Halo~ Masihkah ada yg bersama saya di sini? Gomen ne, saya lama ga update ini. Untuk kalian yg mengikuti Forever Someone, pasti tau apa alasannya. Yep. Sampai sekarang kerjaan saya masih belum selesai. Tapi, saya usahakan sebisanya, saya update 1 chapter lagi SBB dalam minggu ini, tapi ga janji juga sih *plak*

Terima kasih untuk kalian yang sudah bersedia mereview pada chapter sebelumnya ^^

zen hikari: Angst akan dimasukkan kalau memungkinkan ya ^^ Kelihatannya ada celah sih...

D: Sebagian pertanyaan kamu terjawab di sini ya~ :)

Aoi Namikaze: Yg ini lebih lama lagi ._." Gomen nee... Alasannya, sesuai dengan yg saya jabarin di atas ya. Saya pilih Tesra karena Nnoitra sih udah keseringan n terlalu gampang ketebak ;)a

Pichachan: Oh tentu~ Ngidam kalo ga aneh, ga bakalan seru dong ;) *ceroed*

F . Freyja: Ichi ga keberatan dipanggil Queen karena dia ga nyadar gara2 mood swing. Kalo nyadar, dia ngamuk kok~ ;) *tunjuk bawah* Kalo fluffy, pastinya bakalan ada nanti. Semoga ga kemanisan sih ;)a

Nara Hikari: Chapter baru datang~ Gomen lama banget T^T"

Ryuu: Ibu-Bapak udah unyu masa anaknya ga sih? XD Pastinya unyu juga dong~ *plakplakplak*

Himemiku: Halo, Miku-chan~ Welkam to mah world~ Semoga betah ider2an di sini ya ;D Wew... Yaoi pertama? Biasanya cuma baca straight atau Sho-ai nih?

ndoek: Bener. Kalo aja SSTI masih ada, bakalan saya ajuin Grimmy ke produsernya :"| *plak*

Terima kasih juga untuk yang sudah login dulu sebelum mereview: CCloveRuki / Zanpaku nee / astia aoi / Chibi Dan / Aoi LawLight / Arya Angevin / via-SasuNaru / Ivera Jeagerjaques / Kazugami Saichi Hakuraichi / iztha dark neko / archelaine / chiisana yume


Sweet Baby Berry

Chapter 9


Memandang dengan tatapan kosong terhadap hamparan gurun pasir Hueco Mundo yang luas, Grimmjow yang saat ini tengah berjongkok tepat di depan gerbang Las Noches sedang berusaha menggerakkan gear otaknya untuk bekerja, mengingat-ingat di mana lagi bisa ia dapatkan pohon sakura selain di Karakura. Tapi, kalau ia coba ingat-ingat lagi, jangankan keluar negeri, keluar dari kota Karakura saja ia belum pernah. Sebelumnya, Aizen selalu memberi tugas kepada para Espadanya hanya berkisaran Karakura saja. Jadi, tidak heran kalau dunia yang ia tahu itu begitu sempit.

Mungkin seharusnya tadi dia bertanya lebih dulu kepada Szayel mengenai hal ini. Tapi, kalau diingat-ingat lagi, ia tadi dibuang keluar begitu saja oleh Nelliel, bagaimana bisa ia bertanya dahulu kepada si ilmuwan berambut pink itu?

...

...

Tarikan nafas. Hembusan nafas.

Akhirnya setelah berpikir selama beberapa waktu, Grimmjow memutuskan untuk mengambil pohon sakura mana saja yang ada. Mau itu berbunga atau gundul sama sekali, toh yang penting masih pohon sakura. Ia yang masih tidak begitu mengerti dengan dunia manusia, tidak tahu lagi harus mencari pohon sakura ke mana selain di Karakura.

