Terima kasih untuk kalian yang sudah bersedia mereview pada chapter sebelumnya ^^

nanao yumi: Shiro sih masih bisa kok masuk lagi ke Inner World-nya Ichi. Ga akan kepengaruh sama kehamilannya dia. Kalo mengenai berapa lama di Hueco Mundo, nanti juga tau kok ;)

Saichi: Wkwkwk. Makanya diperingatkan dari awal, kalo moodswing-nya si Ichi ini bakalan bikin dia OOC. Mau gimana lagi, soalnya di Bleach aslinya dia ga hamil, jadi ga ada yg bisa nebak reaksi sebenrnya :) Tapi, kalo moodnya stabil, dia bakalan balik IC kok.

GrimmIchiLoverz: Update kilat akan saya usahakan sebisa saya... belakangan ini mood menulis agak terganggu soalnya =A='a Tapi ga parah sampe bikin saya webe kok~

Aoi Namikaze: Tenang~ Nanti bakalan ada time skip, jadi bisa dibilang cepet juga menuju perut gedenya =D Lagian, masa kehamilan cuma 70 hari kok~

ndoek: Hmm... Saya juga dilema soal reaksi Rukia-nya ini :| *facepalm* *digampar*

Aoi LawLight: Wkwkwk. Shiro sama Luppi jadinya crack tuh XD Tapi lucu juga :"|a *eh*

Nara Hikari: Seperti yg saya bilang sebelum-sebelumnya, update bakalan tambah lama kalau jumlah kata lebih lagi daripada yang selama ini lho XD

d: Wkwkwk... Oke oke, udah diupdate kok ini. Gomen lama :)

Terima kasih juga untuk yang sudah login dulu sebelum mereview: Zanpaku nee / Chibi Dan / Ivera Jeagerjaques / Arya Angevin / F . Freyja / CCloveRuki / astia aoi / via-SasuNaru


Sweet Baby Berry

Chapter 8


Mereka berdiri mengitari satu titik. Masing-masing dari mereka membawa aura yang menekan, terus dengan kuatnya mendesak makhluk kecil malang yang kini menempelkan punggungnya dengan tembok, keringat dingin bercucuran setiap kali mata kecil berwarna hitam memandang lurus kepada sekumpulan remaja yang kelihatan begitu kesal.

Kon menelan ludahnya dengan susah payah.

Padahal sudah beberapa hari ini ia terus bertahan untuk tidak terlihat aneh, untuk tidak terlihat seolah ia mengetahui sesuatu. Tapi, ingatannya akan hari itu sering kali membekukan otaknya, sehingga ia tidak begitu banyak melompat ke arah Rukia atau pun Orihime sambil berteriak "Nee-san" seperti biasanya. Jadi, memang hanya tinggal masalah waktu saja sampai salah satu dari sekawanan remaja itu menyadari ada sesuatu yang salah pada dirinya.

"Katakan dengan jujur, Kon. Kau tahu sesuatu 'kan?"

Gulp.

Rukia yang tidak sedang marah saja sudah mengerikan, apalagi yang sedang marah. Apa memang harus ia ceritakan ya? Untuk keselamatan hidupnya sendiri. Tapi, walau sering kali terlihat acuh, Kon termasuk sebagai orang yang peduli akan Ichigo. Karena selama ia menjadi Gikongan, hanya Ichigo-lah 'pemilik' yang membiarkan dirinya memiliki tubuh sendiri. Dan Kon juga cukup bisa menebak apa yang akan menjadi reaksi para Shinigami jika sampai tahu di mana kemungkinan Ichigo berada saat ini.

Ergh...

Semua ini akan lebih mudah kalau saja ia tidak terlalu penasaran waktu itu.

.::Flashback::.

Kon menengadahkan kepalanya dari komik yang tengah dibacanya ketika mendengar suara berdebam pintu, dan dahinya dibuat berkerut saat melihat Ichigo, yang terengah-engah seolah habis dikejar sesuatu, langsung merebahkan diri di tempat tidur dan menyembunyikan diri di bawah selimut. Tidak luput, kedua mata kecil Kon melihat getaran dari balik selimut itu.

