinya semenjak awal di sini, ia sebenarnya merasakan sebuah kekecewaan.
Haha... Lucu.
Mereka yang dulu berusaha saling membunuh satu sama lain, mendadak ketika bertemu kembali malah jadi saling bernafsu satu sama lain.
Kedua mata Ichigo memutar ke belakang dan tertutup, merasakan kesadarannya perlahan menghilang karena kekurangan oksigen. "Akhirnya... Akhirnya... Kurosaki Ichigo!" Suara serak yang menggema di dalam sel terus-menerus mengatakan hal yang sama semenjak tadi. Dari kata-katanya itu, Ichigo sudah bisa menebak, kalau penyerangnya memiliki dendam padanya. Hanya saja, ia tidak ingat pernah melakukan sesuatu yang membuat penyerangnya itu memendam dendam.
Yeah...
Rasanya berbeda dengan para Espada yang menyerangnya dulu. Mereka menyerang karena berdasarkan perintah, bukan rasa dendam. Dan ya, ia tahu kalau yang menyerangnya ini pun adalah salah satu dari Espada seperti Grimmjow, namun ia tidak bisa mengingat siapa namanya. "Akhirnya... Akhirnya bisa juga kubalaskan dendam Ulquiorra padamu, Kurosaki!" ... Ulquiorra? Susah payah Ichigo membuka kembali matanya, menahan kesadarannya. Kedua matanya itu membelalak lebar ketika melihat cahaya merah yang membulat yang semakin lama semakin membesar.
Cero.
... Shit.
Ichigo yang saat ini hanya manusia biasa, hanya bisa meronta lemah dan memekik tertahan ketika cero yang mengarah padanya itu semakin besar saja dan siap untuk kemudian dihempaskan ke arahnya.
Ia tidak mau mati!
Ia tidak bisa mati sekarang!
Bayinya...!
"Yare... Yare... Kau benar-benar tidak bisa apa-apa tanpaku, King." Kali ini kedua mata Ichigo membelalak karena alasan yang berbeda. "Ah... Atau sekarang ini harus kupanggil... Queen?" Suara tawa bagaikan di dalam air itu mungkin akan membuat Ichigo berteriak kegirangan kalau saja lehernya tidak sedang dicekik. Dalam hitungan detik, kilatan pedang berkelebat di hadapannya, dan hal berikutnya yang ia tahu, kakinya sudah kembali menyentuh permukaan tanah dan ia terbatuk-batuk sementara kepalanya terbenam di dada bidang seseorang.
"UAAAAAAAAAAAAAAAAGH...! Tanganku...! Tangankuu...!"
Jeritan kesakitan yang begitu kencang jelas akan membuat seluruh penghuni Las Noches berlari menuju ke tempat ini, jika reiatsu dari cero yang barusan tidak mereka rasakan. Orang yang pertama sama di tempat kejadian, sudah pasti...
"What the fuck? !"
... Grimmjow.
"G-Grimm..." Rasa lega yang langsung membanjiri perasaannya, membuat Ichigo mencoba melangkah mendekati Grimmjow walaupun kini kedua kakinya masih terasa lemas dan nafasnya masih begitu terengah-engah. Akan tetapi, lengan yang melingkari tubuhnya, sama sekali tidak membiarkannya menjauh. Ia tengadahkan kepalanya, dan bertemu dengan wajah berkulit pucat serta iris berwarna emas ditengah-tengah hitam yang menatap penuh amarah kepada pria yang baru saja datang. "Shiro?" Yang bersangkutan sama sekali tidak menoleh ketika ia panggil, dan malah semakin mengeratkan dekapannya.