Ah, apa nanti kapan-kapan ia ajak Ichigo untuk keliling Jepang supaya tidak minta yang aneh-aneh ya? Terus makan makanan mahal... Tunggu. Tidak bisa. Ia belum pernah berani menyuruh Ichigo untuk keluar dari tubuh manusianya karena takut terjadi sesuatu pada kandungan sang Beta. Jadi, manusia lainnya masih bisa melihat Ichigo kalau sampai ia ajak untuk menyelinap ke restoran bintang lima.

Dengan erangan bete dan gerakan ogah-ogahan, Grimmjow membuka garganta tepat di hadapannya untuk menuju Karakura. Ketika ia melangkahkan kakinya masuk dan garganta mulai tertutup kembali, jauh dari posisinya terbuka sebuah senkaimon. Sayangnya karena garganta yang ia lewati keburu tertutup, ia sama sekali tidak merasakan kehadiran beberapa Shinigami dan manusia yang melangkah keluar dari senkaimon tersebut dengan wajah yang sangat cemas.


"Queen..."

"..."

"Queen."

"..."

"Que—"

"MAU SAMPAI KAPAN KAMU PANGGIL AKU BEGITU? ! !" Meraih kursi yang tengah didudukinya, Ichigo melemparkan kursi yang terbuat dari kayu tebal itu ke arah Shiro. "AKU INI LAKI-LAKI, SIALAN! KENAPA JADI 'QUEEN' BEGITU? ! ! !" Dan Ichigo pun mengerang semakin kesal sebab nyatanya Shiro bisa menghindar dari lemparannya dengan mudah karena menggunakan shunpo. Ia coba lagi dengan melemparkan lampu meja, lalu buku di tangannya, berlanjut hingga meja yang berada tepat di hadapannya. Tetapi, tidak ada satu pun yang mengenai Shiro dengan telak, dan Hollow-nya itu kelihatannya malah girang karena berhasil membodohinya.

Urgh. Betapa berharapnya dia untuk keluar dari tubuhnya dan menembakkan cero tepat di otak albino bodoh itu.

Tapi kemudian ia ingat bahwa dirinya itu Shinigami dan tidak mungkin melakukan cero. Kido saja ia tidak bisa. Dan semakin dipikirkan, rasanya jadi semakin ingin membenturkan kepala ke tembok. Pertama kalinya Ichigo merasa percuma menjadi seorang Shinigami berubah Visored, karena yang ia bisa hanya mengayunkan pedang dan melakukan Getsuga Tenshou.

Benar-benar kurang kreatif.

"Ayolah, Queen. Dari tadi kan aku memang memanggilmu begitu tapi kau tidak protes tuh."

"Berisik!"

Sambil mendengus dan membuang muka, Ichigo mengambil tempat duduk di ranjangnya (yang juga merupakan ranjang milik Grimmjow). Menghela nafas panjang, ia kemudian merebahkan tubuhnya, menatap ke arah langit-langit kamar yang tinggi dengan kedua alis yang menukik tajam. Kembali ia merasakan kekesalannya akibat penolakan yang diberikan oleh Grimmjow sebelum ini. Padahal ia hanya meminta sebuah pohon sakura saja, dan bukannya mobil mewah, tetapi sang Arrancar malah menolak.

...

...

Ia hanya ingin lebih merasakan berada di 'rumah'.

Mengenyampingkan tubuhnya, Ichigo mencueki Shiro yang kini mengambil tempat duduk di sampingnya. Ia memejamkan kedua matanya, dan membukanya kembali ketika penglihatannya mendadak memperlihatkan sosok kedua adiknya. Yuzu yang sedang menangis, dan Karin yang tidak mau melihat ke arahnya.

"... Queen?" tanya Shiro pelan ketika menyadari tubuh Ichigo yang nampak menegang, tapi yang bersangkutan sama sekali tidak mendengarnya.

Bagaimana ia bisa lupa?