Ichigo gemetar.

Dan dalam kondisi semacam ini, sang Gikongan hanya bisa menebak kalau Ichigo gemetar karena ketakutan, tidak mungkin karena kedinginan sebab cuaca di luar sedang sangat terik. Hal yang tidak lazim terlihat dari sang Shinigami daikou. Karena perasaannya sendiri mengatakan ada sesuatu yang salah, Kon pun bangkit dari posisinya duduk di atas meja belajar dan berjalan mendekati gundukan besar di atas tempat tidur. Namun, ketika salah satu lengan pendeknya terjulur untuk memberikan tepukan ringan, panggilan yang terdengar berikutnya membuatnya berhenti.

"... Grimm..."

Gerakan tiba-tiba berikutnya sama sekali tidak dirinya perkirakan, tubuhnya kembali terdorong ke belakang hingga terjatuh di atas permukaan lantai. Dan walau pun tidak begitu nampak, tapi kedua mata mungil Kon terbelalak ketika melihat ekspresi kepanikan yang dikenakan oleh Ichigo. Panggilan nama yang serupa dengan sebelumnya kembali terlantunkan, kini lebih terdengar... needy. Hal yang berikutnya ia ketahui adalah Ichigo mendadak lari keluar kamar... nampak mencari sesuatu.

Apa?

Apa yang remaja itu cari hingga panik seperti itu?

Merasa tidak baik membiarkan sang remaja begitu saja, serta rasa penasaran yang begitu besar melihat sikap tidak lazim yang ditunjukkan, Kon melompat dari jendela dengan harapan bisa mengejar Ichigo—kemana pun ia berlari tadi.

Siapa itu 'Grimm'?

Saat itu, untuk pertama kalinya Kon tidak bertingkah genit ketika ada seorang wanita bertubuh molek melintas di dekatnya.

Beragam pertanyaan terus-menerus berkelabat di benak sang Gikongan saat menyadari kemana arah lari Ichigo. Masuk ke dalam taman kota dan terus lebih ke dalam lagi sehingga sampai di sebuah hutan kecil. Pikiran Ichigo hendak bunuh diri dengan mencebur ke dalam danau sempat juga terlintas di benak Kon, tapi dengan segera tersingkirkan. Well, ini kan bukan film horror yang selalu berhubungan dengan kematian di danau. Haha. Dengan nafas yang terengah-engah, Kon menghentikan langkahnya tepat saat ia mendengar suara Ichigo yang berteriak, "Grimm!" Sontak nafasnya tercekat di tenggorokan karena sosok yang menjadi tujuan utama Ichigo—yang saat itu tengah berdiri dengan bersandar di sebuah pohon besar dengan tangan yang terbuka lebar, seolah siap menangkap tubuh Ichigo—memiliki surai berwarna biru... tapi, bukan surai pria itu yang benar-benar menarik perhatian Kon, melainkan benda berbentuk tulang gigi yang menempel di pipi kanan sang pria.

Hollow Mask. Arrancar.

Tapi, bukankah Arrancar sudah tewas bersamaan dengan kalahnya Aizen? Atau memang masih ada yang tersisa? Kalau pun iya, apa hubungannya dengan Ichigo?

Sebab, jika dilihat dari sikap Ichigo yang begitu... mesra... dengan sang Arrancar, kelihatannya hubungan mereka—Oh, Kami-sama... Apakah Ichigo barusan? Kon hanya bisa menutup mulutnya dengan tangan, menatap tidak percaya ke arah Ichigo dan Arrancar yang ia yakini bernama 'Grimm' itu.

Mereka berciuman.

Dan bukan hanya ciuman biasa. Jika desahan dan erangan ringan Ichigo adalah sebuah indikasi.