"Apa yang sebenarnya ada dipikiranmu itu, Sexta?" Shiro mengangkat lengannya yang tengah menggenggam Zangetsu versi hollow hingga ujung pedangnya mengarah tepat pada Grimmjow, "Kau biarkan Beta kita berkeliaran di tempat berbahaya ini seorang diri? Apa kau melupakan kenyataan bahwa saat ini dirinya sedang menjadi manusia? Dia tidak akan bisa melawan jika ada saja bawahanmu, yang paling bawah sekali pun, menyerangnya. Apalagi jika pelakunya raksasa bodoh ini." Sebagai implikasi, ia menendang lengan yang baru saja ia potong dari sosok yang menyerang Ichigo.
Ingatannya yang jauh lebih baik daripada Ichigo, bisa langsung mengenali si penyerang yang tidak lain dan tidak bukan adalah Yammy Llargo, Zero Espada.
Pada detik ini, beberapa Arrancar lain berkumpul tidak jauh di belakang Grimmjow. Salah satunya terdapat Harribel yang tercengang menatap ke arah Hollow yang berfisik serupa dengan Ichigo, namun berwarna serba putih. Ini adalah pertama kalinya ia melihat sang Hollow.
Grimmjow yang sudah sempat merasa kesal karena orang lain dengan seenaknya menyentuh pasangannya, sekarang semakin marah dengan urat bertonjolan di wajahnya ketika mendengar perkataan sang Hollow yang fisiknya serupa dengan Ichigo itu... walau kelihatannya agak lebih tinggi dari sang Beta. "Apa katamu? 'Beta kita'? Maaf saja, aku tidak ingat pernah berbagi Ichigo kepada Alpha lainnya." Ia menggeram rendah di tenggorokannya, dan dalam keadaan siap untuk menyerang.
Mendengar kata-kata Grimmjow itu, Shiro melemparkan tatapan seolah apa yang baru saja sang Arrancar katakan adalah hal terbodoh yang pernah ia dengar. Ia menghela nafas untuk dramatisasi, dan merasa senang ketika mengetahui nampaknya tindakannya itu semakin membuat kesal Grimmjow, "Dengar, Mister aku-kuat-dan-akulah-rajamu, kau pikir siapa aku? Aku dan Ichi adalah satu kesatuan, tidak akan ada yang bisa memisahkan kami walau pun itu adalah pasangan hidupnya, atau dengan kata lain, kau. Aku adalah refleksi dari dirinya, sisi Hollow-nya yang bertentangan dengan dirinya. Aku kasar, dia lembut. Aku Alpha, dia Beta. Dan walau pun selama ini aku tidak pernah menandainya, aku tetap Alpha-nya. Karena itu, aku berhak mengambil Ichi kembali jika pada kenyataannya kau tidak sanggup melindunginya."
Untuk beberapa saat, Grimmjow nampak terdiam. Kelihatannya merasa apa yang dikatakan oleh Shiro barusan adalah hal yang benar, tetapi tidak mau mengakuinya, sehingga yang ia lakukan hanya menggeram dan mengerutkan dahi dalam-dalam ketika menatap sang Albino.
"Grimm..."
Rintihan pelan yang dikeluarkan oleh Ichigo mengalihkan perhatian semua yang ada di sana ke arah sang pemuda bersurai oranye. Dan Grimmjow merasakan jantungnya berdebar kencang ketika melihat Ichigo memegangi perutnya sendiri dan wajahnya nampak begitu pucat, "Perutku sakit..." Segera setelah mengatakan itu, tubuh Ichigo tersungkur, dan jika bukan karena Shiro, wajahnya pasti akan berbenturan dengan permukaan lantai di bawahnya.
"Apa yang kau lakukan, Grimmjow! Cepat bawa dia ke tempat Szayel!"
Teriakan Harribel-lah yang menyadarkan Grimmjow. Dengan segera ia mengambil Ichigo dari tangan Shiro dan berlari menuju laboratorium sang Octava, tidak berani menggunakan Sonido karena takut akan kemungkinan semakin membebani janin di dalam tubuh Ichigo.