Keluarganya saat ini pasti sedang mencemaskan mengenai keberadaan dirinya. Ia jamin pula kalau Yuzu saat ini sedang menangis dan tidak berhenti menanyakan mengenai keberadaan dirinya, dan Karin berada di sebelahnya untuk menghibur. Ichigo juga yakin kalau ketika ia pulang nanti, mau tidak mau ia harus siap dihadapkan dengan kemarahan sang gadis bersurai hitam karena tidak sekali pun mengabarkan.

Tapi, pertanyaan yang terbesar adalah...

Bisakah ia pulang? Kalau pun bisa, ia pastinya tidak mungkin meninggalkan bayinya di belakang. Dan jika ia membawanya, lalu mereka mengetahui siapa Ayah sang bayi, bisakah keluarganya itu menerima kehadirannya kembali dan tidak memandang sinis bayinya?

Yuzu yang tidak mengerti, mungkin bisa. Tapi, Ichigo agak ragu dengan Karin dan sang Ayah.

Benar. Daripada persetujuan dari para Shinigami, yang paling penting adalah 'restu' yang berasal dari keluarga sendiri.

"Ichigo?" Sekali lagi Shiro mencoba memanggil sang remaja, namun akhirnya dibuat kaget ketika mendengar jawaban yang diberikan Ichigo dalam suara yang berbisik dan lirih.

"Apa setelah ini aku akan kembali ke dunia manusia, Shiro?"

Sebenarnya bukan pertanyaannya yang membuat Shiro kaget, melainkan pesan yang tersembunyi di setiap katanya. Baginya, pertanyaan itu dilontarkan karena Ichigo justru menginginkan yang sebaliknya. Ada rasa takut terkandung di dalamnya. Dan Shiro yang merupakan bagian dari diri Ichigo, dengan cepat mengetahui apa yang tengah ditakutkan oleh sang Beta. "Kau sendiri bagaimana? Maukah kau kembali?" bisik Shiro ringan sambil merebahkan tubuhnya dan menarik Ichigo ke dalam pelukannya. Dalam dekapannya, bisa Shiro rasakan tubuh Ichigo yang semakin rileks. Tapi, sang remaja tidak kunjung menjawab pertanyaan yang ia lontarkan.

Ichigo masih bingung. Ia tahu itu.


Sontak membuka kedua matanya, selama beberapa saat Shiro menatap ke arah surai oranye yang memenuhi penglihatannya. Ia tidak sadar kapan dirinya ikut tertidur bersama Ichigo, yang ia tahu pasti adalah bahwa apa yang membuatnya terbangun, kini membuatnya menatap tajam ke arah pintu kamar seolah apa yang dilakukannya itu bisa membuat pintu itu terbakar habis. "Tsk. Kelihatannya mereka semakin bisa menyembunyikan reiatsu sampai titik yang tidak bisa dideteksi, eh?" Perlahan ia melepaskan dekapannya dan berusaha sebisanya untuk tidak membangunkan Ichigo, "Sayang sekali, karena aku ada di sini sekarang." Dibandingkan dengan makhluk lainnya, Shiro lebih master lagi dalam mendeteksi reiatsu. Bahkan untuk mereka yang menggunakan reiatsu suppressor, ia masih bisa merasakannya walaupun memerlukan konsentrasi super tinggi.

Ketika secara tidak sengaja ujung jemarinya bersentuhan dengan kulit Ichigo yang tidak tertutupi baju, Shiro menghentikan gerakkannya dan langsung melihat ke arah sang remaja. Sekali lagi ia mencoba menyentuh kulit Ichigo di bagian permukaan tangan, dahinya langsung mengernyit ketika menyadari suhu tubuh sang Beta menurun drastis daripada sebelumnya.

"Ichigo! Shiro!" Nelliel yang seenaknya masuk begitu saja ke dalam kamar langsung menghentikan langkahnya saat sepasang iris hazelnya melihat Shiro yang tengah memegangi tangan Ichigo. "Shiro? Terjadi sesuatu?" Mengesampingkan tujuan utamanya datang ke kamar Ichigo, Nelliel memilih bertanya.