Saat itu adalah terakhir kalinya Kon melihat keduanya, karena sang Arrancar membuka sebuah portal lalu menghilang di balik portal yang kembali menutup. Meninggalkan Kon tidak berkutik, dan bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Apa yang sebenarnya tengah terjadi. Tapi, satu yang Kon tahu semenjak melihat adegan di hadapannya...

Para Shinigami kolot yang menjunjung tinggi peraturan itu tidak akan tinggal diam jika sampai tahu mengenai hal ini.

Mengenai Ichigo memiliki hubungan khusus dengan musuh.

.::End of flashback::.

Dan sekarang, sudah 2 minggu lebih semenjak Ichigo menghilangatau begitulah yang diketahui oleh orang lain selain Kondan para Shinigami serta beberapa kawan Ichigo sudah semakin panik, kebingungan tidak tahu harus mencari ke mana, begitu pula dengan anggota keluarganya. Yuzu adalah yang terlihat paling terpukul kakak kesayangannya itu tidak kunjung pulang.

Keringat dingin semakin deras mengucur dari puncak kepala Kon saat kepalanya itu digenggam dengan kuat dan tubuhnya diangkat hingga berhadap-hadapan langsung dengan wajah tidak sabaran, disertai dengan urat kekesalan yang bertonjolan, milik Renji. "Kon. Kalau kau tidak juga bicara, akan kuberikan kau pada Yuzu. Aku yakin gadis itu akan sangat senang menuangan kesedihannya dengan 'bermain' bersamamu." sahut sang Shinigami bersurai merah itu dengan nada bicara serendah dan semengancam mungkin.

Gulp.

Menelan ludah lagi, Kon merengek dalam hati, 'Maafkan aku, Ichigo... Aku masih lebih sayang nyawaku daripada kamu.'.


"Menurutmu... Bayiku ini nantinya akan jadi apa? Shinigami? Arrancar? Atau malah manusia?"

Kekehan, "Bagaimana kalau Hollow sepertiku?"

"Fuck, Shiro. Itu tidak mungkin!" Dengusan, "Aku ini manusia yang menjadi Shinigami, dan Grimmjow itu Arrancar. Bagaimana bisa anakku nanti menjadi Hollow?"

"Queen, jangan bilang kalau kau lupa diriku ini merupakan sebagian dari dirimu."

"..."

Hening.

"Hari ini panas."

Tawa terbahak-bahak yang berasal tepat dari belakangnya membuat Ichigo ingin sekali langsung menyarangkan tinjunya ke kepala Shiro. Tapi, keinginan itu ia tahan kuat-kuat karena entah kenapa hari ini ia merasa begitu lelah sehingga rasanya untuk menggerakkan satu jari saja sudah susah payah. Sebagai gantinya, dengan sengaja Ichigo menggeser tubuhnya agar Shiro yang tadinya bersandaran pada punggungnya jadi terjengkang ke belakang. Sayangnya, walau pun tulang kepalanya sudah berbenturan dengan lantai, sang Hollow masih saja terus tertawa.

"Kali ini kau kalah, Queen! Karena barusan kau malah mengalihkan pembicaraan!" Terengah-engah Shiro sekarang karena terlalu banyak tertawa. Rahangnya terasa agak sakit, tapi setimpal dengan kesenangan yang dirasakannya. Ia kembali pada posisinya di belakang Ichigo, saling bersandaran pada punggung satu sama lain dan duduk di lantai halaman belakang Las Noches.

Ichigo tahu kalau ia berbicara lagi, maka sama saja dengan ia mengakui kekalahannya, jadi ia memilih diam... tapi tangannya tidak. "OWOWOWOWOW!" Shiro berjingkrak kesakitan di tempatnya karena Ichigo mencubit keras sisi perutnya. Susah payah ia melepaskan diri dari kekesalan sang Beta, dan ketika akhirnya ia bisa lepas, air mata sudah menggenang di tepian mata kanannya. Ia meringis pelan sambil menggosok-gosok bagian perutnya yang masih terasa perih.