"Maafkan aku, Grimmjow." Sembari membenahi posisi kacamatanya, Szayel menutup pintu di belakangnya dan menatap ke arah seluruh orang yang ada di sana, baru kemudian tatapannya berhenti tepat pada sang Sexta. "... Aku sudah melakukan apa yang kubisa sebaik mungkin."
Bukan hanya Grimmjow, Harribel, Nelliel, dan Shiro, langsung berwajah pucat saat mendengar pernyataan yang diberikan oleh sang Octava. Tapi, yang paling terlihat terpukul adalah Grimmjow, jika memang tubuhnya yang mendadak lemas dan jatuh di atas kursi di belakangnya merupakan sebuah indikasi. Sudah lebih dari sekedar lama ia menunggu seseorang yang menurutnya pantas untuk mendampingi hidupnya, yang pantas untuk memberikannya keturunan yang selama ini ia inginkan.
Panther tercipta untuk menjadi orang tua dan hidup secara berkelompok dengan yang namanya keluarga. Grimmjow pun tidak berbeda jauh. Ingat 'kan kalau sosoknya ketika menjadi Adjuchas adalah seekor Panther? Walau pun ia selalu bertindak sesuka hatinya, senang menyiksa lawannya, dan pernah menghabisi para Arrancar kelas bawah tanpa pandang bulu, pada dasarnya tidak ada orang yang 100 persen jahat dan tidak ada juga yang 100 persen baik.
"Snrk..."
Grimmjow mendongakkan kembali kepalanya yang sempat tertunduk ketika mendengar suara tawa yang ditahan. Kedua alisnya menukik tajam ketika melihat Szayel nampak mati-matian menahan tawa, bahkan sampai sedikit air mata tergenang di sudut matanya. "... Szayel...!" Ia mendesiskan nama sang Octava dan terlihat begitu siap untuk menancapkan Zanpakutou-nya kepada pria bersurai pink yang nampaknya hanya bermain-main dengannya.
Berdehem sekali, Szayel kemudian menghela nafas pendek. Dalam sekejap, tatapan sang Octava menjadi begitu serius dan tajam, berbalik nyalang kepada Grimmjow. "Kali ini aku memang berhasil mempertahankan janin Ichigo, tapi... tetap tidak ada yang kedua kalinya, Grimmjow. Kau sudah tahu kalau Betamu itu orang yang begitu berapi-api, seharusnya kau jauh lebih waspada lagi. Untuk kali berikutnya, suruh seseorang menemaninya kemana pun ia pergi jika kau tidak bisa. Aku memang sangat berbakat dalam ilmu pengobatan dan pengetahuan, tetapi tetap yang namanya nyawa tidak akan bisa tergantikan."
Sementara Shiro menghela nafas lega dan tidak mempermasalahkan ucapan sang Octava yang membuat jantungnya copot sebelum ini (karena ia tahu Szayel mengatakannya untuk memberi pelajaran pada Grimmjow), Grimmjow, Harribel, dan Nelliel, terperangah menatap Szayel.
"... Tumben sekali kata-katamu bijak." celetuk Nelliel.
Dengan tatapan yang lebih tajam lagi, Szayel melemparkan pandangannya ke arah Nelliel yang langsung terdiam. Kembali Szayel menghela nafas, dan menggeser tubuhnya ke tepian, "Sekarang ini Ichigo sedang tidur karena pengaruh obat. Kalau kau mau menemuinya, silakan saja. Tapi, jangan buat keributan. Ia masih membutuhkan waktu untuk istirahat." Lagi-lagi kata-kata Szayel ini membuat tiga Arrancar lainnya terperangah, kecuali Shiro yang hanya bisa mengangkat alis bingung karena memang tidak mengerti apa yang aneh.
Yah, Shiro tidak tahu kalau Szayel memiliki sisi narsis di mana biasanya ia akan menanggapi pernyataan, semacam pernyataan Nelliel tadi, dengan kata-kata yang membanggakan diri sendiri.
Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, Grimmjow meletakkan tubuh Ichigo di atas ranjangnya yang seprainya sudah diganti oleh Arrancar pelayan beberapa waktu lalu. Ia naikkan selimutnya hingga menutupi tubuh Ichigo dari leher ke bawah, sebelum kemudian ia mengambil posisi di sebelahnya.
Di antara gelapnya kamar yang hanya diterangi oleh cahaya bulan yang masuk melewati jendela, kedua iris biru Grimmjow nampak bersinar menatap ke arah wajah tidur sang Beta yang nampak damai.
Tidak pernah ia perhatikan sebelumnya kalau Ichigo ternyata memiliki bulu mata yang panjang, dan kerutan dahi yang hilang membuat wajah sang remaja terlihat lebih muda daripada seharusnya. Begitu berbeda dengan ketika ia terbangun di mana dahinya akan selalu berkerut dan terlihat tidak ramah. Kalau mengingat tanggung jawab yang selama ini dipegang oleh sang remaja, baik itu sebagai manusia atau pun shinigami, rasanya tidak akan aneh kalau Ichigo selalu terlihat badmood. Entah apa yang dipikirkan oleh para shinigami dengan memberikan tanggung jawab untuk melindungi satu kota besar dari serangan Hollow yang jumlah dan kekuatannya selalu berbeda-beda pada anak remaja berusia 17 tahun, yang seharusnya menikmati masa mudanya dengan berkencan atau bermain di Game Center.
Tapi, kalau Ichigo tidak pernah bertemu dengan Shinigami, maka Grimmjow pun tidak akan pernah bertemu dengannya.
Ironis.
Di sisi lain, ia menyalahkan para Shinigami yang memberikan beban terlalu berat pada seorang Beta. Dan di sisi lainnya, ia berterima kasih karena berkat mereka pulalah Ichigo menjadi bertambah kuat hingga bisa terus bertahan dan bertemu dengan dirinya.
Tatapan mata yang dulu ia benci karena selalu memandang rendah kepada dirinya, dan beranggapan bisa mengalahkannya, tetapi sekarang tatapan mata yang diberikan Ichigo itu selalu berhasil menariknya. Sehingga setelah berbulan-bulan merenung, Grimmjow akhirnya memutuskan juga untuk mengambil Ichigo sebagai pasangannya ketika musim kawin para Hollow tiba. Lalu dengan sengaja mengembalikan Ichigo ke dunia manusia, dan membiarkan sang remaja mencari-cari dirinya secara tidak disadari. Semacam pembelajaran dini, bahwa Beta tidak akan pernah bisa bertahan tanpa Alpha yang telah menandainya.
Karena itu, Grimmjow sangat puas ketika Ichigo akhirnya berhasil menemukannya kembali dan tidak melakukan perlawanan ketika ia bawa kembali ke Hueco Mundo.
Sejauh ini, semua yang Grimmjow inginkan berjalan dengan sempurna.
Tinggal nanti permasalahan dengan para Shinigami yang bisa dipastikan tidak akan mengiyakan begitu saja hubungan mereka. Heh. Bukan berarti ia peduli juga. Terserah mereka mau menyetujui atau tidak, ia baru akan ambil tindakan jika mereka sampai menyakiti Ichigo serta bayinya.
Dengan gerakan yang hati-hati, Grimmjow membelai perut Ichigo, baru kemudian menutup kedua matanya.
Ia sama sekali tidak mempermasalahkan Shirosaki yang kini duduk di depan pintunya, seolah menunggui mereka. Karena apa pun yang Hollow itu lakukan, Ichigo tetap menjadi milik Grimmjow.
'Nee, King. Semoga keputusanku untuk membiarkan Grimmjow mendapatkanmu itu tidak salah.'
Berbeda dengan kedua orang yang ada di atas ranjang, Shiro terus terjaga sepanjang malam bagaikan kuda yang akan terus berjalan walaupun jokinya tertidur.
TBC
Untuk yg menunggu FS, sabar ya... Chapter susah tuh, jadi lama =A='a