"Di mana Grimmjow?" Shiro balik bertanya tanpa memalingkan wajah.

Mengerjapkan mata dan berjalan semakin mendekati ranjang, Nelliel menjawab dengan agak bingung, "Euh... Beberapa jam lalu kutendang dia keluar untuk mencarikan pohon sakura untuk Ichigo..." Ia jadi menjawab dengan ragu-ragu karena dari dekat bisa dirasakannya aura Shiro sedang memburuk. Dan dugaannya terbukti ketika Shiro tiba-tiba menjulurkan tangan ke arahnya yang langsung ia tepis dengan sekuat tenaga, menimbulkan suara tamparan antar kulit yang menggema di dalam kamar. Menaikkan pertahanannya, Nelliel menatap ke arah sang Hollow dengan tatapan penuh selidik, "Apa yang sebe—"

"Grimmjow..." Suara yang Shiro keluarkan kala itu terdengar bagaikan sebuah geraman, "Ia tidak memberikan reiatsunya kepada Ichigo secara berkala."

"Maksudmu..."

Shiro menggertakkan gigi, "Bayi hollow mengkonsumsi reiatsu dari induk semang dan pasangannya. Dan karena Grimmjow tidak membagi reiatsu miliknya, sang bayi hanya mengkonsumsi reiatsu dari Ichigo." Kedua iris emas dalam hitam Shiro yang tadi memperhatikan wajah Ichigo yang memucat kini menatap ke arah Nelliel yang nampak terbelalak dan mengatupkan kedua tangan ke mulut.

"K-Kalau begitu... Ichigo..."

"... Dia melemah karena reiatsunya terus-menerus disedot. Kalau dibiarkan terlalu lama, bisa berbahaya. Kita harus segera menemukan Grimmjow." Dalam hati Shiro mengumpat karena pada saat yang mendesak begini mau tidak mau akhirnya malah jadi bergantung pada Arrancar bersurai biru itu. Karena memang, reiatsu yg bukan merupakan 'induk'nya, para bayi Hollow tidak akan mau menerimanya. "Kau datang ke sini untuk memberitahukan mengenai para Shinigami kan?" Melihat Nelliel yang mengangguk, Shiro langsung bangkit dari posisinya dan mengambil selimut yang kemudian ia lingkarkan di tubuh Ichigo, berharap bisa menghangatkan tubuh sang remaja walau hanya sedikit. "Bawalah Ichigo ke tempat ilmuwan pinky itu. Kurasa ia bisa mengusahakan sesuatu. Aku yang akan menemui para pengganggu." Sambil menggeram, Shiro pun melakukan shunpo ke mana posisi para Shinigami dan manusia yang kini mulai memasuki Las Noches.

Nelliel yang tadinya sudah membuka mulut untuk mengatakan kalau saat ini Harribel juga sedang menahan para Shinigami, langsung menutup mulutnya kembali melihat Shiro yang sudah tidak ada di depan matanya lagi. Dengan terburu-buru ia beralih pada Ichigo, dan langsung membawanya ke tempat Szayel.

Kelihatannya nanti ia harus membuat Grimmjow lebih bonyok lagi daripada biasanya.


"ROAR, ZABIMARU!"

Menghantamkan zanpakutou-nya kepada Arrancar yang ada di hadapannya, Renji mau tidak mau dibuat teringat ketika ia pertama kali mendatangi Las Noches sebelum Winter War dahulu. Setelah perang selesai, tidak sekali pun ia terpikirkan akan mendatangi lagi tempat ini, dan bertempur kembali dengan para makhluk ciptaan Aizen.

Terlebih mendengar salah satunya membawa pergi sahabatnya, Ichigo, dengan cara yang... tidak biasa.

"Renji! Di belakangmu!"

"Santen Kesshun!"