"Aku penasaran apa anakku nanti bisa mengeluarkan cero dari matanya atau tidak." celetuk Ichigo.

Mendengar pernyataan yang ngaco itu, Shiro memandang ke arah King-berubah-Queen dengan tatapan 'otakmu-korslet-atau-apa?-memangnya-kamu-pikir-ini-film-xmen?'. Tapi, tatapan mata Shiro itu hanya berbalas tatapan datar dari Ichigo.

"Bercanda." Ichigo menghela nafas singkat, lalu merebahkan diri di lantai. Ia menutup kedua matanya, merasakan lelah dan kantuk yang datang bersamaan. Panas yang menyengat sama sekali tidak mengurangi kantuk yang ia rasakan saat itu, dan hal itu sebenarnya cukup membuatnya kesal, jadi tidak heran jika saat ini keningnya berkerut. Sedikit banyak, ia bisa menebak kalau rasa lelah dan kantuknya itu disebabkan oleh kehamilannya. Sebelumnya ia memang pernah mendengar kalau menjadi ibu hamil itu sangat melelahkan. Tidak pernah sebelumnya ia bayangkan kalau dirinya akan menjadi satu diantaranya, di mana sekarang ia mulai berpikir bagaimana caranya para wanita hamil itu bisa terus bertahan sampai akhir membawa beban besar di perutnya.

Walau sekarang ini ukuran perutnya masih belum berubah, tapi jika ia meletakkan tangan di atas perutnya itu, ia bisa merasakan ada sedikit tonjolan, di samping itu otot perutnya pun menghilang. Padahal masih sekecil ini, tapi rasanya sudah sangat melelahkan.

Belaian yang Ichigo rasakan di kepalanya, tanpa disadari membuat kerutan di dahinya menghilang dan bergantikan dengan dengkuran ringan, bagaikan seekor kucing yang merasa nyaman dielus oleh majikannya. "Mau kupindahkan kau ke kamarmu, Ichi?" tanya Shiro sambil terus membelai sang Beta.

Ichigo mendengar pertanyaan Shiro itu, tapi tidak menjawab. Ia menghela nafas panjang dan membuka kembali kedua matanya untuk kemudian melihat ke arah halaman yang berada tepat di belakang Shiro. Tandus dan kering. Bagaikan gurun pasir. Begitulah Hueco Mundo. Rasanya untuk menemukan warna lain selain putih dan coklat pasir itu sulit. Dan sekarang, Ichigo mulai merindukan dunia manusia karena sekitarnya terasa membosankan. Tidak banyak yang bisa dilihat.

Saat itulah, ia mendadak merasa menginginkan sesuatu dan tidak bisa dibendung lagi.

"Shiro?"

"... Yeah?"

"Aku ingin punya pohon sakura."


"Pohon... Sakura...?"

Hal pertama yang (lagi-lagi) Grimmjow inginkan ketika kembali dari patroli di hutan Menos adalah Ichigo yang menyambut kedatangannya dengan wajah gembira saat ia menjejakkan kaki di dekat pintu masuk Las Noches. Karena, percayalah, belakangan ini remaja bersurai oranye itu begitu menempel padanya, juga bermanja-manja. Kelihatannya mood kehamilan sudah berpengaruh secara 100 persen dibandingkan ketika Ichigo masih belum bisa menerima bahwa dirinya memang benar sedang hamil.

Yah, ia mengerti alasannya sih...

Tapi, semakin berlalunya waktu, semakin bisa remaja itu menerima keadaannya. Dan Grimmjow merasa sangat senang mendengarnya. Walau terkadang jika ia memikirkan ke belakang, ke saat-saat di mana dulu ia dan Ichigo merupakan musuh yang saling membunuh satu sama lain, ia cukup merasa kagok dan risih juga karena tidak menyangka bahwa akhirnya pilihannya untuk seorang pasangan akan jatuh kepada sang Shinigami daikou. Nelliel bilang katanya dirinya memiliki ketertarikan pada Ichigo ketika ia mulai sering membicarakan sang remaja.

Awalnya ia menyanggahnya, tentu.

Memang apa dirinya sampai mau menjadikan musuh besarnya sebagai pendamping hidup, dan menjadi orang yang bisa memberikannya keturunan? Well, Grimmjow Jaegerjaquez masih memiliki harga diri. Tapi sayang, semakin sering ia menyanggah, semakin besar keinginannya untuk memiliki Ichigo.

Hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengambil saja.

"Tidak bisa ya?"

Telinganya yang bisa mendengar suara bermeter-meter jauhnya itu menangkap helaan nafas dan nada kekecewaan yang teramat sangat dari pasangannya. Dan kedua iris birunya saat itu menangkap ekspresi wajah Ichigo yang membuatnya kalut mencoba untuk menolak. Ugh. Grimmjow tidak tahu semenjak kapan, tapi wajah cemberut Ichigo adalah kelemahannya yang paling utama. Untuk saat ini. Kalau Ichigo memasang wajah seperti itu, ia jadi kesulitan untuk membantah.

Kelihatannya sih remaja itu tahu, dan cukup sering memanfaatkan kelemahannya itu untuk mendapatkan apa yang diinginkan.

Mengacak-acak rambutnya sendiri, Grimmjow juga ikut menghela nafas, "Memangnya untuk apa? Kau pikir di gurun pasir Hueco Mundo ini pohon sakura bisa berkembang?"

"Tapi aku ingin... Setidaknya pohon sakura bisa membuatku tidak terlalu merasa panas."

"... Pohon biasa kan juga bisa."

"Aku inginnya pohon sakura!" Dengan wajah kesal, Ichigo berbalik dan menghentak-hentakkan kaki menjauh dari posisi di mana Grimmjow berada saat ini. Sang Arrancar hanya bisa menatap bengong ke arah Betanya yang mendadak menjadi begitu keras kepala dan... pemaksa.

Mendecak, sambil mendengus Grimmjow pun berjalan menuju ruangan utama, 'Ck. Dasar Berry meminta yang aneh-aneh saja!'. Tapi, belum lima langkah ia ambil, sebuah tendangan mengenai punggungnya dengan telak sehingga mengharuskan wajahnya bertabrakan dengan dinding di hadapannya, menimbulkan suara patahan yang diyakini terdengar di seluruh Las Noches. Orang yang bisa menyerangnya tanpa diketahui dan memiliki tenaga untuk melemparnya sejauh sepuluh meter di Hueco Mundo ini hanya satu.

"Apa-apaan kau, Nel? ! !"

Berdiri tidak jauh dari posisi Grimmjow yang menggosok-gosok hidungnya, Nelliel menggeram. "Aku yang harusnya bertanya begitu, Grimmjow! Kenapa kau menolak keinginan Ichigo? !"

Entah cuma perasaannya saja atau bukan, tapi nampaknya belakangan ini seluruh penghuni Las Noches selalu berpihak pada Ichigo. Dan kenyataan itu mulai membuat sang Arrancar bersurai biru, yang saat ini sedang menjadi pemimpin tertinggi di Hueco Mundo, berang. "Kalau permintaannya wajar sih tidak masalah, tapi ini permintaannya seperti itu! Bagaimana bisa aku mendapatkan pohon sakura di Hueco Mundo!" Grimmjow membentak. Bentakan yang biasanya membuat orang lain memilih untuk menjauh dari dirinya, tapi tidak berlaku untuk Nelliel.

"Kau kan bisa mendapatkannya di dunia manusia! Apa kau lupa kalau sekarang ini dia sedang hamil? ! Sudah seharusnya kau mengabulkan keinginannya!" bentak Nelliel tidak mau kalah.

"Memangnya apa hubungannya hamil dengan meminta sesuatu? ! ! "

"Mommy!"