Harribel mengerjapkan kedua matanya ketika tangannya yang ia pakai untuk menyerang Renji tertahan oleh cahaya berwarna kuning. Menggerakkan bola matanya ke tepian, bisa ia lihat gadis manusia yang dulu pernah bergabung bersama kelompoknya selama beberapa waktu. Ia yang memiliki ingatan kuat, yakin kalau nama gadis itu adalah Orihime. Menyadari Renji yang melayangkan kembali pedang besarnya ke arahnya, Harribel langsung mengambil langkah mundur dan menahan serangan yang diberikan padanya.

Secara refleks Rukia mendecak ketika sang Arrancar bisa dengan mudahnya menahan serangannya. "Hadou no—!" Mantra yang ingin diucapkannya langsung terputus saat tubuhnya tidak lagi sanggup berdiri tegak akibat ledakan reiatsu yang menyerangnya. Dan hal yang sama pun terjadi pada Renji, Orihime, serta Ishida, dan Sado, yang kini berusaha melihat ke arah sumber reiatsu berasal.

"Maa... Maa... Kalian menyusahkan saja."

Suara berdistorsi yang terdengar berikutnya membuat mereka semua terbelalak tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Kalian benar-benar tidak tahu cara bertamu yang baik, eh?" sungut Shiro. Ia baru menghentikan langkahnya ketika berada tidak begitu jauh dari posisi Harribel tengah berdiri. Dengan seringai lebarnya, ia menatap satu persatu wajah yang menatapnya dengan tatapan yang campuran antara bingung, tidak percaya, kaget, dan... juga takut. Betapa ia menikmati ekspresi mereka saat ini. "Apa? Kalian seperti yang baru saja melihat hantu." Ia telengkan kepalanya ke samping dan cekikikan.

"Kau... Bagaimana kau bisa ada di sini? ! Apa yang kau lakukan pada Ichigo? ! !" Renji yang akhirnya bisa tersadar dari kekagetannya, segera berteriak dan bangkit dari posisinya. Zabimaru dalam keadaan siap-siaga.

"Pulanglah."

Suara Shiro yang penuh ketenangan dan tanpa tekanan, tidak seperti sebelumnya ini, nampak membuat Renji dan yang lainnya terperangah. Rasanya mereka seperti baru saja mendengar Yamamoto mendeklarasikan kalau ia akan menikahi anak di bawah umur.

Shiro menghela nafas, dan dengan tatapan bosan kembali menatap ke arah para Shinigami, "Ichigo tidak berharap untuk bisa bertemu kalian secepat ini."


Sementara itu, di kota Karakura...

"UWAAAAAAAAH!"

Suara jeritan seorang pria membuat semua pengunjung taman menoleh, tidak terkecuali para anak-anak. Pria lain yang mengenakan kemeja berwarna biru muda berlari mendekati seorang pria lainnya yang kini tengah terduduk di salah satu sisi taman, "Ada apa?" Sang pria yang terduduk sama sekali tidak menjawab, tapi dengan tangan yang gemetar, menunjuk ke arah di depannya yang kemudian membuat sang pria yang bertanya pun melihat apa yang dimaksudkan.

Dan kali ini, giliran si penanya yang berteriak, "GYAAAAAAAH!" lalu ikut terduduk lemas di sebelah pria pertama.

Saat itu di depan mereka terdapat sebatang pohon sakura yang daunnya sudah semakin menipis karena perubahan musim, tidak menapak dengan tanah, melayang.

"Oh sial..." umpat Grimmjow.

Padahal dia sudah hati-hati supaya tidak ada yang melihatnya.


TBC


Iya. Ini chapter emang pendek, sama kayak yang sebelum2nya =_=a Hal ini bukannya karena gimana2, tapi sejak awal saya bikin SBB, saya emang merencanakan per chapter-nya hanya segini. Jadi, walau pun kalian minta diperpanjang, ga bakalan saya kabulkan karena perhitungannya udah paten :| *plak*