Dengan segera Grimmjow mengatupkan kembali mulutnya saat melihat sesosok Arrancar bertubuh mungil, memiliki surai coklat terang yang keriting dan panjang, berlari memeluk kaki Nelliel. Dalam sekejap, kemarahan yang tadi ditunjukkan oleh Arrancar bersurai hijau itu menghilang, berubah menjadi sebuah senyum manis. "Oh halo, Fel. Sudah puas bermain bersama Papa di luar?" Ia mengangkat sang Arrancar balita itu dan beradu kening dengan ringan, membuat Arrancar balita bernama Felicitas—yang biasa dipanggil Fel—tertawa-tawa senang.

"Mommy, tadi aku bertemu dengan kadal yang besaaaar sekali. Awalnya aku nggak yakin bisa nangkapnya, tapi Papa bantu aku sih, jadinya gampang." Felicitas menjelaskan saat-saat ia bermain tadi dengan penuh antusias. Ia bahkan sampai menggerak-gerakkan tangannya, meniru bentuk dari kadal yang ia lihat tadi. Kali ini giliran Nelliel yang tertawa, seolah sudah melupakan pertengkarannya dengan Grimmjow barusan.

"Sebenarnya, daripada membantu, aku lebih ingin menjauhkannya karena berbahaya."

"Papa!"

Melihat sosok seorang pria bersurai coklat terang sepertinya berjalan mendekat, dengan cepat Felicitas pun turun dari gendongan Nelliel dan berlari menuju ayahnya itu. Dan tidak adanya Felicitas di tangannya, Nelliel jadi teringat akan alasannya berada di sini, "Grimmjow," Ia kembali menatap ke arah pria bersurai biru yang beberapa tahun terakhir ini ia perlakukan sebagai adiknya sendiri, "Memangnya kau tidak tahu kalau biasanya Beta yang hamil itu sering kali meminta sesuatu yang mau tidak mau harus dikabulkan Alphanya?"

Grimmjow mengerutkan alis, "Oh yeah?" Karena saat itu ia tidak bisa mempercayai kata-kata Nelliel (karena wanita itu terlalu membela Ichigo sehingga ia akan selalu menjadi yang salah), Grimmjow kini memandang ke arah pria yang menggendong Felicitas dan berdiri di sebelah Nelliel, "Memangnya benar begitu, Tesra?"

"Ya. Sederhananya, itu namanya 'ngidam'. Nelliel pun dulu begitu. Banyak permintaannya, sampai-sampai aku jarang sekali berada di rumah." Tesra mengangkat bahu dan menurunkan Felicitas. Ia membiarkan anaknya itu bermain dengan jari-jarinya selama memberikan penjelasan kecil pada Grimmjow.

Nelliel yang sudah semakin tidak sabar karena Grimmjow diam saja dan hanya berkata 'ooh', menarik sang pria dan melemparnya keluar Las Noches. "Pohon sakura bisa kau dapatkan di dunia manusia. Ingat. Aku tidak akan mengizinkanmu masuk sebelum mendapatkan sesuai dengan keinginan Ichigo!" Dengan itu pun, Nelliel menutup gerbang tepat di depan wajah Grimmjow.

Tidak ada yang lebih ia inginkan dari menghancurkan Betanya saat itu. Tapi, seberapa pun besarnya ia marah dan memiliki pemikiran untuk menghancurkan Ichigo, Grimmjow sendiri pun tahu kalau ia tidak akan pernah bisa melaksanakan keinginannya itu secara nyata lagi. Tidak ketika perasaannya tidak menginginkan sang Beta jauh darinya. Jadi, ia melakukan opsi yang kedua.

Menghancurkan batu-batu besar di Hueco Mundo sampai puas dan berteriak:

"YOU WHINY BITCH! SEKARANG INI SEDANG MUSIM GUGUR DI DUNIA MANUSIA! BAGAIMANA BISA AKU MENDAPATKAN POHON SAKURA!"


TBC


Ada yang sempat menebak kalau Alpha Nel itu Tesra? XD Penyiksaan Grimmy dimulai dari sekarang, cintah~ *kabur dari kejaran Grimmjow yg terus2an lontarin cero*